Zahrul Fata Lc, MA, Phd

14 Jumadil Akhir 1442 / 27 Januari 2021



Islam Liberal

Kita mungkin pernah mendengar istilah islam Liberal dalam beberapa waktu yang lalu. Sekarang nama itu tidak begitu trend lagi. Hal ini karena mereka terbuka kedoknya. Akhirnya mereka berubah nama, tapi idenya masih terus bersambung sampai hari ini

Pada kesempatan ini kita akan mencoba sedikit membedah bagaimana pandangan orang liberal dalam berinteraksi atau memahami suatu hadits. Sebelumnya kita perlu memahami sejarah Liberal di Barat kemudian bagaimana arus liberalisasi itu datang dari Barat masuk ke Indonesia hingga sekarang.


Liberalisme –> Historisisme

Liberalisme kalau kita buka dalam ensiklopedia definisinya diantaranya
adalah gerakan dalam agama Kristen Protestan yang menegaskan pentingnya kebebasan berfikir dan menegaskan bahwa agama Nasrani hanya bersifat etika saja. Dalam arti agama Nasrani tidak boleh intervensi urusan politik, ekonomi, sosial dan sebagainya.

Imbas dari gerakan liberalisme ini adalah Para Teolog Kristen Barat saat itu akhirnya menggunakan methode historis dalam memahami Injil.
Metode historis sederhananya begini : Sebuah Undang-Undang atau Aturan itu kadang-kadang sulit memahaminya kalau tidak tahu kronologinya. Kenapa ada aturan itu ?

Misalnya ada satu Pondok mempunyai aturan bahwa Santri disitu kalau memakai sarung, bajunya harus dimasukkan dan harus memakai gesper (sabuk besar). Ini mungkin bagi sebagian kalangan agak unik, kita mungkin tak bisa menerima aturan itu. Tapi kalau kita mengetahui kronologinya mengapa ada aturan itu mungkin kita akhirnya bisa memahami.

Konon dulu ada santri baru, dia sebelum nyantri tidak pernah pakai sarung. Dia pertama kali pakai sarung saat di Pondok. Di Pondok disiplinnya ketat , jam sekian harus meninggalkan kamar untuk ke masjid. Kalau terlambat akan dihukum.

Karena anak ini tak biasa pakai sarung, dan karena dia dikejar waktu akhirnya dia memakai sarung sambil jalan. Berlari dari kamarnya ke masjid. Dia selamat sampai masjid tidak terlambat dan tidak dihukum. Tetapi ternyata sarungnya jatuh tertinggal di jalan. Akhirnya gara-gara peristiwa itu timbullah aturan santri yang memakai sarung harus pakai gesper.

Dulu zaman kita masih muda tak ada aturan menyalakan lampu motor di siang hari. Sekarang harus menyalakan lampu motor, kalau tidak kena sangsi. Dulu tidak ada aturan, kenapa sekarang ada? Tentu ada kronologinya yang akhirnya kita mematuhi peraturan itu. Itu yang dimaksud dengan methode historis dalam memahami sebuah text atau aturan.

Liberalisme di Barat bermula dari gerakan para Teolog mereka ketika membaca Bible dengan kacamata historis : Kenapa ada aturan ini?
Kalau aturan itu sekarang tidak sesuai maka ditanggalkan, dianggap expired.
Itu yang namanya Historisisme.
Dan itu digunakan Para Teolog Barat yang kemudian menyebabkan Barat menjadi Liberal, Sekuler dan akhirnya meninggalkan Gereja (meninggalkan ajaran Bible). Karena mereka melihat ajaran-ajaran di Bible tidak relevant pada masa kini.

Definisi lain dari historisisme :
Historicism is the belief that an adequate understanding of the nature of anything and an adequate assessment of its value are to be gained by considering it in terms of the place it occupied and the role it played within a process of development.
(Historisisme adalah sebuah kepercayaan bahwa kita tidak bisa memahami hakekat terjadinya sesuatu kecuali dengan melihat dimana sesuatu itu terjadi dan mengapa sesuatu itu terjadi).

Dikaitkan dengan contoh tentang Santri pakai sarung harus pakai gesper. Maka kita bisa memahami aturan itu dan bisa jadi suatu saat aturan itu dicabut karena dianggap sekarang santri-santri sudah pandai pakai sarung dengan kuat, tak perlu pakai gesper.

Demikian juga bisa jadi aturan menyalakan lampu motor di siang hari suatu saat tak diberlakukan lagi karena satu dan lain hal. Karena aturan manusia bisa jadi suatu saat tak relevant lagi.

Teolog Barat berani memakai theori historisism dalam memahami Injil, karena mereka sudah sepakat bahwa Injil bukan Kalamullah. Mereka selalu mengatakan The Author of Bible (Pengarang Injil).

Lebih jelasnya ayat-ayat Injil dikarang oleh Pengarangnya pada waktunya, sehingga bisa jadi sekarang tidak relevant lagi. Akhirnya banyak ayat-ayat atau hukum-hukum dalam Bible yang ditinggalkan.


Sejarah Liberalisme

Liberalisme ibarat sebuah Piramida ada 4 tiang penyangganya :
Freedom (Kebebasan), Individualisme (yang penting adalah pribadi), Relativisme, Rationalism .
Ini adalah sebuah pola pikir atau world view yang muncul akibat adanya kekangan dari Gereja.
Selama berabad-abad masyarakat Eropa dikekang oleh Gereja.

Kalau kita runut ke belakang :

Dari abad pertama sampai abad ketiga orang Eropa tidak mengenal agama Samawi. Dakwah Nabi Isa belum sampai menyeberang ke bumi Eropa. Kalau ada satu dua orang yang menganut agama lain yang dianut orang Eropa, yaitu menyembah Kaisar, orang itu dianggap pendatang haram dan akan dieksekusi. Hal itu yang terjadi pada pengikut Isa.

Masuk abad ke empat, keadaan berubah drastis. Pada saat agama Kristen pertama kali masuk ke Eropa atau Romawi saat itu, mula-mula yang masuk Kristen adalah kalangan bangsawan di sana. Kemudian Kaisar yang sudah memeluk agama Kristen akhirnya memaksakan agama itu supaya dipeluk oleh seluruh penghuni Eropa. Agama Kristen menjadi agama legal, bahkan resmi harus dianut oleh bangsa Eropa.

Di abad ke empat itulah hingga berabad-abad sampai abad ke 12 lebih masyarakat Eropa hidup dibawah kungkungan Gereja dan Penguasa.
Semuanya apa kata Gereja. Tidak boleh ada yang membantah. Abad ke empat sampai abad ke 12 lebih dalam sejarah disebut dengan Dark Age (Masa Kegelapan).

Pada abad 8 Islam sampai ke Spanyol dan membangun peradaban yang luar biasa pada saat orang Eropa hidup dalam kegelapan. Maka berbondong- bondonglah sarjana Eropa nyantri ke sarjana Muslim yang ada di Spanyol, bahkan ada yang sampai menyeberang ke Mesir dan wilayah Afrika yang lain.

Pulang dari nyantri, mereka balik ke Eropa lagi. Mereka kemudian sadar akan yang selama ini mereka alami. Akhirnya mereka mulai berfikir dan sampai pada tahap berani menentang Gereja. Ada beberapa sarjana barat yang kemudian mempunyai penemuan, tetapi penemuannya bertentangan dengan keyakinan Gereja, kemudian penemuannya dibredel dan penemunya dieksekusi.

Galileo menemukan bahwa pusat tata Surya bukan bumi, tetapi matahari. Padahal keyakinan Gereja bahwa bumi pusat tata Surya. Karena bertentangan dengan Gereja maka dia dieksekusi. Dan masih banyak lagi. Lama-lama kemudian bangsa Eropa sadar.


Mengapa Barat Liberal?

Dalam buku “History of the conflict between Religion and Science”, agama Kristen sejak kedatangannya abad ke 4 pertama kali sudah bermasalah. Agama itu sudah bercampur aduk dengan budaya syirik (Paganism). Yang mengatakan itu sarjana Barat bernama John William Draper dalam buku itu.

Dia menulis di halaman 64/65
“Two causes led to amalgamation of Christianity with paganism : 1. The political necessities of the new dynasty ; 2. The policy adopted by the new religion to insure its spread”.

Ada dua sebab yang mengantarkan adanya perpaduan antara agama Kristen dan Paganism (budaya syirik atau berhala). Sebab itu :
– Karena memang secara politik Romawi pada saat itu perlu untuk mengadopsi agama ini.
– Hanya dengan begini, agama yang baru dipeluk orang Barat itu bisa tersebar luas.

Singkat kata, agama Nasrani yang masuk ke Eropa sejak pertama kali, bukan agama Nasrani yang diajarkan oleh Nabi Isa. Karena agama ini sudah tidak sama dengan yang diajarkan Nabi Isa kemudian dipaksakan oleh orang Barat, padahal agama harus sesuai dengan fithrah. Lama-lama orang Eropa tersadarkan dengan ini. Ini bukan ujaran kebencian, ini murni akademik dan ada referensinya.

Akhirnya timbul pemberontakan- pemberontakan, revolusi sampai kemudian timbulah agama Kristen Protestan. Akhirnya orang Barat menjadi Liberal, menjadi Sekuler dan mengesampingkan agamanya sampai sekarang.

Sekarang banyak sekali Gereja yang sepi bahkan berubah fungsi menjadi Masjid. Di Australia tahun 2014 saya sudah ketemu beberapa Masjid yang dulunya Gereja. Di Eropa juga begitu. Bahkan Masjid orang Indonesia yang disana Al Hikmah dulunya adalah Gereja. Jadi orang sudah tidak peduli dengan agamanya dan mereka bilang mereka Sekuler. Agama ditaruh dipojok Gereja yang paling sempit. Apa kata Gereja sudah tidak dipedulikan.

Orang pergi ke Gereja bisa dihitung dalam hidupnya, kalau tidak saat menikah, maka pada saat meninggal dia di Gereja. Itupun ada orang yang berpasangan beranak pinak tapi tidak pernah ke Gereja. Contohnya Brad Pitt sama Angelina Jolie. Dan semacam ini banyak.

Agamanya sendiri tidak melarang Homosex. Maka kita bisa melihat sekarang betapa maraknya LGBT. Sudah tidak dihiraukan lagi. Kaidahnya orang Sekuler “You may believe in God without believing any Religion” (Kamu boleh beriman pada satu Tuhan, tapi tidak harus memeluk satu agama tertentu).

Kenapa Barat menjadi Liberal kalau dicari faktornya ada dua, atau ada juga yang mengatakan tiga :
1. Adanya distorsi agama.
Agama Kristen yang masuk ke Barat tidak sama dengan yang diajarkan Nabi Isa.
2. Adanya tekanan politik Romawi saat itu.
3. Masyarakat Eropa yang feodal saat itu. Masyarakat Eropa mirip masyarakat India yang berkasta. Yang sudah terlanjur jadi Petani tetap jadi Petani. Yang jadi Prajurit tetap Prajurit dan yang jadi Raja menurunkan Raja.

Masyarakat Barat mengalami kegelapan saat itu. Kemudian mereka tercerahkan setelah mereka nyantri kepada Sarjana-sarjana muslim yang ada di Spanyol saat itu.

Setelah meninggalkan agama mereka Barat menjadi maju. Liberalisme sebagai sebuah World view kemudian mereka inginkan tidak hanya di bumi Eropa tetapi disebarkan ke seluruh dunia, terutama ke dunia islam.

Intinya Barat menjadi maju karena dengan liberalisme ketika mereka membaca Kitab Suci mereka kemudian mendapatkan hukum-hukum agama yang dipandang tidak relevant dengan masa kekinian, hukum itu ditinggalkan.


Masuknya Liberalisme ke Indonesia

Ada beberapa pintu masuknya liberalisasi ke dunia islam, dimana masuknya ke Indonesia adalah melalui
Penjajahan Belanda.

Pada saat itulah benih-benih ditanamkannya liberisasi dimana agama cukup untuk pedoman sehari-hari saja. Tidak perlu ada agama untuk urusan Politik atau Ekonomi.

Direkomendasikan oleh Snouck Hurgronye kepada Pemerintah VOC.
Pemerintah Hindia Belanda, saat itu VOC harus benar-benar memantau siapa Tokoh Agama yang mau menggunakan agama untuk urusan Politik. Agama hanya boleh untuk ritual saja.

Maka orang seperti P. Diponegoro dimata penjajah dianggap radikal. Tetapi dimata rakyatnya dia seorang pahlawan. Kenapa disebut radikal karena dia mengganggu kekuasaan yang sudah established (status quo).

Sejak zaman Belanda sudah diterapkan Politik Belah Bambu.
Politik Belah bambu artinya ada bagian yang dipegang dan ada bagian yang diinjak. Yang dipegang adalah tokoh-tokoh agama yang mau kong-kalikong dengan penjajah Belanda. Yang diinjak-injak adalah orang-orang seperti P. Diponegoro. Orang-orang yang menggerakkan rakyat untuk melawan Belanda.

Menggerakkan itu karena ada motivasi agama. Sekarang penjajahnya sudah berubah. Bukan penjajahan fisik lagi. Kita sudah memasuki penjajahan pemikiran (ghazwul fikri). Maka wacana yang sekiranya akan menggeser Barat untuk mendominasi peradaban dunia, harus segera diinjak.

Dulu P. Diponegoro harus diinjak, maka orang sekarang dalam konteks peperangan pemikiran, orang-orang yang berfikir radikal dimata orang- orang barat juga harus diluluh- lantakkan. Sedangkan orang-orang yang mendukung status quo dalam peradaban Barat harus dipegang.


RAND Corporation

Apa yang dulu diterapkan oleh Snouck Hurgronye juga diterapkan oleh lembaga riset internasional yang ada di Amerika, namanya RAND Corporation (Research And Development) , suatu Lembaga Pemikir (Think Tank) Swasta di Amerika.

Amerika Serikat boleh berganti-ganti Presidennya tetapi kebijakan politik luar negeri Amerika Serikat khususnya ke dunia islam banyak dipengaruhi oleh laporan RAND Corporation. Laporan RAND Corporation yang bocor atau sengaja dibocorkan ini dapat diunduh. Kalau kita membaca laporan itu maka kita akan bisa memahami kenapa kondisi kita sekarang seperti ini.

Umat islam dibelah-belah. Orang-orang islam yang pro Barat didukung secara finansial. Tapi yang anti Barat kemudian dikejar-kejar.
Di dalam laporan RAND Corporation itu mereka membagi umat islam khususnya di Indonesia (termasuk di beberapa negara lain) menjadi 4 kategori : Fundamentalis, Tradisionalis, Moderat, Sekular (Liberal).

Kelompok Fundamentalis harus diwaspadai oleh Amerika Serikat.
Ciri-cirinya adalah mereka ingin menegakkan syariat islam dan sangat anti Barat.

Kelompok Tradisionalis, orang yang berharap juga syariat islam diterapkan. Tetapi tidak begitu ngotot keinginannya untuk bersyariat. Maka kelompok yang pertama dan kedua harus diadu domba.

Kelompok Moderat, orang yang toleran dan tidak kritis sama sekali terhadap Barat. Mereka posisinya aman, kalau perlu didukung. Aliran Moderat disini menurut pandangan Barat yang sebenarnya berbeda dengan yang kita sebut Washatiyah.

Kecenderungannya sekarang ini adalah Islam Liberal yang ketahuan kedoknya diganti nama dengan Islam Moderat. Islam Moderat ini Islam yang mendukung agenda-agenda Barat di laporan RAND Corporation.

Kelompok Sekular atau Liberal yang merupakan Good Boy dari Barat. Kalau perlu diberi bea siswa , kalau dia punya LSM akan dibantu.

Kalau kita melihat fenomena Indonesia sekarang ini, empat kelompok umat islam ini cakar-cakaran satu sama yang lain. Kelompok yang pertama dicap Radikal. Begitu pula kelompok yang kedua, kadang-kadang dianggap radikal. Kelompok ketiga dan ke empat di anggap moderat (versi Barat).

Dulu di zaman Penjajahan Belanda juga begitu. Kalau kita membaca ulasannya Salim A. Fillah dulu anak buah P. Diponegoro diadu domba dengan muslim dalam Perang Paderi. Sama-sama muslim, tapi yang dilawan P. Diponegoro adalah orang islam yang sudah di bawah asuhan Penjajah Belanda.

Sekarang juga begitu umat Islam ini cakar-cakaran dengan temannya sendiri. Ini Politik Belah Bambu, ini adalah strategi yang sudah dirancang oleh RAND Corporation dan sudah terjadi.

Dalam laporan RAND Corporation ada statement :
Some muslim teachers, although of a moderate disposition, lack the ability to link Islamic teachings explicitly with democratic values. In response, the Asia Foundation has developed a program to assist the efforts of moderate ulama to mine Islamic texts and traditions for authoritative teachings that support democratic values. The result is a corpus of writtings on fiqh (Islamic jurisprudence) that support democracy, pluralism, and gender equality. These texts are on the cutting edge of progressive Muslim thinking and are in great demand internationally.

Institutions like the Nahdlatul Ulama – based Institute for Islamic and Social Studies (LKiS) hold that instead of creating specifically Islamic schools, Muslims should ensure that all institutions are infused with values of social justice and tolerance. The “i” in LKiS (which stands for Islam) is deliberately written in lower case to underscore that LKiS against the type of Islamism that emphasizes Islam’s superiority over other religions. LKiS is currently involved in human-rights training in pesantren, the Indonesian Islamic boarding schools.

Beberapa sarjana muslim, meskipun mereka hidup di era yang modern tapi mereka kurang kemampuan untuk menyambungkan ajaran-ajaran islam secara explisit dengan nilai-nilai demokrasi.

Di Indonesia banyak sekali LSM lokal yang mereka mendapat dana dari LSM asing , diantaranya adalah Asia Foundation, ada lagi Ford Foundation.

Merespon itu maka Asia Foundation ( LSM asing yang mendanai Liberalisasi di Indonesia) telah mengembangkan suatu program untuk membantu usaha-usaha ulama moderat untuk menyatukan antara text -text agama Islam dan khasanah keilmuan Islam yang mensupport nilai-nilai Demokrasi.


LKiS (Lembaga Kajian Islam Dan Sosial)

Dalam laporan ini ada beberapa LSM- LSM lokal yang merespond agenda RAND Corporation ini, diantaranya LKiS. Kalau kita membuka buku-buku yang diterjemahkan oleh LKiS ini semua tentang pemikiran liberal semua. Kalau world view kita tidak kuat bisa terseret ke menu yang diissuekan buku tersebut.
.
LKiS ketika membuat nama saja, dia sudah mengorbankan islam itu sendiri. Dia mengatakan “i” dalam LKiS adalah Islam. Dia menulis “i” dengan huruf kecil karena dia ingin islam itu setara dengan agama-agama lain. Islam tidak boleh merasa dirinya paling benar.


Demokrasi, Pluralisme dan Gender Equality

Dari program Asia Foundation ini hasilnya adalah ada kumpulan tulisan dalam fiqih yang intinya mensupport Demokrasi, Pluralisme dan Gender Equality.
Tiga hal inilah yang menjadi agenda utama orang Barat untuk meliberalkan Indonesia. Orang atau Sarjana Indonesia yang bisa mencari dalil-dalil dari Al Qur’an dan Hadits yang membenarkan adanya Demokrasi, Pluralisme dan Gender Equality mereka bisa mengajukan proposal untuk mendapat dana.


Demokrasi

Demokrasi ini bukan sebuah sistem, dalam arti Demokrasi secara umum adalah mengagungkan suara mayoritas. Kalau dalam suatu konsensus, kemudian suara mayoritas menginginkan A menang, maka A harus menang, terlepas agama membolehkan atau tidak maka A harus dimenangkan.

Maka misalnya suatu saat naudzubillahi suara mayoritas mengatakan bahwa LGBT itu sah di negara ini maka tidak boleh suara mayoritas itu dihentikan oleh suara apapun, meskipun itu suara dari langit.
Karena ide dasar demokrasi adalah suara mayoritas adalah suara Tuhan. Itu yang terjadi di Barat.


Pluralisme

Pluralisme disini adalah bukan secara bahasa Toleran. Tetapi maksud Pluralisme adalah ajakan bahwa semua agama sama.

Beberapa contoh tulisan sarjana kita yang menawarkan ide semua agama sama.
“One God many name” salah satu pencetus pluralism atau semua agama sama. Dia mengatakan bahwa semua agama di dunia itu berbeda hanya di tataran kulitnya saja, ujung-ujungnya menyembah kepada satu Tuhan yang sama, meskipun namanya berbeda.
Ide-ide seperti ini selalu ada yang menawarkan ke kampus-kampus islam

Kita juga bisa mendapati buku Fiqih Lintas Agama , dikarang oleh Cak Nur dan kawan-kawan. Bisa diperhatikan disana ada kerjasama antara Paramadina dan Asia Foundation. Jadi buku ini mendapat bantuan dari Asia Foundation. Ini adalah contoh orang yang membuat proposal dan dapat dana.

Kita kaget sebagai umat Islam selama ini kita diajarkan :

Allah SWT berfirman:


اِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللّٰهِ الْاِ سْلَا مُ ۗ 

“Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 19)

Allah SWT berfirman:

وَمَنْ يَّبْتَغِ غَيْرَ الْاِ سْلَا مِ دِيْنًا فَلَنْ يُّقْبَلَ مِنْهُ ۚ وَهُوَ فِى الْاٰ خِرَةِ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ

“Dan barang siapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 85)

Allah SWT berfirman:

اَ لْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَـكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَ تْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَـكُمُ الْاِ سْلَا مَ دِيْنًا ۗ 

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.” -(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 3)


Gender Equality

Gender Equality adalah kesetaraan antara gender laki dan perempuan.
Tentang kesetaraan gender ada buku Argumen Kesetaraan Jender, ada buku Fiqih Perempuan.

Kejanggalan tentang pemikiran ini akan kita bahas lebih lanjut.


BERSAMBUNG BAGIAN 2

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here