H.M Arief Rahman Lc MA

18 Sya’ban 1442 / 31 Maret 2021



Rasulullah SAW memperbanyak Puasa Sunah


Dari Abu Salamah r.a bahwa Aisyah r.a mengatakan kepadanya ‘Bahwa Rasulullah SAW tidak pernah berpuasa pada bulan bulan tertentu yang melebihi daripada puasa sunah beliau di bulan Sya’ban, beliau berpuasa penuh di bulan Sya’ban …” (HR Bukhori)

Dari Aisyah r.a berkata, ‘Aku tidak melihat beliau berpuasa pada bulan bulan tertentu lebih banyak dibandingkan dengan puasa beliau di bulan Sya’ban. Beliau berpuasa penuh di bulan Sya’ban, beliau berpuasa di bulan Sya’ban kecuali sedikit (HR Muslim)

Artinya kebanyakan hari-hari beliau di bulan Sya’ban ini dihabiskan untuk berpuasa. Meskipun kemudian ada hadits yang menjelaskan dilarang berpuasa setelah pertengahan bulan Sya’ban. Namun para ulama menafsirkan hadits tersebut melarang puasa bagi yang tidak terbiasa berpuasa. Tetapi yang sudah terbiasa puasa sunah diperbolehkan sampai akhir bulan Sya’ban.


Hadits Dhoif dan Maudhu tentang amalan di Bulan Sya’ban

Secara umum keutamaan bulan Sya’ban bisa kita lihat pada hadits yang pertama tadi dan dilihat dari perbuatan Rasulullah SAW ketika meningkatkan puasa sunahnya.
Tetapi kemudian ada yang banyak melebihi hadits pertama tadi tentang kemuliaan malam nisfu Sya’ban.
Akan kami ambil beberapa hadits saja.


Qiyamu lail malam nisfu Sya’ban dan Puasa keesokan harinya.

إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ مِنْ شَعْبَانَ فَقُوْمُوْا لَيْلَهَا وَصُوْمُوْا نَهَارَهَا فَإِنَّ اللهَ يَنْزِلُ فِيْهَا لِغُرُوْبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُوْلُ أَلاَ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِيْ فَأَغْفِرَ لَهُ أَلاَ مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلاَ مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلاَ كَذَا أَلاَ كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ

“Jika datang malam pertengahan bulan Sya’ban, maka lakukanlah qiyamul lail, dan berpuasalah di siang harinya, karena Allah turun ke langit dunia saat itu pada waktu matahari tenggelam, lalu Allah berfirman, ‘Adakah orang yang minta ampun kepada-Ku, maka Aku akan ampuni dia. Adakah orang yang meminta rezeki kepada-Ku, maka Aku akan memberi rezeki kepadanya. Adakah orang yang diuji, maka Aku akan selamatkan dia, dst…?’ (Allah berfirman tentang hal ini) sampai terbit fajar.” (HR. Ibnu Majah, 1/421; HR. al-Baihaqi dalam Su’abul Iman, 3/378)

Hadits di atas diriwayatkan dari jalur Ibnu Abi Sabrah, dari Ibrahim bin Muhammad, dari Mu’awiyah bin Abdillah bin Ja’far, dari ayahnya, dari Ali bin Abi Thalib, secara marfu’ (sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Hadits dengan redaksi di atas adalah hadits maudhu’ (palsu), karena perawi bernama Ibnu Abi Sabrah statusnya muttaham bil kadzib (tertuduh berdusta), sebagaimana keterangan Ibnu Hajar dalam At-Taqrib. Imam Ahmad dan gurunya (Ibnu Ma’in) berkomentar tentang Ibnu Abi Sabrah, “Dia adalah perawi yang memalsukan hadits.” (Silsilah Dha’ifah, no. 2132)

Dalam ilmu hadits, hadits itu terbagi dua, ada matan dan ada sanad. Matan itu isi hadits dan Sanad adalah periwayatan atau orang yang menyampaikan hadits.

Hadits nabi tidak hanya dilihat dari isinya, tetapi juga dilihat dari siapa yang membawa. Jika isinya baik tetapi yang membawa dicurigai baik secara keilmuan maupun integritas, akidahnya maka itu menjadi bahan pertimbangan. Ketika orangnya baik tetapi secara keilmuan kurang, maka peringkat hadits yang dia bawa boleh jadi akan turun derajatnya. Atau dia orangnya pintar, amanah tetapi secara akidah misalnya dia terindikasi misalnya Syiah ataupun yang lainnya, maka ini juga mempengaruhi kualitas hadits tersebut.

Contohnya terhadap hadits ini, Imam Ahmad dan Ibnu Ma’in mengatakan bahwasanya salah satu perawi hadits ini yaitu Ibnu Abi Sabrah tertuduh memalsukan hadits. Maka kemudian para ulama hati-hati dengan hadits ini. Karena khawatir ini termasuk ke dalam Kedustaan terhadap Rasulullah SAW. Tetapi dari hadits ini bisa diambil sebuah kesimpulan kenapa banyak orang yang melaksanakan qiyamulail dan keesokan harinya melaksanakan Puasa.

Kedua, hadis yang diriwayatkan A’isyah, bahwa beliau menuturkan:

فقدت النبي صلى الله عليه وسلم فخرجت فإذا هو بالبقيع رافعا رأسه إلى السماء فقال: “أكنت تخافين أن يحيف الله عليك ورسوله” فقلت يا رسول الله ظننت أنك أتيت بعض نسائك فقال: ” إن الله تبارك وتعالى ينزل ليلة النصف من شعبان إلى السماء الدنيا فيغفر لأكثر من عدد شعر غنم كلب

“Aku pernah kehilangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian aku keluar, ternyata beliau di Baqi, sambil menengadahkan wajah ke langit. Nabi bertanya; “Kamu khawatir Allah dan Rasul-Nya akan menipumu?” (maksudnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memberi jatah Aisyah). Aisyah mengatakan: Wahai Rasulullah, saya hanya menyangka anda mendatangi istri yang lain. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah turun ke langit dunia pada malam nisfu syaban, kemudian Dia mengampuni lebih dari jumlah bulu domba bani kalb.”

Hadis ini diriwayatkan At-Turmudzi, Ibn Majah dari jalur Hajjaj bin Arthah dari Yahya bin Abi Katsir dari Urwah bin Zubair dari Aisyah. At-Turmudzi menegaskan: “Saya pernah mendengar Imam Bukhari mendhaifkan hadis ini.” Lebih lanjut, imam Bukhari menerangkan: “Yahya tidak mendengar dari Urwah, sementara Hajaj tidak mendengar dari Yahya.” (Asna Al-Mathalib, 1/84).

Hadits ini dicurigai dari sisi Sanadnya. Antar perawi tidak ketemu dengan perawi lainnya. Seharusnya murid dengan guru bertemu. Ini misalnya dicurigai murid bukan mendapat dari gurunya tetapi dari kakek gurunya.
Ibnul Jauzi mengutip perkataan Ad-Daruquthni tentang hadis ini:
“Diriwayatkan dari berbagai jalur, dan sanadnya goncang, tidak kuat.” (Al-Ilal Al-Mutanahiyah, 3/556).

Akan tetapi hadis ini dishahihkan Al-Albani, karena kelemahan dalam hadis ini bukanlah kelemahan yang parah, sementara hadis ini memiliki banyak jalur, sehingga bisa terangkat menjadi shahih dan diterima. (Silsilah Ahadits Dhaifah, 3/138).

Dari sini kita bisa melihat kenapa terjadi perbedaan di kalangan masyarakat kita. Ada yang melakukan amalan tertentu di malam nisfu Sya’ban khususnya atau bahkan dari pertengahan Sya’ban sampai menjelang Ramadhan nanti. Sementara yang lain ada sebagian yang mengingkari. Semua berawal dari sumber datangnya informasi tentang keutamaan malam nisfu Sya’ban, yaitu dari hadits Rasulullah SAW.

Dari Hadits yang shahih dijelaskan Rasulullah meningkatkan amal perbuatan, salah satunya adalah puasa sunah yang biasa dilakukan Nabi. Maka kalau kita ingin mencontoh Rasulullah SAW di bulan Sya’ban maka yang paling utama kita lakukan adalah puasa sunah. Tidak ada yang lebih dari itu.

Dr Yusuf Qardawi mengatakan banyak kalangan kaum muslimin, mungkin juga kita, Naudzubillahi min dzalik.
Kita tidak mempunyai prioritas beramal. Sesuatu yang jelas dasarnya kita abaikan, tetapi kita berusaha melakukan yang dasarnya lemah secara giat dan lebih banyak.
Kalau kita ingin mencontoh yang dasarnya kuat, dalam bulan Sya’ban ini maka yang kita lakukan seharusnya adalah memperbanyak puasa sunah.


Amalan Para Ulama Tabi’in

Selain yang dilakukan oleh Rasulullah, kemudian ulama pada masa-masa selanjutnya memuliakan bulan ini dengan amalan yang mereka anggap paling baik.

1. Bulan Sya’ban Bulan Al Qur’an

وقال سلمة بن كهيل: كان يقال شهر شعبان شهر القراء

وكان حبيب بن أبي ثابت إذا دخل شعبان قال: هذا شهر القراء

وكان عمرو بن قيس الملائي إذا دخل شعبان أغلق حانوته وتفرغ لقراءة القرآن

Salamah bin Kahil berkata bahwa dahulu dikatakan bahwa Sya’ban adalah bulannya para pembaca Al Qur’an. Sementara Habib bin Abi Tsabit berkata, apabila memasuki bulan Sya’ban ia berkata : ‘Ini (Sya’ban) merupakan bulannya para pembaca Al Qur’an. Kemudian Amru bin Qais Al Mala’i apabila memasuki bulan Sya’ban maka ia menutup tokonya, dan fokus untuk membaca Al Qur’an (Latha’iful Ma’arif Fima Limawasimil Aami Minal Wadza’if, Ibnu Rajab Al Hambali hal 135)

Jadi yang pertama tadi Nabi menghormati bulan Sya’ban dengan puasa sunah, kemudian ulama berikutnya menghormati bulan Sya’ban dengan meningkatkan bacaan Al Qur’an.


2. Menyelesaikan Zakat Maal.

Dari Anas bin Malik , sebagaimana dinukil oleh Ibnu Hajar Al Atsqalani dalam Fathul Bari mengatakan :
“Adalah kaum muslimin apabila telah memasuki bulan Sya’ban, mereka membaca mushaf-mushaf mereka. Mereka juga mengeluarkan zakat-zakat mereka …” (Fathul Bari juz XIII hal 310-311- Kitab al-I’tisham bil Kitabi wa sunah)

Kenapa zakat mereka selesaikan di bulan Sya’ban? Karena ketika sudah masuk bulan Ramadhan sudah bukan zakat yang wajib lagi, tetapi sedekah yang lain yang ditingkatkan.

Artinya zakat maalnya sudah selesai sebelum Ramadhan. Kita tahu bahwa zakat Maal terkait dengan haul dan nishob. Kapan sudah masuk satu tahun dan kapan sudah mencapai nilai harta tersebut untuk dikeluarkan zakat.
Kalau memang hitungan haul dan nishob masuknya di bulan Rojab, di bulan Sya’ban ataupun di bulan Muharram ya dikeluarkan di bulan itu. Tidak harus menunggu di bulan Ramadhan.


3. Berdoa untuk bertemu bulan Ramadhan



كَانُوا يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمْ شَهْرَ رَمَضَانَ ثُمَّ يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَهُ مِنْهُمْ

Dari Al Mu’alla bin Fadhl berkata “Mereka berdo’a kepada Allah SWT sejak enam bulan sebelum Ramadhan meminta agar Allah SWT menyampaikan mereka ke bulan Ramadhan. Dan mereka juga berdo’a kepada Allah SWT sehingga enam bulan setelah Ramadhan meminta agar amalan mereka di bulan Ramadhan diterima oleh Allah SWT. (Al Wakil 1997 : 19)

Selama ini do’a yang sering kita dengar adalah

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

Allâhumma bârik lanâ fî rajaba wasya‘bâna waballighnâ ramadlânâ

“Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan bulan Sya’ban dan pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan.”

Diantara do’a yang dibaca salafuna shaleh adalah sebagai berikut :

وقال يحيى بن أبي كثير كان من دعائهم، اللَّهُمَّ سَلِّمْنِي إِللَى رَمَضَانَ، وَسَلِّمْ لِيْ رَمَضَانَ، وَتُسَلِّمُهُ منّي مُتَقَبَّلاً

Yahya bin Abi Katsir berkata, bahwa diantara doa yang mereka panjatkan adalah, “Ya Allah sampaikanlah aku ke bulan Ramadhan. Dan jadikanlah bulan Ramadhan sampai kepadaku. Dan jadikanlah kami berjumpa dengan selamat dengan bulan Ramadhan. (Latha’iful Ma’arif Ma’arif Fima Limawasimil Aami Minal Wadza’if, Ibnu Rajab Al-Hambali hal. 148)

Artinya ketika bulan Sya’ban do’a kita untuk bertemu Ramadhan menjadi semakin kuat. Meskipun tidak jarang orang yang sebelum Ramadhan telah meninggal dunia namun niat do’a bertemu Ramadhan in syaa Allah bernilai tersendiri di hadapan Allah SWT.

Kita masih dua pekan ke depan, kita tidak tahu apa yang akan Allah lakukan terhadap diri kita. Oleh karena itu senyampang kita masih diberi kesempatan jangan lupa disetiap do’a kita seusai shalat kita selipkan do’a :
“Ya Allah sampaikan kami di bulan Ramadhan dengan sehat wal afiat , bisa melaksanakan kewajiban puasa dan menghiasi Ramadhan dengan amal ibadah yang lain”.


Beberapa Kesimpulan yang bisa kita ambil

Bulan Sya’ban Bulan yang mulia

Rasulullah bersemangat untuk puasa sunah. Ini contoh Nabi yang jelas. Bulan Sya’ban Rasulullah melaksanakan puasa sunah lebih banyak dari pada bulan yang lainnya.

Puasa ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan akan datangnya bulan Ramadhan, membiasakan untuk puasa sehingga ketika di bulan Ramadhan sudah bukan sesuatu yang berat lagi di saat kita melakukan ibadah puasa.

Dengan adanya amalan Para Ulama, Para Tabi’in, orang-orang shaleh terdahulu bisa kita ambil kesimpulan bulan Sya’ban adalah untuk menghiasi diri dengan amal ibadah dan amal sholeh sebagaimana hadits tentang nisfu Sya’ban yang derajatnya hasan atau Shahih.

Tidak ada amalan khusus dan wajib di bulan ini.

Apapun yang kita lakukan, dari amal ibadah, amal sholeh apapun bentuknya adalah sebuah kebaikan. Semuanya dalam rangka persiapan diri kita menyambut Ramadhan sehingga ketika ada yang mengatakan ketika nisfu Sya’ban harus melakukan amalan ini itu dan sebagainya dengan jumlah tertentu tidak boleh dikurangi dan sebagainya, maka dia sudah mewajibkan sesuatu yang memang tidak diwajibkan oleh agama.

Maka kita tetap harus berhati-hati bahwa di saat kita beribadah yang kita lakukan adalah sesuatu yang memang ada dasarnya sehingga kita selamat di dalam melaksanakan ibadah.


Peringatan Nisfu Sya’ban

Berdasarkan kitab Lathaif al-Ma’arif (hal 137) yang ditulis Imam Ibnu Rajab salah satu ulama kondang dari madzhab al-Hanabilah, menyebutkan bahwa budaya menghidupkan malam Nisfu Sya’ban diawali salah seorang ulama dari kalangan tabi’in yang ahli ibadah.”Beliau adalah Khalid bin Ma’dan bin Abi Karb al-Kila’iy dari Syam,” kata dia.

Khalid wafat tahun 104 Hijrah. Namanya tertulis dalam daftar rijal ulama hadis. Beliau masuk dalam kategori tsiqah, dan terkenal sebagai seorang ahli ibadah yang wara’. Khalid lahir di Yaman, akan tetapi lama tinggal di Hamsh, Syam dan wafat di tempat yang sama.

Dalam kitabnya al-A’lam (2/299), Imam Al-Zirikli menukil cerita dari Ibnu Asakir. Dia (Ibnu Asakir) menyebutkan bahwa Khalid bin Ma’dan orang yang rajin sekali bertasbih. Saat sedang sekarat pun, tangannya terlihat bergerak seperti sedang bertasbih.

Dari kebiasaan yang dilakukan oleh Khalid bin Ma’dan, lalu diikuti oleh ulama syam lainnya; Makhul, juga Luqman bin ‘Amir. Kebiasaan itu pun diikuti oleh para masyarakat. Bukan hanya sekitaran syam, akan tetapi hampir seluruh pelosok negeri Islam, melakukan kebiasaan menghidupkan malam nisfu Sya’ban ini.

Jadi awalnya ibadah ini adalah ibadah yang privat, sendiri-sendiri dilakukan. Mungkin karena melihat tingkat kesadaran masyarakat berkurang kemudian diajak untuk bersama-sama sampai akhirnya kemudian menjadi sebuah kebiasaan budaya yang dilakukan pada malam nisfu Sya’ban.

Kurang lebih sama dengan shalat Tarawih yang dulu awalnya dilaksanakan sendiri-sendiri meskipun dilakukan di masjid. Kemudian disatukan sampai sekarang.
Bahkan sampai ada yang menganggap janggal kalau ada yang shalat Tarawih sendirian.

Semua baik dilakukan, namun yang penting adalah adanya prioritas melakukan ibadah dengan dasar yang kuat.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here