Dr. Adian Husaini

24 Jumadil Akhir 1442 / 6 Februari 2021



Tentang Ilmu

Pada kesempatan kali ini saya ingin mengajak kita untuk merenungkan fenomena atau fakta yang kita hadapi tentang pandemi Covid-19. Tentu kita merasakan bersama dan banyak lagi umat manusia di dunia ini yang merasakan hal yang sama dengan kita bahwa pandemi Covid-19 ini sudah hampir genap satu tahun. Ini sesuatu yang belum pernah kita alami.

Oleh karena itu bagaimana kita menyikapi masalah ini tentu adalah cara kita memandang pandemi Covid-19 ini. Kalau kita orang muslim memahami segala sesuatu, kita harus menggunakan sesuai dengan Islamic Worldview (Pandangan hidup Islam).
Cara pandang kita terhadap realitas, terhadap yang wujud, terhadap yang ada. Cara pandang kita berbeda dengan orang yang bukan muslim.

Yang membedakan, dalam memahami realitas dalam islam, yang disebut yang wujud atau yang ada itu berbeda dengan yang lain karena kita memahami yang wujud itu ada yang mahsus dan ada yang ghairu mahsus. Ada yang sifatnya inderawi atau sensible dan ada yang sifatnya insensible atau ghairu mahsus, sesuatu yang tidak bisa terindera.

Maka ilmu atau informasi yang kita terima tentang ada itu baik yang mahsus maupun yang ghairu mahsus itu adalah yang disebut dengan ilmu. Itulah yang dalam mukadimah Kitab Syarah `Aqaid Nasafiyah dijelaskan tentang sebab-sebab manusia meraih ilmu.

‘Ilmu’ itu akar katanya : ain, lam dan mim. Sama dengan ‘alam’, akar katanya juga ain, lam dan mim. Sama juga dengan ‘ilm’ atau ‘yakin’, akar katanya juga ain, lam dan mim.
Kalau kita kaitkan tiga ini : Alam , Ilmu dan Ilm (yakin). Harusnya kita memahami alam ini, baik yang mahsus maupun yang ghairu mahsus dan seharusnya melahirkan ilmu. Kita mendapat ilmu.

Ilmu itu sesuatu yang mengantarkan kita kepada keyakinan. Kita diperintahkan untuk memperhatikan apa yang ada di sekitar kita, melihat onta, melihat bumi, melihat gunung bahkan kita disuruh melihat makanan, memperhatikan lalat, nyamuk dan sebagainya. Tujuannya supaya kita dapat ilmu. Ilmu yang bermanfaat, ilmu yang benar mengantarkan kita kepada keyakinan.

Kalau kita melihat alam tapi cara melihatnya salah, kita tidak akan mendapat ilmu. Ini sesuai dengan ayat yang pertama kali turun.

Allah SWT berfirman:

اِقْرَأْ بِا سْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ ۚ 

“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan,” (QS. Al-‘Alaq 96: Ayat 1)

Perintahnya adalah bacalah, tidak sekedar membaca. Banyak orang melihat, banyak orang mendengar tapi tidak sampai mendapatkan ilmu yang bermanfaat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ .

“Menuntut ilmu wajib bagi setiap Muslim.” [HR Ibnu Majah]

Ilmu yang dimaksud disitu adalah ilmu yang nafi’ (bermanfaat) sehingga Rasulullah mengajarkan kita do’a :

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ, وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ, وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ, وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا

“Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari ilmu yang tak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, hawa nafsu yang tidak pernah puas dan doa yang tidak dikabulkan.” (HR. Muslim)


اللَّهُمَّ إنِّي أَسْأَلُكَ عِلْماً نَافِعاً، وَرِزْقاً طَيِّباً، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

Ya Allâh! Sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik dan amalan yang diterima (HR Ahmad)

Untuk mendapat ilmu yang bermanfaat, cara melihat wujud tadi harus benar. Sebab kalau ilmunya salah perilakunya salah juga. Ilmu yang salah adalah ilmu yang tidak bermanfaat. Bahkan bisa jadi ilmu itu mudharat, malah merusak.

Dia salah, karena tidak ‘bismi robbik’ (بِا سْمِ رَبِّكَ) ketika membaca alam. Dia membaca atas nama yang lain : Atas nama proyek, atas nama tujuan duniawi, apalagi kalau atas nama Setan, dia salah.

Melihat iqra harus benar , ‘bismi robbik’ (بِا سْمِ رَبِّكَ) itu ayat yang pertama yang turun kepada manusia.
Karena nanti yang akan mengubah manusia ilmunya. Dan ilmu itu ada dua : ilmu nafi’ (bermanfaat) dan ghairu nafi’ (tidak bermanfaat).

Allah SWT berfirman:

خَلَقَ الْاِ نْسَا نَ مِنْ عَلَقٍ ۚ 

“Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.” (QS. Al-‘Alaq 96: Ayat 2)

Kita mendapatkan ilmu yang bermanfaat supaya menyadari diri kita itu dari al ‘alaq (sesuatu yang melekat).
Setelah itu kita disuruh memuliakan Allah.

اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَ كْرَمُ ۙ 

“Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia.” (QS. Al-‘Alaq 96: Ayat 3)

Kemudian Allah mengajarkan kita dengan Qolam (Pena).

الَّذِيْ عَلَّمَ بِا لْقَلَمِ ۙ 

“Yang mengajar manusia dengan pena.” (QS. Al-‘Alaq 96: Ayat 4)

عَلَّمَ الْاِ نْسَا نَ مَا لَمْ يَعْلَمْ ۗ 

“Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq 96: Ayat 5)

Kemudian kita mengembangkan ilmu kita. Dengan memahami ini maka kita yakin cara memperoleh ilmu yang bermanfaat. Itu kuncinya.
Kenapa hidup manusia ini rusak? Masyarakat rusak? Karena ilmunya tidak manfaat. Ghairu nafi’ maka kita setiap hari membaca do’a.

Begitu juga sekarang, cara kita memahami Corona seperti apa?
Cara pandang dalam bahasa keilmuan disebut dengan epistemologi.
Kita membahas Ontologinya : Apa itu Corona.?

Corona kalau secara ontologis, realitas, maa hiya atau whatness-nya adalah virus, makhluk yang begitu kecil dan kita akui ada, kharakteristiknya ada. Dari berbagai pakar mereka yakin. Meskipun saya tidak pernah melihat langsung, tapi saya sampai dalam taraf yakin bahwa virus ini ada.
Ada kharakteristiknya, ada dampaknya. Darimana ilmu itu? Kita menerima dari Khabar. Bagi saya yang tidak melihat virus itu sendiri yakin dari Khabar. Khabar yang Shadiq.


Sumber Ilmu Menurut Islam

Dalam Kitab Syarah `Aqaid Nasafiyah disebutkan bahwa sebab manusia meraih ilmu ada tiga :

1. Ilmu dari Panca indera.

Nanti melahirkan ilmu-ilmu yang sifatnya empiris (empirical Knowledge).
Kita mengenal ilmu kuliner karena indera perasa kita. Ada ilmu tentang musik karena indera pendengaran kita. Ilmu Qira’ah itu dari pendengaran. Ada ilmu yang berasal dari penglihatan dan sebagainya.
Ilmu farmasi misalnya banyak yang dihasilkan dari empirical knowledge. Termasuk obat-obatan, vaksin yang ditemukan lahir dari empirical knowledge, dari proses-proses eksperimen. Hal itu diakui dalam islam sebagai salah satu ilmu.

2. Ilmu dari Akal/Penalaran

Dari menghubungkan satu fakta dengan fakta yang lain yang meyakinkan kita melahirkan ini.
Akal kita membenarkan bahwa tongkat yang dimasukkan dalam air, meskipun di pandangan mata kita bengkok tapi kita tahu akal kita tidak menerima itu. Kita mempercayai akal kita daripada mata kita. Matahari di mata kita kecil, tapi ilmu kita sampai pada kesimpulan bahwa matahari besar.

Kita ingat dalam Al Qur’an ada kisah Ratu Balqis yang masuk ke istana Nabi Sulaiman, dia menyangka kaca seperti air sehingga pakaiannya diangkat.

Kita mungkin pernah melihat di Mall ada orang yang menabrak kaca karena saking beningnya. Tapi kemudian setelah tahu ada kaca maka tak akan terulang lagi. Beda dengan serangga yang tak punya akal. Dia membentur kaca dan terus mengulanginya. Karena dia tak punya ilmu tentang kaca.

Islam mengakui adanya ilmu dilahirkan dari penalaran akal kita. Demikian dalam Kitab Aqaid Nasafiyah.
Akal kita memastikan bahwa :
– Jarak terdekat dari dua titik adalah garis lurus. Kita tak perlu mengukur tapi pasti secara logika.
– Seorang anak pasti tidak lebih tua dari ayahnya.
– Lingkaran itu pasti tidak punya sudut.
– Kalau ada kebakaran, meskipun kita tidak melihat, pasti ada api.

3. Ilmu yang berasal dari Khabar Shadiq.

Khabar Shadiq itu ada dua jenis :
– Khabar Shadiq yang bukan Wahyu.
– Khabar Shadiq yang Wahyu
Misalnya kita menentukan orang tua kita siapa? Kepastiannya bukan empiris. Empiris boleh, tidak bisa dilanggar, tetapi untuk hal ini kita cukup menerima dari Khabar.
Semua orang yang kita percaya di lingkungan keluarga kita mengatakan Bapak A ayah kita dan Ibu B adalah ibu kita. Hal ini kita terima, tidak perlu melakukan test DNA. Ini adalah ilmu dari sumber Khabar.

Kita tidak perlu melihat sendiri bahwa Virus Corona itu ada.
Namun ada juga orang di kalangan Pesantren yang mengatakan :
“Virus ini kan Hoax, saya tak pernah melihat langsung virus ini, berarti tidak ada”
“Kenapa kita shalat harus berjarak? Ini madzab WHO, tak pernah ada madzab seperti ini”
Ini karena dia mempunyai pemahaman bahwa ilmu itu berasal dari Setan.
Sekarang kalau boleh dia ditanya :
“Dia mengetahui Orang Tuanya dari jalur apa?” – Pasti dari jalur Khabar.

Semua pakar tentang Virus, Vaksin yang kita kenal jujur mengatakan bahwa memang Virus ini ada dan kharakternya begini-begini. Dan kita percaya Khabar itu.

Saya tak pernah ketemu Pangeran Diponegoro, tapi saya yakin benar bahwa Pangeran Diponegoro itu pernah ada. Dan saya yakin karena Khabarnya sudah Shadiq.
Presiden kita yang pertama adalah Bung Karno. Ini adalah Khabar Shadiq. Tak ada orang yang bisa membuktikan bahwa Presiden Indonesia yang pertama adalah Ken Arok.

Khabar Shadiq yang kedua berupa Wahyu yaitu Al Qur’an dan Sunah.

Cara pandang kita terhadap Corona sangat penting untuk menentukan kita memahami realitas ilmu tentang Corona yang benar.
Ketika kita memahami Corona sama dengan kita memahami berbagai musibah : Banjir, Gempa bumi, apa hakekat semua itu?

Kita mengintegrasikan tiga sumber ilmu tadi : Panca Indera (Empirical Knowledge) , Akal (Rational Knowledge) dan Wahyu (Revelation knowledge). Dengan demikian kita akan mendapatkan gambaran yang wutuh tentang Virus Corona. Bisa jelas dengan segala macamnya. Kita terima bahwa Virus memang ada dan kharakternya seperti apa.

Saya menerima ilmu tentang Corona seperti itu, maka di Pesantren saya mencegah Corona tidak dengan 3M tapi dengan 5M :
– Meminta pertolongan dan perlindungan kepada Allah.
– Memakai masker
– Menjaga jarak
– Mencuci tangan
– Meningkatkan imunitas.

Kenapa “Meminta pertolongan dan perlindungan kepada Allah” diletakkan sebagai yang pertama? Karena kita yakin bahwa Virus Corona tidak punya kehendak. Virus ini datang dari Allah. Allah yang mengirim Virus itu. Ini ilmu Wahyu.

Untuk apa Allah mengirimkan Virus itu? Itu kita tidak bisa cari dalam ilmu medis yang berasal dari Barat. Dari Rational Knowledge dan Empirical Knowledge tak bisa menjawab. Yang bisa menjawab Revelation Knowledge.

Allah mengirim Virus ini pasti ada maksudnya. Tidak ada yang sia-sia. Semua kehendak Allah.
Allah mengirim Corona, Allah mengirim Banjir.
Kenapa terjadi banjir ? Karena curah hujan tinggi. Itu sebetulnya adalah dampak, karena awan tidak datang dengan sendirinya. Awan datang atas kehendak Allah.

Allah SWT berfirman:

قُلْ لَّنْ يُّصِيْبَـنَاۤ اِلَّا مَا كَتَبَ اللّٰهُ لَـنَا ۚ 

“Katakanlah (Muhammad), Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami.”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 51)

Itu rumusnya, maka kalau sekarang ada Corona, apa yang dikehendaki oleh Allah? Kita mencari informasi dalam Revelation Knowledge.

Bahwa setiap musibah itu tujuannya apa? Supaya kita makin dekat dengan Allah! Itu yang terpenting. Apapun yang menimpa kita tujuannya supaya kita makin dekat kepada Allah.

Dampak terpenting dari Banjir, dari Corona, dari Gempa bumi adalah supaya manusia kembali kepada fitrahnya, kepada hakekat penciptaannya dia untuk apa?
Untuk “liya’ buduun”.
Karena tujuan Allah menciptakan manusia untuk menyembah Allah, untuk beribadah kepada Allah supaya manusia semakin dekat dengan Allah. Itu tujuan utamanya, bukan sembuh, bukan sehat.

Sehat penting, manusia harus sehat dan harus kuat. Bahkan Rasulullahpun mengingatkan.

الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ
الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ …

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah”…(HR Muslim).

Sehat dan Kuat itu perintah Allah dan Rasulnya. Tetapi orang yang sakit namun bertakwa kepada Allah lebih baik dari pada orang yang sehat tapi jahat. Tentu yang baik adalah orang yang sehat dan sholeh.

Biasanya kita berdo’a minta umur panjang. Saya belum pernah dengar orang berdo’a minta umur pendek. Mungkin ada, tapi langka sekali. Mungkin tidak tahan dengan sakitnya dia minta mati, atau terlalu tua.

Saya pernah lihat ada videonya karena dia sudah sangat tua. Semua temannya sudah mati, anaknya cucunya banyak yang mati. Dia sendiri kesepian ingin mati.

Tapi rata-rata kita tidak ada yang minta dipendekkan umurnya. Orang yang umurnya pendek tapi dia bermanfaat penuh berkah tentu lebih baik dari pada orang yang umurnya panjang tapi durhaka. Umurnya tidak membawa berkah, tidak digunakan untuk kebaikan.


Corona Menurut Epistemologi Islam

Kembali ke masalah Corona, cara pandang terhadap Corona harus benar sesuai dengan konsep Epistemologi Islam, konsep keilmuan islam yang sifatnya integral.

Kita menerima Virus Corona ini dengan segala macam keilmuan. Jangan mengabaikan aspek yang lain. Ilmu Wahyu penting, ilmu Rational juga penting dan ilmu Empiris juga penting.
Semua sumber ilmu tadi penting.

Ilmu Rational misalnya, ini bahkan ada dikalangan para ustadz. Mereka mengacu berita dari Grup WA bahwa ada dokter dari Italia yang mengatakan bahwa Virus Corona itu Hoax.

Bagi saya ketika menerima informasi yang pertama saya cek sumbernya dari mana? Begitu disebut linknya kita cek linknya benar atau tidak?
Pengecekan itu sendiri adalah Ilmu Wahyu :

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِنْ جَآءَكُمْ فَا سِقٌ   بِۢنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْۤا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا   بِۢجَهَا لَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan, yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat 49: Ayat 6)

“Fatabayyanu” itu perintah Allah. Dalam qiroah yang lain ada yang mengatakan “fatatsabbatû” yang artinya sama saja : Pastikanlah.
Pastikan berita itu benar atau tidak, jangan disebarluaskan. Itu panduan Wahyu yang intinya jangan gampang menyebarkan berita yang belum tentu benar.

Sekarang ini adalah Era yang menurut seorang Profesor dari Harvard University, Tom Nichols dalam bukunya “The Death of Expertise”,
Era Matinya Kepakaran.

Meskipun buku itu judulnya bombastis tapi fenomena mengarah kesana.
Di Amerika saja fenomenanya orang menerima informasi bukan karena otoritas Kepakaran. Disana yang penting orang itu cocok sama dia atau tidak. Kemudian orang itu terkenal atau tidak. Kalau dari kelompoknya, dia senang , informasi apa saja dianggap benar.

Karena itu di Amerika yang menolak vaksin diatas 50%. Ini bukan karena kepakaran atau informasi Rational, bukan karena otoritas Kepakaran.

Kita perlu sangat berhati-hati, dudukkan pada tempatnya. Kita bisa menjadi orang baik, bisa menjadi orang sholeh kalau Adil. Orang yang takwa itu orang yang adil.

Di dalam Al Qur’an banyak sekali perintah untuk berbuat adil.

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰ نُ قَوْمٍ عَلٰۤى اَ لَّا تَعْدِلُوْا ۗ اِعْدِلُوْا ۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰى ۖ 

wa laa yajrimannakum syana`aanu qoumin ‘alaaa allaa ta’diluu, i’diluu, huwa aqrobu lit-taqwaa

“Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 8)

Ada seorang tokoh Dewan Dakwah yang mengkritik Fatwa LPPOM MUI tentang Vaksin Sinovac. Dia bilang Vaksin Sinovac itu haram karena dia dari darah/sel kera. Kenapa MUI bisa menghalalkan itu?
Saya klarifikasi karena saya kenal Ketua LPPOM MUI, kenapa MUI sampai mengeluarkan Fatwa Halal buat Vaksin Sinovac?

Kemudian dia menjelaskan bagaimana prosedurnya, dan bagaimana secara fiqihnya. Kemudian saya menjadi faham. Jadi bukan mendengar informasi dari luar kemudian tidak Tabayyun atau Klarifikasi.

Jadi bukankah beda apabila orang yang memberikan berita kepada kita orang yang kita suka. Yang kita anggap dia bagian dari kita.

Berlaku adil itu perintah Allah, banyak sekali kita disuruh berlaku adil.
Kita ingin mendudukkan apa saja masalah yang kita terima. Itu harus kita dudukkan secara adil.


Kaitan Corona dengan Kebangkitan Islam

Setelah kita memahami betul bahwa Virus ini adalah kiriman dari Allah. Tujuan terpenting dari setiap peristiwa yang menimpa kita adalah agar kita semua kembali kepada hakekat penciptaan kita. Supaya kita beribadah kepada Allah, supaya kita semakin dekat dengan Allah.

Salah satu dampak yang penting dari virus ini adalah memaksa kita semua untuk kembali kepada Hakekat Pendidikan Islam. Ini yang pernah kita bahas dulu. Hakekat pendidikan Islam adalah bagaimana menjadikan manusia itu semakin dekat dengan Allah.

Saya kemarin di WA mau diwawancarai oleh wartawan harian Republika, topiknya adalah Penelitian Bio Research Center bahwa ternyata Virus Corona ini baik untuk Muslim dan Kristen, dari peristiwa ini banyak yang mengatakan mereka semakin mendekat kepada Tuhan.
Jadi mereka percaya Virus ini dari Tuhan. Wartawan Republika mewawancarai “Kenapa bisa begitu?”.

Kalau nanti jadi diwawancara saya mau menjawab bahwa ini fenomena arus balik sekulerisme. Sekulerisme ini sudah gagal. Cara berfikir yang menafikan Tuhan, cara berfikir yang menafikan akhirat sudah gagal. Gagal dalam memajukan manusia. Gagal membuat manusia makin sejahtera hidupnya. Itu fenomena global.

Kenapa muncul arus balik sekulerisme karena ternyata sains yang sekuler, yang betul-betul membuang aspek Ilahiyyah dan membuang aspek Ukhrowiyyah telah menciptakan monster-monster yang merusak kehidupan manusia itu sendiri.

Ternyata bumi ini tidak makin damai. Ternyata sebagian besar manusia tidak semakin sejahtera. Ternyata bumi ini dihuni oleh orang-orang yang justru ketimpangannya begitu dahsyat. Kerusakan lingkungan makin meluas.
Apa yang dulu dijanjikan bahwa Sains dan Teknologi itu akan makin membuat hidup manusia semakin bahagia, ternyata tidak terbukti.
Akhirnya sekarang banyak orang kembali kepada Tuhan. Itu hasil riset dari Bio Research Center.


BERSAMBUNG BAGIAN 2

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here