Dr. Adian Husaini

6 Ramadhan 1442 / 18 April 2021



Memahami Pendidikan

Kita mulai dari nomenklatur kenapa Ramadhan kita sebut sebagai puncak pendidikan. Berawal dari kata pendidikan itu sendiri, kalau menurut saya problem terbesar dari Dunia Pendidikan kita adalah justru memahami kata pendidikan itu. Sebab kalau kita salah memahami pendidikan akhirnya pendidikan itu menjadi keliru dan nasib bangsa kita ke depan tidak akan sesuai. Karena tugas pendidikan ini melahirkan generasi masa depan yang biasanya kalau dari SD rata-rata sekitar 17-20 tahun sudah siap terjun ke masyarakat.

Makna pendidikan itu apa? Kalau dalam bahasa Arab ada beberapa istilah pendidikan.

Ada istilah Taklim yang maknanya pengajaran ilmu. Dari kata alama – yualimu – takliman.

Rasulullah SAW bersabda,

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ .

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.” (HR Bukhori).

Yang kedua dalam bahasa Arab ada juga istilah Tarbiyah. Dari kata Robba – yurobbi -tarbiyatan yang maknanya mengasuh atau “ngemong”. Seperti istilah yang dipakai Ki Hajar Dewantoro. Dalam menyusun pendidikan Taman Siswa ada 4 jenjang.

Tempat mendidik dipakai istilah Taman. Taman itu Jannah, tempat yang menyenangkan.
Taman Indriya (TK), Taman Muda (SD), Taman Dewasa (SMP). Jenjang paling tinggi dalam konsep Ki Hajar Dewantoro adalah Taman Pamong. Pamong artinya orang yang ngemong, karena menurut Ki Hajar Dewantoro puncak pendidikan adalah ketika seorang menjadi guru.

Guru adalah orang yang ngemong atau murobbi bahasa Arabnya. Kalau bahasa latinnya Pastur yang maknanya Penggembala. Jadi robba -yurobbi itu mengasuh atau menggembala.

Termasuk dalam makna pendidikan ada lagi istilah Tazkiyah yang merupakan salah satu tugas Rasulullah SAW.

Allah SWT berfirman:

هُوَ الَّذِيْ بَعَثَ فِى الْاُ مِّيّٖنَ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَا لْحِكْمَةَ وَاِ نْ كَا نُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ 

“Dialah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan jiwa mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata,” (QS. Al-Jumu’ah 62: Ayat 2)

Tugas Rasulullah yang pertama menyampaikan ayat-ayat Allah. Yang kedua mensucikan jiwa dan raga. Maka tugas pendidikan juga dapat dimaknai dengan Tazkiyah atau proses penyucian jiwa. Dalam islam memang inti dari kurikulum kita seharusnya adalah Kurikulum Tazkiyatun Nafs (Penyucian Jiwa) karena itu adalah kunci kemajuan.

Rasulullah SAW bersabda :
“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR Bukhori)

Qolbu secara maknawi adalah jantung yang sudah menyatu dengan Ruh. Jadi bukan sekedar menyucikan jasad tapi juga jiwa.

Tapi makna yang mewakili semua itu dalam bahasa Arab adalah Ta’dib. Ta’dib dari kata Adaba – yuadibbu – takdiban yang artinya menjadikan seorang beradab. Adaba itu adalah proses pengadaban. Ta’dib adalah proses mendidik. Istilah Ta’dib tak bisa untuk binatang, tapi kalau Tarbiyah bisa, seperti Tarbiyatul Ghonam (menggembala kambing). Tapi kalau kata Ta’dib memang khusus untuk manusia sehingga menjadikan seseorang beradab.


Hak Anak mendapatkan Pendidikan

Rasulullah SAW:


من حق الولد على والده أن يُحسن اسمَه، ويحسن مرضعه ويُحسن أدبَه

“Hak seorang anak atas orang tuanya adalah mendapatkan nama yang baik, pengasuhan yang baik, dan adab yang baik”. (HR Imam Baihaqi)

Sebagian ulama menyatakan bahwa di akhirat nanti yang pertama kali ditanya oleh Allah apakah anak sudah menerima haknya dari orang tua? Sebelum orang tua ditanya apakah dia sudah menerima haknya dari anak.

Hak orang tua adalah menerima ketaatan dari anaknya dan diantara hak anak adalah :
Yang pertama mendapat nama yang baik, karena itu tak boleh asal-asalan.
Yang kedua mendapatkan tempat tinggal yang baik ,tentu sesuai dengan kemampuan. Dan yang ketiga mendapatkan adab.

Jadi kewajiban orang tua adalah memperbaiki adab anak. Bila di dunia kita tidak mendidik adab dengan benar, maka kelak di akhirat orang tua masih punya hutang. Nanti anak akan menggugat karena di Pengadilan akhirat kelak tak ada solidaritas keluarga.

Allah SWT berfirman:

يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ اَخِيْهِ (34) وَاُ مِّهٖ وَاَ بِيْهِ (35)
وَصَا حِبَتِهٖ وَبَنِيْهِ (36) لِكُلِّ امْرِیءٍ مِّنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُّغْنِيْهِ (37) 

“pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dan dari ibu dan bapaknya, dan dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.” (QS. ‘Abasa 80: Ayat 34-37)

Semua orang sibuk mempertanggung jawabkan amanah. Karena setiap kita penggembala.

وعن بن عمر رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلّم قال: كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعيّتِهِ, والأميرُ راعٍ, والرّجُلُ راعٍ على أهلِ بيتِهِ, والمرأةُ رَاعِيَّةٌ على بيتِ زوجِها وَوَلَدِهِ, فكلّكم راعٍ وكلّكم مسئولٌ عنْ رَعِيَّتِهِ. (متفق عليه)

Dari Ibn Umar ra. Dari Nabi SAW , beliau bersabda : “ Kalian adalah pemimpin dan kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinan kalian.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Seorang laki-laki adalah Pemimpin keluarganya. Di akhirat nanti dia akan ditanya apa yang sudah dilakukan untuk keluarganya.

Allah SWT berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْۤا اَنْفُسَكُمْ وَاَ هْلِيْكُمْ نَا رًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (QS. At-Tahrim 66: Ayat 6)


Mengajarkan Adab

Bagaimana caranya menjaga agar tidak masuk neraka ?
Ternyata ada penjelasan dari Ali bin Abi Thalib r.a. makna ayat itu adalah :
“Adibuhum wa alimuhum”.
Agar anak kita selamat, caranya dua.
adibuhum : Didiklah mereka menjadi orang beradab.
wa alimuhum, dan didiklah mereka menjadi orang berilmu.
Itu adalah hak anak yang harus kita berikan.

Kalau orang tua sudah mendidik dengan benar tetapi hasilnya tidak memenuhi harapan, maka itu bukan tanggung jawab orang tua. Hasil pendidikan kita serahkan pada Allah.
Kita tahu bagaimana Nabi Nuh sudah mendidik anaknya, tapi Kan’an anaknya tidak mau. Kemudian Nabi Luth telah mendidik istrinya dengan benar, tapi istrinya durhaka kepada Nabi Luth.

Di dalam bahasa Belanda dulu, yang dipakai di negeri kita ada dua istilah :
Opvoeding dan Onderwijs
Onderwijs adalah pengajaran. Waktu awal kita merdeka Kementrian kita namanya Kementrian Pengajaran.
Opvoeding adalah Pendidikan, lebih kepada penanaman nilai.


Sejarah Pendidikan Kita

Ki Hajar Dewantoro mengkritik keras model pendidikan penjajah. Kalau kita perhatikan Sejarah Pendidikan kita yang modelnya seperti sekolah memang dibawa oleh penjajah. Model SD, SMP, SMA sampai PT.

Kisah sekolah secara besar-besaran ini dimulai dari kemenangan Partai Kristen dari Belanda tahun 1901 yang kemudian mereka menjalankan Politik Etis di daerah jajahannya.

Dua orang tokoh yang merancang Dr. Snouck Hurgronje dan JH Abendanon. Di buku Dr. Yudi Latif yang saya kutip disini disebutkan bagaimana supaya orang-orang di yang dijajah bisa membantu melestarikan penjajahan dengan mendirikan banyak sekolah- sekolah model Barat. Dari HIS, MULO, AMS sampai Sekolah tinggi.

Mereka ingin melatih elit pribumi yang setia dan kooperatif yang para anggotanya memiliki kesanggupan untuk menangani pekerjaan Pemerintahan sipil Belanda. Lebih dari itu pendidikan itu juga memangkas biaya-biaya administratif.

Salah satu tujuan juga menghambat fanatisme islam, sebab selama ratusan tahun ulama-ulama yang bergerak melalui pendidikan islam, melalui Pesantren, Madrasah melahirkan orang-orang yang selalu mendorong untuk jihad melawan penjajah Belanda.

Pada waktu itu angka partisipasi sekolah Eropa cepat sekali perkembangannya. Dari tahun 1900 sudah ada 101.003 siswa, kemudian tahun 1910 jumlah itu naik menjadi 310.496 siswa. Dan pada tahun 1920 dari 48.428.711 penduduk Hindia Belanda ketika itu ada 829.802 siswa.

Jumlah sekolah saat itu
Tahun 1903 terdapat 245 sekolah kolonial dan 326 swasta, 63 nya sekolah zending (misi Kristen)
Tahun 1900 an ada sekitar 541 sekolah zending di berbagai daerah di Indonesia karena memang politik etis ini terutama di masa Gubernur Edinburgh yang misionaris menggalakkan misi Kristen di Indonesia.

Tahun 1901 ada 1 sekolah Cina, tahun 1908 ada lebih 500 sekolah Cina.
Cina sangat kuat di masa Penjajahan Belanda. Dari 300 ribu pasukan Belanda yang melakukan agresi militer kedua tahun 1947-1949 ternyata 300 ribu pasukan Belanda itu 200 ribu berasal dari Belanda dan sebagian Australia, 50 ribu pasukan KNIL dan yang 50 ribu adalah Pasukan Cina laskar Po An Tui. Mereka menghadapi TNI kita yang jumlahnya hanya 100 ribu dengan senjata yang sangat sederhana. Alhamdulillah negeri kita diselamatkan oleh Allah. Mereka tidak berhasil untuk menjajah kembali.

Pak Muhammad Nasir mengutip kata-kata Prof. Snouck Hurgronye dalam bukunya Nederland en de Islam : ” Opvoeding en onderwijs zijn in staat de Moslims van het Islamstelsel te emancipeeren. (Pendidikan dan pengajaran dapat melepaskan orang muslimin dari genggaman Islam).

Jadi tujuan sekolah waktu itu disamping untuk menjadi tenaga kerja dengan gaji yang menggiurkan juga untuk menjauhkan mereka dari agama Islam. Kemudian tokoh-tokoh kita mendirikan pendidikan islam.

Ki Hajar Dewantoro waktu mendirikan Taman Siswa sangat mengritik model pendidikan Barat. Waktu pendirian Taman Siswa di Yogya tahun 1922 diantara pidato Ki Hajar Dewantoro berikut ini :

“Pendidikan yang selama ini diterima orang Indonesia dari Barat jauh dari kebal terhadap pengaruh-pengaruh politik kolonial. Singkatnya ialah pendidikan yang ada hanya untuk kepentingan pemerintah kolonial dan ini sifatnya tetap semenjak zaman VOC meskipun dibawah politik etika. Tetapi anehnya banyak priyayi atau kaum bangsawan yang senang dan menerima model pendidikan seperti ini dan mengirimkan anak-anak mereka ke sekolah yang hanya mengembangkan Intelektual dan fisik dan semata-mata hanya memberikan surat ijazah yang hanya memungkinkan mereka menjadi buruh”.

Kritik Ki Hajar ini perlu kita renungkan, karena Ki Hajar Dewantoro berjuang bukan hanya menulis tapi juga mendirikan suatu sekolah yang beliau sebut sebagai suatu Taman Siswa. Ki Hajar Dewantoro menciptakan mode sistem pendidikan nasional yang ideal yaitu Pondok Pesantren. Karena di dalam sistem Pesantren (asrama) itulah terjadi Opvoeding. Dan Opvoeding itu penanaman nilai. Interaksi antara guru dengan murid di tempat yang sama. Itu idealnya, bukan sekedar transfer of knowledge tapi juga cultivation of values.


Pendidikan Tidak Hanya Sekolah

Sekarang kalau pendidikan dimaknai secara sempit, sebagai Sekolah maka dampaknya sangat serius. Karena proses transfer ilmu, transfer nilai di luar Sekolah tidak dianggap pendidikan. Pendidikan sekarang sudah terlanjur salah.

Pendidikan tidak hanya sekolah. Kalau pendidikan hanya sekolah lalu apakah setelah orang mencapai jenjang Doktor tidak dididik lagi? Di masa Nabi tidak ada sekolah, apa di masa Nabi tidak ada pendidikan? Nanti kalau ada orang muslim ngaji di masjid tidak dianggap pendidikan. Nanti orang tua yang menasehati anaknya dianggap bukan pendidikan.

Apalagi dalam dunia Pendidikan kita, pendidikan dibagi tiga : Pendidikan formal, non formal dan in formal.
Yang dianggap pendidikan hanya yang formal. Jadi pendidikan sebagai proses penanaman nilai yang menyangkut seluruh aspek kehidupan dan seluruh waktu akhirnya disempitkan maknanya menjadi sekolah.

Akibatnya ada penyakit yang saya sebut schoolism, penyakit Sekolah isme. Menganggap pendidikan itu sama dengan sekolah. Jadi kalau sudah selesai sekolah, selesai pendidikan. Orang sudah selesai S1 biasanya merasa tidak wajib cari ilmu lagi, yang wajib cari kerja, cari uang untuk menikah. Punya anak, cari uang untuk menyekolahkan anak.


Pendidikan itu sampai mati

Akhirnya ketika orang sudah jadi orang tua, dia tidak lagi merasa harus mencari ilmu lagi. Padahal Rasulullah SAW bersabda :

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ .

“Menuntut ilmu wajib bagi setiap Muslim.” [HR Ibnu Majah]

Maknanya tidak pandang dia sekolah atau tidak sekolah, dia pintar atau bodoh, dia kaya atau miskin, ada listrik atau tidak ada listrik mencari ilmu tetap wajib.

Yang wajib adalah mencari ilmu yang Nafi’ yang diperintahkan Rasulullah.
“salullaha ilman nafian wanauzu bika min ilmu lahyanfau”. (Berdo’a lah kamu kepada Allah minta ilmu yang bermanfaat dan berlindunglah kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat).

Sehingga kita setiap pagi berdoa:

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْماً نَافِعاً، وَرِزْقاً طَيِّباً، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

– Allahumma Inniy As-aluka ‘ilman naafi’an, wa rizqon thoyyiban, wa ‘amalan mutaqobbalan –

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik dan amal yang diterima“. (HR. Ahmad, Ibnu Majah).

Mencari ilmu ini terus, sampai mati. Ini adalah makna pendidikan yang tidak sempit.

Kasian Menteri kita dibebani dengan istilah Pendidikan. Tapi yang diurus hanya Sekolah. Sebetulnya Kementrian Pendidikan kita sekarang ini nama tepatnya Kementrian Urusan Persekolahan. Kalau namanya Kementrian Pendidikan sebenarnya dia harus mengurus Pendidikan di Masjid. Sekarang ini anak-anak kalau mengaji di Masjid tidak dianggap pendidikan, jadinya dia tidak serius.

Rasulullah SAW menjelaskan lima golongan manusia terkait ilmu, yang celaka adalah golongan kelima.

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُنْ عَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا أَوْ مُسْتَمِعًا أَوْ مُحِبًّا وَلَا تَكُنْ خَامِسًا فَتَهْلِكَ (رواه بيهقى)

Qoolan Nabiyu Shallallaahu ‘alaihi wasallam. Kun ‘aliman, au muta’alliman, au mustami’an, au muhibban. Walam takun khomisan, fatahlik.

“Nabi Saw bersabda: (1)Jadilah engkau orang berilmu, atau (2.) Orang yang menuntut ilmu, atau (3) Orang yang mau mendengarkan ilmu, atau (4) Orang yang menyukai ilmu. Dan (5) Janganlah engkau menjadi orang yang kelima maka kamu akan celaka” (HR. Baihaqi).

Muta’aliman kalau di kuliah adalah mahasiswa aktif. Kalau mustami’an adalah mahasiswa pendengar. Di Malaysia hal semacam ini diperhitungkan. Namanya kelas audit.
Misalnya mata Kuliah Pemikiran Ibnu Taimiyah, itu bisa diambil sebagai kelas Audit. Mahasiswa hanya mendengar tidak ikut ujian walaupun begitu dalam transkrip kelulusan dituliskan.

Muhibban adalah orang yang senang, mendukung proses aktivitas keilmuan.
Bisa berupa infak, menyediakan sarana karena pahalanya besar sekali. Hadir di majelis ilmu kata Rasulullah fi sabilillah. Jangan sampai jadi yang kelima, akan celaka. Dia tidak mengajar, tidak belajar, tidak mendengar dan tidak mendukung.


Pendidikan Tergantung Guru

Kalau kita melihat proses pendidikan Rasulullah sampai melahirkan generasi yang hebat, generasi terbaik yang tidak akan bisa terulang lagi karena memang generasi sahabat itu gurunya adalah guru terbaik. Rasulullah itu dididik langsung oleh Allah.

Dalam pendidikan, yang terpenting itu faktor guru. Kita lihat dalam sejarah, misalnya Muhammad Natsir mengapa jadi tokoh? Maka kita lihat gurunya. Guru Muhammad Natsir itu orang- orang hebat.
– Pak A.Hassan
– Syeh Ahmad Syurkani
– KH Agus Salim

Buya Hamka menjadi ulama hebat itu bukan belajar sendiri. Beliau berguru kepada orang-orang yang hebat termasuk ayahnya sendiri, kakak iparnya Buya Sutan Mansur. Beliau juga berguru kepada HOS Tjokro Aminoto, Ki Bagus Hadikusumo ketua Muhammadiyah.

KH Hasyim Asy’ari menjadi ulama hebat, guru beliau KH Sholeh Darat dari Semarang. KH Sholeh Darat ulama besar di Mekkah sampai beliau tidak boleh pulang ke Nusantara. Beliau pulang diselundupkan memakai peti barang. Murid beliau dua yang hebat yaitu KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan. Yang nanti keduanya ini dikirim oleh KH Sholeh Darat ke Mekkah untuk belajar kepada Syeh Ahmad Khatib Al- Minangkabawi.



BERSAMBUNG BAGIAN 2

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here