Dr. Reza Abdul Djabbar (New Zealand)

29 Rajab 1442 / 13 Maret 2021



Rasulullah SAW bersabda ,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

”Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”. (HR. Ibnu Majah. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani)

Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim yang tua atau muda, yang kaya atau miskin, yang raja atau hamba yang laki-laki atau perempuan. Allah SWT mewajibkan kepada majelis ini sehingga apapun profesi kita, apapun perniagaan kita, berapapun umur kita , kita harus menjadi seorang Thullab (bentuk plural dari Thollib atau seorang penuntut ilmu).

Kita haqul yakin bahwa apapun yang disebutkan oleh Rasulullah SAW keseluruhannya adalah wahyu (revelation). Apapun yang diajarkan oleh Rasulullah SAW apakah itu percakapan, apakah itu mimpi beliau SAW, apakah itu perbuatan beliau SAW, kesemuanya kita yakin. Ini adalah akidah seorang mukmin.

Allah SWT berfirman:

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوٰى ۗ (3) اِنْ هُوَ اِلَّا وَحْيٌ يُّوْحٰى  ۙ (4)

“dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut keinginannya.
Tidak lain (Al-Qur’an itu) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya),” (QS. An-Najm 53: Ayat 3-4)


Kesempurnaan Dalam Islam

Sebenarnya ini bukan topik baru, tetapi jarang kita bahas. Ini tidak berarti bahwa kita tidak boleh membahas hal-hal yang lain tetapi penting kita sadari bahwa islam ini adalah agama yang Allah SWT telah menangkan.

Allah SWT berfirman:

هُوَ الَّذِيْۤ اَرْسَلَ رَسُوْلَهٗ بِا لْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهٗ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهٖ  ۙ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ

“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk Al-Qur’an dan agama yang benar untuk diunggulkan atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” -(QS. At-Taubah 9: Ayat 33)

Allah telah menurunkan agama ini sebagai guidance, sebagai teladan , complete example dan agama yang benar. Yang menarik Allah SWT telah mengatakan : “liyuzh-hirohuu ‘alad-diini kullihii” (untuk diunggulkan atas segala agama).

Allah SWT telah menangkan agama ini diatas agama-agama yang lain. Dan kalau Allah telah menangkan maknanya adalah yang telah lampau, yang ada hari ini dan yang akan datang. All inclusive, tidak ada satu agamapun, tidak ada satu milahpun, tidak ada satu believe system yang bisa menyaingi Islam

Walaupun orang Musyrik paling tidak suka kalau ada Muslim yang komplit. Makna komplit adalah harus mengacu Umat Salaf. Umat Salaf adalah generasi terbaik yang pernah ada di muka bumi.

Rasulullah SAW bersabda:

خَيْرَ أُمَّتِـي قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik umatku adalah pada masaku. Kemudian orang-orang yang setelah mereka (generasi berikutnya), lalu orang-orang yang setelah mereka.” (Shahih Al-Bukhari)

Jadi kalau kita bicara ini adalah bicara generasinya para Sahabat r.a , kita juga bicara generasi para Tabi’in, dan kita bicara generasinya para Tabi’ut Tabi’in dan setelahnya lagi.

Yang menarik sebenarnya generasi awal Umat Salaf ini atributnya apa? Apa yang membuat mereka keren? Kenapa menjadi contoh masyarakat?
Kita melihat misalnya, kalau kita melihat tentang imam :

Imam empat madzab, kita lihat para Tabi’in, kita lihat para Sahabat, kita akan menyaksikan dalam diri mereka ini adanya kesempurnaan.

1. Mereka pasti ahlul Al Qur’an
2. Mereka juga pasti ahlul Hadits
3. Mereka juga punya kelebihan di atas ilmu-ilmu Sains. Kebanyakan mereka semua ahli sains.
4. Mereka juga ahlul Haji dan Umrah.
5. Mereka juga ahlul Thoribat, orang-orang yang berbadan besar, tegap, kuat menjaga atas negara islam yang terus bertambah besar.
6. Mereka juga para Pedagang.

Point utamanya yang mesti kita sampaikan mereka tidak makan dari rakyat. Walaupun ada keadaan dimana para ulama harus digaji.

Kita lihat :
Al Imam al Hasan, Al Imam Ibnu Mubarok, al Imam Malik bin Dinar, Imam Yazid , Fudha’il bin Iyadh, terus ke generasi selanjutnya Imam Ahmad bin Hambal, Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i. Imam Sufyan ats-Tsauri. Kita saksikan keadaan komplit ini.

Keadaan ini ketika kita seorang dokter, ketika kita seorang Insinyur, seorang Pedagang, seorang Profesor seharusnya menjadi cikal bakal seorang ulama. Ulama ini adalah edisi komplit. Kita mengaji di yaumul akhir yang ditonton adalah Salaful Umah.

Ketika kita bicara makna dari Perfection. Allah SWT menyatakan tentang Kesempurnaan ini di dalam Al Qur’an sebagai sebagai sesuatu yang namanya Ihsan.

Rasulullah SAW bersabda dalam hadits arbain ke 17.

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَةَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ وَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ

“Sesungguhnya Allah memerintahkan berbuat baik terhadap segala sesuatu. Jika kalian hendak membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang baik. Jika kalian hendak menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaklah kalian menajamkan pisaunya dan senangkanlah hewan yang akan disembelih.” (HR. Muslim)

Ini luar biasa karena ketika Nabi SAW mengatakan segala sesuatu di atas kesempurnaan maknanya :
– Ketika mengemudikan mobil, benar- benar sempurna
– Ketika membuka botol minuman, untuk minum. Membukanya mengucap basmalah, cara minumnya benar.
– Ketika mencuci piring, mengambil piringnya benar, menaruhnya benar, tidak asal kerja.
– Membuka pintu benar, mengambil piring benar, makan dengan benar, mengenakan baju benar dengan memperhatikan mana sunah dan mana bukan sunah.

Karena keadaannya adalah Allah perintahkan :
“Kerjakan dengan sempurna!”.
Ini perintah, ini “amar” , seperti perintah
Allah SWT dalam firmanNya :

وَتَرَى الْجِبَا لَ تَحْسَبُهَا جَا مِدَةً وَّهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَا بِ  ۗ صُنْعَ اللّٰهِ الَّذِيْۤ اَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ  ۗ اِنَّهٗ خَبِيْرٌ بِۢمَا تَفْعَلُوْنَ

“Dan engkau akan melihat gunung-gunung, yang engkau kira tetap di tempatnya, padahal ia berjalan seperti awan berjalan. Itulah ciptaan Allah yang mencipta dengan sempurna segala sesuatu. Sungguh, Dia Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Naml 27: Ayat 88)

Allah menciptakan segala sesuatunya dengan kesempurnaannya. Allah juga menunjukkan bahwa kemampuan Allah diluar kemampuan para makhluk. Sebagaimana Allah SWT memberikan suatu gambaran bahwa perbandingannya dengan penciptaan gunung.

Seorang yang menerima islam akan menjadi seorang yang muslim. Kemudian tingkat atasnya adalah dia Iman dan akhirnya Ihsan. Ketika dia iman maka dia menjadi Mukmin.
Mukmin adalah seorang muslim yang telah menerima islam kemudian dia melakukan apa yang Allah perintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang Allah. Kata kunci dasarnya adalah minimum requirements.

Kemudian ketika mencapai yang lebih tinggi lagi dikatakan sebagai seorang Mukhsinin. Mukhsinin adalah orang -orang yang bukan hanya meninggalkan larangan dan melakukan apa yang Allah perintahkan, tetapi ‘beyond’ , lebih jauh dari itu.

Misalkan Allah SWT memerintahkan : “Bayarlah Zakat!” Mereka tidak hanya membayar zakat, tetapi shodaqohnya rajin dan infaknya giat. Dia adalah seorang Mukhsin.

Konsep Excellence ini adalah konsepnya Para Umat Salaf, konsep Para Sahabat. Ketika kita mengaku sebagai seorang muslim : “Isyhadu bi Anna Muslimuun”- (Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Islam).
Bisa saja dia muslim tapi :
– Membuang sampah sembarangan.
– Ketika parkir mobil atau motor asal-asalan. Tidak berfikir apakah merepotkan yang lain atau tidak.
– Di rumah sebagai seorang suami tidak berfikir atas keletihan istri.


Komponen Kesempurnaan

Komponen dari kesempurnaan ada empat. Kalau ditambahkan dalam Al Qur’an, dalam Sunah ketika kita bicara tentang Ihsan excellent ini

1. Sincerity (Keikhlasan)

Hal pertama yang kita tuju dalam perbuatan adalah adanya Keikhlasan.
Kita juga yakin bahwa anak Adam ini tempatnya salah. Artinya ketika kita memperjuangkan kesempurnaan (excellent) tidak berarti kita tidak punya kesalahan. Karena kesalahan ini adalah keniscayaan di atas penciptaan manusia.

Nabi Muhammad SAW bersabda,

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ.

“Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang bertaubat”.(HR Tirmidzi).

Kesempurnaan tidak berarti tidak pernah salah, bukan itu artinya. Tetapi ketika kita salah bagaimana menyikapinya. Itu yang memberikan perbedaan antara seorang Muslim, Mukmin dan Mukhsin.

Adalah ikhlas (sincerity). Seorang yang ikhlas ketika dia melakukan sesuatu dia tidak merasa terbebani. Dia merasa bahwa dia punya suatu misi, punya suatu kewajiban atas pekerjaannya.

Ikhlas dulu atas pekerjaannya. Ini akan memberikan kita modal paling utama. Karena ada keikhlasan , ada sincerity dalam pekerjaan itu, maka bebannya terkurangi.

Seorang Mukmin ketika dia memulai shalat dia meminta pertolongan Allah dan kita ikhlas.

2. Completeness (Tuntas)

Hal kedua dalam kesempurnaan adalah adanya Completeness. Completeness ini maknanya dia berazzam ketika akan memulai pekerjaan pasti akan tuntas.

Kadang diantara kita kalau ada barang rusak bisa membongkar tapi tidak bisa memasang kembali. Atau bisa mengerjakan tetapi setengah hati. Mungkin dia awalnya ikhlas, tetapi setengah hati. Ini bukan kesempurnaan. Kita harus Ikhlas dan Tuntas secara keseluruhan.

Ini berlaku ketika :
– Kita mengurus anak
– Ketika kita membikin makanan
– Apapun yang kita lakukan harus Tuntas.

3. Tastefullness (adanya Standardisasi)

Hal yang ketiga adalah adanya suatu Standardisasi. Maknanya kita harus tahu mana barang bagus dan mana barang tidak bagus.

Kalau bapak sedang bekerja di rumah harus faham. Kalau isteri minta tolong standardnya apa.? Karena ketika standardnya tidak ada, meski ikhlas dan selesai tetapi tidak memenuhi keinginan.

Misal ada yang minta tolong pindahkan meja. Mungkin kita ikhlas, dan kita kerjakan tapi kita tidak mikir benar atau tidak itu ? Tentunya kita harus tahu standardnya apa?

Atau sebaliknya seorang suami minta tolong pada istri :
“Tolong bikinin kopi satu”.
Istrinya ikhlas memang kopinya jadi, tapi mungkin dia tidak berfikir cukup tidak kopinya? Gulanya benar atau tidak? Kalau tidak gula, mungkin biasanya suami memakai susu, dia harus tahu.

Ini adalah Tastefulness yang harus diketahui bagaimana standarisasi membuat barang menjadi bagus.
Bukankah Allah telah mengatakan tadi : “liyuzh-hirohuu ‘alad-diini kullihii”
(untuk diunggulkan atas segala agama).

Bahwa agama islam telah dimenangkan, tidak ada yang lain.
Pointnya adalah , kalau kita kerja setengah-setengah Allah menjadi marah. Lagi-lagi Allah SWT telah mengingatkan kita :

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ کَآ فَّةً  ۖ 

“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 208)

kaffah ini maknanya secara holistic.
Jangan yang mungkin kita setuju, yang kita lakukan yang sedikit. Tetapi untuk perkara lain yang kita tidak bisa tidak kita lakukan. Tidak bisa begitu! karena nilainya akan jadi kecil benar, tak akan ketemu yang namanya Ihsan, tak akan ketemu yang namanya perfection kalau kita tidak masuk islam secara holistic.

4. Correctness (Kebenaran).

Kalau kita datang dengan Ikhlas, dengan Tuntas, dengan Standardisasi tapi diatas itu kita juga melihat secara kepantasan benar atau tidak?
Point terakhir dari kesempurnaan adalah benar atau tidak.

– Ini sudah selesai dengan benarkah?
– Sudah tersaji dengan benarkah?

Jadi dengan Sincerity, Completeness, Tastefullness dan Correctness, Ini adalah komponen dari ihsan , komponen dari perfection yang harus kita lengkapi untuk mendapatkan hasil yang namanya ultimate perfection.

Sejarah membuktikan bahwa para ilmuwan kaum muslimin di dalam diri mereka hadir yang namanya ihsan. Kita mengerti bahwa mereka faham Al Qur’an, faham As Sunah dan faham yang namanya Tijaroh (perniagaan) dan faham yang namanya Sains.

Kita harus hidupkan ini. Ketika kita tidak mampu ini maka kita tidak akan mampu menjadi bagian dari Ihsan atau Perfection. Lawan dari Perfection adalah Mediocre. Sesuatu yang kurang dari Kesempurnaan adalah pekerjaan Rata-rata.

Akan rugi jika mengaku seorang muslim hanya rata-rata. Jalannya tidak benar. Ketika mengundurkan mobil saja, mundurnya tidak benar. Ketika jualan, jualannya tidak benar. Ini jelas bukan esensi dari maqashid Assyariah.

Muslim jelas adalah jalan Terang, jalan perfect dan siapapun yang mengikuti islam dan memasuki islam secara kaffah, secara holistic pasti akan jadi Pemenang! Karena Allah yang bilang.
Ini pilihan kita apakah kita mau jadi Pemenang atau kita terima jadi Pecundang!

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here