KH. Anang Rikza Masyhadi

4 Ramadhan 1442 / 16 April 2021



Tadarus dan Bersedekah

Rasulullah itu adalah orang yang paling dermawan.

Abdullah bin ‘Abbâs Radhiyallahu anhuma berkata :

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ ، وَأَجْوَدُ مَا يَـكُوْنُ فِـيْ رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ ، وَكَانَ جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ يَلْقَاهُ فِـيْ كُـّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَـيُـدَارِسُهُ الْـقُـرْآنَ ، فَلَرَسُوْلُ اللّٰـهِ صَلَّى اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْـخَيْـرِ مِنَ الِرّيْحِ الْـمُرْسَلَةِ

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
adalah orang yang paling dermawan dengan kebaikan, dan lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan ketika Jibril Alaihissallam bertemu dengannya. Jibril menemuinya setiap malam Ramadhân untuk menyimak bacaan al-Qur’annya. Sungguh, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dermawan daripada angin yang berhembus.”

Setiap Ramadhan, malaikat Jibril setiap malam datang dan melakukan tadarus Al Qur’an. Malaikat Jibril membaca ayat yang diturunkan dari awal sampai ayat terakhir yang turun, Rasul menyimak. Setelah itu baru Rasul membaca Jibril menyimak, setiap malam.

Setelah itu Rasul langsung memberi sedekah. Kedermawanannya nampak justru pada saat Ramadhan. Terutama pada saat Jibril datang. Apa yang bisa diberikan langsung diberikan oleh Rasulullah SAW.

Maka momentum Ramadhan kalau kita mau mengikuti apa yang disunahkan oleh Rasulullah berarti :
– Memperbanyak Tadarus
– Memperbanyak sedekah dalam bentuk yang beragam.

Tadarus itu dari kata darosa yang artinya belajar, mengkaji. Ada beberapa tingkatan interaksi dengan Al Qur’an : Tilawah, Qiro’ah, Tadarus dan Tadabur.

Tilawah sekedar mengeja huruf menjadi bunyi. Kalau naik levelnya menjadi Qiro’ah. Qiro’ah adalah membaca dengan pemahaman, penalaran dan perspektif. Dan kita diperintahkan Iqra’. Diatasnya lagi ada Tadarus, artinya mengkaji, menyelami, mendalami lautan ilmu Al Qur’an.

Umat Islam itu sebetulnya tradisi Tadarusnya baru pada level Tilawah. Yang penting membaca Al Qur’an sampai Khatam, kemudian membaca lagi dan seterusnya. Itu hanya kuantitas saja, tetapi secara Kualitas nampaknya belum banyak berubah.

Berapa ayat yang difahami?
Berapa ayat yang memberi perspektif pada kehidupan?
Mana ayat yang menjadi mindset?
Mana ayat yang menjadi world view?
Ternyata masih sangat jauh dari harapan. Apalagi Tadarus, yaitu mengkaji, menyelami, membedah Al Qur’an : Ayat dengan Ayat, Ayat dengan Hadits, Ayat dengan Sunatullah. Itu adalah kajian yang sangat mendalam.


Harta juga bagian dari Ujian Hidup

Terkait dengan harta, bahwa harta harus dilihat sebagai sesuatu thema yang sentral. Kalau kita melihat Al Qur’an, dari Al Fatihah sebagai surat pertama. Kemudian Al Baqarah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

الٓمّٓ (1) ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ  ۛ  فِيْهِ  ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَ (2) الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِا لْغَيْبِ وَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ (3)

“Alif Lam Mim. Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan sholat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka,” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 1-3)

Awal-awal Al Qur’an ternyata berbicara tentang menafkahkan harta. Artinya bahwa menafkahkan harta menjadi thema yang dibahas di awal-awal Al Qur’an sebelum thema-thema yang lain. Betapa pentingnya itu.
Kajian tentang harta ini menjadi kajian yang sangat prinsipiil, karena dia ada di bagian-bagian awal, melandasi ayat-ayat setelahnya.

Al Qur’an menunjukkan bahwa harta itu adalah bagian dari ujian.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَـنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَـوْفِ وَا لْجُـوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَ مْوَا لِ وَا لْاَ نْفُسِ وَا لثَّمَرٰتِ ۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ 

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar,” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 155)

Ada dua tipology. Yang pertama tentang yungfiquun, orang-orang yang menafkahkan hartanya. Sedangkan tipology yang kedua, orang-orang yang tidak mau menginfakkan.
Yang tidak mau menginfakkan ini oleh Al Qur’an dikecam dengan dua ayat atau dua surat yang sangat tajam.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَلْهٰٮكُمُ التَّكَا ثُرُ (1) حَتّٰى زُرْتُمُ الْمَقَا بِرَ (2)

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takasur 102: Ayat 1-2)

Ayat ini sering kita baca, tapi kalau dikaji tafsir bisa satu sesi.
‘al-haakumut-takaasur’ adalah bergaya -gayaan. Kalau sekarang disebut hedonism atau materialisme.
Hedonisme membuat lalai, saat sadar sudah ditepi kuburan!

Ini bahasa Al Qur’an, kira-kira Al Qur’an berkata : “Mosok sih, kamu nggak sadar-sadar?”. Berarti hedonism ini harus kita lawan agar kita selamat.

Kemudian dikecam lagi oleh Al Qur’an dalam Surat Al Humazah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَيْلٌ لِّـكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ (1) ٱلَّذِيْ جَمَعَ مَا لًا وَّعَدَّدَهٗ (2) يَحْسَبُ اَنَّ مَا لَهٗۤ اَخْلَدَهٗ (3)

“Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, dia (manusia) mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya.” (QS. Al- Humazah 104: Ayat 1-3)

Ini sama typenya dengan Surat At Takatsur. Letak kedua surat juga berdekatan.

Bukan berarti harta tidak boleh diaudit. Yang dimaksud mengumpulkan dan menghitung-hitung adalah pelit. Harta dikumpulkan terus, dihitung terus tetapi tidak diinfakkan. Dia mengira bahwa hartanya dapat membuatnya kekal. Ini luar biasa, tajam sekali Al Qur’an menghardik kita tentang hedonism / materialisme.

Kemudian ada lagi teguran yang agak lebih lunak, tetapi sebenarnya keras.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَاَ مَّا الْاِ نْسَا نُ اِذَا مَا ابْتَلٰٮهُ رَبُّهٗ فَاَ كْرَمَهٗ وَنَعَّمَهٗ ۙ فَيَقُوْلُ رَبِّيْۤ اَكْرَمَنِ (15) وَاَ مَّاۤ اِذَا مَا ابْتَلٰٮهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهٗ  ۙ فَيَقُوْلُ رَبِّيْۤ اَهَا نَنِ (16)


“Maka adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, “Tuhanku telah memuliakanku.” Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, “Tuhanku telah menghinaku.”” (QS. Al-Fajr 89: Ayat 15-16)

Terus kemudian fokusnya ini :

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

كَلَّا بَلْ لَّا تُكْرِمُوْنَ الْيَتِيْمَ (17) وَلَا تَحٰٓضُّوْنَ عَلٰى طَعَا مِ الْمِسْكِيْنِ (18) وَتَأْكُلُوْنَ التُّرَا ثَ اَكْلًا لَّـمًّا (19) وَّتُحِبُّوْنَ الْمَا لَ حُبًّا جَمًّا (20)

“Sekali-kali tidak! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, sedangkan kamu memakan harta warisan dengan cara mencampurbaurkan (yang halal dan yang haram), dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS. Al-Fajr 89: Ayat 17- 20)

Kalau kita konstruksi Al Qur’an, banyak sekali ayat, banyak sekali hadits yang bicara tentang neraka.
Itu tentang beberapa hal :
– Biasanya dia melalaikan perintah shalat
– Tentang keimanan (Tauhid).
– Biasanya dia tidak amanah terhadap nikmat harta.

Misalnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

مَا سَلَـكَـكُمْ فِيْ سَقَرَ (42) قَا لُوْا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّيْنَ (43) وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِيْنَ (44)

“”Apa yang menyebabkan kamu masuk ke dalam (Neraka) Saqar?” Mereka menjawab, “Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan sholat, dan kami (juga) tidak memberi makan orang miskin,” -(QS. Al-Muddassir 74: Ayat 42-44)


Menyiapkan Harta Sebelum Kematian

Lalu harta diapakan oleh kita?
Harta itu bisa kita kelola, kita rancang.
Sebelum kematian kita punya pilihan, harta itu mau diwariskan, dihibahkan, diwasiatkan atau diwakafkan.

Kalau waris pasti yang menerima keluarga. Tidak mungkin yang menerima orang lain. Dan keluarganya tidak semua keluarga. Keluarganya adalah keluarga tertentu yang diatur oleh Allah dan Rasulnya.

Hibah bisa kepada keluarga bisa kepada orang lain. Wasiat kepada orang lain, tidak boleh kepada Ahli waris. Tapi selain kepada Ahli Waris boleh. Wakaf bisa kepada keluarga ataupun kepada orang lain . Ini secara peruntukan.

Kita ini sebelum meninggal, kita akan memilih mana? 1 dari 4 ? 2 dari 4 ? 3 dari 4 ? Atau keempat-empatnya? Ada harta yang kita wariskan, ada yang kita hibahkan, ada yang kita wasiatkan, ada yang kita wakafkan.

Kita harus mencoba mulai melakukan “mapping” mau diapakan harta kita.? Jangan sampai tidak melakukan kesemuanya. Sebab kalau belum semua, nanti pada saat kematian kita pasti kita akan dipaksa untuk membagi waris.

Ada joke, kalau bicara waris itu selalu ketemunya rumus pembagian. Tidak pernah bicara waris ketemu rumus perkalian. Yang ada besar jadi kecil karena rumusnya adalah pembagian.

Tetapi kalau bicara wakaf, tak pernah ketemu pembagian. Pasti ketemu perkalian. Karena wakaf itu menjulang ke atas (Piramida terbalik) , kalau waris itu seperti Piramida, dari luas akan menyempit.


Apa beda antara Hibah dengan Wakaf?

Hibah, Waris, Wasiat itu memindahkan kepemilikan secara horizontal. Harta saya, saya pindahkan kepemilikannya menjadi hartanya Fulan.

Wakaf memindahkan kepemilikan secara vertikal. Jadi harta saya dikembalikan kepada Allah. Tidak ada lagi yang memiliki. Saya melepaskan kepemilikan saya, saya kembalikan kepada Allah. Nadzir itu bukan pemilik tetapi dia Pengelola. Maka wakaf tidak boleh diwariskan karena tidak menjadi milik Allah lagi. Wakaf tidak boleh dihibahkan atau dijual, karena bukan milikmu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Yang pertama kali disebut oleh Rasulullah, yang pertama kali “argonya” jalan ketika kita meninggal adalah Sedekah Jariyah.
Ini lagi-lagi kita bicara tentang harta. Pentingnya harta dikelola dan di planning sebelum kematian kita.

Jangan sampai kita menjadi
“allazii jama’a maalaw wa ‘addadah”
Jangan sampai kita menjadi “al-haakumut-takaasur”
Kita harus menjadi “allaziina yu-minuuna bil-ghoibi wa yuqiimuunash-sholaata wa mimmaa rozaqnaahum yungfiquun”.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here