Dr. Adian Husaini

6 Ramadhan 1442 / 18 April 2021



Perintah Allah untuk menambah ilmu

Mencari ilmu adalah proses yang tidak dibatasi tempat dan waktu. Di masa Nabi tidak ada sejengkal tanah atau sekejap waktu yang dilewati tanpa proses keilmuan.
Makanya satu-satunya do’a dalam Al Qur’an yang Rasul perintahkan untuk minta tambah adalah hanya do’a minta tambah ilmu.

Allah SWT berfirman:

 وَقُلْ رَّبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا

” dan katakanlah, “Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.”” (QS. Ta-Ha 20: Ayat 114)

Oleh karena itu peradaban islam setelah proses titik balik pada Peristiwa Isra’ Miradj yang merupakan awal kebangkitan islam terjadi gelombang hijrah. Hijrah itu proses seleksi betul. Orang-orang yang ke Madinah itu orang-orang pilihan yang terbaik. Mereka telah mempertaruhkan jiwa raga dan harta mereka untuk keselamatan akidah mereka dan juga membangun suatu peradaban tinggi di Madinah yang disebut oleh Rasulullah sebagai Khairul Quruni Qarni, sebaik-baik umat adalah zaman Rasulullah.

Begitulah makna pendidikan, maknanya tidak sempit, bukan sekedar hanya sekolah. Kalau pendidikan hanya dimaknai sekolahan maka :
– Seorang anak dinasehati orang tuanya bukan pendidikan.
– Proses diskusi di majelis kita dianggap bukan pendidikan.
Pendidikan yang mengharuskan keformalan itu rugi. Makna pendidikan apakah dengan nama Tarbiyah, Taklim, atau Ta’dib adalah proses semua usaha untuk menjadikan kita orang beradab.


Puasa adalah Puncak Pendidikan

Di bulan Ramadhan ada satu ibadah shaum Ramadhan yang begitu istimewa. Sampai pahalanya dilipat gandakan langsung oleh Allah.

Dalam sebuah hadits Qudsi :

عن أَبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قال : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : قَالَ اللَّهُ : كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

Dari Abu Hurairah r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Allah berfirman, ‘Semua amal anak Adam untuknya kecuali puasa. Ia untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.” (HR Bukhori Muslim)

Melalui ibadah Puasa kita dilatih untuk menjadi orang takwa.

Allah SWT berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْکُمُ الصِّيَا مُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِکُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ 

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” – (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 183)

Dalam kitab Fiqih, definisi puasa adalah menjaga makan-minum dan dari hal-hal yang membatalkan puasa dari terbit fajar sampai maghrib.
Padahal di dalam Al Qur’an disebutkan yang penting adalah tujuannya “laalakum tattaqun”.

Puasa bukan sekedar menahan makan-minum dan hal-hal yang membatalkan tapi ada suatu tujuan yang tegas. Kalau orang tak tahu tujuan maka dia tak tahu perjalanannya sudah sampai dimana?
Puasa hanya merasa setelah datang maghrib sudah sampai tujuan, sudah selesai. Secara fiqih itu tidak salah. Artinya kalau dia menjalankan ibadah puasa jika tidak batal puasanya dia tidak wajib Qadla atau Fidiyah.

Sama dengan orang sholat , kalau sudah menjalankan rukun dan wajibnya shalat dia sudah selesai. Tetapi apakah sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar?

Allah SWT berfirman:

اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَا لْمُنْكَرِ ۗ 

“Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” -(QS. Al-‘Ankabut 29: Ayat 45)

Ingat pula ketika Luqman al Hakim menasehati anaknya :

يٰبُنَيَّ اَقِمِ الصَّلٰوةَ وَأْمُرْ بِا لْمَعْرُوْفِ وَا نْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَا صْبِرْ عَلٰى مَاۤ اَصَا بَكَ ۗ اِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُ مُوْرِ ۚ  

“Wahai anakku! Laksanakanlah sholat dan suruhlah manusia berbuat yang makruf dan cegahlah mereka dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting.” (QS. Luqman 31: Ayat 17)

Sholat dampaknya menjadi pejuang menegakkan kebenaran dan mencegah kemungkaran.

Kalau kita perhatikan, saat puasa kita dilatih. Ini puncak pendidikan. Karena hakekat pendidikan dalam Islam sebetulnya adalah kata ta’dib menjadikan dia orang yang beradab.
Kalau kita membaca Surat Luqman dari ayat 12 sampai 19
Adab pertama adalah adab kepada Allah.

يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِا للّٰهِ ۗ اِنَّ الشِّرْكَ لَـظُلْمٌ عَظِيْمٌ

“Wahai anakku! Janganlah engkau menyekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.””
(QS. Luqman 31: Ayat 13)

Maka pendidikan yang pertama yang terpenting adalah pendidikan akidah. Jangan sampai orang terjatuh dalam kemusyrikan. Artinya harus diberikan pendidikan Tauhid yang kuat.

Kedua, harus tahu tentang kemusyrikan karena kalau kita tahu yang baik harus tahu yang buruk. Kalau kita tahu tentang tauhid harus tahu musuhnya. Harus tahu yang membatalkan tauhid. Kalau tahu tentang iman harus tahu juga tentang kekufuran. Ada yang membatalkan keimanan.

Waktu kecil di SD kita mengaji Kitab Sulamu Taufik . Kalau di pondok kitab itu untuk anak SMP. Di bagian awal sudah disebutkan di kitab itu : “Wajib atas setiap muslim menjaga islamnya”.
Islam harus dijaga dari hal-hal yang bisa merusak dan membatalkannya.

Jadi yang bisa batal bukan hanya haji. Sholat bisa batal, islampun bisa batal. Ini yang wajib pertama kali bahkan lebih penting daripada sholat. Karena kalau orang imannya rusak, seluruh perbuatannya akan tidak ada nilainya.

Allah SWT berfirman:

وَمَنْ يَّرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِيْـنِهٖ فَيَمُتْ وَهُوَ کَافِرٌ فَاُ ولٰٓئِكَ حَبِطَتْ اَعْمَا لُهُمْ فِى الدُّنْيَا وَا لْاٰ خِرَةِ ۚ وَاُ ولٰٓئِكَ اَصْحٰبُ النَّا رِ ۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ

“Barang siapa murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itu sia-sia amalnya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.”” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 217)

Makanya salah satu pendidikan kita adalah penanaman akidah yang sangat kuat. Kita diajari berdo’a setiap hari :

اِهْدِنَا الصِّرَا طَ الْمُسْتَقِيْمَ (6) صِرَا طَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّآلِّيْنَ (7)

“Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan jalan mereka yang dimurkai, dan bukan pula jalan mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah 1: Ayat 6-7)

Kata Rasulullah : Al-maghdhuubi adalah Yahudi dan adh-dhooolliin adalah Nashoro.

Kita berdo’a tapi juga harus belajar karena kalau kita berdo’a meminta rezeki tetapi tak mau bekerja ya tidak bisa. Do’anya benar tapi dia dosa karena dia tidak menjalankan syariat.
Orang berdo’a minta selamat dari jalan yang sesat harus tahu tentang ilmu kesesatan. Sama dengan orang belajar tentang perdagangan, dia harus tahu apa itu riba. Kalau dia belajar yang halal, harus tahu yang haram.

Sama dalam dunia makanan kita harus makanan yang baik, maka kita harus tahu juga makanan yang merusak tubuh.

Sebagaimana pepatah Arab :
“aroftu syarro laa li syarri, lakin litawaqqih, waman laa ya’rifu syarro minal khoiri yaqo’u fiihi”

Aku belajar dari yang buruk, bukan untuk mengikuti yang buruk tapi agar aku menjaga diri. Siapa yang tidak bisa membedakan yang buruk dari yang baik, dia tidak kenal keburukan itu. Dia akan terjatuh ke dalam keburukan.

Prof Syed Naquib Alattas beliau menulis dalam bukunya :
Fundamental elemen dari pendidikan islam atau tujuan mencari ilmu dari islam itu adalah untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan atau keadilan. Karena nilai-nilai keadilan akan mendidik kita dari waktu ke waktu menjadikan kita semakin adil.
Orang yang semakin adil itu dekat dengan takwa.

Allah SWT berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّا مِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَآءَ بِا لْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰ نُ قَوْمٍ عَلٰۤى اَ لَّا تَعْدِلُوْا ۗ اِعْدِلُوْا ۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰى ۖ وَا تَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ بِۢمَا تَعْمَلُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah ketika menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 8)

Biasanya orang kalau sudah tidak suka, apapun yang baik dari orang itu dia tolak. Ini perbuatan tidak benar, tidak adil, tidak boleh begitu.

Pendidikan menanamkan nilai keadilan sehingga orang itu menjadi adil. Ketika orang menjadi adil apalagi kemudian dia beradab maksudnya dia tahu posisi dirinya ketika berinteraksi dengan segala sesuatu di luar dirinya. Maka adab yang terpenting adalah adab pada Tuhannya.

Sopan-santun kepada Allah itu apa ? Jangan menyekutukan Allah. Maka syirik itu kezaliman besar.
Orang korupsi itu zalim karena merampas hak orang lain. Tetapi syirik itu kezaliman yang lebih besar dari pada korupsi, karena dia merampas hak Tuhan.

Hak Allah atas kita adalah bahwa Allah berhak sebagai Tuhan satu-satunya yang berhak untuk disembah. Kalau orang menyembah yang lain sebenarnya dia merampas hak Allah. Dia zalim yang besar.
Adab kepada Allah adalah bagaimana kita sholat yang benar, ibadah yang benar dan ikhlas, tidak riya.

Rasulullah SAW bersabda,
“Sesungguhnya yang paling aku takutkan dari apa yang aku takutkan menimpa kalian adalah syirkul ashghar (syirik kecil).” Maka para shahabat bertanya, ”Apa yang dimaksud dengan syirkul ashghar?” Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Ar-riya’.”- (HR Ahmad)

Riya adalah beribadah, dipersembahkan kepada makhluk. Riya disebut asy-syirkul ashghar atau syirik kecil. Dia syirik karena menyekutukan Allah. Mestinya ibadah kita persembahkan kepada Allah. Orang syirik itu loyalitasnya tidak murni.

Contoh seorang Menteri mestinya loyal kepada Presiden. Tetapi dia loyal kepada partainya, ini termasuk “syirik”.
Manusia itu loyalitas tunggalnya kepada Allah, jangan menduakan Allah. Itu biadab, tidak beradab kepada Allah.

Untuk bisa beradab kepada Allah harus beradab kepada Rasul. Karena untuk mengenal Allah satu-satunya jalan hanya melalui utusannya. Jadi syahadat kita tidak boleh dipisah.
“Saya bersaksi tiada tuhan selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah”

Karena memang hanya melalui Rasulullah kita mengenal Allah. Allah hanya menurunkan wahyu, menurunkan petunjuk melalui utusannya.

Mengapa begitu ? Karena itu kemauan Allah, kita tidak bisa mempertanyakannya.

Allah SWT berfirman:

لَا يُسْـئَـلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْئَــلُوْنَ

“Dia Allah tidak ditanya tentang apa yang dikerjakan, tetapi merekalah yang akan ditanya.” (QS. Al-Anbiya 21: Ayat 23)

Kalau kita mencari hikmah boleh. Misalnya pandemi Covid-19 ini memang dikirim oleh Allah. Tetapi untuk apa Allah mengirim pandemi seperti ini? Tujuannya satu saja, yang terpenting supaya manusia itu semakin dekat dengan Tuhannya, semakin beradab kepada Tuhannya.

Adab ketiga setelah Rasul tidak ada, kepada Pewaris Nabi, yaitu para ulama. Para ulama itulah yang diamanahi oleh Rasulullah untuk melanjutkan kepemimpinan Nabi itu. Karena umat Islam harus selalu ada pemimpinnya dalam arti ada yang membimbing. Kalau tidak , nanti tersesat.

Lebih bahaya lagi kalau ulama itu yang rusak. Ulama yang menyesatkan disebut sebagai Ulama Suu’ atau ulama jahat. Ini yang sangat dikhawatirkan oleh Rasulullah.
Rasulullah SAW bersabda

إِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الْأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ

Sesungguhnya yang aku khawatirkan atas umatku adalah para imam atau pemuka agama yang menyesatkan. (HR. Abu Daud)

Puasa merupakan satu bentuk ibadah yang luar biasa karena dengan ibadah ini kita digembleng secara jiwa raga untuk menjadi orang yang terbaik, paling mulia.

Allah SWT berfirman:

اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَ تْقٰٮكُمْ 

“Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat 49: Ayat 13)

Kalau dalam konsep pendidikan biasanya kita merumuskan empat hal :
1. Tujuan Pendidikan
2. Kurikulum untuk mencapai tujuan itu.
3. Aplikasi kurikulum dalam bentuk Program Pendidikan.
4. Evaluasi.

Ini harus kita lakukan kalau mau menjadikan Ramadhan sebagai puncak bulan pendidikan harus ada evaluasinya. Kita berhasil atau tidak?
Untuk mengevaluasi itu tentu dievaluasi dari tujuannya, Ketakwaan itu.


Index Ketakwaan harusnya menjadi penilaian.

Dalam negara kita ada proses standard indikator-indikator ketakwaan. Saya sering contohkan kalau seorang Kepala Daerah naik, coba awal-awal yang sholat jama’ah Subuh itu dicek berapa persen dari kapasitas masjid Itu.

Diambil sampel misal di kota Semarang ada berapa masjid. Di cek sekian hari dalam sebulan yang jamaah Subuh hanya 5%.
Harus ada program Pemerintah untuk menaikkan karena jama’ah Subuh itu indikator penting untuk mengukur tingkat ketakwaan suatu masyarakat.

Bisa juga diukur dari misalnya berapa jumlah zakat ?
Berapa jumlah infaq.? Dan sebagainya.
Berapa persen orang muslim Semarang yang mengkhatamkan Al Qur’an tiap bulan.?
Berapa persen yang shalat Tahajud?
Itu adalah index-index ketakwaan. Kalau itu dilakukan pembangunan kita akan terwujud. Sebetulnya amanahnya begitu.

“Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya” lagu Indonesia Raya begitu.
Tidak ada : Bangunlah jalan tollnya, bangunlah jembatannya, bangunlah gedungnya. Yang diperintahkan adalah bangunlah jiwanya, bangunlah badannya. Manusianya yang utuh itu yang dibangun.

Membangun manusia utuh itu yang paling bagus di bulan Ramadhan, karena Ramadhan mendidik kita langsung dengan latihan pendidikan tertinggi, yaitu menjadikan manusia takwa.

Bulan puasa ini ibadah yang sangat istimewa karena kita berpuasa karena Allah. Tidak ada gunanya pura- pura puasa. Kalau mau batal mudah sekali saat puasa. Kita haus kemudian minum saja tak ada orang tahu.
Ini yang menarik, bagaimana kita dilatih. Kenapa tak mau batal.? Karena kita tahu Allah melihat kita. Itulah yang disebut maqom Ikhsan, maqom tertinggi manusia.

Ketika malaikat Jibril bertanya kepada Nabi Muhammad tentang ihsan (dalam suatu hadits yang panjang), potongannya :

. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِحْسَانِ, قَالَ : أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ.

Dia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang ihsan”. Nabi SAW menjawab,”Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Kalaupun engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu.”

Kesadaran selalu dilihat Allah itu sangat penting di era sekarang ini. Puasa ini melatih kita disitu, menjadi manusia yang mulia. Manusia yang selalu merasa yakin bahwa Allah mengawasi kita semua. Itu pendidikan yang luar biasa. Ini disebut pendidikan yang comprehensive. Jiwa raga disatukan langsung. Jiwa kita dilatih menjadi takwa juga sekaligus badan kita dilatih untuk menjadi sehat.

Sehat jasmani rohani ya puasa itu. Oleh karena itu ibadah puasa itu ibadah yang sesuai dengan fitrah manusia. Semua syariat islam sebenarnya, bukan hanya puasa. Tetapi karena keistimewaan bulan Ramadhan ini karena bulan ini Allah membuka pintu ampunan seluas- luasnya, membuka berkah-rahmat seluas-luasnya. Tinggal kita memanfaatkan peluang ini atau tidak?

Produk dari puasa itu adalah orang yang takwa. Orang yang takwa cirinya orang yang selalu hati-hati. Karena dia merasa yakin diawasi Allah.
Maka dia mau melakukan perbuatan, atau tidak mau melakukan perbuatan indikator utamanya adalah apakah Allah ridha atau tidak ? Jadi dia orang yang bahagia.

Bagaimana jika orang ketemu Penguasa Negara saja senang. Ini orang selalu yakin bersama Sang Maha Penguasa. Yang punya kekuasaan semua Raja-raja, Presiden, Gubernur. Mereka itu mendapat percikan kekuasaan dari Allah yang Maha Kuasa. Itu saja sudah dihormati.

Seharusnya kita melalui shalat, melalui puasa ini semakin dekat dengan Allah. Dekat dengan Allah itulah mulia, karena itu takwa. Dan orang yang dekat dengan Allah pasti bahagia. Itu sudah dijamin Allah.

Allah SWT berfirman:

وَمَنْ يَّـتَّـقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا (2) وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۗ (3)

“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka- sangkanya.” (QS. At-Talaq 65: Ayat 2-3)


Islam itu ibadahnya adil

Islam akan membentuk manusia yang adil, namanya Umatan Wasathan. Umat yang pertengahan.

Istilah kita bagus untuk olah raga ada istilah wasit. Kalau orang Malaysia menyebutnya Pengadil. Karena orang yang memutuskan perkara secara adil. Kalau kita menyebut wasit, sebetulnya dari kata wasatha. Di tempat saya ada Pendidikan Wasathiah , Pendidikan Kemoderatan, supaya dia tidak ekstrim. Sebab umat Islam adalah umat yang tidak ekstrim.

Setelah Ruh ditiupkan oleh Allah ke tubuh kita pada saat janin umur 120 hari. Ruh akan menyatu secara unik dengan jasad kita menjadi jiwa. Maka itu harus dilatih. Ruh kalau sudah bersenyawa dengan tubuh kita menjadi paduan yang unik.

Makanya dalam islam tidak bisa seperti orang barat yang Sekuler, yang menganggap Jiwa dan Raga itu terpisah.

Kaum Sekuler menganggap kalau zina, yang zina hanya tubuhnya, jiwanya tetap suci. Dulu ada satu film di barat, suaminya taruhan kemudian dia kalah judi, istrinya akhirnya dipinjam semalam oleh pemenang judi. Besuknya isterinya dikembalikan secara utuh tidak ada kekurangan apa-apa. Apakah disitu kesucian masih berlaku ?

Isterinya mengatakan , saya terpaksa jadi pelacur, jiwaku tetap suci. Yang dipakai oleh Pengusaha itu cuma tubuhku, cintaku sama kamu tidak berubah.

Dalam islam tak bisa begitu !.
Ibadah itu ibadah lahir batin tak bisa dipisahkan. Jiwa raga harus bersih. Sampai pakaian saja harus bersih, suci dari najis, suci dari hadats. Dan jiwapun , hati harus bersih.

Ada aliran-aliran agama yang ekstrim. Misalnya dulu di Kristen ada aliran yang namanya katarism. Suatu aliran yang menganggap bahwa jiwa dan raga ini tidak bisa disatukan.
Kalau mau jiwanya suci, tubuhnya harus disengsarakan.

Ada tiga sahabat Rasulullah ada yang datang pada isteri Rasulullah menanyakan ibadah Rasul.
Orang pertama berkata : “Aku mau sholat terus dan tak akan tidur”, saking semangat ibadah.
Yang kedua mengatakan : “Aku akan puasa terus dan tak akan berbuka”. Yang ketiga mengatakan : “Aku akan menjauhi perempuan, aku tak akan kawin”.

Rasulullah mendengar dan langsung menegur. Beliau mengatakan : “Aku juga sholat, aku juga tidur. Di dalam tubuh ini ada hak.
Kepada yang kedua : “Aku juga berpuasa, aku berbuka”.
Bayangkan Rasulullah sampai mensunahkan menyegerakan berbuka, mengakhirkan sahur. Tak boleh puasa ngebleng, puasa tiga hari tiga malam.
Itu menyalahi sunah Rasul, tidak boleh. Puasa ini bukan untuk menyengsarakan. Orang yang sakit boleh tidak puasa nanti mengganti dengan qadla.

Kepada yang ketiga, Rasul berkata :
“Nikah itu sunahku, siapa yang membenci sunahku bukan termasuk golonganku”.

Ini beda dengan konsep sebagian golongan, kalau mau takwa tinggalkan dunia, tinggalkan tahta, tinggalkan harta, tinggalkan keluarga. Masuk ke belantara bertapa disana untuk mau dekat dengan Yang Maha Kuasa.

Dalam islam bukan begitu. Dalam islam kita ini bisa menjadi Penguasa seperti Rasulullah, Umar bin Khattab, Abu Bakar as Shidik para Khalifah Kulafaur Rasyidin itu mereka orang- orang yang kekuasaannya hebat, tapi ketakwaannya luar biasa.

Orang yang kaya raya seperti Usman bin Affan, Abdurrahman bin Auf. Itu luar biasa kekayaannya tapi mereka juga takwa. Bahkan Rasulullah memerintahkan agar orang mukmin harus kuat, karena orang mukmin yang kuat lebih dicintai Allah.

Nabi SAW bersabda :

اَلْـمُؤْمِنُ الْقَـوِيُّ خَـيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَـى اللهِ مِنَ الْـمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ وَفِـيْ كُـلٍّ خَـيْـرٌ

Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allâh daripada Mukmin yang lemah; dan pada keduanya ada kebaikan.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here