Dr. dr Zaenal Muttaqien Sofro AIFM, Sport & Circ Med

22 Rajab 1442 / 6 Maret 2021



Kata Kuncinya Adalah Kesadaran

Allah SWT berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا الْاِ نْسَا نُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيْمِ ۙ (6) الَّذِيْ خَلَقَكَ فَسَوّٰٮكَ فَعَدَلَـكَ ۙ (7)

“Wahai manusia! Apakah yang telah memperdayakan kamu berbuat durhaka terhadap Tuhanmu Yang Maha Pengasih. Yang telah menciptakanmu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikanmu seimbang,” (QS. Al-Infitar 82: Ayat 6-7)

Beberapa hari yang lalu saya diminta untuk menyampaikan satu kajian yang berkaitan dengan Khomr. Saya kadang-kadang berfikir, orang yang lama di Pemalang kalau salah menulis bisa jadi Khamir. Khamir itu nama jajanan di Kampung Arab.

Dulu mungkin sewaktu sekolah di SMA
sudah pernah mendengar suatu ungkapan : “al-khamru ma khamaral -‘aqla”. Artinya, “khomr ialah segala sesuatu yang merusak akal” (HR Bukhari Muslim).
Jadi memang betul bahwa Khomr itu merusak akal.

Saya ingin mengajak teman sejawat bagaimana kalau kita bekerja sebaiknya tidak localize, tapi berfikirlah secara umum, menyeluruh. Dalam hal ini jangan hanya fokus pada masing-masing organ. Tetapi ingatlah bahwa sistem organ itu dibawah pengawasan dan perintah dari otak. Jadi otak harusnya senantiasa kita perhatikan.

Kalau pengajian kita ini dikatakan Poros Padang-Semarang, maka ke depan saya berkeinginan bisakah kita senantiasa menghubungkan Poros antara jantung dan otak?
Bisakah kita selalu ada komunikasi antara Jantung dan Otak, antara Heart and Head.?

Hari ini kita dipertemukan melalui Syaraf Sosial. Syaraf Sosial membuktikan adanya hubungan antara jantung dan wajah. Ada hubungan antara jantung dan ucapan kita.
Adanya Poros Padang-Semarang mengilhami kita adanya By Direction , ada Top down dan Bottom up. Kalau ini terputus maka orang larinya ke kisruhan.

Lebih-lebih dengan suasana kehidupan bermasyarakat, berbangsa yang setiap saat kita menghadapi permasalahan terus. Kita saling gontok-gontokan ini mengingatkan kita pada surat Al An’am ayat 65 :

قُلْ هُوَ الْقَا دِرُ عَلٰۤى اَنْ يَّبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَا بًا مِّنْ فَوْقِكُمْ اَوْ مِنْ تَحْتِ اَرْجُلِكُمْ اَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَـعًا وَّيُذِيْقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ ۗ اُنْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْاٰ يٰتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُوْنَ

“Katakanlah (Muhammad), Dialah yang berkuasa mengirimkan azab kepadamu, dari atas atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan yang saling bertentangan dan merasakan kepada sebagian kamu keganasan sebagian yang lain. Perhatikanlah, bagaimana Kami menjelaskan berulang-ulang tanda-tanda kekuasaan Kami agar mereka memahaminya.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 65)

Kita diminta untuk senantiasa sadar :
Undzur (اُنْظُرْ) – Perhatikan!
Orang yang memperhatikan itu pasti hubungan antara jantung dan otak bekerja dengan baik. Kita tidak bisa memperhatikan kalau tidak fokus. Allah menghendaki kita untuk senantiasa fokus.

Yang diminta kita itu sadar semenjak kita bangun tidur. Kenapa ada panggilan adzan :
: اَلصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ
Ash-shalaatu khairum minan-nauum
(Sholat itu lebih baik dari pada tidur)
Shalat adalah cermin kesadaran puncak habluminallah dan habluminanas.

Kalau kita melihat alam semesta, kita ingat pada Surat Al Mulk ayat 15 :

هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ لَـكُمُ الْاَ رْضَ ذَلُوْلًا فَا مْشُوْا فِيْ مَنَا كِبِهَا وَكُلُوْا مِنْ رِّزْقِهٖ ۗ وَاِ لَيْهِ النُّشُوْرُ

“Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahi lah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.”
(QS. Al-Mulk 67: Ayat 15)

Allah menciptakan bumi menjadi jinak. Kita semua bisa duduk, bisa berkomunikasi virtual lewat Zoom karena bumi sudah dijinakkan. Yang tadinya senantiasa bergejolak persis ketika Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah. Dulu ketika itu siapapun yang masuk ke kota Madinah pasti sakit. Tapi dengan keberadaan Rasulullah di kota Madinah itu alam di kota Madinah menjadi aman-tenang. Walaupun jama’ah haji tahun ini kalau jadi berangkat tidak boleh masuk ke Madinah.

Jangan-jangan virus Covid-19 yang baru ini lebih ganas! Subhanallah, pengetahuan yang kita miliki itu sangat sedikit. Meskipun begitu yang kita tonjolkan jangan kekhawatiran, tetapi ketenangan hati. Meski banyak teman-teman kita wafat karena Covid-19, banyak sahabat kita dirawat di ICU karena Covid-19, tetapi kita menyikapi hal semacam ini tidak boleh dengan hati yang menciut, takut.

Ketika kita takut justru Immunoglobulin A (IgA) kita menjadi turun. Ketika kita stress 5 menit saja maka IgA atau sistem pertahanan tubuh terluar kita turun selama 8 jam. Tetapi kalau kita gembira 5 menit maka IgA ini akan meningkat pesat selama 18 jam.

Ketika kita mendiskusikan tentang Covid-19 bawalah ke arah Surat Al Mulk, kalau memang Covid-19 sampai menjadikan kematian.

Allah SWT berfirman:

تَبٰرَكَ الَّذِيْ بِيَدِهِ الْمُلْكُ ۖ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ ۙ (1) ٭لَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَا لْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًا ۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُ ۙ (2)

“Maha Suci Allah yang menguasai segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun,” (QS. Al-Mulk 67: Ayat 1-2)

Perlu bagi kita setiap menjelang tidur malam membaca Surat Al Mulk.
Ingatlah bahwa kita ini semua adalah peserta ujian dari Allah SWT. Dan istimewanya surat Al Mulk ini ditutup dengan ayat yang meminta kita untuk selalu sadar.

Allah SWT berfirman:

قُلْ اَرَءَيْتُمْ اِنْ اَصْبَحَ مَآ ؤُكُمْ غَوْرًا فَمَنْ يَّأْتِيْكُمْ بِمَآءٍ مَّعِيْنٍ

“Katakanlah (Muhammad), Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering; maka siapa yang akan memberimu air yang mengalir?” (QS. Al-Mulk 67: Ayat 30)

Kalau alam kesadaran ini disabot oleh minuman keras, maka kita jadi tidak sadar.

Kita ingat alam semesta, kita ingat Surat Ali Imran.

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ وَا خْتِلَا فِ الَّيْلِ وَا لنَّهَا رِ لَاٰ يٰتٍ لِّاُولِى الْاَ لْبَا بِ ۙ (190)
الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَا مًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَا طِلًا  ۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَا بَ النَّا رِ (191)

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 190-191)

Kita ini umumnya jam 02.00 sudah “on air” bermunajad meskipun secara fisiologis juga agak mengantuk. Akan tetapi kita senantiasa berjaga-jaga supaya tetap sadar karena disemangati oleh turunnya wahyu ketika Rasulullah menjelang Subuh.
Bertubi-tubi kita dibangunkan dari alam tidur kita dan diminta memperhatikan bagaimana Allah menciptakan.

Kita sebagai manusia tidak pernah menciptakan apa-apa! Kita hanya meramu! Ketika ibu-ibu membuat Sambal, adakah ibu-ibu yang menciptakan lomboknya? Bahkan Terasinya yang dari Juana itu juga cuma hasil pencampuran. Bahan-bahannya semuanya dari ciptaan Allah. Tidak ada yang diciptakan manusia.

Di malam hari kita tidur dan diambil kesadaran kita. Bila Allah berkehendak nanti kesadaran dikembalikan lagi.
Alhamdulillah kita pagi ini ada waktu , kita isi untuk pengajian. In syaa Allah, Allah sangat senang, dan majelis Taklim selalu dihadiri para Malaikat. Dan istimewanya pengajian ini yang hadir banyak sekali, dari Balikpapan sampai Aceh. Ingat Aceh ingat Kopinya. Kopi yang disaring pakai saringan mirip Kaos kaki. Sehingga kita sadar, dan terus membuka mata. Ini salah satu usaha supaya kita bisa berdzikir terus menerus.

Di siang hari kita diharapkan untuk sadar. Walaupun seusia kita ada yang mulai jadi pelupa. Kita lupa dimana menaruh ballpoint, kadang-kadang kita lupa dimana kaca mata kita. Ini mengingatkan kita Surat Al Hajj ayat 5


وَمِنْكُمْ مَّنْ يُّرَدُّ اِلٰۤى اَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِنْۢ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْـئًـا ۗ 

“dan ada pula di antara kamu yang dikembalikan sampai usia sangat tua (pikun), sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang telah diketahuinya”- (QS. Al-Hajj 22: Ayat 5)

Bila kita ditanya kehidupan kita masa SD sudah banyak yang lupa, jangankan masa SD bahkan dengan sesama alumni mahasiswa saja kadang kita lupa nama teman kita. Jadi pengetahuan kita, sedikit demi sedikit sudah diambil.

Maka waktu ini sangat luar biasa. Kita bisa membaca Surat Al Qaf ayat 16

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِ نْسَا نَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهٖ نَفْسُهٗ ۖ وَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِ

“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qaf 50: Ayat 16)

Allah senantiasa memantau jangankan yang kita batin, yang lebih rahasia dari itupun Allah tahu. Ini semua merupakan peringatan bagi semua yang berakal.

Rasulullah SAW sampai menangis tersedu-sedu ketika turun ayat ke 190-191 Surat Ali Imran di atas.
Kata kuncinya adalah : Kesadaran.
Sampai-sampai khotib jum’at diwajibkan untuk selalu mengingatkan kepada jamaah tentang alam akhirat.

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَـنْظُرْ نَـفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۚ وَا تَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ بِۢمَا تَعْمَلُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk akhirat, dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr 59: Ayat 18)

Mereka yang sekolah bahkan sampai jenjang S3 tidak akan mendapat pelajaran tentang alam akhirat. Bersyukur kita bahwa Allah mengajar kita.

Allah SWT berfirman:

اَلرَّحْمٰنُ ۙ (1) عَلَّمَ الْقُرْاٰ نَ ۗ (2) خَلَقَ الْاِ نْسَا نَ ۙ (3)
عَلَّمَهُ الْبَيَا نَ(4)

“Allah Yang Maha Pengasih, Yang telah mengajarkan Al-Qur’an. Dia menciptakan manusia, mengajarnya pandai berbicara.” (QS. Ar-Rahman 55: Ayat 1-4)

Jadi guru kita yang sesungguhnya adalah Allah. Termasuk kita belajar pada hari ini adalah dalam rangka :
– tawaashou bil-haqqi wa tawaashou bish-shobr (saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran)(QS. Al-‘Asr 103: Ayat 3)
– ud’u ilaa sabiili robbika bil-hikmati wal-mau’izhotil-hasanati wa jaadil-hum billatii hiya ahsan. (Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik) (QS. An-Nahl 16: Ayat 125)

Kalau forum-forum kita selalu disemangati oleh ilmu-ilmu Al Qur’an, in syaa Allah kita akan memperoleh manfaat yang banyak.

Ayat berikutnya Allah SWT berfirman:

وَلَا تَكُوْنُوْا كَا لَّذِيْنَ نَسُوا اللّٰهَ فَاَ نْسٰٮهُمْ اَنْفُسَهُمْ ۗ اُولٰٓئِكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ

“Dan janganlah kamu seperti orang- orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.” (QS. Al-Hasyr 59: Ayat 19)

Dalam keadaan tidak dipengaruhi khomr saja kita bisa lupa. Apalagi kalau kita mengonsumsi khomr !
Tanpa dipengaruhi khomr untuk memposisikan diri menjadi orang yang sadar saja tidak mudah.
Naudzubillahi min dzalik, dalam keadaan kita lupa Allah, kita bisa lupa terhadap diri kita sendiri.
Saya ingatkan agar bila kita membaca surat Al Hasyr jangan hanya ayat 18 saja. Tetapi sepasang dengan ayat 19.

Kembali ke Surat Ali Imran ayat 190-191 semangatnya adalah bahwa kita selalu dalam keadaan sadar diri.
Maka kita harus mudah memaklumi orang lain. Jangan terlalu cepat menghakimi , jangan terlalu cepat menyalahkan karena sebetulnya manusia itu sendiri lebih banyak tidak sadar.

Kesadaran manusia yang diberikan Allah hanya 10%. Sisanya yang 90% meskipun tidak tidur, manusia sebetulnya tidak sadar.

Mengapa Rasulullah diutus untuk memperbaiki akhlak?
Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ

“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan keshalihan akhlak.”- (HR. Al-Baihaqi).

Kita seringkali mengatakan ‘akhlak’, tapi tanpa diembel-embeli kata sifat. Semestinya adalah ‘akhlakul karimah’.
Kalau hanya kata akhlak saja, masih ada kemungkinan menjadi akhlak Mazmumah dan akhlak Mahmudah.
Akhlak Mahmudah sama dengan Karimah. Berbicara tentang Akhlak kita harus membaca surat ke 49 : Surat Al Hujurat.

Kata kuncinya adalah kesadaran. Dalam keadaan berdiri , duduk ataupun berbaring dia selalu berdzikir.
Kita ini kalau untuk mau berhubungan kadang membutuhkan waktu lama. Karena ada orang yang tak mau terganggu oleh WA.

Di zaman sekarang ini kalau tidak hati-hati waktu kita akan habis untuk menghapus WA yang masuk. Belum lagi untuk membaca. Apa lagi kalau mau membaca berita-berita yang cenderung meningkatkan adrenaline sehingga cholesterol naik, kadar gula naik dan darah mudah menggumpal. Karena suasananya akan membuat kita terpancing.

Maka dengan banyak berdzikir hati menjadi tenang. Bahkan shalat kalau tidak sadar tidak bisa.
Shalat harus sadar betul. Tetapi apa yang terjadi? Begitu takbiratul ihram yang merupakan rambu-rambu yang artinya kita mengharamkan hal-hal yang mengganggu kekhusyukan kita. Banyak gangguan kita alami.

Allah SWT berfirman:

وَا سْتَعِيْنُوْا بِا لصَّبْرِ وَا لصَّلٰوةِ ۗ وَاِ نَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلَّا عَلَى الْخٰشِعِيْنَ ۙ 

“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Dan (
sholat itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk,” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 45)

Shalat yang khusyuk itu tidak mudah. Yang mengatakan Allah sendiri. Khusyuk akan mudah kalau syaratnya terpenuhi :

الَّذِيْنَ يَظُنُّوْنَ اَنَّهُمْ مُّلٰقُوْا رَبِّهِمْ وَاَ نَّهُمْ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَ

“yaitu mereka yang yakin bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 46)

Dia yang bisa adalah yang hanif.
Allah SWT berfirman:

اِنِّيْ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضَ حَنِيْفًا وَّمَاۤ اَنَاۡ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ ۚ 

“Aku hadapkan wajahku kepada Allah yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan mengikuti agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 79)

Jadi jangan sampai tubuh kita kemasukan bahan-bahan yang justru akan menghancurkan fungsi otak yang dengan susah payah sudah diciptakan Allah untuk memahami ayat-ayatNya.



BERSAMBUNG BAGIAN 2


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here