Dr.dr.H. M. Masrifan Djamil MMR, MPH

10 Jumadil Akhir 1442 / 23 Januari 2021



Ikhtisar Sabar Mempertahankan Akidah

Sabar atas Gangguan :

1. Penyebab Internal.

Gangguan lepasnya iman dari istiqomah penyebabnya dari diri kita sendiri.

– Akal

Akal ini mengembara kemana-mana, tidak karuan. Qolbu bisa dibajak oleh Akal. Padahal akal itu sebenarnya bagian dari Fuad. Akhirnya akalnya yang didepan.
Bahkan ada seorang yang kuliah di UIN menyatakan dalam sebuah buku “Indahnya Kawin Sejenis”. Ini karena akalnya yang mengembara kesana kemari yang berbicara.
Kalau orang California memang memanjakan akalnya sampai berlebihan. Mereka kreatif membuat film sekehendak dirinya tanpa batas. Silahkan lihat channel HBO, disana merupakan pengembaraan akal yang luar biasa, apapun jadi film bahkan menyoal Tuhan juga bisa difilmkan.

– Ilmu.

Ilmu bisa berkembang. Ini kisah nyata ada teman yang karena terus berdiskusi tentang kebebasan berpendapat, kebebasan berfikir akhirnya atheis selama 6 tahun. Alhamdulillah sekarang beliau sudah sadar Tauhid kembali bahkan mendidik hafizh / hafizhah.
Kita do’akan agar lahir generasi seperti itu dimana-mana dan akhirnya Indonesia seperti yang diharapkan almarhuh Syeh Ali Jaber yaitu punya 1 juta hafizh Al Qur’an.
Mari kita halangi akal jangan sampai membajak qolbu karena ilmunya bisa sesat kesana kemari.

– Nafsu

Nafsu bisa menguasai qolbu, karena salah satu bagian dari qolbu adalah al Hawa atau nafsu. Al Hawa bisa menguasai qolbu sehingga qolbu yang tadinya beriman bisa berubah.
Ada yang awalnya Penulis Al Qur’an Rasulullah SAW , ada yang hafizh al Qur’an jadi Kafir di akhir hayatnya.


2. Penyebab Eksternal

– Tiga TA (Tahta, Harta, Wanita)

Kisah Nabi SAW pernah diminta kompromi tukar agama nanti akan diberi harta, dijadikan raja dan diberi wanita yang paling cantik.

Tahta, orang punya tahta bisa tergelincir. Dulunya kelihatannya hebat sekali , menjadi pembicara di Televisi , menjadi ustadz, khotib dimana-mana tetapi begitu kena tahta, bahasa jawanya “mblero” (suaranya tidak lagi merdu).

Harta, kita kenal Tsa’labah orang ini miskin istiqomah luar biasa. Suatu saat pernah ditegur Rasulullah SAW : “Kenapa kamu sering tidak datang shalat jamaah?”.
“Maaf ya Rasul, baju saya satu maka ketika sedang saya cuci, saya tak bisa shalat jama’ah”.
Dia mengeluh dan akhirnya dia minta didoakan Rasul supaya kaya. Dia ditanya :” Apa kamu sanggup?”
Ini hal penting, menjadi orang kaya itu ada yang tidak sanggup. Ketika miskin sanggup namun ketika kaya hilanglah imannya.

Akhirnya dia didoakan oleh Rasulullah dan menjadi orang yang kaya. Kemudian kambingnya berkembang biak dengan baik, gemuk , sehat dan laku dijual. Jadilah dia orang kaya.
Orang kaya itu sibuk.

Kalau Nabi Sulaiman beliau berani membunuh kudanya yang membuat beliau tertinggal dari shalat jama’ah. Tapi kalau kita belum pernah terdengar ada yang membakar mobilnya karena gara-gara mobilnya dia tidak berjamaah, atau lupa kepada Allah.

Maka waspadalah terhadap harta. Apa kewajiban kita terhadap harta sudah kita pelajari. Rezeki bukan hanya uang. Rezeki itu luas, kita bangun subuh ini rezeki. Kita bisa ke masjid itu rezeki. Karena ada dua rakaat sebelum fajar yang lebih baik dari dunia seisinya.

Kalau punya harta tapi tidak bangun Subuh, tidak shalat dua raka’at sebelum Subuh, sungguh sia-sia hidupnya. Karena yang kita punya di dunia ini kelak hanya akan jadi milik ahli waris. Maka banyak yang berebut warisan karena enak, tanpa usaha tahu-tahu dapat.

Kita perlu mengatur harta kita di akhir hayat kita. Mana harta yang akan diwasiatkan, mana yang akan diwakafkan dan mana yang akan diwariskan. Jangan sampai anaknya tidak dapat warisan, nanti bahaya juga. Jadi tetap harus ada warisan.

Wanita, Ada kisahnya tentang Abdah bin Abdurrahim menarik sekali (akan dikisahkan dibagian belakang).


– Medsos

Bahayanya adalah Hoax atau budaya ‘anut grubyug’.
Misalnya dalam satu Grup mengucapkan ‘Selamat Natal’ semua, tak ada yang kelewatan. Kira-kira kita bagaimana, ikut atau tidak.? Biasanya ikut-ikutan saja.

Dulu para ulama, guru-guru saya mengatakan : “Kamu tirulah ikan. Ikan itu dilaut yang airnya asin tapi ikan tidak pernah jadi ikan asin”.
Baru setelah ditangkap para nelayan dia diberi garam dan menjadi ikan asin. Istiqomah gambarannya seperti ikan di lautan. Meskipun airnya penuh dengan garam, dirinya tetap tawar.

Jadi di Medsos perlu hati-hati. Berteman itu penting , tapi berteman bisa menggelincirkan. Setan bisa menggelincirkan lewat manusia. Jadi jangan anut grubyuk. Tahan saja , santai tetap istiqomah.
Hoax, juga kita harus tahan jangan dishare. Kita tanyakan dulu kepada yang tahu, kepada majelis Taklim.


– Orang/Setan dengan bentuk

Ghazwul Fikr termasuk disini ,antara lain memelesetkan Akidah dengan berbagai cara.
Akidah yang sesat ada yang membela juga, sampai ada yang mengatakan di You Tube. Ada ulama yang menggoblok-goblokan ulama yang lain. Ini tidak benar.

Mari kita tahan diri dan ingat hadits :

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih)

Kenapa lebih baik diam? Kembali ke Surat Al Isra’ 36. Dalam ayat itu Fuad saja diadili dimintai pertanggung jawaban. Jangan dibiarkan Pikiran mengembara kesana kemari. Apalagi ucapan, batasi saja fokusnya kemana.

– Ada 8 kelompok yang menghalangi sehingga kita tidak sabar

Allah SWT berfirman :

قُلْ اِنْ كَا نَ اٰبَآ ؤُكُمْ وَاَ بْنَآ ؤُكُمْ وَاِ خْوَا نُكُمْ وَاَ زْوَا جُكُمْ وَعَشِيْرَتُكُمْ وَ اَمْوَا لُ ٭ِ قْتَرَفْتُمُوْهَا وَتِجَا رَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَا دَهَا وَ مَسٰكِنُ تَرْضَوْنَهَاۤ اَحَبَّ اِلَيْكُمْ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَ جِهَا دٍ فِيْ سَبِيْلِهٖ فَتَرَ بَّصُوْا حَتّٰى يَأْتِيَ اللّٰهُ بِاَ مْرِهٖ ۗ وَا للّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِيْنَ

“Katakanlah, Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. At-Taubah 9: Ayat 24)

Semua akan diberi keputusan oleh Allah. Mudah-mudahan saat ini belum karena masih kecil-kecil , tapi harus kita cermati kenapa ada bencana sampai tersebar dimana-mana (sistemik).

– Atasan / Pembesar

Ada atasan yang pernah saya ketahui kalau hari Jumat selalu mengajak rapat. Sudah adzan Jumat tapi rapat masih jalan terus. Mungkin ini untuk menguji orang-orang ini islam beneran atau islam yang tidak benar?

Jadi orang lain menguji, dan Allah juga menguji. Berhati-hatilah karena bisa jadi ada atasan yang menekan bawahan. Maka beruntunglah jika menjadi bawahan yang tidak digencet atasan. Mungkin itu jabatan Fungsional, kalau Struktural jelas berat. Kalau tidak kuat lebih baik minggir.

Pembesar bisa menjadi batu ujian untuk kita terpeleset. Dia bilang : “Ini harus dikonservasi, ini dipertahankan, ini budaya-budaya yang baik dari nenek moyang kita”.

Seperti ini sudah diperingatkan oleh Allah dalam Surat At Taubah ayat 24.
Hati-hati nanti Pembesar atau Pejabat dapat memaksakan upacara-upacara yang aneh-aneh supaya selamat (menurut versi dia).

– Takhayul dan Khurafat

Saya dulu pernah ngobrol di Pesawat dengan orang di sebelah saya. Dia suka ngomong politik dan mengkritik Pemimpin yang saat itu Pak SBY karena banyak bencana.
Dia bilang : “Indonesia banyak bencana gara-gara Pak JK”.
“Lhoh kok salahnya Pak JK?” , saya kaget.
Dia menjawab : “JK itu kan singkatan Kolo. Kolo itu kan Betoro Kolo..Indonesia harus diruwat”.
Rupanya dia orang Jawa. Saya diam saja hanya mengikuti ngobrol saja.
Ini tahayul, maka kita tetap hati-hati.

– JIL (Jaringan Islam Liberal).

Mereka produktif sekali dalam memproduksi You Tube, membuat text di WA, di email, di internet berupa ejekan, memutar balik berita dan mengedepankan akal. Macam-macam yang bisa mengganggu akidah.

– Mengedepankan Akal.

Tak usah ada ibadah haji, uangnya dikumpulkan saja untuk membangun Indonesia. Ini terkait dengan akal yang mengembara kemana-mana. Dikira agama ini akal. Memang ada Hadits (tapi hadits ini bathil).

الدِّينُ هو العَقلُ ، ومَن لا دينَ لهُ ، لا عقلَ له

“agama adalah akal, barangsiapa tidak punya agama maka ia tidak punya akal”

Akal itu untuk kesadaran, untuk membangun qolbu kita supaya kuat dan sehat bisa nyambung kepada Allah SWT. Dengan dzikir kita selalu terhubung dengan Allah SWT. Kita mohon karena kita ini lemah dalam segala hal. Maka kita mohon terus dengan do’a pagi, do’a sore, do’a lima waktu dan sebagainya.


– Memutar Balik Berita.

Saya baca di Twitter aneh sekali, dia menulis :
“Kita rugi ada orang X masuk islam dan kita juga rugi ada orang islam masuk Y”.

Mungkin ada yang tahu ada artis AW yang keluar dari islam. Padahal dia rugi. Tapi yang aneh adalah pernyataan masuknya X ke dalam islam. Ini jelas memutar balik berita. Akalnya yang di depan malah menjelek- jelekkan kawannya seagama.

Guru saya mengajarkan, bahwa sepanjang orang itu masih bersyahadat kamu tidak boleh mencelanya. Ketika dia mati kamu harus menyolatkan jenazahnya. Jangan sampai orang yang sudah islam tidak disholatkan.
Tapi memang ada yang berpendapat kalau dia tidak shalat maka dia kafir. Karena pemisah antara islam dan Kufur adalah shalat.


Iman tak mungkin tanpa ujian

Jangan tenang-tenang saja dan merasa bahwa setelah beriman kita akan beres-beres saja.

Allah SWT berfirman:

الٓمّٓ ۗ (1) اَحَسِبَ النَّا سُ اَنْ يُّتْرَكُوْۤا اَنْ يَّقُوْلُوْۤا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَـنُوْنَ(2) وَلَقَدْ فَتَـنَّا الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَـعْلَمَنَّ اللّٰهُ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكٰذِبِيْنَ(3)

“Alif Lam Mim. Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, Kami telah beriman dan mereka tidak diuji?
Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-‘Ankabut 29: Ayat 1-3)

Kita harus sabar mempertahankan iman karena pasti diuji. Allah pasti menguji, bahkan atasanpun ada yang menguji seperti diuraikan di atas.
Jadi beriman tak bisa sekedar omong doang.

Manusia pasti diuji, ada yang diuji lesannya ada yang diuji amalannya. Ada yang ditarik shodaqoh kemudian malahan marah-marah. Padahal Rasulullah mengatakan bahwa orang yang bershodaqoh tak akan pernah kehilangan. Apa yang dishodaqohkan akan diganti Allah lebih baik.


Taat Kepada Pembesar

Sekarang banyak orang yang kagum terhadap Pejabat. Padahal Pembesar tidak menjamin kita selamat di dunia akhirat. Tidak menjamin kita dapat ridha Allah.

Kita sudah diajari Allah bahwa kunci sukses ada di Surat Ali Imran ayat 185.

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَاِ نَّمَا تُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّا رِ وَاُ دْخِلَ الْجَـنَّةَ فَقَدْ فَا زَ  ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَاۤ اِلَّا مَتَا عُ الْغُرُوْرِ

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 185)

Juga ada dalam Surat Al Ahzab ayat 71.

يُّصْلِحْ لَـكُمْ اَعْمَا لَـكُمْ وَيَغْفِرْ لَـكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَا زَ فَوْزًا عَظِيْمًا

“niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang agung.” (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 71)

Kemenangan yang agung atau orang yang sukses adalah orang yang dijauhkan dari siksa Neraka dan dimasukkan ke Surga.

Jangan kagum dengan orang yang mendapatkan jabatan. Itu belum apa-apa, itu baru sumpah dan itu justru baru mulai mendapatkan ujian. Akankah dia tergelincir atau tidak. ?
Hati-hati mengucapkan kalimat jangan berlebihan menyikapi dengan kekaguman. Demikian pula dengan kekayaan orang, itu bentuk ujian bagi dia.

Kita diajari dalam Surat Al Mulk bahwa manusia hidup di dunia ini untuk diuji siapa yang paling baik amalnya.

٭لَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَا لْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًا ۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُ ۙ 

“yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun,”
(QS. Al-Mulk 67: Ayat 2)

Kalau orang tergelincir dan dia taatnya kepada Pemimpin atau Pembesarnya , ketika menghadap Allah mereka melaporkan bahwa mereka digelincirkan oleh Pembesarnya.
Sebetulnya bukan karena mereka itu hanya triger saja, apakah kita mau ikut atau tidak.

Allah SWT berfirman:

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوْهُهُمْ فِى النَّا رِ يَقُوْلُوْنَ يٰلَيْتَـنَاۤ اَطَعْنَا اللّٰهَ وَاَ طَعْنَا الرَّسُوْلَاۡ(66) وَقَا لُوْا رَبَّنَاۤ اِنَّاۤ اَطَعْنَا سَا دَتَنَا وَكُبَرَآءَنَا فَاَ ضَلُّوْنَا السَّبِيْلَاۡ(67) رَبَّنَاۤ اٰتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَا بِ وَا لْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيْرًا(68)

“Pada hari ketika wajah mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata, Wahai, kiranya dahulu kami taat kepada Allah dan taat kepada Rasul. Dan mereka berkata, Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati para pemimpin dan para pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan yang benar. Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan laknatlah mereka dengan laknat yang besar.” (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 66-68)


Sabar dalam Iman

Kisah Ammar bin Yasir ini luar biasa. Dia bersama kedua orang tuanya disiksa Tuannya dan orang-orang Quraisy.

Ketiga-tiganya disiksa. Ayahnya tetap tidak mengakui yang lain kecuali Allah. Ibunya disiksa secara lebih mengerikan. Menurut riwayat , ibunya ditombak dari kemaluannya sampai tembus ke kerongkongannya. Tapi tetap mengucapkan ‘laa ilaha illallah’ (tiada sesembahan yang benar disembah selain Allah).
Bayangkan betapa istiqomahnya, betapa sabarnya.

Siksaan itu dilakukan di depan mata Ammar bin Yasir. Akhirnya dia tidak tahan dan pura-pura melepaskan iman. Dan dia dibebaskan. Akhirnya diapun menangis dan lari mencari Rasulullah SAW. Dia mengadukan semuanya. Rasulullah tak mampu menjawab dan beliau mohon petunjuk kepada Allah.

Akhirnya turun ayat, Allah SWT berfirman:

مَنْ كَفَرَ بِا للّٰهِ مِنْۢ بَعْدِ اِيْمَا نِهٖۤ اِلَّا مَنْ اُكْرِهَ وَقَلْبُهٗ مُطْمَئِنٌّ بِۢا لْاِ يْمَا نِ وَلٰـكِنْ مَّنْ شَرَحَ بِا لْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ اللّٰهِ ۚ وَلَهُمْ عَذَا بٌ عَظِيْمٌ

“Barang siapa kafir kepada Allah setelah dia beriman dia mendapat kemurkaan Allah , kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan mereka akan mendapat azab yang besar.” (QS. An-Nahl 16: Ayat 106)

Jadi kasus seperti Ammar bin Yasir r.a ini boleh. Bertahan demi hidup, tetap iman dalam hati tapi mengaku melepas iman. Tapi orang yang sukarela melepas iman seperti artis AW tadi atau yang lainnya mereka akan mendapatkan murka Allah dan mendapat siksa yang pedih.

Mudah-mudahan kita tidak mengalami peristiwa seperti Ammar bin Yasir. Seandainya mengalami, mudah- mudahan bisa sabar bertahan seperti Ammar bin Yasir r.a


Tidak Sabar dalam Iman

Mengapa kita harus sabar dalam mempertahankan iman dan akidah, karena ada kisah sebaliknya di zaman Sahabat. Abdullah bin Sa’d bin Abi Sarh al Quraisyi al Amiri dia saudara sepersusuan dengan Usman bin Affan r.a. Dia pernah dipercaya sebagai penulis Al Qur’an. Tetapi mengacaukan perintah Rasulullah. Akhirnya ketahuan dan lari ke Mekkah lagi, murtad. Naudzubillah.

Kemudian zaman Tabi’in juga ada, namanya Abdah bin Abdurrahim dia seorang Hafizh al Qur’an, orang yang zuhud dan berilmu tinggi. Dia ahli puasa Daud dan juga ahli perang. Tidak ada yang tidak mengakui kehebatannya waktu perang.

Suatu hari pasukan muslim mengepung benteng Romawi. Tiba- tiba dia memandang seorang wanita yang cantik dan langsung jatuh cinta pada wanita itu. Dia menemui wanita itu dan meminta agar wanita itu mau jadi isterinya.

Jawabannya adalah agar Abdah ini masuk Nasrani saja dan wanita itu bersedia menjadi isterinya.
Akhirnya dia murtad demi wanita yang dicintainya itu. Naudzubillah.

Inilah godaan eksternal yang dari wanita. Tentu ada juga godaan internalnya yaitu dari al Hawanya yang mengendalikan qolbu. Akhirnya hafalan Al Qur’annya lupa semua dan hanya tertinggal dua ayat.

Rasulullah SAW bersabda,

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Aku tidak meninggalkan satu fitnah pun yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Allah SWT berfirman:

وَمَنْ يَّرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِيْـنِهٖ فَيَمُتْ وَهُوَ کَافِرٌ فَاُ ولٰٓئِكَ حَبِطَتْ اَعْمَا لُهُمْ فِى الدُّنْيَا وَا لْاٰ خِرَةِ ۚ وَاُ ولٰٓئِكَ اَصْحٰبُ النَّا رِ ۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ

“Barang siapa murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itu sia-sia amalnya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 217)

Sekarang hal semacam ini banyak. Terjebak wanita atau laki-laki dan kemudian meninggalkan keimanan. Ada teman saya, ahli adzan yang anaknya 4 dan dua diantaranya pindah agama gara-gara godaan lawan jenis.

Maka janganlah kita sampai lupa melakukan do’a pagi yang penting. Agar kita tetap dalam iman dan islam.

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ أَبَدًا

Yaa Hayyu Yaa Qoyyum, bi-rohmatika as-taghiits, wa ash-lih lii sya’nii kullahu wa laa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ainin Abadan.

“Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri, dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekali pun sekejap mata tanpa mendapat pertolongan dariMu.”

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here