H.M Arief Rahman Lc MA

7 Ramadhan 1442 / 19 April 2021



1. Kelahiran dan Masa Pertumbuhan

Mush’ab bin Umair lahir pada tahun 585 M, kurang lebih, lebih muda dari Rasulullah SAW 14-15 tahun dan masuk islam masih usia 20 tahun. Memang pada waktu itu sahabat- sahabat Nabi yang masuk Islam kebanyakan memang dari kalangan pemuda yang kemudian menjadi pilar tersebarnya islam dari Mekkah dan kemudian menuju Madinah.

Mush’ab bin Umair r.a termasuk Assabiqunal awwalun, orang-orang yang pertama-kama masuk Islam. Dan termasuk dari sahabat yang dididik Nabi di rumah Al Arqam bin Abil Arqam.

Mush’ab bin Umair r.a nama lengkapnya Mush’ab bin Umair bin Hasyim bin Abdul Manaf bin Abd al-Dar bin Qushai bin Kilaf Al Abdari Al Qurasyi termasuk kabilah Arab yang mempunyai kehidupan yang cukup baik, cukup tinggi.

Belum lagi kondisi orang tuanya yang terpandang dan kaya. Ayahnya bernama Umair bin Hasyim salah satu suku yang terpandang dan terkenal dikalangan Quraisy. Ibunya bernama Khunas binti Malik juga termasuk mempunyai kabilah yang terpandang juga di suku Quraisy.

Dari sini kita tahu bahwasanya Mush’ab bin Umair ini bukan orang biasa. Dia mempunyai kedudukan di masyarakatnya, demikian juga orang tuanya.

Mush’ab bin Umair diberi fisik yang luar biasa oleh Allah SWT. Dengan kondisi seperti itu di dalam Sirrah diceritakan bahwa Mush’ab bin Umair adalah seorang pemuda yang tampan wajahnya, putih bersih kulitnya dan dengan segala kelebihan yang ada dia menjadi idola.

Karena kedudukan orang tua , dan ekonominya yang luar biasa menyebabkan penampilannya juga berbeda dengan yang lain. Sampai- sampai Mush’ab bin Umair dalam jarak beberapa meter sudah diketahui karena bau wangi parfumnya yang khas.

Pakaiannya berbeda dengan pemuda- pemuda yang lain. Akhlaknya juga baik, orang mengenalnya dengan baik. Ada banyak kesempurnaan yang diberikan Allah.

Salah seorang muarif menggambarkan Mush’ab bin Umair sebagai berikut :
“Mush’ab bin Umair adalah seorang laki-laki yang aku belum pernah melihat orang semisal dirinya. Seolah-olah dia adalah laki-laki dari kalangan penduduk surga.”

Rasulullah SAW bersabda,

مَا رَأَيْتُ بِمَكَّةَ أَحَدًا أَحْسَنَ لِمَّةً ، وَلا أَرَقَّ حُلَّةً ، وَلا أَنْعَمَ نِعْمَةً مِنْ مُصْعَبِ بْنِ عُمَيْرٍ

“Aku tidak pernah melihat seorang pun di Mekah yang lebih rapi rambutnya, paling bagus pakaiannya, dan paling banyak diberi kenikmatan selain dari Mush’ab bin Umair.” (HR. Hakim).

Selain itu Mush’ab bin Umair mempunyai kharakter, juga sopan santun dan sangat hormat pada ibunya. Tak ada yang ditakuti oleh Mush’ab bin Umair kecuali ibunya, karena saking sayang, hormat dan patuhnya terhadap ibunya.


2. Menyambut Hidayah

Pada waktu itu dakwah islam masih disebarkan oleh Rasulullah SAW secara sembunyi-sembunyi, belum diumumkan. Yang diajak oleh Rasulullah SAW masih dari kalangan keluarga.

Allah SWT berfirman:

وَاَ نْذِرْ عَشِيْرَتَكَ الْاَ قْرَبِيْنَ 

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu (Muhammad) yang terdekat,” (QS. Asy-Syu’ara’ 26: Ayat 214)

Ini menjadi hikmah bahwa ketika kita diberi kefahaman, hidayah, petunjuk oleh Allah SWT bisa sampai seperti hari ini, yang paling layak untuk kita berikan kenikmatan apa yang kita rasakan adalah orang-orang yang paling dekat diantara kita, yaitu keluarga kita, meskipun tidak sampai menghalangi untuk menyampaikan kepada orang lain.

Karena ada yang mengatakan berdasar firman Allah SWT :

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْۤا اَنْفُسَكُمْ وَاَ هْلِيْكُمْ نَا رًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (QS. At-Tahrim 66: Ayat 6)

Bukankah yang penting saya menjaga diri saya sendiri ? kalau selesai baru keluarga. Tidak seperti itu. Kalau begitu cara berfikirnya kapan kita menjadi orang baik? Setiap kita mendapatkan ilmu, ilmu bisa kita laksanakan kemudian kita sampaikan kepada orang-orang yang kita sayangi di sekeliling kita.

Rasulullah pada waktu itu mendakwahi keluarga, maka yang didapat sebagai pengikut adalah isterinya Khadijah binti Khuwailid, Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, kemudian Abu Bakar. Abu Bakar mempunyai jaringan yang luar biasa sehingga mengajak orang-orang yang dikenalnya.

Pada awal-awal dakwah di Mekkah, ketika telah mendapatkan orang-orang yang tertarik islam, kemudian Rasulullah mengumpulkan mereka di sebuah rumah seorang sahabat Al Arqam bin Abil Arqam dari Bani Makhzum. Dia adalah sahabat yang punya kontribusi di awal islam, tetapi setelah itu tidak kelihatan perannya.

Bani Makhzum adalah salah satu penentang Rasulullah. Maka hebatnya strategy dakwah Rasul memilih tempat rumah Arqam untuk dakwah. Bukan rumah Abu Bakar ataupun Usman. Padahal rumah Arqam ini di pusat kota Mekkah. Di rumah itu dijadikan sebagai base camp untuk mendidik Sahabat yang baru masuk islam.

Meskipun sembunyi-sembunyi, sebenarnya masyarakat Mekkah sudah waktu itu tahu Muhammad membawa ajaran baru. Berita ini didengar Mush’ab bin Umair sampai akhirnya beliau tahu rumah Al Arqam dimana Rasulullah bertemu sahabat- sahabatnya. Mush’ab bin Umair menemui Rasulullah di rumah tersebut dan menyatakan masuk Islam.

Tetapi pada waktu itu beliau masih menyembunyikan keyakinan barunya terutama dihadapan ibunya, karena dia tahu ibunya adalah orang pertama yang akan menentangnya. Akan tetapi mau tidak mau, lama kelamaan berita tentang islamnya Mush’ab bin Umair diketahui oleh ibunya.

Mush’ab bin Umair diancam ibunya kalau tidak kembali ke agama nenek moyang akan dikeluarkan dari silsilah keluarga, tidak akan diberi fasilitas lagi. Berbagai macam kenikmatan yang selama ini dinikmati akan dicabut.

Disinilah peran sebuah hidayah. Orang yang mendapatkan hidayah dari Allah SWT bahwa yang diterima adalah sebuah kebenaran maka dia akan mempertahankan itu apapun resikonya. Seperti itu juga sahabat Mush’ab bin Umair.

Ibunya memikirkan Mush’ab bin Umair sampai mengancam untuk mogok makan. Namun Mush’ab bin Umair tetap pada pendiriannya. Melihat keteguhan Mush’ab bin Umair yang begitu luar biasa. Maka kemudian apa yang diucapkan orang tuanya menjadi kenyataan. Semua fasilitas kemudian dikurangi, bahkan sempat dikurung di sebuah tempat.

Mush’ab bin Umair seorang pemuda yang tampilannya luar biasa, begitu masuk islam dan diboikot orang tuanya, keadaannya berbalik tidak seperti itu lagi.

Dalam sebuah riwayat dikatakan Mush’ab bin Umair mendapatkan siksaan secara fisik hingga tubuhnya kurus dan penuh memar. Kulitnya pecah-pecah, mengelupas dan dia tertatih -tatih sampai tidak bisa berjalan. Intimidasi orang tua untuk mengembalikan Mush’ab bin Umair ke keyakinan awal begitu luar biasa.

Kondisi saat itu para sahabat merasa tidak jauh dari apa yang dirasakan Mush’ab bin Umair. Ketika dakwah sembunyi-sembunyi ketahuan orang Mekkah, Rasulullah SAW menganjurkan sahabatnya hijrah ke Habasyah.

Sebelum hijrah ke Madinah, Rasulullah dan para sahabat telah melakukan beberapa kali hijrah. Ada hijrah ke Thaif yang dilakukan Rasulullah dan salah seorang sahabat. Kemudian hijrah ke Habasyah sampai dua kali, termasuk Mush’ab bin Umair.

Beliau ikut hijrah ke Habasyah sampai beberapa waktu lamanya. Kemudian ada semacam rekonsiliasi, sehingga kota Mekkah tidak segarang sebelumnya ketika mensikapi orang- orang yang masuk islam. Akhirnya Mush’ab bin Umair dan beberapa sahabat balik lagi ke Mekkah.

Setelah masuk islam dan mendapatkan didikan Rasulullah SAW langsung, Rasulullah melihat bahwa Mush’ab bin Umair tidak hanya punya fisik bagus, keluarga yang terpandang, tetapi juga mempunyai potensi yang sangat luar biasa.

Mush’ab bin Umair mempunyai kepandaian diplomasi. Dia menyerap ilmu dengan cepat. Ini kemudian menjadi pertimbangan Rasulullah untuk mengutus Mush’ab bin Umair ke Madinah.


3. Kontribusi dan Peranan dalam Islam

Masih di awal-awal dakwah Islam Mush’ab bin Umair sudah mendapatkan peran. Rasulullah ingin menyebarkan dakwah ke luar Mekkah. Waktu yang dinanti- nanti Rasulullah tiba. Yaitu waktu musim Haji.

Banyak jama’ah haji yang masuk kota Mekkah. Haji ini merupakan syariat Nabi Ibrahim a.s yang kemudian disempurnakan oleh Rasulullah SAW pada pelaksanaan Haji Wada’.

Haji syariat Nabi Ibrahim ini berlangsung terus menerus. Ketika musim Haji tiba, banyak kabilah- kabilah yang datang ke kota Mekkah. Diantaranya adalah orang -orang Yatsrib (Madinah).

Rasulullah berkeliling dari satu tenda ke tenda lain menyampaikan tentang Islam sampai kemudian ke tenda orang-orang Yatsrib. Mereka menyambut itu dan mengatakan : “Apa yang disampaikan Muhammad adalah yang selalu kita dengar disampaikan oleh orang Yahudi”.

Di Madinah banyak perkampungan Yahudi, maka dikemudian hari banyak pertempuran antara orang Islam dan orang Yahudi. Bahkan sampai terjadi pengusiran orang-orang Yahudi dari Madinah. Karena terjadi pengkhianatan oleh orang Yahudi terhadap Perjanjian yang dibuat Rasulullah dengan orang Yahudi agar terjadi kondisi yang baik di kota Madinah.

Orang Yatsrib atau Madinah yang naik Haji mengetahui karena mendengar dari orang Yahudi, bahwa mereka kalau perang pasti akan menang karena menunggu datangnya Nabi akhir zaman. Mereka menyampaikan ciri-cirinya Nabi tersebut.

Begitu Rasulullah menyampaikan pada orang-orang Yatsrib , mereka langsung tahu bahwa inilah Nabi yang ditunggu orang Yahudi. Sebelum orang Yahudi mengikuti Nabi ini, kita harus sambut terlebih dahulu. Kemudian orang-orang Yatsrib dan Rasulullah mengadakan kesepakatan untuk bertemu di tempat yang namanya Aqobah. Dekat dengan jumrah Aqobah.

Jumrah Aqobah sebenarnya tidak bulat, tetapi setengah lingkaran karena jumrah Aqobah ini menempel dengan bukit- bukit Aqobah.

Rasulullah bertemu dibalik bukit Aqobah yang letaknya kalau begitu selesai lempar jumrah Aqobah belok ke kanan kemudian di arah kiri masih ada Masjid Bai’at tempat Rasulullah SAW melakukan bai’at baik yang pertama maupun yang kedua. Jadi di Mina masih ada masjidnya.

Dari dua belas orang Yatsrib ini , ada tujuh orang yang melakukan bai’at dengan Rasulullah SAW. Mereka masuk Islam. Kemudian mereka berkata : “Ya Rasulullah, kami itu jauh dari engkau. Kami di Yatsrib, engkau di Mekkah. Lalu darimana kami mempelajari Islam?”.

Rasulullah menjanjikan : “Nanti akan kami kirim orang yang akan mengajarkan Islam kepada kalian”.
Begitu musim Haji selesai, maka kemudian orang Yatsrib pulang ke Madinah dan Rasulullah memilih sahabat, siapa yang kira-kira pantas untuk diutus ke Yatsrib untuk mengajarkan Islam.

Sebenarnya masih banyak sahabat- sahabat yang lebih senior yang dekat dengan Rasulullah. Tetapi Rasulullah melihat bahwa di Yatsrib ini tidak hanya akan mengajarkan Islam, tetapi akan bertemu dengan Pimpinan Kabilah-Kabilah yang ada di Yatsrib, ada Aus, Khozroj yang mereka pada waktu itu berperang.

Kalau dalam sejarah hampir sama dengan perang Irak dan Iran. Yang satu didukung Amerika, yang lain didukung Rusia. Perang antara Aus dan Khozroj dibelakangnya ada Kaum Yahudi yang mensupply senjata kepada kedua Kabilah.

Kodisi di Madinah pasarnya dikuasai orang-orang Yahudi. Dengan kondisi seperti itu maka Rasulullah memilih sahabat Mush’ab bin Umair. Dia dikirim ke Madinah sebagai duta islam yang pertama. Kemudian setelah Mush’ab bin Umair disana dikenal dengan yang mengajarkan Islam di Madinah.

Karena Mush’ab bin Umair secara fisik luar biasa, dia orang pintar dan pandai diplomasi. Mush’ab bin Umair di Madinah disambut oleh mereka yang sudah masuk Islam. Begitu masuk Madinah, Mush’ab bin Umair mulai melaksanakan misinya untuk mengajarkan Islam kepada orang- orang yang masuk Islam. Menjelaskan ayat-ayat Al Qur’an berpindah-pindah dari satu rumah ke rumah yang lain.

Kemudian salah seorang sahabat yang menjadi partner Mush’ab bin Umair menyampaikan bagaimana kalau berdakwah pada para Pimpinan Kabilah. Kalau dia masuk Islam tidak hanya dia yang masuk Islam tetapi pengikutnya akan masuk Islam.

Disini peran Mush’ab bin Umair luar biasa. Ketika di Madinah beliau menginap di rumah salah seorang sahabat yang bernama As’ad bin Zurarah. Sahabat As’ad bin Zurarah inilah yang kemudian menyarankan Mush’ab bin Umair mendakwahi para Pimpinan Kabilah

Pada waktu itu yang didakwahi Mush’ab bin Umair adalah Usaid bin Hudair dan Saad bin Muadz. Ini adalah Pimpinan Kabilah di Madinah. Belakangan dalam sejarah Saad bin Muadz ini menjadi seorang yang begitu kuat membela Rasulullah SAW dalam setiap peperangan.

Karena lama di Madinah, keberadaan Mush’ab bin Umair akhirnya juga dikenal sebagai orang baru dari Mekkah membawa ajaran baru. Mereka mengatakan bahwa ini akan merusak kondisi di Madinah. Ini membangkitkan kemarahan para Kabilah.

Demikianlah ketika Mush’ab bin Umair mendatangi Usaid bin Hudair dan Saad bin Muadz beliau disambut dengan kemarahan. Namun berkat kepandaian diplomasi dari Mush’ab bin Umair berkata : ” Kalau mau marah silahkan tetapi silahkan duduk terlebih dahulu. Saya ingin sampaikan sesuatu, kalau baik silahkan diterima, kalau tidak baik kita diskusikan”.

Kemudian mereka duduk, dibacakan Al Qur’an dan disampaikan tentang Islam. Baru mereka menyadari bahwa ini adalah sesuatu yang baik. Ini adalah sebagaimana disampaikan oleh orang -orang Yahudi. Maka beberapa Pimpinan Kabilah setelah berdialog dengan Mush’ab bin Umair kemudian masuk Islam.

Begitu masuk islam maka kemudian Saad bin Muadz mendatangi kelompoknya. Beliau mengatakan : “Apa yang kamu ketahui tentang saya?”. “Anda adalah Pemimpin kami, kami akan mengikuti anda.. “. Beliau mengatakan : “Saya mengikuti agama Muhammad”. Akhirnya semakin banyak orang yang masuk Islam setelah peristiwa itu.

Pada tahun berikutnya ketika musim Haji sudah bukan beberapa gelintir orang lagi. Sudah mulai bertambah, dari 7 orang kemudian 12 orang, kemudian pada musim Haji berikutnya sampai 70 orang yang datang ke Mekkah untuk melaksanakan Haji dan berbai’at di Aqobah kepada Rasulullah SAW. Mereka menyatakan sikap mereka untuk melindungi Nabi dan mengajak Rasulullah untuk ke Madinah.

Kurang lebih dua tahun Mush’ab bin Umair mengajarkan orang-orang Madinah tentang Islam kemudian banyak yang masuk Islam. Yang paling penting adalah mengkondisikan orang- orang Madinah untuk menyambut atau membawa Rasulullah SAW dari Mekkah ke Madinah.

Misi seorang Mush’ab bin Umair luar biasa, begitu berat tapi harus dilakukan karena akan menentukan masa depan islam pada waktu itu. Yaitu mempersiapkan tempat untuk hijrahnya Rasulullah SAW. Menjadi tempat berkembangnya islam.

Kemudian setelah orang-orang Yatsrib pulang dari Haji maka Rasulullah SAW mempersiapkan dirinya untuk hijrah ke Madinah. Akhirnya terjadi proses hijrah dari Mekkah ke Madinah dimulai dari sahabat-sahabatnya dulu satu persatu. Kemudian yang terakhir Rasulullah SAW dan sahabatnya Abu Bakar.

Di Madinah sudah siap, yang menyambut Nabi adalah mereka yang sudah masuk Islam. Mereka menyambut orang baru dan dijadikan pemimpin. Madinah jadi Darul Hijrah.


4 Wafatnya Mush’ab bin Umair

Kontribusi Mush’ab bin Umair terjadi pada peperangan-peperangan yang terjadi kemudian, antara lain perang Badar. Mush’ab bin Umair terus mendampingi Rasulullah SAW dengan kondisi yang berbeda dengan keadaan sebelum dia masuk Islam.

Kemudian terjadilah Perang Uhud. Perang besar yang menewaskan banyak umat islam. Meskipun kalah tapi dalam tafsir Fi zilalil Quran, Sayyid Qutb mengatakan : “Meskipun kalah, tetapi perang Uhud itu memberikan pelajaran yang sangat-sangat berharga bagi umat Islam”.

Ada banyak hikmah yang diperoleh dari peristiwa perang Uhud :
– Perang Uhud memperlihatkan orang-orang munafik. Mereka membawa banyak pasukan dari Madinah, tetapi kemudian membelot pulang. Dari perang Uhud ketahuan Pimpinan orang munafik adalah Abdullah bin Ubay bin Salul.
– Di awal peperangan kaum muslimin sempat memukul mundur orang-orang kafir Quraisy dengan strategy yang dilakukan Rasulullah menempatkan pasukan pemanah.
– Orang kafir Mekkah lari meninggalkan barang rampasan. Setelah itu muncul ujian berupa Ghanimah atau barang rampasan.
– Karena orang kafir lari, Para Pemanah turun mengambil barang rampasan. Meski sudah diingatkan tapi diabaikan.
– Akhirnya mereka diserang balik oleh Khalid bin Walid yang masih kafir dan menjadi Panglima Pasukan Berkuda. Mereka menewaskan 70 orang Syuhada.
– Kalahnya pasukan Pemanah berimbas pada pasukan yang lain. Penyerangan semakin terarah kepada Rasulullah SAW.
– Sampai kemudian terdengar berita Rasulullah meninggal. Berita itu terdengar oleh Mush’ab bin Umair.
– Mush’ab bin Umair menjadi salah satu panglima yang membawa Bendera Rasulullah.
– Begitu mendengar berita Rasulullah meninggal, beliau mengambil bendera, memberi semangat kepada Pasukan Muslim. Sambil berkata : “Ketahuilah bahwa Muhammad adalah seorang Rasul”.
– Mush’ab bin Umair menjadi target untuk dibunuh , disamping target sebelumnya yaitu Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Nabi.
– Hamzah gugur ditembak oleh Wahsyi yang ahli ilmu tombak yang disewa untuk membunuh Hamzah.
– Belakangan hari Wahsyi masuk islam dan membunuh Nabi palsu Musailamah Al Kadzab, sebagai penebusan terhadap apa yang telah dilakukan terhadap Hamzah.
– Hamzah meninggal dan dadanya dibelah oleh Hindun. Belakangan hari kemudian Hindun juga masuk islam. Demikianlah hidayah Allah.
– Mush’ab bin Umair berperang dan tangan kanan beliau yang memegang bendera ditebas musuh sampai putus. Begitu tangan kanan putus, bendera dipegang dengan tangan kiri. Tangan kiri beliaupun ditebas dan akhirnya Mush’ab bin Umair gugur dalam perang Uhud.
– Rasulullah dalam kondisi banyak luka naik ke Puncak Uhud. Perang Uhudpun selesai.
– Begitu perang selesai Rasul keliling melihat siapa-siapa yang gugur.
– Ketika melihat Hamzah beliau berkata : “Saya tidak tahu saya sedih karena kalah perang, atau karena banyaknya Kaum muslimin yang gugur atau karena gugurnya Hamzah”.
– Ketika melihat Mush’ab bin Umair dalam kondisi yang sangat mengenaskan, dengan luka sangat banyak.
– Orang yang mati syahid langsung dimakamkan dalam keadaan apa adanya. Pada waktu itu pakaian yang dipakai oleh Mush’ab bin Umair ternyata tidak cukup menutup tubuhnya. Ketika ditarik menutup kaki terlihat kepala. Ketika ditarik menutup kepala terlihat kakinya. Maka Rasulullah SAW menyampaikan : “Tutuplah kepala Mush’ab bin Umair dan tutupi kakinya dengan rumput atau daun-daunan”.
– Beliau menyampaikan sabdanya : “Sungguh aku melihatmu ketika di Mekah, tidak ada seorang pun yang lebih baik pakaiannya dan rapi penampilannya daripada engkau. Dan sekarang rambutmu kusut dan pakaianmu kain burdah.”

Itulah kisah sahabat Mush’ab bin Umair. Diantaranya yang bisa kita ambil pelajaran adalah bahwa ketika Allah SWT telah memberikan hidayah Islam, Iman maka tidak ada kata lain
menyampaikan itu kepada orang-orang yang ada disekitar kita agar kita mempunyai nilai lebih di sisi Allah SWT dan pertanggung jawaban kita kepada Allah atas nikmat yang Allah berikan.

Rasulullah SAW bersabda :

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنْ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوْشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْ عِنْدِهِ ثُمَّ لَتَدْعُنَّهُ فَلاَ يَسْتَجِيْبُ لَكُمْ

Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, hendaknya kalian betul-betul melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar atau jika kalian tidak melaksanakan hal itu maka sungguh Allah akan mengirim kepada kalian siksa dari-Nya kemudian kalian berdoa kepada-Nya akan tetapi Allah Azza wa Jalla tidak mengabulkan do’a kalian. (HR Ahmad dan at-Tirmidzi)

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here