KH Drs. Slamet Hambali MSi

28 Sya’ban 1442 / 10 April 2021


Terkait dengan awal Ramadhan, berangkat dari hadits Nabi

صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ وَ أَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوْا شَعْبَانَ ثَلاَثِيْنَ

“Berpuasalah kalian karena melihatnya, dan berbukalah kalian (untuk Iedul Fithri) karena melihatnya. Jika hilal tertutup oleh mendung, maka sempurnakanlah Sya’ban 30 hari”.(HR Bukhori).

Kemudian ada hadits lain Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ

Jika kalian melihat hilal maka berpuasalah dan jika melihatnya kembali maka berbukalah, lalu jika kalian terhalangi maka perkirakanlah bulan tersebut. (HR Bukhori).

Pada saat ini untuk mengetahui kapan awal Ramadhan, sudah berkembang ilmu pengetahuan yang disebut dengan ilmu hisab, ilmu falak atau astronomy sudah sangat luar biasa.
Akan tetapi sebenarnya dalam ilmu hisab menghitung kapan awal Ramadhan bermacam-macam.

Ada yang namanya Hisab Urfi atau tradisional. Dengan cara-cara yang mudah tidak repot tanpa harus menggunakan referensi. Cuma dengan membuka buku, membuka lap top dapat dilakukan. Ada masyarakat yang menggunakan hisab Urfi. Hisab Urfi pun bermacam-macam.

Ada hisab yang disebut dengan Hisab Hakiki, inipun bermacam-macam. Ada Hakiki taqribi, hanya mendekati kebenaran, belum sampai sesuai dengan kenyataan karena sistemnya hanya mendekati kebenaran.

Hisab Hakiki Tahqiqi, merupakan hisab Hakiki yang teliti, dilakukan tahqiq, berbagai koreksi dilakukan sehingga hasilnya bisa dikatakan setidak- tidaknya mendekati kebenaran.
Hisab Kontemporer, adalah cara yang terbaru. Akan cenderung sesuai dengan kenyataan.

Terkait dengan penetapan, di Indonesia paling unik dibanding dengan negara-negara lain. Di Indonesia awal Ramadhan dan awal Syawal bisa lima hari. Yang tengah-tengah adalah ketetapan Pemerintah.

Ada yang mendahului satu hari, ada yang mendahului dua hari. Ada yang membelakangi satu hari dan ada yang membelakangi dua hari. Inilah yang terjadi di Indonesia, tidak terjadi di Arab Saudi. Di Arab Saudi apapun keputusan Pemerintah harus diikuti, tidak boleh tidak. Karena kalau tidak mengikuti Pemerintah akan ditakzir.
Karena Undang-Undangnya seperti itu. Kalau di Indonesia karena bukan negara Islam, diperbolehkan sesuai dengan keyakinan masing-masing.

Dalam melakukan penetapan awal bulan ada yang menggunakan fenomena alam, yaitu fenomena terjadinya air pasang. Kapan terjadinya air pasang dianggap masuk tanggal karena ketika dua benda langit, yaitu matahari dan bulan dekat dan searah maka terjadilah pasang yang tertinggi karena masing-masing menarik bumi dengan gravitasinya. Sehingga terjadilah air laut pasang tertinggi. Yang memakai cara seperti itu adalah Jama’ah An Nadzir di Goa, Sulawesi Selatan. Mereka sering menetapkan awal Ramadhan dan awal Syawal, dua hari sebelum ketetapan Pemerintah.

Yang menggunakan Hisab Urfi yang berpegang pada kalender semacam Tahun Jawa, tapi sebenarnya bukan tahun Jawa contohnya kelompok Tarekat Naqsabandiyah Padang. Mereka sering mendahului dua hari.

Ormas yang besar seperti NU dan Muhammadiyah yang sering menjadi sorotan publik, menjadi perhatian Pemerintah. Pemerintah sudah berulang kali, terus-menerus sejak tahun 1972 melalui Departemen Agama membentuk Badan Hisab Rukyah. Diharapkan dengan badan itu bisa menyatukan umat Islam dalam mengawali Ramadhan, mengakhiri Ramadhan dan berhari raya Iedhul Adha. Tapi sampai sekarang tetap belum bisa satu suara dalam menetapkan awal Ramadhan dan Syawal. Ketika hari raya bersatu bukan karena kesepakatan tapi karena faktor posisi bulan yang membuat bersama.

Muhammadiyah sampai saat ini menggunakan Wujudul Hilal. Wujudul Hilal adalah ketentuan dimana hilal dianggap wujud kalau :
– Terjadinya konjungsi atau ijtima’ terjadi sebelum matahari terbenam. Bertemunya matahari dan bulan di dalam satu lingkaran bujur ekliptika.
– Bulan tidak mendahului terbenam dari matahari. Kalau bulan dan matahari terbenam bersama-sama dianggap sudah wujud. Maka tinggi bulan 0° sudah dianggap wujud. Sehingga tidak terkait apakah bulan terlihat atau tidak.

Nahdatul Ulama memadukan antara Hisab dan Rukyat, sehingga menggunakan istilah kriteria Imkanur Rukyah yang diikuti dengan Rukyah. Ketika akan menetapkan awal bulan Ramadhan , Syawal atau Dzulhijjah. Ketika pada tanggal 29 Sya’ban hilal bisa terlihat, ada orang yang menyatakan melihat hilal dan berani diambil sumpah. Maka bisa ditetapkan awal bulan dengan ketentuan bahwa pada saat itu hilal sudah bisa masuk kriteria Imkanur Rukyah (memungkinkan untuk bisa dirukyah).
Sehingga kalau belum memungkinkan untuk bisa dirukyah maka kesaksiannya ditolak. Yang dilakukan oleh NU seperti itu.

Tahun 2011 yang dikenal dengan istilah hari raya Opor Basi, dimana orang sudah mempersiapkan besuk tanggal 30 Agustus 2011 adalah hari raya, sehingga sudah mempersiapkan makanan untuk hari Raya, opor sudah siap tapi ternyata dari segi Hisab belum masuk kriteria Imkanur Rukyah. Ada warga NU Jepara dan yang lain melaporkan melihat hilal , tapi karena belum masuk kriteria Imkanur Rukyah sehingga kesaksian itu ditolak. Sehingga Syawal jatuh pada tanggal 31 Agustus 2011.

Pemerintah berusaha untuk menjadi jembatan antara NU dan Muhammadiyah bahwa hisab sudah dipersiapkan betul dan juga memperhatikan Rukyah.

Persis menggunakan kriteria Imkanur Rukyah tapi sudut Imkanur Rukyahnya cukup tinggi, berbeda dengan yang dipakai oleh NU. NU menggunakan kriteria hilal mencapai sudut 2° maka kesaksian diterima. Kalau Persis mensyaratkan tinggi hilal minimal 3° atau dengan istilah beda tinggi matahari 4°. (Misal tinggi matahari -1° dan bulan 3°). Kemudian ada persyaratan lain yaitu elongasi atau jarak titik pusat matahari ke bulan minimal 6,4°.

Pada tahun ini Ijtimak akhir Sya’ban 1442 H akan terjadi pada hari Senin Pon 12 April 2021, 29 Sya’ban 1442 pukul 09.31.56 WIB. Pada saat rukyatul hilal hari Senin
Pon 12 April 2021, 29 Sya’ban 1442 ketika matahari terbenam untuk seluruh wilayah Indonesia hilal diatas ufuk untuk :

Merauke tinggi 2°43’45” , elongasi 3°49’20”, umur 6j5m24d
Menara MAJT tinggi 3°11’45” , elongasi 4°20’46”, umur 8j,7m,18d
Pelabuhan Ratu, tinggi 3°22’19”, elongasi 4°25’08”, umur 8j22m27d
Sabang, tinggi 3°26’06”, elongasi 4°45’40”, umur 9j15m01d.

Terkait hal ini sudah termasuk kriteria Imkanur Rukyah atau belum?
Kriteria Imkanur Rukyah sendiri mengalami beberapa tahapan.

Tahap pertama Imkanur Rukyah cukup tinggi 2° elongasi 3° umur bulan minimal 8 jam. Kriteria ini disepakati negara- negara MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, Singapura).

Kemudian tahun 2016 ada perubahan MABIMS menetapkan tinggi minimal 3°, elongasi 6,4° , umur tidak disebut. Namun Indonesia belum menerapkan kriteria ini. Kemenag masih menggunakan kriteria yang lama.

Kalender Muhammadiyah, NU, Kemenag tidak ada masalah, semua menetapkan 1 Ramadhan jatuh pada hari Selasa wage 13 April 2021 dan 1 Syawal akan jatuh pada hari Kamis tanggal 13 Mei 2021. Hanya NU tidak lepas dari Rukyah.

Muhammadiyah sudah pasti tidak akan terpengaruh dengan Rukyah. 1 Ramadhan dan 1 Syawal sudah dipastikan.

Sedangkan Persis berbeda, karena sudah berpegang pada kriteria baru, yaitu tinggi 3° dan elongasi 6,4°. Dalam hal ini tinggi terpenuhi sudah mencapai 3°, akan tetapi elongasi belum mencapai. Maka kalender Persis menetapkan 1 Ramadhan pada hari Rabu tanggal 14 April 2021.

Tetapi ada ketentuan kalau Pemerintah menetapkan 1 Ramadhan jatuh pada selasa 13 April 2021 atas dasar terlihatnya bulan secara syar’i maka Persis akan mengikuti. Tetapi kalau Pemerintah dalam menetapkan awal Ramadhan nanti tidak berdasar Rukyah maka Persis tidak akan mengikuti.

Sebetulnya kita bisa melakukan perhitungan sendiri dengan Hisab Urfi.
Namun kadang orang yang baru belajar kadang menjadi fanatik terus dilaksanakan. Ini yang disayangkan. Tetapi kalau sekedar untuk mengetahui saja tidak apa-apa.

Contoh : Kapan 1 Ramadhan 1441 ?

Kita bisa lakukan dengan cara yang mudah. 1441 kalau dibagi 8 sisa berapa ? Yang dibutuhkan sisanya bukan hasilnya.

Dibagi 8 karena setiap 8 tahun penanggalan Hijriah akan kembali sama. Perubahan terjadi setelah 120 tahun. Kapan Ramadhan atau Syawal dimulai dari menghitung urutan bulan.

1 Muharram 1441 jatuh pada hari apa?
1441 dibagi 8 , sisanya adalah 1.
Karena sisanya adalah 1 , maka 1 Muharram akan jatuh pada hari Ahad Wage. Ahad adalah hari pertama dan Wage adalah Pasaran pertama.

Kemudian kapankah 1 Ramadhan?
Ramadhan adalah bulan ke 9.

Kita mengurangi 9 ini dengan 1 (angka 1 ini adalah lambang Ahad Wage – hari dan pasaran Jawa pertama).
Hasilnya adalah 8.
Angka 8 ini kita bagi 2, karena ada bulan yang bernilai 29 dan ada yang 30. Maka dari 8 bulan ini yang 4 berumur 29 dan empat yang lain berumur 30.

Angka 30 ini kita bagi 7, dan mendapat sisa 2.
Dari sini ada 4 bulan : 4 x 2 = 8
Kemudian dari kalender umur 29, kalau dibagi 7 mendapat sisa 1.
Dari sini ada 4 bulan : 4 x 1 = 4
Jumlahnya adalah 8 + 4 = 12

Angka 12 ini kita bagi 7 lagi, mendapat sisa 5. Angka 5 ini kita tambahkan pada referensi, yaitu tanggal 1 Muharram 1441 yang nilainya 1.
Hasilnya 5 + 1 = 6.
Menurut hitungan hari, dengan acuan ahad = 1, maka angka 6 adalah Jum’at.

Bagaimana dengan Pasarannya?
Pasaran Jawa ada 5 , maka bulan dengan umur 30 tak perlu dihitung karena 30 dibagi 5 habis tanpa sisa.
Yang kita ambil adalah bulan dengan umur 29. Sisa setelah dibagi 5 ada 4.

Bulan berumur 29 ada 4 bulan.
Hitungannya : 4 x 4 = 16, dibagi 5 (pasaran) akan mendapat sisa 1.
Kita tambahkan acuan Wage= 1, hasilnya 2 , dalam pasaran Jawa ini Kliwon. Maka hasil 1 Ramadhan 1441 adalah Jum’at Kliwon.

Kita coba menghitung 1 Muharram 1442.

Dengan cara sama, 1442 dibagi 8 sisanya 2. Angka 2 kita kurangi 1 (ahad wage) hasilnya 1.

Angka 1 tahun qomariah nilainya 354 hari (tahun basithah) atau 355 hari (tahun kabisat).
Karena ini tahun basithah maka 354.
354 dibagi 7 sisanya 4.
Ditambahkan ke hari ahad (1) hasilnya 1 + 4 = 5. Hari ke 5 adalah Kamis.

Maka 1 Muharram 1442 jatuh pada hari Kamis
Tentang Pasarannya : Wage ditambah 4 juga. Jatuh pada Pon.
(Pasaran Jawa adalah : Wage, Kliwon, Legi, Pahing, Pon).
Kesimpulan 1 Muharram 1442 jatuh pada hari Kamis Pon.

Bagaimana dengan 1 Ramadhan 1442?

Caranya seperti tadi.
Acuan kita 1 Muharram 1442 jatuh pada hari Kamis Pon.
Ramadhan bulan ke 9, maka dari Muharram selisihnya ada 8 bulan. Ini dibagi dua, menjadi 4 bulan umur 30 dan 4 bulan umur 39.
Bulan berumur 30 dibagi 7 (jumlah hari) sisanya 2
Bulan berumur 29 dibagi 7 sisanya 1
Hasil hitungan (4 x 2) + (4 x 1) = 12.
Dibagi 7 sisanya 5.
Angka 5 ini kita tambahkan ke hari Kamis akan jatuh pada hari Selasa.

Pasarannya, kita seperti tadi, karena angka 30 habis dibagi 5 maka yang dihitung angka 29. Jadi sisanya ada 4.
Ada 4 bulan dengan sisa 4 : 4 x 4 = 16. Angka 16 ini dibagi 5 (jumlah pasaran) sisanya 1. Karena acuannya Kamis Pon, ditambah 1 jadi Wage.
Kesimpulan 1 Ramadhan 1442 adalah hari Selasa Wage.
Ini adalah Hisab Urfi Jawa Islam Asopon. Bisa dilakukan siapa saja.

Kalau kita ingin mengetahui 13 April 2021 itu hari apa juga bisa dihitung dengan methode Urfi.
Setiap 28 tahun Masehi, hari akan kembali sama. Kecuali kalau sudah melewati tahun-tahun ratusan.

Dalam kalender Gregorian setiap putaran 400 tahun, tahun yang bisa dibagi 400 tetap sebagai tahun Kabisat. Februari berumur 29 dan setahun ada 366 hari. Sedangkan tahun-tahun ratusan yang tidak habis dibagi 400 ditetapkan sebagai tahun basithah , yang mestinya Kabisat.

Contohnya Februari tahun 1700, 1800, 1900, 2100, 2200 yang akan datang mestinya tahun Kabisat (karena habis dibagi 4) , tetapi karena tidak habis dibagi 400 maka diganti menjadi Tahun basithah dimana Februari hanya berumur 28 hari.

Tanggal 13 April 2021 hari apa?
2021 kita bagi 28 , sisanya adalah 5. Angka 5 ini kita bagi 4 untuk mencari jumlah tahun Kabisat. Hasilnya adalah sisa 1.

Angka 1 ini kita tambahkan 5 tadi menjadi 6. Angka 6 itu menunjukkan hari tanggal 1 Januari 2021 sebagai acuan. Dari angka 6 tadi menunjukkan hari Jum’at.

April adalah bulan ke 4. Maka dari acuan Januari berjarak 3 saja. Dan tahun 2021 karena tidak habis dibagi 4 berarti tahun basithah. Februari berumur 28. Karena habis dibagi 7 tak perlu dihitung.

Januari umurnya 31, dibagi 7 sisanya 3
Maret umurnya 31, dibagi 7 sisanya 3.
Jumlah sisa adalah 3 + 3 = 6.
Angka 6 kita tambahkan pada 1 Januari yang jatuh pada Jum’at.
Jum’at adalah 6 ditambah 6 = 12. Angka 12 dibagi 7, sisanya 5. Kesimpulan 1 April 2021 jatuh pada hari Kamis. Maka kita dapati tanggal 13 April 2021 adalah Kamis dikurangi dua, yaitu hari Selasa.

Dari sisi Pasaran, putaran pasaran adalah 20 tahun. Setiap 20 tahun akan kembali sama. 2021 dibagi 20 sisanya hanya 1. Karena dibawah 4 kita langsung dapat menetapkan. Kalau lebih dari 4 kita bagi 4 dulu untuk mendapatkan sisanya. Karena sisa 1 maka 1 Januari 2021 sebagai acuan adalah Pahing. (Angka pertama pasaran)

Untuk mengetahui 1April kita hitung dulu.
Januari umurnya 31, kita bagi 5 sisanya 1.
Februari umurnya 28, kita bagi 5 sisanya 3.
Maret umurnya 31, kita bagi 5 sisanya 1.
Jumlah dari sisa : 1 + 3 + 1 = 5.
5 dibagi 5 habis tanpa sisa.
Kesimpulannya sama dengan 1 Januari 2021 yaitu Pahing.
Kelipatan pasaran adalah 5, maka tanggal 11 April 2021 juga Pahing dan tanggal 13 April 2021 adalah Pahing ditambah dua jadi Wage. Yaitu Selasa Wage.

Kita pun bisa menghitung sendiri hari kelahiran kita dengan methode Hisab Urfi Asopon.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here