Dr. Adian Husaini

24 Jumadil Akhir 1442 / 6 Februari 2021



Hikmah Pandemi Covid-19

Apa yang bisa kita ambil hikmah dari pandemi Covid-19 ini?
Menurut saya, salah satu aspek penting adalah dalam bidang Pendidikan. Disinilah kita dipaksa untuk kembali kepada hakekat pendidikan Islam. Yaitu pendidikan yang menjadikan orang tua sebagai guru yang utama. Ini yang betul-betul diingatkan oleh Rasulullah SAW :

كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ

“Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani.” (HR Bukhori)

Orang tuanyalah harusnya menjaga fitrah. Mengembangkan fitrah Tauhid sehingga semakin kuat dengan kesaksian, dengan keilmuan yang semakin kokoh sehingga manusia semakin dekat dengan Allah.

Kenapa kata Rasulullah kemudian :
“orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani ?”
Karena orang tua tidak punya ilmu. Ilmu bagaimana mendidik anak supaya semakin sholeh. Fitrahnya makin kuat, bukan malah justru dia menjadi pembangkang. Menjadi orang-orang yang dimurkai Allah (al-maghdhuubi atau Yahudi) dan orang-orang yang tersesat (adh- dhooolliin atau Nasrani).

Di dalam Pesantren tingkat SMA saya mengajar Islamic Worldview ini satu semester hanya mengajarkan makna :
shiroothol-mustaqiim ; al-maghdhuubi dan adh- dhooolliin. Ciri-ciri Yahudi itu apa, ciri-ciri Nasrani itu apa. Karena itu yang dikhawatirkan oleh Rasulullah SAW.

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِي جُحْرِ ضَبٍّ لَاتَّبَعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ

“Sungguh, kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga sekiranya mereka masuk ke dalam lubang biawak sekalipun kalian pasti akan mengikuti mereka.” Kami bertanya; “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu kaum Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab: “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR Musim – Shahih)

Rasulullah mengkhawatirkan kita mengikuti sunah-sunah dari orang sebelum kita berupa : tradisi, cara berfikir, pola hidup, pendidikan, politik, ekonomi , semuanya. Cara mengikutinya sedikit-demi-sedikit , tidak langsung. Ikut-ikutan sampai tidak ada rasionalnya lagi. Sudah merupakan tindakan yang sangat bodoh. Kadang asal bangga, ikut-ikutan.

Problem yang kita hadapi ini sangat berat karena kaum Yahudi Nasrani sekarang sudah berhasil melahirkan suatu peradaban besar selama ratusan tahun. Sekarang peradaban ini sudah Western Civilization. Dan peradaban inilah yang sekarang memimpin manusia.

Muhammad Asad (Leopold Weiss) tokoh Yahudi yang masuk Islam, beliau mengatakan : “Ciri peradaban barat modern yang sekarang ini adalah ir-relijius (anti agama)”. Memang mereka mengajak manusia untuk meninggalkan agama. Sekarang ini betapa mudahnya orang mengatakan : “Jangan bawa-bawa agama !”.

Pagi ini saya menulis artikel saya yang saya beri judul “Saya lebih suka dipaksa masuk Surga daripada dengan ikhlas masuk Neraka”.
Kalau di komplex perumahan saya dibuat aturan yang tidak berjamaah subuh didenda 10 ribu rupiah, saya setuju. Itu bentuk pemaksaan.

Banyak bentuk pemaksaan.
Sekarang masalahnya boleh atau tidak satu sekolah memaksa murid- muridnya yang muslim memakai jilbab untuk menutup aurat? Boleh tidak?
Atau Sekolah harus berfikir Kebebasan? Silahkan kamu berpakaian apa saja , yang penting Freedom, kebebasan. ?
Barat peradaban memuja Freedom/ Liberty. Karena mereka dulu trauma diatur oleh Tuhan.

Jean Paul Sartre , filosof Perancis berkata : “even if God existed we must reject him. Since the idea of God may kill our freedom”.
(Bahkan andaikata Tuhan itu ada harus kita tolak karena ide tentang Tuhan itu membunuh kebebasan kita)
Lihat saja masyarakat Barat, apa inti kehidupan mereka? Intinya mereka tidak mau diatur oleh Tuhan. Bebas bagi mereka itu bebas dari agama. Mereka trauma terhadap agama. Patung Liberty itu maknanya kebebasan.

Sekarang kita ingat, siapa makhluk yang tidak mau diatur oleh Allah? Iblis.!
Kisah Adam dan Iblis sampai diulang- ulang dalam Al Qur’an beberapa kali dalam beberapa Surat. Itu menunjukkan betapa pentingnya kisah itu, karena kisah itu masih terus berlanjut.

Janji, sumpah iblis yang ada dalam Al Qur’an

قَا لَ فَبِعِزَّتِكَ لَاُ غْوِيَنَّهُمْ اَجْمَعِيْنَ ۙ 

“Iblis menjawab, Demi kemuliaan-Mu, pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya,” (QS. Sad 38: Ayat 82)

Sumpah Iblis ini serius bukan main-main. Demikian juga anak buah Iblis, para setan berwujud manusia yang disebutkan dalam Surat Al An’am :

وَكَذٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيٰطِيْنَ الْاِ نْسِ وَا لْجِنِّ يُوْحِيْ بَعْضُهُمْ اِلٰى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُوْرًا ۗ وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوْهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُوْنَ

“Dan demikianlah untuk setiap Nabi Kami menjadikan musuh yang terdiri dari setan-setan manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah sebagai tipuan. Dan kalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak akan melakukannya, maka biarkanlah mereka bersama apa yang mereka ada-adakan.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 112)

Setan dari jenis manusia dan jin pekerjaannya menyebarkan kata-kata yang indah dengan tujuan untuk menipu. Theori-theori yang seolah-olah rasional itu untuk menipu. Dan itu sudah diingatkan oleh Al Qur’an.

Betapa pentingnya kita memahami ayat-ayat tentang Yahudi dalam Al Qur’an. Ciri-ciri Yahudi disebutkan detail sekali dalam Al Qur’an. Dalam Surat Al Baqarah saja sudah banyak sekali menjelaskan tentang sifat-sifat Yahudi. Misalnya mereka menolak hal-hal yang diluar empiris.

Allah SWT berfirman:

وَاِ ذْ قُلْتُمْ يٰمُوْسٰى لَنْ نُّؤْمِنَ لَـكَ حَتّٰى نَرَى اللّٰهَ جَهْرَةً فَاَ خَذَتْكُمُ الصّٰعِقَةُ وَاَ نْتُمْ تَنْظُرُوْنَ

“Dan ingatlah ketika kamu berkata, Wahai Musa! Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan jelas, maka halilintar menyambarmu, sedang kamu menyaksikan.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 55)

Kalau dalam keilmuan, mereka hanya percaya empirical knowledge. Kalau tidak dapat di indera mereka tidak mau mengakui kebenarannya.

Saya sering mengkritik kurikulum kita yang sangat positivistic, sangat materialistic. Tidak sesuai dengan tujuan pendidikan Nasional kita dalam Konstitusi. Ini berbahaya sekali karena murid-murid , anak-anak sekolah dipaksa untuk mempelajari theori asal-usul manusia bertentangan dengan Wahyu. Bahwa manusia itu asal-usulnya dari kera, dari homini sebangsa kera.

Tujuan utamanya apa ? Hakekat Darwinisme itu apa ? Survival.!
Theori mereka hanya itu , bahwa tujuan terpenting hidup itu cari makan, mencari gengsi di dunia. Itulah sekulerisme.

Kurikulum sampai merumuskan kebutuhan manusia. Masih sandang, papan, pangan kebutuhan primer. Tidak ada kebutuhan jiwa, kebutuhan ibadah, kebutuhan ilmu, kebutuhan dzikir.

Padahal dalam Al Qur’an, Allah SWT berfirman:

اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَ لَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ ۗ 

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 28)

Dengan berdzikir hati menjadi tenang. Berdzikir itu menjadi kebutuhan pokok manusia. Karena kalau manusia tidak berdzikir, tidak beribadah kepada Allah pasti tidak tenang hidupnya.

Betapa banyak Corona ini sekarang membuktikan bahwa ternyata berdzikir, shalat Tahajud itu mempercepat penyembuhan. Ketua DDII Jakarta, ustadz Zaenal Muttaqin bercerita bahwa beliau betul-betul sudah dalam keadaan kritis ketika terserang Corona di Rumah Sakit RSCM. Dokter sudah memvonis harus segera masuk ke ICU.

Ketika sakit itu dia bilang :
“Saya paksa Tahajud , saya berdiri shalat Tahajud dan saya keraskan baca Al Qur’an dalam shalat Tahajud”.
“Tiba-tiba satu-persatu rasa sakit saya itu hilang”. “Sesak nafas hilang, tekanan darah normal lagi dan ketika pagi dokter datang mau membawa ke ICU ketika dicek lagi sudah tidak ada lagi gejala-gejala penyakitnya”.

Bayangkan kalau orang yang tidak mengenal Allah dalam isolasi 14 hari sendirian, tambah stress dia.
Ini bukti bahwa berdzikir itu adalah kebutuhan pokok manusia.

Di Kurikulum kita , cara memahami apa yang dimaksud Kampus terbaik ?
Ranking ! Pasti mengikuti parameter Positivistic. Bahwa kampus terhebat itu adalah kampus yang melahirkan pekerja-pekerja yang sukses. Bukan kampus yang melahirkan orang-orang yang beriman dan bertakwa, berakhlakul Karimah.

Orang berakhlak mulia itu pasti sukses. Karena orang yang berakhlak mulia pasti dia jujur, pasti dia pekerja keras, pasti dia cinta ilmu, pasti dia hormat guru hormat orang tua.
Bukan sekedar sukses materi.

Kenapa Rasulullah SAW bersabda :

إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ صَالِحَ اْلأَخْلاَقِ.

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” (HR Bukhori)

Karena memang puncak kebaikan manusia itu ada pada kebaikan akhlak. Rasul mengingatkan :

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang terbaik akhlaknya” – (HR At-Tirmidzi)

Kita disuruh maju, menurut Islam. Tapi jangan maju meninggalkan Tuhan. Barat ini maju, tapi majunya dia meninggalkan Tuhan. Maka kalau orang meninggalkan Tuhan, meninggalkan dzikir, yang terjadi dia maju secara materi, dia sukses tapi dia akan merusak. Dia sendiri dirinya akan rusak, karena dirinya akan menjadi manusia yang serakah.

Dia akan menjadikan jabatannya, hartanya sebagai tujuan utama dalam kehidupan, bukan untuk sarana ibadah. Itu yang dalam sekulerisme disebut :
Science for the Science. Art for the Art.
Imu untuk ilmu , seni untuk seni.
Islam tidak begitu, dalam islam Politik untuk ibadah, Ekonomi untuk ibadah, Seni untuk ibadah.

Corona sebetulnya memaksa kita semua untuk kembali kepada jati diri kita. Kembali kepada hakekat bahwa yang mendidik yang benar itu orang tua. Orang tualah yang sekarang ini harus mengambil alih yang utama untuk mengarahkan anaknya : Mau kemana dia?

Allah SWT berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْۤا اَنْفُسَكُمْ وَاَ هْلِيْكُمْ نَا رًا وَّقُوْدُهَا النَّا سُ وَا لْحِجَا رَةُ عَلَيْهَا مَلٰٓئِكَةٌ غِلَا ظٌ شِدَا دٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَاۤ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
(QS. At-Tahrim 66: Ayat 6)

Ternyata ada penjelasan dari Ali bin Abi Thalib r.a. makna ayat itu adalah :
“Adibuhum wa alimuhum”.
Agar anak kita selamat, caranya dua.
‘adibuhum’ : Didiklah mereka menjadi orang beradab. ‘wa alimuhum’, dan didiklah mereka menjadi orang berilmu.

Rasulullah juga mengingatkan
“Haqqul waladi ‘alaa waalidihi an-yuhsina ismahu, wa yuhsina murdhi’ahu, wa yuhsina adabahu”.
(Hak seorang anak atas orang tuanya adalah mendapatkan nama yang baik, pengasuhan yang baik, dan adab yang baik).(HR. Al-Baihaqi)

Kalau orang tua tidak mendidik anaknya supaya beradab, beradab kepada Allah, beradab kepada Rasul, beradab kepada Ulama pewaris Nabi, beradab pada Guru, pada Orang tua, beradab pada Ilmu. Tahu mana ilmu yang mana fardhu ain dan mana fardhu kifayyah, mana ilmu yang penting dan mana yang tidak penting.

Itu Adab, itu kewajiban orang tua yang utama. Kalau orang tua tidak memberikan itu berarti dia belum memberikan hak pada anaknya. Dan anak di akhirat nanti menuntut orang tua. Orang tua tidak tahu.

Ini kesalahan yang besar sekali dalam dunia pendidikan kita. Kurikulum dari TK sampai S3 tidak ada sama sekali bagaimana mendidik anak-anak supaya nanti bisa menjadi orang tua yang baik. Semua diarahkan untuk menjadi pekerja yang baik.

Road Map Pendidikan Nasional kita dari 2020 – 2035 semua diarahkan bagaimana supaya negara Indonesia menjadi negara maju dengan kriteria income perkapita 12.000 USD per tahun atau sekitar 27 juta rupiah perkapita.

Di Road Map Pendidikan Nasional memang ada tulisan membentuk Pelajar bertakwa tetapi kurikulumnya diarahkan bagaimana nanti anak-anak itu menjadi pekerja yang baik, incomenya tinggi supaya nanti mencapai target Pembangunan Nasional, Indonesia menjadi negara maju.

Yang dikatakan maju kalau duitnya banyak. Kalau Indonesia naik seperti diprediksi oleh PWH Cooper bahwa tahun 2050 katanya Indonesia akan menjadi negara ke empat yang PDB nya terbesar setelah China, Amerika, India. Ke empat Indonesia.
Sekarang pendidikan kita diarahkan kesana.

Apakah Islam menolak orang Indonesia penghasilannya tinggi? Tidak! Islam mendukung itu, tapi itu bukan yang terpenting, sebab dalam Islam yang terpenting adalah kemajuan jiwa. Tazkiyatun nafs yang paling penting. Kita tidak menolak aspek materi.

Agama Islam bukan agama yang mengajarkan spiritualisme yang ekstrim. Yang mengatakan bahwa untuk dekat dengan Tuhan harus meninggalkan dunia. Sampai ada yang tidak mau kawin. Ada yang tidak mau bertahta, tak mau punya kuasa, tak mau punya harta. Islam tidak begitu.
Ajaran Islam itu adil, Washatiyah. Umatan washatan, bukan umat yang ekstrim mencintai materi berlebihan atau umat yang ekstrim meninggalkan materi.

Rasulullah marah, menegur beberapa Sahabat yang mau menjadi orang baik dengan jalan tidak mau kawin, akan puasa terus, shalat terus tidak tidur. Mereka ditegur Rasulullah karena Islam agama yang adil, bukan ekstrim dalam spiritualisme atau materialisme.

Ini kesempatan besar sekali. Sekarang ini mau tidak mau di Perguruan Tinggi saja, menurut Prof Budi Jatmiko, ketua APTISI di Indonesia ada 4500 an PTS. Kata Prof Budi sekarang di China, di Korea jumlah Universitas sudah banyak yang menurun.
Karena di era disrupsi, sekarang ini disrupsi membuat semua harus efisien. Semua yang tidak efisien gugur.

Di sekitar tempat saya, di Depok supermarket-supermarket besar tutup sekarang. Kemarin orang sampai antri mau masuk supermarket karena mau tutup, barang-barangnya dilelang, dijual murah. Yang tidak efisien tutup.
Media tutup, buku sekarang beralih ke on line. Kampus sekarang juga begitu.

Kata Prof Budi, sekarang tinggal satu saja yang masih mempertahankan regularsi Pemerintah. Pemerintah masih membuat regulasi yang memperhatikan soal S1, S2 dan S3. Nanti sebentar lagi sudah tidak layak lagi, termasuk PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh).

Kampus yang boleh PJJ, aturan Menteri yang akreditasinya A. Jadi yang B atau C tak boleh PJJ. Itu sudah tidak relevan aturannya. Karena sekarang dimana-mana sudah belajar on-line. Seperti kita sekarang ini sudah belajar on-line, ini sudah menjadi bagian dari kehidupan kita.

Apa yang terjadi dengan yang seperti ini yang namanya MOOCS (Massive Open Online Courses). Yang terjadi nanti Kampus yang tidak efisien terpaksa tutup. Karena orang akan mencari kampus-kampus yang memberikan satu nilai tambah yang riil. Bukan formalitas lagi yang diperlukan. Yang diperlukan sekarang yang nyata, apa ilmu yang diperlukan.

Kenapa Pemerintah sekarang membuat Kampus Merdeka, tiga semester terakhir mahasiswa boleh tidak belajar di kelas. Langsung praktek di Perusahaan atau di Masyarakat dan itu langsung dihitung SKS. Dia juga boleh mengambil prodi di luar bidangnya.

Kenapa? Supaya orang berfikir tidak linier lagi. Itu yang dihasilkan dari buku AIPI (Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia) tahun 2017 menyambut disrupsi. Perguruan Tinggi sudah tidak bisa, kalau orang belajar Hukum sekarang hanya Hukum saja. Tidak bisa! Dia harus belajar Psikology, dia harus belajar Sejarah, dia harus belajar Politik.

Bagi kita yang paling penting justru harus belajar Adab. Harus belajar Pendidikan. Jadi ini sekarang sedang perumusan ulang.
Alhamdulillah kalau saya memandang ini peluang besar sekali bagi Pesantren, bagi Masjid, bagi Majelis Taklim kita. Majelis Taklim kita bisa jadi Universitas.

Sekarang saya punya teman, kenalan baik, yang punya Yayasan di Bojong Gede pelosok. Dia punya sekolah disitu TK sampai SMP.
Tiba-tiba dia orang Minang, kreatif, dia pintar dulu Ketua IKP-DKI. Sekarang sekolahnya membuka Program S1-S2. Padahal sekolahnya siswanya hanya sampai SMP. Dia kerjasama dengan UT.

Dengan kerjasama dengan UT orang bisa sarjana sampai S3. Itu resmi Negeri, ijazahnya Negeri akreditasinya B. UT waktu saya datang ke Pusatnya , kira-kira 3 tahun yang lalu mahasiswanya sekitar 350.000 tersebar di 18 negara. Dan itu akan dijadikan sebagai model kampus digital Indonesia. Maka sekarang mbayarnya cukup mahal juga.

Jadi sekarang ini peluang, mau tidak mau harus kita persiapkan betul. Para orang tua atau calon-calon orang tua agar dia menjadi Pendidik. Dia bukan sekedar mengajar, bukan memindahkan Sekolah ke rumah. Yang penting adalah menanamkan Adab, menanamkan Nilai-Nilai. Akhlakul Karimah bagaimana membentuk anak menjadi orang yang jujur. Itu tugas orang tua, bukan tugas guru, bukan tugas Pondok.

Bagaimana dia menjadi Pekerja Keras? Bagaimana dia menjadi orang yang optimis? Bagaimana dia menjadi orang yang tidak pendendam? Tidak pendengki? Tidak sombong? Tidak angkuh? Bagaimana dia menjadi orang yang punya sikap Syaja’ah (Pemberani)?

Nilai-nilai itu di rumah tempatnya paling baik. Sekarang ini kesempatannya. Kenapa di buku saya yang baru “Bersama Dewan Dakwah mewujudkan Indonesia Adil makmur 2045” itu saya tekankan bahwa kita punya waktu 25 tahun sekarang. Paling tidak 20 tahun menuju 100 tahun Indonesia untuk melahirkan satu generasi baru. Generasi yang gemilang.

Hikmah Corona ini saya merasakan kita sekarang dipaksa oleh Allah untuk kembali ke jati diri Pendidikan yang sebenarnya, bahwa pendidikan yang terpenting adalah menanamkan Nilai-Nilai Akhlak Mulia, nilai-nilai Adab dalam diri peserta didik.

Alhamdulillah itu juga adalah Perintah Konstitusi : Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu Sistem Pendidikan Nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan Undang-Undang.

Bunyi Konstitusi kita sudah benar. Pendidikan kita yang penting meningkatkan Iman dan Akhlak Mulia. Dengan dasar ini baru cerdas. Maka ilmu kembali ke hakekat Pendidikan Islam yang dirumuskan Umar bin Khattab r.a : “Ta’adabu Tsuma Ta’alamu”, Beradablah kalian kemudian berilmulah kalian.

Akhir kata kita ingatkan pesan dari Lukman kepada anaknya :

يٰبُنَيَّ اَقِمِ الصَّلٰوةَ وَأْمُرْ بِا لْمَعْرُوْفِ وَا نْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَا صْبِرْ عَلٰى مَاۤ اَصَا بَكَ ۗ اِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُ مُوْرِ ۚ  

“Wahai anakku! Laksanakanlah sholat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting.” (QS. Luqman 31: Ayat 17)

Sampai kemudian kita diajarkan do’a :
“Allahumma habbib ilainal imaana wa zayyinhu fii quluubina wa karrih ilainaal kufra wal fusuuqa wal ‘isyaana waj’alnaa minar raasyidiin”

Yang artinya, “Ya Allah berilah kepada kami rasa cinta kepada keimanan, dan hiasilah keimanan itu pada hati kami serta berilah kepada kami rasa benci terhadap kekafiran, kefasikan dan kemaksiatan. Dan jadikanlah kami orang-orang yang mendapatkan petunjuk.”

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here