Dr.dr.M. Masrifan Djamil, MMR. MPH

14 Sya’ban 1442 / 27 Maret 2021



Atasi Halangan Kita

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلْ اِنْ كَا نَ اٰبَآ ؤُكُمْ وَاَ بْنَآ ؤُكُمْ وَاِ خْوَا نُكُمْ وَاَ زْوَا جُكُمْ وَعَشِيْرَتُكُمْ وَ اَمْوَا لُ ٱِ قْتَرَفْتُمُوْهَا وَتِجَا رَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَا دَهَا وَ مَسٰكِنُ تَرْضَوْنَهَاۤ اَحَبَّ اِلَيْكُمْ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَ جِهَا دٍ فِيْ سَبِيْلِهٖ فَتَرَ بَّصُوْا حَتّٰى يَأْتِيَ اللّٰهُ بِاَ مْرِهٖ ۗ وَا للّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِيْنَ

“Katakanlah, “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. At-Taubah 9: Ayat 24)

Halangannya ada 8 :
– Orang tua
– Anak. Karena kadang-kadang memang bisa memalingkan dari Allah.
– Saudara-saudara
– Isteri-isteri
– Keluarga

– Harta kekayaan, maunya menambah terus.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ كَانَ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لاَبْتَغَى ثَالِثًا ، وَلاَ يَمْلأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ
“Seandainya manusia diberi dua lembah berisi harta, tentu ia masih menginginkan lembah yang ketiga. Yang bisa memenuhi dalam perut manusia hanyalah tanah. Allah tentu akan menerima taubat bagi siapa saja yang ingin bertaubat.” (HR. Bukhari no. 6436)

Jangan sampai kita begitu. Kita tekan nafsu kita.

– Perdagangan yang kita tidak mau rugi.

Orang selalu ingin jual mahal dan beli dengan murah. Ini tidak boleh, Rasulullah mengajarkan kalau tawar menawar harus dipermudah. Kalau urusan hutang pihutang, menagih hutang jangan memakai debt collector yang suka mengancam. Hal ini tidak baik. Kalau bisa meringankan yang hutang malah lebih baik karena menjadi shodaqoh.

– Rumah yang disenangi

Rumah sudah baik direhab terus, tegelnya diganti, lampu-lampu yang bagus-bagus supaya senang di rumah. Tapi bisa menyebabkan berpaling dari Allah, berpaling dari jihad fi sabilillah.
Jihad adalah bersungguh-sungguh. Kalau suasana perang, jihad adalah perang. Tapi dalam suasana aman seperti ini jihad adalah bersungguh- sungguh.

Yang siswa belajar sungguh-sungguh agar menjadi yang terbaik. Yang bekerja jangan sembarangan. Orang islam harusnya menunjukkan kerja yang bagus. Karena diperintahkan oleh Allah untuk Fastabiqul Choirot, berlomba-lomba untuk kebaikan.
Ini semua membentuknya ada di Qolbu. Kita harus melatihnya agar qolbu seperti itu.

Jangan sampai Allah memberi sindiran, atau memberi teguran atau memberi azab : Dibalik buminya seperti di Sulawesi itu, Naudzubillahi min dzalik.

Periksa diri kita kenapa begini?
Dulu saya diajarkan ustadz saya : “Periksa sejak kamu ingat dirimu, apa dosa-dosamu.? Mohonkan ampun !”.
Kemudian beliau membimbing jamaah diakhir sesi untuk mengingat dosa lalu. Tidak ada syariatnya tapi ini usaha untuk taubat, jangan sampai merasa benar sendiri akhirnya ‘ngeyelan’, akhirnya menyakiti hati orang lain.

Kita harus lunak dan introspeksi apa saya yang salah? Dan jangan enggan minta maaf. Saya menemui di suatu negeri ada orang minta maaf lewat telpun sampai tiga kali saya hitung karena saya ada didepannya. Mengakui kesalahan itu penting.

Di Indonesia ini, katanya menurut WA ada orang yang senangnya tidak mengakui kesalahannya. Menghindar- menghindar terus, dicari polisi tidak ketemu-ketemu sampai sekarang. Namanya ada Masiku-nya kalau tidak salah.

Saya menonton film kejuaraan golf di Amerika Serikat , tahun 30 an ada juara golf yang mengaku salah. Belum saatnya dia memukul bola golf tapi dia menyenggol. Dia langsung lapor sama wasit bahwa dia kena dis satu kali. Padahal tak ada yang melihat. Itu menjadi berita nasional di Amerika , diapresiasi luar biasa seorang juara berani mengaku salah.

Halangan-halangan untuk beribadah ini kalau kita break down tambah banyak karena kita campur dengan yang lain, tidak hanya At Taubah ayat 24. Halangan ini yang membuat kita tidak sabar melaksanakan ketaatan kepada Allah :

– Nafsu (Al Hawa)
– Keluarga
– Pekerjaan
– Merasa sudah benar
– Riya’
– Syak

Nafsu tadi sudah kita bahas, nafsu ditekan tetapi tidak dihilangkan karena kita harus punya nafsu untuk makan. Kalau tidak punya nafsu makan bisa mati. Tidak punya nafsu untuk melanjutkan keturunan tidak dibenarkan oleh Allah. Kita boleh menikah walau hanya untuk mengendalikan nafsu, dari pada berzina.

Di Jawa ada satu pengertian ibu-ibu yang aneh tentang suaminya : Pokoknya di depan saya dia harus sholeh tidak main perempuan, tapi kalau diluar rumah, tidak kelihatan, terserah dia. Itu adalah isteri yang menjerumuskan suami.

Keluarga, Pekerjaan dapat mengganggu tadi sudah dijelaskan ada 8. Harus kita cermati jangan sampai mengganggu.

Merasa sudah benar, ‘ngeyel’.
Kepada saudara ngeyel. Kepada isteri/suami ngeyel. Kepada anak-anak ngeyel padahal sudah jelas salahnya. Harusnya santai mengacu kesepakatan terakhir bagaimana.

Ibarat Undang-undang sekarang yang dipakai bukan UUD 1945 lagi, tetapi UUD yang sudah diamandemen.
Demikian juga dalam rumah tangga.
Jangan pokoknya begini. Kembali ke kesepakatan yang terakhir bagaimana. Bicarakan dengan santai, dengan akhlakul karimah nanti jadi enak tidak menyakiti hati orang lain.

Kalau kita menyakiti hati orang lain, pasti disakiti. Baliknya katanya lebih berat. Dulu saya punya sahabat yang Katholik , dia percaya hidup ini memantul seperti kaca.
Dia bilang : “Kalau kita berbuat baik kembali ke kita”.

Padahal kita dalam agama islam malah lebih lengkap ajarannya.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنْ اَحْسَنْتُمْ اَحْسَنْتُمْ لِاَ نْفُسِكُمْ ۗ وَاِ نْ اَسَأْتُمْ فَلَهَا ۗ 

“Jika kamu berbuat baik berarti kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka kerugian kejahatan itu untuk dirimu sendiri.” (QS. Al-Isra’ 17: Ayat 7)

Maka orang yang memaki orang, dia akan dimaki orang. Saya pernah mendengar khabar ada seorang Pejabat Tinggi ketika pergi haji ditempeleng orang dan ditinggal pergi. Akhirnya beliau menyadari, barangkali itu Malaikat ? Karena dulu beliau pernah menempeleng anak buah.
Ini adalah Pejabat yang dadanya dimudahkan menerima islam lalu menyadari kesalahannya.

Orang Riya’

Termasuk riya bila dia shalat di masjid dibaguskan tapi shalat di rumah kenceng. Kata Rasulullah shalatnya seperti ayam mematuk makanan. Seharusnya kalau shalat di rumah lama. Ayat-ayat yang dibaca yang panjang. Kalau shalat di masjid ayat pendek karena kalau panjang malah Rasulullah tidak memperbolehkan.

Kita mungkin pernah mendengar Kisah Mu’adz bin Jabal yang pernah ditegur oleh Rasulullah SAW karena mengimami shalat isya dia membaca Surat Al Baqarah sehingga jama’ahnya ada yang memisahkan diri.


Ikhtiar Mengatasi Hambatan

Kita harus tahu diri mana yang menghambat mari kita atasi. Imam Ghozali mengatakan bahwa untuk mengatasi hambatan ada dua hal yang perlu dilakukan : Riyadhoh dan Mujahadah

Riyadhoh :

Orang Jawa menyebut Riyadhoh sebagai Riyalah.
Riyadhoh adalah latihan ruhaniyah dengan bertujuan agar jiwa menjadi bersih dengan melawan beberapa keinginan badan atau tubuh —> mengurangi kebutuhan fisik.
Keinginan masih ada tetapi dikurangi. Makannya dikurangi —> puasa
Tidurnya dikurangi —> bangun malam untuk shalat malam.
Kalau tidak bisa bangun malam, minimal jangan sampai shalat subuhnya terlewatkan.
Kalau terlambatnya sekali dua kali karena capai tidak apa. Tetapi kalau terus menerus ini penyakit ‘ndableg’.


Mujahadah :

Harus bisa melawan keinginan dan ambisi agar jiwa menjadi suci yang dengan mudah menerima hal-hal yang bersifat suci. Dianjurkan semuanya disucikan, banyak wudhu, selalu menjaga wudhu, bersih hatinya, bersih ucapannya. Hatinya terhubung kepada Allah —> selalu berdzikir.

Dalam suatu pengajian saya pernah mengamati senior saya yang lebih faham agama dari pada saya, setiap geraknya selalu mengucap Alhamdulillah. Waktu itu saya masih muda masih belum faham kenapa setiap bergerak mengucap Alhamdulillah?

Setelah banyak mengaji, banyak mendapat taushiyah, banyak belajar, banyak membaca buku , banyak membaca kitab, selalu bergaul dan berkumpul dengan orang sholeh yang memang penting sekali akhirnya faham.

Kita ucapkan alhamdulillah tapi tidak usah ekspresif tidak demonstratif, tidak usah keras- keras sampai satu ruangan dengar semua , nanti malah membuat heboh. Jadi ucapkan dengan berbisik-bisik saja sudah bisa.


Perintah Sabar Dalam Taat Kepada Allah

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

رَّبُّ السَّمٰوٰتِ وَ الْاَ رْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَا عْبُدْهُ وَا صْطَبِرْ لِـعِبَا دَتِهٖ ۗ هَلْ تَعْلَمُ لَهٗ سَمِيًّا

“Dialah Tuhan yang menguasai langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah engkau mengetahui ada sesuatu yang sama dengan-Nya?” (QS. Maryam 19: Ayat 65)

Kita sabar itu terus menerus. Kalau sudah mencapai titik yang bagus pertahankan. Maka itu ahabul akmali (amal yang dicintai Allah) adalah yang terus menerus walaupun sedikit.
Itu landasan istiqomah, sedikit tapi terus. Bukan langsung banyak tapi habis.


Memerintah Shalat Kepada Anak

Untuk memerintah anggota keluarga, Rasulullah mengajari kita mulai mengajak anak dibimbing shalat umur 7 tahun. Kalau sudah 10 tahun tidak shalat boleh dipukul. Tapi pukulnya pukul sayang.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَأْمُرْ اَهْلَكَ بِا لصَّلٰوةِ وَا صْطَبِرْ عَلَيْهَا ۗ لَا نَسْــئَلُكَ رِزْقًا ۗ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَا لْعَا قِبَةُ لِلتَّقْوٰى

“Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan sholat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat yang baik di akhirat adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Ta-Ha 20: Ayat 132)

Keluarga kita harus dibimbing untuk shalat. Ayat ini redaksinya pakai fiil amar. Kita harus sabar memerintah. Tidak boleh memerintah hanya sekali dua terus meninggalkan. Kalau bisa terus dibimbing.

Pengalaman saya dulu ayah saya mengajari saya bisa bangun Subuh beliau membangunkan saya mulai SMP sebelum berangkat ke masjid beliau membangunkan saya dulu. Saya diminta menyusul bapak dan itu konsisten.

Maa syaa Allah , luar biasa. Mudah-mudahan Bapak dan ibu saya mendapatkan rahmat dari Allah. Bapak dan ibu juga harus mendoakan orang tua, minimal 5 kali sehari. Kalau Jumat ditambah doanya biar panjang. Memohonkan ampun seluruh keluarganya dan sebagainya karena beliau dulu yang “washthobir ‘alaihaa” , memerintah Shalat.
Jangan khawatir, nanti Allah yang akan memberi rezeki.


Motivasi Agar Sabar Dalam Ketaatan

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمَا هٰذِهِ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَاۤ اِلَّا لَهْوٌ وَّلَعِبٌ ۗ وَاِ نَّ الدَّا رَ الْاٰ خِرَةَ لَهِيَ الْحَـيَوَا نُ ۘ لَوْ كَا نُوْا يَعْلَمُوْنَ

“Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. Al-‘Ankabut 29: Ayat 64)

Di dunia ini hanya sementara, jadi kalau kita ada masalah santai saja.
Pasti ada penyelesaian, jangan mudah putus asa. Nanti menjadi kacau, akan lebih baik meminta kepada Allah agar kita menjadi baik dan diindahkan dengan berdo’a :

Allâhumma habbib ilaynal imân, wa zayyinhu fî qulûbinâ, wa karrih ilaynal kufra wal fusûqa wal ‘ishyân, waj’al-nâ minar râsyidîn.

Lebih baik kita hafalkan do’a yang diajarkan Rasulullah ini. Kalau ada do’a yang diajarkan ulama untuk tambahan saja, boleh diikuti kalau redaksinya bagus. Tapi jangan diklaim bahwa itu do’a dari Rasulullah nanti kena pasal Berdusta.

Rasulullah SAW bersabda

يَقُولُ إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

“Sesungguhnya berdusta atasku tidak seperti berdusta atas orang yang lain. Barangsiapa berdusta atasku dengan sengaja, maka hendaklah dia mengambil tempat tinggalnya di neraka”. [HR. Al-Bukhâri]

Bila kita berdusta, artinya menyiapkan tempat di neraka. Naudzubillahi min dzalik. Betapa panasnya.
Matahari saja berapa panasnya? Jutaan derajad. Tetapi panas yang sampai ke kita dibuat bagus oleh Allah. Hanya ‘semlenget’ kalau di daerah Tropis. Padahal neraka jauh lebih panas. Maka kita harus selalu bertasbih kepada Allah.

Kampung akhirat itulah sesungguhnya kehidupan. Untuk mencapainya jalannya panjang sekali dan nanti disana selama-lamanya.
Tapi mereka banyak yang tidak percaya bahkan ada yang mencibir :
“Sok tau, meramalkan hal yang jelas”.
Maa syaa Allah, mudah-mudahan mereka mendapat petunjuk.

Allah telah memberi motivasi kepada kita :

 فَلَوْلَا فَضْلُ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهٗ لَـكُنْتُمْ مِّنَ الْخٰسِرِيْنَ

“Maka sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, pasti kamu termasuk orang yang rugi.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 64)

Kuncinya adalah kita memohon pertolongan kepada Allah karena Allahlah yang mempunyai karunia dan rahmat.

Hadis dari Jabir bin Abdillah r.a disebutkan sabda Nabi SAW bersabda :

لَا يُدْخِلُ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ، وَلَا يُجِيرُهُ مِنَ النَّارِ، وَلَا أَنَا إِلَّا بِرَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ

“Tidak ada amalan seorangpun yang bisa memasukkannya ke dalam surga, dan menyelematkannya dari neraka. Tidak juga denganku, kecuali dengan rahmat dari Allah” (HR. Muslim).

Kita diajari bahwa bukan amal kita yang memasukkan ke Surga tetapi menjadi basic penilaian karena ada hisabnya. Jangan terus yakin dengan amal kita sudah masuk Surga, tapi Rahmat Allah yang memasukkan kita ke Surga.

Maka itu mari kita gabung usaha Riyadhoh, usaha Mujahadah dengan amal yang sungguh-sungguh makin hari makin baik, tetapi juga memohon karunia Allah. Kalau ingin mendapat Rahmat Allah maka kita harus taat pada Allah dan RasulNya, bukan taat pada yang lain.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاَ طِيْعُوا اللّٰهَ وَا لرَّسُوْلَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ 

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul Muhammad , agar kamu diberi rahmat.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 132)

Kalau ada ketaatan yang bersamaan antara ketaatan pada Rasulullah dan pada yang lain meskipun ulama, maka kita pilih taat Rasulullah.

Misalnya waktu antara adzan dan iqomah adalah waktu dimana do’a akan diterima, berarti kita berdo’a terus. Bahkan ada ulama yang menyarankan agar shalat. Karena dalam shalat juga ada do’a dan panjang. Bisa dilakukan Shalat syukrul wudhu, Shalat Tahiyat Masjid dan Shalat Qobliyah. Sudah mendapat 3 set dua raka’at- dua raka’at.

Kalau disitu ada speaker masjid yang keras dan ada puji-pujian berarti bertentangan dengan sunah di atas. Maka kalau dua hal bertentangan disandingkan, yang satu saran orang yang lain perintah Rasulullah tentu kita harus memilih perintah Rasulullah. Karena kita diperintah taat kepada Allah dan taat kepada Rasulullah.
Kalau ada yang ngeyel ditinggal saja.


Strategi Sabar Dalam Ibadah

Memang ada perintahnya untuk sabar.
Menurut hikmah yang saya petik dari berbagai macam kitab, buku-buku , ustadz acuannya adalah Surat Ali Imran ayat 31:

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَا تَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَـكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَا للّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

“Katakanlah Muhammad , “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 31)

Membuat diri kita cinta kepada Allah efeknya cinta mengamalkan ibadah, mendengar ayat suci, taushiyah.
Misalnya mendengarkan Murotal Al Qur’an dibanding Musik, mana yang membuat kita lebih nyaman dan lebih merasa senang? Apakah musiknya? Ataukah murotal? Jawaban ini nanti akan menyebabkan kita tahu sampai dimana kita.

Mendengarkan taushiyah dengan mendengarkan yang lain, mana yang lebih dipilih ? Nanti qolbu kita sendiri yang akan menjawabnya.

Mudah-mudahan di usia senja kita di banyak Grup WA yang ada dapat memilihnya dengan baik. Ada Grup WA yang banyak kajian dan ada Grup WA yang banyak guyonan – pedomannya kembali kesini.

Motivasinya adalah Allah sendiri yang memberi motivasi langsung.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ اشْتَرٰى مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ اَنْفُسَهُمْ وَاَ مْوَا لَهُمْ بِاَ نَّ لَهُمُ الْجَــنَّةَ ۗ 

“Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka..” (QS. At-Taubah 9: Ayat 111)

Syaratnya pasti ada karena setiap penawaran diskon saja ada embel-embel Ketentuan dan Syarat Berlaku. Maka Allah pun pasti punya Ketentuan dan Syarat.

Motivasi yang lain yaitu surat Al Ankabut ayat 64 di atas.


Menghadapi Pilihan Hidup

Bagaimana kalau kita dihadapkan pada pilihan-pilihan hidup?
Mari kita sandingkan, kalau kita ada halangan.

Ada sebuah Hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah.

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيهِ ، وَمَا يَزالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أحْبَبْتُهُ ، كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ ، ويَدَهُ الَّتي يَبْطِشُ بِهَا ، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإنْ سَألَنِي أعْطَيْتُهُ ، وَلَئِن اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ

Dan tidaklah seorang hamba mendekat kepada-Ku; yang lebih aku cintai daripada apa-apa yang telah Aku fardhukan kepadanya. Hamba-Ku terus-menerus mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku pun mencintainya. Bila Aku telah mencintainya, maka Aku pun menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia pakai untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia pakai untuk berjalan. Bila ia meminta kepada-Ku, Aku pun pasti memberinya. Dan bila ia meminta perlindungan kepada-Ku, Aku pun pasti akan melindunginya.” (HR Bukhori)

Urutannya adalah :

Nomer satu yang harus kita kuatkan adalah yang fardhu Ain didahulukan.
Jangan sampai kebalik-balik.

Di zaman Pandemi Covid pulang dari Sulawesi hanya untuk kumpul keluarga dan ziarah kubur. Harusnya disandingkan dengan yang lain yang lebih penting, jangan itu yang dipentingkan.

Difikir dengan Al Aql yang merupakan bagian dari qolbu, dari Fuad. Akhirnya memperoleh keputusan :
“Tidak usah pulang, nanti saja setelah aman. Ini lebih baik biaya perjalanan saya sumbangkan ke Panti Asuhan”.

Strategi berikutnya adalah Nawafil ( melakukan amalan Sunah)

Dalam rangka bertakarub dengan usaha puasa-puasa Sunah, shalat-shalat Sunah. Bukan usaha untuk mendapatkan apresiasi teman.
“Wah hebat ya Puasa Senin-Kamis.. “
Jangan mengharap pujian itu.
Nawafil ini kalau shalat sunah akan menyempurnakan hisabnya shalat fardhu.

Berikutnya Istiqomah.

Sampai kapan dilakukan? Terus menerus sampai Allah mencintai kita.
Pendengaran kita akan dibantu Allah.
Penglihatan kita akan dibantu Allah.
Tangan dan kaki akan dibantu oleh Allah dan permintaan kita dikabulkan.
Setelah istiqomah, amal-amal kita sudah didasari kesabaran tak mungkin lewat. Kalau ada yang lewat satu dua karena ada halangan syar’i.

Bagaimana contohnya?

Misal kita sudah setting shalat isya berjamaah. Bagaimana caranya supaya sukses?
Ini saya sampaikan pada teman-teman dokter :
– Pilih buka praktek atau pilih ke masjid shalat jama’ah isya.?
Ini pertarungan dalam diri. Kalau kita mengaji antara maghrib sampai isya fadhilahnya luar biasa.

– Pilih nonton sinetron Drama Korea atau pilih shalat jama’ah.?
Tentu perjuangan yang berat, film yang banyak penggemarnya itu pas maghrib.

Rasulullah menyampaikan shalat isya berjama’ah sama dengan shalat sunah separo malam. Maa syaa Allah mestinya memilih shalat jama’ah dari pada buka praktek dokter. Kalau praktek dokter paling cuma lacinya penuh.

Saya paling gemar mengajak pada teman dokter agar berhenti kerja, tidak praktek malam hari. Kita sama-sama dengan orang kampung ketemu shalat maghrib dan isya’ berjamaah.

Setelah menjadi dokter jangan merasa beda : “Kan saya harus praktek?”
Kita tetap sama dengan muslim yang lainnya. Kalau di kota tak perlu praktek malam lagi karena sudah banyak UGD, IGD. Sudah banyak rumah sakit yang buka. Biarlah orang lain yang mengatasi di IGD. Kita ke masjid shalat berjamaah maghrib dan isya’.

Shalat malam berjama’ah fadhilahnya luar biasa, shalat Subuh lebih lagi. Shalat Subuh berjama’ah fadhilahnya sama dengan shalat sunah semalam suntuk, jangan dilewatkan. Kecuali ada halangan syar’i. Tetapi itupun kita istighfar.

Pilih Jalan kaki , Sepedaan atau mengikuti Pengajian? Ini perlu disandingkan mana yang lebih utama?
Ada yang bilang : “Besuk lain waktu kan bisa Pengajian”.
Akan tetapi lain waktu ketemu teman lagi dan diajak kemana lagi, akhirnya tak pernah jadi mengikuti Pengajian.

Satu lagi strateginya jangan sampai mempunyai isteri/suami yang tidak memback-up.

Nabi SAW bersabda;

أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ: اَلْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيُّ. وَأَرْبَعٌ مِنَ الشّقَاءِ: الْجَارُ السّوءُ، وَاَلْمَرْأَةُ السُّوءُ، وَالْمَركَبُ السُّوءُ، وَالْمَسْكَنُ الضَّيِّقُ.

Empat perkara termasuk dari kebahagiaan, yaitu istri yang shalihah, tempat tinggal yang luas/ lapang, tetangga yang shalih, dan kendaraan yang nyaman. Dan empat perkara yang merupakan kesengsaraan yaitu tetangga yang jelek, istri yang jelek (tidak shalihah), kendaraan yang tidak nyaman, dan tempat tinggal yang sempit.” (HR. Ibnu Hibban)

Isteri yang sholehah , juga bisa dibaca suami yang sholeh. Isteri sholehah pasti bangun Subuh. Bila suami tidak bangun dia membangunkan suami, jangan malah bangun jam 06.30 . Sudah begitu malah tidak shalat. Bahaya itu jangan diteruskan.

Disini disebut rumah yang longgar. Tetapi Rasulullah rumahnya sempit, namun dadanya longgar, sehingga tidak terasa rumahnya sempit.
Tempat tinggal cari yang tetangganya baik. Dan terakhir kendaraan yang bagus maksudnya onta, kalau bersama-sama dalam kafilah tidak tertinggal.

Lanjutannya adalah kebalikannya. Empat perkara yang menyengsarakan.
Tetangga yang jelek, Isteri yang jelek, rumah yang sempit dan kendaraan buruk.

Ada satu hadits tentang isteri / suami yang mendapatkan rahmat Allah karena membangunkan pasangannya agar shalat malam.

رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا قَامَ مِنْ اللَّيْلِ فَصَلَّى وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِي وَجْهِهَا الْمَاءَ رَحِمَ اللَّهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنْ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِي وَجْهِهِ الْمَاءَ

“Allah akan merahmati seseorang yang bangun malam kemudian shalat lalu membangunkan isterinya, apabila isterinya menolak, dia akan memercikkan air ke mukanya, dan Allah akan merahmati seorang isteri yang bangun malam lalu shalat, kemudian dia membangunkan suaminya, apabila suaminya enggan, maka isterinya akan memercikkan air ke muka suaminya.” (HR. Abu Daud dan Ahmad)

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum,

#SAK



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here