Dr.dr.M. Masrifan Djamil, MMR. MPH

15 Rajab 1442 / 27 Februari 2021



Pendahuluan

Ginjal kita itu kanan kiri, ada di dua tempat, kecil saja kira-kira antara 10-11 cm tapi kemampuannya luar biasa, yaitu Filtrasi ginjal. Ginjal menyaring darah kita yang 5 liter bagi laki-laki dan bagi yang perempuan 4,5 liter tanpa henti. Disaring betul dan teknik penyaringannya sangat luar biasa. Kita mungkin tidak menyadari kalau dalam tubuh kita ada organ yang seperti itu.

Ginjal dimasuki arteri. Ada yang masuk dan ada yang keluar. Jadi darah itu muter-muter dalam pembuluh yang kecil, mikroskopis dan jumlahnya jutaan di dalam ginjal. Karena oleh Allah SWT dalam proses pembentukannya dibuat melingkar- lingkar. Ditata melingkar dan panjang sekali.

Di dalam Cortex mengandung Nefron. Nefron inilah yang menyaring darah. Dari Renal Artery darah masuk ke ginjal dan keluar lewat Renal Vein. Kemudian ada Ureter yang turun ke bawah ke kandung kencing. Kemudian dikeluarkan lewat saluran urine.

Dalam ginjal ada supply dari darah yang masuk lewat kapiler yang sangat kecil. Hanya cukup dilewati sel-selnya darah, terutama sel darah merah yang bulat seperti donat, tetapi tengahnya tidak bolong. Cekung di tengah dan kadang agak flexible. Tapi flexibelnya tak boleh banyak, bisa pecah.

Haemoglobin atau sel darah merah ini yang menyebabkan kita kuat karena bisa mengambil oksigen ke paru-paru. Di dalam Nefron ada kapsul Bowman, dimana darah disaring. Setiap kapiler menyupply ke Nefron. Yang luar biasa di Nefron ini ada kemampuan memisah antara darah bersih dan sampah. Sampah dibuang dan darah yang bersih ditarik kembali.
Pertanyaannya kenapa Nefron tahu mana darah yang bersih dan mana sampah? Padahal kita tidak mengendalikan.

Maka Rasulullah SAW tiap pagi mengajari kita membaca Tasbih, Tahmid dan Takbir. Kemudian bangun tidur kita diajari untuk membaca :
“Alhamdulillahilladzii ahyaana ba’da maa amatana wailaihi nusyur (Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya lah tempat kembali).” (HR. Bukhari)

Karena dalam diri kita memang ada organ yang bekerja secara otomatis. Nefron itu jumlahnya jutaan dan kita tidak tahu. Maka mari kita bersyukur terus tidak henti-hentinya. Menjadi mukmin yang selalu bertasbih kepada Allah. Minimal setelah shalat kita tasbih 33 kali dan jangan cepat, sehingga tak jelas apa yang diucapkan. Dzikir perlu dipelankan agar lebih khusyuk, karena dzikir ini adalah pengisi kehidupan qolbu kita.

Pertanyaan berikutnya , kenapa Nefron bisa mengetahui sel darah dan protein tidak dibuang? Bila urine sampai ada darahnya pasti ada yang sakit atau kelainan. Maka tiap hari kitapun harus mengucapkan syukur, betapa hebatnya ciptaan Allah ini :

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ



Modal Kita Menghadap Allah

Modal Kita untuk ketemu dengan Allah SWT pada hari kiamat, selain amal sholeh dan ibadah kita adalah qolbun salim atau qolbu yang hidup, yang sehat dan di dalamnya diisi dengan hal-hal yang diajarkan oleh Allah.

Allah SWT berfirman:

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَا لٌ وَّلَا بَنُوْنَ ۙ (88) اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ ۗ (89)

“yaitu pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,” (QS. Asy-Syu’ara’ 26: Ayat 88-89)

Untuk membentuk qolbun salim perjalanannya jauh. Karena perjalanan kita di dunia saja panjang.

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam telah bersabda:

أَعْمَارُ أُمَّتِـي مَا بَيْنَ السِّتِّيْنَ إِلَى السَّبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ

“Umur-umur umatku antara 60 hingga 70 tahun, dan sedikit orang yg bisa melampui umur tersebut” (HR. Ibnu Majah).

Jadi kita yang sudah lansia harus sudah siap-siap dengan dzikir yang banyak memikirkan kematian, atau Pemutus kelezatan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ

“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan” (HR. An Nasai & Tirmidzi).

Kenapa disebut pemutus kelezatan, karena berpisah. Dan kalau sudah meninggal tak boleh lama di rumah. Rasul mengajarkan agar jenazah segera dimakamkan karena bagi yang sholeh ingin segera mendapatkan kenikmatan alam barzah. Tetapi bagi orang yang jahat dia akan takut. Saat jenazah diangkat dia tanya mau dibawa kemana ? Tapi tak ada yang dapat mendengar.

Bagi yang sholeh, imannya akan dibaguskan oleh Allah. Allah SWT berfirman:

وَا عْلَمُوْۤا اَنَّ فِيْكُمْ رَسُوْلَ اللّٰهِ ۗ لَوْ يُطِيْعُكُمْ فِيْ كَثِيْرٍ مِّنَ الْاَ مْرِ لَعَنِتُّمْ وَ لٰـكِنَّ اللّٰهَ حَبَّبَ اِلَيْكُمُ الْاِ يْمَا نَ وَزَيَّنَهٗ فِيْ قُلُوْبِكُمْ وَكَرَّهَ اِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَا لْفُسُوْقَ وَا لْعِصْيَا نَ ۗ اُولٰٓئِكَ هُمُ الرّٰشِدُوْنَ ۙ 

“Dan ketahuilah bahwa di tengah-tengah kamu ada Rasulullah. Kalau dia menuruti kemauan kamu dalam banyak hal, pasti kamu akan mendapatkan kesusahan. Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan, dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu, serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus,” (QS. Al-Hujurat 49: Ayat 7)

Zaman dulu orang Quraisy menghendaki agar Rasulullah SAW mengikuti mereka. Padahal kalau Rasulullah disuruh-suruh mengikuti umat, maka umat akan mendapat kesusahan. Ada kisah, bukan tafsir ayat ini, tapi untuk penjelasan saja.

Ketika Rasulullah menerangkan tentang kewajiban Haji. Kemudian ada seorang sahabat melakukan interupsi dengan sebuah pertanyaan : “Ya Rasulullah, hajinya berapa kali ? Apakah setiap tahun?”. Pertanyaan ini muncul karena mereka tahu musim haji itu tiap tahun. Rasulullah tetap sabar atas interupsi itu dan beliau diam tidak menjawab.

Pada kesempatan lain beliau menjelaskan : “Berhati-hatilah kalian, jangan banyak tanya kalau saya sampaikan ketentuan Allah. Kamu laksanakan saja, sami’na wa atho’na”.
“Karena kalau kemarin ketika saya ditanya tentang Haji tiap tahun dan saya katakan Iya, maka akan menjadi hukum wajib dan kamu tidak akan bisa melaksanakannya”.

Orang yang beriman akan merasa nikmat dengan iman dan ibadahnya. Ini bedanya dengan qolbu yang sakit. Qolbu yang sakit akan penuh dengan masalah, penuh dengan beban, penuh dengan ketidak-sukaan. Seperti pagi ini kita mengadakan Pengajian, orang yang qolbunya sakit tidak bisa menikmatinya. Mereka berfikir mestinya jalan-jalan saja dan habis itu makan-makan.

Ada berita gembira bagi orang yang senang duduk bersama dengan orang alim. Mengikuti pengajian itu lebih disukai dari pada ibadahnya. Ahli ilmu lebih disukai Allah daripada Ahli Ibadah.

Maka jangan sampai mengabaikan pengajian. Bila ada kesempatan maka jalanilah. Lebih-lebih saat ini, kita bisa mengaji dari rumah. Apalagi jika sudah pensiun. Oleh Allah, keimanan dijadikan indah dalam hatinya.
Maka bila qolbu selalu diisi dengan ilmu maka dia tidak senang kekufuran.
Kalau ada orang beriman tapi masih dicampuri kekufuran maka dia belum sampai ayat ini. Kita harus melatih terus, cara-caranya disampaikan oleh Para ulama, nanti akan kita jelaskan.

Dia dijauhkan dari kekufuran, kefasikan dan kedurhakaan.
Kefasikan saat ini antara lain suka membuat berita hoax, orang yang munafik itu juga fasik. Mereka tidak suka qolbunya diisi dengan keimanan.

Tentang Kedurhakaan , salah satu yang saya catat adalah birrul walidain (menghormati kedua orang tua), Rasulullah mengatakan bahwa setelah keimanan, maka yang terpenting adalah menghormati kedua orang tua.

Orang yang birrul walidain, taat kepada orang tua, menghormati orang tua, melayani orang tua sebaik-baiknya maka dia akan mendapatkan ganjaran yang luar biasa, termasuk di dunia. Dia mendapat keberkahan dalam hidupnya.

Saya mengamati banyak manusia, ini hikmahnya saya sampaikan. Saya punya saudara yang rela tidak sekolah. Tapi dia menyekolahkan semua adiknya sehingga jadi orang semua. Kebutuhan orang tuanya dicukupi, karena dulu orang tuanya bekerja memakai kekuatan fisik. Setelah lanjut usia tentu tak bisa lagi. Maka beliau yang mensupply seluruh kebutuhan orang tuanya.

Rumah orang tuanya dibangun dan orang tuanya didaftarkan haji, walaupun tak sempat berangkat karena keburu wafat. Namun tidak apa, karena ada fatwa ulama kalau mendaftar haji sudah dilakukan, sudah membayar ONH maka dia sudah dianggap dalam perjalanan haji.

Kemudian apa yang terjadi pada beliau? Hidupnya penuh berkah! Dulu tak punya rumah, akhirnya bisa punya rumah di Jakarta dan ditepi jalan raya. Kita yang melihat ikut merasakan kesenangan.

Tapi sebaliknya, anak yang tidak birrul walidain akan kena adzab. Bahkan sejak di dunia dia akan kena. Maka jangan sampai kita durhaka. Salah satu kedurhakaan pada Allah adalah durhaka kepada orang tua.

Nabi Muhammad SAW mengajarkan doa :

اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْإِيمَانَ وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوبِنَا ، وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِينَ

Ya Allah jadikanlah hati kami mencintai keimanan dan jadikanlah ia hiasan dalam hati kami. dan tanamkanlah kebencian kepada kami terhadap kekufuran, kefasiqan dan kedurhakaan. Dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus (HR Nasaa-iy)

Doa ini sebaiknya dihafalkan. Makin banyak do’a makin bagus karena do’a adalah ibadah. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ

”Doa adalah ibadah.” (HR. Tirmidzi)

Dan kita harus yakin bahwa do’a kita pasti diijabahi Allah, hanya saja waktunya terserah Allah.
Misalnya kita ingin Umrah atau Haji, berdo’a saja, karena umrah itu baik. Jangan sampai cita-citanya malah mendahulukan tour ke Eropa atau kemana. In syaa Allah keinginan akan diijabahi, akan mendapat kemudahan dari Allah SWT.



BERSAMBUNG BAGIAN 2

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here