Ruswa Darsono

21 Sya’ban 1442 / 3 April 2021



Fajar Kadzib atau Cahaya Rasi

Munculnya Fajar Kadzib atau fajar yang bohong belum masuk waktu Subuh ternyata science dapat menjawabnya dan sangat masuk di akal karena fajar kadzib itu berasal dari sinar yang dalam bahasa astronomy disebut Cahaya Rasi (Zodiacal Light). Cahaya Rasi berasal dari ruang antar bintang, antar planet yang merupakan pantulan cahaya dari debu-debu yang berada di antariksa. Maka arah cahaya searah dengan ekliptika atau perjalanan matahari.
Adapun fajar Shodiq adalah cahaya yang berasal dari matahari yang memancar di bumi.

Cahaya Rasi adalah sinar redup yang hampir berbentuk segi tiga terlihat di langit malam, nampak menjulang ke atas di sekitar matahari sepanjang ekliptika atau zodiac. Karena inilah namanya kemudian disebut Zodiacal light.

Cahaya Rasi terjadi karena sinar matahari dihamburkan oleh debu angkasa dalam awan Rasi (Zodiacal cloud). Cahaya ini lumayan redup hingga cahaya bulan atau polusi cahaya dapat menutupinya sehingga dalam keadaan begitu zodiacal light menjadi tak terlihat.

Ciri waktu Subuh tidak hanya sekedar munculnya fajar. Ternyata kita harus tahu fajar yang mana, karena dari Nabi pun menyampaikan ada dua fajar : Fajar Kadzib dan Fajar Shodiq.
Jangan-jangan dulu kalau hanya sekedar meneliti cahaya, yang diteliti adalah Fajar Kadzib. Ini yang akan mengarahkan kita ketika kita secara science dan teknologi mau terjun meneliti waktu Subuh itu sebenarnya apa?

Fajar Kadzib dan Fajar Shodiq sama-sama terdeteksi. Ternyata yang membedakan adalah bentuknya yang menjulang ke atas dan yang memanjang sepanjang ufuk.
Fajar Shodiq sebagai ciri waktu Subuh adalah yang memanjang di ufuk. Sedang yang menjulang ke atas adalah Fajar Kadzib.


Suasana Waktu Subuh

Suasana Pertama

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ قَالَ أَخْبَرَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ أَنَّ عَائِشَةَ أَخْبَرَتْهُ قَالَتْ كُنَّ نِسَاءُ الْمُؤْمِنَاتِ يَشْهَدْنَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةَ الْفَجْرِ مُتَلَفِّعَاتٍ بِمُرُوطِهِنَّ ثُمَّ يَنْقَلِبْنَ إِلَى بُيُوتِهِنَّ حِينَ يَقْضِينَ الصَّلَاةَ لَا يَعْرِفُهُنَّ أَحَدٌ مِنْ الْغَلَسِ

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair berkata, telah mengabarkan kepada kami Al Laits dari ‘Uqail dari Ibnu Syuhab berkata, telah mengabarkan kepadaku ‘Urwah bin Az Zubair bahwa ‘Aisyah mengabarkan kepadanya, ia mengatakan, “Kami, wanita-wanita Mukminat, pernah ikut shalat fajar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan menutup wajahnya dengan kerudung, kemudian kembali ke rumah mereka masing-masing setelah selesai shalat tanpa diketahui oleh seorangpun karena hari masih gelap.” (HR Bukhori 544)

Pada zaman Nabi, masjid tidak memakai lampu. Shalat dalam keadaan remang-remang gelap (“al gholas” bahasa Jawa : umun-umun). Keadaan masih gelap, belum dapat melihat wajah orang tetapi masih bisa melihat silhouette manusia.

Ciri suasana pertama :
Siti Aisyah r.anha ketika pulang masih gelap, tidak dapat mengenali orang.


Suasana Kedua

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُقَاتِلٍ قَالَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ قَالَ أَخْبَرَنَا عَوْفٌ عَنْ سَيَّارِ بْنِ سَلَامَةَ قَالَ دَخَلْتُ أَنَا وَأَبِي عَلَى أَبِي بَرْزَةَ الْأَسْلَمِيِّ فَقَالَ لَهُ أَبِي كَيْفَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الْمَكْتُوبَةَ فَقَالَ كَانَ يُصَلِّي الْهَجِيرَ الَّتِي تَدْعُونَهَا الْأُولَى حِينَ تَدْحَضُ الشَّمْسُ وَيُصَلِّي الْعَصْرَ ثُمَّ يَرْجِعُ أَحَدُنَا إِلَى رَحْلِهِ فِي أَقْصَى الْمَدِينَةِ وَالشَّمْسُ حَيَّةٌ وَنَسِيتُ مَا قَالَ فِي الْمَغْرِبِ وَكَانَ يَسْتَحِبُّ أَنْ يُؤَخِّرَ الْعِشَاءَ الَّتِي تَدْعُونَهَا الْعَتَمَةَ وَكَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَهَا وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا وَكَانَ يَنْفَتِلُ مِنْ صَلَاةِ الْغَدَاةِ حِينَ يَعْرِفُ الرَّجُلُ جَلِيسَهُ وَيَقْرَأُ بِالسِّتِّينَ إِلَى الْمِائَةِ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muqatil berkata, telah mengabarkan kepada kami ‘Abdullah berkata, telah mengabarkan kepada kami ‘Auf dari Sayyar bin Salamah berkata, “Aku dan bapakku datang menemui Abu Barzah Al Aslami. Lalu bapakku berkata kepadanya, “Bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat yang diwajibkan?” Abu Barzah menjawab, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat Zhuhur, yang kalian sebut sebagai waktu utama, saat matahari telah tergelincir, shalat ‘Ashar ketika salah seorang dari kami kembali dengan kendaraannya di ujung Kota sementara matahari masih terasa panas sinarnya. Dan aku lupa apa yang dibaca beliau saat shalat Maghrib. Beliau lebih suka mengakhirkan shalat ‘Isya yang kalian sebut dengan shalat ‘atmah, dan beliau tidak suka tidur sebelum shalat Isya dan berbincang-bincang sesudahnya. Dan beliau melaksanakan shalat Shubuh ketika seseorang dapat mengetahui siapa yang ada di sebelahnya, beliau membaca enam hingga seratus ayat.” (HR Bukhori 514)

Jadi ketika Nabi selesai shalat Subuh, itu orang baru tahu siapa yang di sebelah kanan kirinya. Dari sini bisa disimpulkan bahwa ketika Nabi mulai shalat masih gelap, meskipun di timur sudah ada sinar semburat merah. Tentu saja ini menarik untuk di teliti jarak waktu Subuh dengan kemampuan untuk melihat siapa di sebelahnya pada saat tanpa cahaya.

Hadits di atas tak hanya membahas waktu Subuh saja, tetapi juga waktu dhuhur, waktu ashar, waktu maghrib.
Waktu isya yang ditentukan 18° di bawah ufuk. Sampai saat ini tak ada yang mengoreksi. Adapun waktu Subuh yang ditetapkan ketika posisi matahari 20° di bawah ufuk oleh Muhammadiyah dikoreksi menjadi 18° di bawah ufuk. Jadi sama dengan waktu isya’.


Akhir Waktu Subuh

Dalam Munas Muhammadiyah kemarin tidak dibahas akhir waktu Subuh karena memang sudah disepakati. Namun ada yang menarik karena berhubungan dengan Shalat Isyraq.
Dari hadits kedua, waktu Subuh adalah sampai terbitnya matahari.


Tentang Terbitnya Matahari

Dalam hadits Muslim ada larangan pada saat matahari terbit, yaitu larangan shalat dan menguburkan mayat.


و حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ عَنْ مُوسَى بْنِ عُلَيٍّ عَنْ أَبِيهِ قَالَ سَمِعْتُ عُقْبَةَ بْنَ عَامِرٍ الْجُهَنِيَّ يَقُولُا ثَلَاثُ سَاعَاتٍ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْهَانَا أَنْ نُصَلِّيَ فِيهِنَّ أَوْ أَنْ نَقْبُرَ فِيهِنَّ مَوْتَانَا حِينَ تَطْلُعُ الشَّمْسُ بَازِغَةً حَتَّى تَرْتَفِعَ وَحِينَ يَقُومُ قَائِمُ الظَّهِيرَةِ حَتَّى تَمِيلَ الشَّمْسُ وَحِينَ تَضَيَّفُ الشَّمْسُ لِلْغُرُوبِ حَتَّى تَغْرُبَ

Dan telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Wahb dari Musa bin Ali dari bapaknya ia berkata, saya mendengar Uqbah bin Amir Al Juhani berkata; “Ada tiga waktu, yang mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang kita untuk shalat atau menguburkan jenazah pada waktu-waktu tersebut. (Pertama), saat matahari terbit hingga ia agak meninggi. (Kedua), saat matahari tepat berada di pertengahan langit (tengah hari tepat) hingga ia telah condong ke barat, (Ketiga), saat matahari hampir terbenam, hingga ia terbenam sama sekali.” (HR Muslim 1373)

Dalam hadits ini memakai kata
حِينَ تَطْلُعُ الشَّمْسُ بازِغة حتى ترتفع
Bahasa ini memakai fiil mudhori yang artinya ketika matahari sedang terbit lalu diikuti frase بازغة حتى ترتفع. Namun kata بَازِغَةً dalam frase ini sering tidak diterjemahkan, hanya dikatakan “hingga dia (matahari) agak meninggi”.
Ternyata baazighot بَازِغَةً menurut kamus adalah mulai muncul atau mulai terbit. Sedang ترتفع memiliki beberapa arti diantaranya meninggi, lepas atau terlepas. Lalu kata ترتفع tepatnya diterjemahkan/dimaknai apa? Jika diperhatikan dengan seksama frase بازغة حتى ترتفع adalah frase yang menerangkan حِينَ تَطْلُعُ الشَّمْسُ “saat matahari sedang terbit”. Kata بازِغة dan ترتفع tersebut harus dikaitkan dengan تَطْلُعُ الشَّمْسُ “terbit matahari”. Terbit matahari terjadi di ufuk (yakni ufuk timur). Maka, frase بازغة حتى ترتفع mestinya diterjemahkan “(yakni saat) mulai muncul hingga terlepas”. Muncul dimana dan terlepas dari mana/apa? Pertanyaan ini dirujuk kembali ke frase sebelumnya yakni حِينَ تَطْلُعُ الشَّمْسُ , yakni “(yakni saat) mulai muncul diufuk hingga terlepas dari ufuk”. Maka kemudian yang dimaksud waktu terbit adalah waktu mulai (piringan atas) matahari muncul di ufuk sampai matahari bulatannya (piringan bawah)terlepas dari ufuk. Waktu terbit matahari ini lamanya 2,5 sampai 3 menit. Setelah itulah (setelah piringan bawah matahari terlepas dari ufuq) waktu Shalat Syuruq bagi yang meyakini disyariatkannya.

Dan perlu ditegaskan lagi, karena waktu subuh itu dikatakan “berakhir sebelum matahari terbit”, ini berarti waktu subuh berakhir sebelum piringan atas matahari menyentuh ufuk.
Dan daftar “Terbit” yang maksudnya “Waktu Matahari Terbit” pada jadwal waktu shalat yang umum kita ketahui adalah waktu ketika piringan atas matahari menyentuh ufuk ini.

Merumuskan Definisi Awal Waktu Shalat Subuh

Dengan dasar-dasar tadi orang mulai meneliti waktu Subuh.
Basisnya adalah :
– Surat Al Baqarah ayat 187 tentang fajar : Nyata perbedaan benang putih dengan benang hitam.
– Surat At-Takwir ayat 18
– Dari Hadits mauquf : Siang dan malam tersirat bermakna fajar itu pembeda atau batas siang dan malam.

Hadits yang paling jelas mendefinisikan fajar sesuai QS 2:187 sebagai awal waktu shalat Subuh adalah hadits “al Fajru- fajron” dari Ibnu Abbas (Mustadrak Imam Hakim no 687), dari Jabir bin Abdullah (Mustadrak Imam Hakim no 688), dari Abdurrahman bin Ayyasy (Sunan Ad Daruquthni 2163).
Hadits ini mengatakan bahwa waktu Subuh adalah ketika fajar memanjang di ufuk.

Hadits alternatif yang dapat mendefinisikan awal waktu shalat Subuh (dengan syarat).
Hadits ghalas yang bercerita tentang seseorang baru mengenal orang shalat disebelahnya ketika shalat begitu saja selesai.

Berarti yang harus diteliti adalah semburat cahaya yang memanjang di ufuk timur. Peneliti juga harus tahu dan dapat membedakan antara Fajar Kadzib dan Fajar Shodiq. Jadi yang penting adalah awal semburat cahaya dan memanjangnya di ufuk timur.


Observasi

Kebanyakan yang dilakukan oleh Peneliti di Indonesia menggunakan SQM (Sky quality meter). SQM adalah
kamera yang difungsikan untuk menangkap jumlah cahaya yang masuk ke dalamnya. Kadang-kadang SQM diarahkan kemanapun tak jauh berbeda.

Mereka menetapkan awal waktu Subuh dengan menetapkan kapan mulai kelihatan menjadi terangnya cahaya di SQM. Ketiga peneliti dari Muhammadiyah : UHAMKA , UMSU dan UAD pada awalnya menggunakan SQM. Tapi kemudian menyadari ada ketidak sesuaian. Dengan cara ini belum menangkap kapan mendatarnya fajar. Untuk itu perlu digabung dengan kamera. Karena itu kemudian digabung antara SQM dan Kamera.


Hasil Penelitian :

Data Tim Muhammadiyah dalam draft
UHAMKA : -7, 40° sampai -18,40°
UMSU : -8,38° sampai -16,54°
UAD : -5,10° sampai -15,50°
Penelitian ini dari berbagai cuaca, mulai keadaan terang sampai agak berdebu. Dan juga terangnya cahaya dari lampu juga mengganggu.

Hasil Penelitian dari Peneliti Resmi dari luar Muhammadiyah yang dipakai oleh PP Muhammadiyah, antara lain Dhani Herdiwijaya dari ITB, beliau mengumpulkan dari semua penelitian di Indonesia dari tahun 2011 sampai 2020, kemudian datanya dianalisa.

Hasilnya merupakan tebaran data yang beragam. Ada yang hampir mencapai 22° di bawah ufuk. Beliau membuat data optimasi dan mendapatkan persamaan
Y = 0.830 ± 0.006 X
R² = 0.988 (N = 251)
Berdasarkan sebaran data
– Relasi yang baik antara sudut depresi dan kecerahan langit
– Kecerahan langit maksimum 22,5 mpass mempunyai sudut depresi -18,67°

Data berikutnya dari Sugeng Riyadi dari Assalam. Beliau membuat rata-rata dari data dan menemukan angka -17,54°, mendekati -18°

Bahrul Ulum, peneliti mandiri dari PD Muhammadiyah Pasuruan berhasil memotret fajar di Gunung Bromo pada tanggal 23 Juni 2020.
Pada ketinggian -20° belum terlihat cahaya. Pada ketinggian -19°pun belum muncul. Fajar baru muncul pada ketinggian -18°01′. Ketika ketinggian -17° fajar sudah memanjang di ufuk. Dan pada saat -14° sudah terang benderang.

Data dari Bahrul Ulum, pada ketinggian -18° sudah menunjukkan cahaya ufuk timur. Data inilah yang menguatkan data-data yang ditemukan oleh Tim-Tim dan Peneliti Resmi yang dibentuk PP Muhammadiyah.

Tono Saksono merekomendasikan pada ketinggian -13° sampai -14° ini waktu Subuh. Tono Saksono pun menemukan data pada -18° tapi dengan jumlah data yang minim. Namun datanya secara statistik yang paling bagus ada di ketinggian -13° sampai -14°


Data-data dari ulama dahulu

Ternyata ulama-ulama zaman dahulu sudah meneliti fajar.
– Jabir al Bantani tahun 929 , menemukan fajar pada -18°
– Kussyar al Jily tahun 961, menemukan fajar pada -18°
– Abdurrahman Ash-shufi tahun 986 menemukan fajar pada -18°
– Abu Raihan al Biruni tahun 1048 menemukan fajar pada -18° dan -17°
– Az Zarqali tahun 1100 menemukan fajar pada -18°
– Nashirudin al Thusi tahun 1273 menemukan fajar pada -18°
– Mu’ayyid ad-Din al Urdhy tahun 1266 menemukan fajar pada -18° sampai -19°
– Al Hasan bin Ali al Marrakusyi tahun 1281 menemukan fajar antara -16° sampai -20°

Banyak sekali yang menemukan fajar pada -18° , -19° dan kemudian ada satu yang menemukan fajar pada -20°, yaitu Muhammad Thahir Jalaluddin pada tahun 1956. Beliau ulama dari Indonesia dengan kitabnya Nukhbah at Taqrirat fi Hisab al Auqat wa Samt al-Qiblah bi al Lugharitmat.

Beliau adalah guru dari Sa’aduddin Djambek, tokoh Muhammadiah yang menjadi tokoh Kemenag pada waktu dulu, yang menulis buku tentang shalat dan yang mengambil waktu fajar -20° yang dipakai di Indonesia sampai sekarang. Tetapi beliau tidak mencantumkan angka -20° itu hasil penelitian atau bukan. Kemungkinan beliau mengutip pendapat gurunya yaitu Muhammad Thahir Jalaluddin.

Dari penelitian yang saya lakukan di Karang Anyar, perbedaan waktu antara ketinggian -20° dan -18° sesuai keputusan Muhammadiyah adalah 8 menit. Selisih waktu 9 menit terjadi beberapa hari saja, kebanyakan selisih 8 menit.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here