Dr. H. Zuhad Masduki, MA

12 Rajab 1442 / 24 Februari 2021



1. Tafsir Surat As Syams ayat 1-8

Surat Asyams dimulai dengan sumpah Allah. Dan obyek sumpahnya cukup banyak. Obyek sumpah Allah ini berkaitan dengan makhluk-makhluk ciptaan Allah SWT yang sangat luar biasa. Ini menunjukkan keMahaKuasaan Allah SWT.

Allah SWT berfirman:

وَا لشَّمْسِ وَضُحٰٮهَا ۖ 

wasy-syamsi wa dhuhaahaa

“Demi matahari dan sinarnya pada pagi hari,” (QS. Asy-Syams 91: Ayat 1)

Matahari adalah makhluk ciptaan Allah yang sangat luar biasa yang menerangi alam semesta. Dari masa ke masa sampai masa yang kita tidak tahu kapan berakhirnya.

وَا لْقَمَرِ اِذَا تَلٰٮهَا ۖ 

wal-qomari izaa talaahaa

“demi bulan apabila mengiringinya,”
(QS. Asy-Syams 91: Ayat 2)

Ini difahami oleh para ulama bahwa bulan itu sinarnya merupakan pantulan dari sinar matahari. Kalau matahari sinarnya berasal dari dirinya sendiri.

وَا لنَّهَا رِ اِذَا جَلّٰٮهَا ۖ 

wan-nahaari izaa jal-laahaa

“demi siang apabila menampakkannya,” (QS. Asy-Syams 91: Ayat 3)

Waktu siang matahari tampak, karena permukaan bumi kita berhadapan langsung dengan matahari.

وَا لَّيْلِ اِذَا يَغْشٰٮهَا ۖ 

wal-laili izaa yaghsyaahaa

“demi malam apabila menutupinya (gelap gulita),” (QS. Asy-Syams 91: Ayat 4)

Waktu malam gelap gulita karena dampak dari perputaran bumi karena waktu itu belahan bumi bertolak belakang dengan matahari sehingga sinar matahari tidak sampai pada belahan bumi itu sehingga kita ada di waktu malam.

وَا لسَّمَآءِ وَمَا بَنٰٮهَا ۖ 

was-samaaa`i wa maa banaahaa

“demi langit serta pembinaannya ,” -(QS. Asy-Syams 91: Ayat 5)


وَا لْاَ رْضِ وَمَا طَحٰٮهَا ۖ 

wal-ardhi wa maa thohaahaa

“demi bumi serta penghamparannya,” -(QS. Asy-Syams 91: Ayat 6)

Bumi disini dikatakan dihamparkan oleh Allah SWT, ini tidak bertentangan dengan kenyataan ilmiah bahwa bumi itu bulat. Tetapi karena bumi itu sangat luas sehingga kita melihat bumi itu terhampar di hadapan kita karena begitu luasnya.

وَنَفْسٍ وَّمَا سَوّٰٮهَا ۖ 

wa nafsiw wa maa sawwaahaa

“demi jiwa serta penyempurnaan ciptaannya,” (QS. Asy-Syams 91: Ayat 7)


فَاَ لْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰٮهَا ۖ 

fa al-hamahaa fujuurohaa wa taqwaahaa

“maka Dia mengilhamkan kepadanya jalan kejahatan dan ketakwaannya,”
(QS. Asy-Syams 91: Ayat 8)

Penjelasannya Allah bersumpah demi jiwa manusia serta penyempurnaan ciptaannya sehingga mampu menampung yang baik dan yang buruk. Selalu Allah mengilhaminya dalam arti memberi potensi dan kemampuan bagi jiwa itu untuk menelusuri jalan kedurhakaan dan jalan ketakwaannya.

Manusia dipersilahkan memilih apakah dia mau memilih jalan ketakwaan atau mau memilih jalan kedurhakaan. Karena Allah SWT telah menciptakan manusia itu makhluk yang berbeda dengan makhluk-makhluk yang lain. Yaitu dia diberi kebebasan memilih dan kebebasan berkehendak.

Tetapi kalau manusia itu sudah memilih maka pilihan-pilihan ini punya konsekuensi bagi dirinya. Kalau dia memilih ketakwaan maka konsekuensinya baik. Kalau dia memilih kedurhakaan maka konsekuensinya buruk bagi dirinya. Inilah kehebatan manusia.

Menurut para ulama, ayat-ayat yang senada dengan ayat ini di Al Qur’an banyak, antara lain :

Allah SWT berfirman:

وَهَدَيْنٰهُ النَّجْدَيْنِ ۚ 

wa hadainaahun-najdaiin

“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan).” (QS. Al-Balad 90: Ayat 10)

Allah menunjukkan jalan kebaikan dan keburukan. Allah tidak menetapkan kepada seseorang itu mengikuti yang baik atau yang buruk. Masalah mengikuti adalah masalah pilihannya si manusia.

Allah SWT berfirman:

اِنَّا هَدَيْنٰهُ السَّبِيْلَ اِمَّا شَا كِرًا وَّاِمَّا كَفُوْرًا

innaa hadainaahus-sabiila immaa syaakirow wa immaa kafuuroo

“Sungguh, Kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.”
(QS. Al-Insan 76: Ayat 3)

Ini juga karena pilihan-pilihan dari manusia itu sendiri.
Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa manusia itu makhluk yang berganda tabiatnya. Ada kecenderungan baik dan ada kecenderungan buruk. Ini yang tidak bisa dihilangkan dari manusia.

Ayat berikutnya jawab sumpahnya.
Tadi kita sudah mengetahui yang bersumpah adalah Allah SWT, instrumen sumpahnya huruf Wau
Obyek sumpahnya cukup banyak :
– matahari dan sinarnya diwaktu pagi
– bulan yang mengiringinya.
– waktu siang apabila terang benderang
– malam apabila gelap gulita
– langit dan pembinaannya
– bumi dan penghamparannya
– jiwa dan penyempurnaannya yang bisa menampung kebaikan dan keburukan. Lalu Allah mengilhaminya jalan kedurhakaan dan jalan ketakwaan.


2. Tafsir Surat As Syams ayat 9-10


Allah SWT berfirman:

قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰٮهَا ۖ  (9) وَقَدْ خَا بَ مَنْ دَسّٰٮهَا ۗ (10)

qod aflaha mang zakkaahaa
wa qod khooba mang dassaahaa

“sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”
(QS. Asy-Syams 91: Ayat 9-10)

Kalau kita membaca kitab tafsir dari yang klasik sampai yang modern ada dua versi terjemahan ayat ini.
Versi yang pertama adalah mengembalikan kata gantinya kepada Allah, sehingga terjemahannya menjadi :

“Sungguh telah beruntung orang yang disucikan jiwanya oleh Allah dan sungguh telah merugi orang yang dipendam jiwanya oleh Allah SWT”.
Pelakunya Allah SWT.

Yang kedua pelakunya manusia itu sendiri.

“Sungguh telah beruntung siapa yang mensucikan jiwanya dan sungguh telah merugi siapa yang memendam jiwanya”.

Dua versi penerjemahan ini tentu yang lebih benar sesuai dengan prinsip kebebasan manusia adalah pelakunya manusia. Karena yang akan memilih adalah manusia itu sendiri.

Dari ayat-ayat yang semacam ini muncul istilah dalam keilmuan islam : Tazkiyatun Nafs atau penyucian diri.
Tazkiyatun Nafs adalah menyucikan jiwa dari perbuatan syirik dan derivasinya. Syirik itu melahirkan sifat-sifat yang buruk, kesombongan, keangkara-murkaan, kekufuran, tamak, riya dan lain-lain. Kemudian mengembangkan, menginternalisasikan nilai-nilai Tauhid, misalnya sifat-sifat positif yang dilahirkan oleh Tauhid , antara lain : Ridha, Tawakal, Ikhlas dan lain sebagainya.

Dalam syariat islam, sarana-sarana untuk penyucian jiwa antara lain ibadah-ibadah yang ditetapkan oleh Allah kepada kita.
Shalat, Puasa, Haji, Zakat itu adalah sarana penyucian jiwa. Maka oleh karena itu kita di dalam melaksanakan syari’at agama ini jangan hanya berhenti pada formalitasnya. Kita harus bisa menangkap apa yang dibalik formalitas itu.

Misalnya puasa Ramadhan kalau formalnya meninggalkan makan, minum dan sex dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Disamping itu juga meninggalkan perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT seperti ghibah, ngrumpi dan lain-lain.
Jadi kalau kita hayati betul, Puasa Ramadhan yang sampai pada tingkat menyucikan jiwa itu berarti kita dilatih untuk menyadari kehadiran Allah di dalam kehidupan kita. Sehingga kalau kesadaran diri ini hadir dalam diri kita, kita akan selalu merasa diawasi oleh Allah SWT.

Perasaan selalu diawasi oleh Allah inilah yang akan mengantar kita untuk selalu taat kepada Allah dan meninggalkan larangan-larangannya. Puasa Ramadhan betul-betul menjadi sarana penyucian jiwa. Tidak hanya berhenti pada formalitasnya saja. Kita harus bisa menyeberangi formalitas, menangkap makna yang ada dibalik itu. Ini yang paling sulit.

Ibadah Haji juga begitu, bukan hanya sekedar melaksanakan ritual haji di Mekkah dan Madinah, tapi kita harus bisa menghayati makna dari tiap-tiap ritual yang kita lakukan. Mulai dari berpakaian Ihram, kemudian Sa’i, Thawaf, Wukuf dan lain sebagainya. Kita harus bisa melampaui formalitas menangkap makna. Itu sarana Tazkiyatun nafs yang ditetapkan dalam ajaran agama kita.

Tazkiyatun nafs itu kita yang melakukan. Kita melakukan formalitas ritualnya sekaligus menangkap makna yang ada dibaliknya. Inilah yang paling berat, yang harus kita hayati dalam kita beragama. Beragama jangan hanya berhenti pada formalitas. Kalau sekedar shalat lima waktu itu mudah. Yang sulit adalah menangkap makna dibaliknya.

Shalat menurut Al Qur’an

عَنِ الْفَحْشَآءِ وَا لْمُنْكَرِ

‘anil-fahsyaaa`i wal-mungkar

“Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
(QS. Al-‘Ankabut 29: Ayat 45)

Disamping itu sholat harus bisa meningkatkan rasa solidaritas sosial kepada sesama manusia. Kalau ibadah kita sudah seperti itu maka berarti kita telah betul-betul menyucikan jiwa. Tapi kalau baru sampai tingkat formalitas berarti belum sampai pada tingkat penyucian jiwa dalam arti yang sebenar-benarnya. Atau mungkin levelnya masih di level bawah.

Penyucian jiwa tergantung manusia, mau atau tidak mau. Bukan tergantung pada Allah SWT. Kemudian Allah akan mengganjar kepada kita atas dasar pilihan kita sendiri.


3. Tafsir Surat As Syams ayat 11-15


Allah SWT berfirman:

كَذَّبَتْ ثَمُوْدُ بِطَغْوٰٮهَاۤ ۖ (11) اِذِ انْۢبَعَثَ اَشْقٰٮهَا ۖ (12)

kazzabat samuudu bithoghwaahaaa
izimba’asa asyqoohaa

“Kaum Samud telah mendustakan Rasul-Nya karena mereka melampaui batas (zalim), ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka,”
(QS. Asy-Syams 91: Ayat 11-12)

Orang yang paling celaka itu menurut riwayat, namanya Gudar bin Salif. Dia tokoh masyarakat yang disegani dan diikuti oleh masyarakat. Dia bangkit untuk membunuh onta

Allah SWT berfirman:

فَقَا لَ لَهُمْ رَسُوْلُ اللّٰهِ نَا قَةَ اللّٰهِ وَسُقْيٰهَا ۗ (13)
فَكَذَّبُوْهُ فَعَقَرُوْهَا ۖ فَدَمْدَمَ عَلَيْهِمْ رَبُّهُمْ بِذَنْبِۢهِمْ فَسَوّٰٮهَا ۖ (14) وَلَا يَخَا فُ عُقْبٰهَا(15)


fa qoola lahum rosuulullohi naaqotallohi wa suqyaahaa
fa kazzabuuhu fa ‘aqoruuhaa fa damdama ‘alaihim robbuhum bizambihim fa sawwaahaa
wa laa yakhoofu ‘uqbaahaa

“lalu Rasul Allah (Salih) berkata kepada mereka, Biarkanlah unta betina dari Allah ini dengan minumannya. Namun mereka mendustakannya dan menyembelihnya, karena itu Tuhan membinasakan mereka karena dosanya, lalu diratakan-Nya dengan tanah. Dan Dia tidak takut terhadap akibatnya.” (QS. Asy-Syams 91: Ayat 13-15)

Ada beberapa hal yang perlu kita bahas.

1. Onta adalah Mukjizat Nabi Saleh

Onta Allah ini adalah onta mukjizatnya Nabi Saleh. Kenapa mukjizatnya Onta?
Menurut kajian Para ahli Tafsir, mukjizat Nabi itu sesuai dengan tingkat perkembangan masyarakat. Masyarakatnya Nabi Saleh itu masyarakat yang sudah maju dalam bidang Seni Kaligrafi dan ukir-ukiran. Rumah-rumah mereka konon dibuat dari batu-batu gunung yang kemudian dibikin dinding lalu diukir sehingga ukiran itu menjadi semacam relief yang hidup.

Maka mukjizat Nabi Saleh bukan hanya sekedar seni, tetapi dari batu yang sama keluar onta yang hidup. Onta ini kemudian makan dan minum dan bahkan bisa diambil susunya oleh masyarakat disitu.

Kalau mukjizat Nabi Muhammad adalah Al Qur’an yang nilai sastranya sangat tinggi, karena masyarakat Arab pada masa itu juga punya karya-karya sastra yang juga sangat tinggi.
Maka Al Qur’an melampaui kemampuan manusia pada masa Nabi Muhammad tersebut.

Menurut Para ulama Tafsir menyebut mukjizat Nabi Muhammad SAW paling tidak ada tiga :
– Sastranya
– Berita-berita ghoib yang ada dalam Al Qur’an, menyangkut masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang.
– Isyarat-isyarat ilmiah yang terdapat di dalamnya.

Al Qur’an sudah memberi peringatan kepada masyarakat Nabi Saleh, Onta itu jangan sampai diganggu. Kalau diganggu maka akan ditimpa siksa dari Allah SWT. Tetapi mereka tidak menggubris peringatan Nabi Saleh. Mereka menyembelih onta itu. Lalu mereka ditimpa bencana suara gemuruh yang kemudian menghancurkan mereka semua.

2. Hukuman Allah ketika kedurhakaan mencapai puncaknya

Yang kita perhatikan adalah tindakan Gudar bin Salif , tokoh masyarakat yang menyembelih onta itu. Tindakan ini disetujui oleh masyarakat mereka. Sehingga walaupun yang menyembelih hanya beberapa orang dibawah komandonya Gudar bin Salif , tetapi masyarakat Nabi Saleh yang durhaka dan kedurhakaannya mencapai titik kulminasinya semuanya dihancurkan oleh Allah SWT. Kecuali yang beriman kepada Nabi Saleh.

Menurut penelitian ulama Tafsir ini semacam rumus yang ditetapkan oleh Al Qur’an :
Kalau masyarakat durhaka kepada Allah dan kedurhakaannya mencapai puncaknya maka tangan Tuhan akan turun. Tuhan akan menghancurkan mereka semua.
Waktu Nabi Muhammad mau dibunuh oleh masyarakat Arab, lalu Nabi Muhammad hijrah ke Madinah. Dan 8 tahun kemudian Nabi Muhammad berhasil mengalahkan Mekkah yang dari awal dakwah sampai Nabi hijrah terus menerus mengganggu Nabi dan memusuhi Nabi dan juga memerangi Nabi Muhammad.
Masyarakat Mekkah dihancurkan, sistem sosialnya diganti dengan Islam. Nilai yang dijalankan juga Nilai Islam.

Rumus ini berjalan terus sampai masa kita sekarang ini, jadi harus diwaspadai, kalau kebobrokan masyarakat mencapai titik kulminasi maka tangan Tuhan akan turun, masyarakat akan dihancurkan oleh Allah SWT, terutama yang durhaka. Tetapi yang tidak durhaka juga bisa kena imbasnya dari siksa Allah SWT.

3. Dosa Sosial

Kaitannya dengan tokoh yang membunuh onta, kalau kita kaitkan dengan ayat-ayat yang lain, Gudar bin Salif ini karena dia tokoh masyarakat, omongannya didengar dan ditiru oleh masyarakat, walaupun apa yang dikatakan itu salah maka orang-orang semacam Gudar bin Salif kalau bahasa Al Qur’an dia menanggung dosa sosial.

Dosa itu ada dua macam : Dosa pribadi, dan ada dosa Sosial. Kalau dosa pribadi tidak bisa dialihkan ke orang lain.

Allah SWT berfirman:

وَلَا تَزِرُ وَا زِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰى

wa laa taziru waazirotuw wizro ukhroo

“dan barang siapa tersesat maka sesungguhnya kerugian itu bagi dirinya sendiri.” (QS. Al-Isra’ 17: Ayat 15)

Dosa Sosial ayatnya dalam Surat An Nahl, Allah SWT berfirman:

لِيَحْمِلُوْۤا اَوْزَا رَهُمْ كَا مِلَةً يَّوْمَ الْقِيٰمَةِ ۙ وَمِنْ اَوْزَا رِ الَّذِيْنَ يُضِلُّوْنَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ اَ لَا سَآءَ مَا يَزِرُوْنَ

“ucapan mereka menyebabkan mereka pada hari Kiamat memikul dosa-dosanya sendiri secara sempurna, dan sebagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikit pun bahwa mereka disesatkan. Ingatlah, alangkah buruknya dosa yang mereka pikul itu.” (QS. An-Nahl 16: Ayat 25)

Kalau kita lihat konteks ayat ini :
Tokoh-tokoh Mekkah dulu ketika mendengar Al Qur’an mengatakan :
“Itu hanya dongeng orang-orang dahulu, hanya mitos”.
Omongan mereka diikuti oleh masyarakat, sehingga masyarakat ini tidak mau beriman kepada Nabi Muhammad SAW. Maka Tokoh-tokoh ini menanggung dua dosa. Dosa pribadi mereka sesat dan dosa sosial karena mereka menyesatkan orang lain tanpa dasar ilmu pengetahuan.

Sekarang boleh jadi banyak yang punya dosa sosial itu. Orang-orang yang menyebarluaskan hoax, lalu hoax itu diikuti oleh masyarakat, dosanya ganda. Dosa pribadi dan dosa sosial.
Siapa saja yang ikut ngeshare berita hoax itu ikut berdosa.
Maka supaya tidak menyebarkan hoax, berita itu harus diclearkan dulu. Berita itu benar atau tidak?

Allah SWT berfirman:

وَلَيَحْمِلُنَّ اَ ثْقَا لَهُمْ وَاَ ثْقَا لًا مَّعَ اَثْقَا لِهِمْ

“Dan mereka benar-benar akan memikul dosa-dosa mereka sendiri, dan dosa-dosa yang lain bersama dosa mereka…” (QS. Al-‘Ankabut 29: Ayat 13)

Ini orang-orang yang menyesatkan orang lain. Konteks ayatnya dulu orang Arab untuk menghalang-halangi masyarakat mengikuti Nabi Muhammad, mereka berkata :
“Ikutilah agama nenek moyangmu, kalau agama nenek moyangmu itu ternyata salah, saya siap menanggung dosa-dosa kamu sekalian”.

Ayat ini membantah apa yang mereka katakan itu. Mereka yang ngomong itu justru akan memikul dua dosa. Dosanya sendiri karena dia salah dan dosa orang lain karena dia menghalang-halangi orang lain mengikuti kebenaran dan menyesatkan orang lain.

Sekarang ada di Indonesia , orang-orang yang omongannya seperti ini. “Agama islam itu kan agama impor, agama asli Indonesia kan bukan Islam”. Ini kalau diikuti orang lain, maka dosa orang seperti ini akan berganda.

Hadits Nabi juga ada yang menyampaikan dosa sosial ini.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

المَيِّتُ يُعَذَّبُ بِبُكَاءِ الحَيِّ عَلَيْهِ

Mayiit disiksa karena tangisan orang yang hidup untuknya. (HR. Bukhari Muslim).

Konteksnya hadits ini, dulu di Arab ada tradisi, kalau ada orang mati, maka diminta untuk menangisi. Bahkan ada komersialisasi tangisan. Ada Grup Menangis yang dibayar. Kalau ada orang mati mereka disewa untuk menangis.

Budaya seperti inilah yang diciptakan oleh Tokoh-tokoh tertentu lalu dilanjutkan oleh masyarakat disana. Namanya Niyahah, ini tidak boleh.

Maka kita harus hati-hati betul dalam menyampaikan tuntunan kepada masyarakat. Kita ceramah dan ceramah kita salah, maka kita punya dosa berganda. Kita bikin Youtube yang salah akan dapat dosa berganda. Menanggung dosa sendiri dan dosa karena menyesatkan orang lain.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK




LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here