H.M Arief Rahman Lc MA

18 Sya’ban 1442 / 31 Maret 2021




Kalau kita berbicara tentang bulan Sya’ban sebenarnya tidak hanya terkait dengan nisfu Sya’ban, tidak hanya terkait dengan pertengahan bulan Sya’ban. Keutamaan bulan Sya’ban tidak hanya pada pertengahan bulannya, tetapi memang bulan Sya’ban ini, satu bulan penuh begitu istimewa dihadapan Rasulullah SAW. Beliau begitu bersemangat begitu masuk bulan ini.

Ini kami sampaikan beberapa sabda Rasulullah SAW terkait dengan bulan Sya’ban :
Sebenarnya bulan Sya’ban ini :
– ada yang terkait dengan bulannya, satu bulan penuh.
– terkait dengan pertengahan bulan atau nisfu Sya’ban, atau Lailatul nisfu Sya’ban (malam pertengahan bulan Sya’ban)
– Akhir bulan Sya’ban.
Jadi ada beberapa hadits terkait dengan bulan Sya’ban. Tentang akhir bulan Sya’ban ketika akan memasuki bulan Ramadhan. Yaitu terkait dengan tidak bolehnya berpuasa di hari terakhir bulan Sya’ban. (Meskipun ada yang membolehkan bagi mereka yang sudah terbiasa berpuasa).


Keutamaan Bulan Sya’ban

Ada yang mengatakan bulan Sya’ban punya keutamaan, ada yang mengatakan tidak punya keutamaan, sebagaimana dengan bulan-bulan yang lain.

Dari Usamah bin Zaid, beliau bertanya:

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

“Wahai Rasulullah, saya belum pernah melihat Anda berpuasa dalam satu bulan sebagaimana Anda berpuasa di bulan Sya’ban. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Ini adalah bulan yang sering dilalaikan banyak orang, bulan antara Rajab dan Ramadhan. Ini adalah bulan dimana amal-amal diangkat menuju Rab semesta alam. Dan saya ingin ketika amal saya diangkat, saya dalam kondisi berpuasa’.” (H.R. An Nasa’i, Ahmad, dan sanad-nya di-hasan-kan Syaikh Al Albani)

Hadits ini menjadi dasar bahwasanya bulan Sya’ban ini bulan yang mempunyai tempat tersendiri pada Rasulullah SAW. Hadits ini menjelaskan Rasulullah SAW melaksanakan puasa di bulan Sya’ban hampir satu bulan penuh.

Kita tahu bahwa di bulan Ramadhan diwajibkan puasa satu bulan penuh. Kemudian bulan Syawal ada puasa 6 hari, setelah itu ada puasa sunah Senin Kamis, ada puasa yang dikatakan oleh Rasulullah baik, tetapi beliau tidak melaksanakan seperti puasa Dawud, dua hari sekali. Kemudian ada puasa Asyura dan lain sebagainya.

Tetapi ketika bulan Sya’ban ini Rasulullah menambah puasa sunahnya. Bahkan dalam riwayat dikatakan seakan- akan satu bulan penuh berpuasa, atau sebagian besar dihari-hari bulan Sya’ban ini Rasulullah berpuasa.

Ketika beliau ditanya kenapa beliau banyak berpuasa, ada asbabul wurujnya bahwa pada masa lalu bulan Sya’ban ini kurang diperhatikan. Karena terletak diantara dua bulan mulia, yaitu bulan Rojab yang termasuk bulan haram dan bulan Ramadhan.

Kalau bulan Rojab, bulan haram ini memang dimuliakan, tidak hanya pada masa islam. Sebelum islampun mereka memperhatikan bulan-bulan haram. Mereka tidak berperang, mereka tidak melakukan kejahatan dan seterusnya. Jadi bulan Rojab memang luar biasa. Kemudian bulan Sya’ban, karena merasa tidak ada sesuatu yang istimewa mereka melakukan banyak hal yang tidak baik. Kemudian masuk bulan Ramadhan.

Padahal Rasulullah menyampaikan bahwa bulan Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal perbuatan manusia untuk dilaporkan pada Allah SWT.
Yang menarik beliau mengatakan :
“Aku ingin ketika amal perbuatanku diangkat dan dilaporkan kepada Allah, aku dalam keadaan berpuasa.

Kita tahu orang yang berpuasa dalam kondisi rohani yang luar biasa. Bisa kita rasakan disaat kita puasa, apakah puasa sunah atau puasa Ramadhan bisa dikatakan ibadah kita otomatis naik. Selain puasa, shalatnya, membaca Al Qur’annya, kehati- hatiannya terhadap perbuatan kita baik itu lisan atau perbuatan, betul-betul kita jaga dalam keadaan puasa.

Hadits pertama di atas yang menjelaskan bulan Sya’ban mempunyai tempat tersendiri di hadapan Rasulullah SAW. Sampai kemudian beliau melakukan puasa sunah di sebagian besar hari-hari di bulan Sya’ban ini.


Laporan Perbuatan Pekanan

Kalau bulan Sya’ban adalah waktu laporan Perbuatan Tahunan, kemudian ada laporan Perbuatan Pekanan. Laporan Pekanan ini dua kali. Jadi amal perbuatan kita selama sepekan dilaporkan kepada Allah dua kali, yaitu pada hari Senin dan Kamis. Maka kemudian Rasulullah juga mencontohkan Puasa Senin dan Kamis.

Rasulullah juga bersabda:

تُعرَضُ أعمالُ النَّاسِ في كلِّ جمعةٍ مرَّتينِ: يومَ الاثنينِ ويومَ الخميسِ فيُغفَرُ لكلِّ مؤمنٍ إلَّا عبدًا بيْنَه وبيْنَ أخيه شحناءُ فيُقالُ: اترُكوا هذينِ حتَّى يَفِيئَا

“Amal-amal manusia diperiksa di hadapan Allah dalam setiap pekan dua kali, yaitu pada hari Senin dan Kamis. Maka semua hamba yang beriman terampuni dosanya, kecuali seorang hamba yang antara dia dan saudaranya terjadi permusuhan dengan sesama , lalu dikatakan : ‘Tinggalkan mereka sampai keduanya berdamai’ (HR. Shahih Muslim).

Hadits ini kemudian ada yang dikaitkan dengan nisfu Sya’ban.
Kalau hadits yang pertama mengatakan bahwa setiap tahun, pada bulan Sya’ban amal perbuatan manusia diangkat dan dilaporkan kepada Allah, hadits kedua ini menyatakan tiap pekan pada hari Senin dan Kamis dilaporkan kepada Allah, maka kemudian Rasulullah berpuasa.
Jadi ada korelasinya, Rasulullah ingin ketika amal perbuatannya disampaikan kepada Allah dalam keadaan yang terbaik yaitu puasa.

Maka ketika itu kesalahan yang dilakukan akan diampuni oleh Allah, kecuali hamba yang mempunyai permusuhan, atau ada hubungan sosial yang tidak baik (“jothakan”) atau melakukan perbuatan yang menjadikan orang bermusuhan dan semacamnya.

Hadits ketiga ada hubungannya dengan nisfu Sya’ban, ada hubungan dengan hadits yang kedua.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

يَطَّلِعُ اللَّهُ إِلَى جَمِيعِ خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ

“Allah mendatangi seluruh makhluk- Nya pada malam Nishfu Sya’ban. Dia pun mengampuni seluruh makhluk kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.” (HR Ibnu Majah dan At Thobroni dinilai shahih oleh Al Albani).

Artinya pada malam nisfu Sya’ban secara umum perbuatan manusia diangkat kepada Allah. Bagi yang mempunyai kesalahan dosanya diampuni, kecuali dua hal, yaitu orang yang musyrik, melakukan perbuatan syirik yang kadang-kadang masalah keimanan diantara kita tidak sedikit yang kurang mempunyai perhatian.

Yang kedua orang yang bermusuhan. Orang yang sedang konflik satu dengan yang lain, orang yang masih ada didalam hatinya kedengkian dan kebencian pada orang lain, orang yang menjadikan orang bermusuhan dan semacamnya. Maka mulai bulan Sya’ban kemarin banyak beredar di media sosial, orang yang saling meminta maaf terkait dengan malam nisfu Sya’ban :
“Terkait nisfu Sya’ban kami mohon maaf, semoga Allah mengampuni …”

Meskipun seperti itu tidak ada anjuran secara umum hanya saja mengacu hadits ketiga ini dengan harapan pada waktu masuk nisfu Sya’ban sudah dalam kondisi yang baik.
Oleh karena itu sebagian ulama kemudian mengambil dari hadits ini suatu amalan atau perbuatan yang dianjurkan pada malam nisfu Sya’ban adalah memperbanyak istighfar. Karena Allah akan mengampuni seluruh makhluk-makhluknya kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.

Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Hadits yang menjelaskan keutamaan malam nisfu Sya’ban ada beberapa. Para ulama berselisih pendapat mengenai statusnya. Kebanyakan ulama mendhoifkan hadits-hadits tersebut. Ibnu Hibban menshahihkan sebagian hadits tersebut dan beliau masukkan dalam kitab shahihnya (Lathaif Al-Ma’arif hal 245).

Hadits tentang nisfu Sya’ban memang banyak sekali. Namun kebanyakan dengan kategori dhoif (lemah) bahkan Maudhu (palsu). Hadits di atas termasuk salah satu hadits yang kuat yang paling baik diantara sekian banyak hadits nisfu Sya’ban.
Syeh Nasirudin Al Albani mengatakan hadits di atas adalah hadits shahih. Meskipun sebagian ulama tidak sepakat, ada yang tetap mendhoifkan tetapi sebagian kecil masih mengatakan hadits ini Hasan atau Shahih.


Sya’ban Untuk Ramadhan

Keutamaan Bulan Sya’ban tidak bisa dilepaskan dengan bulan berikutnya yaitu Ramadhan. Mempunyai keterikatan yang sangat kuat. Bahkan Rasulullah juga menyampaikan dalam sabdanya kenapa Sya’ban mempunyai kaitan dengan bulan Ramadhan.

– Kebiasaan Rasulullah SAW
– Yang dilakukan ulama terdahulu
– Kebiasaan Sekarang.

Satu hal yang tidak bisa disangkal bahwa dalam hadits yang pertama Rasulullah mempunyai kebiasaan begitu berada di bulan Sya’ban, salah satu ibadah yang meningkat adalah puasa sunah.

Apa yang dilakukan Sahabat? Apa yang dilakukan Tabi’in , Tabi’ut- tabi’in?
Ada beberapa ulama yang kemudian melakukan amal sholeh atau ibadah tertentu di bulan Sya’ban ini. Kemudian apa yang terjadi pada kebiasaan orang-orang sekarang?


Puasa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW di bulan Sya’ban itu untuk mengagungkan Ramadhan.

Maka kemudian sebagian ulama yang mensyarah hadits ini mengatakan bahwa bulan Sya’ban adalah sebagai bulan persiapan untuk masuk bulan Ramadhan. Jangan sampai masuk bulan Ramadhan kaget, meskipun sudah diumumkan.
Masuk bulan Ramadhan khawatir tak bisa ini-itu maka bulan Sya’ban ini sebagai pemanasan dan sebagai bentuk penghormatan untuk memasuki bulan Ramadhan.

Ilustrasi sederhana, kalau ada orang penting yang akan kita temui, kita menemuinya tidak mendadak, tidak biasa-biasa saja, pasti banyak persiapan. Harus seperti ini, seperti itu, pakaiannya begini, protokolnya begini dan seterusnya. Ada sesuatu yang dipersiapkan untuk bertemu dengan tamu itu. Karena seperti sering kita dengar bahwa Bulan Ramadhan adalah Tamu Agung. Maka cara menghormatinya, persiapan untuk bertemu dengan Ramadhanpun berbeda.

Bahkan diantara pergantian bulan yang oleh Rasulullah disampaikan kepada Sahabat itu Ramadhan. Ada sebuah hadits yang populer, ketika masuk bulan Ramadhan.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ketika menyambut Ramadhan:

اَتَاكُمْ رَمَضَانُ سَيِّدُ الشُّهُوْرِ فَمَرْحَبًا بِهِ وَاَهْلاً جَاءَ شَهْرُ الصِّيَامِ بِالبَرَكَاتِ فَاكْرِمْ بِهِ مِنْ رَائِرٍ هُوَ اَتٍ

“Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, penghulu segala bulan. Maka selamat datanglah kepadanya. Telah datang bulan shaum membawa segala rupa keberkahan. Maka alangkah mulianya tamu yang datang itu”. (HR Ath-Thabrani).

Dalam hadits At Tirmidzi Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ أَنَسٍ قَالَ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الصَّوْمِ أَفْضَلُ بَعْدَ رَمَضَانَ فَقَالَ شَعْبَانُ لِتَعْظِيمِ رَمَضَانَ قِيلَ فَأَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ قَالَ صَدَقَةٌ فِي رَمَضَانَ

dari Anas r.a dia berkata, Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa yang paling utama setelah Ramadlan, Beliau menjawab: “Bulan Sya’ban untuk memuliakan Ramadlan, ” Beliau ditanya lagi, lalu Shadaqah apa yang paling utama? Beliau menjawab: “Shadaqah di bulan Ramadlan.” (HR Tirmidzi)

Hadits ini juga menjelaskan kenapa semangat umat islam untuk bersedekah di bulan Ramadhan juga meningkat. Jadi semuanya meningkat. Shalat meningkat, puasa karena wajib jadi meningkat. Puasa Ramadhan juga berbeda dengan puasa di bulan-bulan yang lain. Membaca Al Qur’an kita juga meningkat. Menjaga lisan kita meningkat. Menjaga hati kita juga meningkat. Semuanya lahir batin mengalami peningkatan yang luar biasa.

Maka khusus di bulan Sya’ban ini Rasulullah memperbanyak puasa sunah, karena sebagai pendahuluan untuk menghormati datangnya bulan Ramadhan. Tidak hanya sekedar menghias masjid, menghias rumah kita dengan kata-kata : “Marhaban ya Ramadhan, ahlan wa sahlan ya Ramadhan”, tetapi ada yang lain yang kita persiapkan datangnya bulan itu secara pribadi kaitannya dengan ibadah, yaitu dengan meningkatnya amal ibadah bulan Ramadhan.


BERSAMBUNG BAGIAN 2


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here