Ruswa Darsono

21 Sya’ban 1442 / 3 April 2021


Pengantar

Pada bulan Nopember- Desember 2020 Muhammadiyah mengadakan Munas Tarjih yang ke 31 yang semula mau diadakan di UMG – Gresik tetapi karena ada pandemi diubah bentuknya jadi daring dari seluruh dunia. Karena keadaannya lain dengan sebelumnya. Dengan cara itu ternyata bisa jalan.

Salah satu yang dibahas adalah kriteria waktu Subuh. Dan di dalam komisi ini menjadi diskusi yang paling menarik dan paling lama. Pembicaraan alot karena banyak hal, terutama di masalah teknis karena kalau masalah pembahasan Fiqih tidak ada yang berarti.

Adapun kesimpulan terakhir memang telah diberitakan oleh media. Ijtihad Muhammadiyah menyatakan bahwa waktu Subuh tidak lagi pada keadaan matahari 20° di bawah ufuk, tapi pada keadaan matahari pada 18° di bawah ufuk.

Bayangan terhadap derajat kalau kita menjulurkan tangan lalu ibu jari kita mendatar. Kalau ibu jari kita letakkan pada batas antara langit dan laut ke arah timur. 20 derajat itu kira-kira 10 ibu jari. Dijulurkan ke depan menghadap matahari terbit lalu bagian atas jari nempel ufuk. Kemudian kita turunkan ke bawah 10 jari – maka pada saat matahari disitulah waktu Subuh menurut kriteria Pemerintah. Kalau Muhammadiyah kira-kira hanya 9 jari.

Keadaan itu kalau dihitung dengan waktu, maka waktu Subuh kriteria Muhammadiyah jika dihitung dengan methode yang sama kira-kira berselisih 8 menit dan kadang-kadang 9 menit. Karena pada dasarnya matahari bergerak dari waktu ke waktu tidak seragam.

Mengapa Muhammadiyah menambah waktu Subuh 8 atau 9 menit ke depan? Karena menurut Muhammadiyah dari data-data penelitian baik oleh Muhammadiyah dan juga penelitian oleh Para ahli di luar Muhammadiyah ternyata kesimpulannya pada saat matahari 20° di bawah ufuk itu belum muncul Fajar Shodiq. Fajar Shodiq itu baru muncul 8 menit kemudian dari waktu yang semula kita pakai atau pada posisi 18°.

Kenapa memakai dasar Fajar Shodiq?
Karena memang menurut sabda Nabi awal kesubuhan adalah ketika muncul Fajar Shodiq. Secara dalil tidak ada perubahan. Muhammadiyah, NU, Pemerintah, Persis dan lain-lainnya memakai dalil yang sama. Yang berbeda adalah keyakinan hasil penelitian bahwa Fajar Shodiq adalah pada titik tertentu.


Shalat itu ada Ketentuan Waktunya

Waktu untuk shalat-shalat wajib kita tahu bahwa dalil dari Al Qur’an hanya bersifat umum.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَاِ ذَا قَضَيْتُمُ الصَّلٰوةَ فَا ذْكُرُوا اللّٰهَ قِيَا مًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِكُمْ ۚ فَاِ ذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَاَ قِيْمُوا الصَّلٰوةَ ۚ اِنَّ الصَّلٰوةَ كَا نَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتٰبًا مَّوْقُوْتًا

“Selanjutnya, apabila kamu telah menyelesaikan sholat(mu), ingatlah Allah ketika kamu berdiri, pada waktu duduk, dan ketika berbaring. Kemudian, apabila kamu telah merasa aman, maka laksanakanlah sholat itu (sebagaimana biasa). Sungguh, sholat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 103)

Kita diminta shalat ditepi siang, ditepi malam, sesudah tergelincir matahari, gelap malam dan shalat subuh. Jadi bersifat umum.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَا صْبِرْ عَلٰى مَا يَقُوْلُوْنَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوْعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوْبِهَا ۚ وَمِنْ اٰنَآئِ الَّيْلِ فَسَبِّحْ وَاَ طْرَا فَ النَّهَا رِ لَعَلَّكَ تَرْضٰى

“Maka sabarlah engkau (Muhammad) atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum matahari terbit, dan sebelum terbenam; dan bertasbihlah (pula) pada waktu tengah malam dan di ujung siang hari, agar engkau merasa tenang.” (QS. Ta-Ha 20: Ayat 130)

Umum tidak sampai detail seperti apa, maka kemudian detailnya disampaikan Nabi dalam suatu hadits yang panjang yang diriwayatkan Jabir bin Abdullah.
Hadits ini tidak dimuat di Imam Bukhori, tetapi dimuat di Musnad Ahmad. Tetapi menurut komentar Imam Bukhori hadits inilah hadits yang paling shahih yang berbicara tentang waktu-waktu shalat.

Hadits ini panjang dan bercerita tentang dua hari Nabi didatangi oleh Jibril untuk mendirikan shalat.

Hadits Ahmad 14011 :

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ آدَمَ حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ حُسَيْنِ بْنِ عَلِيٍّ قَالَ حَدَّثَنِي وَهْبُ بْنُ كَيْسَانَ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ وَهُوَ الْأَنْصَارِيُّ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَاءَهُ جِبْرِيلُ فَقَالَ قُمْ فَصَلِّهْ فَصَلَّى الظُّهْرَ حِينَ زَالَتْ الشَّمْسُ ثُمَّ جَاءَهُ الْعَصْرَ فَقَالَ قُمْ فَصَلِّهْ فَصَلَّى الْعَصْرَ حِينَ صَارَ ظِلُّ كُلِّ شَيْءٍ مِثْلَهُ أَوْ قَالَ صَارَ ظِلُّهُ مِثْلَهُ ثُمَّ جَاءَهُ الْمَغْرِبَ فَقَالَ قُمْ فَصَلِّهْ فَصَلَّى حِينَ وَجَبَتْ الشَّمْسُ ثُمَّ جَاءَهُ الْعِشَاءَ فَقَالَ قُمْ فَصَلِّهْ فَصَلَّى حِينَ غَابَ الشَّفَقُ ثُمَّ جَاءَهُ الْفَجْرَ فَقَالَ قُمْ فَصَلِّهْ فَصَلَّى حِينَ بَرَقَ الْفَجْرُ أَوْ قَالَ حِينَ سَطَعَ الْفَجْرُ ثُمَّ جَاءَهُ مِنْ الْغَدِ لِلظُّهْرِ فَقَالَ قُمْ فَصَلِّهْ فَصَلَّى الظُّهْرَ حِينَ صَارَ ظِلُّ كُلِّ شَيْءٍ مِثْلَهُ ثُمَّ جَاءَهُ لِلْعَصْرِ فَقَالَ قُمْ فَصَلِّهْ فَصَلَّى الْعَصْرَ حِينَ صَارَ ظِلُّ كُلِّ شَيْءٍ مِثْلَيْهِ ثُمَّ جَاءَهُ لِلْمَغْرِبِ الْمَغْرِبَ وَقْتًا وَاحِدًا لَمْ يَزُلْ عَنْهُ ثُمَّ جَاءَ لِلْعِشَاءِ الْعِشَاءَ حِينَ ذَهَبَ نِصْفُ اللَّيْلِ أَوْ قَالَ ثُلُثُ اللَّيْلِ فَصَلَّى الْعِشَاءَ ثُمَّ جَاءَهُ لِلْفَجْرِ حِينَ أَسْفَرَ جِدًّا فَقَالَ قُمْ فَصَلِّهْ فَصَلَّى الْفَجْرَ ثُمَّ قَالَ مَا بَيْنَ هَذَيْنِ وَقْتٌ

Terjemahan/Arti Hadits:
Telah bercerita kepada kami Yahya Bin ‘Adam telah bercerita kepada kami Ibnu Mubarak dari Husain bin ‘Ali berkata; telah bercerita kepadaku Wahb bin Kaisan dari Jabir bin Abdullah Al Anshori Jibril telah datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata; “Berdiri dan shalatlah”, maka ia shalat dhuhur ketika matahari telah tergelincir.
Lalu (Jibril AlaihiSsalam) datang pada (Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam) waktu asar dan berkata; “Berdiri dan shalatlah”, maka beliau shalat ketika bayang-bayang setiap benda sepertinya (sepanjangnya), atau (Jabir bin Abdullah Radliyallahu’anhuma) berkata; hingga bayangannya sepanjang dirinya.
Lalu (Jibril AlaihiSsalam) datang padanya waktu maghrib, dan berkata; “Berdiri dan shalatlah”, maka beliau shalat ketika matahari telah terbenam.
Lalu (Jibril AlaihiSsalam) datang waktu isya’, dan berkata; “Berdiri dan shalatlah”, maka beliau shalat ketika benang merah langit telah hilang.
Lalu (Jibril AlaihiSsalam) datang waktu fajar, dan berkata; “Berdiri dan shalatlah”, maka beliau shalat fajar ketika fajar telah mengkilat, atau (Jabir bin Abdullah Radliyallahu’anhuma) berkata; ketika muncul fajar.

Lalu besok harinya (Jibril AlaihiS salam) datang lagi untuk waktu dhuhur, dan berkata; “Berdiri dan shalatlah”, maka beliau shalat dhuhur ketika bayang-bayang setiap sesuatu sepanjang ukurannya, kemudian datang waktu asar dan berkata; “Berdiri dan shalatlah”, maka beliau shalat asar ketika bayang-bayang setiap sesuatu menjadi sepanjang dua kali ukurannya. Lalu (Jibril alaihis salam) mendatanginya waktu maghrib dalam waktu yang sama, yang tidak jauh darinya. Lalu (Jibril alaihissalam) datang untuk shalat di waktu isya’, ketika separu malam telah pergi, atau (Jabir bin Abdullah radliyallahu ‘anhuma) berkata; sepertiga malam, lalu beliau shalat isya’ kemudian (Jibril alaihissalam) datang kepadanya untuk fajar ketika subuh telah terang sekali, dan berkata; “Berdiri dan shalatlah”, lalu beliau shalat fajar kemudian (Jibril alaihissalam) berkata; “Di antara dua waktu itulah waktu shalat”.

Kalau disimpulkan dari hadits imam Ahmad ini pada hari pertama Shalat dhuhur ketika matahari tergelincir. Dan di hari kedua ketika panjang bayangan sama dengan panjang benda.
Shalat ashar ketika panjang bayangan sama dengan panjang benda dan diwaktu lain panjang bayangan dua kali panjang benda.

Shalat maghrib sama, shalat isya’ begitu hilang cahaya merah di sebelah barat ketika matahari terbenam.
shalat isya dihari berikutnya lewat separo atau sepertiga malam.
Shalat Subuh ketika fajar menyingsing dan hari berikutnya ketika fajar telah benar-benar terang.

Dalam hadits lain, dalam Shahih Muslim 966

و حَدَّثَنِي أَحْمَدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الدَّوْرَقِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَبِي أَيُّوبَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَقْتُ الظُّهْرِ إِذَا زَالَتْ الشَّمْسُ وَكَانَ ظِلُّ الرَّجُلِ كَطُولِهِ مَا لَمْ يَحْضُرْ الْعَصْرُ وَوَقْتُ الْعَصْرِ مَا لَمْ تَصْفَرَّ الشَّمْسُ وَوَقْتُ صَلَاةِ الْمَغْرِبِ مَا لَمْ يَغِبْ الشَّفَقُ وَوَقْتُ صَلَاةِ الْعِشَاءِ إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ الْأَوْسَطِ وَوَقْتُ صَلَاةِ الصُّبْحِ مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ مَا لَمْ تَطْلُعْ الشَّمْسُ فَإِذَا طَلَعَتْ الشَّمْسُ فَأَمْسِكْ عَنْ الصَّلَاةِ فَإِنَّهَا تَطْلُعُ بَيْنَ قَرْنَيْ شَيْطَانٍ

Telah menceritakan kepadaku Ahmad bin Ibrahim Ad Duraqi telah menceritakan kepada kami Abdushshamad telah menceritakan kepada kami Hammam telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Abu Ayyub dari Abdullah bin ‘Amru bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Waktu shalat zhuhur adalah jika matahari telah concong dan bayangan sesorang seperti panjangnya selama belum tiba waktu shalat ashar, dan waktu shalat ashar selama matahari belum menguning, dan waktu shalat maghrib selama mega merah (syafaq) belum menghilang, dan waktu shalat isya` hingga tengah malam, dan waktu shalat shubuh semenjak terbit fajar selama matahari belum terbit, jika matahari terbit, maka janganlah melaksanakan shalat, sebab ia terbit diantara dua tanduk setan.”

Ini untuk melengkapi hadits waktu Subuh. Karena dalam hadits pertama tidak menyebut akhirnya shalat Fajar. Dalam hadits kedua ini disebut akhir shalat Fajar, yaitu sampai sebelum matahari terbit.


Waktu shalat Subuh sangat erat hubungannya dengan Puasa.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

 ۗ وَكُلُوْا وَا شْرَبُوْا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَـكُمُ الْخَـيْطُ الْاَ بْيَضُ مِنَ الْخَـيْطِ الْاَ سْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ اَتِمُّوا الصِّيَا مَ اِلَى الَّيْلِ ۚ 

wa kuluu wasyrobuu hattaa yatabayyana lakumul-khoithul-abyadhu minal-khoithil-aswadi minal-fajr, summa atimmush-shiyaama ilal-laiil,

“Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 187)

Fajar adalah akhir dari diperbolehkan makan dan minum. Itu adalah akhir waktu sahur untuk puasa.
Di dalam hadits berikutnya fajar ini ada dua. Yang satu masih boleh makan dan yang kedua sudah tidak boleh makan, tapi boleh shalat.
Jadi Fajar ini menjadi penanda untuk waktu shalat atau akhir untuk Sahur.

Fajar juga diterangkan dalam Surat At Takwir.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَا لصُّبْحِ اِذَا تَنَفَّسَ 

“dan demi subuh apabila fajar telah menyingsing,” (QS. At-Takwir 81: Ayat 18)

Ayat ini menunjukkan bahwa Subuh adalah saat Fajar menyingsing.


Tentang Fajar

Ada hadits mauquf tentang Fajar. Yaitu Hadits Bukhari 1784

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي حَازِمٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ ح حَدَّثَنِي سَعِيدُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ حَدَّثَنَا أَبُو غَسَّانَ مُحَمَّدُ بْنُ مُطَرِّفٍ قَالَ حَدَّثَنِي أَبُو حَازِمٍ عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ
أُنْزِلَتْ
{ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمْ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنْ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ }
وَلَمْ يَنْزِلْ
{ مِنْ الْفَجْرِ }
فَكَانَ رِجَالٌ إِذَا أَرَادُوا الصَّوْمَ رَبَطَ أَحَدُهُمْ فِي رِجْلِهِ الْخَيْطَ الْأَبْيَضَ وَالْخَيْطَ الْأَسْوَدَ وَلَمْ يَزَلْ يَأْكُلُ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُ رُؤْيَتُهُمَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ بَعْدُ
{ مِنْ الْفَجْرِ }
فَعَلِمُوا أَنَّهُ إِنَّمَا يَعْنِي اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ

Terjemahan/Arti Hadits:
Telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Abu Maryam telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Hazim dari bapaknya dari Sahal bin Sa’ad. Dan diriwayatkan pula, telah menceritakan kepada saya Sa’id bin Abu Maryam telah menceritakan kepada kami Abu Ghossan Muhammad bin Muthorrib berkata, telah menceritakan kepada saya Abu Hazim dari Sahal bin Sa’ad berkata:

Ketika turun ayat (“Dan makan minumlah kalian hingga terang bagi kalian benang putih dari benang hitam”) dan belum diturunkan ayat lanjutannya yaitu (“dari fajar”), ada diantara orang-orang apabila hendak shaum seseorang yang mengikat seutas benang putih dan benang hitam pada kakinya yang dia senantiasa meneruskan makannya hingga jelas terlihat perbedaan benang-benang itu. Maka Allah Ta’ala kemudian menurunkan ayat lanjutannya (“dari fajar”). Dari situ mereka mengetahui bahwa yang dimaksud (dengan benang hitam dan putih) adalah malam dan siang”.

Dalam hadits ini ada makna yang dalam dari kata-kata benang putih dan benang hitam ,yang dimaksud adalah malam dan siang.


Dua Fajar dan Cirinya.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas

وَعَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( اَلْفَجْرُ فَجْرَانِ: فَجْرٌ يُحَرِّمُ اَلطَّعَامَ وَتَحِلُّ فِيهِ اَلصَّلَاةُ وَفَجْرٌ تَحْرُمُ فِيهِ اَلصَّلَاةُ – أَيْ: صَلَاةُ اَلصُّبْحِ – وَيَحِلَّ فِيهِ اَلطَّعَامُ ) رَوَاهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ وَالْحَاكِمُ وَصَحَّحَاهُ

وَلِلْحَاكِمِ فِي حَدِيثِ جَابِرٍ رضي الله عنه نَحْوُهُ وَزَادَ فِي اَلَّذِي يُحَرِّمُ اَلطَّعَامَ: ( إِنَّهُ يَذْهَبُ مُسْتَطِيلاً فِي اَلْأُفُقِ ) وَفِي اَلْآخَرِ: (إِنَّهُ كَذَنَبِ اَلسِّرْحَان )

Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Fajar itu ada dua macam yaitu fajar yang diharamkan memakan makanan dan diperbolehkan melakukan shalat dan fajar yang diharamkan melakukan shalat yakni shalat Shubuh dan diperbolehkan makan makanan.” (al-Mustadrak al-Hakim no. 687).

Dalam hadits berikutnya lebih detail lagi

الْفَجْرُ فَجْرَانِ: فَأَمَّا الْفَجْرُ الَّذِي يَكُونُ كَذَنَبِ السَّرْحَانِ فَلَا تَحِلُّ الصَّلَاةُ فِيهِ وَلَا يَحْرُمُ الطَّعَامُ، وَأَمَّا الَّذِي يَذْهَبُ مُسْتَطِيلًا فِي الْأُفُقِ فَإِنَّهُ يُحِلُّ الصَّلَاةَ، وَيُحَرِّمُ الطَّعَامَ

“Fajar itu ada dua. Adapun fajar yang seperti ekor serigala maka tidak halal shalat (shubuh) dan tidak haram makan (sahur). Adapun yang memanjang ke samping di ufuk maka itu menghalalkan shalat (shubuh) dan mengharamkan makan (sahur)”- (al-Mustadrak al-Hakim no. 688).

Dalam hadits ini ditunjukkan bentuk fajar yang mengharamkan shalat Subuh dan menghalalkan makan sahur atau fajar yang pertama bentuknya seperti ekor serigala.
Sedangkan fajar yang kedua memanjang diufuk itulah yang merupakan tanda waktu shalat Subuh dan berakhirnya makan sahur atau sudah masuk waktu puasa. Menurut Al Albani hadits ini shahih.

Sunan Ad Daruquthni menyampaikan ciri yang lain

Abdul Qasim bil Mani’ menceritakan kepada kami Daud bin Rusyaid Abu Al Fadhl Al Khawarizmi menceritakan kepada kami ,Al Walid bin Muslim menceritakan kepada kami dari Al Walid bin Sulaiman, dia berkata, saya mendengar Rabi’ah bin Yazid berkata saya mendengar Abdurrahman bin Ayyasy sahabat Rasulullah SAW mengatakan, “Fajar itu ada dua. Adapun yang memanjang di langit, maka jangan menghalangi sahur dan tidak halal untuk shalat. Dan jika telah menyebar maka makanan itu telah menjadi haram, maka lakukanlah Shalat Subuh”. (Ad Daruquthni 2163)

Hadits ini sanadnya shahih menurut beliau. Jadi pengertian fajar memanjang di langit artinya memanjang ke atas. Yang dalam hadits lain disebutkan mirip ekor serigala (ke atas). Ini masih boleh sahur, belum boleh shalat Subuh.
Adapun yang menyebar artinya memanjang di ufuk. Itu sudah waktunya masuk Subuh.


Penamaan Fajar Kadzib dan Fajar Shodiq

Adapun istilah fajar kadzib dan fajar Shodiq ada dalam buku Ibnu Qudamah , Maktabah Qahirah.
Disini disebut :
” Ringkasnya, waktu Subuh masuk dengan terbitnya fajar yang kedua berdasarkan ijma ulama. Hadits-hadits tentang penentuan waktu shalat menunjukkan hal ini, yakni sinar putih yang melebar di ufuk, disebut fajar Shodiq, karena ia benar memberitakan tentang Subuh dan menjelaskannya kepada anda. Subuh itu adalah waktu yang menggabungkan sinar putih dengan semburat merah. Dari sini orang yang berkulit putih bercampur merah disebut asbah. Sedangkan fajar pertama yaitu sinar terang yang memanjang ke atas dan tidak melebar maka tidak ada sangkut pautnya dengan hukum Syar’i disebut Fajar Kadzib”.

Fajar yang menjadi ciri waktu Subuh dan mengakhiri waktu makan Sahur adalah Fajar Shodiq. Cirinya memanjang di Ufuk.
Adapun fajar yang masih dilarang untuk shalat Subuh namanya Fajar Kadzib atau Fajar yang bohong. Cirinya menjulang ke atas langit.
Mengapa disebut Fajar yang bohong?



BERSAMBUNG BAGIAN 2

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here