Tri Bimo Soewarno Lc. MSi

21 Jumadil Akhir 1442 / 3 Februari 2021



Hadits tentang Niat adalah hadits awal yang diambil dari Kitab Al Wafi, merupakan salah satu syarah dari Kitab Arbain Nawawiah yang ditulis Imam Nawawi. Syarah Kitab Arbain Nawawiah sangat banyak, salah satunya dengan penulisan modern adalah Al Wafi.

Pertama akan dituliskan haditsnya dulu maka ditulis Al haditsul awwalu.
Hadits pertama disebut haditsu Niyah.

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ.

( رَوَاهُ الْبُخَارِى وَمُسْلِمْ )

Amirul Mukminin Abu Hafsh Umar bin Khaththab ra. Berkata, aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Semua amal perbuatan tergantung niatnya dan setiap orang akan mendapatkan sesuai apa yang diniatkan. Barangsiapa berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa berhijrah karena dunia yang ia cari atau wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya untuk apa yang ia tuju.” (HR. Al-Bukhari & Muslim)

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, maka masuk kategori hadits yang Muttafaqun alaihi. Terkadang dibahasakan dengan Rawahusy syaikhoni atau Riwayatusy Syaikhoni yang artinya sama saja : Bukhori Muslim.

Dalam sistematika penulisan Al Wafi kemudian ada nama Imam Bukhari dan Imam Muslim yang sangat panjang yang semoga bisa memberikan motivasi pada kita semuanya untuk menjadi bagian dari orang-orang yang non Arab tapi fakih dalam agama.

Mereka ini orang-orang Asia Tengah. Kalau kita perhatikan orang-orang yang tampan berasal dari Kazakhstan, Dagestan, Tajikistan, Uzbekistan, Turkmenistan dan sebagainya. Mereka tradisi islamnya luar biasa dan sampai saat ini banyak diantara mereka yang sekolah di jami’ah islamiah di kampus-kampus di Timur Tengah dan pemahaman agamanya luar biasa.

Sistematika penulisan kemudian ada urgensi dari hadits Niat ini.
Kesimpulannya : Hadits ini dijelaskan merupakan poros dari islam dan merupakan pokok dari agama yang mana hukum-hukum agama berputar padanya.

Imam Abu Dawud menyampaikan : “Sesungguhnya hadits
إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
adalah separuh islam”.
Karena agama bertumpu pada dua hal: sisi lahiriyah (amal perbuatan) dan sisi bathiniyah (niat).”

Karena ini adalah hadits Niat maka dikatakan separuh dari agama Islam. Ini istilah dari Abu Dawud yang sangat masyhur dikalangan Para Ulama.

Imam Ahmad dan Imam Syafi’i berkata: “Hadits ini mencakup sepertiga ilmu, karena perbuatan manusia terkait dengan tiga hal : hati, lisan, dan anggota badan. Sedangkan niat dalam hati merupakan salah satu dari tiga hal tersebut.”
Karena perbuatan manusia datang dari hatinya sebagai poros awal, kemudian lisan dan anggota tubuh lain.

Maka jika kita mengaji tentang istiqomah pasti ada istilah istiqomatul qolbi. Karena hati adalah intinya. Bahkan hati diistilahkan Malik (raja) sedangkan tentaranya hati adalah anggota-anggota tubuh yang lain. Kalau hatinya sudah istiqomah maka semua tentaranya : lisan dan anggota tubuh yang lain juga akan istiqomah.

Mengingat urgensinya, maka banyak ulama mengawali berbagai buku dan karangannya dengan hadits ini.
Imam Bukhari menempatkan hadits ini di awal kitab shahihnya.

Imam Nawawi menempatkan hadits ini pada urutan pertama dalam tiga bukunya: Riyadhus Shalihin, Al-Adzkar, dan Al-Arba’in An-Nawawiyah. Ini perhatian Imam Nawawi akan pentingnya Niat.

Kita perlu paham bahwa Imam Nawawi adalah salah seorang Imam Besar bermadzab Syafi’i. Akan tetapi beliau meninggal dalam usia yang muda.
Karyanya luar biasa, belum sampai usia 50 tahun beliau meninggal dalam keadaan membujang, tidak menikah karena mengutamakan ilmunya.

Sekarang kita perhatikan Lughotul hadits :

Diriwayatkan oleh Amirul Mukminin Abu Hafsh Umar bin Khaththab ra
Sebutan Amirul Mukminin baru ada dijaman Umar bin Khattab. Jaman Abu Bakar belum ada sebutan Amirul Mukminin, adanya sebutan Kholifatul Rasulillah. Kholifatul artinya adalah Pengganti. Kholifatul Rasulillah adalah Penggantinya Rasulullah.

Seandainya digunakan istilah Pengganti, maka Umar bin Khattab adalah Kholifatu Kholifati Rasulullah (Penggantinya Pengganti Rasulullah) demikian seterusnya makin lama jadi makin panjang gelarnya.
Akan tetapi sebutan populer untuk Umar bin Khattab adalah Amirul Mukminin. Karena saat itu rakyat juga mengatakan : “Anta a’mirunaa” (Engkau adalah Pemimpin kami).

Sedangkan sebutan Abu Hafsh dari makna bahasa , al Hafs salah satu artinya adalah Singa. Karena keberanian Umar bin Khattab yang luar biasa. Al Hafsh ini adalah kunyah atau sebutan Umar bin Khattab.

Tapi banyak juga ulama lain yang menjelaskan bahwa Hafshah adalah nama dari salah satu puteri Umar bin Khattab yang juga isteri Rasulullah SAW. Maka Abu Hafsh adalah bapak dari Hafshah.

Salah satu model panggilan kesayangan orang Arab teruntuk pasangannya adalah mengubah Hafshah jadi Hafsh (menghilangkan huruf ta’ marbuta yang dibaca H) .
Terhadap Aisyiah, Rasulullah juga punya panggilan spesial yaitu Humairah atau A’isy (ta’ marbuta hilang).

Kalau kita perhatikan di Al Qur’an, orang Arab punya panggilan kesayangan dalam kondisinya riil saat itu. Bahkan kalau kita perhatikan Allah pun dalam beberapa Surat Al Qur’an memanggil Rasulullah dengan panggilan kesayangan untuk menunjukkan kedekatan luar biasa :

يٰۤاَ يُّهَا الْمُزَّمِّلُ ۙ 
yaaa ayyuhal-muzzammil

“Wahai orang yang berselimut (Muhammad)!” (QS. Al-Muzzammil 73: Ayat 1)

Memang pada waktu itu Rasulullah berselimut pasca kekhawatirannya menerima wahyu yang pertama di Gua Hira. Sehingga sampai Rasulullah minta diselimuti : “zammiluni…zammiluni.”

Berikutnya dalam ayat :

يٰۤاَ يُّهَا الْمُدَّثِّرُ ۙ 
yaaa ayyuhal-muddassir

“Wahai orang yang berkemul (berselimut)!” (QS. Al-Muddassir 74: Ayat 1)

Yaitu ketika Rasulullah sempat merasa bahwa wahyu terputus, kemudian Rasulullah bersedih ,kemudian datang suara Jibril yang membuat Rasulullah khawatir. Dan Rasulullah minta diselimuti : “dassiruni …dassiruni”


إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

Innama adalah penegas dari Inna. Sedangkan Niyyaat adalah jamak dari Niat. Secara tata bahasa adalah al qashdu atau kehendak.
Kehendak harus difollow up dengan perbuatan nyata. Kita ingin melaksanakan Shalat, itu baru niat. Kita bisa dikatakan melaksanakan shalat jika itu diikuti dengan perbuatan.

وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ

Ungkapan ini artinya adalah manusia umum, bisa laki-laki atau perempuan. Ini bahasa-bahasa hadits/ bahasa Al Qur’an yang sangat luar biasa.

Orang-orang Arab terkenal dengan kesusasteraannya yang sangat luar biasa. Maka Al Qur’an pun menantang orang Arab untuk mendatangkan sesuatu semisal Al Qur’an. Mereka tidak bisa.

Kemudian tantangan diturunkan mendatangkan 10 Surat semisal Al Qur’an, tetap tidak bisa.
Kemudian diturunkan paling rendah, untuk mendatangkan satu Surat semisal Al Qur’an :

وَاِ نْ کُنْتُمْ فِيْ رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلٰى عَبْدِنَا فَأْتُوْا بِسُوْرَةٍ مِّنْ مِّثْلِهٖ ۖ وَا دْعُوْا شُهَدَآءَكُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ

“Dan jika kamu meragukan Al-Qur’an yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah jika kamu orang-orang yang benar.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 23)

Ini untuk menunjukkan bahwa Al Qur’an bukan bikinan Nabi, sastrawan ataupun orang yang mahir bahasa Arab.
Al Qur’an adalah Kalamullah sehingga tidak bisa disaingi oleh para sastrawan ataupun para ahli balaghah.

هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ

Hijratuhu secara bahasa adalah meninggalkan secara Syar’i, meninggalkan wilayah kufur ke wilayah Islam karena khawatir terjadinya fitnah untuk mendapatkan ridho Allah dan ridho Rasul. Yang dimaksud hijrah dalam hadits ini adalah pindah dari Mekkah ke Madinah sebelum penaklukan kota Mekkah.


Sababul Wurud Hadits

Ini adalah sebab munculnya hadits. Kalau sebab turunnya ayat adalah Asbabun Nuzul. Jadi memang istilahnya beda.

Imam ath-Thabrani meriwayatkan, dalam al-Mu’jam Al-Kabir, dengan sanad yang bisa dipercaya, bahwa Ibnu Mas’ud berkata:
“Di antara kami ada seorang laki-laki yang melamar seorang wanita, bernama Ummu Qais. Namun wanita itu menolak sehingga ia berhijrah ke Madinah. Maka laki-laki itu ikut hijrah dan menikahinya. Karena itu kami memberinya julukan Muhajir Ummu Qais.”

Ini kalau istilah kita sekarang disebut : Hukuman Sosial. Ini luar biasa karena melebihi hukuman fisik. Seorang yang hijrah dari Mekkah ke Madinah itu pengorbanannya luar biasa. Meninggalkan saudara-saudaranya yang masih dalam kekafiran, meninggalkan harta dan apa saja yang dicintai ditinggal menuju Madinah.

Sebagian besar Sahabat semua berniat karena Allah dan Rasulnya. Tapi Muhajir Ummu Qais beda niatnya. Jarak yang ditempuh sama, tantangannya juga sama, bahkan laki-laki itu mungkin merasa lebih berat karena psikhologis yang tidak stabil.

Para Sahabat mendapat pahala yang luar biasa dari Allah SWT , sedangkan Muhajir Ummu Qais ini tidak mendapatkan apa-apa karena memang yang diinginkan hal-hal yang bersifat duniawi. Maka itu yang dia dapatkan, bukan pahala dari Allah SWT .


Fungsi Niat

وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا
فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ.

Fungsi niat itu adalah syarat diterimanya satu amalan.
Ada hadits yang perlu kita kenal, suatu hadits yang cukup panjang dan juga diriwayatkan oleh Imam Bukhari.
Hadits ini ada dibuku Al Ibadah fil Islam karya Syekh Yusuf Qardhawi.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَالَ رَجُلٌ لَأَتَصَدَّقَنَّ بِصَدَقَةٍ فَخَرَجَ بِصَدَقَتِهِ فَوَضَعَهَا فِي يَدِ سَارِقٍ فَأَصْبَحُوا يَتَحَدَّثُونَ تُصُدِّقَ عَلَى سَارِقٍ فَقَالَ اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ لَأَتَصَدَّقَنَّ بِصَدَقَةٍ فَخَرَجَ بِصَدَقَتِهِ فَوَضَعَهَا فِي يَدَيْ زَانِيَةٍ فَأَصْبَحُوا يَتَحَدَّثُونَ تُصُدِّقَ اللَّيْلَةَ عَلَى زَانِيَةٍ فَقَالَ اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ عَلَى زَانِيَةٍ لَأَتَصَدَّقَنَّ بِصَدَقَةٍ فَخَرَجَ بِصَدَقَتِهِ فَوَضَعَهَا فِي يَدَيْ غَنِيٍّ فَأَصْبَحُوا يَتَحَدَّثُونَ تُصُدِّقَ عَلَى غَنِيٍّ فَقَالَ اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ عَلَى سَارِقٍ وَعَلَى زَانِيَةٍ وَعَلَى غَنِيٍّ فَأُتِيَ فَقِيلَ لَهُ أَمَّا صَدَقَتُكَ عَلَى سَارِقٍ فَلَعَلَّهُ أَنْ يَسْتَعِفَّ عَنْ سَرِقَتِهِ وَأَمَّا الزَّانِيَةُ فَلَعَلَّهَا أَنْ تَسْتَعِفَّ عَنْ زِنَاهَا وَأَمَّا الْغَنِيُّ فَلَعَلَّهُ يَعْتَبِرُ فَيُنْفِقُ مِمَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ


Kepada Abu Hurairah, Rasulullah Muhammad SAW pernah mengabarkan tentang seorang laki-laki yang begitu semangat bersedekah.

“Aku pasti akan bersedekah,” ucap laki-laki itu menggebu.
Saat matahari sudah tenggelam, keluarlah laki-laki itu dengan barang siap disedekahkan di tangannya. Dihampirinya seseorang pria yang tampak membutuhkan, dengan segera ia memberikan sejumlah hartanya.

Rasa bahagia membuncah di hatinya lantaran berhasil beramal.
Keesokan paginya, ia mendengar orang-orang ramai membicarakan tentang seorang yang telah bersedekah kepada pencuri semalaman.

Si laki-laki itu kaget bukan kepalang, ia yakin yang dimaksud orang-orang adalah dirinya. Ia khawatir amalannya menjadi sia-sia karena menderma pada orang yang tidak tepat.
Akan tetapi, ia tak menyerah dan justru lebih semangat bersedekah, “Ya Allah, segala puji bagi-Mu, aku pasti akan bersedekah lagi,” ucapnya.

Tatkala malam kembali gelap, laki-laki itu keluar dengan sejumlah harta di tangannya. Kali ini, ia memberikannya kepada seorang perempuan.
Keesokan paginya, orang-orang membicarakan tentang seorang pelacur yang mendapatkan sedekah semalam.

Si laki-laki itu tertegun, rupanya sedekahnya lagi-lagi salah sasaran. Kali ini jatuh di tangan tuna susila.
“Ya Allah segala puji bagi-Mu, ternyata sedekahku jatuh kepada seorang pezina, aku pasti akan bersedekah lagi,” ucapnya

Laki-laki itu kembali menyiapkan infaknya, ia yakin kali ini sedekahnya kali ini akan tepat sasaran. Di malam yang sepi, ia keluar membawa sejumlah harta dan memberikannya kepada seseorang.
Keesokan paginya, ia mendengar orang-orang kembali ramai membicarakan tentang sedekah yang dianggap salah bidikan, kali ini orang kaya raya yang mendapatkannya.

“Ya Allah segala puji bagi-Mu, ternyata sedekahku jatuh kepada seorang pencuri, pezina, dan orang kaya,” ucap laki-laki itu bersedih.
Setelah merasa lelah, ia tertidur dan bermimpi seseorang mendatanginya sembari berkata;

“Sedekahmu kepada pencuri, mudah-mudahan dapat mencegah si pencuri dari perbuatannya. Infakmu kepada pezina, mudah-mudahan dapat mencegahnya berbuat zina kembali. Sedangkan sedekahmu kepada orang kaya, mudah-mudahan dapat memberikan pelajaran baginya agar menginfakkan harta yang diberikan Allah kepadanya”.

Ini salah satu hadits shahih dari Imam Bukhari yang menjelaskan bahwa niat ikhlas yang kuat terkadang menolong pelakunya pada saat beramal walaupun obyek penerima amal kebaikan kadang tidak tepat sasaran.
Yang perlu digaris bawahi adalah dia benar-benar ikhlas dan menjaga diri untuk tidak riya. Karena antara Ikhlas dan Riya akan selalu terjadi pertempuran.


Indikator Ikhlas

Bahasan para ulama, kita bisa mendeteksi yang kita lakukan ikhlas atau tidak dengan dua indikator :

1. Senantiasa melakukan kebaikan di saat sendirian atau pada saat ada banyak orang.

Jangan sampai kebalik-balik, misal shalat wajib tak mau di masjid karena khawatir dianggap riya. Tentu saja tidak karena ada unsur Syi’ar. Kita memang dianjurkan untuk shalat bersama. Tentu dengan mengelola hati.

Ulama menyampaikan itu karena ada manusia yang pada saat sendirian dia malas. Akan tetapi ketika sedang banyak orang dia ingin menunjukkan kebaikannya. Kalau ada banyak orang kebaikan kita meningkat itu wajar, tapi jangan sampai perbedaannya drastis antara melakukan kebaikan sendirian dan melakukan kebaikan bersama orang lain.

Kadang-kadang memang kita membutuhkan semangat lingkungan, kadang kita membutuhkan orang- orang sholeh yang ada disekitar kita yang memotivasi kita untuk semakin semangat melakukan kebaikan.

2. Dia akan senantiasa terus melakukan kebaikan baik dipuji ataupun dicerca oleh manusia.

Kadang kita tidak dapat menghindari pujian. Kita melakukan sesuatu yang baik kemudian dipuji orang dan kita mendengar. Kemudian kita senang. Itu wajar, manusiawi. Akan tetapi jangan sampai kemudian kebaikan kita berikutnya dengan mengharap pujian ini. Sehingga saat tidak dipuji kita berhenti melakukan kebaikan.
Atau jangan sampai kebaikan yang kita lakukan karena cercaan, kritikan atau celaan orang kita lalu berhenti berbuat kebaikan.

Akhirnya ada pada bagaimana kita mengelola hati. Karena kita tak akan lepas dari pujian atau kritikan orang lain.


Fiqih Hadits

Para ulama sepakat bahwa amal kita mulai diwajibkan melakukan kewajiban syari’ah ketika Mukallaf. Disebut Mukallaf karena kita semua sudah muslim, akil baligh.

Para ulama sudah sepakat bahwa yang dimaksud Mukallaf.
Bila laki-laki dia sudah ihtilaam (mimpi basah) dan kalau perempuan ketika sudah haid. Kalau ada laki-laki atau perempuan berumur lebih dari 12 tahun (laki-laki) atau 10 tahun (wanita) , tapi belum ihtilaam atau belum haid, dia belum bisa disebut mukallaf, kecuali dia sudah berumur 15 tahun.

Dengan standar umur 15 tahun, baik laki-laki atau perempuan dia disebut sebagai akil baligh. Ini berdasar hadis Ibnu Umar r.a :
“Aku telah mengajukan diri kepada Nabi saw. untuk ikut perang Uhud ketika aku berumur 14 tahun, dan beliau tidak mengizinkan aku. Aku mengajukan diri lagi kepada beliau tatkala perang Khandak ketika umurku 15 tahun, dan beliau membolehkan aku”. (HR Bukhori Muslim)


Waktu Dan Tempat Niat

Waktu Niat adalah Awal Ibadah, yang dikecualikan adalah Niat Puasa.
Misal shalat pada saat Takbiratul Ihram. Kalau kita mau shalat maghrib tapi niatnya sejak jam 16.30 maka niat ini tidak terpakai, karena waktu maghrib jam 18.15.

Ketika kita mau Haji, juga niatnya pada saat ihram. Akan tetapi waktu puasa niatnya sebelum melakukan puasa karena sulitnya mendekatkan waktu fajar. Kita tidak bisa membayangkan misalnya niat puasa diwajibkan menjelang fajar. Hal ini akan sulit, bahkan bisa jadi misalnya ketiduran sehingga dia tidak niat. Jika tidak niat sebelum terbit fajar pada puasa wajib maka puasanya batal.

Kalau puasa sunah tidak ada masalah kita melakukan niat esok harinya selama kita belum makan minum.

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ قَالَتْ دَخَلَ عَلَىَّ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ « هَلْ عِنْدَكُمْ شَىْءٌ ». فَقُلْنَا لاَ. قَالَ « فَإِنِّى إِذًا صَائِمٌ »

Dari ‘Aisyah Ummul Mukminin, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menemuiku pada suatu hari lantas beliau berkata, “Apakah kalian memiliki sesuatu untuk dimakan?” Kami pun menjawab, “Tidak ada.” Beliau pun berkata, “Kalau begitu saya puasa saja sejak sekarang.” . (HR. Muslim).

Adapun untuk Puasa wajib, niatnya harus sebelum puasa, bisa setelah shalat tarawih ataupun setelah sahur. Dan sebetulnya perbuatan sahur juga sebuah niat.

Kitab al Wafi yang ditulis oleh Musthafa Dieb al-Bugha ulama Syafi’i di Syria ini sangat obyektif, beliau menuliskan : Tempat Niat adalah Hati dan tidak dipersyaratkan melafalkan niat. Tapi dianjurkan untuk melafalkan untuk membantu menghadirkan niat dalam hati.

Kalau kemudian kita membahas apakah harus membaca “nawaitu” ataupun “usholli”, jawabannya jelas bahwa niat itu di hati. Jadi tidak disyaratkan melafalkan. Tapi kalau sebatas melafalkan dalam rangka lesan membantu kemantaban hati masih boleh. Tidak sampai pada kewajiban. Kalau kita menganggap wajib melafalkan niat , kita telah mewajibkan suatu hal yang tidak diwajibkan Rasulullah SAW.

Niat dalam hati, yang penting hatinya benar. Kalau dalam beberapa kitab fiqih dijelaskan :

– Kalau seorang salah melafalkan niat, akan tetapi hatinya betul, ibadahnya sah.
Contohnya seorang niat shalat maghrib, hatinya sudah betul meniatkan shalat maghrib 3 raka’at. Akan tetapi lesannya keliru mengatakan 5 rakaat karena ‘slip lidah’ (salah bahasa) , shalatnya tetap sah.

– Sebaliknya ketika seseorang, hatinya menentukan shalat isya, padahal saat itu maghrib. Tapi lesannya betul menyebut maghrib, malah shalatnya tidak sah, karena pedomannya Niat yang ada di dalam hati.


Keharusan Hijrah.

Hijrah adalah pindah dari negeri kafir ke negeri Islam adalah wajib bagi seorang Muslim jika ia tidak bisa melakukan ajaran Islam dengan terang-terangan.

Kita tidak bisa membayangkan kondisi itu di Indonesia, karena in syaa Allah kita dalam kondisi aman untuk ibadah. Akan tetapi minoritas muslim di wilayah tertentu memang merasa tertekan. Tidak dapat menampakkan syiar agamanya. Mau shalat sulit, mau pakai jilbab dipersulit maka baginya memang sebaiknya hijrah. Sebagaimana dilaksanakan Rasulullah SAW dan para sahabat pada saat itu.

Rasulullah SAW berdakwah13 tahun di Mekkah dan Rasulullah SAW mendapatkan berbagai macam ujian, penyiksaan dari orang kafir. Namun satu hal yang luar biasa Rasulullah masih optimis mereka akan mendapatkan kebaikan.

Salah satu do’a yang dipanjatkan beliau adalah :

اللهم اهد قومي فإنهم لا يعلمون

“Ya Allah berikanlah petunjuk kepada kaumku karena sesungguhnya mereka belum mengerti” (HR Al-Baihaqi)

Hal itu kita lihat dalam Sirah Nabawiyah ketika Rasulullah SAW ke Tha’if untuk berdakwah. Tetapi Rasulullah SAW dihina, diejek bahkan oleh anak-anak kecil. Sehingga malaikat penjaga gunung marah dan menawarkan pada Rasulullah SAW :
“Wahai Muhammad kalau engkau inginkan maka gunung ini aku ambil dan aku lemparkan kepada mereka”.

Rasulullah SAW menjawab : “Jangan, karena nanti suatu saat diantara mereka akan ada golongan yang menerima risalah islam ini”.
Ternyata apa yang dibayangkan Rasulullah SAW kemudian terealisir.

Yang perlu kita garis bawahi :
Hijrah ini berlaku secara umum, meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah SWT. Apalagi bila kita bisa meninggalkan maksiat, ketika kita dalam kondisi dapat bermaksiat.
Yaitu ada tiga kondisi :
– Kondisi ketika sendirian
– Kondisi ketika dia punya fasilitas duniawi (uang).
– Kondisi ketika dia punya kesempatan.

Bila kita bisa hijrah meninggalkan larangan Allah dalam tiga kondisi itu maka kita sudah masuk orang yang Mukhsin. Orang yang beribadah kepada Allah seolah-olah melihat Allah. Seandainya tidak bisa melihat Allah, dia yakin Allah melihatnya.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here