Dr. Zuhad Masduki MA

28 Jumadil Akhir 1442 / 10 Februari 2021



Tafsir Surat Al Lail ayat ke 1-3

Surat Al Lail dimulai dengan sumpah.
Allah SWT berfirman:

وَا لَّيْلِ اِذَا يَغْشٰى ۙ (1) وَا لنَّهَا رِ اِذَا تَجَلّٰى ۙ (2) وَمَا خَلَقَ الذَّكَرَ وَا لْاُ نْثٰۤى ۙ (3)

wal-laili izaa yaghsyaa
wan-nahaari izaa tajallaa
wa maa kholaqoz-zakaro wal-ungsaaa

“Demi malam apabila menutupi cahaya siang , demi siang apabila terang benderang, demi penciptaan laki-laki dan perempuan,” (QS. Al-Lail 92: Ayat 1- 3)

Obyek sumpahnya ada tiga :
– Demi malam apabila ia menutupi sehingga gelap gulita.
– Demi siang apabila terang benderang, karena matahari tampak.
– Demi penciptaan laki-laki dan perempuan.

Disini sumpah Allah berkaitan dengan keMahaKuasaan Nya mencipta. Mencipta siang dan malam dan penciptaan laki-laki dan perempuan.
Siang dan malam tidak lain adalah dampak dari bumi mengitari matahari. Dan bumi kita berputar.

Ketika permukaan bumi kita berhadapan dengan matahari maka kita ada di waktu siang ,dan apabila permukaan bumi kita membelakangi matahari kita akan di waktu malam. Ini pengaturan Allah SWT tentang siang dan malam. Allah sangat Maha Kuasa. Dan ini berlangsung terus-menerus sepanjang masa.

Penciptaan laki-laki dan perempuan dari pertemuan sperma laki-laki dan ovum perempuan. Dalam proses reproduksi akan tercipta janin yang berkelamin laki-laki dan janin yang berkelamin perempuan. Ini juga keMahaKuasaan Allah SWT dalam mencipta manusia. Tidak ada yang kuasa melakukan kecuali Allah SWT.
Ini adalah sistem yang diciptakan oleh Allah SWT di alam semesta.


Tafsir Surat Al Lail ayat ke 4

Obyek jawab sumpah adalah ayat yang ke empat. Allah SWT berfirman:

اِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتّٰى ۗ 

inna sa’yakum lasyattaa

“sungguh, usahamu memang beraneka macam.” (QS. Al-Lail 92: Ayat 4)

Manusia itu usahanya sangat beda-beda. Kecenderungannya juga sangat berbeda-beda. Ini sesuai dengan pengembangan manusia terhadap potensi-potensi yang ada pada dirinya. Potensi baik dan potensi buruk. Ada orang yang usahanya itu baik, dia akan menuju ke Surga. Ada yang usahanya buruk yang menuju ke Neraka.

Kalau kita mengidentifikasi keragaman usaha-usaha manusia itu akan sangat banyak sekali. Misalnya profesi manusia juga sangat beragam, ada yang pegawai, ada yang pengusaha, ada yang dokter, ada yang wiraswasta. Segala macam ini juga termasuk bagian dari pengaturan Allah SWT dalam pembagian rezeki.

Dengan adanya keragaman, keragaman kecenderungan manusia, keragaman usaha-usaha manusia, membawa pada dampak pengaturan rezeki dari Allah SWT


Tafsir Surat Al Lail ayat ke 5-7

Allah SWT berfirman:

فَاَ مَّا مَنْ اَعْطٰى وَا تَّقٰى ۙ (5) وَصَدَّقَ بِا لْحُسْنٰى ۙ (6) فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلْيُسْرٰى ۗ (7)

fa ammaa man a’thoo wattaqoo
wa shoddaqo bil-husnaa
fa sanuyassiruhuu lil-yusroo

“Maka barang siapa memberikan dan bertakwa dan membenarkan yang terbaik , maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan.” -(QS. Al-Lail 92: Ayat 5-7)

Kita pernah menyampaikan dalam kajian sebelum ini, kalau Allah dalam Al Qur’an menggunakan kata kerja transitif tapi obyeknya tidak disebut, maka obyeknya menjadi luas.
Disini kata a’thoo tidak menyebut obyeknya. Maka obyek dari a’thoo ini juga menjadi luas. Sehingga hal yang diberikan itu adalah segala sesuatu yang dimiliki oleh manusia.

Kalau ini kita terjemahkan secara lebih bebas, a’thoo bisa kita terjemahkan memiliki Kepedulian Sosial. Yang diberikan kepada orang lain bisa dalam bentuk harta benda, bisa dalam bentuk tenaga, bisa dalam bentuk pemikiran-pemikiran yang sehat dan konstruktif dan lain-lain. Jadi kita punya Kepedulian terhadap orang lain secara individual maupun secara kolektif.

Kata wattaqoo (dan bertakwa). Takwa kalau di dalam Tafsir-tafsir modern, definisinya adalah Kemampuan menghindari siksa dunia dan kemampuan menghindari siksa akhirat.

Siksa dunia terjadi kalau manusia melanggar hukum sebab akibat yang berlaku di alam semesta ini.
Siksa akhirat terjadi kalau manusia melanggar syariat agama, tidak beriman, tidak shalat, tidak melakukan puasa dan sebagainya. Tetapi siksanya tidak langsung diterima sekarang. Tetapi ditangguhkan sampai yang bersangkutan kembali kepada Allah SWT.

“wa shoddaqo bil-husnaa”, (membenarkan yang terbaik).
Kata al-husnaa itu bentuk muannats dari kata Ahsan (terbaik atau paling baik). Yang terbaik bisa dalam arti Surga atau ganjaran-ganjaran dari Allah SWT atau kesudahan yang baik bagi manusia.

Ada 3 tindakan disini yang disebut oleh Allah SWT : a’thoo (memberi) ; wattaqoo (bertakwa) dan wa shoddaqo bil-husnaa (membenarkan yang terbaik dari Allah SWT).
Kalau tiga hal ini dilakukan oleh manusia maka janji Allah kepadanya adalah : ‘fa sanuyassiruhuu lil- yusroo’ (Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan).

Dalam konteks ayat ke 5 sampai 7 ini ada riwayat di dalam hadits Nabi SAW. Haditsnya termaktub dalam bab Takdir.

Suatu hari Rasulullah ada ditengah- tengah Sahabat. Kemudian beliau bersabda :
“Setiap kamu sudah ditentukan tempatnya : Surga atau Neraka”.
Maka seorang Sahabat lalu bertanya : “Wahai Rasul kalau setiap kita sudah ditentukan tempatnya di Surga atau di Neraka, apakah tidak sebaiknya kita diam saja, kita tidak usah berusaha ?”.
Kemudian Rasul menjawab : “Tidak, jangan. Setiap kalian harus berusaha karena setiap kalian akan dimudahkan”.

Tetapi kata dimudahkan itu dua maknanya, dimudahkan memperoleh kemudahan dan dimudahkan memperoleh kesulitan. Lalu setelah itu Rasul membaca Surat Al Lail ini, ayat 5 sampai 7. Sehingga ayat ini dinyatakan oleh para ulama bahwa ini adalah Rumus Kehidupan.

Siapa yang ingin dimudahkan memperoleh kemudahan dalam kehidupan di dunia ini maupun nanti di akhirat menuju ke Surga, syaratnya adalah melakukan 3 perkara :
– a’thoo (Peduli Sosial)
– wattaqoo (bertakwa)
– shoddaqo bil-husnaa (membenarkan yang terbaik dari Allah SWT).
Ini janji Allah SWT kepada kita semua.
Karena secara berdiri sendiri bertakwa dampaknya juga disebut di Surat At Talaq ayat 2-3

وَمَنْ يَّـتَّـقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ 
وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۗ 

wa may yattaqillaaha yaj’al lahuu makhrojaa , wa yarzuq-hu min haisu laa yahtasib,

“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka- sangkanya.” (QS. At-Talaq 65: Ayat 2-3)

Dan dalam Surat At Talaq ayat 4

وَمَنْ يَّـتَّـقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مِنْ اَمْرِهٖ یُسْرًا

wa may yattaqillaaha yaj’al lahuu min amrihii yusroo

“Dan barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya.”
(QS. At-Talaq 65: Ayat 4)

Apalagi kalau yang dilakukan tiga hal : Memberi (Peduli sosial) , Bertakwa dan Membenarkan yang terbaik dari Allah SWT.

Kalau orang membenarkan adanya Surga, percaya pada Surga, terkait hadits di atas, juga merupakan koreksi dari Rasulullah terhadap Sahabat yang mempunyai pandangan-pandangan yang Fatalistik. Orang Mekkah dan Madinah karena alamnya yang gersang mereka mempunyai pandangan Fatalistik.

Sekarang kita juga menemui di kalangan umat Islam yang memiliki pandangan-pandangan yang Fatalistik. Dalam konsep Takdir, ada Takdir yang Fatalistik dan ada Takdir yang Dinamis. Takdir yang Dinamis memahami Qadla sebagai Sistem dan Qadar sebagai penerapan dari Sistem di dalam realitas kehidupan kita.

Ayat 5-7 ini juga bisa kita pakai sebagai panduan kita di dalam memberikan pencerahan kepada masyarakat bahwa manusia itu adalah makhluk yang bebas yang dianugerahi oleh Allah kebebasan untuk berkehendak. Kalau kita ingin sukses baik di kehidupan dunia maupun di kehidupan akhirat , kita harus mengikuti rumus-rumus sukses yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.


Tafsir Surat Al Lail ayat ke 8-11

Ini adalah Rumus Kegagalan. Rumus dimudahkan memperoleh kesulitan.

Allah SWT berfirman:

وَاَ مَّا مَنْۢ بَخِلَ وَا سْتَغْنٰى ۙ (8) وَكَذَّبَ بِا لْحُسْنٰى ۙ (9) فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلْعُسْرٰى ۗ (10)

wa ammaa mam bakhila wastaghnaa
wa kazzaba bil-husnaa
fa sanuyassiruhuu lil-‘usroo

“Dan adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup, tidak perlu pertolongan Allah , serta mendustakan pahala yang terbaik, maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kesukaran.” (QS. Al-Lail 92: Ayat 8-10)

“bakhila”, dalam arti luas, bisa materi maupun non materi.
Dia merasa dirinya cukup tidak butuh pada orang lain, atau bahkan merasa cukup tidak butuh pada Allah SWT.
Serta mendustakan yang terbaik, baik itu Surga ataupun Ganjaran Allah. Orang kalau tidak percaya kepada Ganjaran Allah, maka dia tidak akan mencari Ganjaran. Orang-orang Kafir yang tidak percaya pada Ganjaran atau Surga maka dia tidak akan mencari keduanya.

Kalau ketiga hal ini dilakukan, maka Allah memudahkannya untuk memperoleh kesulitan. Baik dalam kehidupan di dunia maupun kehidupan di akhirat. Ini rumus untuk gagal.

Allah tidak memaksa manusia untuk mengikuti yang pertama atau yang kedua, karena manusia sudah diberi kebebasan-kebebasan oleh Allah SWT. Dia dibebaskan memilih sendiri, bisa milih 3 yang pertama sehingga dimudahkan memperoleh kemudahan, bisa memilih yang kedua, dimudahkan memperoleh kesulitan.

Maka kalau kita sekarang dalam kehidupan ini memperoleh kesulitan, introspeksinya boleh jadi kita lewat ayat-ayat ini. Apakah tiga perkara ini sudah kita lakukan atau belum.


Tafsir Surat Al Lail ayat ke 12-13

Allah SWT berfirman:

اِنَّ عَلَيْنَا لَـلْهُدٰى ۖ (12) وَاِ نَّ لَـنَا لَـلْاٰ خِرَةَ وَا لْاُ وْلٰى(13)


inna ‘alainaa lal-hudaa
wa inna lanaa lal-aakhirota wal-uulaa

“Sesungguhnya Kamilah yang memberi petunjuk, dan sesungguhnya milik Kamilah akhirat dan dunia itu.” (QS. Al-Lail 92: Ayat 12-13)

Allah sudah memberikan petunjuk kepada kita semua. Petunjuk-petunjuk itu disampaikan Allah SWT lewat Nabi-Nabi yang diutus kepada manusia dari Nabi yang pertama sampai Nabi yang terakhir.

Petunjuk-petunjuk itu bisa beda-beda karena masyarakat ini berkembang. Syariatnya juga beda-beda karena kondisi masyarakat juga berbeda- beda. Maka kita mengenal ada Syariat Musa, ada Syariat Isa dan ada Syariat Muhammad SAW. Perbedaan ini karena perbedaan dan perkembangan masyarakat.

Allah sudah memberikan kepada manusia potensi-potensi, agar dapat menangkap dan memahami petunjuk- petunjuk itu tadi, yaitu potensi akal dan qalbu. Kalau akal ini digunakan sebaik-baiknya maka manusia pasti akan bisa meraih petunjuk-petunjuk Allah SWT. Kalau manusia tidak mengikuti tuntunan Rasul dan tidak mengikuti akal, manusia bisa tersesat didalam kehidupannya.

Allah sudah mengatur hukum-hukum kehidupan dunia dan hukum-hukum kehidupan akhirat. Siapa yang mengikuti hukum-hukum kehidupan dunia maka dia akan berhasil dalam kehidupan dunia. Siapa yang mengikuti hukum-hukum kehidupan akhirat maka dia juga akan berhasil di dalam kehidupan di akhirat. Kehidupan dunia hukumnya beda dengan kehidupan di akhirat.

Kehidupan di akhirat tidak bisa disamakan dengan kehidupan di dunia.
Untuk mencapai kebahagiaan di akhirat syaratnya ada 3 :
1. Dia beriman kepada Allah SWT.
2. Dia melakukan amal-amal sholeh
3. Motivasi melakukan amal-amal sholeh itu semata-mata karena Allah SWT.

Kalau rumus Kehidupan dunia itu titik tolaknya berdasarkan hukum sebab akibat. Hukum kehidupan dunia juga berlaku kepada orang-orang yang tidak beriman kepada Allah SWT.
Ini juga bisa kita baca pada doanya Nabi Ibrahim. Beliau waktu di Mekkah pernah berdo’a :

رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا بَلَدًا اٰمِنًا وَّا رْزُقْ اَهْلَهٗ مِنَ الثَّمَرٰتِ مَنْ اٰمَنَ مِنْهُمْ بِا للّٰهِ وَا لْيَوْمِ الْاٰ خِرِ ۗ قَا لَ وَمَنْ كَفَرَ فَاُ مَتِّعُهٗ قَلِيْلًا ثُمَّ اَضْطَرُّهٗۤ اِلٰى عَذَا بِ النَّا رِ ۗ وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ‏

“Ya Tuhanku, jadikanlah (negeri Mekah) ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya, yaitu di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, Allah menjawab: Dan kepada orang yang kafir akan Aku beri kesenangan sementara, kemudian akan Aku paksa dia ke dalam azab neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 126)

Orang Kafir dalam kehidupan di dunia mereka bisa sukses. Tetapi hanya di dunia saja. Di akhirat mereka akan dipaksa masuk ke Neraka.

Maka kita untuk bisa sukses dalam kehidupan dunia mari kita fahami betul sunatullah dan kita implementasikan secara baik dan benar sehingga kita akan sukses di dalam kehidupan di dunia. Di semua lini kehidupan, baik dalam bidang ekonomi, dalam bidang sosial, dalam bidang politik dan lain sebagainya.


Tafsir Surat Al Lail ayat ke 14-16

Allah SWT berfirman:

فَاَ نْذَرْتُكُمْ نَا رًا تَلَظّٰى ۚ(14) لَا يَصْلٰٮهَاۤ اِلَّا الْاَ شْقَى ۙ (15) الَّذِيْ كَذَّبَ وَتَوَلّٰى ۗ (16)

fa angzartukum naarong talazhzhoo
laa yashlaahaaa illal-asyqoo
allazii kazzaba wa tawallaa

“Maka Aku memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala,
yang hanya dimasuki oleh orang yang paling celaka, yang mendustakan kebenaran dan berpaling dari iman.”
(QS. Al-Lail 92: Ayat 14-16)

Ini peringatan Allah SWT kepada orang -orang yang durhaka kepada Allah SWT yaitu orang-orang kafir. Surat Al Lail ini turun di Mekkah. Waktu di Mekkah dakwah Nabi Muhammad tidak disambut dengan baik. Mayoritas orang-orang Mekkah, terutama tokoh-tokohnya justru menentang dakwahnya Rasulullah SAW. Maka mereka diancam oleh ayat ini.

Orang yang masuk ke dalam Neraka adalah orang-orang yang celaka.
Orang-orang celaka ada tingkat- tingkatannya : Orang Celaka, Lebih celaka dan Paling celaka.
Orang yang celaka, mereka beriman tapi mungkin tidak beriman kepada Rasulullah. Yang lebih Celaka, mereka tidak beriman kepada Allah SWT dan kepada Rasulullah SAW.

Ayat ini bisa kita fahami ayat yang bicara tentang hukum sebab akibat. Orang masuk Neraka karena ada sebabnya, yaitu berpaling dari kebenaran. Sebaliknya orang masuk Surga juga ada sebabnya, yaitu dia menerima ajaran kebenaran itu dan melaksanakannya dengan sebaik- baiknya dalam kehidupan di dunia.

Jadi tidak ada orang yang memang sudah ditakdirkan oleh Allah masuk Neraka , dalam pengertian dipaksa oleh Allah masuk Neraka atau sebaliknya sudah ditakdirkan masuk Surga. Surga dan Neraka itu adalah pilihan-pilihan dari manusia. Yang berpaling ke Neraka yang merespon dengan baik masuk ke Surga.


Tafsir Surat Al Lail ayat ke 17-21

Allah SWT berfirman:

وَسَيُجَنَّبُهَا الْاَ تْقَى ۙ (17) الَّذِيْ يُؤْتِيْ مَا لَهٗ يَتَزَكّٰى ۚ (18) وَمَا لِاَ حَدٍ عِنْدَهٗ مِنْ نِّعْمَةٍ تُجْزٰۤى ۙ (19) اِلَّا ابْتِغَآءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْاَ عْلٰى ۚ (20) وَلَسَوْفَ يَرْضٰى(21)

wa sayujannabuhal-atqoo
allazii yu`tii maalahuu yatazakkaa
wa maa li`ahadin ‘ingdahuu min ni’mating tujzaaa
illabtighooo`a waj-hi robbihil-a’laa
wa lasaufa yardhoo

“Dan akan dijauhkan darinya (neraka) orang yang paling bertakwa, yang menginfakkan hartanya di jalan Allah untuk membersihkan dirinya.
Dan tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat padanya yang harus dibalasnya, tetapi dia memberikan itu semata-mata karena mencari keridaan Tuhannya Yang Maha Tinggi. Dan niscaya kelak dia akan mendapat kesenangan yang sempurna.” (QS. Al-Lail 92: Ayat 17-21)


Di atas sudah dijelaskan bahwa bertakwa yang dimaksud adalah menjauhkan diri dari siksa dunia dan menjauhkan diri dari siksa akhirat dengan cara beriman kepada Allah SWT. Siapa orang yang paling bertakwa, yaitu yang menginfakkan hartanya di jalan Allah untuk membersihkan dirinya.

Ayat yang ke 19, kalau tidak kita fahami latar belakangnya, agak susah untuk kita fahami. Bunyi ayat 19 artinya : “dan tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat padanya yang harus dibalasnya”

Kalau kita baca latar belakangnya adalah kasus Abu Bakar memerdekakan Bilal. Bilal adalah seorang budak miliknya Umayyah. Dia beriman kepada Rasul dan dipaksa murtad tidak mau, sehingga dia sering disiksa oleh Umayyah. Lalu Abu Bakar membebaskan Bilal dengan harga yang sangat tinggi. Kemudian orang-orang melecehkan Abu Bakar. Dia membebaskan Bilal karena hutang budi, karena Bilal pernah berjasa kepada Abu Bakar.

Kita sekarang juga sering melihat kasus-kasus seperti ini, seperti Gubernur DKI itu walaupun melakukan kebaikan tetap saja buzzer-buzzer itu sinis terhadap apa yang dilakukan Anies, misalnya dengan mengatakan : “Ini kan dilakukan oleh Gubernur sebelumnya, dia cuma melanjutkan”.
Ini adalah orang sinis kepada Pelaku Kebaikan.

Jadi tidak hanya di masa lalu perilaku orang yang tidak baik. Sekarang juga banyak yang seperti itu. Dan mereka mungkin mendapat bayaran-bayaran yang mahal untuk melakukan tindakan-tindakan semacam itu.

Kemudian rumor negatif tadi dijawab oleh ayat 20 : “tetapi dia memberikan itu semata-mata karena mencari keridaan Tuhannya Yang Maha Tinggi”

Ayat ini menampik rumor yang berkembang di Mekkah.
Abu Bakar membebaskan Bilal bukan karena balas budi, tetapi Abu Bakar melakukan tindakan itu karena semata-mata mencari ridha Allah SWT.
Dan Abu Bakar yang melakukan tindakan sangat mulia itu nanti pasti akan sangat ridha dengan balasan yang akan diberikan oleh Allah di akhirat.

Inilah rumus, kunci menuju ke Surga. Lawan dari ayat 14-16, orang masuk Neraka karena dia berpaling dari kebenaran. Sebaliknya orang masuk Surga karena orang menerima kebenaran itu dengan sebaik-baiknya dan diamalkan dalam kehidupan di dunia.

Ayat-ayat Surat Al Lail ini penting sekali, terutama ayat 5-11, rumus dimudahkan :
– Dimudahkan memperoleh kemudahan (ayat 5-7)
– Dimudahkan memperoleh kesulitan (ayat 8-11)

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here