dr. Rose Dinda Martini, Sp.PD, KGER, FINASIM

8 Rajab 1442 / 20 Februari 2021



Pendahuluan

Vaksinasi Covid-19 saat ini memang sedang menjadi trending topik kita, target kita karena kalau untuk mencapai Herd Immunity, di setiap Propinsi, di setiap daerah memang sekarang Nakes (Tenaga Kesehatan) harusnya nomer satu memberikan contoh.

Data pada bulan Januari 2021, kasus baru Covid-19 makin hari makin meningkat. Kita sudah satu tahun berkutat dengan penyakit yang baru ini, dimana pertama kali di R.S M. Djamil – Padang pada tanggal 31 Januari 2020 menerima pasien ODP/PDP.

Kita merasakan betul-betul cemas, ansietas belum mengerti bagaimana penyakit ini. Luar biasa ketakutan kita pada saat itu. Tetapi dengan berjalannya waktu, sudah ada penelitian, terapinya juga sudah dikeluarkan oleh lima keseminatan dari penyakit dalam, paru, dokter anestesi, jantung , anak, sehingga sekarang tata laksana di Rumah Sakit sudah semakin meyakinkan kita, bahwa inilah untuk penata-laksana kasus Covid-19.

Ketakutan kita sudah sirna, apalagi kita sudah ada protokol kesehatan yang penting bagaimana kita menjaga imunitas kita dan melakukan protokol kesehatan, misalnya memakai masker yang standard, mencuci tangan, menghindari kerumunan dan menjaga jarak. Memang kasus dari waktu ke waktu bertambah naik. Tapi kita makin faham. Pemerintah menetapkan pembagian zona : ada zona merah, zona oranye, zona kuning dan zona hijau.


Vaksin itu apa ?

Suatu senyawa biologis yang diberikan kepada seseorang dengan maksud untuk menghasilkan kekebalan terhadap suatu penyakit dengan cara menstimuli produksi antibodi. Umumnya vaksin mengandung suatu zat yang mewakili kuman penyebab penyakit, sering kali dibuat dari kuman yang dimatikan atau dilemahkan. Seperti Sinovac sekarang, dari virus itu sendiri yang dimatikan.

Zat tersebut menstimulasi sistem kekebalan tubuh untuk mengenalinya sebagai zat asing lalu terpicu untuk mengeliminasinya, dan membentuk memori, sehingga sistem kekebalan tubuh dapat dengan mudah menangkal kuman jika suatu saat di kemudian hari kuman tersebut menginfeksi tubuh.

Pemerintah sudah mengalokasikan kebutuhan vaksin untuk kebutuhan 181,5 juta jiwa tenaga Kesehatan dan Pelayanan Publik yang mendapat prioritas vaksinasi pertama. Tentu petugas kesehatan (1,3 juta) yang harus memberi contoh. Tapi khabarnya di Jakarta, pedagang di Tanah Abang sudah dikasih vaksin, mungkin kebijakan Pemerintah.

Di Propinsi Sumatera Barat , khabar terakhir tanggal 14 Februari kami agak rendah, baru mencapai 75,09%. Padahal diberi waktu oleh Pemerintah, 3 hari lagi harus 100%. Mudah-mudahan Propinsi lain bisa mencapai tersebut.

Prioritas kedua adalah petugas publik (17,4 juta) lalu lansia (21, 5 juta). Tapi ternyata kebijakan makin hari makin ada perbaikan. Dulu lansia tidak boleh, sekarang lansia boleh. Tapi yang seperti apa? Ini yang akan kita diskusikan. Dulu penyintas Covid jangan dulu, sekarang ternyata penyintas Covid yang sudah pernah kena Covid-19 tetapi sudah sembuh 3 bulan boleh divaksin.

Periode selanjutnya adalah masyarakat yang rentan (63,9 juta) dan seluruh masyarakat lainnya (77, 4 juta) . Diharapkan bahwa seluruh masyarakat Indonesia yang sudah di data sekitar 181,5 juta itu akan divaksin sehingga terbentuklah imunitas secara keseluruhan. Mudah-mudahan setelah itu Covid-19 semakin reda, semakin reda dan diharapkan in syaa Allah akan hilang dari muka bumi.

Yang sekarang beredar, ada yang sudah disuntikkan kita adalah Vaksin Sinovac. Vaksin Sinovac ini waktu awal-awal kita baca di medsos, ada hoax yang disuntik pingsan. Jadi begitu banyak hoax yang beredar. Apalagi pada saat itu belum ada ijin Balai POM. Dan Balai POM menginstruksikan harus ada ijin dari yang kompeten agar Sinovac bisa diinjeksikan ke masyarakat Indonesia.

Ada lagi hoax bahwa Sinovac untuk negara-negara ketiga, negara berkembang atau negara seperti Indonesia, “negara miskin” dan kita dijadikan kelinci percobaan.

Ternyata alhamdulillah di R.S M. Djamil dari 4000 nakes sudah hampir 3000 divaksin. Tadinya nakes murni, tetapi setelah konsultasi dengan Kemenkes masuk juga Petugas penunjang seperti misalnya Cleaning Services, Petugas non kesehatan di bidang Radiology dan sebagainya masuk. Alhamdulilah hampir tidak ada efek samping yang berat.

Saya sendiri sebagai penyintas Covid, bulan Oktober 2020, tanggal 1 sampai 12 Oktober diisolasi mandiri karena terpapar Covid-19. Tapi sepertinya saya tidak ada gejala yang berarti (OTG). Setelah keluar peraturan dari yang kompeten bahwa Penyintas Covid-19 juga divaksin, alhamdulillah saya sudah divaksin yang pertama. Memang berdebar-debar saat divaksin, ternyata tidak ada masalah. Kita pasrah untuk sehat , nyeri bekas suntikan itu wajar. Teman-teman yang lain ada yang merasa kebas-kebas lengannya, ada yang pusing, ada yang vertigo, ada yang ngantuk terus. Ternyata masing-masing individu beda-beda.

Sebenarnya vaksin itu banyak. Pemerintah lewat PAPDI bahwa untuk imunisasi dewasa itu banyak, ada Influensa, Varisela, HPV dan sebagainya. Yang lazim kita dengar kan Hepatitis, kalau mau naik haji kita vaksin Meningitis, Influensa. Ini sudah direkomendasikan untuk kita yang dewasa.


Kapan Imunisasi Memberi Perlindungan?

Pada vaksinasi Covid-19 antibodi terbentuk setelah suntikan kedua. Kalau benda asing atau apapun yang masuk namanya antigen. Nanti tubuh merespond benda asing tersebut dengan membentuk anti body.

Anti body ada dua IgM dan IgG.
IgM (imunoglobulin type M) itu fase Akut, atau sedang terinfeksi. Kalau IgG (imunoglobulin type G) adalah fase-fase kita sudah mulai pemulihan. Pada kadar tertentu kita bisa kebal. Pada Vaksin Sinovac ini tercapai pada 14 hari sesudah suntikan kedua titer anti body sudah mencapai titer yang tertinggi sehingga sudah memberi perlindungan.

Prosesnya vaksin yang pertama, terus diulang lagi vaksin yang kedua setelah 14 hari pada masyarakat atau nakes yang bukan Lansia lebih dari 60 tahun atau Penyintas Covid-19. Karena dianjurkan pada Lansia atau Penyintas Covid-19 suntikan kedua setelah 28 hari. Jika hanya satu kali suntikan, antibody yang terbentuk masih belum tinggi titernya. Karena itu suntikan kedua amat penting untuk mencegah penyakit.


Tujuan Vaksinasi Covid-19

1. Menurunkan kesakitan dan kematian akibat Covid-19.

Sekarang di R.S M Djamil trend satu minggu terakhir ini yang dirawat yang berat di ICU Covid rata-rata usia di atas 60. Tetapi ada juga yang usia 55 dan 40. Cuma memang trendnya tidak sebanyak pada saat kita di gelombang kedua di bulan Nopember, Desember 2020.

2. Mencapai kekebalan kelompok (Herd Immunity) untuk mencegah penyakit dan melindungi masyarakat.

Kekebalan kelompok atau Herd Immunity jika misalnya vaksin ini belum ada, herd Immunity bisa tercapai tetapi kita semua kena dulu. Nanti kekebalan alamiah yang akan menyeleksi. Mohon maaf, yang kuat akan survive, hidup dan yang tidak kuat meninggal.

Jangan sampai terjadi begitu. Kita masih ada orang tua atau barangkali kita sendiri adalah penderita diabetes atau hipertensi. Tentu ngeri mendengar seperti itu. Alhamdulillah vaksin ini sudah diteliti, sudah dipasarkan, sudah diinjeksikan.
Diharapkan paling tidak 75% dari seluruh masyarakat Indonesia divaksin, in syaa Allah kekebalan kelompok akan terbentuk. Semua orang menjadi kebal dan akhirnya virus itu makin lama makin turun dan diharapkan virus itu bisa hilang.

3. Melindungi dan memperkuat Sistem Kesehatan secara menyeluruh.

Jadi vaksin ini penting sekali. Tetapi memang di Sumatera Barat untuk daerah-daerah tertentu seperti di Mentawai (kepulauan di pantai barat Sumatera) saya lihat catatannya per 18 Februari masih 43,27%. Ada Kabupaten-kabupaten khusus yang masyarakat atau nakesnya takut divaksin, karena kebijakan yang berubah-ubah.
– Yang punya komorbit tidak boleh
– Yang hipertensi, diabetes tidak boleh
Tentu mereka menolak.

Tetapi kalau kita baca dari waktu ke waktu ternyata berubah. Yang hipertensi boleh divaksin asal tensinya kurang dari 180/100. Kalau di atas 180 jangan divaksin. Kalau ingin yakin agar diskusi sama ahlinya, dokter spesialis Penyakit Dalam, alergi imunology

Sakit Jantung kalau tidak dalam keadaan akut, tidak sesak atau kalau diabetes tidak ada komorbit infeksi, tidak letih lesu juga boleh divaksin.
Kemarin ada yang haemoglobin A1c di atas normal. A1c itu adalah untuk melihat bagaimana keterkontrolan gula darah tiga bulan ke belakang, normalnya 6. Ada tenaga kesehatan A1c nya 9 berarti tidak terkontrol, beliau sudah pakai insuline, tapi tidak ada keluhan ternyata boleh divaksin. Kemudian divaksin dan alhamdulillah tidak apa-apa.

4. Menjaga produktifitas dan meminimalkan dampak Sosial dan Ekonomi

Ini dampak secara global. Kita kan tidak mungkin mendekam di rumah terus. Kita harus keluar rumah untuk mencari rezeki dan sebagainya.


Prioritas Untuk di Vaksinasi

1. Petugas Kesehatan Seluruh Indonesia

Petugas Kesehatan itu garda terdepan. Semuanya harus tervaksinasi. Yang bekerja di Puskesmas, di Rumah Sakit. Pemimpin kelompok masyarakat misalnya Bupati, Kepala Dinas mau gak mau bertanggung jawab. Karena kalau nakes belum divaksin, nakes akan berhubungan dengan pasien. Akan jadi sumber penularan kalau tidak divaksin. Atau menjadi contoh buruk, masyarakat akan melihat bahwa dokter tidak divaksin, kenapa masyarakat harus divaksin ?

2. Kontak Erat

Yang memiliki kontak dengan kasus confirm. Resiko tinggi di Rumah Sakit, di Puskesmas dan sebagainya.

3. Kelompok Sektor Pelayanan Publik

Ini sasarannya adalah TNI/Polri, Petugas bandara, Stasiun kereta api, Pelabuhan, Pemadam kebakaran, PLN Tokoh Agama dan sebagainya.

4. Kelompok Masyarakat usia 18-59 tahun

Ternyata peraturan berubah, lebih dan sama dengan 60 tahun atau kelompok usia lanjut (geriatri) boleh asal tidak ada penyakit akut yang menyertai. Malah ada Profesor dari Bandung usia 90 tahun disuntik vaksin, alhamdulillah tidak apa-apa.

5. Tenaga Pendidik di Seluruh Indonesia

Yang berhubungan dengan orang banyak, salah satunya adalah guru.

6. Pegawai Pemerintahan

Dan akhirnya seluruh masyarakat atau pelaku perekonomian, peserta BPJS.
Ini pekerjaan Pemerintah, pokoknya kita patuh saja, pada waktunya kita divaksin, ayo vaksin. Tapi tidak grusa- grusu karena proses vaksin ada 3 meja, ada yang skrining dan sebagainya, itu kita patuhi.


Jejaring Layanan

Sebagai pengetahuan saja bahwa siapapun yang menjadi Pemimpin, baik Kepala Daerah, Kepala Dinas harus menjamin ketersediaan vaksin dan juga efektivitas vaksin harus betul. Artinya vaksin itu harus pada suhu tertentu. Maka rantai dari pengiriman harus dijamin. Itu tugas dari para Pimpinan. Kita masyarakat pokoknya menerima, dengan Bismillah kita divaksin in syaa Allah tidak ada efek samping.


Herd Immunity

Di tahun kemarin pada saat belum ada imunisasi. Maka ketika ada kerumunan orang sehat, namun diantaranya ada orang yang terinfeksi maka kejadian itu sangat menular sehingga semua terpapar. Virus Covid-19 ini beda dengan flu biasa, menularnya sangat cepat kalau kita tidak pakai protokol kesehatan. Akhirnya yang masih muda, yang kuat hidup dan yang tidak kuat meninggal karena terkena Covid-19.

Mudah-mudahan mereka mati sahid.
Rasulullah SAW bersabda: “Orang syahid itu ada lima: orang terkena wabah penyakit, orang mati karena sakit di dalam perutnya, orang tenggelam, orang tertimpa reruntuhan bangunan, dan orang syahid di jalan Allah” (HR Al-Bukhari).

Kalau diadakan imunisasi, maka kerumunan orang yang terjadi adalah orang yang kebal. Kalau ada beberapa yang tidak divaksin, jumlahnya sedikit. Dia menjadi sumber penularan, tapi dia tidak bisa menularkan. Mungkin ada orang yang belum divaksin lain yang akan tertular.

Jadi penularan terbatas. Ketika semua kebal maka virus tak punya tempat tinggal. Mau kemana lagi? Dia kembali ke asalnya. Karena theorinya virus ini dari hewan. Di Wuhan dulu virus ini tidak ada di manusia. Tetapi Allah SWT memberikan cobaan dari hewan- hewan.

Orang Wuhan itu makan kelelawar atau ular dan binatang-binatang buas sampai akhirnya menular ke manusia. Kita harapkan kalau semuanya sudah divaksin, meskipun ada virus, yang kena hanya satu dua saja. Dan akhirnya lama-lama akan berkurang terus dan hilanglah virus ini dari muka bumi.


Yang Boleh Divaksin

Memang kebijakan itu berubah-ubah. Bahkan teman saya Kepala Puskesmas juga bingung, hari ini gak boleh kemudian lain waktu boleh.
Garda terdepan pada awalnya bingung. Kemudian setelah terjadi perubahan-perubahan kalau kami rangkum akhirnya praktis yang boleh divaksin semuanya.

Awalnya dari PAPDI menetapkan yang boleh divaksin usia dewasa sehat usia 18-59 tahun. Tapi setelah itu aturan dari Kemenkes menetapkan usia di atas 60 boleh divaksin, tidak ada batasan. Tapi tentu ada hati-hatinya. Usia lanjut yang bagaimana? Boleh dengan komorbit tapi yang terkontrol.

Sejawat saya kena jantung koroner dan sudah dilakukan stent dipasang ring Jantung, juga bisa divaksin dan tidak apa-apa. Ada lagi Perawat yang karena cemas tensinya naik jadi 160, tadinya tidak boleh. Tapi kemudian ada ketentuan yang hipertensi tapi terkontrol boleh. Diabetes tidak terkontrol kalau tidak akut juga boleh, tidak ada keluhan masih boleh divaksin. Tetapi kalau pasien sedang demam, sesak, batuk jangan divaksin.

Kemudian yang pernah terpapar Covid, kalau dulu jangan divaksin. Mungkin maksudnya prioritas yang belum kena dulu. Tetapi sekarang ketentuannya lain lagi. Penyintas Covid-19 yang sudah sembuh 3 bulan boleh divaksin. Terutama tenaga kesehatan yang boleh.


Yang Tidak boleh Divaksin

Kriteria Eksklusi Vaksin Covid-19
(Disadur dari ketentuan PAPDI- Januari 2021)

Yang tidak boleh inipun relatif, bukan tidak boleh mutlak. Ada kriterianya untuk membatasi.

– Mengalami penyakit ringan/sedang atau berat terutama penyakit infeksi dan / atau demam.
Karena dikhawatirkan ada KIPI (Kejadian Ikutan Paska Imunisasi) , efek sampingnya penyakit jadi berat.

– Hamil, menyusui atau berencana hamil. Ini relatif karena yang menyusui masih dibolehkan. Kalau hamil jangan divaksin.

– Riwayat alergi berat terhadap vaksin. Tetapi alergi terhadap makanan masih dibolehkan vaksinasi.

– Riwayat penyakit pembekuan darah atau kelainan darah. Ini membutuhkan diagnosa oleh dokter spesialis.

– Adanya penyakit kronis yang mengganggu imunisasi, ini juga relatif karena seperti misalnya PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik) dengan gejala bersin-bersin, batuk sekali-sekali kena paparan, tetap boleh divaksin. In syaa Allah tidak apa-apa.

– Riwayat gangguan Sistem Imun. Ini hati-hati sekali, harus diwaspadai, misal terdiagnosa Lupus erythematosus atau sistem imun yang lain harus lewat dokter spesialis ijinnya.

– Riwayat Epilepsi atau gangguan saraf. Khawatirnya nanti ada KIPI nya memicu kejang-kejang malah tambah berat.

– Mendapat imunisasi apapun dalam waktu satu bulan. Harus menunggu 3 bulan.

Aturan itu dijabarkan lagi dalam penyakit yang belum layak divaksin. Tetapi PAPDI juga tidak berani tegas tidak boleh. Maka dikatakan belum layak. Suatu saat dapat dianggap layak.


Belum layak divaksin.

– Penyakit autoimun sistemik (misal SLE) ini penyakit Lupus, jangan divaksin.

– Sindroma Hiper E
Ini adalah orang yang mudah sekali alergi.

– Pasien dengan infeksi akut
Demam, batuk-pilek, mencret, atau rheumatik kambuh

– Penyakit Ginjal Kronik (dihemodialisis atau belum)
Ada kriterianya, dihitung kreatininnya normalnya 1,1. Keadaan tertentu meningkat jadi 2, 3, 4 tapi kronik, sudah lama. Ini belum layak divaksin.
Tapi kalau hanya karena kurang minum masih boleh vaksinasi.

– Transplantasi ginjal
– Sindroma nefrotik dengan imunosupresan / kortikosteroid Bengkak-bengkak di semua tubuh.

– Gagal jantung
Kalau stadium 1, misal dia sesak kalau kerja berat tidak apa-apa divaksin. Yang tidak boleh penyakit stadium 3 dan 4.

– Penyakit jantung koroner
Bila terkontrol tidak apa-apa, bahkan yang sudah pasang ring jantung 2-3 juga boleh divaksin.

Yang belum layak :
– Reumatik autoimun
– Penyakit-penyakit gastrointestinal
– Hipertiroid / Hipotiroid autoimun
– Penyakit dengan kanker, kelainan darah, imunokompromais.


KIPI (Kejadian Ikutan Paska Imunisasi)

Terminology Kejadian Ikutan dan Reaksi Simpang.

Kejadian Ikutan

Kejadian Ikutan (adverse event)
Kejadian yang tidak diharapkan yang dilihat tanpa menilai apakah ada hubungan causal (sebab akibat) dengan Vaksin.
Memang kalau saya lihat di R.S M Djamil yang stress saat mau vaksin itu macam-macam. Ada yang nangis, ada yang dipegangin kepengin vaksin tapi takut. Takut bukan terhadap vaksin tapi terhadap jarum.
Karena stress sesudah divaksin vertigonya kambuh. Aneh tak ada hubungan antara vaksin dengan vertigo. Ini terjadi akibat stress. Jadi belum tentu karena efek samping vaksin.

Reaksi Simpang

Reaksi Simpang (adverse reaction)
Kejadian yang tidak diharapkan yang diakibatkan oleh vaksin/obat dan ada bukti yang mendukung suatu hubungan causal. Ini memang karena vaksin.

Jadi Reaksi vaksin banyak penyebabnya : Penyakitnya, Genetiknya, dari Obat-obatan lain atau Lingkungan.
Jadi Kejadian Ikutan ataupun Reaksi Simpang itu memang banyak yang mempengaruhi. Makanya pada saat vaksinasi kita harus benar-benar dalam keadaan tenang, aman, berdo’a Bismillah in syaa Allah tidak ada kejadian efek samping.

Reaksi ringan

Reaksi ringan setelah imunisasi umum terjadi termasuk rasa sakit & bengkak di tempat suntikan, demam, irritability, malaise. Yang lucu setelah divaksin ada yang ngantuk, sampai tidur terus, ada yang letih-lesu. Ini sembuh sendiri, hampir tidak memerlukan perawatan simtomatik.
Kalau demam minum paracetamol saja. Yang penting kita meyakinkan dan menjamin bahwa pasien/orang tua yang disuntik memahami bahwa kalau ada reaksi vaksinasi yang ringan tersebut tidak apa-apa.

Reaksi berat

Kejang, tapi jarang terjadi.
Di Sumatera Barat belum ada laporannya. Reaksi tersebut termasuk kejang, trombositopenia, trombosit jadi rendah. Episode hipotonik hiporesponsif, Ototnya lemas susah jalan. Persistent inconsolable screaming, ini yang berat.
Dalam banyak kasus self limiting, sembuh sendiri dan tidak mengarah ke masalah jangka panjang.

Kita mendoakan bahwa semua yang divaksin di Indonesia ini tidak ada efek samping yang berat.
Kalau di Rumah Sakit sudah ada persiapan semuanya untuk vaksinasi.
Setelah divaksin duduk dulu 30 menit bagusnya, jangan langsung pergi.
Anafilaksis, meski berpotensi fatal dapat diobati tanpa efek jangka panjang. Maka suntik di Rumah Sakit lebih safe. Tapi di Puskesmas juga lengkap.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here