Zahrul Fata Lc, MA, Phd

14 Jumadil Akhir 1442 / 27 Januari 2021



Methodology Liberal Dalam Study Hadits


Hasil penelitian saya, setidaknya ada enam cara bagaimana orang-orang liberal berinteraksi dengan hadits.
Kita akan mencoba menguraikan satu persatu.

1. Manipulasi dalil berdasarkan asumsi awal

Mereka berasumsi dulu, kemudian dicari-cari alasan yang sekiranya membenarkan asumsi itu, meskipun harus dipelintir dan dipaksa.

2. Bersandar kepada pendapat yang lemah

Di dalam istilah fiqih ada pendapat yang masyhur, pendapat jumhur dan ada pendapat yang tidak populer.
Biasanya mereka mencari yang tidak populer dibesar-besarkan. Kemudian pendapatnya jumhur dikecilkan. Argumen yang dipakai jumhur dipilihkan yang lemah, padahal masih banyak dalil yang dipakai jumhur. Jadi kesannya jumhur ulama mengambil pendapat yang lemah. Sedangkan Liberal memakai pendapat yang kuat, meskipun nanti dipelintir.

3. Materialisme

Mereka itu percaya sesuatu kalau kelihatan kasat mata atau diraba oleh indera. Tetapi kalau tidak bisa diraba oleh indera mereka cenderung mementalkan teks-teks agama yang bicara indera.

4. Historisisme

Hukum-hukum dalam agama yang dianggap tidak relevant dalam konteks kekinian bisa ditinggalkan dan dicampakkan.

5. Reinterpretasi Teks atas nama Maslahat

Hukum-hukum dalam agama kadang ditinjau ulang, karena dianggap berbenturan dengan HAM, misalnya.
Lalu mereka mengatakan yang maslahat.

6. Merujuk referensi Sekunder

Mereka merujuk referensi sekunder karena kalau merujuk referensi primer akan ketahuan.


Contoh Penerapan Methodology Liberal

Kita akan melihat contoh bagaimana orang Liberal menerapkan methodology di atas satu-persatu. Yang saya ceriterakan ini disertasi saya yang saya usahakan untuk disingkat.

1. Manipulasi dalil berdasarkan asumsi awal

Ada sebuah disertasi yang menjadi buku, ditulis oleh Abdul Moqsith Ghazali (2009) yang menjadi hukum pluralisme agama. Buku ini diendorse, mendapat testimony dari beberapa tokoh sebagai pembimbingnya :
– Prof. Dr.Nazarudin Umar, sekarang beliau Imam Besar Masjid Istiqlal.
– Goenawan Muhammad, wartawan senior dan
– Prof.M.Dawam Rahardjo.

Di bagian disertasi ini dia mengatakan bahwa semua agama itu sama.
Artinya semua pemeluk agama baik Muslim, Yahudi, Nashrani. Kemudian agama sebelum itu Sabi’in. Semua pemeluk agama itu sama, nanti akan dijamin Surga, meskipun Islam sudah datang.

Dia mengatakan selama mereka beriman kepada hari akhir dan beramal sholeh maka mereka akan mendapatkan pahala dari Allah.

Allah SWT berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَا لَّذِيْنَ هَا دُوْا وَا لنَّصٰرٰى وَا لصّٰبِئِـيْنَ مَنْ اٰمَنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَوْمِ الْاٰ خِرِ وَعَمِلَ صَا لِحًـا فَلَهُمْ اَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ ۚ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Sabi’in, siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari Akhir dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 62)

Ayat itu difahami oleh penulis disertasi ini bahwa semua agama sama. Ditampakkan dalam buku ini :
Jika diperhatikan secara seksama, jelas bahwa dalam ayat itu tak ada ungkapan agar orang Yahudi, Nashrani dan orang-orang Shabi’ah beriman kepada Nabi Muhammad.

Dengan mengikuti pernyataan eksplisit ayat tersebut, maka orang-orang beriman yang tetap dengan keimanannya, orang-orang Yahudi, Nashrani, dan Shabi’ah yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir serta melakukan amal saleh – sekalipun tak beriman kepada Nabi Muhammad, maka mereka akan memperoleh balasan dari Allah.

Pernyataan agar orang-orang Yahudi, Nashrani, dan Shabi’ah beriman kepada Nabi Muhammad adalah pernyataan Para Mufasir dan bukan ungkapan Al Qur’an.
Dia mengutip pernyataan Muhammad Rasyid Ridla seperti ini, yang memberi kesan asumsinya tadi :

Rasyid Ridla berkata, tak ada persyaratan bagi orang Yahudi, Nashrani dan Shabi’ah untuk beriman kepada Nabi Muhammad. Ia berkata :
“Tidak ada kesangsian tentang tidak disyaratkannya beriman kepada Nabi Muhammad SAW. Ini karena komunikasi Allah dengan setiap kelompok atau beragam umat beriman (selalu dengan menghadirkan) seorang Nabi dan wahyu yang khusus”.

Padahal kalau dicek pernyataan Rasyid Ridla di Tafsir Al Manar secara umum tidak demikian. Dia memanipulasi dalil berdasar asumsi awal yang diotaknya mengatakan semua agama sama. Kemudian dia berselancar mencari- cari, mana yang kira-kira bisa menguatkan asumsi itu. Kemudian dia pelintir ayat-ayat itu.

Ini bahaya kalau orang awam mengatakan ini. Bila ada orang mau jadi mualaf membaca buku itu ternyata buku itu menyatakan bila ingin selamat tidak harus menjadi muslim. Toh nanti tetap dijamin. Ini berbahaya.
Padahal ini disertasi yang dibimbing dan dipelototi banyak mata ketika ujian, bagaimana bisa lolos?

Tahun 2015 saya diundang King Saud University untuk presentasi tentang masalah-masalah liberalisasi di Indonesia. Diantaranya saya memaparkan ada disertasi semacam itu. Orang-orang, Para Doktor di hadapan saya kaget, bagaimana disertasi seperti ini bisa lulus di sebuah negara dengan penduduk muslim terbesar?

Tapi kalau kita memahami tentang liberalisme tadi, kita baru menyadari memang ini bagian dari gagasan RAND Corporation tentang Equalism.

Kalau semua agama sama, ketika Islam datang tak perlu masuk Islam orang sudah dijamin masuk Surga. Lalu untuk apa Rasulullah dakwah sampai berdarah-darah di Thaif menyeru agar masuk Islam ?

Ngapain sampai Hijrah ke Habasyah? Kemudian ketika Rasulullah hijrah sampai Medinah, Rasulullah menyuruh sahabatnya menyebarkan Islam sampai kepada raja-raja di Palestin , Romawi dan Mesir. Kalau semua agama sama untuk apa Rasulullah capai-capai menyeru agama Islam ?

Lalu mau dibawa kemana ayat :

وَمَنْ يَّبْتَغِ غَيْرَ الْاِ سْلَا مِ دِيْنًا فَلَنْ يُّقْبَلَ مِنْهُ ۚ وَهُوَ فِى الْاٰ خِرَةِ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ

“Dan barang siapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 85)

Kemudian ada sebuah hadits riwayat Imam Muslim yang sangat memukul pernyataan kaum Liberal itu.

Nabi SAW bersabda,

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ، وَلَا نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini, baik Yahudi dan Nashrani, mendengar tentangku, kemudian dia meninggal dan tidak beriman dengan agama yang aku diutus dengannya (agama Islam), kecuali dia pasti termasuk penghuni neraka.” (HR. Muslim)

Hadits ini membungkam disertasi di atas. Maka sangat disesalkan sampai keluar disertasi seperti itu dari sebuah Perguruan Tinggi Islam dengan mengatas-namakan kebebasan akademik, berani memanipulasi data yang efeknya luar biasa.

Saya sebenarnya punya beberapa data, statemen sarjana kita yang berhubungan dengan pluralisme ini, tapi waktu membatasi kita.
Contoh lagi bagaimana sarjana kita memanipulasi data. Kali ini masalah Puasa Asyura.

Berikut saya copy dari sebuah buku berjudul ‘Islam Aktual’ oleh Kang Jalal, yang pada intinya Kang Jalal mempertanyakan keshahihan hadits tentang Puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram yang selama ini kita lakukan.

Riwayat tentang Puasa Asyura itu diriwayatkan oleh Ibnu Abbas. Ibnu Abbas bercerita bahwa ketika Rasulullah tiba di Madinah, beliau mendapati orang Yahudi puasa Asyura.

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِيْنَةَ فَرَأَى الْيَهُوْدَ تَصُوْمُ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ فَقَالَ: “مَا هَذَا؟ “قَالُوا: هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ نَجَى اللهُ فِيْهِ بَنِي إِسْرَائِيْلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ فَصَامَهُ مُوْسَى قَالَ: “فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوْسَى مِنْكُمْ” فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Ketika tiba di Madinah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapati orang-orang Yahudi melakukan puasa ’Asyura. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Hari yang kalian bepuasa ini hari apa?”

Orang-orang Yahudi tersebut menjawab, “Ini adalah hari yang sangat mulia. Ini adalah hari di mana Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya. Ketika itu pula Fir’aun dan kaumnya ditenggelamkan. Musa berpuasa pada hari ini dalam rangka bersyukur, maka kami pun mengikuti beliau berpuasa pada hari ini.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Kita seharusnya lebih berhak dan lebih utama mengikuti Musa daripada kalian.” Lalu setelah itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kaum muslimin untuk berpuasa.”(HR Bukhori)

Menurut Kang Jalal, hadits ini bermasalah. Ada dua masalah pada hadits ini.

– Kenapa yang meriwayatkan hadits ini Ibnu Abbas? Padahal ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, Ibnu Abbas ini masih anak-anak di Mekkah tidak ikut hijrah. Seharusnya hadits ini yang meriwayatkan Abu Bakar.
Kenapa Ibnu Abbas menceritakan kisah yang dia tidak tahu, berarti dia mendistorsi sejarah. Kalau dia mendapatkan dari sahabat yang lain, seharusnya dia mencantumkan sahabat itu siapa? Dia bukan saksi mata, kenapa meriwayatkan ?

– Hadits ini berbenturan dengan fakta sejarah. Kalau kita membuka sejarah, Rasulullah tiba di Madinah pada waktu hijrah di bulan Robiul awwal. Tapi hadits ini memberi kesan Rasulullah tiba di Madinah pada bulan Muharram. Karena masuk tanggal 10 Muharram. Bagaimana ini? Tidak mungkin orang Puasa 10 Muharram pada bulan Robiul awwal. Kata Kang Jalal : Mungkinkah orang shalat jum’at pada hari senin?

Kemudian ada kritikan lain :
Kalau kita membaca sejarah lebih jauh lagi, sebenarnya pada tanggal 10 Muharram itu hari bersedihnya umat islam. Karena pada hari itu terjadi peristiwa Asyura, yaitu peristiwa dibunuhnya cucu Rasulullah oleh tentara Muawiyyah.

Menurut Kang Jalal hari itu umat Islam seharusnya bersedih, tetapi oleh Penguasa saat itu orang disuruh bergembira, seperti bergembiranya orang Yahudi dengan puasa.

Jawaban terhadap kritikan tersebut.

Kalau kita tidak belajar ilmu Mustholah Hadits tentu akan bingung.
Bagaimana Ibnu Abbas yang masih kecil dan di Mekkah meriwayatkan peristiwa di Madinah?

Dalam ilmu hadits, ada istilah
Hadits mursal shahabi yaitu seorang sahabat bisa jadi meriwayatkan hadits dari sahabat lain. Dan sahabat lain itulah yang mendengarkan langsung dari Rasulullah. Tapi sahabat yang meriwayatkan tidak harus menyebutkan nama sahabat dimana dia mendapat hadits itu.
Hal ini tidak masalah, karena kaidah Sahabat dalam ilmu hadits itu adil, tidak mungkin berdusta dan Rasulullah sudah memberikan ijin :

أَلَا لِيُبْلِغْ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ فَلَعَلَّ بَعْضَ مَنْ يَبْلُغُهُ أَنْ يَكُونَ أَوْعَى لَهُ مِنْ بَعْضِ مَنْ سَمِعَهُ

“Hendaklah yang menyaksikan menyampaikan kepada yang tidak hadir, sebab, betapa banyak orang yang disampaikan berita kepadanya lebih mengerti daripada yang mendengar’. [HR Bukhari Muslim]

Tentang kritikan bahwa hadits ini bertentangan dengan fakta sejarah, bahwa Rasulullah tiba di Madinah pada bulan Robiul awwal dan dalam hadits dikatakan bulan Muharram.
Dapat difahami bahwa redaksi kata “tiba” tidak berarti awal kedatangan Rasulullah di Madinah.

Maksudnya adalah bahwa pada saat Rasulullah di Madinah, Rasulullah mendapati kaum Yahudi puasa Asyura.
Kapan beliau mendapatinya?
Justru di penghujung akhir beliau di Madinah.

Buktinya adalah hadits lain :
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan berpuasa.
Para shahabat berkata:”Ya Rasulullah, sesungguhnya hari itu diagungkan oleh Yahudi.” Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Di tahun depan insya Allah kita akan berpuasa pada tanggal sembilan.”, tetapi sebelum datang tahun depan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat.” [HR Muslim]

Hadits ini jelas bahwa ketika Rasulullah mendapati orang Yahudi puasa Asyura adalah menjelang di tahun terakhir, buktinya Rasulullah sendiri tidak sempat melakukan puasa tanggal sembilan karena beliau wafat.

Tentang kritikan Peristiwa Asyura atau Peristiwa Karbala. Disini nampak jelas identitas Syi’ah dari Kang Jalal.
Adapun Peristiwa Karbala pada tanggal 10 Muharram itu hanya kebetulan saja dengan tanggal itu. Karena puasa 10 Muharram itu sudah dilakukan oleh Nabi sejak beliau di Mekkah.

Dulu para Sahabat Puasa wajibnya 10 Muharram. Begitu sampai di Madinah dan turun perintah Puasa Ramadhan, maka Puasa 10 Muharram menjadi sunah. Kebetulan orang Yahudi juga berpuasa pada 10 Muharram.
Jadi mengkaitkan Peristiwa Karbala dengan Puasa Asyura juga tidak benar.


2. Bersandar kepada pendapat yang lemah

Di buku Fiqih Perempuan karangan KH Husein Muhammad.
Buku ini diterbitkan LKiS, yang sudah saya jelaskan siapa LKiS. Kita tak perlu mempermasalahkan covernya, kita lihat isinya untuk kita nilai argumentasi ilmiahnya.

Salah satu topik yang ditulis beliau adalah kepemimpinan perempuan dalam shalat. Beliau mengatakan bahwa jumhur ulama mengatakan tidak boleh perempuan menjadi imam untuk laki-laki.

Beliau menyitir dalil yang dipakai oleh jumhur, yaitu Sabda Nabi S.A.W :

لا تؤمن امرأة رجلا، ولا يؤم أعرابي مهاجرا، ولا فاجر مؤمنا إلا أن يقهره بسلطان يخاف سيفه وسوطه

Seorang perempuan tidak boleh mengimami seorang lelaki, begitu pula seorang a’rabi (badui) mengimami seorang muhajir dan seorang yang fajir (fasik) mengimami seorang mukmin. Kecuali (seorang mukmin) dipaksa dengan kekuasaan (yang dimiliki oleh si fasik), dimana seorang mukmin tersebut takut akan ditebas oleh pedangnya dan dicambuk. [HR Ibnu Madjah]

Menurut KH Husein Muhammad inilah diantara dalil yang mendasari jumhur ulama mengapa perempuan tidak boleh mengimami laki-laki.
Sementara ada pendapat kedua yang menyatakan bolehnya perempuan mengimami laki-laki.

عَنْ أُمِّ وَرَقَةَ بِنْتِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزُورُهَا فِي بَيْتِهَا وَجَعَلَ لَهَا مُؤَذِّنًا يُؤَذِّنُ لَهَا وَأَمَرَهَا أَنْ تَؤُمَّ أَهْلَ دَارِهَا قَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ فَأَنَا رَأَيْتُ مُؤَذِّنَهَا شَيْخًا كَبِيرًا

“Dari Ummu Waroqah bintu Abdillah bin Al Haarits, beliau menyatakan bahwa Rasulullah mengunjunginya di rumah dan mengangkat untuknya seorang muadzzin yang beradzan untuknya dan memerintahkannya untuk mengimami keluarganya di rumah. Abdurrahman berkata, saya melihat muadzinnya seorang lelaki tua. (HR Abu Daud)

Ummu Waroqah mempunyai mushola di kampungnya dan meminta pada Rasulullah supaya ada laki-laki yang jadi muadzin.

Dalam riwayat itu dikatakan ketika shalat jama’ah , imamnya adalah Ummu Waroqah dan diantara makmumnya ada anak laki-laki. Tidak dijelaskan apakah muadzinnya ikut makmum atau tidak.
Dalil ini yang dijadikan sandaran bahwa perempuan boleh jadi imam atas laki-laki. Dia berasumsi bahwa muadzin yang dewasa setelah adzan ikut makmum. Ini adalah pendapat yang tidak populer.

Akan tetapi yang menarik, dalam buku itu beliau mengatakan :
Kalau kita melihat hadits yang dipakai jumhur ulama adalah hadits lemah. Dan setelah saya teliti memang benar hadits lemah. Sementara hadits tentang Ummu Waroqah yang punya mushola dan kemudian dia mengimami anak laki-laki adalah hadits shahih (menurut beliau).

Tapi sejatinya yang harus diluruskan disini adalah argumen jumhur ulama mengapa tidak membolehkan perempuan jadi imam shalat atas laki-laki bukan hadits itu saja. Ada beberapa hadits lain yang shahih tetapi oleh beliau tidak ditampakkan dalam bukunya.

Diantaranya adalah Aisyah yang cerdas itu bermakmum pada budak laki-lakinya yang bernama Dzakwan.

وَكَانَتْ عَائِشَةُ يَؤُمُّهَا عَبْدُهَا ذَكْوَانُ مِنْ الْمُصْحَفِ

“Dzakwan pernah mengimami A’isyah dengan membaca mushhaf.” [HR. Bukhori ]

Kemudian ada beberapa lagi
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُ صُفُوفِ الِرجَالِ أَوِّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوفِ النِسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا

“Sebaik-baik shaf laki-laki adalah yang pertama dan seburuk-buruknya adalah yang terakhir. Sebaik-baik shaf wanita adalah yang terakhir dan seburuk- buruknya adalah yang pertama.” (HR. Muslim).

Bagi perempuan, shaf yang utama yang paling belakang. Perempuan yang datang terlambat berdiri di depan shaf perempuan yang ada.

Saat berjamaah saja shaf perempuan paling belakang, bagaimana mungkin perempuan boleh jadi imam atas laki-laki? Bahkan usai shalat jama’ah, laki-laki tidak boleh langsung bergegas pulang. Dia harus memberi waktu agar perempuan keluar dulu. Artinya jangan sampai perempuan terlihat oleh laki-laki saat shalat jama’ah.

Jadi banyak hadits yang tidak ditampilkan dalam buku itu karena beliau ingin memberi kesan kepada pembaca bahwa pendapat jumhur ulama itu lemah, sementara pendapat ini shahih.

Sebenarnya hadits Ummu Waroqah ini kalau dirujuk ke Kitab asli sumbernya dinilai lemah, tetapi beliau KH Husein Muhammad tidak menampilkan wutuh pendapat ulama-ulama hadits tentang status hadits ini.

Ada distorsi dalam menukil, dan ini bahaya. Menukil kata yang wutuh dengan beda intonasi saja bisa beda :
Kata “ini jambu monyet”,
tentu sangat beda artinya dengan
“ini jambu, monyet”.
Ini menukil kata wutuh sudah beda arti.

Dalam bukunya KH Husein Muhammad tidak menukil wutuh dan menyatakan hadits itu shahih. Padahal di kitab aslinya tidak ada. Ini berbahaya karena buku itu nanti dibaca orang.

Kenapa terjadi seperti ini ? Karena memang ada pesanan Gender Equality oleh RAND Corporation bahwa Asia Foundation akan mendanai ulama moderat yang mampu menghubungkan text-text agama dengan Moderat Value : Demokrasi, Equalism dan Gender Equality.

Dalam substansi masalahnya buku itu menyatakan bahwa jumhur ulama melarang perempuan menjadi imam shalat bagi laki-laki karena menjaga jangan sampai ada fitnah.
Kemudian dikembangkan oleh beliau: Artinya kalau tidak terjadi Fitnah, perempuan boleh menjadi Imam, Khotib ataupun Muadzin.

Dasarnya menurut beliau , ushul fiqih

الحكم يدور مع العلة المأثورة وجودا وعدما

“Al-hukmu Yaduuru Ma’a Al-‘‘illati Wujudan wa ‘Adaman”

Keberadaan hukum itu berkutat pada keberadaan “‘illat” (sebab)-nya. Ada “‘illat” ada hukum, tak ada “‘illat” tak ada hukum.

Karena beliau menganggap bahwa larangan itu karena illat.
Dalam disertasi saya alasan itu saya bantah. Beliau mencampur-adukkan antara illat dengan hikmah.

Kita bandingkan dengan hukum Puasa Ramadhan. Pada saat safar atau bepergian kita boleh tidak berpuasa. Safar disini dalam istimbat hukum namanya illat. Hikmah diperbolehkan tidak puasa adalah biar tidak merasa berat. Pada bulan Ramadhan, dia merasa berat atau tidak, boleh tidak berpuasa bila dia safar. Sebaliknya bila dia tidak safar, meskipun merasa berat tidak boleh tidak puasa.

Kembali ke masalah dilarangnya perempuan menjadi imam shalat laki-laki illatnya adalah perempuan. Selama dia perempuan, tidak boleh menjadi imam shalat bagi laki-laki. Menjaga tidak ada fitnah adalah hikmahnya.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here