Dr. Zuhad Masduki MA

2 Ramadhan 1442 / 14 April 2021



Para ulama menulis bahwa islam itu datang membawa nilai-nilai kebaikan dan menganjurkan manusia agar menghiasi diri dengan nilai-nilai kebaikan itu. Serta memerintahkan manusia agar memperjuangkannya sehingga nilai-nilai kebaikan itu mengalahkan kebathilan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

بَلْ نَـقْذِفُ بِا لْحَـقِّ عَلَى الْبَا طِلِ فَيَدْمَغُهٗ فَاِ ذَا هُوَ زَاهِقٌ ۗ 

“Sebenarnya Kami melemparkan yang hak kebenaran kepada yang batil (tidak benar) lalu yang hak itu menghancurkannya, maka seketika itu (yang batil) lenyap.” (QS. Al-Anbiya 21: Ayat 18)

Ayat ini tidak dapat terlaksana dengan sendirinya, kecuali melalui perjuangan atau jihad.

Bumi adalah gelanggang perjuangan atau jihad menghadapi musuh apa saja. Maka para ulama mengatakan
“Al jihad madhun ila yaumal- qiyamah” -(perjuangan berlanjut hingga hari kiamat).

Jihad adalah istilah Al Qur’an untuk menunjukkan semua perjuangan dalam semua bidang kehidupan : Bidang Sosial, Ekonomi, Politik, Kebudayaan. Jadi jihad itu tidak melulu hanya perang secara fisik dengan kekuatan senjata saja.


Makna Kebahasaan

Jihad dari kata dasar jahada- yajhadu- jihadan. Kata jihad adalah bentuk masdar dari jahada. Ada yang mengatakan bahwa kata jihad berasal dari kata jahdun yang berarti ‘letih’ atau ‘sukar’. Artinya jihad itu memang sulit dan menyebabkan keletihan.

Ada lagi yang berpendapat jihad ini berasal dari kata ‘juhdun’ yang artinya ‘kemampuan’. Ini karena jihad itu menuntut kemampuan dan harus melakukan sebesar kemampuan yang ada pada diri si Mujahid.

Makna-makna kebahasaan yang berarti sulit atau kemampuan ini bisa kita konfirmasikan ke Al Qur’an.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَمْ حَسِبْتُمْ اَنْ تَدْخُلُوا الْجَـنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ جَاهَدُوْا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصّٰبِرِيْنَ

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kamu, dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 142)

Dari sini bisa kita lihat bahwa jihad itu merupakan cara yang ditetapkan oleh Allah SWT untuk menguji manusia. Tampak pula kaitan yang sangat erat dengan kesabaran sebagai isyarat bahwa jihad adalah sesuatu yang sulit. Memerlukan kesabaran serta ketabahan.

Kesulitan ujian atau cobaan yang menuntut kesabaran itu juga dijelaskan rinciannya di dalam Al Qur’an.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَمْ حَسِبْتُمْ اَنْ تَدْخُلُوا الْجَـنَّةَ وَ لَمَّا يَأْتِكُمْ مَّثَلُ الَّذِيْنَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۗ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَآءُ وَا لضَّرَّآءُ وَزُلْزِلُوْا حَتّٰى يَقُوْلَ الرَّسُوْلُ وَا لَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗ مَتٰى نَصْرُ اللّٰهِ ۗ اَ لَاۤ اِنَّ نَصْرَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ

“Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu cobaan seperti yang dialami orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, dan diguncang dengan berbagai cobaan , sehingga rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 214)

Jihad juga mengandung arti kemampuan yang menuntut sang Mujahid mengeluarkan segala daya dan kemampuannya demi mencapai tujuan yang sudah dicanangkan. Karena itu jihad adalah pengorbanan. Dan dengan demikian sang Mujahid tidak menuntut atau mengambil, tetapi memberi semua yang dimilikinya.
Ketika memberi dia tidak berhenti sebelum tujuannya tercapai atau yang dimilikinya habis dipakai untuk memperjuangkan apa yang ingin diraih tadi.

Jihad juga merupakan aktivitas yang unik, menyeluruh dan tidak dapat dipersamakan dengan aktivitas lain. Sekalipun aktivitas-aktivitas keagamaan. Tidak ada satu amalan keagamaan yang tidak disertai dengan jihad. Paling tidak jihad diperlukan untuk menghambat rayuan nafsu yang selalu mengajak kepada kedurhakaan dan pengabaian tuntunan-tuntunan agama.

Oleh karena itu seorang muslim mesti seorang Mujahid, karena dia jihad dalam berbagai bidang kehidupan tadi, tidak hanya melulu dalam perang. Seorang mukmin juga seorang Mujahid karena jihad merupakan perwujudan identitas kepribadian seorang muslim.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمَنْ جَاهَدَ فَاِ نَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهٖ ۗ 

“Dan barang siapa berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu untuk dirinya sendiri.” (QS. Al-‘Ankabut 29: Ayat 6)

Jihad itu bagi kemaslahatan diri sendiri. Mereka yang berjihad mesti karena diberi petunjuk dan jalan untuk mencapai cita-citanya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَا لَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا  ۗ 

“Dan orang-orang yang berjihad untuk mencari keridaan Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-‘Ankabut 29: Ayat 69)

Kalau kita belum sampai level jihad sungguh-sungguh, maka Allah belum akan menunjukkan jalan bagi kita.

Yang terpenting dari segalanya adalah bahwa jihad itu harus dilakukan demi Allah, bukan untuk memperoleh tanda jasa ataupun pujian apalagi keuntungan duniawi.

Berulang-ulang di dalam Al Qur’an ditegaskan redaksi fisabilillah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَجَاهِدُوْا فِى اللّٰهِ حَقَّ جِهَا دِهٖ ۗ 

“Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya..” -(QS. Al-Hajj 22: Ayat 78)

Jadi kesimpulannya dari sisi bahasa :
Jihad adalah cara untuk mencapai tujuan. Jihad tidak mengenal putus asa, tidak mengenal menyerah, kelesuan, tidak pula mengenal pamrih. Tetapi jihad tidak dapat dilaksanakan tanpa modal. Baik modal harta benda ataupun ilmu, tenaga, pikiran dan lain-lain. Karena itu jihad mesti disesuaikan dengan modal yang dimiliki dan tujuan yang ingin dicapai. Sebelum tujuan tercapai dan selama masih ada modal selama itu pula jihad dituntut.

Mujahid tidak mengambil, tetapi memberi. Dia berkorban. Bukan Mujahid yang menanti imbalan selain dari Allah SWT, karena jihad diperintahkan semata-mata demi Allah ta’ala. Lillahi Ta’ala.

Jihad menjadi titik tolak seluruh upaya karena jihad adalah puncak segala aktivitas. Jihad bermula dari upaya perwujudan jati diri yang bermula dari kesadaran. Kesadaran harus berdasarkan pengetahuan dan tidak datang dengan paksaan.


Para Ulama berdasarkan Al Qur’an membagi Jihad menjadi tiga :

1. Jihad menghadapi musuh yang nyata (jihad fisik).
2. Jihad menghadapi Setan
3. Jihad menghadapi nafsu yang terdapat dalam diri masing-masing.

Ketiga macam jihad ini dicakup pengertiannya pada Firman Allah dalam surat Al Hajj ayat 78 di atas.

Ada rumus dalam ilmu tafsir, kalau Allah menggunakan kata kerja transitif tetapi obyeknya tidak disebut, maka obyek itu cakupannya menjadi luas. Dalam ayat di atas tidak menyebut obyek. Jihad apa, tidak disebut, maka mencakup semuanya.

Dalam Al Qur’an ada juga kata jihad yang obyeknya disebut. Kalau obyeknya disebut, hanya menyangkut obyek itu saja.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْـكُفَّا رَ وَا لْمُنٰفِقِيْنَ وَا غْلُظْ عَلَيْهِمْ ۗ 

“Wahai Nabi! Berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik, dan bersikap keraslah terhadap mereka.” (QS. At-Taubah 9: Ayat 73)

Ayat ini turun karena ada latar belakang tertentu, ada musuh nyata yang harus dihadapi.

Pada umumnya ayat-ayat yang berbicara tentang jihad tidak menyebutkan obyek yang harus dihadapi. Yang secara tegas dinyatakan obyeknya hanyalah jihad menghadapi orang-orang Kafir dan Munafik.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّا رَ وَا لْمُنٰفِقِيْنَ وَا غْلُظْ عَلَيْهِمْ ۗ وَمَأْوٰٮهُمْ جَهَنَّمُ ۗ وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ

“Wahai Nabi! Perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keras lah terhadap mereka. Tempat mereka adalah Neraka Jahanam dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. At-Tahrim 66: Ayat 9)

Tetapi ini tidak berarti bahwa hanya kedua obyek itu yang harus dihadapi dengan jihad, karena dalam ayat-ayat yang lain disebutkan musuh-musuh yang dapat menjerumuskan manusia ke dalam kejahatan itu banyak. Yaitu Setan dan Nafsu manusia itu sendiri. Keduanyapun harus dihadapi dengan perjuangan dengan jihad, tidak bisa sembrono.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ ۗ اِنَّهٗ لَـكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

” dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 168)

Melawan setan ini tidak gampang. Sangat berat. Apalagi setan itu ada dua, setan jin dan setan manusia. Setan jin tidak kelihatan dan tidak efektif mengganggu kita, sementara setan manusia seperti kita dan dia sangat efektif mengganggu, menggoda kepada kita. Ini yang paling sulit kita menghadapinya.

Dapat dikatakan bahwa sumber dari segala kejahatan adalah setan yang sering memanfaatkan kelemahan nafsu manusia. Ketika manusia tergoda oleh setan, dia menjadi kafir atau menjadi munafik dan menderita penyakit hati.

Atau bahkan pada akhirnya manusia itu sendiri menjadi setan, atau kerjasama dengan setan. Sementara setan sering didefinisikan sebagai manusia atau jin yang durhaka kepada Allah, serta merayu pihak lain untuk melakukan kejahatan. Atau semua pelaku kejahatan yang menyeret orang lain dalam kejahatan yang sama.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

مِنَ الْجِنَّةِ وَا لنَّا سِ

“dari golongan jin dan manusia.” (QS. An-Nas 114: Ayat 6)


Berjihad melawan Setan dan Nafsu

Seperti dikemukakan tadi di atas, sumber segala kejahatan itu adalah setan yang sering menggunakan kelemahan nafsu manusia.

Definisinya : Setan itu semua pelaku keburukan yang merayu fihak lain untuk melakukan kejahatan yang sama. Definisi ini dibuat oleh para ulama setelah melakukan kajian tematik terhadap Al Qur’an. Jadi yang namanya setan bukan hanya makhluk halus yang tidak kita lihat, bahkan ada makhluk yang sama seperti kita.

Setan akan mengganggu kita terus menerus dari semua arah. Ini sudah dinyatakan sendiri oleh setan. Diabadikan ucapan setan di Surat Al A’raf ayat 16-17.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قَا لَ فَبِمَاۤ اَغْوَيْتَنِيْ لَاَ قْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَا طَكَ الْمُسْتَقِيْمَ  (16) ثُمَّ لَاٰ تِيَنَّهُمْ مِّنْۢ بَيْنِ اَيْدِيْهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ اَيْمَا نِهِمْ وَعَنْ شَمَآئِلِهِمْ ۗ وَلَا تَجِدُ اَكْثَرَهُمْ شٰكِرِيْنَ (17)

“Iblis menjawab, “Karena Engkau telah menghukum aku tersesat, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 16-17)

Ayat ini mengisyaratkan bahwa setan akan menghadang dan merayu manusia dari empat penjuru : Depan, belakang, kanan dan kiri. Sehingga tinggal dua penjuru yang aman, yaitu arah atas dan arah bawah.

Arah atas itu lambang kehadiran Allah dan arah bawah itu lambang kesadaran manusia akan kelemahannya di hadapan Allah SWT. Manusia harus berlindung kepada Allah sekaligus menyadari kelemahannya sebagai makhluk agar dapat selamat dari godaan dan rayuan dari setan. Oleh karena itu kita perlu membaca ta’awudz untuk berlindung kepada Allah dari gangguan-gangguan setan.

Di Surat An Nas disebut setan itu melakukan bisikan-bisikan negatif. Bisikan-bisikan tersebut dapat ditolak dengan jihad yang dilakukan dengan menutup pintu-pintu masuknya setan. Atau dengan mematahkan semua kekuatan kejahatannya.

Banyak pintu-pintu masuk bisikan negatif ke dalam dada manusia. Ulama mengidentifikasi ada 5 pintu-pintu masuknya bisikan itu.

1. Ambisi yang berlebihan dan prasangka buruk terhadap Allah.

Ini melahirkan budaya mumpung, serta kekikiran. Pintu masuk terebut dapat ditutupi dengan keyakinan terhadap kemurahan Ilahi, serta rasa puas terhadap hasil usaha maksimal yang halal.

2. Gemerlapan kehidupan duniawi.

Pintu ini dapat tertutup dengan sikap zuhud dan kesadaran ketidak konsistenan kehidupan duniawi.

3. Merasa lebih dari orang lain.

Setan biasanya membisikkan kalimat- kalimat yang mengantarkan mangsanya merasa bahwa yang telah dan sedang dilakukannya adalah benar dan baik. Pintu masuk ini dapat dikunci dengan kesadaran bahwa penilaian Tuhan ditetapkan dengan memperhatikan keadaan seseorang
hingga akhir hayatnya.

4. Memperkecil dosa atau kebaikan.

Ini mengantarkan yang bersangkutan melakukan dosa dengan alasan hanya
dosa kecil, atau enggan berbuat baik dengan alasan malu karena hanya sedikit. Temannya membantunya banyak berjuta-juta, dia hanya membantu ratusan. Oleh karena itu dia tidak jadi melakukan.

Ini mesti ditampik dengan menyadari terhadap siapa dosa dilakukan, yakni
terhadap Allah. Juga kesadaran bahwa Allah tidak menilai bentuk perbuatan semata-mata, tetapi pada dasarnya menilai niat dan sikap pelakunya itu.

5. Riya’ (ingin dipuji baik sebelum, pada saat, maupun sesudah melakukan satu aktivitas).

Inilah pintu-pintu masuknya godaan setan.

Kalau kita himpun lebih jauh godaan setan yang datang kepada kita itu ada tujuh :

1. Was-wasah

مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ۙ الْخَـنَّاسِ
(QS An-Nas 4)

Termasuk bisikan negatif yang datang dari dalam diri kita. Maka sebaiknya kita berdoa :
Wa na’udzubiLLAHi min syururi anfusina wamin sayyi’ati a’malina… (..dan meminta perlindunganNya dari segala keburukan jiwaku dan dari kejelekan amaliahku…)

2. Tamani (menawarkan angan -angan kosong)
وَّلَاُضِلَّـنَّهُمْ وَلَاُمَنِّيَنَّهُمْ وَلَاٰمُرَنَّهُمْ

“dan pasti akan kusesatkan mereka, dan akan kubangkitkan angan-angan kosong pada mereka,….” (QS. An-Nisa’ 119)

Contoh kongkritnya, kita sering dapat SMS dapat hadiah, lalu disuruh kirim rekening. Itu setan- kalau kita kirim betul uang kita malah habis. Kemudian ada diantara masyarakat yang mengaku bisa menggandakan uang. Kalau ada orang datang kesana membawa uang, uangnya tidak digandakan, uangnya malah hilang. Itu Tamani atau investasi bodong, sekarang banyak.

3. Tazyin. (Memoles sesuatu yg buruk sehingga seolah baik)

Ini bisa sesuatu yang material, yang kelihatan, kasat mata, bisa juga sesuatu yang immaterial berupa pandangan- pandangan. Bisa pandangan duniawi, pandangan keagamaan. Maka harus kembali ke sumber aslinya Al Qur’an dan Hadits.

4. Tadhlil (Menyesatkan)

Bisa menyesatkan jalan hidup, bisa juga jalan yang kita lewati.
Misal orang yg kena narkoba, bisa artinya sesat jalan hidupnya, yg menyesatkan teman-temannya sendiri, kolega-koleganya, tokoh-tokoh idolanya.

5. Shaddun an Sabilillah.(Menghalangi dari jalan Tuhan)

Bisa lewat jalur politik, bisa lewat jalur ekonomi, bisa lewat sosial budaya, sosial keagamaan dan lain-lain.

6. Takwif (Mengintimidasi, atau menakut-nakuti)

Bisa seperti sebelumnya, lewat jalur politik, sosial, ekonomi, budaya dan lain-lain.

7. A’dhawah (Menciptakan Permusuhan di antara manusia)

اِنَّمَا يُرِيْدُ الشَّيْطٰنُ اَنْ يُّوْقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَآءَ فِى الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ وَعَنِ الصَّلٰوةِ ۚ فَهَلْ اَنْـتُمْ مُّنْتَهُوْنَ

“Dengan minuman keras dan judi itu, setan hanyalah bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu, dan menghalang-halangi kamu dari mengingat Allah dan melaksanakan sholat, maka tidakkah kamu mau berhenti?” (QS. Al-Ma’idah 91)

Dulu alat untuk menciptakan permusuhan itu dua. Khomr dan maisir ( minuman dan judi).
Sekarang banyak cara membenturkan, misal keragaman agama, budaya, ormas dibenturkan. Oleh siapa,? Provokator, itulah setannya yang membenturkan.

Jihad melawan setan itu sangat berat karena setan ada dua, setan jin dan setan manusia. Maka kita perlu yang namanya jihad fisabilillah. Ini bukan perang fisik.

Setan juga bisa masuk kepada kita lewat pintu-pintu kemiskinan, kebodohan dan juga penyakit. Itu bisa menjadi alat bagi setan untuk menggoda kita semua.

Manusia dituntut berjihad melawan segala macam rayuan setan, menyiapkan iklim dan lokasi yang sehat untuk menghalangi tersebarnya wabah dan virus yang diakibatkan olehnya. Ini tidak gampang, kita butuh tenaga, pemikiran, modal yang tidak sedikit.


Jihad Dengan Senjata

Ini untuk menghadapi musuh yang nyata. Dalam Al Qur’an kita juga sudah menemukan tuntunannya yang sangat rinci, karena sudah dilaksanakan secara langsung oleh Rasulullah pada masa hidupnya, sehingga beliau bisa memperoleh kemenangan politik mengalahkan lawan-lawannya.

Jihad dengan senjata, yang harus disiapkan adalah :

Kesiapan mental yang intinya adalah Keimanan dan Ketabahan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا النَّبِيُّ حَرِّضِ الْمُؤْمِنِيْنَ عَلَى الْقِتَا لِ ۗ اِنْ يَّكُنْ مِّنْكُمْ عِشْرُوْنَ صَا بِرُوْنَ يَغْلِبُوْا مِائَتَيْنِ ۚ وَاِ نْ يَّكُنْ مِّنْكُمْ مِّائَةٌ يَّغْلِبُوْۤا اَ لْفًا مِّنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِاَ نَّهُمْ قَوْمٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ

“Wahai Nabi (Muhammad)! Kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan seribu orang kafir, karena orang-orang kafir itu adalah kaum yang tidak mengerti.” (QS. Al-Anfal 8: Ayat 65)

Perbandingannya 1 : 10. Ini penyiapan mental. Tapi karena ayat ini sangat berat, akhirnya ayat ini dikoreksi oleh Allah sendiri di ayat selanjutnya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَلْئٰـنَ خَفَّفَ اللّٰهُ عَنْكُمْ وَعَلِمَ اَنَّ فِيْكُمْ ضَعْفًا ۗ فَاِ نْ يَّكُنْ مِّنْكُمْ مِّائَةٌ صَا بِرَةٌ يَّغْلِبُوْا مِائَتَيْنِ ۚ وَاِ نْ يَّكُنْ مِّنْكُمْ اَلْفٌ يَّغْلِبُوْۤا اَلْفَيْنِ بِاِ ذْنِ اللّٰهِ ۗ وَ اللّٰهُ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ

“Sekarang Allah telah meringankan kamu karena Dia mengetahui bahwa ada kelemahan padamu. Maka, jika di antara kamu ada seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh; dan jika di antara kamu ada seribu orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan seizin Allah. Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal 8: Ayat 66)

Sekarang menjadi 1 : 2.
Sebelum Al Qur’an memberi tuntunan, Al Qur’an memberi perintah sebagai Pimpinan kaum muslim agar mempersiapkan kekuatan dalam bentuk persenjataan untuk menghadapi musuh.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاَ عِدُّوْا لَهُمْ مَّا اسْتَطَعْتُمْ مِّنْ قُوَّةٍ وَّمِنْ رِّبَا طِ الْخَـيْلِ تُرْهِبُوْنَ بِهٖ عَدُوَّ اللّٰهِ وَعَدُوَّكُمْ وَاٰ خَرِيْنَ مِنْ دُوْنِهِمْ ۚ لَا تَعْلَمُوْنَهُمُ ۚ اَللّٰهُ يَعْلَمُهُمْ ۗ وَمَا تُـنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ يُوَفَّ اِلَيْكُمْ وَاَ نْـتُمْ لَا تُظْلَمُوْنَ

“Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan dari pasukan berkuda yang dapat menggentarkan musuh Allah, musuhmu, dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; tetapi Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu infakkan di jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dizalimi (dirugikan).”- (QS. Al-Anfal 8: Ayat 60)

Senjata pada saat itu adalah panah. Ini hanya contoh, kalau sekarang tentu saja bukan panah. Kita mengikuti perkembangan zaman. Kalau kita kalah dalam persenjataan, kita juga akan dikalahkan oleh lawan-lawan kita.

Untuk menghadapi musuh perlu :
– Persiapan mental
– Persiapan persenjataan secara riil supaya kita betul-betul bisa menghadapi musuh-musuh itu.
Tetapi Al Qur’an juga memberi nasehat kalau perang bisa dihindari, maka hindarilah perang. Kalau musuh lebih cenderung kepada perdamaian maka lebih baik berdamai dengan musuh. Disebut dalam Surat Al Mukmin ayat 61 dan 62.

Sedapat mungkin menghindari perang itu, karena perang juga membawa dampak yang merugikan kedua belah fihak.

Kesimpulan adalah : Jihad itu beraneka ragam. Maka kalau kita berdedikasi memberantas kebodohan, kemiskinan dan penyakit adalah jihad yang tidak kalah pentingnya dibanding dengan jihad mengangkat senjata.Ilmuwan berjihad dengan memasyarakatkan ilmunya dan seterusnya.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here