Dr.dr.H. M. Masrifan Djamil MMR, MPH

10 Jumadil Akhir 1442 / 23 Januari 2021



Pendahuluan.

Sabar dan Syukur akan berkali-kali kita sampaikan, karena sabar dan syukur adalah andalan kita untuk memperoleh ridha Allah. Banyak ayat Al Qur’an yang menunjukkan bahwa semua itu akan diberi balasan oleh Allah SWT.

Allah SWT berfirman:

وَجَزٰٮهُمْ بِمَا صَبَرُوْا جَنَّةً وَّحَرِيْرًا ۙ 

“Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabarannya berupa surga dan pakaian sutera,” (QS. Al-Insan 76: Ayat 12)

Kita diajari juga oleh Rasulullah SAW

عَنْ أَبِيْ عَمْرٍو، وَقِيْلَ، أَبِيْ عَمْرَةَ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ قُلْ لِيْ فِي الإِسْلامِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدَاً غَيْرَكَ؟ قَالَ: “قُلْ آمَنْتُ باللهِ ثُمَّ استَقِمْ” رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu ‘Amr—ada yang menyebut pula Abu ‘Amrah—Sufyan bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku berkata: Wahai Rasulullah katakanlah kepadaku suatu perkataan dalam Islam yang aku tidak perlu bertanya tentangnya kepada seorang pun selainmu.” Beliau bersabda, “Katakanlah: aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.” (HR. Muslim)

Istiqomah bisa tercapai kalau kita sabar. Apa antara lain yang harus kita lakukan dengan istiqomah?
Mereview kajian yang lalu bahwa menurut Imam Al Ghozali qolbu kita terdiri dari : Fuad, as Shadr, al Hawa dan an Nafs.

Fuad atau Akal Budi ini disebutkan dalam surat Al Isra ayat 36 :

وَلَا تَقْفُ مَا لَـيْسَ لَـكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗ اِنَّ السَّمْعَ وَا لْبَصَرَ وَا لْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰٓئِكَ كَا نَ عَنْهُ مَسْئُوْلًا

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’ 17: Ayat 36)

Jangan sampai kita gegabah, karena berfikir saja kelak akan diminta pertanggung jawaban, apalagi ngomong dan bertindak pasti akan diminta pertanggung jawaban.

Jangan sekali-kali berbicara atau berbuat yang tidak punya dasar ilmunya. Ada hoax di WA jangan dipercaya, karena WA itu ibarat hutan belantara, tidak tahu siapa yang bertanggung jawab. Kecuali video mungkin masih mendingan, itupun bisa dimanipulasi dengan dipotong-potong atau diberi nama lain. Tetapi kalau jelas diucapkan dalam video, mungkin masih bisa dipercaya. Tapi text (tulisan) yang diklaim ucapan seorang tokoh terkenal , tak dapat diterima. Intinya kita jangan gegabah.

Maka kita perlu mengkaji dan meningkatkan terus Sabar dan Syukur, karena sebagai mukmin, Qolbu harus bekerja untuk dua hal ini.

Rasulullah SAW bersabda,

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)

Hanya orang mukmin yang bisa. Kalau tidak mukmin, ada yang kekurangan uang dia mencuri, merampok bahkan ada yang merampok orang tua sendiri!
Sabar dan Syukur harus dikuatkan terus. Kita mengingat kemarin ibu Nurhayati dari Wardah, untuk membesarkan Perusahaan beliau harus sabar sampai 36 tahun. Jangan melihat ketika Perusahaan sudah besar saja.


Iman itu salah satunya adalah Sabar

Dimensi sabar itu luas sekali, salah satunya adalah Iman.
Seorang sahabat bertanya : “maa huwa al iman?” Rasulullah SAW menjawab :
“al-imanu huwa ash-shabru” – Iman adalah sabar—

Kita harus mempertahankan diri, meskipun di masa medsos ini susah. Dengan adanya HP, internet maka kemudian sedikit-sedikit share.
Kenyataan banyak yang diklaim sebagai hadits tapi tak pernah kita dengar, sama sekali baru. Padahal mungkin kita mengaji sudah 50 tahun lebih. Setiap ada yang baru saya tanyakan ke Guru, Ustadz, Ulama.
Karena saya masih belum mampu untuk melacak ke Sumber Hadits karena keterbatasan bahasa Arab. Hanya tahu sedikit-sedikit. Ini bagian dari kesabaran.


Mengapa membahas Sabar dalam mempertahankan Keimanan?

hadits muttafaqun ‘alaih, dari ‘Itban bin Malik bin ‘Amr bin Al ‘Ajlan Al Anshori, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


فَإِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ . يَبْتَغِى بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ

“Sesungguhnya Allah mengharamkan dari neraka, bagi siapa yang mengucapkan laa ilaha illallah (tiada sesembahan yang benar disembah selain Allah) yang dengannya mengharap wajah Allah” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ini harus kita kuatkan supaya kita selalu mengucapkan ‘laa ilaha illallah’.
Karena juga ada hadits.

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ، أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ : لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ

“Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Iman itu ada tujuh puluh cabang lebih, atau enam puluh cabang lebih. Yang paling utama yaitu perkataan Lâ ilâha illallâh, dan yang paling ringan yaitu menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu itu termasuk bagian dari iman.(HR Bukhori)

Kita diajari oleh Rasulullah tiap pagi dan petang untuk berdzikir, minimal sepuluh kali:

لَاإِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ

La ilaha illallah wahdahu la syarika lahu lahul mulku wa lahul hamdu yuhyi wa yumit, wa huwa ‘ala syai’in qadir

“Tidak ada Tuhan Selain Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kekuasaan dan bagi-Nya segala pujian. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu”

Kalau pagi lupa, masih boleh di siang harinya, itu kata para ulama. Lebih bagus lagi jika 100 kali, penting bagi para Senior.

Kalau orang mau masuk surga syaratnya ini :

وَبَشِّرِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَ نْهٰرُ ۗ كُلَّمَا رُزِقُوْا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِّزْقًا ۙ قَا لُوْا هٰذَا الَّذِيْ رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ وَاُ تُوْا بِهٖ مُتَشَا بِهًا ۗ وَلَهُمْ فِيْهَاۤ اَزْوَا جٌ مُّطَهَّرَةٌ ۙ وَّهُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ

“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, bahwa untuk mereka disediakan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Setiap kali mereka diberi rezeki buah-buahan dari surga, mereka berkata, Inilah rezeki yang diberikan kepada kami dahulu. Mereka telah diberi buah-buahan yang serupa. Dan di sana mereka memperoleh pasangan-pasangan yang suci. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 25)

Kuncinya adalah Beriman dan Berbuat Kebajikan itu harus sama, seiring sejalan selalu bergandengan. Kalau orang mengatakan beriman semestinya juga beramal sholeh.

Maka kita harus mempertahankan iman itu. Ini karena baru muncul di abad-abad ini dengan masuknya Medsos dan Ghazwul Fikr (Pertarungan atau perang pemikiran).

Jangan sampai menimpa keluarga kita pemikiran-pemikiran yang sekuler.
Ada yang mengatakan : “Lho kan Allah Maha Kuasa, kalau mereka beramal shaleh pasti bisa masuk surga , meskipun tidak islam.”

Kalau sudah berfikir begitu berat. Padahal kita sudah diajari Allah :

اِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللّٰهِ الْاِ سْلَا مُ ۗ 

“Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam..” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 19)

Jangan sampai anak keturunan kita malah mengikuti pemikiran yang melenceng. Dampaknya bisa keluar dari islam.

Surga itu ‘fauzan ‘azhiimaa’- (kemenangan yang agung). Kalau shalat jum’at khotib selalu membaca ini :

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا ۙ (70) يُّصْلِحْ لَـكُمْ اَعْمَا لَـكُمْ وَيَغْفِرْ لَـكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَا زَ فَوْزًا عَظِيْمًا(71)

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang agung.” (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 70-71)

Hal ini juga disampaikan dalam Surat At Taubah ayat 72 :

وَعَدَ اللّٰهُ الْمُؤْمِنِيْنَ وَا لْمُؤْمِنٰتِ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَ نْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا وَمَسٰكِنَ طَيِّبَةً فِيْ جَنّٰتِ عَدْنٍ ۗ وَرِضْوَا نٌ مِّنَ اللّٰهِ اَكْبَرُ ۗ ذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ

“Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, akan mendapat surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan mendapat tempat yang baik di Surga ‘Adn. Dan keridaan Allah lebih besar. Itulah kemenangan yang agung.” (QS. At-Taubah 9: Ayat 72)

Yang kita cari adalah Surganya Allah karena kita mendapat rahmat dari Allah dan ridhaNya :

جَزَآ ؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنّٰتُ عَدْنٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَ نْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۤ اَبَدًا ۗ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ ۗ ذٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهٗ

“Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah Surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Yang demikian itu adalah balasan bagi orang yang takut kepada Tuhannya.” -(QS. Al-Bayyinah 98: Ayat 8)

Surga itu adalah kemenangan yang agung, maka harus dipertahankan , lebih-lebih dizaman yang kata para ulama banyak fitnahnya.


Istiqomah mengandung Kesabaran

قُلْ آمَنْتُ باللهِ ثُمَّ استَقِمْ

“Katakanlah: aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.”

Istiqomah itu berarti kita bertahan. Teguh dalam pendirian dalam beriman kepada Allah, karena akan banyak gangguan baik dari internal maupun eksternal yang nanti akan kita uraikan.
Meskipun demikian ada berita gembiranya. Mudah-mudahan kita termasuk yang disini.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى ، قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى ؟ قَالَ : مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semua umatku akan masuk surga kecuali yang enggan, para Sahabat bertanya, “Wahai Rasûlullâh! Siapakah yang enggan?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Barangsiapa yang mentaatiku niscaya ia akan masuk surga, dan siapa yang bermaksiat kepadaku maka dia enggan.” (HR Bukhori)

Kenapa ada orang yang enggan masuk Surga? Karena jalan menuju Surga dilingkupi oleh hal-hal yang tidak mengenakkan : Pagi-pagi buta kita harus bangun, disuruh wudhu. Bagi orang yang qolbunya tidak hidup dan sehat pasti akan merasa susah. Maka berhati-hatilah dengan hal ini.

Jawaban Rasulullah terhadap pertanyaan kunci masuk Surga adalah “Mentaati Rasulullah maka dia akan masuk Surga. Dan siapa yang bermaksiat dia enggan masuk Surga”.
Maka janganlah kita menuruti perintah yang lain. Ini banyak terjadi, orang menurut pada perintah orang lain, lebih mendahulukan daripada perintah Rasulullah. Ini tidak boleh terjadi.

Dulu dalam salah satu kajian saya katakan bahwa urutan ketaatan, kecintaan : Yang pertama kepada Allah , kedua kepada Rasulullah, ketiga kepada Orang Tua dan berikutnya baru pada orang lain. Biasanya anak muda lebih mengedepankan cinta kepada kekasih. Ini tidak benar, karena urutannya seperti di atas.

Lalu siapa yang enggan pada Perintah Rasulullah. ?

Pernah terjadi debat yang seru sekali, sampai jam 24.00 hanya membahas boleh atau tidak puji-pujian waktu menunggu shalat di suatu masjid?
Yang satu menyatakan ada dasar haditsnya tapi lemah. Yang pendapat kedua mengatakan diikuti saja. Kelompok ketiga mengatakan itu adalah tradisi.

Saya diminta pendapat, saya menyampaikan bahwa do’a di waktu antara adzan dan iqomah itu tidak tertolak.

Rasulullah SAW bersabda,

إِنَّ الدُّعَاءَ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ فَادْعُوا

“Sesungguhnya do’a yang tidak tertolak adalah do’a antara adzan dan iqomah, maka berdo’alah (kala itu).” (HR. Ahmad)

Berarti anjuran Rasulullah pada waktu antara adzan dan iqomah adalah berdo’a. Kalau dia malah melantunkan lagu-lagu disitu berarti dia enggan melakukan anjuran Rasulullah.
Kalau puji-pujian itu tradisi, atau perintah orang mestinya kalah dengan perintah Rasulullah.

Diam dan berdo’a akan lebih baik dari pada puji-pujian saat antara adzan dan iqomah. Bila dia shalat akan lebih bagus lagi, karena ada ulama yang membolehkan shalat Sunah mutlak. Tidak hanya dua raka’at. Bisa empat raka’at tapi dua-dua.

Jadi yang dimaksud enggan masuk Surga itu bukan siapa-siapa, karena bisa jadi diri kita sendiri. Maka kita harus tahu ilmunya.

Misalnya saja ketika diajak mengaji, dia menolak karena merasa sudah cukup karena sudah mengaji sekali dalam sepekan. Ternyata mengajinya yang hanya sekali sepekan itu lebih banyak acara seremonialnya. Taushiyahnya sendiri cuma 15 menit tanpa tanya jawab.


BERSAMBUNG BAGIAN 2
(Gangguan Terhadap Sabar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here