dr. Rahaju Budi Mulyanto SpKJ

5 Sya’ban 1442 / 20 Maret 2021



Judul yang saya terima tadinya ada tambahannya : Untuk mewujudkan Qalbun Salim. Namun saya merasa tidak kuat, kemudian saya coba ganti : Dalam rangka mewujudkan Shalat yang Khusyuk, tapi ternyata lebih berat karena sampai seumur saya sekarang ini saya sepertinya kalau shalat masih berfikir macam-macam. Jadi akhirnya judul saya potong sebagaimana di atas : An Nafs (jiwa) dalam tinjauan ilmu Kedokteran jiwa. Tentu kita harus menyamakan persepsi tentang An Nafs dengan ilmu Kedokteran jiwa.

Pada awal saya menjadi mahasiswa di bagian Psikhiatri, banyak yang menganggap bahwa ilmu Kedokteran jiwa itu adalah ilmu Kedokteran yang sekuler. Saya katakan, kalau belum tahu jangan menghakimi sebagai sekuler. Karena ada juga yang mengatakan bahwa ilmu Kedokteran jiwa itu adalah ilmu yang dibikin-bikin. Tapi saya tetap melanjutkan, karena pada saat itupun ilmu Psikhologi dianggap ilmu Perdukunan. Jadi saat itu masih banyak pandangan tentang kesehatan jiwa atau Psikhiatri.

Dalam membahas an Nafs saya membatasi diri dengan Kedokteran jiwa. An Nafs sering diterjemahkan sebagai Ruh. Kalau kita membaca di dalam Al Qur’an, banyak sekali kata Nafs kita temui dengan berbagai macam pengertian. Ada yang menyebut sebagai Ruh, ada yang menyebut sebagai Jiwa. Ruh dan Jiwa kalau kita baca dengan cermat di dalam Al Qur’an sering tidak sama maknanya.

Yang banyak terkait dengan kedokteran jiwa adalah Nafsu. Nafsu adalah Dorongan Kehendak. Ini yang paling sering ditemui. Dan ada beberapa istilah An Nafs yang sering kita dengar :
– An Nafs al ammarah
– An Nafs al lawwamah
– An Nafs al Muthmainah

Karena keterbatasan saya, maka saya hanya akan membatasi pembahasan tiga hal ini satu persatu dikaitkan dengan ilmu Kedokteran jiwa.
Apa yang dikupas dalam ilmu Kedokteran jiwa itu ternyata tidak jauh dari apa yang diungkapkan Al Qur’an. Bahkan banyak hal-hal yang ada di dalam Al Qur’an belum terbuka dalam ilmu Kedokteran jiwa.


1. Nafsu Ammarah

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمَاۤ اُبَرِّئُ نَفْسِيْ ۚ اِنَّ النَّفْسَ لَاَ مَّا رَةٌ بِۢا لسُّوْٓءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيْ ۗ اِنَّ رَبِّيْ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

“Dan aku tidak menyatakan diriku bebas dari kesalahan , karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang.”” -(QS. Yusuf 12: Ayat 53)

Kalau kita cermati ternyata nafsu amarah tidak seluruhnya buruk. Karena ada pengecualian : “nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku”.
Kalau kita tidak marah melihat orang berbuat salah, tidak marah pada kezaliman yang ada di sekitar kita, malah bisa jadi kita terjerumus pada banyak kesalahan.

Jadi nafsu amarah ini harus kita kembangkan terus ke arah yang diberi rahmat oleh Allah SWT.
Kita harus memahami bahwa amarah adalah bagian dari kehidupan kita. Kalau kita tidak punya amarah maka kita juga akan mengalami banyak kesulitan dalam kehidupan kita.


2. Nafsu Lawwamah

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

لَاۤ اُقْسِمُ بِيَوْمِ الْقِيٰمَةِ (1) وَلَاۤ اُقْسِمُ بِا لنَّفْسِ اللَّوَّا مَةِ (2)

“Aku bersumpah dengan hari Kiamat,
dan aku bersumpah demi jiwa yang selalu menyesali dirinya sendiri.” (QS. Al-Qiyamah 75: Ayat 1-2)

Nafsu lawwamah sering diterjemahkan sebagai nafsu yang selalu penuh penyesalan. Maksudnya kita menyesali sehingga kita tidak selalu melakukan tindakan-tindakan yang salah. Bukan kita melakukan kesalahan dan kemudian menyesal. Itu bukan penyesalan namanya. Kita harus memperbaiki diri, menyesal saja tidak cukup.

Penyesalan adalah sesuatu yang ada di dalam diri kita. Penyesalan yang tidak berkesudahan di dalam pandangan ilmu Kedokteran jiwa tidak baik. Menyesal terus menerus akibatnya dapat terjadi gangguan jiwa. Maka kita harus mewaspadai hal ini.
Nafsu Lawwamah sering disebutkan bagian yang sangat menarik karena banyak hal-hal di dalam nafsu lawwamah yang nampaknya bertentangan dengan diri sendiri. Nanti akan kita tinjau dalam ilmu Kedokteran jiwa seperti apa.


3. Nafsu Muthmainah

Adalah dorongan untuk kita menjadi individu yang senantiasa kembali kepada Allah SWT. Ini harus kita perhatikan baik-baik. Kita tahu bahwa sebagai manusia , kita terlahir dalam keadaan suci (fitrah), maka kita sebetulnya akan senantiasa berupaya untuk menjadi individu yang baik.

Individu yang baik sesuai dengan janji/ sumpah kita kepada Allah SWT sebelum kita lahir bahwa kita akan senantiasa mengabdi, beribadah kepada Allah SWT. Sehingga Allah memanggil kita sebagai Jiwa yang Tenang.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤاَ يَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ (27) ارْجِعِيْۤ اِلٰى رَبِّكِ رَا ضِيَةً مَّرْضِيَّةً (28)


“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya.” (QS. Al-Fajr 89: Ayat 27-28)

Dengan demikian kita akan masuk pada keadaan yang senantiasa berada dalam lindungan dan petunjuk Allah SWT.


Jiwa Dalam Psikhiatri

Yang dipelajari disana adalah bukan hal-hal yang tidak bisa dilihat dalam keseharian.
Yang dimaksud jiwa dalam psikhiatri secara sederhana adalah : Pikiran, Perasaan dan Perilaku.
Ketiga komponen ini adalah sesuatu yang bisa kita lihat sehari-hari. Kita bisa dapatkan sehari-hari, kita bisa pantau sehari-hari. Adanya kelainan dari salah satu dari ketiga komponen ini akan menunjukkan adanya gangguan jiwa pada individu. Atau setidaknya ada masalah pada kesehatan jiwa pada diri seseorang.

Kalau misalnya ada yang tiba-tiba menangis tanpa sebab yang jelas, itu pasti ada masalah kejiwaan.
Kalau sekarang kita ketemu lewat zoom, barangkali tidak apa-apa kalau saya tidak pakai baju, karena yang tampak hanya kepala yang pakai kopiah. Tidak akan diketahui kalau tak pakai baju.

Tetapi kalau kita di dalam pertemuan langsung dan ada yang pakai kopiah tapi tidak memakai baju, tentu ada masalah di dalam kejiwaan orang tersebut. Ini harus kita perhatikan.

Begitu juga pikiran kita. Pikiran kita ini adalah suatu regulator, pengatur dari seluruh fisik kita. Jadi harus kita perhatikan baik-baik. Banyak sekali gangguan-gangguan fisik yang asal- usulnya adalah dari Pikiran dan Perasaan kita, hingga dikenal sebagai gangguan atau penyakit Psikosomatik.

Dalam penyakit Psikosomatik ini sering kita temukan banyak sekali masalah-masalah yang menyangkut fisik yang asal-usulnya adalah pikiran. Berapa banyakpun obat yang diberikan, kalau Pikiran dan Perasaan tidak diperbaiki maka dia tidak sembuh juga.

Contohnya yang sehari-hari ada orang yang mengalami sakit mag (gastritis) bertahun-tahun, tidak sembuh-sembuh. Ini salah satu penyebabnya adalah pikiran, walaupun sekarang ditemukan juga adanya kuman-kuman yang dilambung. Tetapi ternyata kalau pikiran dan perasaannya tidak ditherapi maka individu tersebut akan terus sakit berlama-lama. Sehingga yang di dapat pada akhirnya efek samping dari obat-obat yang diminum untuk lambungnya.

Kita harus hati-hati, di masa depan harus bekerjasama diantara para spesialis supaya pasien dapat sembuh sempurna. Jadi orang dengan gangguan lambung tidak bisa hanya Pikirannya yang saya therapi tanpa bekerjasama dengan dokter spesialis lain. Ini perlu kita eksplorasi supaya pasien dapat sembuh. Tidak sepanjang umur lalu minum obat.

Kelihatannya sederhana : Pikiran, Perasaan, Perilaku. Barangkali kita semua bisa mendeteksi, kalau salah satu dari ketiga komponen ini ditemukan sesuatu yang tidak sebagaimana seharusnya.


Pengembangannya Pendekatan Ekliktik Holistik.

Pendekatan Ekliktik Holistik artinya pendekatan yang rinci, tetapi juga menyeluruh. Awalnya disampaikan oleh Prof. Kusumanto, kemudian dimodifikasi oleh Prof Dadang Hawari dan dimodifikasi lagi oleh Prof. Sasanto Wibisono. Kita melihat jiwa itu seperti apa?

Jiwa menurut paradigma integratif baru yang diturunkan dari teori proses adalah : Prioritas biologis dan Supremasi psikologis.

1. Organo Biologis.

Jiwa tanpa adanya organ tentu kita tidak bisa melihat apa-apa. Harus kita lihat pada Pikiran, Perasaan maupun Perilaku. Tanpa melihat orangnya, tanpa mendengar suaranya kita tidak bisa menilai situasi, kondisi kejiwaan individu. Organo Biologis adalah bagian yang perlu kita waspadai.

2. Psikologis

Ini adalah faktor kejiwaan atau kepribadian. Faktor psikologis adalah sesuatu yang mewarnai kondisi Organo Biologis. Orang yang cemas maka jantungnya akan berdebar lebih keras, lebih cepat. Suatu saat bisa menyebabkan gangguan metabolisme.
Dalam keadaan demikian maka kedua-duanya harus mendapatkan pengobatan.

3. Socio Culture

Dengan berkembangnya ilmu Pengetahuan kita dapatkan apa yang kita sebut Pengaruh Socio Culture. Sosial budaya ini tidak bisa kita abaikan karena ini akan sangat mempengaruhi manusia. Banyak gangguan jiwa yang terkait dengan Sosial Budaya.

Misalnya kita kenal : Latah.
Latah itu sebetulnya bagian dari gangguan jiwa. Ini terkait dengan budaya, kalau dibiarkan saja berlanjut walaupun katanya ada orang yang latah malah rejekinya tambah banyak karena masuk di Televisi. Tetapi tentunya bukan itu yang dikehendaki. Yang dikehendaki adalah kita sehat, tidak latah. Jangan sampai kita menganggap latah sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja.

Perkembangan psikiatri yang dipengaruhi oleh Sosial Budaya ini terus berkembang. Di dalam masa penjajahan dulu ada yang namanya Amuk, dimana orang mengamuk. Ini karena tekanan kekuasaan orang mengamuk. Kita pernah melihat hal yang mirip, misalnya pada saat penjarahan beberapa tahun yang lalu. Banyak penjarahan yang merata karena orang mengamuk. Sebagian ini adalah karena situasi mental individu yang menyangkut orang banyak.

Saya sendiri pernah menemukan amuk ini di tempat saya bekerja. Dimana seseorang, bukan karena gangguan jiwa lainnya lalu tiba-tiba mengamuk. Terkait dengan budaya dimana individu tersebut tertekan sedemikian kuatnya oleh situasi budaya setempat.

4. Spiritual dan Religi.

Pada awal tahun 2000, akhir 1900 an mulai muncul yang namanya Spiritual dan Religi. Saat itu saya sudah lulus dan kami Psikhiater muslim membentuk kelompok study tentang Psikhiatri Islami. Kemudian karena teman-teman dari agama lain ikut maka dikembangkan menjadi Psikhiatri Religi. Dan Spiritual Religi menjadi bagian.

Kalau kita lihat, ke empat komponen ini saling tumpang tindih. Sehingga kita melihat bahwa individu hanya sebagian kecil saja yang terpengaruh oleh Spiritual atau keagamaan. Maka kita tidak bisa lepas dari agama.
Saya sendiri melihat bahwa sebetulnya agama itu adalah justru bagian yang meliputi ketiga komponen lainnya. Agama adalah dasar dari semuanya, karena kita semua adalah ciptaan Allah SWT.

Tidak ada bagian tubuh kita yang tidak dibawah pengawasan dan kendali Allah SWT. Buktinya waktu kita tidur, kita tidak memperhatikan jantung kita, tapi jantung tetap berdenyut. Bahkan selama saya bicara, saya tidak tahu jantung saya berdenyut berapa kali. Kita harus memegang nadi kita baru bisa menghitung. Suasana Pikiran, Perasaan kita juga kita tidak tahu.

Secara Psikhologis , pada saat saya bicara saya tidak tahu mengapa kaki saya bergoyang. Saya tidak tahu mengapa tangan saya mencengkeram. Ini semua karena diluar kendali kita. Artinya Psikhologis pun dibawah kendali Allah SWT.
Begitu pula Sosial Budaya. Dunia bagian mana yang tidak dibawah kendali Allah SWT ?

Semua tergantung pada Allah SWT. Semuanya sudah ditentukan bagaimana kondisinya. Ini harus kita waspadai. Kita sering mengabaikan hal-hal yang demikian karena kita lupa bahwa agamalah yang menuntun kita untuk hidup dengan baik dalam kehidupan kita sehari-hari.


Topografi Jiwa / Kepribadian

Ada yang namanya Id. Id adalah sumber segala macam dorongan. Kalau kita perhatikan An Nafs, maka yang namanya Nafsu ada di dalam Id. Semua komponen dorongan, baik maupun buruk ada di dalam Id.
Contoh, ada dorongan untuk mengatasi lapar.

Id ini adalah yang pertama kali terdeteksi pada saat kita bayi baru lahir. Kita semua tentu tidak ingat waktu baru lahir apa yang kita lakukan. Tetapi kita bisa mengamati anak-anak kita sejak bayi. Bayi yang baru lahir bisa apa? Menangis.

Bila lapar dia menangis, dia pipis menangis, dia BAB juga menangis. Kalau sudah kenyang dia diam dan tidur. Ini yang bisa kita deteksi pada bayi baru lahir.

Id adanya dalam alam bawah sadar (unconsciousness). Sementara yang ada diluar kita adalah alam sadar (consciousness). Id ini kita tidak ingat.

Dengan tumbuh kembang individu maka muncul Ego. Kita lihat pada anak-anak yang sudah berusia 1 tahun mulai muncul Egonya. Siapa saya? Sudah ada. Anak sudah mulai bisa bicara, bisa menentukan dirinya, bisa menentukan orang disekitarnya. Dia sudah mulai bisa mendeteksi apa-apa yang ada disekitar dirinya.
Sementara, ini masih kita katakan di bawah sadar. Pada keadaan demikian anak-anak ini masih menggunakan intuisi / reflek.

Kalau dia ingin makan dan tak ada yang bisa dimakan maka jarinya dimasukkan ke mulutnya. Karena Id dan Ego masih jadi satu.

Pada perkembangan selanjutnya kita lihat muncul yang namanya Super Ego. Super Ego itu mulai ketika kita mengajarkan anak-anak pipis, mengajarkan anak BAB, mengajarkan anak makan. Pada saat itulah sebetulnya Super Ego masuk. Super Ego adalah norma-norma yang di dapat dari lingkungan.

Sehingga kita kenal hadits :
“Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani.” (HR Al Baihaqi)
Ini tergantung pada lingkungannya, apa yang dimasukkan. Ini adalah Super Ego yang masuk.

Kita mengajar anak untuk pipis pada tempatnya. Menyampaikan ini biasanya pada saat anak umur 1 tahun.
Apakah super ego ini masuknya di usia demikian? Sebelumnya super ego sudah diajarkan ide-ide ini. Banyak orang meneliti bahwa ternyata super ego bisa dimasukkan sejak anak itu masih dalam bentuk janin dalam kandungan ibunya.

Kita baca ada hadits atau dari budaya kita sendiri menyatakan agar ibu hamil banyak mengaji, menganjurkan hal-hal yang baik. Itu adalah memasukkan Super Ego. Kita tidak perlu khawatir itu semua masuk ke alam bawah sadar.

Kita juga jangan sampai tidak yakin kenapa belum lahir kok diajari.? Tidak demikian, karena itu semua bisa masuk dan bisa terdeteksi. Karena apa yang kita sampaikan bukan hanya sesuatu yang bisa kita dengar, tetapi juga ada gelombang-gelombang electromagnetic yang masuk dan bisa ditangkap oleh individu dalam bentuk janin maupun sesudah lahir.

Ini harus kita perhatikan, pentingnya mendidik bayi sejak dia menjadi janin. Jangan sampai terjadi penyesalan di belakang hari.

Pada perkembangan selanjutnya Id tetap berada di alam bawah sadar. Sementara hanya sebagian kecil dari Ego muncul ke alam sadar. Jadi sebenarnya yang kita sadari dari Ego itu tidak banyak! Super Ego juga demikian, hanya sebagian kecil yang kita sadari.

Ternyata tidak ada hubungan langsung antara Id yang mengeluarkan dorongan-dorongan baik atau buruk dengan Super Ego yang merupakan Norma-Norma baik. Sehingga kalau terjadi konflik antara Super Ego dan Id harus melalui Ego.

Misalnya ada percakapan di bawah sadar, Id berkata : “Saya lapar, bukankah itu ada makanan di warung ?” Super Ego menjawab : “Tidak boleh ambil, harus beli”. Percakapan ini melalui kerja dari Ego. Ego menggabungkan ini sehingga muncul keluar ke alam sadar sebagai tindakan.

Bagian yang muncul di alam sadar ini yang harus dilatih untuk berbuat sesuatu yang baik, mendengar sesuatu yang baik, melihat sesuatu yang baik. Dengan melatih bagian yang kecil di alam sadar menjadi baik mengakibatkan semua/ sebagian besar di alam bawah sadar juga akan menjadi baik.

Contoh sederhana, kalau ada yang mandi saat Subuh memakai gayung, apakah kita ingat berapa gayung air yang kita pakai ? Tentu tidak ingat. Yang kita ingat adalah kita telah mandi sampai bersih.

Jadi Super Ego harus selalu kita pupuk dengan Mengaji, dengan menambah pengetahuan, dengan mengasah diri supaya Super Ego tidak hilang. Bagian dari Super Ego yang kita sadari sering kita sebut sebagai Hati Nurani.
Super Ego bisa konflik dengan Ego. Ego bisa konflik dengan Id, karena Ego dipengaruhi oleh Super Ego atau Hati Nurani.

Hati Nurani selalu akan mengingatkan kita bila kita akan melakukan kesalahan. Mungkin saat mahasiswa ada yang ingin menyontek, kemudian terjadi konflik bahwa itu tidak bagus. Di lain fihak Id mendorong : Kalau tidak menyontek tidak lulus nanti. Keputusan baik bila kita tidak menyontek, walaupun harus remedy.

Apa yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari banyak sekali hal-hal yang kita tidak sadari. Diri kita tak pernah sadar kenapa kaki kita mengambil posisi tertentu saat kita duduk. Karena apa yang dilakukan kaki tadi ada di dalam alam bawah sadar.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here