Dr. Ahmad Hasan Asy’ari Ulama’i, MA


3 Ramadhan 1442 / 15 April 2021



Pagi hari ini kita akan mengkaji tentang Hadits Dhoif dan Hadits Maudhu. Hadits Dhoif adalah hadits yang lemah, dan Hadits Maudhu adalah hadits palsu. Lebih khusus nanti terkait dengan Ramadhan.
Berbicara tentang hadits dhoif dan Maudhu, kita harus tahu tentang dhoif dan Maudhu dan bagaimana kita bisa melihat suatu hadits itu dhoif atau Maudhu.

Hadits dhoif adalah hadits yang lemah, atau tidak memenuhi kriteria hadits yang Hasan apalagi kriteria Hadits shahih.

Hadits Maudhu karena tidak terdapat dalam Kitab-kitab Hadits. Atau ada di dalam kitab hadits hanya saja diriwayatkan oleh Perawi pendusta.

Jadi ada dua kemungkinan kepalsuan hadits itu. Sama dengan kepalsuan Al Qur’an, kepalsuan ayat, sangat sederhana untuk mendeteksi. Sepanjang tidak ada dalam Al Qur’an dari Surat Al Fatihah sampai Surat An Nas maka ayat yang disajikan itu ayat palsu, atau Al Qur’an palsu.

Tetapi kalau Terjemah, sebenarnya berbeda dengan Al Qur’an. Sedikit berbeda cara menerjemahkan tidak menjadikan sebab Al Qur’annya palsu karena Al Qur’annya tetap. Terjemahannya yang berbeda.

Contoh di dalam hadits shahih Al Bukhori misalnya, imam Bukhori mengatakan :

حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ سَمِعْتُ الزُّهْرِيَّ يَقُولُ أَخْبَرَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ سَمِعَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ عَلَى الْمِنْبَرِ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ

Telah bercerita kepada kami Al Humaidiy telah bercerita kepada kami Sufyan berkata, aku mendengar Az Zuhriy berkata, telah mengabarkan kepadaku ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhua bahwa dia mendengar ‘Umar radliallahu ‘anhum berkata di atas mimbar, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian melampaui batas dalam memujiku (mengkultuskan) sebagaimana orang Nashrani mengkultuskan ‘Isa bin Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah hamba-Nya, maka itu katakanlah ‘abdullahu wa rasuuluh (hamba Allah dan utusan-Nya”). (HR Bukhori 3189)

Ucapan Nabi tadi sampai kepada Imam Bukhori melalui rentetan rawi, yang disebutkan dalam skema sanad.
Imam Bukhori meriwayatkan dari gurunya yaitu Abdullah Al Humaidy dia menerima dari Sufyan menerima dari Muhammad bin Muslim terus sampai kepada Umar bin Khattab. Dan Umar bin Khattab dari Nabi SAW

Mata rantai rawi inilah yang dikenal dengan sanad. Karena tidak mungkin Imam Bukhori yang wafat pada tahun 256 H bertemu dengan Nabi yang wafat tahun 11 H. Setinggi-tingginya umur Al Bukhori itu sekitar 70 tahun. Meskipun ada orang yang usianya 100 tahun, kalau wafat tahun 256 H maka lahirnya tahun 156 H. Jadi tidak ketemu Nabi.

Oleh karena itu pasti Imam Bukhori menerima informasi dari Nabi tersebut melalui rangkaian mata rantai ini.
Disinilah yang diuji dan kemudian melahirkan klasifikasi hadits. Dikatakan Shahih, Hasan, Dhoif ataupun Maudhu (palsu). Bukan di informasinya sendiri, sekalipun itu juga bisa menjadi indikator.


Kriteria Keshahihan Hadits.

Kriteria keshahihan hadits kalau mengambil pendapat Imam An Nawawi :
– Kalau haditsnya nyambung sanadnya. Dari Imam Bukhori sampai Nabi tersambung dan ada pembuktian sejarah. Tidak semata-mata pokoknya ada rentetan rawi yang nyambung sampai Nabi. Yang namanya sanad harus teruji bahwa mereka semua adalah rawi yang adil dan dlabith serta terhindar dari Syudzudz dan ‘ilal.

Adil itu dari sisi kepribadiannya layak untuk diterima informasinya.
Dlabith layak diterima dari aspek Intelektualitasnya, daya hafalannya.
Syudzudz adalah sifat syad atau janggal secara bahasa (lughowi)
‘Ilal adalah kecacatan.

Janggal dan Cacat ini juga ada kriterianya sendiri. Tidak semata-mata atas dasar penilaian kita, tetapi menurut ilmu hadits.


Kedhoifan Hadits

Disebut sebagai hadits dhoif :

1. Bila ada keterputusan Sanad.

2. Bisa karena cacatnya rawi.

Yang dimaksud dengan cacatnya rawi itu bukan cacat fisik. Beberapa ulama dikenal sebagai Al a’raj (si Pincang). Ada juga yang cedal tapi dia rawi yang handal. Yang dinilai bukan fisiknya. Yang dimaksud cacat adalah tidak memenuhi kriteria Adil (berintegritas) dan Dlabith (hafalan yang kuat). Bila sebagai perawi dikenal sebagai pelupa maka informasi yang melalui dia disangsikan.

Adil juga tidak berbuat sesuatu yang merusak muru’ah (kewibawaan). Tidak dilarang, tapi tidak pantas.
Contoh sederhana, seorang ulama tidak pantas memukuli binatang ternaknya supaya dia masuk kandang.
Ulama tertentu memandang hal itu tak pantas, ulama lain menganggap itu biasa. Karena itu nanti akan terjadi perbedaan penilaian terhadap rawi yang seperti itu.

Pernah ada kasus ulama yang menunggangi anakan kuda. Ketika seorang calon murid datang padanya dan menemui dia masih menunggangi kuda yang masih anakan, maka calon murid ini pulang, tidak mau belajar dari dia karena dinilai sudah tidak Adil lagi.
Adil dalam pengertian ulama hadits.

3. Isi beritanya

Ada banyak tolok ukur untuk melihat bahwa berita ini tidak shahih.
Contohnya kalau nanti muncul statemen :
“Qola Rasulullah alimul fi awladakum bil web wa internet”. (Ajarilah anak-anak kalian Web dan Internet)
Kalau ini disandarkan kepada Nabi, aneh karena dizaman Rasulullah tidak ada web dan internet.

4. Kelemahan bisa sampai level Palsu atau Maudhu, karena persambungannya tidak ada, rawinya cacat, beritanya “ngalor-ngidul”.

5. Tidak ada Sumber Kitab Hadits yang Valid.

Misal dikatakan ada sumbernya dari pernyataan ulama A. Perlu dikaji ulama A tadi hidup tahun berapa? Sampai kepada Nabi atau tidak? Sambung atau tidak? Tidak ada yang bisa membuktikan. Tetapi kalau itu disandarkan pada Nabi menjadi masalah.

Sehingga istilah hadits Dhoif atau Maudhu itu hubungannya dengan informasi ini disandarkan pada Nabi, tidak punya kriteria untuk diyakini sebagai berita yang shahih.
Atau diketahui rawinya pendusta, maka juga dinilai palsu.


Beramal dengan hadits Dhoif atau Palsu

Bagi Muhammadiyah prinsip di dalam mengambil hukum, hadits Dhoif tidak dapat digunakan sebagai pijakan.

Tetapi di NU untuk Fadhoil Akmal, hadits-hadits dhoif masih bisa digunakan untuk motivasi melakukan kebaikan. Penilaian shahih dikembalikan kepada ulama terdahulu. Kalaupun diperdebatkan di belakang hari, mereka mau menggunakan karena ulama dulu dinilai lebih pintar, lebih alim dalam menetapkan keshahihan.

Sementara di kalangan Muhammadiyah masih bisa menggunakan penilaian-penilaian ulama belakangan yang sudah belajar ilmu hadits. Maka terjadilah sedikit perbedaan karena prinsip yang dipakai berbeda. Perbedaan ini tidak baru, karena ulama dahulu juga begitu.

Ulama Mutaqaddimun untuk akidah dan ibadah harus memakai hadits shahih dan hasan saja. Sementara untuk Fadhoil Akmal hadits dhoif masih boleh, asal tidak terlalu dhoif. Kalau tidak meneliti kualitasnya tentu tidak tahu, mana hadits dhoif dan mana yang tidak terlalu dhoif.
Syarat lainnya punya pijakan asal /induk yang kuat.

Jadi kalau kita mendapati keutamaan dzikir tertentu sekian puluh atau sekian ratus, ada yang memiliki dasar yang lemah tetapi punya dasar yang kuat dari Al Qur’an

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اذْكُرُوْا اللّٰهَ ذِكْرًا كَثِيْرًا 

“Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak- banyaknya,” (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 41)

Artinya tidak ada masalah berapapun jumlahnya. Namun kalau jumlah hitungan menjadi paten, tidak boleh diubah, itulah yang tak ada dasarnya. Kecuali ada beberapa yang memang ada dasarnya dengan hitungan sekaligus.

Ada ulama yang lebih memilih menggunakan hadits dhoif daripada mengutip pendapat orang.
Contohnya Abu Dawud, berprinsip :
“Aku lebih suka mengambil hadits Dhoif dari pada mengambil pendapat orang”.

Jadi ulama memiliki sikap yang berbeda-beda terhadap hadits dhoif. Masih ada syarat-syarat tertentu yang dapat diakomodir.
Tetapi untuk hadits Maudhu atau palsu, nyaris semua ulama tidak ada yang toleran. Semuanya sepakat untuk meninggalkan.

Kedhoifan dan kemaudhuan biasanya lebih merujuk ke redaksi. Sebab dari sisi makna ada yang menggunakan redaksi lain dan masuk hadits shahih.

Contoh hadits :

اَلنَّظَافَةُ مِنَ الْإِيْمَانِ

“Kebersihan sebagian dari iman.”

Kalau dilacak, tidak kita jumpai di kitab hadits. Maka ulama mengatakan ini hadits Palsu. Meski banyak ditulis sebagai motto di Pintu gerbang kampung atau di buku-buku pelajaran.
Tetapi substansi bersih bagian dari pada iman, kalau disandarkan pada Nabi SAW sangat mungkin, karena ada redaksi hadits yang mengandung makna tersebut :

Rasulullah SAW bersabda,

الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ

“Bersuci itu separoh keimanan.” (HR Ibnu Madjah).

Maka kesimpulannya jangan terburu menghakimi, sebelum jelas yang dihakimi itu redaksi haditsnya atau isi dari sebuah hadits ? Sementara yang sering kita jadikan dialog , apalagi bagi orang Indonesia pasti lebih ke Substansi, bukan pada Redaksinya karena nyaris tidak tahu redaksinya.
Yang penting bagi kita yang utama adalah mengilmui apa yang kita lakukan.


Beberapa contoh hadits dhoif dan Maudhu yang terkait Ramadhan

Sebenarnya sudah ada Kitab “Riyadul Jinan Fi Ramadhan” yang disajikan oleh Abdul Muhsin bin Ali Al Muhsin. Ini untuk menjadi bahan kajian. Dan masih banyak kitab yang bertebaran untuk menilai hadits-hadits di bulan Ramadhan, terutama yang dhoif.

Sementara yang Shahih juga banyak seperti :

“Man qoma romadhona imanan wahtisaban ghofiro lahu ma taqoddama min dzambihi” -(barangsiapa melakukan Shalat Tarawih dengan rasa iman dan ikhlas, maka diampuni dosanya yang telah lewat). (Muttafaqun ‘alaihi).

“Man Shoma Romadhona Imanan Wahtisaban Ghufiro lahu Maa Taqoddama Min Dzanbih”.
(Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan dengan Iman dan berharap pahala dari Alloh niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” – (Muttafaqun ‘alaihi).

Kedua hadits itu ada di dalam kitab shahih Bukhori, shahih Muslim dan sudah diuji memang kualitasnya shahih.

Sementara kitab Riyadul Jinan Fi Ramadhan mengkritisi hadits-hadits yang dinilai dhoif dan Maudhu yang beredar di bulan Ramadhan.


Contoh ke 1:

Hadits ini sangat populer :

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

Allâhumma bârik lanâ fî rajaba wasya‘bâna waballighnâ ramadlânâ

“Duhai Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan bulan Sya’ban dan pertemukanlah kami dengan bulan Ramadlan.”

Kita hafal semua karena do’a ini juga kita gunakan. Sekalipun kalau diteliti sumber riwayat ini memang problem. Ungkapan ini ada di dalam riwayat Al Bazzar, juga ada dalam Mujamush At Thabrani yang di dalam rangkaian sanad hadits ini terdapat Zaidah bin Abi Ar Ruqod yang dinilai oleh ulama sebagai Munkarun Hadits. Imam An Nasa’i mendhoifkannya. Ibnu Hajar sudah menilai hadits ini batal demi hukum, hubungannya dengan fadhilah Rajab.

Namun kita boleh saja berdo’a dengan lafadz di atas, karena itu adalah do’a yang baik. Hubungan dengan kedhoifan hadits artinya do’a itu disangsikan bersumber dari Nabi. Boleh jadi dari ulama-ulama. Disandarkan kepada Nabi tidak bisa dengan alasan bahwa hadits ini melalui rawi yang bermasalah.

Contoh ke 2 :

اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْيُمْنِ وَالإِيمَانِ وَالسَّلامَةِ وَالإِسْلامِ

Artinya: Terbitkanlah bulan tersebut kepada kami dengan berkah, iman, keselamatan serta Islam.

Hadits ini ada di dalam Sunan At Turmudzi. Tetapi Imam Turmudzi sendiri yang mengutip Hadits ini mendhoifkannya. Dengan alasan dalam sanadnya ada Sulaiman bin Sufyan yang dinilai oleh Imam Turmudzi juga dhoif. Sementara Al Haitami menyebut di dalam sanadnya itu dalam Thabroni ada Usman bin Ibrahim juga dinilai dhoif.
Ibnul Qayyim juga mengutip hadits ini menggunakan jalur-jalur yang sama dengan mengatakan : Lemah.
Sekalipun hadits ini mungkin tidak terlalu populer di tempat kita, tetapi di sekitar penghimpun hadits ini dinilai populer. Sehingga kemudian dinilai, apakah hadits ini Shahih, Dhoif ataukah Palsu.

Contoh ke 3 :

Kemudian ini yang paling populer dari hadits yang kita simak.

أوله رحمة، وأوسطه مغفرة، وآخره عتق من النار

Bulan mulia telah menghampiri kalian … , didalamnya terdapat keterangan Sesungguhnya awal bulan ini merupakan rahmat, pertengahannya adalah ampunan dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka.

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibn Khuzaimah dalam Sahih ibn Khuzaimah. Hadits ini dikutip dari sahabat Salman al Farisi. Ada penjelasan disana, ada nama rawi yang menyalurkan hadits ini namanya Ali ibn Zaid ibn Jadʽan yang divonis oleh para ulama sebagai orang yang dhoif. Ada keterangan lain bahwa Tabi’in yang bernama Sa’id bin Musayyid tidak menyimak hadits ini dari beliau. Bahkan ada komentar, sanadnya ini cukup kacau balau.

Contoh ke 4 :

لو يعلمُ العبادُ ما رمضانُ لتمنَّت أمَّتي أن تكونَ السَّنةُ كلُّها رمضانَ

“Seandainya umatku mengetahui apa yang terdapat dalam bulan Ramadhan, maka sungguh mereka akan berharap satu tahun itu Ramadhan penuh.”

Ungkapan ini disandarkan kepada Nabi
namun dinilai oleh para ulama juga lemah. Hadits ini terdapat di dalam Musnad Abu Ya’la Al Mushili , hadits ini melalui rentetan rawi di dalamnya ada nama Jarir bin Ayyub Al Bajali yang dinilai ulama dhoif. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (1886).

Contoh ke 5 :

Hadits yang juga sangat populer, lebih-lebih dikalangan dunia kesehatan

صُومُوا تَصِحُّوا

“Berpuasalah Maka Kamu Akan Sehat”

Hadits ini ada di dalam Musnad Ahmad, ada di dalam Al Mu’jam Thabrani. Hanya saja hadits ini juga dinilai ulama dhoif.

Kalaupun hadits ini dijadikan dasar oleh sebagian orang : Kalau ingin sehat, berpuasalah. Sebenarnya tidak tepat karena tujuan puasa ini bukan semata-mata sehat tubuh, tetapi bagaimana puasa itu melahirkan ketakwaan.

Oleh karena itu puasa ini tidak identik dengan diet sehat , tetapi puasa ini adalah dalam rangka pengendalian diri agar menjadi orang-orang yang jauh lebih kuat. Mentalnya kuat dalam mengendalikan sesuatu sehingga menjadi Mutaqun, orang-orang yang takwa.

Berpuasa bukan sekedar menahan makan dan minumnya, karena menahan makan dan minum bisa terjadi karena tidak ada makanan dan tidak ada minuman. Maka orang tidak makan dan tidak minum. Model yang otomatis atau terpaksa seperti ini tidak melahirkan ketakwaan. Tetapi berbeda dengan yang dituntunkan dalam puasa Ramadhan ini.

Makanan tersedia, minuman tersedia tetapi kita diminta untuk mengendalikan. Ada waktunya begitu. Ketaatan kita pada aturan itu, aturan yang telah Allah tetapkan itulah yang akan melahirkan ketaatan bagaimana kita menahan itu.

Kalau sekedar tidak makan tidak minum dalam kondisi memang tidak ada makanan dan tidak ada minuman, maka saya pikir hewan jauh lebih mampu melakukan itu. Kalau hewan dimasukkan dalam kandang yang tidak ada makanan dan tidak ada minuman, maka in syaa Allah sehari itu dia tidak makan dan tidak minum. Dia paling lemas dan diam.

Akan berbeda dengan manusia, kalau tidak ada makanan dan minuman dalam kamar dikunci. Boleh jadi tidak bisa makan tetapi masih bisa mengumpat, marah dan lain sebagainya. Itu bedanya manusia, bisa lebih buruk dari hewan. Apalagi sekarang kalau ada rongga jendela, sekalipun dikunci dalam kamar dia bisa manggil Go Food, bisa berbuat banyak hal.

Contoh ke 6 :

“Dari mulut orang-orang yang berpuasa menguapkan aroma misik dan dihidangkan suatu hidangan bagi mereka di bawah Arsy”.

Misik adalah minyak wangi. Inipun kalau secara faktual tidak juga, karena kalau dekat-dekat dengan orang berpuasa dapat membaui.
Hidangan dibawah Arsy menunjukkan bahwa ini bukan faktual tapi sebuah simbul.

Hadits ini ada di dalam Kitab Durrul Mantsur (Jalaluddin As Suyuthi) lalu dinilai dhoif oleh Ibnu Rojab dan ulama lainnya.
Namun redaksi hadits yang hampir sama ada di dalam Shahih Bukhori.

لخلوف فم الصائم أطيب عند الله يوم القيامة من ريح المسك


Nabi Saw bersabda;
“Sungguh, bau mulut orang berpuasa jauh lebih wangi di sisi Allah daripada aroma minyak misik (kasturi).” (HR. Bukhari)

Hadits di atas kadang-kadang disalah fahami, seolah-olah semakin bau dari mulut seseorang, berarti semakin harum disisi Allah. Lalu menjadi alasan tidak gosok gigi dan tidak berkumur selama Ramadhan. In syaa Allah tidak begitu

Karena orang puasa itu di keterangan berikutnya meninggalkan makan minum karena Allah. Meninggalkan omongan yang tidak baik juga karena Allah. Maka yang keluar dari mulut orang yang puasa hanya yang baik-baik saja. Omongannya yang enak-enak saja.

Bahkan dalam ungkapan sering kita menggunakan ucapan diukur dari penciuman. Maksudnya kalau ada kata-kata orang tidak nyaman di telinga kita dalam bahasa Jawa mengatakan : “Omonganmu Sengak”.
Dalam bahasa Jawa, Sengak adalah bau sekali.

Oleh karena itu kalimat Perubahan mulut orang yang lebih harum disisi Allah adalah bukan disisi manusia. Kalau di sisi manusia tetap tidak enak. Karena apapun yang disisi Allah, mungkin yang disisi manusia bau, tetapi kalau untuk kebaikan, in syaa Allah harum.

Seperti petugas sedot WC itu pasti aroma fisiknya tidak bagus baunya. Tapi karena dia niatnya mencari nafkah untuk keluarga karena Allah, maka di sisi Allah lebih harum daripada penjual minyak wangi tapi penipu. Ini yang harus dikenali.

Contoh ke 7

“Sesungguhnya surga terus berhias dan semakin tinggi dari tahun ke tahun karena masuknya Ramadhan, maka hendaklah engkau ucapkan pada tahun itu : Ya Tuhan berilah kami pasangan pada tahun ini”.

Kalau sudah punya pasangan doanya ini nanti tambah terus pasangannya?
Maka di bulan Syawal biasanya banyak pernikahan. Mungkin akibat do’a ini?
Tapi do’a ini kalau disandarkan kepada Nabi dasarnya dari Riwayat Thabrani dari Al Mu’jam Al Kabir tetapi melalui jalur Al Walid bin Al Walid Al Kholansi yang dinilai ulama juga dhoif.

Ini mungkin kita sendiri langka menyimak hadits ini.

Contoh ke 8

“Orang yang berpuasa saat ia makan malaikat berdo’a untuknya”.

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah, At Turmudzi dan Ibnu Majah tetapi juga dinilai haditsnya dhoif.

Contoh ke 9

أَحَبُّ عِبَادِي إلَيَّ أَعْجَلُهُمْ فِطْرًا

Hamba yang paling dicintai Allah adalah yang menyegerakan berbuka.

Hadits ini lemah, ada di Imam Ahmad, Ibnu Hibban dan Turmudzi.
Tetapi kita juga menyimak hadits yang
Shahih yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim.

وَعَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan waktu berbuka.” (Muttafaqun ‘alaih).

Hadits ini shahih. Substansi kadang sama tetapi redaksi yang berbeda. Ada redaksi yang memang bersumber dari Nabi, tetapi ada redaksi yang secara maknawi saja diungkapkan dalam bahasa Arab yang berbeda sehingga kualitasnya juga berbeda.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK




LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here