Zahrul Fata Lc, MA, Phd

5 Rajab 1442 / 17 Februari 2021



Review tentang Liberalisasi

Kita tahu bahwa Liberalisme adalah gerakan yang lahir dan tumbuh di Eropa. Bermula dari bentuk protes masyarakat Eropa pada saat itu terhadap kebijakan-kebijakan yang dibuat Gereja bekerjasama dengan Penguasa saat itu. Selama berabad- abad mereka “dijajah” oleh Penguasa yang berkonspirasi dengan Gereja.
Bangsa Eropa kemudian berontak, mereka ingin bebas dan ada gerakan Liberalisasi.

Liberalisme dalam salah satu definisinya diantaranya adalah gerakan dalam agama Kristen Protestan yang menegaskan pentingnya kebebasan berfikir, salah satu aspek dari gerakan itu adalah adanya gerakan menggunakan methode historis dalam memahami Injil. Historisme adalah sebuah cara pandang bahwa Undang-Undang atau Aturan dapat difahami kalau tahu apa yang melatar -belakangi lahirnya aturan atau Undang-undang itu.

Liberalisme ibarat sebuah Piramida ada 4 tiang penyangganya :
Freedom , Individualisme, Relativisme, Rationalism . Inti dari gerakan ini adalah manusia harus bebas, tidak boleh ditekan oleh Gereja.

Sejarah Eropa dari abad pertama sampai pertengahan abad ke empat orang Eropa tidak mengenal agama Samawi. Masuk abad ke empat, agama Kristen masuk ke Eropa, tapi
Itu bukan agama Nasrani sebagaimana yang diajarkan Nabi Isa. Sudah sarat dengan budaya Pagan, budaya Musyrik. Sejak saat itu agama Kristen menjadi agama resmi Barat. Dari tahun 476 sampai tahun 1492 masyarakat Eropa hidup dibawah kungkungan Gereja dan Penguasa. Pada saat itu disebut dengan Middle Age atau Dark Age (Masa Kegelapan).

Pada tahun 711 Islam sampai ke Spanyol dan membangun peradaban yang luar biasa pada saat orang Eropa hidup dalam kegelapan. Maka berbondong-bondonglah sarjana Eropa nyantri ke sarjana Muslim yang ada di Spanyol, bahkan ada yang sampai menyeberang ke Mesir dan wilayah Afrika yang lain.

Pulang dari nyantri, mereka balik ke Eropa lagi. Mereka kemudian sadar akan yang selama ini mereka alami. Akhirnya mereka berani menentang Gereja. Gerakan pertama yang dilakukan namanya Humanism. Ada di Italy, gerakan memanusiakan manusia. Karena selama berabad-abad manusia tidak boleh berfikir, tidak boleh banyak tanya terhadap apa yang diputuskan oleh Gereja.

Setelah itu kemudian disusul dengan gerakan reformasi agama. Kemudian saat itu disebut dengan nama Masa Renaissance. Gerakan reformasi agama kemudian melahirkan Kristen Protestan. Sejak saat itu kemudian Eropa tercerahkan setelah mereka meninggalkan Doktrin Gereja. Semuanya itu bermula dari kritikan mereka terhadap Kitab Suci.


Mengapa Barat Liberal?

Dari pertama agama Nasrani yang masuk ke Eropa sangat sarat dengan budaya Pagan. Yang mengatakan itu adalah John William Draper dalam buku “History of the conflict between Religion and Science”.

Liberalisme sebagai sebuah World view kemudian mereka inginkan tidak hanya di bumi Eropa tetapi disebarkan ke seluruh dunia, terutama ke dunia islam. Inti dari Liberalisme adalah mengajak seluruh penghuni dunia supaya mengikuti apa kata zaman.

Apa tuntutan masa itu. Agama harus tunduk dengan realitas yang ada.
Misalnya kalau dulu LGBT diharamkan, sekarang apa masih relevant? Doktrin agama yang mengharamkan LGBT itu harus dikaji ulang. Itu telah terjadi di Barat dan sedang diusahakan agar sarjana-sarjana islam juga melakukan hal yang sama terhadap agamanya, kalau mereka ingin maju sebagaimana orang Eropa.

Dari sinilah kemudian beberapa LSM asing mensupport sarjana-sarjana muslim supaya menundukkan text-text agama untuk membenarkan nilai-nilai modernitas itu. Kalau ada sarjana muslim bisa melakukan itu maka dia akan mendapatkan bantuan finansial. Itu yang dikatakan RAND Corporation, suatu Lembaga Think Tank yang ada di Amerika Serikat. Mereka membuat strategy agar Islam tunduk pada nilai-nilai Barat.

Fokus dari modernisasi atau liberalisasi di dunia islam ada tiga :
Demokrasi, Pluralisme dan Kesetaraan Gender.

Demokrasi disini bukan sekedar sistem negara. Dalam posisi itu kita tidak ada masalah. Tapi dalam liberalisme esensinya suara mayoritas adalah suara Tuhan. Maka misalnya suatu saat suara mayoritas mengatakan bahwa LGBT itu sah di negara ini maka tidak boleh suara mayoritas itu dihentikan walaupun dilarang dimata agama. Tetap harus dijalankan.

Pluralisme adalah ajakan bahwa semua agama sama.
Gender Equality adalah kesetaraan antara gender laki dan perempuan.
Ujung dari gerakan ini adalah upaya halus untuk mengeluarkan ibu dari rumahnya supaya dia tidak percaya diri dengan perannya sebagai ibu.
Karena mereka kaum liberalism sadar betul peran ibu dalam islam adalah mendidik anaknya, maka peran ini berusaha dilemahkan.

Islam tidak anti emansipasi , islam tidak melarang perempuan berkarier di luar rumahnya tapi dengan catatan tidak meninggalkan tugas utamanya sebagai seorang ibu atau seorang isteri. Gender Equality ini ada sinyal untuk melepaskan peran ibu yang penting itu.

Kata Prof. Dr.Hamid Fahmi Zarkasyi, konsep kehidupan rumah tangga muslim diganggu oleh gerakan Gender Equality. Kehidupan keagamaan kita diganggu dengan faham Pluralisme.
Pada saat kita mengatakan :

اِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللّٰهِ الْاِ سْلَا مُ ۗ 

“Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 19)

Kemudian timbul suara-suara bahwa semua agama sama.

Kemudian kehidupan bernegara dan bermasyarakat kita juga diganggu dengan suara-suara yang mengatas namakan Demokrasi. Dalam arti ketika suara mayoritas memutuskan sesuatu harus disetujui, terlepas usulan mayoritas itu bertentangan dengan agama atau tidak.

Tiga hal ini kalau masuk akan membahayakan kehidupan berbangsa dan bernegara, bahkan bermasyarakat kita sampai ke masalah rumah tangga kita.

Naifnya ada beberapa sarjana kita yang mengikuti ritme ini. Maka lahirlah tulisan-tulisan yang mendukung tiga gagasan tadi : Fiqih Lintas Agama, Argumen Kesetaraan Jender, Fiqih Perempuan.

Dalam konteks hadits, para sarjana kita yang berinteraksi dengan hadits, orang-orang Liberal memakai enam methode :

1. Manipulasi dalil berdasarkan asumsi awal
2. Bersandar kepada pendapat yang lemah
3. Materialisme
4. Historisisme
5. Reinterpretasi Teks atas nama Maslahat.
6. Merujuk referensi Sekunder


Contoh Penerapan Methodology Liberal


Sebelumnya saya minta maaf karena ini dalam forum ilmiah, maka ketika menyebut contoh, saya harus menyebut nama.

1. Manipulasi dalil berdasarkan asumsi awal

Ada disertasi ditulis oleh Abdul Moqsith Ghazali. Dia sudah berasumsi bahwa semua agama itu sama. Akhirnya dalil-dalil yang dia temui dipelintir untuk membenarkan asumsi itu. Pernah kita sampaikan hal ini (memelintir dalil) juga dilakukan oleh Kang Jalal dalam hal Puasa Asyura, dalam bukunya ‘Islam Aktual’.

2. Bersandar kepada pendapat yang lemah

KH Husein Muhammad tokoh dari Cirebon mempunyai kitab namanya Fiqih Perempuan. Tema yang pertama beliau menulis tentang Kepemimpinan perempuan dalam shalat.
Beliau mengatakan bahwa hadits yang mengatakan perempuan tidak boleh mengimami laki-laki itu haditsnya lemah. Dan memang benar hadits lemah. Tapi sejatinya ada beberapa hadits lain yang shahih sebagai dalil tetapi oleh beliau tidak ditampilkan dalam bukunya.

Sebaliknya beliau menyampaikan dalil bahwa pernah ada perempuan yang mengimami laki-laki. Ummu Waroqah mempunyai mushola di kampungnya dan meminta pada Rasulullah supaya ada laki-laki yang jadi muadzin. Dalam riwayat itu dikatakan ketika shalat jama’ah , imamnya adalah Ummu Waroqah dan diantara makmumnya ada anak laki-laki dan muadzin itu.
Hadits tentang Ummu Waroqah ini menurut beliau Shahih. Sebenarnya hadits ini kalau dirujuk ke sumbernya dinilai lemah, tetapi beliau KH Husein Muhammad tidak menampilkan wutuh pendapat ulama-ulama hadits tentang status hadits ini.
Kemudian di ujung tulisannya beliau menjungkir balikkan antara hikmah dengan illat.

3. Materialisme

Ada beberapa sarjana kita yang mengingkari riwayat yang menurut mereka tidak bisa dinalar, karena berbenturan dengan akal. Mereka lupa bahwa seorang Nabi itu dikaruniai sesuatu yang di luar nalar, yaitu mukjizat. Definisi mukjizat itu adalah suatu perkara yang tidak seperti biasanya.

Riwayat Shaq Al Shadr

Ketika Nabi Muhammad SAW masih kecil dan diasuh oleh Halimah Sadi’ah di kampung Bani Sa’d , ada riwayat yang menuturkan bahwa Rasulullah saat itu masih kecil dan bermain-main dengan anak-anak Halimah Sadi’ah. Kemudian Rasulullah didatangi oleh seorang laki-laki baju putih dan dibelah dadanya. Beberapa sarjana muslim tidak setuju dengan riwayat itu.

Penolakan mereka narasinya bagus : Rasulullah itu pribadi yang agung. Tidak perlu ada tambahan-tambahan mitos seperti itu. Awalnya menyanjung Rasulullah tapi akhirnya menyangsikan. Kita menerima dan menolak suatu riwayat itu berdasarkan keshahihan dari kaca mata hadits. Perawinya satu persatu nyambung dan tidak bermasalah. Memenuhi kriteria hadits shahih, maka kita harus menerima, terlepas itu rasional ataupun irrational.

Tapi kalau kita pikirkan lebih dalam lagi, apa yang salah dengan dibelahnya dada Rasulullah. Dan yang melakukan itu adalah malaikat. Seorang dokter bedah saja bisa membuat operasi nyaris tidak kelihatan bekas operasinya. Itu manusia yang berprofesi sebagai dokter. Apalagi kalau yang melakukan itu Malaikat. Tidak rasionalnya di sebelah mana?

Kalau riwayat tentang Shaq Al Shadr atau dibelahnya dada Rasulullah ini ditolak, ini akan berimbas kepada mukjizat Rasulullah yang selanjutnya. Dia akan mengatakan Isra’ Mi’radj juga tidak masuk akal. Bagaimana mungkin dalam satu malam bisa melakukan perjalanan sejauh itu dan secepat itu. Dari Mekkah ke Palestina kemudian melesat ke atas, balik lagi dan pagi-pagi sudah kembali.

Dianggap tak mungkin, lalu ditakwil bahwa Isra’ Miradj hanya ruhnya saja, jasadnya tidak. Kalau seperti itu bukankah seperti orang mimpi? Semua orang bisa mimpi seperti itu. Lalu apa bedanya.? Kalau pemikiran liberal ini dibiarkan maka semua mukjizat Nabi-nabi akan ditolak kaum liberal.

– Apa benar laut bisa di belah?
– Apa benar api jadi dingin?
– Apa benar tongkat jadi ular?

Nanti semua ditolak dan membahayakan karena cara pandang materialistik. Ini ditulis oleh Haekal, dia sarjana luar negeri tapi ada sarjana kita yang mengamini pendapat ini.

4. Historisisme

Ini adalah methode yang digunakan di Barat untuk membaca sebuah Text. Text ini kenapa hadir dan apa yang melatar-belakanginya. Kronologinya bagaimana kemudian disimpulkan : Apakah kondisi pada saat hadirnya text itu juga relevan dalam konteks kekinian? Misal ayat turun tentang warisan bahwa anak laki-laki mendapat lebih dari anak perempuan.
Ayat ini menurut mereka tidak serta- merta bisa diimplementasikan di bumi Indonesia, karena budaya di Indonesia tidak sama dengan budaya dimana turunnya ayat ini.

Begitu pula dalam konteks memahami hadits Nabi. Ulil pernah mengatakan bagaimana mengikuti Rasul.
Dia mengatakan :
“Bagaimana mengikuti Rasul ? Disini saya mempunyai perbedaan dengan pandangan dominan. Dalam usaha menerjemahkan islam dalam konteks sosial politik di Madinah, Rasul tentu menghadapi banyak keterbatasan. Rasul memang berhasil menerjemahkan cita-cita sosial dan spiritual Islam di Madinah, tetapi Islam sebagaimana diwujudkan di sana adalah Islam historis, partikular.

Jadi Islam zaman Rasulullah itu adalah Islam yang excellent pada masanya. Nanti dalam perjalanan waktu, tidak harus orang itu kemudian sedikit- sedikit merujuk ke Rasulullah.
Hukum-hukum di zaman Rasulullah bisa jadi memang sesuai saat itu, boleh jadi dalam perjalanannya hukum itu sudah tidak sesuai untuk masa-masa yang akan datang.

Apa yang dikatakan Ulil ini sebenarnya hampir sama dengan yang dikatakan oleh Muhammad Shahrur. Tokoh liberal kelahiran Syria yang lama belajar di Rusia. Dia tidak belajar agama Islam, dia belajar Fisika Matematika. Dia membuat buku yang terkenal “Al Kitab wal Qur’an”. Jadi Ulil ini sebenarnya mengcopas apa yang dikatakan Shahrur.

Shahrur ini yang gagasannya beberapa waktu yang lalu dijadikan disertasi di UIN Yogya. Disertasi yang bermasalah itu. Shahrur mengatakan : Zina itu adalah ketika hubungan laki-laki dengan perempuan dilakukan dengan ada unsur keterpaksaan dari salah satunya. Kalau hubungan itu dilakukan dengan sukarela maka itu bukan Zina.
Kesimpulan Shahrur ini kemudian diamini dalam disertasi yang kemarin menghebohkan.

Bagaimana bisa disertasi seperti itu bisa lolos? Karena pembimbingnya memang pemujanya Shahrur. Dia mengutip tulisannya Shahrur dan nyaris tak ada kritikannya sama sekali. Padahal kitabnya Shahrur Al Kitab wal Qur’an, Qiraah Mu`ashirah ini begitu terbit ada 15 kitab yang mayoritas ditulis oleh ulama Mesir membantah kitabnya Shahrur. Jadi di Mesir, kitab Shahrur ini sudah masuk tong sampah. Tetapi oleh sarjana kita pemikiran Shahrur ini dipungut dan didaur-ulang.

Disini, dalam disertasi Milkul Yamin yang mengutip Shahrur, sama sekali tidak mengutip Kitab yang mengkritisi Kitab Shahrur. Ini tidak fair, namanya kaca mata kuda. Mana bisa seorang Hakim memutuskan perkara kemudian hanya mendengar keterangan dari Jaksa Penuntut Umum. Dia tidak mendengarkan pembelaan Terdakwa dan Pengacaranya. Seharusnya mendengar pendapat dua pihak dan ditimbang-timbang, baru diputuskan.

5. Reinterpretasi Teks atas nama Maslahat

Mereka mereinterpretasi teks atas nama maslahat, bahkan menggunakan kata-kata Maqoshidus Syariah. Ini seperti gagasan dari KH Masdar F Mas’udi sekitar tahun 2002, bahwa waktu Haji perlu ditinjau ulang. Alasannya dia menganggap Al Qur’an sendiri mengatakan bahwa waktu pelaksanaan haji tidak beberapa hari, tapi beberapa bulan.

Dia mengacu Firman Allah :

اَلْحَجُّ اَشْهُرٌ مَّعْلُوْمٰتٌ ۚ 

“Musim haji itu pada bulan-bulan yang telah dimaklumi.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 197)

Bulan haji itu mulai Syawal, Dzulqo’dah dan Dzulhijjah. Mengapa praktek haji selama ini, sejak zaman Rasulullah hingga sekarang kok berpusat dalam beberapa hari? Wukuf dalam satu waktu, kemudian bergerak ke Muzdalifah ke Mina dalam satu waktu? Thawaf Ifadhoh dan seterusnya pada satu waktu? Padahal waktunya luas seperti ayat di atas. Itu kata Masdar F Mas’ud.

Dia menganalogikan dengan Shalat Isya’. Bukankah shalat Isya’ boleh dilakukan pada jam 19.30 atau jam 20.00 atau jam 21.00 atau bahkan sampai larut malam ? Jadi bisa kapanpun selama dalam batas waktu itu. Kenapa dalam konteks Ibadah Haji selama ini prakteknya kok hanya satu waktu? Padahal Al Qur’an sudah gamblang mengatakan : “al-hajju asy-hurum ma’luumaat”

Kalau dijawab, dahulu Rasulullah memberi contoh wukufnya pada tanggal 9 Dzulhijjah . Dia beralasan bahwa Rasulullah kan hanya melakukan haji sekali seumur hidup. Dan Sahabat-Sahabat waktu itu mengikuti Rasulullah karena umat Islam saat itu belum banyak. Belum ada korban haji karena berdesakan. Kemudian kata Masdar F Mas’udi, pelaksanaan Haji perlu ditinjau ulang.

Sekilas usulannya rasional juga bila dibandingkan dengan Shalat Isya’. Kenyataan kita boleh shalat Isya’ pada jam 23.00, 24.00 atau jam 01.00. Maka haji juga begitu, karena waktu haji ada 3 bulan. Masdar mengusulkan jama’ah dari Asia bulan Syawal, kemudian dari Eropa bulan lain sehingga tak ada korban yang jatuh. Selain itu bisa menyerap antrian Haji. Selama ini dibatasi karena memang tidak muat bandaranya, tidak muat Masy’aril Haromnya . Kalau dibuat bergilir kan jadi banyak yang terserap.

Kalau kita tak punya back ground ilmu agama yang kuat bisa jadi kita terseret arus liberalisasi. Dia mengatakan gagasan itu beberapa tahun silam.
Sampai saat ini belum ada revisi pendapat Masdar F Mas’udi itu. Kebetulan dia pergi ke Kairo dan ketemu senior saya Dr. Mukhlis Hanafi.
Senior saya menemui Masdar F Mas’ud dan menyatakan bahwa idenya itu bukan barang baru.

Dulu ada seorang Jendral di Mesir yang melontarkan ide seperti itu. Dan dia menuliskan ide pengaturan jadual haji dalam sebuah buku. Tapi tidak lama setelah itu sudah banyak buku yang membantah ide itu dari ulama Al Azhar. Akhirnya beredar dua buku itu di Mesir. Akhirnya ide Jendral itu lenyap.

Dimana letak kelemahan ide Masdar F Mas’udi ? Memang ada ayat yang berbunyi : “al-hajju asy-hurum ma’luumaat”
Bahwa bulan haji ada tiga bulan, Syawal, Dzulqo’dah dan Dzulhijjah. Dan memang selama ini jama’ah haji memang sudah mulai terbang ke Mekkah pada bulan Syawal.

Ada yang gelombang 1 yang landing di Jeddah atau Madinah. Gelombang 2 landing di Jeddah langsung ke Mekkah. Itu prosesnya memang memakan waktu berbulan-bulan. Sampai menjelang tanggal 9 Dzulhijjah jama’ah sudah siap-siap masuk ke Arofah.

Bukti bahwa ibadah haji harus pada tanggal tertentu ada pada lanjutan ayat itu.

Allah SWT berfirman:

وَا ذْكُرُوا اللّٰهَ فِيْۤ اَيَّا مٍ مَّعْدُوْدٰتٍ ۗ فَمَنْ تَعَجَّلَ فِيْ يَوْمَيْنِ فَلَاۤ اِثْمَ عَلَيْهِ ۚ وَمَنْ تَاَ خَّرَ فَلَاۤ اِثْمَ عَلَيْهِ ۙ لِمَنِ اتَّقٰى ۗ وَا تَّقُوا اللّٰهَ وَا عْلَمُوْۤا اَنَّکُمْ اِلَيْهِ تُحْشَرُوْنَ

“Dan berzikirlah kepada Allah pada hari yang telah ditentukan jumlahnya. Barang siapa mempercepat meninggalkan Mina setelah dua hari, maka tidak ada dosa baginya. Dan barang siapa mengakhirkannya tidak ada dosa baginya, yakni bagi orang yang bertakwa. Dan bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah bahwa kamu akan dikumpulkan-Nya.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 203)

Ayat ini tentang pilihan nafar awal atau nafar tsani. Tentang apa itu nafar awal dan nafar tsani tentunya sudah dapat dipahami oleh yang sudah melaksanakan Haji.

Routenya pada tanggal 9 semua jamaah wukuf di Arafah. Setelah maghrib jamaah akan meninggalkan Arofah bergerak menuju Muzdalifah untuk mengambil krikil dan mabit disana. Setelah Subuh jamaah melempar jumrah yang pertama. Setelah itu ada pilihan bagi jamaah apakah tetap di Mina atau langsung ke Mekkah untuk Thawaf Ifadhoh. Kalau di Mina dia mabit lagi semalam. Untuk melempar jumrah tiga-tiganya. Kalau dia berhasil meninggalkan Mina sebelum matahari tenggelam maka dia itu nafar awal. Kalau dia masih disitu saat matahari tenggelam berarti dia ikut nafar tsani. Manasik seperti itu di dalam ayat “wazkurulloha fiii ayyaamim ma’duudaat” yang artinya tanggal untuk pelaksanaan haji itu beberapa hari yang sudah pasti. Yaitu mulai tanggal 9 Dzulhijjah sampai hari Tasyrik.

Kritikan terhadap ide Pak Masdar sudah disampaikan senior saya dengan harapan Masdar F Mas’udi melakukan koreksi apa yang ditulisnya, karena kalau tidak , hal ini bisa membahayakan. Tapi sayang dia tidak melakukan koreksi.

Tahun berikutnya dosen saya Dr. Anis Malik Thoha, pernah haji dan ketemu Pak Masdar saat wukuf di Arofah. Dr. Anis tanya kenapa Pak Masdar wukuf tanggal 9 Dzulhijjah? Bukankah Pak Masdar punya gagasan bahwa wukuf tidak harus tanggal 9, karena haji kan durasinya panjang.? Jawabannya tulisannya itu main-main saja. Mestinya masalah agama jangan dibuat jadi wacana main-main.

Kalau sebuah pemikiran, kemudian salah, semestinya harus segera dikoreksi. Ulama dulu juga banyak, awalnya ijtihad kemudian ternyata ada koreksi, maka mereka melakukan koreksi. Seperti Imam Syafi’i kemudian ada Qaul Qadim dan Qaul Jadid. Di Mesir juga ada sarjana liberal yang setelah dikoreksi lalu menarik apa yang ditulisnya.

Di Indonesia, saya belum pernah menemukan seorang Tokoh liberal kemudian menarik apa yang pernah dilontarkannya. Yang ada dulu agresif kemudian seiring dengan bertambahnya usia sibuk di dunia tassawuf. Mestinya dia harus membuat karya koreksi terhadap apa yang dulu dilontarkannya. Karena kalau karya lama dibaca orang lain dan membahayakan, maka dia akan mendapatkan aliran dosa,

Sebagaimana firman Allah :

اِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتٰى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوْا وَاٰ ثَا رَهُمْ ۗ وَكُلَّ شَيْءٍ اَحْصَيْنٰهُ فِيْۤ اِمَا مٍ مُّبِيْنٍ

“Sungguh, Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati, dan Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab yang jelas (Lauh Mahfuz).”
(QS. Ya-Sin 36: Ayat 12)

Kalau ada seorang sarjana, dia menulis tulisan, kemudian tulisannya salah tapi tidak dikoreksi, sehingga tulisan salah ini dibaca dan diyakini orang lain. Maka sarjana penulis itu dapat kiriman dosa.

6. Merujuk referensi Sekunder

Artinya mereka merujuk pada orang yang bukan otoritas bidangnya. Mungkin kalau dalam dunia medis :
– Memberi obat yang sebenarnya tidak dikonsumsi Pasien sehingga menimbulkan efek yang tidak baik buat kesehatan.
– Jika seorang suami mau memeriksakan kandungan isteri mestinya ke Dokter Kandungan, bukan Dokter THT.
– Kalau orang sakit mata ke dokter mata, jangan ke dokter yang lain.

Begitu pula dalam sebuah karya harus merujuk ke otoritas bidangnya.
Dr.H.Muhibbin Noor MA disertasi beliau ketika di Yogya : Kritik atas keshahihan Hadits Imam Bukhori.
Di awal bukunya beliau mengkritik beberapa Hadits Shahih Bukhori. Diantara yang beliau tulis adalah apa yang sudah ditulis oleh Imam Ad Daruqutni.

Imam Ad Daruqutni ini mengkritik Shahih Bukhori, bahwa disana ada hadits-hadits yang Dhoif. Tapi sejatinya kritikan Imam Ad Daruqutni ini sudah dijawab oleh Ibnu Hajar Al Asqolani, ulama Hadits yang mensyarah Shahih Bukhori. Nama kitabnya adalah Fathul Bari . Kitab ini jilid pertama diberi nama Hadyu al-Syari, khusus menjawab kritikan- kritikan ke Shahih Bukhori, diantaranya kritikan Ad Daruqutni.

Dr. Muhibbin Noor ini menukil kritikan Ad Daruqutni, tapi jawaban Ibnu Hajar Al Asqolani tidak ditulis dibawahnya. Akhirnya pesan yang diterima oleh Pembaca adalah bahwa Hadits Shahih Bukhori banyak yang lemah.
Tentu ini tidak bisa dibenarkan, ibarat orang bermedsos tahu ada berita Hoax yang sudah ada klarifikasinya tapi berita Hoax tetap disebarkan, klarifikasinya tidak disertakan. Akhirnya orang yang dikirimi berkesan bahwa berita itu benar. Ini tidak fair.

Adalagi contoh dalam buku Sahabat Nabi. Tulisan dosen UIN Jakarta bernama Fu’ad Jabali. Ini adalah terjemahan disertasi beliau. Disini ada testimony dari Jalaludin Rahmat. Diantara yang ditulis oleh Fu’ad Jabali dalam disertasinya adalah beliau mengkritik bahwa menurut Ulama Suny, Sahabat itu semuanya adil. Dalam arti Sahabat tidak mungkin berdusta atas nama Nabi.

Tapi kriteria ini dikritisi oleh Fuad Jabali : “Tidak mungkin Sahabat adil, buktinya ada sahabat yang mencuri, ada yang berzina”.

Kesimpulannya beliau gagal faham terhadap ‘Adalatu as-Shahabah’, maksud Sahabat itu adil bukan berarti sahabat itu steril dari salah dan dosa. Sahabat mungkin pernah berbuat salah dan dosa, mungkin juga pernah melakukan kemaksiatan, akan tetapi untuk urusan berdusta atas nama Nabi itu tidak mungkin. Karena mereka sudah digaransi oleh Al Qur’an dan oleh Nabi dalam sabdanya sendiri. Hal itu adalah Etika para Sahabat.

Fuad Jabali tidak berpandangan seperti kita, tapi berpandangan sebagaimana orang-orang Syi’ah bahwa sahabat itu banyak salah dan dosanya, bahkan berdusta juga. Jadi orang Syi’ah hanya menerima beberapa gelintir Sahabat saja. Yang lain tidak diterima bahkan ada sahabat yang sampai pada tahap dikafirkan.

Kitab lainnya Perempuan Tertindas, kajian atas hadir-hadis Misoginis adalah kompilasi beberapa artikel yang ditulis oleh beberapa dosen.
Ada beberapa hadits yang disinyalir mendiskriminasi perempuan.
Bunga rampai ini memberi kesan ada beberapa text agama yang tidak ramah pada perempuan. Artikel ini kerjasama dengan Ford Foundation. Salah satu dari LSM asing yang banyak mendanai liberalisasi di Indonesia.

Begitulah beberapa sarjana kita, disadari atau tidak mereka itu sedang mengikuti ritme apa yang dimainkan orang Barat. Ini seperti apa yang telah diprediksikan oleh Rasulullah.

Rasulullah SAW bersabda,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ , قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ : فَمَنْ

“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (kadal) , pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Muslim).

Rasulullah sudah memprediksi bahwa akan ada muslimin yang pola pikirnya ikut-ikutan mereka.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK




LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here