Dyah Indah Noviyani SPsi, MPsi

17 Jumadil Akhir 1442 / 30 Januari 2021



Dampak Pandemi ke Dunia Pendidikan

Pandemi ini kurang lebih sudah hampir satu tahun, sejak awal Maret 2020 dan semua terdampak. Kemudian diputuskan semua siswa tidak boleh masuk sekolah. Ini tentu merupakan dampak yang sangat luar biasa, termasuk di dunia pendidikan.
Di dunia PAUD (pendidikan anak usia dini) benar-benar merasa sangat kaget dalam melakukan adaptasi tentang bagaimana anak-anak mendapatkan stimulasi, mendapatkan pendidikan yang tepat sesuai dengan kebutuhan perkembangan mereka.

Waktu itu memang yang terjadi di dunia pendidikan anak-anak mau tidak mau pilihannya harus belajar di rumah atau dari rumah sesuai arahan dari Pemerintah. Langsung diputuskan anak-anak diberi kegiatan-kegiatan.
Tetapi dalam pembelajaran ini, kalau kita bicara jenjang pendidikan mulai dari PAUD, SD, SMP, SMA maupun mahasiswa tentu yang paling terasa betul tantangannya adalah di usia dini dan SD.

Karena ketika diarahkan untuk pembelajaran daring yang menggunakan fasilitas teknologi perangkat elektronik dan terhubung dengan internet, maka yang kami pertimbangkan adalah anak-anak di usia dini ini belum semestinya terkontaminasi dengan radiasi ataupun dengan internet.

Kemudian kami coba luring dalam arti di luar jaringan tanpa menggunakan fasilitas internet. Karena memang di dalam pendidikan ini kita tidak bisa hanya bicara mengandalkan fasilitas teknologi internet yang kemudian tidak tepat sesuai kebutuhan perkembangan anak.

Banyak juga sekolah-sekolah usia dini mengambil keputusan untuk tidak serta merta menggunakan fasilitas internet. Karena Pemerintah juga mengatakan, dari berbagai Webinar yang saya ikuti, ternyata fasilitas internet belum sampai 20% di seluruh masyarakat Indonesia. Artinya ketika ada yang bisa mengakses internet itu hanya sekitar 10-20%.

Ini betul-betul menyulitkan. Apalagi kalau orang tua harus bekerja, orang tua tidak cukup perekonomiannya untuk mengakses internet.
Maka kita bisa melihat bahwa menggunakan luar jaringan saja, karena lebih memberi kebebasan anak untuk mengeksplorasi ruang, untuk membaca buku, untuk mengerjakan tugas tanpa harus senantiasa mereka terakses oleh internet.

Tapi kenyataan dampak pandemi yang tadi belajar dari rumah, bisa ada pilihan daring ataupun luring.
Memang masih ada manfaatnya pembelajaran daring, bisa memanfaatkan teknologi, ekplorasi suasananya bisa lebih luas tanpa mereka harus keluar dari rumah, dan bisa dilakukan fleksibel.

Tapi luring juga perlu dilihat manfaatnya bahwa anak-anak bisa lebih bebas, lebih rileks, lebih bahagia. Kalau nanti luring diijinkan tatap muka tentunya ini yang paling tepat sesuai perkembangan anak dan anak-anak aspek emosi sosialnya juga jauh lebih bahagia . Mereka tidak lagi mengalami banyak masalah-masalah yang kemudian muncul.

Ini betul-betul terjadi ketika kami melakukan jajak pendapat di orang tua siswa kami :

– Orang tua stress karena tidak bisa mendampingi.

Mereka harus bekerja ketika anak-anak di rumah. Di rumahpun mereka bekerja. Apalagi yang bekerja di luar rumah. Mereka bingung anak- anaknya dengan siapa ? Beberapa ada yang memutuskan anak dititipkan ke eyangnya atau tetangga.

– Banyak anak yang kemudian stress, sering marah-marah.

Ketika berkaitan dengan pelajaran, orang tua bingung tidak faham materi pelajaran, bagaimana cara mengajarkan? Karena memang kalau saya lihat selama ini orang tua tidak terbiasa menjadi guru buat anak-anaknya. Ada kecenderungan merasa cukup menyerahkan pada sekolah dan itu tugas gurunya. Mudah-mudahan sekarang ini dengan berjalan hampir setahun orang tua sudah beradaptasi.

Tapi masih ada yang menganggap seolah-olah sekolah itu hanya dipindahkan saja ke rumah.
Anak-anak diperlakukan seperti sedang memindahkan sekolah ke rumah. Padahal bisa jadi karena orang tua tidak terbiasa menjadi guru. Tidak terbiasa mengarahkan anaknya, kayak enggak punya power.

– Anak tidak fokus belajar

Yang paling banyak terjadi dan ini perlu diwaspadai, anak jadi tidak fokus, tidak tuntas belajarnya mengerjakan tugas-tugas sekolah. Karena mereka memang statusnya sebagai siswa. Termasuk tugas-tugas di rumah.
Karena seakan-akan mengandalkan
daring internet, anak-anak jadi menganggap bahwa di internet itu dia bisa melakukan banyak hal, tapi tidak secara fokus untuk dalam rangka mencari materi pelajaran atau referensi untuk tugas-tugas sekolahnya.

Faktor iklan yang banyak di fasilitas internet ini yang kemudian belum dipersiapkan oleh kita sebagai masyarakat, orang tua, guru bahwa ketika menggunakan internet itu ada manfaatnya tapi juga ada batasannya.
Ini yang tadi saya sampaikan orang tua belum terbiasa menjadi guru, belum terbiasa memiliki power, memberi batasan dengan anak.

Dampaknya yang paling terlihat sekarang ini sedang mengalami banyak penurunan semangat belajar anak. Dan yang paling mengkhawatirkan ada indikasi anak- anak ini mulai terpapar konten-konten negatif dan mengalami kecanduan gadget.

Kalau anak masih bisa mengerjakan tugas tugas rumah, tugas-tugas sekolah termasuk ibadah tentunya tidak terlalu mengkhawatirkan ketika dia terkoneksi dengan internet. Tetapi yang terjadi banyak keluhan anak sudah sampai poin terpapar konten negatif dan adiksi gadget.


Prinsip Penting Dalam Pendidikan

Ini yang perlu diperhatikan bahwa ternyata selama ini kita tersadarkan.
Kalau saya melihat beberapa orang tua yang saya hadapi mulai mengambil hikmah dari pandemi, bahwa selama ini pendidikan ternyata masih disempitkan pada aspek-aspek kognitif yang sempit bahwa anak harus faham materi pelajaran , harus menuntaskan semua materi pelajaran, harus memperoleh nilai sekian atau KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal).

Tidak memperhatikan yang saya yakini sebagai muslim selama ini, yang penting bagi pendidikan :
– Mengapa Allah SWT menciptakan manusia.?
– Kenapa kita dikirim kebumi ini?
Itu tidak sampai secara khusus di dalam pendidikan, kemudian dialirkan di dalam materi pelajaran, di dalam guru , orang tua menyampaikan informasi ke anak.

Bahwa dia diciptakan untuk menjadi sebaik-baik manusia memberi manfaat, menjadi rahmatan lil alamien. Bahkan menjadi seorang Pemimpin dan Pembangun peradaban.
Ini yang belum sepenuhnya diperhatikan dalam dunia pendidikan. Yang dikejar hanya target-target materi materi pelajaran dan nilai-nilai.

Allah SWT berfirman:

“Kamu umat Islam adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, karena kamu menyuruh yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 110)

Islam mengajarkan bahwa untuk menjadi manusia yang seutuhnya yang mengembangkan semua potensi, aspek-aspek perkembangannya dari mulai sensor motorik, emosi sosial bahasa, kognitif, yang itu semua dengan landasan nilai-nilai agama, nilai Islam yang kita yakini itu yang paling benar.


Prinsip bahwa pendidikan membutuhkan proses.

Kalau misalnya kemarin-kemarin kita mengalami masa yang begitu sulit dalam menghadapi pandemi mulai Maret 2020 sampai dengan sekarang , tentunya kalau bisa difahami :
– apa yang dibutuhkan anak ?
– usia dini itu butuh apa dalam pendidikan itu?
– anak SD membutuhkan apa?
– anak SMP, SMA membutuhkan apa?
Itu semua butuh proses. Tentunya ini yang akan menjawab permasalahan -permasalahan di awal tadi tidak terlalu signifikan terjadi sebetulnya.

Ini menjadi pedoman ketika saya mendampingi Tim, mendampingi anak- anak di rumah, mendampingi orang tua siswa dan juga client-client di Biro Konsultasi saya.

Allah sudah memberikan pedoman yang luar biasa di dalam Al Qur’an dan kemudian dikembangkan di dalam ilmu-ilmu yang diteliti manusia sehingga kita bisa bicara apa kebutuhan pendidikan.
In syaa Allah sudah ada semuanya, tinggal bagaimana kita beradaptasi dengan lingkungan tanpa harus mengesampingkan nilai-nilai yang kita yakini kebenarannya.

Apa yang diciptakan Allah harus difahami. Bukan semata-mata mencari nilai saja atau hafal materi pelajaran saja lalu mengerjakan soal-soal di dalam lembar-lembar kertas! Itu sangat tidak relevant.

Anak-anak harus faham dia diciptakan oleh Allah untuk apa? Dia menggunakan tubuhnya untuk apa?
Ini harus menjadi pijakan di Sekolah.

Allah SWT berfirman :
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Islam ; sesuai fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,” (QS. Ar-Rum 30: Ayat 30)

Dari Abi Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “Setiap anak dilahirkan dalam kondisi fitrah kecuali orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari Muslim)

Sebenarnya pandemi ini membuat orang tua, masyarakat bahkan guru yang berprofesi sebagai orang tua juga sadar bahwa :
Guru yang pertama dan utama adalah orang tua.
Sekolah yang pertama dan utama adalah Rumah.
Pendidikan yang pertama dan utama adalah mengenalkan anak akan kecintaan pada Sang Pencipta.
Ini adalah tugas kita bersama.


Filosofi Pendidikan

Filosofi Pendidikan tentunya tidak jauh berbeda dengan yang ada dalam referensi-referensi dalam pendidikan Islam, dalam Al Qur’an bahwa pendidikan dikembalikan pada fitrahnya memahami manusia secara utuh holistic integratif , manusia yang diciptakan tidak hanya dalam fisik saja tapi ada emosi sosialnya, ada kemampuan berbahasa, berkomunikasi, kemampuan untuk berfikir, untuk menciptakan sebuah solusi-solusi dan daya cipta kreasi- kreasi

Ini yang akan membuat anak-anak lebih senang dalam menjalani pendidikannya. Dan ini semua terintegrasi dari mulai anak usia dini sebagai pondasi sampai di jenjang berikutnya. Tidak hanya bicara materi pelajaran. Tapi juga seluruh pelajaran itu saling integrasi. Tidak hanya bicara theori saja tapi juga aplikasinya di lapangan, bagaimana dalam kehidupan sehari-hari?


Tahap Perkembangan Sel Otak

Pendidikan mulai dari pondasi, kalau diibaratkan bangunan, tentunya ketika anak sudah betul-betul disebut akil baligh, kalau dalam referensi Neuro Sience, mereka pada usia sekitar 18 tahun sudah mulai sempurna fungsi otaknya.

Apa yang kita harapkan dari anak-anak kita ? Apakah jadi Gedung yang kokoh yang megah dan banyak manfaatnya ataukah yang sekedarnya ibarat Gubug Reyot. Tentu ini tidak kita harapkan.

Menurut referensi setidaknya ada 4 tahap untuk membangun sel otak anak. Ini juga berkaitan dengan perkembangan aspek fisik motorik, emosi sosial, bahasa , kognitif dan estetik. Tentunya dengan landasan nilai Islam yang kita yakini yang sudah menjadi pedoman kita.

1. Usia 0 – 2 tahun : Membangun Pondasi Rumah.

Ini usia yang sangat penting sekali. Saya merasakan betul ketika menerima siswa di usia 3 – 4 tahun ternyata anak-anak di usia 0 – 2 tahun sudah terkontaminasi oleh televisi, hand phone. Maka yang terjadi banyak keterlambatan perkembangan.

Karena memang usia 0 – 2 yang dibutuhkan bukanlah diasuh oleh TV atau HP, tapi diasuh oleh ibunya. Diasuh oleh ayahnya atau figur-figur pengganti lain yang bisa membangun kedekatan emosi dengan anak.
Kalau tidak betul-betul serius membangun ini maka yang terjadi ditahap berikutnya harus menata kembali apa yang belum dibangun di 0-2 tahun. Karena terjadi restrukturisasi otak pertama di usia 2-7. Ibarat membangun struktur pancang-pancangnya.

2. Usia >2 – 7 tahun : Membuat Struktur di atas Pondasi.

Usia dini disebut Golden Age (usia keemasan), usia yang penting karena usia 2-7 adalah restrukturisasi tahap 0-2 yang tadi tidak tertata dengan baik. Bahkan mungkin banyak yang terpangkas karena tidak distimulasi, kemudian tidak tersambungkan dengan sel-sel yang baru

3. Usia >7 – 11 tahun : Membangun dinding dan Atap.

Merupakan restruktusisasi tahap yang kedua.
Ketika saya menerima murid di SD. Bila sebelum SD tidak di sekolah kami maka kami tidak tahu bagaimana riwayat pendidikan dan pengasuhannya. Banyak yang terjadi kami harus menata ulang ketika di Kelas 1 SD.

Maka ketika di kelas 1 kita tidak bisa sekedar minta anak agar duduk dan membaca. Ada yang bisa membaca, menulis ,menghitung tapi tidak faham apa yang dibaca. Tidak faham apa yang sedang disampaikan oleh orang lain apa itu berupa instruksi atau informasi. Banyak sekali itu terjadi ketika saya melakukan psikotest untuk kematangan siswa masuk SD.

SD kelas 1 tapi belum bisa fokus, belum bisa faham tentang informasi. Matanya enggak bisa fokus. Geraknya masih belum bisa konstruktif, masih ada yang merusak. Masih tidak jelas melakukan apa. Jadi betul-betul PR bagi Guru-guru atau Orang tua di SD kelas 1. Mereka tidak bisa serta merta memberikan materi-materi pelajaran kalau ternyata anak masih banyak PR.

4. Usia >11 – 18 tahun : Tahap Finishing atau Penyelesaian.

Usia 11-12 terjadi restrukturisasi tahap yang terakhir. Maka diharapkan di usia 11-12 tahun, karena sudah ketinggalan dua sesi, maka bila masih banyak PR penataan tentu masih berat sekali. Karena di usia 11 tahun mestinya tinggal menyelesaikan saja karena sudah keluar bakat dan minatnya.

Harusnya menjadi prinsip utama pendidikan kita di dalam membangun pribadi anak-anak yang kelak menjadi Pemimpin membangun peradaban.
Bahwa membangun anak, membangun jiwanya, membangun fisiknya dimana disitu ada otak – harusnya bertahap – tidak bisa melompat. Itu harus direncanakan, harus ada sinergi antara rumah sebagai lingkungan yang pertama, sekolah sebagai lingkungan kedua dan masyarakat.


Pentingnya PAUD

Di Usia dini bagaimana membangun pondasi, pertumbuhan perkembangan yang sangat pesat.
Merancang kegiatannya dengan bermain, dengan simulasi yang menyenangkan, dengan pendampingan orang tua di rumah pada saat BDR. Tidak serta merta hanya mengandalkan Zoom Meeting atau Google Meet. Jangan malah dibiarkan menonton You Tube atau TV sampai berjam-jam tidak ada batasan dan tidak ada pendampingan.

Kalau orang tua faham tahap usia 0-2 dan 2-7 tahun tentunya orang tua harus bekerjasama dengan guru merancang kegiatan-kegiatan yang lebih dibutuhkan oleh anak usia dini.
– Anak-anak berkegiatan dengan orang tua dengan rancangan kegiatan dari gurunya.
– Guru memantau, lalu guru berkomunikasi dengan orang tua.
– Guru melakukan pemantauan perkembangan anak.
Ini tentunya merupakan persiapan untuk menunjang anak usia dini ke jenjang berikutnya. Di SD kalau usia dini tertata pondasinya, strukturnya maka di tahapan SD tentunya anak-anak sudah jauh lebih baik.


Pentingnya Keberlanjutan Pendidikan PAUD ke Jenjang SD

Selama ini ada indikasi tidak ada keberlanjutan, atau keberlanjutan itu belum tampak. Sehingga ketika saya membuka SD tahun 2017 adalah untuk memperkuat pondasi yang sudah ada di PAUD. Termasuk pondasi akidah, akhlak yang dilakukan di PAUD baik di rumah, di sekolah, di masyarakat atau orang lain yang mengasuh anak kita. Itu harus menjadi sebuah support system yang selaras. Jangan sampai sudah ditata di sekolah, lalu di rumah nonton TV dan HP tidak tertata.

Yang penting di SD sudah adanya pembiasaan ibadah karena mereka sudah siap secara kognitif dari bagian otak yang disebut Cortex untuk menerima informasi-informasi yang jauh lebih komplex, meskipun tetap dipertimbangkan bagaimana keluaran PAUD. Karena bisa jadi ketika dia masuk SD belum tuntas di PAUD nya. Terutama perkembangan fisik motorik. Belum siap untuk menerima kegiatan- kegiatan yang komplex seperti menulis, kegiatan olah raga.

Sehingga ketika ibadahpun mereka belum bisa tenang belum bisa fokus. Ini perlu dikuatkan di kelas 1 maksimal sampai kelas 3, masih ada berkelanjutan dari PAUD.
Supaya nanti di kelas 4 mereka sudah mulai banyak belajar dengan bekerja dengan menghasilkan project karya dan sudah tampak bakat. Bahkan anak-anak usia 10-11 tahun sudah mulai dilatih untuk magang kerja.


Pendidikan Jenjang SMP-SMA

Memang belum secara khusus saya memiliki pengalaman untuk mendampingi, tetapi pernah dilibatkan juga oleh Dinas Pendidikan untuk merancang kurikulum inklusi, kurikulum yang terintegrasi antara kurikulum untuk anak reguler, anak yang “tidak ada masalah perkembangan” dengan anak-anak yang spesial.

Saya belajar apa yang dibutuhkan oleh anak-anak di usia 11 tahun ke atas. Yang dibutuhkan adalah keberlanjutan dari SD tadi, kebiasaan-kebiasaan, penguatan-penguatan yang sudah mulai dari PAUD itu diteruskan dan kemudian memunculkan jiwa Kepemimpinan.

Program-programnya harus menguatkan kesadaran bahwa sebetulnya semua informasi ilmu pengetahuan, theori yang sesuai dengan ajaran agama Islam, berakhlak, beradab dan beribadah.
Anak-anak SD sudah mendapatkan itu maka ketika SMP kita mengadakan penguatan kesadaran dengan ngobrol, duduk mendengarkan mereka berkeluh-kesah karena memang terjadi perubahan hormonal di badan anak usia ini.

Tentunya ini tidak mudah, mereka sudah ingin mandiri tapi belum bisa mandiri. Kita berusaha memberi ruang gerak yang lebih luas. Sudah diijinkan memegang HP untuk daring namun tetap terpantau. Sehingga penguatan- penguatan itu muncul memberi project-project yang lebih banyak, mengeksplorasi lagi.


Peran Guru, Orang Tua dan Masyarakat

– Membiasakan pola hidup bersih dan sehat fisik dan psikis.
– Mengajak anak membuat jadual kegiatan
– Mendampingi dan memberi tauladan penerapan jadual
– Membiasakan anak dengan ragam kegiatan yang bermakna dan bermanfaat dalam kehidupan anak.
– Mengajak diskusi tentang manfaat ragam kegiatan anak, termasuk belajar bagi kehidupan dan masa depan anak.
– Mengajak diskusi tentang kesepakatan dalam penggunaan gadget atau smartphone yang terkoneksi internet —> agar anak terhindar dari banyaknya mudharat dalam internet.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here