Dr. Zuhad Masduki MA

9 Ramadhan 1442 / 21 April 2021



Kita akan membahas tema tentang ulama, peran-peran dan tugas-tugasnya. Tafsir Tematik dengan menggunakan pendekatan semantik.
Semantik itu cara kerjanya secara singkat bahwa kata atau kalimat memiliki dua makna. Pertama makna dasar atau makna leksikal yaitu makna yang ditawarkan oleh kamus. Satu kata boleh jadi punya beberapa tawaran makna.

Yang kedua makna relational, yaitu makna yang ditentukan berdasarkan relasinya. Kata itu dipakai dalam relasi apa? Dalam konteks apa? Sehingga satu kata ketika dipakai dalam berbagai pernyataan bisa memiliki makna yang berbeda-beda tergantung dari relasinya kata itu dipakai.

Kita akan membahas ulama dengan menggunakan pendekatan Semantik. Namun sebelumnya akan kita beri contoh bahwa di Surat Qaf ayat 23 dan ayat 27 ada kata Qorin. Yang satu bermakna malaikat, yang satu bermakna setan.

Allah SWT berfirman:

وَقَا لَ قَرِيْـنُهٗ هٰذَا مَا لَدَيَّ عَتِيْدٌ 

“Dan (malaikat) yang menyertainya berkata, “Inilah catatan perbuatan yang ada padaku.”” (QS. Qaf 50: Ayat 23)

Qorin disini malaikat, karena yang diberi tugas oleh Allah mencatat amal manusia adalah malaikat. Nanti di hari akhir (yaumul hisab) malaikat akan menyodorkan catatan itu kepada yang bersangkutan.

Allah SWT berfirman:

قَا لَ قَرِيْنُهٗ رَبَّنَا مَاۤ اَطْغَيْتُهٗ وَلٰـكِنْ كَا نَ فِيْ ضَلٰلٍۢ بَعِيْدٍ

“(Setan) yang menyertainya berkata (pula), “Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkannya, tetapi dia sendiri yang berada dalam kesesatan yang jauh.”” (QS. Qaf 50: Ayat 27)

Qorin yang kedua artinya Setan. Karena yang menjerumuskan manusia kepada kedurhakaan adalah Setan.
Ini contoh satu kata dalam dua ayat memiliki makna yang berbeda. Kita sekarang akan membahas tentang ulama dengan pendekatan Semantik tadi.

Di dalam Al Qur’an ada dua kata ulama. Yang pertama di Surat Asy Syu’ara ayat 197 dan yang kedua di Surat Fatir ayat 28.

Allah SWT berfirman:

اَوَلَمْ يَكُنْ لَّهُمْ اٰيَةً اَنْ يَّعْلَمَهٗ عُلَمٰٓ ؤُا بَنِيْۤ اِسْرَآءِيْلَ 

“Apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka, bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya?” (QS. Asy-Syu’ara’ 26: Ayat 197)

Ulama Bani Israil mengetahui apa? Untuk menentukan maknanya maka kita mesti melihat konteks ayat ini. Ayat ini bisa kita lihat dari ayat 192 sampai 196.

Allah SWT berfirman:

وَاِ نَّهٗ لَـتَنْزِيْلُ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ (192) نَزَلَ بِهِ الرُّوْحُ الْاَ مِيْنُ (193) عَلٰى قَلْبِكَ لِتَكُوْنَ مِنَ الْمُنْذِرِيْنَ (194)
بِلِسَا نٍ عَرَبِيٍّ مُّبِيْنٍ (195) وَاِ نَّهٗ لَفِيْ زُبُرِ الْاَ وَّلِيْنَ(196)

“Dan sungguh, Al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan seluruh alam, Yang dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar engkau termasuk orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas. Dan sungguh, (Al-Qur’an) itu disebut dalam kitab-kitab orang yang terdahulu.” (QS. Asy-Syu’ara’ 26: Ayat 192-196)

Jadi ayat ini bicara tentang Al Qur’an, maka ayat 197 tentang ulama Bani Israil yang mengetahui, obyek pengetahuannya adalah Al Qur’an. Artinya ada ulama-ulama Bani Israil karena pengetahuan mereka tentang kandungan Al Qur’an, kemudian mereka masuk islam.

Ada beberapa contohnya, misalnya Abdullah bin Salam, pakar Yahudi yang sangat dihormati. Dia kemudian masuk islam. Tetapi setelah dia masuk islam kemudian dia diremehkan oleh orang- orang Yahudi.

Ayat ini menggugat mereka, apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka orang-orang Yahudi kalau ulama-ulama nya yang memahami Al Qur’an ini kemudian masuk islam?
Sehingga kata ulama disini obyek pengetahuannya adalah tentang kandungan kitab suci Al Qur’an.

Kata ulama yang kedua ada di Surat Fatir ayat 28, Allah SWT berfirman:


 اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَا دِهِ الْعُلَمٰٓ ؤُا ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ غَفُوْرٌ

“Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama. Sungguh, Allah Maha Perkasa, Maha Pengampun.” (QS. Fatir 35: Ayat 28)

Siapa ulama yang dimaksud?
Untuk menentukan kepakaran ulama disini obyek yang mereka ketahui, kita harus melihat ayat sebelumnya

Allah SWT berfirman:

اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ اَنْزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً   ۚ فَاَ خْرَجْنَا بِهٖ ثَمَرٰتٍ مُّخْتَلِفًا اَلْوَا نُهَا ۗ وَمِنَ الْجِبَا لِ جُدَدٌ بِۢيْضٌ وَّحُمْرٌ مُّخْتَلِفٌ اَلْوَا نُهَا وَغَرَا بِيْبُ سُوْدٌ

“Tidakkah engkau melihat bahwa Allah menurunkan air dari langit lalu dengan air itu Kami hasilkan buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis- garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada pula yang hitam pekat.” (QS. Fatir 35: Ayat 27)

Lanjutannya di awal ayat 28

وَمِنَ النَّا سِ وَا لدَّوَآ بِّ وَا لْاَ نْعَا مِ مُخْتَلِفٌ اَ لْوَا نُهٗ كَذٰلِكَ ۗ 

“Dan demikian pula di antara manusia, makhluk bergerak yang bernyawa, dan hewan-hewan ternak ada yang bermacam-macam warnanya dan jenisnya” (QS. Fatir 35: Ayat 28)

Ayat 27 yang menunjukkan turunnya hujan kemudian menumbuhkan aneka macam tanaman yang kemudian menghasilkan aneka macam buah.
Gunung-gunung yang pemandangannya berwarna-warni berbicara tentang fenomena alam.

Ayat 28 awal tentang keanekaragaman manusia dan binatang-binatang. Sehingga ulama di dalam ayat ini kepakarannya ada dua kepakaran yaitu Pakar Kealaman dan Pakar Sosial yang mengetahui keanekaragaman manusia, binatang dan sebagainya.

Dari dua ayat Surat Asy-Syu’ara’ ayat 197 dan Surat Fatir ayat 28 bisa disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan ulama itu bisa kepakaran :
1. Pakar Agama yang mengetahui isi kandungan Al Qur’an.
2. Pakar Kealaman
3. Pakar Sosial

Tetapi disini digaris bawahi oleh Al Qur’an bahwa para-pakar itu syaratnya harus yakhsya (takut) kepada Allah SWT. Yakhsya dari kata Khosyah adalah rasa takut yang disertai penghormatan yang lahir akibat pengetahuan tentang obyek itu.
Tetapi kalau syarat Khosyah tidak ada mereka tidak bisa dimasukkan dalam kategori ulama.

Ayat-ayat yang kita baca bicara tentang keanekaragaman dalam kehidupan. Keanekaragaman dalam kehidupan merupakan suatu keniscayaan yang dikehendaki oleh Allah SWT. Kita tidak bisa menyeragamkan semuanya.

Keanekaragaman itu misalnya kalau kita mau identifikasi antara lain :

1. Keanekaragaman pendapat dalam bidang ilmiah.

Para dokter, para ahli ilmu Sosial pendapatnya juga beraneka ragam tentang obyek yang sama.

2. Tanggapan manusia tentang kebenaran Kitab Suci.

Sampai hari ini masih terus terjadi, sehingga ada yang menerima ada yang tidak menerima.

3. Keanekaragaman penafsiran kandungan Al Qur’an.

Kita lihat yang namanya kitab-kitab Tafsir juga macam- macam ,
– Berbeda kecenderungan, ada perbedaan penafsiran dalam menafsirkan sebagian ayat Al Qur’an.
– Perbedaan methode yang dipakai juga menghasilkan perbedaan dalam tafsir yang diolah oleh yang bersangkutan.
– Perbedaan bentuk pengamalan dari ajaran-ajaran agama. Ini kita juga kita bisa melihat di dunia islam sekarang ini pengamalan agama walaupun Al Qur’annya sama, haditsnya sama tetapi tafsirnya bisa berbeda antara satu dengan yang lain.

Berbeda madzab saja bisa berbeda amalan sholat :
Yang satu ada qunut yang satu tidak.
Yang satu basmalahnya siri, yang satu basmalahnya jahr.
Yang satu kalau takbiratul ihram kemudian tangannya sedakep, yang satu tangannya lurus.
Jadi pengamalan agama ini juga bermacam-macam.

4. Keanekaragaman usaha-usaha manusia / Profesi yang dijalani manusia

Allah SWT berfirman:

اِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتّٰى 

“sungguh, usahamu memang beraneka macam.” (QS. Al-Lail 92: Ayat 4)

Jadi keanekaragaman adalah bagian dari kehendak Allah SWT yang tidak bisa dinafikan.

Yang menyadari pertama kali adanya keragaman-keragaman semacam itu temuan-temuan baru adalah para ilmuan. Biasanya mereka yang tampil untuk menjelaskan.
Itu ulama, tetapi lagi-lagi syaratnya tiga kepakaran ini : Pakar Al Qur’an, Pakar Kealaman dan Pakar Sosial harus memenuhi syarat takut kepada Allah. Rasa takut yang disertai penghormatan, yang lahir akibat pengetahuan tentang obyek yang ditekuni oleh yang bersangkutan.

Sebagai pakar supaya masuk ke dalam kelompok Ulama menurut Al Qur’an harus memenuhi syarat Khosyah.

Kita sudah punya definisi tentang ulama, jadi kita tidak boleh latah memberi label ulama kepada seseorang.

Sekarang ini sering orang terlalu mudah memberi label ulama kepada seseorang.
Ada orang baru bisa memimpin Tahlil sudah diberi label Ulama, Kiyai.
Masyarakat latah seperti itu kalau menurut Al Qur’an tidak benar.


Tugas-Tugas Ulama

Rasulullah SAW bersabda:

إن الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ، إِنَّ اْلأَنْبِياَءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْناَرًا وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا
وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR At-Tirmidzi, Ahmad)

Allah SWT berfirman:

ثُمَّ اَوْرَثْنَا الْكِتٰبَ الَّذِيْنَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَا دِنَا ۚ فَمِنْهُمْ ظَا لِمٌ لِّنَفْسِهٖ ۚ وَمِنْهُمْ مُّقْتَصِدٌ   ۚ وَمِنْهُمْ سَا بِقٌ بِۢا لْخَيْرٰتِ بِاِ ذْنِ اللّٰهِ ۗ ذٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيْرُ 

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan, dan ada pula yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar.” (QS. Fatir 35: Ayat 32)

Ulama adalah orang-orang pilihan karena kepakaran mereka. Mereka ada yang zalim tidak menggunakan kepakarannya sebagaimana mestinya. Ada yang Pertengahan, kalau keliru karena manusiawi dan Terbaik.

Jadi menurut Al Qur’an, ulama dibagi tiga : Zalim, Pertengahan dan yang Terbaik yang selalu mendahulukan kebaikan-kebaikan.

Imam Ghozali dalam Ihya Ulumudin membagi Ulama menjadi dua saja : Ulama dunia atau dia sebut Ulama Suu’ (buruk) karena mereka tidak menggunakan kepakarannya sebagaimana mestinya. Kepakarannya hanya dipakai untuk mencari materi duniawi. Ini mungkin masuk kategori yang pertama, ulama zalim.

Ulama akhirah adalah ulama-ulama yang konsisten dengan tugas- tugasnya. Mereka tidak menyelewengkan kepakarannya dalam bidang -bidang itu untuk mencari materi duniawi atau untuk memalingkan agama.

Kalau kita melihat hadits Nabi tadi, ulama itu pewaris Nabi maka tugas ulama itu adalah melanjutkan misi-misi kenabian.

Secara umum Nabi Muhammad disebut dalam Al Qur’an memiliki 4 tugas :

1. Tabligh

Menyampaikan ajaran Kitab Suci kepada orang lain, baik internal umat islam maupun kepada yang tidak islam dengan cara-cara yang elegant.

Allah SWT berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الرَّسُوْلُ بَلِّغْ مَاۤ اُنْزِلَ اِلَيْكَ مِنْ رَّبِّكَ ۗ وَاِ نْ لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسٰلَـتَهٗ ۗ 

“Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu. Jika tidak engkau lakukan apa yang diperintahkan itu berarti engkau tidak menyampaikan amanat-Nya…” (QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 67)

Tugas Rasulullah adalah dakwah. Setelah Rasul wafat maka tugas ini ada di pundak Para ulama secara lebih spesifik.

Maka para ulama punya tugas untuk tabligh dakwah. Ada dakwah bil hal dan ada dakwah bil lisan dengan ceramah. Dakwah bil hal adalah dakwah secara nyata menerapkan ajaran islam dalam kehidupan bermasyarakat.

Ayat ini kalau kita lihat dalam Tafsirnya orang-orang Syi’ah, mereka memahami ayat ini, yang harus disampaikan oleh Rasulul itu bukan tabligh tapi yang disampaikan adalah masalah Keimaman, kekhalifahan Ali bin Abi Thalib.

Tafsir ini sangat subyektif dan tidak sesuai dengan realitas Sejarah, karena ayat ini turun di awal periode Mekkah. Waktu itu Ali bin Abi Thalib masih kecil. Nabi Muhammad juga belum sukses di dalam dakwahnya. Sehingga tidak logis Nabi Muhammad sudah “menggadang-gadang” Ali bin Abi Thalib untuk diangkat menjadi Khalifahnya setelah beliau wafat. Ini ada dalam Tafsir Al Mizan yang ditulis oleh Muhammad Husain Thabathaba’i.

2. Menjelaskan Kitab Suci Al Qur’an

Allah SWT berfirman:

وَاَ نْزَلْنَاۤ اِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّا سِ مَا نُزِّلَ اِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ

“Dan Kami turunkan Ad-Zikr (Al-Qur’an) kepadamu, agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka memikirkan.” (QS. An-Nahl 16: Ayat 44)

Rasulullah semasa hidupnya sudah menjelaskan Al Qur’an kepada kita semua. Setelah beliau wafat maka tugas untuk menjelaskan Al Qur’an ini ada di pundaknya para ulama, tiga kepakaran. Mereka punya tugas untuk menjelaskan Al Qur’an, karena Al Qur’an isinya bermacam -macam. Ada kaitan dengan masalah keagamaan, kealaman dan masalah sosial. Masing-masing harus menjelaskan sesuai bidang keahliannya.

Dalam Al Qur’an para ulama didorong untuk terus-menerus melakukan kajian dan terus-menerus mengajarkan apa yang mereka ketahui.

Allah SWT berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ يَتْلُوْنَ كِتٰبَ اللّٰهِ وَاَ قَا مُوا الصَّلٰوةَ وَاَ نْفَقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰهُمْ سِرًّا وَّعَلَا نِيَةً يَّرْجُوْنَ تِجَا رَةً لَّنْ تَبُوْرَ 

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Qur’an) dan melaksanakan sholat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi,”- (QS. Fatir 35: Ayat 29)

Salah satu kegiatan ulama adalah mengkaji Kitab Allah. Karena masyarakat berkembang, ilmu pengetahuan berkembang maka ulama tidak boleh berhenti dalam melakukan Kajian-kajian. Hasil dari apa yang mereka kaji kemudian disampaikan kepada masyarakat supaya masyarakat juga terus-menerus bisa mengetahui makna dari Al Qur’an, perkembangan- perkembangan yang terjadi yang berkaitan dengan tafsir Al Qur’an.

Allah SWT berfirman:

كُوْنُوْا رَبَّا نِيّٖنَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُوْنَ الْكِتٰبَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُوْنَ 

“Jadilah kamu pengabdi-pengabdi Allah, karena kamu mengajarkan Kitab dan karena kamu mempelajarinya!””
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 79)

Ayat ini menjelaskan bahwa tugasnya ulama itu dua yang inti : Mengajar dan Melakukan Penelitian.
Ini perlu disadari oleh mereka yang punya predikat keulamaan.
Para dokter, para Profesor harus melakukan kajian-kajian dan terus menerus mengajarkan kepada masyarakat tentang perkembangan ilmu pada disiplinnya masing-masing.

3. Memberi Solusi/Putusan tentang problem dan perselisihan yang terjadi di dalam masyarakat

Allah SWT berfirman:

كَا نَ النَّا سُ اُمَّةً وَّا حِدَةً ۗ فَبَعَثَ اللّٰهُ النَّبِيّٖنَ مُبَشِّرِيْنَ وَمُنْذِرِيْنَ ۖ وَاَ نْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتٰبَ بِا لْحَـقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّا سِ فِيْمَا اخْتَلَفُوْا فِيْهِ ۗ وَمَا اخْتَلَفَ فِيْهِ اِلَّا الَّذِيْنَ اُوْتُوْهُ مِنْۢ بَعْدِ مَا جَآءَتْهُمُ الْبَيِّنٰتُ بَغْيًاۢ بَيْنَهُمْ ۚ فَهَدَى اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لِمَا اخْتَلَفُوْا فِيْهِ مِنَ الْحَـقِّ بِاِ ذْنِهٖ ۗ وَا للّٰهُ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَآءُ اِلٰى صِرَا طٍ مُّسْتَقِيْمٍ

“Manusia itu (dahulunya) satu umat. Lalu Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan. Dan diturunkan-Nya bersama mereka Kitab yang mengandung kebenaran, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Dan yang berselisih hanyalah orang-orang yang telah diberi (Kitab), setelah bukti-bukti yang nyata sampai kepada mereka, karena kedengkian di antara mereka sendiri. Maka dengan kehendak-Nya, Allah memberi petunjuk kepada mereka yang beriman tentang kebenaran yang mereka perselisihkan. Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 213)

Seperti di Indonesia sekarang ini banyak terjadi perselisihan dalam bidang sosial, ekonomi, politik.
Peran ulama menjadi penting untuk memberikan solusi. Sepanjang ulama-ulama ini masih konsisten dengan tugasnya : Mengajar dan Meneliti. Hanya saja kalau ulamanya masuk politik, biasanya jadi berbeda. Tidak menyelesaikan masalah tapi biasanya malah menambah runcingnya persoalan. Tidak selesai masalah yang dihadapi.

4. Memberi Contoh Keteladanan kepada Masyarakat

Allah SWT berfirman:

لَقَدْ كَا نَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَا نَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَا لْيَوْمَ الْاٰ خِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًا 

“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 21)

Setelah Rasul wafat, tugas untuk memberi keteladanan ada di pundaknya para ulama. Maka ulama-ulama dari berbagai keahlian harus tampil yang baik dan yang terbaik.

Dalam pepatah Jawa dikatakan :
“Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Kalau contohnya tidak bagus nanti yang diberi contoh akan lebih rusak lagi perilakunya. Karena contoh bagus saja yang mengikuti tidak selalu bisa seperti yang dicontohkan.

Rasul di Al Qur’an pernah ditegur oleh Allah SWT, dalam Surat Abasa.
Ketika Rasul sedang menemui tokoh- tokoh Quraisy, kemudian datang Abdullah bin Ummi Maktum, orang buta yang ingin minta pengajaran pada Nabi. Kemudian kurang diperhatikan oleh Nabi. Beliau ditegur oleh Al Qur’an dengan Surat Abasa.

Kata para ulama, Nabi ditegur itu sebenarnya Nabi tidak salah tapi hanya pada waktu itu Nabi tidak menampilkan keteladanan yang terbaik. Nabi sebagai Rasul bertindak seperti itu terhadap Abdullah bin Ummi Maktum dianggap tidak wajar, tapi tidak salah.

Kita lihat di seluruh dunia yang namanya Pemimpin malah ada protokolernya kalau mau ketemu. Mau ketemu Presiden juga akan melewati pintu berapa lapis protokol. Tidak bisa langsung.

Kalau Nabi dulu tidak ada protokolnya, orang bisa langsung mendekati Nabi. Mau ketemu Bupati, mau ketemu Camat sekarang ada protokolnya. Tidak bisa langsung. Jadi itu tidak salah.

Sekarang kalau kita ada tamu jika ada orang mau masuk kan tidak boleh?
Apa yang dilakukan Nabi tidak salah, hanya untuk ukuran beliau sebagai Nabi dianggap ini bukan teladan yang terbaik.

Maka ulama dari ketika kepakaran kalau misalnya ada kritik dari pihak lain, tidak apa-apa. Mungkin dia tampil dalam kondisi tidak terbaik. Dikritik supaya dia tampil dengan penampilan terbaik.

Dalam jargon Arab ada pepatah
hasanatul abror sayyiatul muqorrobin (kebaikan bagi orang biasa bisa berarti kesalahan bagi orang istimewa).
Orang makin tinggi kedudukannya tuntutannya makin tinggi. Dia harus menyesuaikan sesuai maqomnya.

Tingkah-laku, berpakaian dan sebagainya, sesuai dengan maqomnya. Bila tidak dia bisa dikritik.
Ibarat seorang Kuli kalau dipasar memakai celana pendek dan kaos oblong dianggap biasa. Tetapi kalau Dokter berpakaian seperti itu di pasar pasti dikritik karena tidak sesuai dengan maqom. Oleh karena itu orang harus tampil sesuai maqom yang disandang.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here