Dr.dr.M. Masrifan Djamil, MMR. MPH

15 Rajab 1442 / 27 Februari 2021




As-Shadr (Dada)

Qolbu adalah komandan dari semua komponen hati dalam diri kita.
Di dalam hati ada yang namanya dada (shadr) yang ada kaitannya dengan do’a. Usaha tetap ada, secara fisik, secara lahir tetapi juga ada usaha do’a kepada Allah karena kita tak mungkin berjalan sendiri, contohnya adalah ginjal.

Kita tidak pernah mengendalikan ginjal tetapi ginjal bekerja dengan indah sekali. Dari detik ke detik bekerja secara otonom, tidak dikendalikan oleh yang mempunyai, meskipun yang mempunyai katanya sakti bisa menekuk besi, atau di pedang tidak mempan ternyata tetap saja dia tidak bisa memerintah ginjalnya.

Ginjal bekerja terus menerus menyaring darah, jantung juga berdetak terus walaupun dia tidur. Terbukti bahwa dia tergantung kepada Allah SWT. (Allahush shomad).

As-Shadr berperan untuk merasakan, menghayati dan mempunyai fungsi emosional (marah, benci, cinta, indah, efektif). Shadr mempunyai potensi besar untuk menyimpan hasrat, niat kebenaran dan keberanian yang sama besarnya dengan kemampuan untuk menerima kejahatan dan kemunafikan.

Allah SWT berfirman:

فَمَنْ يُّرِدِ اللّٰهُ اَنْ يَّهْدِيَهٗ يَشْرَحْ صَدْرَهٗ لِلْاِ سْلَا مِ ۚ وَمَنْ يُّرِدْ اَنْ يُّضِلَّهٗ يَجْعَلْ صَدْرَهٗ ضَيِّقًا حَرَجًا كَاَ نَّمَا يَصَّعَّدُ فِى السَّمَآءِ ۗ كَذٰلِكَ يَجْعَلُ اللّٰهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ

“Barang siapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah, Dia akan membukakan dadanya untuk Islam. Dan barang siapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia sedang mendaki ke langit. Demikianlah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 125)

Kalau orang dikehendaki oleh Allah bisa menerima islam, maka dia dimudahkan untuk beribadah. Tetapi kita pernah dengar ucapan :
“Ngapain sih mengaji diulang-ulang gak pernah selesai?”.
Itu adalah suara dari dada yang disempitkan.

Memang yang namanya mengaji tak akan pernah selesai. Saya mengaji sejak kecil, sendirian. Dulu juga sempat komplain karena yang lain sudah sepuh semua.
“Kenapa anak kecil diajak?” Tetapi bapak saya berkata : “Tidak apa anak kecil mengaji, disebelah bapak saja”.
Hikmahnya adalah senang berdekatan dengan ulama.

Mudah-mudahan itu menjadi kebaikan buat saya dan juga kebaikan buat orang tua saya yang telah mengajak. Yang mengajak ke arah kebaikan mendapatkan pahala dari yang diajak. Yang diajak pahalanya tidak dikurangi. Maka saya sering menyemangati agar jamaah mengajak jamaah lain.

Dada orang yang tidak diberi petunjuk oleh Allah “dhoyyiqon” (sempit).
Dada sempit seperti orang naik ke langit, kenapa ?
Pada saat itu belum ada teknologi astronot. Tetapi Rasulullah SAW sudah mendapat khabar dari Allah SWT lewat malaikat Jibril bahwa kalau orang pergi ke langit dia tak bisa bernafas. Ternyata sekarang terbukti, para astronot harus membawa oksigen.

Maka kemudian kita berdo’a seperti yang diajarkan Nabi Musa ketika bertemu dengan Fir’aun.

قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي

“Musa berkata, ‘Robbis rohlii shodrii, wa yassirlii amrii, wahlul ‘uqdatam mil lisaani yafqohu qoulii’ [Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku” (QS. Thoha: 25-28)


Al Hawa

Dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai Nafsu.
Nafsu, desakan hati dan keinginan yang keras. Di dalamnya ada ambisi, kekuasaan, pengaruh dan keinginan untuk mendunia, merasakan kenikmatan.

Kenyataan nafsu :
1. Bisa menjadi musuh dari dalam qolbu
2. Dicintai dan dikuasai
Nafsu bisa menghancurkan qolbu

Allah SWT berfirman:

اَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰهَهٗ هَوٰٮهُ ۗ اَفَاَ نْتَ تَكُوْنُ عَلَيْهِ وَكِيْلًا ۙ 

“Sudahkah engkau (Muhammad) melihat orang yang menjadikan keinginannya sebagai tuhannya. Apakah engkau akan menjadi pelindungnya?” (QS. Al-Furqan 25: Ayat 43)

Banyak contohnya, ada trend di masyarakat misalnya musim akik. Orang berbondong-bondong mencari akik. Sampai kemana-mana dikejar, dan cuma untuk dikoleksi. Setelah itu selesai, karena tidak musim lagi.

Berikutnya musim sepeda. Ada yang beli sepeda dengan harga amat mahal. Berikutnya musim tanaman. Tanaman sangat mahal. Ada teman saya cerita tentang tanaman Gelombang Cinta. Tanamannya pada malam hari ditawar 8 juta tidak diberikan. Besuknya ternyata turun cuma jadi 600 ribu.
Kalau difikir ini tidak ada manfaatnya, artinya hanya memenuhi nafsu saja.

Seorang muslim bagusnya adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat.
Nabi SAW , beliau bersabda,

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ

“Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Jadi pilihlah tindakan apa yang bermanfaat untuk perjalanan panjang ke akhirat kelak. Berdampak positif ke sana atau tidak? Kalau tidak maka boleh ditinggalkan karena itu hanya asesori perjalanan saja.

Allah bertanya : a fa angta takuunu ‘alaihi wakiilaa ? Apakah engkau akan menjadi pelindungnya?
Artinya orang yang mempertuhankan hawa nafsu itu tertipu.

Kita sering lihat godaan harga di Televisi yang memacu nafsu untuk membeli, misal dengan pernyataan :
“Harga sekarang belum naik, minggu depan naik”.
Kalau pondasi keimanan tidak kuat, maka orang akan banyak tertipu. Apalagi kalau tidak mempunyai kemampuan, akhirnya bisa berbuat yang tidak benar : Menodong, mencuri dan sebagainya, naudzu billahi min dzalik.

Jangan sampai Hawa nafsu memenuhi qolbu. Akibatnya qolbu akan sakit bahkan bisa mati. Kita harus hati-hati.
Ada do’a yang diajarkan Nabi agar terhindar dari Hawa nafsu.

وَعَنْ زِيَاد بْنِ عِلاَقَةَ عَنْ عَمِّهِ ، وَهُوَ قُطْبَةُ بْنُ مَالِكٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : كَانَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقُوْلُ : (( اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلاَقِ ، وَالأَعْمَالِ ، وَالأَهْوَاءِ )) . رَوَاهُ التِّرْمِذِي ، وَقَالَ : (( حَدِيْثٌ حَسَنٌ)) .

Ziyad bin ‘Ilaqah meriwayatkan dari pamannya, yaitu Quthbah bin Malik r.a, ia berkata, Nabi SAW mengucapkan, “ALLOHUMMA INNI A’UDZU BIKA MIN MUNKAROOTIL AKHLAAQI WAL A’MAALI WAL AHWAA’ (artinya: Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari akhlak, amal, dan hawa nafsu yang jelek).” (HR. Tirmidzi)

Nafsu ada yang bagus ada yang jelek. Nafsu yang bagus adalah Nafsu Muthmainah, sedangkan Nafsu Lawwammah mendorong yang jelek.

Imam Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan. Akan tetapi imam yang lain mengatakan bahwa hadits ini sahih. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaliy mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih, perawinya tsiqqah.

Artinya kalau kita memakai do’a ini dan meyakini ini dari Nabi sudah boleh.
Yang tidak boleh adalah do’a yang berasal dari Hadits dhoif. Untuk fadhoilul amal boleh sebagai penguat amal sholeh tapi tidak boleh mengatakan dari Nabi. Yang boleh dinyatakan dari Nabi, minimal Hadits yang Hasan.

Kita hafalkan banyak do’a karena memang disuruh.

Allah SWT berfirman:

ادْعُوْنِيْۤ اَسْتَجِبْ لَـكُمْ ۗ 

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.” (QS. Ghafir 40: Ayat 60)


An Nafs

Sering diartikan dengan jiwa, watak manusia atau aku sebagai persona.
Menampung segala keinginan yang menjadi pendorong, nyala api yang siap membakar gelora semangat, gairah.

Rujukan ayat :

وَلَاۤ اُقْسِمُ بِا لنَّفْسِ اللَّوَّا مَةِ ۗ 

“dan aku bersumpah demi jiwa yang selalu menyesali dirinya sendiri.”
(QS. Al-Qiyamah 75: Ayat 2)

Ada ayat lain,

وَنَفْسٍ وَّمَا سَوّٰٮهَا ۖ  (7) فَاَ لْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰٮهَا ۖ (8) قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰٮهَا ۖ (9) وَقَدْ خَا بَ مَنْ دَسّٰٮهَا ۗ (10)

“demi jiwa serta penyempurnaan ciptaannya, maka Dia mengilhamkan kepadanya jalan kejahatan dan ketakwaannya, sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu),
dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams 91: Ayat 7-10)

Ini yang kemudian dikemas oleh para ulama sebagai Tazkiyatun Nafs. Suatu saat kita adakan kajian antara kejiwaan secara kedokteran kita gabung dengan kejiwaan secara ulama seperti Imam Ghozali dan lain-lain para ahli tentang ilmu Qolbu. Yang kitab-kitabnya banyak mengurai masalah Qolbu.

Diri kita ini sampai dinyatakan Allah dalam sumpah (Surat As Syams di atas). Semua orang punya dua potensi : Ketakwaan dan Kedurhakaan. Berarti kita harus menahan yang Kedurhakaan sampai titik yang dia tidak bisa berkutik, karena semua diisi oleh Ketakwaan. Supaya kedurhakaan hilang caranya dengan Tazkiyatun Nafs.


Tazkiyatun Nafs

Tazkiyatun Nafs adalah membersihkan jiwa dari kemusyrikan dan cabang- cabangnya, merealisasikan kesuciannya dengan Tauhid dan cabang-cabangnya dan menjadikan nama-nama Allah yang baik sebagai akhlaknya, disamping ubudiyah yang sempurna kepada Allah dengan melalui ketunduk patuhan kepada Rasulullah SAW

Nomer satu harus membersihkan Kemusyrikan. Diulang sampai dua kali dalam Surat An Nisa bahwa Allah tidak akan mengampuni dosa syirik.
Jadi hati-hati dengan dosa syirik. Jangan sampai sedikitpun ada dosa syirik dalam diri kita. Mungkin seseorang pernah mengalami Syirik kecil yaitu Riya, tapi jangan sampai jadi besar. Kalau ada riya cepat-cepat ditutup dengan amalan yang baik kembali kepada Tauhid.

Allah SWT berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَآءُ ۚ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِا للّٰهِ فَقَدِ افْتَـرٰۤى اِثْمًا عَظِيْمًا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 48)

Ada kisah tentang Wahsyi yang membunuh Hamzah r.a , paman Nabi Muhammad SAW. Karena tawaran hadiah dari Hindun, isteri Abu Jahal berupa pembebasan sebagai budak bila dapat membunuh Hamzah, maka Wahsyi membunuh Hamzah di perang Uhud dengan tombak.

Setelah dimerdekakan, Wahsyi ingin memeluk islam tetapi tidak berani ketemu dengan Rasulullah. Karena dikhabarkan Rasul sangat marah kepada pembunuh pamannya.
Akhirnya atas saran seseorang, Wahsyi menulis surat kepada Rasulullah. Ini yang saya baca di tulisan Pak Nasir.

Suratnya berbunyi :
“Saya ini banyak dosanya, saya banyak membunuh, saya syirik lama, saya berbuat maksiat apa saja yang saya suka. Tetapi saya kemudian mendengarkan dakwah Engkau Ya Rasulullah, saya ingin masuk islam. Tapi ada satu hal yang mengganjal, yaitu surat An-Nisa yang mengatakan bahwa Allah tidak akan mengampuni dosa syirik”

Pada waktu itupun Rasulullah SAW menunggu khabar dari Allah. Dan turunlah wahyu dari Allah.
Akhirnya Rasulullah memerintahkan juru tulis untuk menjawab Surat Wahsyi yang intinya orang tidak boleh putus asa terhadap rahmatnya Allah. (laa taqnathuu mir rohmatillaah)

Allah SWT berfirman:

قُلْ يٰعِبَا دِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰۤى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗ اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

“Katakanlah, Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar 39: Ayat 53)

Akhirnya Wahsyi masuk islam walaupun tidak bertemu Rasulullah. Beliau ada di Mekkah dan Rasulullah ada di Madinah.
Itu kisah tentang bagaimana syirik yang difikirkan oleh orang yang mempunyai hidayah. Dia, Wahsyi orang berkulit hitam, pembunuh bayaran. Di akhir kehidupannya Wahsyi menyampaikan pada Sahabat dan saudaranya :

“Saya mau menutup amalan-amal saya yang dulu jelek dengan amal sholeh karena janji Allah : Allah akan menutup amal jelek dengan amal kebaikan”.

Ketika Khalifah Abu Bakar memimpin umat Islam, ada pemberontakan Musailamah al Kadzab. Dia mengaku Nabi dan punya pengikut. Bahkan dia sempat mengarang Surat, salah satunya yang lucu Surat itu namanya Surat Kodok :
_”Wahai Kodok , Kodok yang selalu berbunyi mana kala hujan turun. Kodok yang beranak kodok …”_
Itu dikatakan oleh Musailamah al Kadzab sebagai wahyu dari Allah.

Ketika terjadi peperangan, Wahsyi memburu Musailamah al Kadzab karena Musailamah diminta bertaubat kembali kepada Islam tetapi menolak. Abu Bakar r.a memerintahkan untuk memerangi Musailamah al Kadzab. Wahsyi berhasil membunuh Musailamah al Kadzab. Pemberontakan itu akhirnya dapat dipadamkan, karena pengikut Musailamah cukup banyak.

Tazkiyatun Nafs yang pertama adalah menghilangkan syirik. Jamaah hajipun waktu talbiah juga mengumandangkan agar tidak syirik.

“Labbaik Allahuma labbaik,
Labbaik laa syarikka laka labbaik,
Innal haamda wanni’mata laka wal mulk, Laa syariika laka”.
Aku datang ya Allah, Aku penuhi panggilan-Mu. Kusambut panggilan- Mu, dan tiada sekutu bagi-Mu

Jangan sampai ada yang sudah haji lalu syirik. Bukan tidak mungkin, bisa terjadi kalau tidak mengaji. Karena terjadi pada satu kesempatan saat Ritual Haji, Thawaf mengelilingi Ka’bah dia melakukan kesyirikan. Dia mengira Ka’bah mempunyai sesuatu yang hebat yang nanti bisa dibawa pulang ke tanah air. Caranya dia bawa sajadah atau pecinya dan digosokkan ke Ka’bah. Meskipun ditegur askar penjaga dia tetap nekad.

Kemudian ada kisah seorang jama’ah Umroh yang menggunting kiswah Ka’bah. Kalau ditanya untuk apa, katanya untuk penglaris nanti di tanah air. Ini perbuatan syirik. Baru ritualnya saja sudah musyrik. Orang yang pulang Haji juga harusnya mempertahankan kemabruran Hajinya.

Berikutnya menghilangkan cabang-cabang syirik. Salah satu cabangnya adalah riya. Perbuatan riya harus kita hindari.

Kemudian merawat kesucian Tauhid dengan cabang-cabangnya. Tauhid harus bisa berwujud terhadap apa yang dituntunkan Allah.
Kalau Allah menyuruh kita shalat, kita kerjakan. Kalau Allah menyuruh kita mengeluarkan Zakat, jangan merasa keberatan. Atau diplintir-plintir diganti beras murah. Ini tidak berhasil merealisasikan kesucian Ketauhidan menjadi amal sholeh.

Menjadikan nama-nama Allah yang baik sebagai akhlaknya, disamping ubudiyah yang sempurna kepada Allah dengan melalui penghambaan kepada Rasulullah. Bukan penghambaan dalam arti Rasulullah sebagai Tuhan. Maksudnya ketundukan sebagai umat kepada Nabinya.

Menurut Imam Ghozali , Tazkiyatun Nafs dengan pendidikan akhlak. Akhlak itu tidak hanya kepada manusia. Ada akhlak kepada Allah, akhlak kepada Rasulullah, akhlak kepada manusia dan akhlak kepada alam sekitar, lingkungan kita termasuk akhlak kepada binatang.

Salah satu contoh akhlak kepada binatang, Rasulullah mengajarkan kita kalau menyembelih binatang harus memakai pisau yang tajam dan dengan satu sembelihan. Yang sudah haji mungkin pernah melihat penyembelihan onta. Ternyata cukup dua orang, satunya mengelus binatang, yang lain menyembelih dengan pisau kecil. Onta itu tetap berdiri damai, setelah darah keluar onta itu duduk. Jadi ontanya sangat tenang.

Menurut Ibnul Qoyyim merumuskan Tazkiyatun Nafs dengan tiga hal :
Ilmu, tadzakur dan riyadhoh.

Tentang Ilmu, ada satu hadits.
Rasulullah SAW bersabda,

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Berarti kunci untuk memperoleh Tazkiyatun Nafs adalah ilmu. Karena ilmu menjadi miftahul jannah. Ilmu mengoreksi, meluruskan apa-apa yang kita miliki terus-menerus. Kalau kita mendapat ilmu baru saat taushiyah, kita baru tahu kalau kita salah. Ternyata naiknya ilmu ini bertahap.

Ada orang yang merasa ibadahnya sudah bagus. Dia juga baik pada orang. Dia dalam Profesinya juga sudah baik. Dia merasa sudah baik tapi lalai bahwa shalatnya masih KW2.
Ini nanti menjadi masalah.

Rasulullah SAW bersabda :

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاَتُهُ، فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ، (رواه الترمذي)

“Sesungguhnya amal yang seorang hamba yang pertama kali dihisab di hari Kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya bagus, maka ia menang dan sukses. Dan jika shalatnya rusak, maka ia menyesal dan rugi.” (HR. At-Timidzi).

Maka kita perlu hati-hati, jangan sampai shalat kita KW2. Untuk itu bisa diperoleh kalau ada ilmunya, kalau mau mengaji. Akan tetapi biasanya orang kalau diajak mengaji bilang sudah tahu. Padahal mungkin ada bagian dari yang disampaikan ustadz merupakan hal baru. Mungkin yang lain sudah tahu, jadi disitulah kesabaran kita diuji dalam menuntut ilmu.

Allah SWT sendiri mengulang-ulang pelajaran kepada kita. Misalnya saja ada satu ayat “Aqimu sholah”, yang diulang-ulang terus berkali-kali.
Ada lagi ayat tentang karunia Allah dan rahmat-Nya yang juga sering diulang.
“fadhlullah wa rohmatihi kuntum minal khosirin”.

Kita memang diberi paparan yang terulang karena memang menurut pakar behaviour sience atau ilmu perilaku bahwa diulang-ulang supaya masuk ke dalam pemikiran, atau kalau dalam islam qolbu kita.

Kembali ke hadits di atas, kalau orang baru mencari jalan saja sudah dimudahkan ke Surga , apalagi ilmunya. Maka harus yakin bahwa dengan mengaji Online seperti ini sudah dijamin oleh Rasulullah akan dimudahkan jalan ke Surga. Bisa mengaji sambil santai di rumah. Tentu saja jangan sambil tidur. Saya berdo’a mudah-mudahan forum mengaji online seperti ini tetap dihadiri malaikat.

Tadzakur artinya kita selalu mengaitkan hasil dzikir harian kita. Baik dzikir pagi, petang maupun dzikir setelah shalat. Bahkan setiap saat kita berdzikir, mau masuk ke WC juga berdo’a, itu salah satu dzikir.

Riyadhoh adalah latihan , dalam bahasa Jawa disebut Riyala.
Riyadhoh itu adalah usaha seseorang (jiwa itu) untuk memperoleh sidik dan ikhlas. Dua hal yang ingin dicapai : Sidik (kebenaran) dan Ikhlas. Ikhlas adalah membersihkan niat hanya semata- mata untuk Allah.

Tidak setiap orang mampu menerima kebenaran. Ada orang yang takabur.
Dimensi yang disampaikan Rasulullah tentang sombong atau Takabur adalah

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.
Meremehkan orang, misalnya jika diajak mengaji dia bertanya-tanya :
“Siapa sih yang memberi pengajian? Orangnya kok tak terkenal, apa bisa?”.
Ini tanda-tanda merendahkan orang lain.


Rumus yang dianjurkan Imam Ghozali

– Menyucikan lahiriah dari semua hadats
Maka itu ada ulama yang menyarankan agar kita selalu menjaga wudhu. Ini berasal dari pengamalan Rasulullah SAW dan para Sahabat.
– Menyucikan seluruh anggota tubuh dari segala kejahatan dan dosa.
– Menyucikan jiwa dari akhlak-akhlak yang tercela
– Menyucikan rahasia diri dari selain Allah, dan ini merupakan cara bersuci para Nabi dan kaum shidiqin.
Jangan membuka status tentang suami atau isteri di FB ataupun WA. Itu urusan-urusan yang tidak pada semestinya. Kalau mengeluh kepada Allah saja atau langsung kepada orangnya dibahas dengan cara baik-baik.
– Penyucian jiwa mustahil dilakukan tanpa pengekangan diri terhadap sifat- sifat tercela, kerja keras dan kesungguh-sungguhan. Yang kemudian mengharuskan diri melaksanakan mujahadah (menahan diri) dan riyadlah (melatih).

Ada nasehat HAMKA dalam bukunya, agar melawan sesuatu dengan lawannya. Beliau memberi contoh kalau orang demam dilawan dengan Paracetamol atau dikompres es. Kalau disatukan maka demamnya kalah dan tubuh menjadi dingin.

Demikian pula hati yang keras harus dilunakkan dengan berbagai macam taushiyah. Dengan pemikiran ilmu , tadzakur dan riyadhoh.
Melawan bakhil dengan mencoba untuk memberi infak secara rutin, 5 ribu atau 10 ribu tiap pagi masuk ke kas masjid kalau Subuh dan sebagainya. Jadi sifat-sifat yang tercela dilawan sendiri dengan usaha yang keras.

Cara memohon pertolongan-Nya

Do’a agar kita tetap dalam iman dan islam :
“Yaa Hayyu Yaa Qoyyum, bi-rohmatika as-taghiits, wa ash-lih lii sya’nii kullahu wa laa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ainin”.

“Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri, dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekali pun sekejap mata tanpa mendapat pertolongan dariMu.”

Minta kepada Allah : Jangan sampai kita dilepas Allah sedikitpun, karena kita sama sekali tidak tahu organ- organ kita. Jantung kita bagaimana? Tahu-tahu ada yang harus dipasang ring.


Sabar Dalam Taat Kepada Allah

Kalau seseorang sedang taat kepada Allah, halangannya besar, jumlahnya ada 8 di Surat At Taubah ayat 24, mohon untuk dihafalkan.
Kalau kita breakdown sehari-hari adalah : Hawa Nafsu, Pekerjaan, Keluarga, Merasa Sudah benar, Riya, Syak.

Ketika kita sedang shalat , tiba-tiba teringat sesuatu. Apakah itu film seri yang ada di Televisi? Yang sedang marak sekarang drama Korea itu pas maghrib. Pada saat kita harus taat kepada Allah tetapi tergoda oleh Hawa Nafsu untuk menikmati film.

Godaan pekerjaan, tidak boleh melebihi dead line. Keluarga mengajak kemana sehingga menabrak Isya’. Padahal Isya’ itu merupakan prime time untuk shalat berjamaah di masjid. Demikian juga shalat Subuh.

Merasa sudah benar, tidak mau mengaji lagi. “Ngapain mengaji terus? Paling-paling cuma itu saja”.
Padahal setiap kajian yang panjang akan menyempurnakan ilmu yang ada.

Halangan lain adalah Riya, tadinya sudah benar tapi kemudian minta difoto, minta diupload. Dia senang dipuji, itu terkena riya. Padahal orang-orang dulu menyembunyikan shodaqohnya. Allah tidak melarang, apakah mau menampakkan atau menyembunyikan shodaqoh.

Halangan berikutnya adalah Syak’ atau ragu-ragu. Sekarang ini ada sekelompok orang dengan ideology yang aneh-aneh yang meragukan Wahyu pada Al Qur’an.

Ada yang menyatakan Tuhan itu sama, seperti roda sepeda, semua menuju ke tengah dan bertemu di tengah. Agama itu sama, semua baik-baik saja.
Kalau semua agama sama tak ada manfaatnya Rasulullah diutus ke dunia. Rasulullah tak perlu dakwah sampai terancam jiwanya.

Kenapa Rasulullah sampai menulis surat ke Kisra (Persia) , Romawi , Ethiopia dan sebagainya agar masuk islam? Meragukan itu namanya Syak’ , semuanya akan menghancurkan kesabaran kita pada Ketaatan kepada Allah SWT.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here