Dr.H. Zuhad Masduki, MA

7 Jumadil Akhir 1442 / 20 Januari 2021


Surat Ad Dhuha dimulai dengan sumpah. Kita sudah bertemu dengan beberapa Surat yang diawali dengan sumpah.

Dalam sumpah unsurnya ada 4 :
– Yang bersumpah, dalam hal ini adalah Allah SWT.
– Instrument sumpah, disini yang banyak dipakai huruf Wau. Yaitu Wad-dhuha, wa-laili yang artinya demi.
– Obyek sumpah. Di dalam surat Ad-dhuha adalah waktu dhuha, dan waktu malam apabila hening.
– Jawab sumpah. Dalam hal ini ayat ke tiga : “maa wadda’aka robbuka wa maa qolaa”. Jawab sumpah adalah ayat yang oleh Allah ingin ditegaskan kebenarannya yang dikuatkan dengan sumpah tadi.


Tafsir Surat Ad-Dhuha ayat ke 1

وَا لضُّحٰى ۙ 

wadh-dhuhaa

“Demi waktu duha (ketika matahari naik sepenggalah),” (QS. Ad-Duha 93: Ayat 1)

Dalam tafsirnya Aisyah bintusy Syathi dijelaskan kenapa Allah bersumpah dengan waktu dhuha. Karena waktu dhuha adalah waktu dimana matahari baru naik sedikit. Ini menggambarkan kehadiran wahyu kepada Nabi Muhammad SAW. Kehadiran wahyu ibarat munculnya matahari yang sinarnya sangat jelas menyegarkan, menyenangkan serta menyehatkan.

Petunjuk -petunjuk Allah SWT dinyatakan sebagai berfungsi membawa cahaya yang terang benderang. Sama dengan agama juga berfungsi membawa cahaya yang terang benderang.

Allah SWT berfirman:

كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ اِلَيْكَ لِـتُخْرِجَ النَّا سَ مِنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِ ۙ  

“Ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu Muhammad agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang-benderang.”- (QS. Ibrahim 14: Ayat 1)

Jadi kenapa memakai wad-dhuha karena terkait dengan asbabun nuzul ayat. Disana dijelaskan bahwa pernah pada suatu masa wahyu-wahyu Allah berhenti turun.

Menurut penelitian para ulama tafsir, setelah 10 dari bagian-bagian Surat turun kepada Rasulullah SAW, kemudian wahyu berhenti turun sampai beberapa waktu. Sehingga kemudian timbul rumor bahwa Tuhan telah meninggalkan Nabi Muhammad. Surat Ad Dhuha ini salah satu tujuannya adalah menepis issue tadi.

Kehadiran wahyu yang turun kepada Nabi Muhammad ibarat waktu dhuha yang pasti akan membawa pencerahan kepada umat manusia. Pencerahan dalam semua bidang kehidupan, dalam bidang akidah, bidang ibadah maupun dalam bidang akhlak.


Tafsir Surat Ad Dhuha ayat kedua


وَا لَّيْلِ اِذَا سَجٰى ۙ 

wal-laili izaa sajaa

“dan demi malam apabila telah sunyi,”- (QS. Ad-Duha 93: Ayat 2)

Malam waktu sunyi maksudnya sudah larut malam, gelap gulita, tidak ada sedikitpun bekas-bekas sinar matahari yang ada di permukaan bumi.
Sumpah ini menggambarkan tidak turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad selama beberapa waktu. Sehingga kalau wahyu ini tidak turun maka tidak akan ada pencerahan dalam kehidupan manusia. Cahaya agama tidak akan ada.


Tafsir Surat Ad Dhuha ayat ke 3

مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلٰى ۗ 

maa wadda’aka robbuka wa maa qolaa

“Tuhanmu tidak meninggalkan engkau Muhammad dan tidak pula membencimu,” (QS. Ad-Duha 93: Ayat 3)

Ini merupakan jawab sumpah karena ada rumor. Tidak diketahui siapa yang menyebarkan rumor bahwa Tuhan telah meninggalkan Nabi Muhammad. Ada yang mengatakan bahwa hal itu adalah kegelisahan Nabi Muhammad saja. Beliau merasa khawatir, wahyu- wahyu itu tidak akan turun lagi kepada beliau.

Issu yang menyebar di masyarakat tentang tidak turunnya wahyu, Nabi Muhammad telah ditinggalkan oleh Allah SWT batal oleh ayat ketiga.
Ternyata dengan kehadiran wahyu ini Tuhan selalu bersama Nabi Muhammad SAW.

Wahyu memang turunnya tidak bisa direncanakan oleh Nabi Muhammad SAW. Itu semata-mata atas kehendak Allah SWT. Kalau Dia berkehendak menurunkan wahyu maka wahyu akan turun. Kalau Allah berkehendak untuk menghentikan turunnya wahyu selama beberapa waktu maka wahyu tidak akan turun kepada Nabi Muhammad SAW.

Tampaknya setelah wahyu-wahyu ini turun kepada beliau, sampai Surat ke 10, Nabi Muhammad sudah merasa sangat dekat kepada Allah SWT dan sangat senang dengan turunnya wahyu. Maka dengan berhentinya wahyu selama beberapa waktu ini membuat beliau gelisah, takut dan khawatir wahyu tidak akan turun lagi. Maka Allah menjawab : “Tuhanmu tidak meninggalkan engkau dan tidak pula membencimu,”

Para ulama memberi komentar tentang kata qolaa قَلٰى
Kenapa tidak ada kata ganti kamu (ka), sementara pada wadda’aka وَدَّعَكَ ada kata ganti kamu (ka) yang merupakan dhomir mukatab untuk Nabi Muhammad SAW.

Jika Allah menggunakan kata kerja transitif lalu tidak menyebut obyeknya, maka obyek itu menjadi luas. Disini kaidah itu bisa dipakai. Artinya Tuhan tidak meninggalkan Nabi Muhammad dan juga tidak membenci (Nabi Muhammad dan siapa saja).

Kalau Tuhan membenci seseorang, pasti karena orang itu melanggar perintah, melanggar larangan dari Allah SWT. Tetapi betapapun yang bersangkutan dibenci oleh Allah, rahmatNya tetap turun kepada yang bersangkutan.

Kata qolaa artinya benci yang amat sangat, yang sampai melampaui batas. Derivasi dari kata qolaa ini juga kita ketemukan dalam Al Qur’an.
Ucapan Nabi Luth yang diabadikan dalam Surat Asy-Syu’ara 168 :

قَا لَ اِنِّيْ لِعَمَلِكُمْ مِّنَ الْقَا لِيْنَ ۗ

“Dia (Luth) berkata, Aku sungguh benci kepada perbuatanmu.” (QS. Asy-Syu’ara’ 26: Ayat 168)

Maka dalam agama ada tuntunan, kalau kita membenci tidak boleh melampaui batas. Kita senang juga tidak boleh melampaui batas.
Benci dan Senang harus dalam batas-batas yang wajar. Karena seseorang yang kita benci suatu saat bisa menjadi teman kita. Seseorang yang kita cintai suatu saat juga bisa menjadi musuh kita. Dalam kehidupan manusia seringkali terjadi seperti itu. Dalam kehidupan Nabi Muhammad dan umatnya dulu juga terjadi seperti itu.

Misalnya dulu orang-orang Mekkah yang hijrah ke Madinah putus hubungan dengan bapak mereka dan saudara mereka. Antara suami isteri putus karena perbedaan akidah.
Bapak dan anak perang, sesama saudara perang tetapi nanti setelah fa’thu Mekkah tahun 8 H, ketika Nabi Muhammad sudah berhasil menguasai kota Mekkah lalu tidak ada halangan bagi orang-orang Mekkah masuk islam, maka orang-orang Mekkah yang punya hubungan dengan sahabat -sahabat yang hijrah karena kesamaan akidah maka mereka kemudian menjalin hubungan kasih sayang lagi seperti sediakala.
Ini diabadikan dalam Surat Mumtahanah ayat 7 :

عَسَى اللّٰهُ اَنْ يَّجْعَلَ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ الَّذِيْنَ عَا دَيْتُمْ مِّنْهُمْ مَّوَدَّةً    ۗ وَا للّٰهُ قَدِيْرٌ ۗ وَا للّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

“Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang di antara kamu dengan orang-orang yang pernah kamu musuhi di antara mereka. Allah Maha Kuasa. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Mumtahanah 60: Ayat 7)

Tuntunan ini perlu kita camkan. Membenci jangan berlebih-lebihan, mencintai juga jangan berlebih-lebihan.


Tafsir Surat Ad Dhuha ayat ke 4 dan 5

وَلَـلْاٰ خِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْاُ وْلٰى ۗ (4) وَلَسَوْفَ يُعْطِيْكَ رَبُّكَ فَتَرْضٰى ۗ (5)

wa lal-aakhirotu khoirul laka minal- uulaa, wa lasaufa yu’thiika robbuka fa tardhoo

“dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan.
Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas.”- (QS. Ad-Duha 93: Ayat 4-5)

Kata aakhirotu diterjemahkan oleh para ulama sebagai sesuatu yang bukan sekarang. Jadi masa depan dalam kehidupan di dunia ini. Dalam konteks ayat ini adalah masa depan Nabi Muhammad dan perjuangannya. Dalam dakwahnya menyebarkan agama islam.

Al Qur’an kalau bicara akhirat sebagai alam ghoib nanti biasanya disertai dengan kata yaum. Yaumul akhir atau darul akhirat. Tetapi kalau kata akhirat berdiri sendiri maka maknanya adalah di dunia, dalam arti masa depan yang akan datang. Sedangkan kata uulaa adalah waktu sekarang.

Ayat ini turun di Periode Mekkah dan waktu Surat Ad Dhuha ini turun, Nabi Muhammad masih lemah, belum punya kekuatan politik, sosial maupun ekonomi. Allah menjanjikan nanti kehidupan Nabi Muhammad akan lebih baik dari pada sekarang. Dan itu nanti terbukti setelah Periode Madinah setelah Nabi Muhammad hijrah ke Madinah. Jadi janji itu terbukti sekian tahun kemudian. Kalau ayat ini turun di awal masa kenabian, realisasi dari janji Allah ini bisa sekitar 8 tahunan.

Dalam ayat kelima yang menjadi catatan para ulama adalah kata yu’thiika. Kata ini obyeknya dua. Disini yang disebut kamu (kata ganti kedua). Tetapi apa yang diberikan oleh Allah kepada Nabi Muhammad tidak disebut. Oleh karena itu berlaku kaidah seperti tadi : Obyeknya menjadi luas.
Para ulama mengidentifikasi apa saja yang diberikan oleh Allah kepada Nabi Muhammad SAW sehingga beliau ridha?

Yang pertama Nabi Muhammad setelah hijrah memiliki kekuatan politik dan akhirnya beliau menjadi seorang tokoh yang menguasai dua wilayah : Agama dan Politik.
Yang kedua beliau dianugerahi kekuatan sosial. Masa yang mengikuti Nabi Muhammad kemudian tumbuh menjadi sangat besar. Bahkan seluruh jazirah Arab sudah tunduk kepada Nabi Muhammad SAW.

Yang ketiga kekuatan ekonomi. Setelah nanti Nabi Muhammad SAW mengalahkan lawan-lawannya. Sekian puluh kali Nabi Muhammad perang dan dampak dari perang itu memperoleh ghonimah sehingga nanti dampak kongkritnya kondisi ekonomi para Sahabat menjadi lebih baik dari pada masa-masa sebelumnya.

Termasuk yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad adalah kesempurnaan agama dengan turunnya wahyu-wahyu kepada Nabi Muhammad SAW sampai akhir periode Madinah. Sampai beliau wafat dan kembali kepada Allah SWT.
Inilah sebagian dari anugerah- anugerah Allah yang diberikan kepada beliau.


Tafsir Surat Ad Dhuha ayat ke 6,7,8


اَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيْمًا فَاٰ وٰى ۖ (6) وَوَجَدَكَ ضَاۤ لًّا فَهَدٰى ۖ (7) وَوَجَدَكَ عَآئِلًا فَاَ غْنٰى ۗ (8)

a lam yajidka yatiiman fa aawaa
wa wajadaka dhooollan fa hadaa
wa wajadaka ‘aaa`ilan fa aghnaa

“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.” (QS. Ad-Duha 93: Ayat 6-8)

Nabi Muhammad sudah menjadi yatim sebelum beliau dilahirkan. Menurut catatan sejarah ketika beliau masih berusia dua bulan dalam kandungan, ayahandanya sudah wafat.
Kemudian setelah beliau dilahirkan dan ditinggal wafat oleh ibunya, beliau diasuh oleh kakeknya Abdul Muthalib. Kemudian setelah kakeknya wafat, beliau diasuh oleh Pamannya Abu Thalib. Inilah orang-orang yang berperan melindungi beliau dan mendidik beliau dalam batas-batas tertentu.

Beliau walaupun anak yatim tetapi keyatiman itu tidak berpengaruh pada beliau, berbeda dengan umumnya anak-anak yatim. Biasanya kondisi keyatiman sangat mempengaruhi perkembangan kejiwaannya.
Dalam analisis para ulama, beliau ditinggalkan oleh orang-orang dekatnya karena Allah ingin mendidik sendiri Rasulullah SAW sehingga beliau tidak dipengaruhi oleh pendidikan ibu, kakek dan pamannya.

Ada hadits :

أَدَّبَنِي رَبِّي فَأَحْسَنَ تَأدِيْبِي. (رواه العكسري)

Artinya:“Tuhan telah mendidikku, maka ia sempurnakan pendidikanku” ( HR. al-Aksary)

Ayat 6 dalam catatan para mufasir yang banyak dikomentari adalah kata
dhooollan ضَاۤ لًّا. Biasanya kita mengenal kata dhooollan (sesat) sebagai lawan kata hidayah (petunjuk).
Tetapi kalau kita membaca Al Qur’an, kata dhooollan dan derivasinya maknanya macam-macam tergantung konteksnya. Maka disini kita perlu perhatikan betul kata dhooollan itu dalam redaksi seperti apa.

Dalam methode tafsir yang kita kenal sekarang kita perlu menerapkan methode semantik. Kata itu punya dua makna. Pertama adalah makna dasar, dimana satu kata dapat menampilkan sekian banyak makna. Yang kedua adalah makna relasional yang ditentukan oleh konteks kalimatnya.

Contoh dalam Surat Al Baqarah kita ketemu kata Kitab.

ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ  ۛ  فِيْهِ  ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَ ۙ 

“Kitab ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 2)

Kitab secara bahasa adalah buku, tapi dalam ayat ini, para ulama menafsirkan bahwa Kitab ini mau tak mau harus dimaknai sebagai Al Qur’an. Karena konteksnya adalah Allah yang menurunkan, malaikat Jibril yang mengantarkan, Nabi Muhammad yang menerima dan bahasa Arab sebagai bahasa pengantarnya. Maka Kitab itu harus dimaknai sebagai Al Qur’an, bukan sembarang kitab.

Kemudian kata dhooollan di Al Qur’an, ada beberapa ayat didalamnya :

اَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِيْ تَضْلِيْلٍ ۙ 

“Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka itu sia-sia?” (QS. Al-Fil 105: Ayat 2)

Kata tadhliil seakar dengan kata dhooollan. Maknanya disitu sia-sia.
Ayat itu menjelaskan rencana Abrahah untuk menghancurkan Ka’bah sia-sia, arti disitu bukan sesat.

Berikutnya di dalam ayat yang panjang dalam Surat Al Baqarah ayat 282.
Bila orang bertransaksi, saksinya 2 laki-laki. Kalau tidak ada dua laki-laki maka 1 laki-laki dan 2 perempuan. Ayat ini memberi alasan.

اَنْ تَضِلَّ اِحْدٰٮهُمَا فَتُذَكِّرَ اِحْدٰٮهُمَا الْاُ خْرٰى ۗ 

agar jika yang seorang lupa maka yang seorang lagi mengingatkannya…” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 282)

Kata tadhilla seakar dengan dhooolan maknanya lupa, bukan sesat.
Alasan itu karena perempuan pada masa itu tidak berkecimpung dalam bisnis, mereka tugasnya hanya mengurus dalam rumah tangga. Masalah ekonomi, politik, sosial, kebudayaan semuanya ditangani oleh kaum laki-laki.

Beda dengan masa sekarang ini, terutama seperti di Indonesia dimana kaum perempuan diberi kebebasan untuk mengenyam pendidikan. Sehingga dengan begitu potensi- potensi mereka berkembang seperti yang dimiliki oleh kaum laki-laki. Maka sekarang perempuan-perempuan kita jauh sekali lompatannya. Mereka cakap dalam semua bidang kehidupan. Di Politik mampu, di ekonomi, di Sosial dan dimana-mana mampu. Mereka sekarang menjadi mitra kerja laki-laki di semua bidang kehidupan.

Di Surat Ad Dhuha kata dhooollan dimaknai ‘bingung’, karena Nabi Muhammad tidak pernah sesat. Nabi Muhammad bingung karena masyarakat Mekkah terutama memiliki akidah yang keliru. Orang-orang Nasrani, Yahudi juga memiliki akidah yang keliru. Tetapi Nabi Muhammad bingung bagaimana mengurai kesesatan-kesesatan mereka ? Bagaimana menyelamatkan mereka? Dan bagaimana membawa mereka kepada akidah yang benar?

Nabi Muhammad tidak menemukan solusi. Maka kemudian beliau sering merenung di goa sampai kemudian turun wahyu Surat Al Alaq. Itulah petunjuk yang diberikan oleh Allah kepada beliau untuk mengurai kebingungan. Wahyu itu nantinya diimplementasikan untuk memberi pencerahan kepada masyarakat Mekkah dan masyarakat di seluruh dunia sampai hari kiamat nanti.

Ayat ke 8 Allah memberikan kecukupan. Dalam sejarah dijelaskan bahwa Nabi Muhammad ketika ditinggal bapaknya tidak ditinggali warisan yang cukup. Warisannya hanya beberapa ekor kambing saja.
Nabi Muhammad orang yang kekurangan, lalu Allah memberikan kecukupan kepada beliau. Setelah beliau dewasa, membawa dagangannya Khodijah dan pada akhirnya beliau menikah dengan Khodijah. Itulah salah satu bentuk kecukupan yang diberikan oleh Allah kepada Nabi Muhammad SAW.

Yang juga menjadi catatan para ulama adalah kata fa aghnaa فَاَ غْنٰى atau ghoniyyun غَنِيًٌّ
Dalam bahasa Arab ada dua kata yang maknanya berdekatan : ghoniyyun dan sariyun. Sariyun dari kata sarwa ساروا
Sarwa artinya kaya materi. Orang yang kaya raya, punya banyak perusahaan dan tenaga kerjanya juga banyak.

Ghoniyyun itu kaya jiwa, ghoniyyun nafs. Syaratnya :
– orang yang ingin memiliki sesuatu
– dia memalingkan diri dari sesuatu yang dia miliki tadi.
– dia memberikan sebagian dari apa yang sudah ada ditangan kepada orang lain.

Nabi Muhammad adalah seorang yang ghoniyyun nafs. Kalau beliau mau menjadi Sariyun (kaya hedonistic) itu sangat mudah, karena beliau tokoh agama dan tokoh politik. Tetapi beliau ketika mendapatkan bagian ghonimah seperlima, itupun diberikan lagi kepada orang-orang yang membutuhkan.

Beliau tetap hidup dalam kesederhanaan. Isteri-isteri beliau juga tidak hidup dalam kemewahan.
Bahkan ketika isteri beliau menuntut supaya ekonominya ditingkatkan justru kemudian turun ayat :

يٰۤـاَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِّاَزْوَا جِكَ اِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا وَزِيْنَتَهَا فَتَعَا لَيْنَ اُمَتِّعْكُنَّ وَاُ سَرِّحْكُنَّ سَرَا حًا جَمِيْلًا

“Wahai nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, Jika kamu menginginkan kehidupan di dunia dan perhiasannya, maka kemarilah agar kuberikan kepadamu mut‘ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik.” (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 28)

Nabi mengumpulkan isteri-isteri beliau dan menyampaikan ayat ini. Beliau menyarankan agar isteri-isteri meminta saran pada orang tua mereka. Namun Aisyah dan Hafshah menjawab bahwa untuk urusan seperti ini mereka tidak merasa perlu konsultasi pada orang tua. Aisyah dan Hafshah tidak akan menuntut gemerlapan duniawi.

Orang yang miskin, tak punya apa-apa bukan ghoniyyun karena dia tidak memberikan apa-apa kepada pihak lain. Orang kaya yang tidak memberi juga bukan ghoniyyun, melainkan Sariyun. Ghoniyyun dalam bahasa lain disebut orang yang Qana’ah.


Tafsir Surat Ad Dhuha ayat ke 9

فَاَ مَّا الْيَتِيْمَ فَلَا تَقْهَرْ ۗ 

fa ammal-yatiima fa laa taq-har

“Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang.” -(QS. Ad-Duha 93: Ayat 9)

Ayat-ayat ini bicara konsekuensi dari anugerah-anugerah Allah yang diberikan kepada beliau.

Konsekuensinya :

– Anak yatim jangan diperlakukan sewenang-wenang.
– Bersikap baik menjaga perasaan anak yatim .

كَلَّا بَلْ لَّا تُكْرِمُوْنَ الْيَتِيْمَ ۙ 

“Sekali-kali tidak! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim,” (QS. Al-Fajr 89: Ayat 17)

– Diutamakan membantu anak yatim yang kerabat atau berdekatan.

يَّتِيْمًا ذَا مَقْرَبَةٍ ۙ 

“kepada anak yatim yang ada hubungan kerabat,” (QS. Al-Balad 90: Ayat 15)

– Larangan untuk mendekati harta anak yatim.

وَلَا تَقْرَبُوْا مَا لَ الْيَتِيْمِ اِلَّا بِا لَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ حَتّٰى يَبْلُغَ اَشُدَّهٗ ۖ وَاَ وْفُوْا بِا لْعَهْدِ ۖ اِنَّ الْعَهْدَ كَا نَ مَسْــئُوْلًا

“Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik sampai dia dewasa, dan penuhilah janji, karena janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya.”
(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 34)

– Di ayat yang lain perintah untuk mengembangkan harta anak yatim dan hasilnya diberikan kepada mereka.


Tafsir Surat Ad Dhuha ayat ke 10

وَاَ مَّا السَّآئِلَ فَلَا تَنْهَرْ ۗ 

wa ammas-saaa`ila fa laa tan-har

“Dan terhadap orang yang meminta- minta, janganlah engkau menghardik.” (QS. Ad-Duha 93: Ayat 10)

Kata saaa`ila, maknanya bisa dua : minta materi atau bertanya tentang informasi. Di dalam Al Qur’an keduanya dipakai.

Allah SWT berfirman:

وَ يَسْــئَلُوْنَكَ عَنِ الْمَحِيْضِ ۙ قُلْ هُوَ اَذًى فَا عْتَزِلُوْا النِّسَآءَ فِى الْمَحِيْضِ ۙ وَلَا تَقْرَبُوْهُنَّ حَتّٰى يَطْهُرْنَ ۚ 

“Dan mereka menanyakan kepadamu Muhammad tentang haid. Katakanlah, Itu adalah sesuatu yang kotor. Karena itu jauhilah istri pada waktu haid; dan jangan kamu dekati mereka sebelum mereka suci..” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 222)

Ada informasi yang dijelaskan oleh Al Qur’an, ada yang tidak dijelaskan kalau pertanyaannya tak perlu dijawab.

Allah SWT berfirman:

وَيَسْــئَلُوْنَكَ عَنِ الرُّوْحِ ۗ قُلِ الرُّوْحُ مِنْ اَمْرِ رَبِّيْ

“Dan mereka bertanya kepadamu Muhammad tentang roh, katakanlah, Roh itu termasuk urusan Tuhanku.” -(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 85)

Pertanyaan tentang hari Kiamat juga tidak dijelaskan.
Kalau orang meminta materi, lihat situasi dan kondisinya. Kalau dia memang butuh maka diberi. Tapi kalau orang itu masih muda, tidak harus diberi. Bahkan mungkin perlu dihardik untuk mendidik. Jika dia punya potensi untuk bekerja maka bisa diberi alat- alat untuk bekerja, mengembangkan potensi yang dia miliki.


Tafsir Surat Ad Dhuha ayat ke 11

وَاَ مَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

wa ammaa bini’mati robbika fa haddis

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur).” (QS. Ad-Duha 93: Ayat 11)

Kata haddis sama dengan kata hadits.
Muhadatsah artinya berbicara atau menyampaikan.
Kata ni’mat juga ada dua : ni’mat duniawi dan ni’mat ukhrowi atau ni’mat agama. Nabi Muhammad diperintahkan untuk menyampaikan dua macam nikmat ini.
Para ulama memahami kata haddis disini dalam arti menyampaikan ni’mat agama yaitu wahyu-wahyu yang diturunkan oleh Allah kepada beliau. Kalau ni’mat duniawi, ada yang memahami haddis ini menyukuri nikmat. Bisa dengan membaca hamdallah, bisa juga menerima nikmat dan mengembangkan nikmat yang kita dapatkan sesuai dengan tujuan nikmat itu dianugerahkan kepada kita.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here