Zahrul Fata Lc, MA, Phd

5 Rajab 1442 / 17 Februari 2021



Masih berkaitan dengan methode Historis. Undang-undang apapun selama itu produk manusia, bisa kita tinjau ulang. Karena bisa jadi aturan itu sesuai pada saat dibuat, tetapi tidak sesuai pada saat ini. Sarjana-sarjana Barat telah melakukan itu terhadap Bible mereka. Karena mereka sepakat bahwa Bible bukan Kalamullah. Mereka mengatakan The Authors of Bible (Para Pengarang Injil), mereka sudah meyakini Injil bukan Kalamullah. Sehingga akhirnya mereka sampai pada kesimpulan ada beberapa text dalam Injil tidak relevant dalam konteks kekinian sehingga ditinggalkan.

Ada beberapa sarjana Islam yang ingin mengaplikasikan methode Historis ini dalam memahami Al Qur’an. Mereka punya ganjalan karena Al Qur’an itu Kalamullah. Akhirnya beberapa sarjana itu bertheori, diantaranya adalah tokoh dari Mesir : Nasr Hamid Abu Zaid yang banyak dikaji di Indonesia.

Hasil Penelitian Badan Litbang dan Diklat Depag tentang ‘Faham-faham keagamaan liberal pada masyarakat perkotaan’ di Yogyakarta (dipresentasikan 14 Nov 2006).
“Al Qur’an bukan lagi dianggap sebagai wahyu suci dari Allah SWT kepada Muhammad SAW, melainkan merupakan produk budaya (muntaj tsaqafi) sebagaimana yang digulirkan oleh Nasr Hamid Abu Zaid. Metode tafsir yang digunakan adalah hermeneutika, karena metode tafsir konvensional dianggap sudah tidak sesuai dengan zaman …”

Ada tiga orang sarjana Indonesia :
Abdul Moqsith Ghazali, Luthfi Assyaukanie, Ulil Abshar Abdalla , mereka pernah menulis buku berjudul Metodology Study Al Qur’an.
Di dalam buku itu mereka mengatakan :

Keterlibatan Nabi Muhammad sebagai penerima pesan di satu sisi dan sebagai penafsir di sisi yang lain ikut menentukan proses pengujaran dan tekstualisasi Al Qur’an. Muhammad bukan sebuah disket, melainkan orang yang cerdas, maka tatkala menerima wahyu Muhammad ikut aktif memahami dan kemudian mengungkapkannya dalam bahasa Arabnya sendiri. Karena itu menurut Nasr Hamid Abu Zaid, tidak bertentangan jika dikatakan bahwa Al Qur’an adalah wahyu Tuhan dengan text Muhammad (Muhammadan Text) .

Jadi Ulil dan kawan-kawan meyakini bahwa Al Qur’an bukan murni Kalamullah, tetapi Rasulullah punya andil dalam meredaksikan Al Qur’an.

Sebelum kita bahas lebih lanjut, perhatikan hilangnya adab seorang sarjana Muslim ketika menyebut Nabi :
“Muhammad bukan sebuah disket”, yang menulis seperti ini biasanya orientalist. Seorang muslim, etikanya akan menyebut Nabi Muhammad SAW. Jadi penulis buku itu sudah kehilangan etika.

Dia mengatakan bahwa Al Qur’an ada campur tangan redaksi dari Rasulullah. Kalau ini dibenarkan terus apa bedanya Al Qur’an dengan Hadits Nabi? Hadits Nabi itu juga sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur’an

Allah SWT berfirman:

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوٰى ۗ (3) اِنْ هُوَ اِلَّا وَحْيٌ يُّوْحٰى ۙ (2)

“dan tidaklah yang diucapkannya itu menurut keinginannya. Tidak lain adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya),” (QS. An-Najm 53: Ayat 3-4)

Artinya hadits Nabi itu Rasulullah mengatakan tidak dari nafsunya, tetapi dari wahyu juga. Termasuk Hadits Qudsi redaksinya datang dari Nabi tapi maknanya datang dari Allah. Akan tetapi untuk Al Qur’an, mayoritas ulama mengatakan bahwa Al Qur’an redaksi dan maknanya dari Allah.

Apa yang dituju oleh Nasr Hamid Abu Zaid dengan statement yang dikutip oleh 3 sarjana kita itu?

Dia ingin mengatakan bahwa Al Qur’an sudah bukan Kalamullah lagi. Tapi karena sudah memakai bahasa Arab yang merupakan bahasa manusia maka sejatinya hukum-hukum yang terkandung dalam Al Qur’an itu tidak lepas dari budaya dimana Al Qur’an itu turun. Sehingga solusi yang diberikan Al Qur’an sesuai untuk budaya Arab, belum tentu sesuai untuk budaya- budaya di wilayah bumi yang lain.

Artinya seorang muslim tidak boleh serta merta mengaplikasikan hukum- hukum yang ada di dalam Al Qur’an ketika konteksnya atau budayanya berbeda.

Contoh kongkritnya : Warisan, Jilbab dan seterusnya. Kalau itu diiyakan maka banyak hukum-hukum yang terkandung dalam Al Qur’an yang ditinggalkan. Ditanggalkan dengan alasan tidak relevant dengan konteks kekinian.

Kita perhatikan kesimpulan dari buku karangan Ulil dan kawan-kawan :

Pada mulanya, wahyu yang bersifat oral dan tidak pernah diniatkan secara sengaja sebagai sebuah kitab suci. Pengkitaban adalah upaya belakangan yang dilakukan oleh sahabat Nabi dan para generasi kaum Muslim selanjutnya. Sebagai sebuah proses manusiawi, pengkitaban tak lepas dari kekeliruan dan kesalahan. Klaim keterjagaan Al Qur’an dengan demikian harus dipahami bukan dalam konteks manusiawi, tapi dalam konteks Ilahi.

Artinya Al Qur’an yang sampai di tangan kita sekarang ini ada proses kodifikasi oleh manusia, bisa jadi ada kesalahan. Wahyu yang masih terjaga dalam konteks Ilahi maksudnya yang masih ada di Lauhul Mahfuz. Begitu turun ke dunia ada ketidak- terjagaannya.

Buku ini mendapat Proloog dari Prof M. Dawam Rahardjo, sebagai berikut :
Pandangan bahwa Islam itu adalah sebuah peradaban teks, sebagaimana dikemukakan Nasr Hamid Abu Zaid, lahir dalam konteks perbincangan mengenai hermeneutika al Qur’an, sebagai suatu pendekatan alternatif dan baru tentang bagaimana memahami ayat-ayat suci, berasal mula-mula dari metode pemahaman teks tulisan manusia, lalu diterapkan pada Injil dan kemudian Al Qur’an yang dipercayai sebagai kalam Tuhan atau Wahyu.

Metode hermeneutika ini berbeda dengan pendekatan Tafsir Al Qur’an tradisional yang bertolak dari kepercayaan bahwa Al Qur’an itu adalah Kalam Ilahi. Dalam pengertian itu, Tuhan tidak dipandang sebagai pengarang, sebagaimana manusia yang mengarang puisi atau prosa. Dalam menafsirkan Al Qur’an, para penafsir tidak melihat latar belakang sosial Tuhan yang mempengaruhi perkataan Tuhan. Sedangkan dalam hermeneutika, penafsir teks berusaha memahami teks dengan mempelajari pengarangnya, bahkan pembacanya, ketika teks itu diciptakan atau ditafsirkan kemudian.

Intinya adalah ketika orang memakai metode hermeneutika berarti mereka tidak mempercayai bahwa Al Qur’an itu Kalam Ilahi. Dia tidak serta-merta mengamini ayat itu.
Ketika membaca ayat tentang hijab, dia berfikir nanti dulu! Ayat ini turun untuk bangsa Arab yang kala itu begini, begitu …Jadi tidak bisa serta merta kita aplikasikan di dunia kita yang berbeda.

Ketika membaca tentang Mahar, itu kan untuk orang Arab! Tetapi untuk masyarakat dimana perempuannya yang dominan maka bisa jadi yang mengasih mahar yang perempuan. Dan pendapat itu ada, “fatwa” seorang dosen Perguruan Tinggi di Indonesia mengatakan itu. Kewajiban mahar bagi laki itu untuk orang Arab.

Itu semua cara berfikir hermeneutika. Cara ini sangat mungkin diaplikasikan untuk memahami teks aturan buatan manusia. Misalnya aturan menyalakan lampu motor di siang hari. Dulu tidak ada, sekarang ada. Bisa jadi kemudian karena dikritik lalu berubah :

– Kenapa yang dinyalakan cuma lampu motor? Apakah mobil tidak membahayakan? Bisa jadi kelak mobil juga harus menyalakan lampu di siang hari.
– Aturan untuk menyalakan lampu motor di siang hari sebenarnya hanya sesuai untuk London , Inggris yang kotanya sering berkabut. Untuk menghindari tabrakan maka lampu motor dan mobil dinyalakan di siang hari. Apakah relevan dilakukan di Malaysia dan Indonesia?

Saya lihat pemikiran itu sangat mungkin. Karena kondisi di Eropa, terutama Inggris tidak sama dengan di Malaysia dan Indonesia yang terang benderang. Kalaupun diaplikasikan kenapa harus menganaktirikan motor? Kenapa mobil tidak? Undang-undang kita bisa saja ditinjau ulang. Itu sangat mungkin.

Orang Barat sudah melakukan itu, termasuk terhadap kitab Injilnya mereka sudah sepakat bahwa Injil itu karangan manusia. Ketika mau menerapkan pada Al Qur’an mereka mengalami sandungan. Akhirnya dibuat theori bahwa Al Qur’an yang terjaga itu yang di Lauhul Mahfuz. Begitu turun menggunakan bahasa Arab yang itu adalah bahasa manusia maka akhirnya bukan Kalamullah lagi, itu seperti yang dikatakan Ulil dan kawan-kawan.

Kita lanjutkan argumentasi mereka :

“Pengertian tentang Lauhul Mahfuz, wahyu dan teks Al Qur’an itu sendiri kemudian juga mengalami perkembangan, sebagaimana terungkap dalam pendapat Mohammed Arkoun”

“Hal itu bisa difahami melihat kasus kodifikasi hadits yang mengandung ribuan hadits palsu itu. Apalagi dalam penetapan mushaf Utsmani, khalifah memerintahkan untuk membakar sumber-sumber yang menimbulkan masalah yang kontroversial. Namun demikian, siapa tahu diantara berbagai masalah yang sangat kontroversial yang dibakar itu justru sebenarnya terdapat teks yang benar? Dan sebaliknya juga , siapa tahu bahwa sebagian dari kodifikasi itu terdapat teks yang keliru? Dalam hal ini Aisyah sendiri mengakui kemungkinan terjadinya kecerobohan pada penulisan teks Al Qur’an”.

***

Kita tahu bahwa Al Qur’an pertama kali diturunkan secara lisan. Kemudian Rasulullah mendiktekan kepada beberapa Sahabat untuk ditulis. Ketika Rasulullah meninggal, zaman Abu Bakar Al Qur’an dikumpulkan. Kemudian karena terjadi perbedaan bacaan zaman Utsman kemudian disatukan bacaannya.

Dia (Ulil dkk) disini mencurigai Utsman. Bisa jadi pengumpulan Al Qur’an pada masa Utsman ada kesalahan-kesalahan. Dia menuduh Aisyah mengakui kemungkinan terjadi kecerobohan pada penulisan teks Al Qur’an.

Dalam sebuah karya ilmiah, ketika dia mengatakan ini, dia mencatut nama Aisyah ! Seharusnya dia menulis dimana Haditsnya? Dari mana sumbernya? Jangan asal main catut saja, terus mana buktinya?
Sekarang ini zaman mencatut. Ada alumni Perguruan Tinggi namanya dicatut suatu gerakan, padahal dia tidak ikut-ikutan. Tidak bisa begitu.

***

Kemudian dia mengatakan :

“Disinilah perlunya metode hermeneutika, yang mencoba memahami teks berikut dengan mempelajari konteks, sehingga para penafsir bisa menemukan esensi makna suatu ayat atau surat, tanpa sangat terikat dengan bahasa teks yang mungkin saja keliru sebagaimana pernah diwacanakan oleh Mohammad Abduh”.

***

Kembali disini Ulil dkk mencatut nama Mohammad Abduh. Dalam sebuah karya ilmiah mencatut nama, kemudian tidak ada foot notenya.
Buku ini juga dikomentari juga oleh Tokoh-tokoh terkenal seperti
Prof. Dr. Nazaruddin Umar, MA.
Prof. Dr. Ahmad Syafii Ma’arif, MA
Buku ini kalau dibaca mahasiswa S1 jurusan hadits akan membahayakan karena mereka diajari ketidak- otentikan Al Qur’an.

Kemudian adalagi Thesis yang kemudian menjadi sebuah buku, bahkan mendapat penghargaan dari Depag, dianggap thesis yang terbaik dengan judul : Menggugat Otentisitas Wahyu Tuhan.

“Tanpa menegasikan besarnya peran yang dimainkan Mushaf Utsmani dalam mentransformasikan pesan Tuhan, kita terlebih dulu menempatkan Mushaf Utsmani itu setara dengan teks-teks lain. Dengan kata lain, Mushaf itu tidak sakral dan absolut, melainkan profan dan fleksibel. Yang sakral dan absolut hanyalah pesan Tuhan yang terdapat di dalamnya, yang masih dalam proses pencarian”.

Sebetulnya masih banyak contoh, tapi pada intinya itu. Ketika hermeneutika dipakai untuk menafsirkan Al Qur’an, maka yang pertama-tama dilakukan oleh yang menafsirkan, dia harus mensejajarkan Al Qur’an dengan teks-teks yang lain. Dia meragukan otensitas Al Qur’an karena yang terjaga yang ada di Lauhul Mahfuz.

Para mufasir dahulu tak mungkin melakukan itu. Karena kalau Al Qur’an diperlakukan seperti itu, Al Qur’an beberapa ayatnya tidak sesuai saat ini.

Kita bertanya :
“Bukankah Al Qur’an itu petunjuk bagi seluruh manusia sampai hari kiamat?”
“Kelak di akhirat, orang yang tidak menjalankan Perintah Al Qur’an bisa berargumen bahwa Al Qur’an di jaman modern tidak relevant”.

Demikian pula dengan hadits. Nabi Muhammad SAW diutus untuk seluruh manusia pada saat itu sampai pada manusia di akhir zaman. Kalau haditsnya dianggap tidak relevant,
Khususnya masalah ibadah-ibadah karena hanya sesuai untuk budaya Arab, tidak sesuai untuk budaya Nusantara :
“Itu kan budaya Arab, disini kan Pribumi”
“Islam itu arogan, Islam itu penjajah”.

Maka itu adalah narasi-narasi yang terkontaminasi Virus hermeneutika.
Padahal Islam bisa masuk Indonesia dengan damai karena keahlian Wali Songo. Mereka patut diacungi jempol betapa mereka tahu persis masyarakat kita. Islam masuk ke Mesir pun juga dengan damai. Patung Sphinx, Piramida masih ada, tidak dihancurkan! Bandingkan dengan agama lain ketika menyeberang ke negara-negara lain!

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here