Dr. Zuhad Masduki MA

11 Sya’ban 1442 / 24 Maret 2021



Tafsir Surat Al Fajr ayat 1-4

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَا لْفَجْرِ (1) وَلَيَا لٍ عَشْرٍ (2) وَّا لشَّفْعِ وَا لْوَتْرِ (3)
وَا لَّيْلِ اِذَا يَسْرِ (4)


wal-fajr, wa layaalin ‘asyr, wasy-syaf’i wal-watr, wal-laili izaa yasr

“Demi fajar, demi malam yang sepuluh,
demi yang genap dan yang ganjil, demi malam apabila berlalu.”(QS. Al-Fajr 89: Ayat 1-4)

Surat Al Fajr dimulai dengan sumpah, seperti beberapa surat pendek lainnya.
Obyek sumpahnya adalah :

– Demi Waktu Fajar.

Waktu fajar ini diperselisihkan oleh para ulama. Ada yang berpendapat bahwa fajar ini adalah fajar pada bulan-bulan tertentu. Ada yang menentukan fajar awal Dzulhijjah.
Tetapi kalau kita mengikuti rumus kaidah Tafsir, fajar yang dimaksud disini adalah fajar yang terbit setiap hari.

Rumusnya adalah kalau kata itu berdiri sendiri maka berarti dia maknanya umum. Tetapi kalau kata itu dirangkai dengan kata lain, maka kata itu maknanya dibatasi pada sesuatu yang tertentu. Fajar dalam ayat ini tidak dirangkai dengan kata tertentu. Maka ulama cenderung memahami ini fajar yang terbit setiap hari. Bukan fajar pada bulan-bulan tertentu atau pada hari-hari tertentu. Karena pendapat yang memahami ini pada bulan-bulan tertentu juga tidak ada dalil dari Al Qur’an atau Hadits Nabi.
Misalnya kata Lailatul Qadr, ini dibatasi pada malam lailatul qodar. Berbeda kalau disebut Lail saja berarti malam yang setiap hari.

– Demi Malam-malam yang sepuluh

Kalau kita memakai kaidah di atas, ini juga malam-malam setiap bulan. Bukan pada bulan-bulan tertentu. Meskipun ada ulama yang mengartikan dengan malam-malam tertentu. Misalnya adalah malam 10 Dzulhijjah atau 10 malam di akhir bulan Ramadhan. Tapi indikatornya tidak ada disini. Jadi ayat itu lebih baik difahami dalam arti umum sebagai 10 malam yang ada di setiap bulan.

– Demi Yang Genap dan Ganjil

Yang genap itu banyak, misalnya makhluk-makhluk Allah diciptakan oleh Allah SWT genap, berpasangan. Manusia berpasangan, hewan-hewan berpasangan. Tumbuh-tumbuhan juga berpasangan. Listrik juga berpasangan, ada aliran positif dan ada aliran negatif.

Yang ganjil adalah Allah SWT. Pintu-pintu masuk ke neraka itu ganjil seperti yang disebut dalam Surat Al Hijr ayat 43-44 :

وَاِ نَّ جَهَـنَّمَ لَمَوْعِدُهُمْ اَجْمَعِيْنَ (43)
لَهَا سَبْعَةُ اَبْوَا بٍ ۗ لِكُلِّ بَا بٍ مِّنْهُمْ جُزْءٌ مَّقْسُوْمٌ(44)

“Dan sungguh, Jahanam itu benar-benar yang telah dijanjikan untuk mereka pengikut setan semuanya, itu mempunyai tujuh pintu. Setiap pintu untuk golongan tertentu dari mereka.” (QS. Al-Hijr 15: Ayat 43-44)

Pintu neraka jumlahnya ada 7, kalau pintu Surga jumlahnya ada 8.

– Demi malam apabila dia berlalu.

Setiap malam akan berlalu, setiap terbit fajar maka malam hilang.
Nanti datang lagi pada waktu maghrib, terus terjadi seperti itu.
Jadi itu tadi sumpah Allah yang niscaya terjadi setiap bulan. Ini termasuk bagian dari kerjanya Sistem yang diciptakan oleh Allah SWT.


Tafsir Surat Al Fajr ayat ke 5

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

هَلْ فِيْ ذٰلِكَ قَسَمٌ لِّذِيْ حِجْرٍ 

hal fii zaalika qosamul lizii hijr

“Adakah pada yang demikian itu terdapat sumpah bagi orang-orang yang berakal?” (QS. Al-Fajr 89: Ayat 5)

Jawab sumpahnya adalah ayat ke 5 dalam bentuk pertanyaan. Artinya bagi orang-orang yang berakal ini betul- betul Sumpah Allah yang benar-benar hak. Bahwa nanti orang-orang pasti akan mempertanggung- jawabkan perbuatannya. Atau pasti hari kiamat akan terjadi dan setelah itu manusia akan mempertanggung-jawabkan amal perbuatannya masing-masing. Baik yang sholeh maupun yang durhaka.


Tafsir Surat Al Fajr ayat 6-8

Allah menyebutkan beberapa kelompok masyarakat yang durhaka kepada Allah SWT. Termasuk pada waktu ayat ini turun, masyarakat Mekkah, mereka orang yang durhaka kepada Allah SWT, mereka mempunyai keyakinan Paganisme (syirik).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَا دٍ (6) اِرَمَ ذَا تِ الْعِمَا دِ (7) الَّتِيْ لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِى الْبِلَا دِ (8)

a lam taro kaifa fa’ala robbuka bi’aad
iroma zaatil-‘imaad, allatii lam yukhlaq misluhaa fil-bilaad

“Tidakkah engkau (Muhammad) memerhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum `Ad?, yaitu penduduk Iram (ibukota kaum `Ad) yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun suatu kota seperti itu, di negeri-negeri lain,” (QS. Al-Fajr 89: Ayat 6-8)

Kata “berbuat” disini maksudnya adalah menghukum. Tuhan menghukum Kaum Ad, kaumnya Nabi Hud yang tidak merespond dengan baik dakwah yang disampaikan oleh Nabi Hud yang mengajak kepada menauhidkan kepada Allah SWT.

Kaum Ad ini orangnya sangat kuat dan tinggi-tinggi. Peradabannya pada masanya sudah maju dibanding masyarakat-masyarakat yang lain.
Kaum Ad, kaum yang sangat sombong dan mereka menganggap tidak ada kaum yang lebih kuat daripada kaum Ad. Mereka membangkang kepada Nabi Hud. Tidak mau menerima dakwahnya dengan baik.

Dalam konteks turunnya ayat Al Qur’an pada masa itu adalah ancaman untuk orang-orang Mekkah. Artinya orang Mekkah kalau dibanding Kaum Ad belum seberapa. Jauh lebih kuat Kaum Ad. Tetapi karena mereka durhaka dan kedurhakaannya mencapai titik kulminasi, maka mereka dihancurkan oleh Allah SWT dengan suara yang sangat keras, yang mematikan. Mereka hancur karena suara yang sangat keras itu.


Tafsir Surat Al Fajr ayat 9

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَثَمُوْدَ الَّذِيْنَ جَا بُوا الصَّخْرَ بِا لْوَا دِ 

wa samuudallaziina jaabush-shokhro bil-waad

“dan kaum Samud yang memotong batu-batu besar di lembah,” (QS. Al-Fajr 89: Ayat 9)

Kaum Samud ini adalah kaumnya Nabi Saleh. Mereka juga punya kehebatan. Diantara kehebatannya adalah bangunan- bangunan rumah mereka diambil dari batu-batu gunung, kemudian batu-batu itu ditata menjadi rumah-rumah yang indah dan dibuat relief-relief yang bagus. Dari segi seni, rumah mereka sangat hebat sekali.

Tetapi kemudian mukjizatnya Nabi Saleh mengalahkan mereka : Dari batu yang sama keluar onta yang betul- betul hidup di tengah-tengah mereka. Bukan hanya sekedar pahatan tapi makhluk hidup yang keluar dari batu. Tapi meskipun sudah ada mukjizat itu mereka tetap tidak mau beriman. Bahkan mereka kemudian membunuh onta itu.

Karena kedurhakaannya mencapai titik kulminasi, mereka juga dihancurkan oleh Allah SWT. Penghancuran kaum Samud dengan angin topan yang sangat dingin dan sangat kencang. Lamanya angin itu bertiup disebut dalam Surat Al Haqqah : 7 malam, 8 hari sehingga mereka semuanya yang durhaka kepada Allah SWT juga mati.


Tafsir Surat Al Fajr ayat 10-12

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَفِرْعَوْنَ ذِى الْاَ وْتَا دِ (10) الَّذِيْنَ طَغَوْا فِى الْبِلَا دِ (11) فَاَ كْثَرُوْا فِيْهَا الْفَسَا دَ (12)

wa fir’auna zil-autaad, allaziina thoghou fil-bilaad fa aksaruu fiihal-fasaad

“dan terhadap Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak , yang berbuat sewenang- wenang dalam negeri, lalu mereka banyak berbuat kerusakan dalam negeri itu,” (QS. Al-Fajr 89: Ayat 10-12)

Pasak-pasak ini difahami oleh para ulama sebagai Piramida- piramida. Kerusakan yang dimaksud dalam ayat ini bukan merusak alam tapi menyangkut tatanan sosial masyarakatnya diacak-acak, tidak ditata dengan sebaik-baiknya.
Timbul banyak kekacauan di dalam kehidupan bermasyarakat karena mereka berlaku otoriter dan diktator.


Tafsir Surat Al Fajr ayat 13-14

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَصَبَّ عَلَيْهِمْ رَبُّكَ سَوْطَ عَذَا بٍ (13) اِنَّ رَبَّكَ لَبِا لْمِرْصَا دِ (14)

fa shobba ‘alaihim robbuka sautho ‘azaab, inna robbaka labil-mirshood

“karena itu Tuhanmu menimpakan cemeti azab kepada mereka, sungguh, Tuhanmu benar-benar mengawasi.”
(QS. Al-Fajr 89: Ayat 13-14)

Siksa Tuhan yang sangat mematikan digambarkan sebagai cemeti azab.
Kata “mirshood” secara bahasa artinya bangunan yang dipakai untuk mengawasi. Seperti pos Polisi yang ada di pertigaan jalan atau di perempatan jalan yang digunakan untuk memantau orang-orang yang lalu lalang di jalan itu. Artinya Allah selalu mengawasi gerak-gerik manusia.

Ancaman ini sebenarnya untuk orang Mekkah. Kalau mereka bisa mengambil pelajaran bahwa kaum-kaum yang kuat seperti itu bisa dihancurkan, apalagi hanya orang Mekkah, lebih mudah lagi untuk menghancurkan mereka kalau mereka juga durhaka mencapai titik kulminasi.

Pada akhirnya orang Mekkah juga dihancurkan karena durhaka dan mencapai titik kulminasi. Hanya bentuk penghancurannya tidak sama dengan kaum-kaum yang dahulu.
Setelah mereka mengusir Nabi dan mau membunuh Nabi, lalu Nabi berhasil lolos dari usaha pembunuhan itu. Beliau hijrah ke Madinah dan beliau memperoleh kekuatan politik dukungan masa yang besar, kekuatan sosial dan kekuatan ekonomi.

Pada tahun ke 8 Hijrah Nabi berhasil mengalahkan Mekkah tanpa kekuatan senjata. Hanya dengan kekuatan jumlah manusia. Inilah kehancuran Mekkah karena mereka tidak mengambil sejarah itu sebagai pedoman hidup mereka. Sehingga dengan kemenangan Nabi itu Rezim Mekkah jatuh. Kemudian sistem sosial , digantikan agama Islam. Sistem jahat digantikan oleh sistem nilai-nilai Islam.

Inilah tiga contoh dari kaum yang durhaka kepada Allah SWT. Kita juga sama, jika durhaka dan mencapai titik kulminasi nanti juga akan dihancurkan oleh Allah SWT. Tetapi bukan dalam bentuk dimatikan seperti umat-umat yang dulu. Kalau yang durhaka adalah kekuasaan maka Rezim itulah yang akan dihancurkan dengan berbagai cara yang akan mungkin terjadi.


Tafsir Surat Al Fajr ayat 15-16

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَاَ مَّا الْاِ نْسَا نُ اِذَا مَا ابْتَلٰٮهُ رَبُّهٗ فَاَ كْرَمَهٗ وَنَعَّمَهٗ ۙ فَيَقُوْلُ رَبِّيْۤ اَكْرَمَنِ 

fa ammal-ingsaanu izaa mabtalaahu robbuhuu fa akromahuu wa na”amahuu fa yaquulu robbiii akroman

“Maka adapun manusia, (terutama manusia yang durhaka) apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, “Tuhanku telah memuliakanku.” (QS. Al-Fajr 89: Ayat 15)


Disini ada kata-kata menguji. Kita telah menyampaikan bahwa Allah menciptakan manusia itu memang dalam rangka untuk diuji. Ini kita ketemukan di Surat Al Insan ayat 2 :

اِنَّا خَلَقْنَا الْاِ نْسَا نَ مِنْ نُّطْفَةٍ اَمْشَا جٍ ۖ نَّبْتَلِيْهِ فَجَعَلْنٰهُ سَمِيْعًۢا بَصِيْرًا

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.” (QS. Al-Insan 76: Ayat 2)

Maka karena manusia akan diuji dia diberi potensi-potensi daya akal, daya qolbu, daya hidup dan daya fisik. Sehingga mereka bisa menyelesaikan soal-soal ujian.
Termasuk orang jadi kaya, miskin, punya kedudukan atau tidak itu adalah soal ujian bukan hasil ujian. Hasil ujian adalah bagaimana dia menyikapi soal- soal ujian ini.

Ayat 15 ini adalah contoh respond manusia yang keliru. Ketika manusia diuji oleh Allah dengan diberi anugerah kemuliaan misalnya jabatan atau menjadi orang terpandang di dalam masyarakat, lalu dia diberi nikmat rezeki yang banyak dalam berbagai bentuknya maka dia berkata : “Tuhanku telah memuliakanku”.

Jadi dikira jabatan, kekuasaan, materi atau harta benda yang banyak adalah bentuk Allah memuliakan dirinya. Ini ucapan yang keliru karena bukan itu. Itu baru soal ujian, bukan hasil ujian. Hasil ujiannya adalah kalau dia kaya apakah dia menyukuri atau tidak ? Kalau mendapat jabatan dia amanah atau tidak?

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاَ مَّاۤ اِذَا مَا ابْتَلٰٮهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهٗ  ۙ فَيَقُوْلُ رَبِّيْۤ اَهَا نَنِ 

wa ammaaa izaa mabtalaahu fa qodaro ‘alaihi rizqohuu fa yaquulu robbiii ahaanan

“Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, “Tuhanku telah menghinaku.”
(QS. Al-Fajr 89: Ayat 16)

Ini juga ucapan yang tidak benar. Kalau orang tidak punya jabatan, tidak punya kekayaan, hidupnya pas-pasan bukan karena Tuhan menghinakan. Ini karena dia tidak bisa mencari itu semua dengan potensi yang ada pada dirinya.

Dulu tokoh-tokoh Mekkah yang kaya ketika menolak ajaran Nabi Muhammad mereka berkata : “Kalau surga itu ada maka saya yang paling pantas masuk surga”.
Karena mereka menganggap kenikmatan dunia yang mereka dapat sekarang ini nanti sama dengan yang mereka dapat di akhirat nanti.
Ini dibantah Al Qur’an bahwa ini sama sekali tidak benar.

Kita juga mendapatkan di Al Qur’an tentang contoh respond manusia yang kurang benar di Surat An Nisa ayat 78-79

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَيْنَ مَا تَكُوْنُوْا يُدْرِكْكُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِيْ بُرُوْجٍ مُّشَيَّدَةٍ ۗ وَاِ نْ تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ يَّقُوْلُوْا هٰذِهٖ مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ ۚ وَاِ نْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَّقُوْلُوْا هٰذِهٖ مِنْ عِنْدِكَ ۗ قُلْ كُلٌّ مِّنْ عِنْدِ اللّٰهِ ۗ فَمَا لِ ھٰٓ ؤُلَآ ءِ الْقَوْمِ لَا يَكَا دُوْنَ يَفْقَهُوْنَ حَدِيْثًا

“Di mana pun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi dan kukuh. Jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan, “Ini dari sisi Allah,” dan jika mereka ditimpa suatu keburukan mereka mengatakan, “Ini dari engkau Muhammad.” Katakanlah, “Semuanya datang dari sisi Allah.” Maka mengapa orang-orang munafik itu hampir-hampir tidak memahami pembicaraan?” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 78)

Pengertiannya segala sesuatu itu memiliki sifat baik dan buruk. Yang menetapkan sifat baik buruknya sesuatu adalah Allah tetapi yang berinteraksi dengan sesuatu itu adalah manusia. Kalau interaksi manusia dengan sesuatu tadi benar maka dia akan mendapatkan kemaslahatan. Tetapi kalau interaksinya keliru maka dia akan mendapatkan keburukan.

Singa atau macan itu sifatnya menerkam mangsa. Kalau ada orang main ke Kebun Raya Bogor lalu dia membuka jendela atau keluar dari mobil lalu diterkam macan ,itu bukan salahnya macan tapi salahnya manusia.

Berikutnya di Surat An Nisa ayat 79

مَاۤ اَصَا بَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ ۖ وَمَاۤ اَصَا بَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَّـفْسِكَ ۗ وَاَ رْسَلْنٰكَ لِلنَّا سِ رَسُوْلًا ۗ وَكَفٰى بِا للّٰهِ شَهِيْدً

“Kebajikan apa pun yang kamu peroleh adalah dari sisi Allah dan keburukan apa pun yang menimpamu, itu dari kesalahan dirimu sendiri. Kami mengutusmu (Muhammad) menjadi Rasul kepada seluruh manusia. Dan cukuplah Allah yang menjadi saksi.” -(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 79)

Kemuliaan yang didapat manusia oleh Allah itu karena ketaatan kepada Allah. Kehinaan yang didapat manusia oleh Allah itu karena kemaksiatan yang dilakukan oleh manusia. Jadi kemulian dan kehinaan bukan kaya dan miskin.


Tafsir Surat Al Fajr ayat 17-20

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

كَلَّا بَلْ لَّا تُكْرِمُوْنَ الْيَتِيْمَ 

kallaa bal laa tukrimuunal-yatiim

“Sekali-kali tidak! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim,” (QS. Al-Fajr 89: Ayat 17)

Diantara yang membuat manusia mulia adalah memenuhi perintah Allah untuk memuliakan anak yatim. Sedangkan orang-orang Mekkah jaman Rasul itu mereka justru sebaliknya, menghardik anak-anak yatim dan memperlakukan anak-anak yatim secara tidak benar :
Tidak mau menyantuni untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka, kebutuhan untuk kesehatan, kebutuhan untuk pendidikan mereka.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَا تَحٰٓضُّوْنَ عَلٰى طَعَا مِ الْمِسْكِيْنِ 

wa laa tahaaadhdhuuna ‘alaa tho’aamil-miskiin

“dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin,”
(QS. Al-Fajr 89: Ayat 18)

Menganjurkan saja tidak mau, apalagi memberi pada mereka. Padahal misal dia tidak mampu memberi dia bisa menganjurkan atau dia bisa mengorganisir bantuan-bantuan untuk disalurkan kepada mereka.
Keburukan berikutnya adalah mengumpulkan harta pusaka dengan cara menghimpun.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَتَأْكُلُوْنَ التُّرَا ثَ اَكْلًا لَّـمًّا 

wa ta-kuluunat-turoosa aklal lammaa

“sedangkan kamu memakan harta warisan dengan cara mencampurbaurkan (yang halal dan yang haram),” (QS. Al-Fajr 89: Ayat 19)

Ini kalau dalam kasus orang Mekkah dulu misalnya : Perempuan tidak mendapat waris. Warisan hanya didapat oleh anak laki-laki dengan alasan karena anak perempuan tidak ikut kontribusi dalam kegiatan- kegiatan Sosial, Ekonomi, Pendidikan, Politik dan lain-lain.

Kalau ada anak yatim perempuan yang kaya, di Mekkah itu dulu diperebutkan untuk diasuh. Tetapi pengasuhnya nakal. Setelah anak itu dewasa dinikahi oleh yang mengasuh tanpa membayar mahar. Padahal menikah harus membayar mahar.
Dan harta bendanya anak yatim perempuan tadi dikuasai oleh suaminya. Ini namanya menghimpun dengan berbagai cara.

Jadi ada tiga keburukan yang dilakukan disini :
– Tidak menghormati anak yatim.
– Tidak saling menganjurkan memberi makan pada orang-orang miskin
– Menghimpun harta benda yang sebenarnya bukan miliknya, supaya menjadi miliknya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَّتُحِبُّوْنَ الْمَا لَ حُبًّا جَمًّا 

wa tuhibbuunal-maala hubbang jammaa

“dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS. Al-Fajr 89: Ayat 20)

Karena cintanya berlebihan maka dia menjadi kikir, tidak mau berbagi kepada orang lain.
Kalau tiga tuntunan ini diikuti, kita akan terhormat dihadapan Allah SWT. Tapi karena mereka tidak melakukannya maka walaupun mereka kaya tetapi tidak mulia disisi Allah SWT.


Tafsir Surat Al Fajr ayat 21-23

Orang-orang yang berbuat durhaka seperti ini, diancam pada ayat-ayat berikutnya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

كَلَّاۤ اِذَا دُكَّتِ الْاَ رْضُ دَكًّا دَكًّا 

kallaaa izaa dukkatil-ardhu dakkang dakkaa

“Sekali-kali tidak! Apabila bumi diguncangkan berturut-turut,” (QS. Al-Fajr 89: Ayat 21)

Maksudnya kiamat. Dengan kiamat mereka akan dimintai pertanggung jawaban.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَّجَآءَ رَبُّكَ وَا لْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا 

wa jaaa-a robbuka wal-malaku shoffang shoffaa

“dan datanglah Tuhanmu; dan malaikat berbaris-baris,” (QS. Al-Fajr 89: Ayat 22)

Malaikat berbaris dalam rangka untuk melaksanakan perintah Allah, termasuk perintah untuk menghukum kepada mereka yang durhaka.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَجِايْٓءَ يَوْمَئِذٍ بِۢجَهَنَّمَ ۙ يَوْمَئِذٍ يَّتَذَكَّرُ الْاِ نْسَا نُ وَاَ نّٰى لَـهُ الذِّكْرٰى 

wa jiii-a yauma-izim bijahannama yauma-iziy yatazakkarul-ingsaanu wa annaa lahuz-zikroo

“dan pada hari itu diperlihatkan Neraka Jahanam; pada hari itu sadarlah manusia, tetapi tidak berguna lagi baginya kesadaran itu.” (QS. Al-Fajr 89: Ayat 23)

Kesadaran manusia sudah terlambat, seperti orang yang sudah tua dulu tidak mau belajar lalu dia bodoh ketinggalan sama teman-temannya. Kesadarannya itu tidak banyak gunanya bagi yang bersangkutan. Ibarat nasi sudah menjadi bubur, sudah terlambat tak bisa diulangi.


Tafsir Surat Al Fajr ayat 24-26

Ayat berikutnya mengabadikan ucapan mereka nanti di hari kiamat.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يَقُوْلُ يٰلَيْتَنِيْ قَدَّمْتُ لِحَـيَا تِى 

yaquulu yaa laitanii qoddamtu lihayaatii

“Dia berkata, “Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan kebajikan untuk hidupku ini.” (QS. Al-Fajr 89: Ayat 24)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَيَوْمَئِذٍ لَّا يُعَذِّبُ عَذَا بَهٗۤ اَحَدٌ 

fa yauma-izil laa yu’azzibu ‘azaabahuuu ahad

“Maka pada hari itu tidak ada seorang pun yang mengazab seperti azab-Nya yang adil.” (QS. Al-Fajr 89: Ayat 25)

Artinya siksa Allah itu tidak ada tandingannya. Siksanya sangat keras.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَّلَا يُوْثِقُ وَثَا قَهٗۤ اَحَدٌ 

wa laa yuusiqu wasaaqohuuu ahad

“dan tidak ada seorang pun yang mengikat seperti ikatan-Nya.” (QS. Al-Fajr 89: Ayat 26)

Ikatan Allah tidak ada tandingannya. Bisa dalam pengertian fisik bisa juga dalam pengertian non fisik.
Kalau dalam pengertian fisik misalnya orang-orang durhaka itu nanti akan dirantai dan akan dimasukkan ke dalam neraka. Di dalamnya ada api yang berkobar.
Hukuman yang tidak ada tandingannya.

Kebenaran firman Allah sudah bisa kita lihat di dalam kehidupan di dunia ini. Misalnya kalau orang minum racun setetes dicampur dengan air satu gelas tetap mematikan. Kita tidak bisa mengatakan “cuma setetes kok mematikan ?!” .Tidak bisa seperti itu. Karena memang sifatnya racun itu memang mematikan dan merusak. Daya mematikan dari racun memang seperti itu. Sebaliknya orang yang meminum air jernih satu gelas maka dahaganya akan hilang.

Kalau kita menanam satu biji mangga lalu dia hidup menjadi pohon mangga maka dia akan menghasilkan mangga dalam jumlah yang banyak. Kita tidak bisa menjawab menanam satu kenapa berbuah banyak? Karena itu adalah Sistem yang diciptakan oleh Allah SWT.

Dalam kehidupan di dunia ini kebenaran firman Allah ayat 24, 25, 26 sudah bisa kita buktikan. Tidak usah menunggu nanti di akhirat. Inilah ketetapan Allah, hukum-hukum Allah yang sangat mengikat kepada kita semua.


Tafsir Surat Al Fajr ayat 27-30

Kelompok ayat yang terakhir adalah berita gembira untuk mereka-mereka yang taat kepada Allah SWT.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤاَ يَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ (27) ارْجِعِيْۤ اِلٰى رَبِّكِ رَا ضِيَةً مَّرْضِيَّةً (28) فَا دْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِى (29) وَا دْخُلِيْ جَنَّتِى(30)

yaaa ayyatuhan-nafsul-muthma-innah
irji’iii ilaa robbiki roodhiyatam mardhiyyah, fadkhulii fii ‘ibaadii wadkhulii jannatii

“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya.
Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr 89: Ayat 27-30)

Dalam Al Qur’an kita ketemu ayat tentang jiwa ada tiga.

An Nafs Ammarah : Jiwa yang selalu mendorong kepada keburukan
An Nafs Al lauwamah : Jiwa yang selalu mengoreksi kepada yang bersangkutan. Kalau koreksinya diterima lalu dia tidak jadi melakukan keburukan.
An Nafs Al Muthmainah : Jiwa yang tenang, orang yang sangat taat kepada Allah SWT.
Kata ibaad biasanya digunakan untuk hamba yang sholeh. Apabila hamba itu durhaka maka menggunakan kata Abiid.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here