Dr. H. A. Hasan Asy’ari Ulama’i, MA

29 Jumadil Awwal 1442 / 13 Januari 2021



Sekarang ini hidup kita tidak jauh-jauh dari hand phone. Mencari ilmu dari hand phone, mengontrol apa saja dari hand phone, belanja juga dari hand phone. Termasuk hari ini mengaji sharing hadits ini ada juga yang memakai hand phone.
Melihat fenomena sharing hadits ini saya bagi menjadi beberapa sub bahasan.

Hadits dan Kebutuhan Umat.

1. Kita percaya bahwa Nabi itu Penyampai Al Qur’an atau Mubaligh.

Di beberapa ayat, salah satunya surat Al Maidah 99 Allah SWT berfirman:

مَا عَلَى الرَّسُوْلِ اِلَّا الْبَلٰغُ  ۗ 

maa ‘alar-rosuuli illal-balaagh,

“Kewajiban Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan amanat Allah .” (QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 99)

Rasul hanya menyampaikan, maka ibarat surat, beliau adalah Pengirim surat. Tidak ada surat yang ditambah- tambahi atau yang lainnya. Itu namanya mubaligh. Jadi kalau mubaligh menambah-nambahi sebenarnya dia sudah keluar dari definisi balagh. Mubaligh harus sesuai pesanan.

2. Nabi juga berstatus sebagai Penjelas.

Kalau berhenti di point pertama maka cukup Al Qur’an, tidak perlu ada pemaknaan terhadap Al Qur’an. Al Qur’an itu difahami apa adanya. Tapi dalam kenyataannya jangankan kita yang jauh tempatnya dari Nabi dan bukan orang Arab dan juga sudah jauh zamannya dari Nabi dengan kehidupan yang sudah berubah begitu rupa. Di zaman sahabat saja kita temui kesulitan- kesulitan dalam memahami ayat Al Qur’an itu.

Maka Nabi mendapatkan tugas berikutnya sebagai Penjelas Al Qur’an (mubayyin). Dalam salah satu surat bisa kita baca Allah SWT berfirman:

وَمَاۤ اَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْـكِتٰبَ اِلَّا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ

wa maaa angzalnaa ‘alaikal-kitaaba illaa litubayyina lahum

“Dan Kami tidak menurunkan Kitab Al-Qur’an ini kepadamu Muhammad, melainkan agar engkau dapat menjelaskan kepada mereka.” (QS. An-Nahl 16: Ayat 64)

Maka salah satu tugas Nabi SAW selain menyampaikan Beliau juga menjelaskan. Penjelasan Nabi itu bisa menjelaskan kata, bisa menjelaskan maksud, bisa menjelaskan bentuk kongkrit amalannya seperti apa. Misalnya shalat itu contoh kongkrit yang Nabi lakukan. Tidak perlu dijelaskan cara takbir ngangkat tangan sampai dimana dan bagaimana.
Yang melaporkan seperti itu para Sahabat, karena Nabi hanya melakukan dan berseru :

صلوا كما رأيتموني أصلي

‘Shollu kama roaitumuni usholli’ “Sholatlah sebagaimana kalian melihatku sholat.” (HR. Bukhari)

Maka pengamatan sahabat terhadap shalatnya Nabi menjadi penting. Dilaporkan kepada generasi berikutnya, Nabi dulu kalau mengangkat tangan begini, meletakkan tangannya begini.

Laporan sahabat kepada generasi berikutnya ini antara sahabat satu dengan sahabat yang lain bisa terjadi perbedaan karena bisa saja melihatnya dari sudut pandang yang berbeda atau saat mendampingi Nabi itu berbeda waktunya.

3. Nabi sebagai Model

Nabi sebagai model , lebih khusus model dalam akhlaknya. Uswah hasanah itu bukan dalam konteks fisik. Apalagi fisik yang pemberian dari Allah yang tidak mungkin bisa sama :
– Nabi itu laki-laki, tidak bisa kemudian perempuanpun harus seperti Nabi. Secara fisik tidak bisa.
– Tetapi kalau Nabi jujur, perempuan juga bisa jujur, laki-laki juga bisa jujur.
– Nabi itu adil. Dan bagaimana Nabi itu adil banyak contohnya

Allah SWT berfirman:

لَقَدْ كَا نَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 21)

Tiga tugas penting Nabi ini menjadikan sahabat berburu info tentang Nabi dari orang dekat Nabi atau sahabat lainnya.
Jadi kalau ada sahabat tertentu tidak hadir dalam majelisnya Nabi maka dia akan tanya pada sahabat lainnya yang hadir. Atau masalah-masalah pribadi Nabi, sahabat bertanya kepada orang dalam di sekitar Nabi, bisa istrinya ,atau pembantu di rumahnya seperti Anas bin Malik dan banyak pembantu yang lain di rumah Nabi.

Tetapi generasi berikutnya, Tabi’in orang yang tidak bertemu dengan Nabi, mereka berburu informasi tentang Nabi dari sahabat, khususnya sahabat kecil. Yang dimaksud sahabat kecil itu adalah sahabat-sahabat Nabi yang hidup bersama Nabi saat itu umur belasan. Seperti Abu Hurairah, Aisyah , Ibnu Umar, Ibnu Abbas.
Kalau sahabat besar seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab yang sudah dewasa, mungkin semasa dengan beliau, walaupun lebih muda dari Nabi.

Berarti generasi sahabat kecil itu menjadi tumpuan pertanyaan dari kalangan Tabi’in karena mereka sempat bertemu dengan generasi ini.
Sementara generasi Abu Bakar mungkin karena masanya sama dengan Nabi banyak yang tidak ketemu. Sehingga tidak banyak riwayat yang bersandar kepada Abu Bakar, Umar hanya ratusan. Tetapi kalau bersandar pada sahabat Abu Hurairah sampai 5000, sahabat Anas bin Malik sampai 3000, kepada Aisyah
sampai 2000 an. Jadi banyak sekali.

Generasi berikutnya. Atba’ Attabi’in mereka yang tidak ketemu Sahabat, berburu informasi tentang Nabi dari para Tabi’in. Tak mungkin dari para Sahabat karena mereka tak ketemu. Demikian seterusnya.


Dalil Mereka berburu Informasi

Yang menjadi dasar mereka berburu informasi tentang Nabi dan pesan-pesan Nabi.

1. Nabi sendiri pernah memberikan seruan

بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً

“Sampaikan dariku meski cuma seayat” (HR Ahmad dari Abdullah bin Amru bin al Ash).

Satu ayat bukan semata-mata ayat Al Qur’an tetapi satu isyarat, satu pengetahuan, apa saja.

2. Nabi juga memberikan alasan supaya sahabat-sahabat yang pernah mendengar, pernah menyaksikan, ikut majelisnya Nabi tidak hanya untuk dirinya tetapi dibagi kepada yang lain.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

نَضَّرَ اللهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا حَدِيْثًا فَحَفِظَهُ حَتَّى يُبَلِّغَهُ غَيْرَهُ ؛ فَإِنَّهُ رُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيْهٍ ، وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَـى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ ،

Semoga Allâh memberikan cahaya pada wajah orang yang mendengarkan sebuah hadits kami, lalu ia menghafalnya dan menyampaikannya ke orang lain. Banyak orang yang membawa fiqih namun ia tidak memahami. Dan banyak orang yang menerangkan fiqih kepada orang yang lebih faham darinya.. (HR Turmudzi dari Zaid bin Tsabid) .

Kalau yang hadir tidak faham, kemudian menyampaikan kepada orang lain yang tidak hadir, bisa jadi yang tidak hadir lebih faham.

Ibarat seseorang yang mendapat pesan tentang elektronik : “Tolong nanti plus minusnya diperhatikan”.
Orang yang mendengar berfikir : “Yang dimaksud plus minus ini apa?”.
Dia tanya kepada orang lain , kebetulan Tukang Listrik : “Ada pesan perhatian plus minusnya”.
Tentu saja Tukang Listrik dia sudah faham dan langsung respondnya benar.

3. Nabi juga memberi Peringatan untuk tidak berbohong atas namanya. Jadi kelonggaran tadi, menyampaikan yang dari Nabi. Tetapi kalau kemudian bohong atas nama Nabi maka Nabi bersabda :

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

(Man kadzaba ‘alayya muta’ammidan falyatabawwaa maq’adahu min naari)
Barangsiapa berbohong atas namaku dengan sengaja, maka dia menempati tempat duduknya dari neraka. (HR Bukhori dari Al Zubair).

Ini prinsip-prinsip tentang bagaimana share pengetahuan atau lebih luasnya share hadits dari Nabi.
Yang pertama prinsipnya kita menyampaikan walau satu ayat.
Yang kedua, penyampaian ini kepada ahlinya.
Yang ketiga jangan bohong, kalau bukan dari Nabi jangan katakan dari Nabi. Ini yang harus kita sikapi dengan bijak soal berita-berita yang menyandarkan pada hadits Nabi yang ternyata tidak ditemukan dalam sumber-sumber kitab Hadits Nabi.


Nabi SAW melakukan Koreksi

Rasulullah SAW sendiri pada saat itu bisa melakukan evaluasi sekaligus koreksi. Apa yang disampaikan oleh Nabi SAW tidak semuanya difahami oleh sahabat dengan baik.
Bahkan ada kelompok-kelompok Tekstualis saat itu yang kemudian salah kaprah menurut Nabi.

Contoh ketika turun ayat

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمْ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنْ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ } وَلَمْ يَنْزِلْ { مِنْ الْفَجْرِ }

“Dan makan minumlah kalian hingga terang bagi kalian benang putih dari benang hitam”.

Awalnya saat itu belum diturunkan ayat lanjutannya (yaitu dari fajar).
Para sahabatpun awalnya tidak mengetahui bahwa itu adalah kiasan. Dari Adi bin Hatim radhiallahu ‘anhu berkata, “Tatkala turun ayat ْ

حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِْ

Aku meletakkan tali [pengikat kepala] hitam dan putih di bawah bantalku, aku terus melihatnya diwaktu malam akan tetapi tidak jelas bagiku, pagi harinya aku menemui Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan kuceritakan padanya, beliau bersabda,

إنم ذلك سواد الليل و بياض النهار

“Sesungguhnya maksud ayat tersebut adalah hitamnya malam dan putihnya siang” [HR. Al-Bukhari Muslim]

Di zaman Nabi pun , sahabat tidak serta merta bisa memahami langsung apa yang diturunkan Allah melalui Nabi nya tersebut.

Masih banyak lagi koreksi-koreksi yang lain termasuk sikap terhadap orang-orang yang tekstualis menghadapi pernyataan-pernyataan Nabi.

Misalnya tentang hadits “Kamu lebih mengetahui tentang duniamu”.
Mereka memahami tekstual pada saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati sahabatnya yang sedang melakukan penyerbukan, harus mengawinkan kurma yang satu dengan yang lain agar berbuah.

Lalu beliau bertanya, “Apa ini?”
Para sahabat menjawab, “Dengan begini, kurma jadi baik, wahai Rasulullah!” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda,

لَوْ لَمْ تَفْعَلُوا لَصَلُحَ

“Seandainya kalian tidak melakukan seperti itu pun, niscaya kurma itu tetaplah bagus.” Setelah beliau berkata seperti itu, mereka lalu tidak mengawinkan kurma lagi, namun kurmanya justru menjadi jelek.

Ketika melihat hasilnya seperti itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya,

مَا لِنَخْلِكُمْ

“Kenapa kurma itu bisa jadi jelek seperti ini?” Kata mereka, “Wahai Rasulullah, Engkau telah berkata kepada kita begini dan begitu…” Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ

“Kamu lebih mengetahui urusan duniamu.” (HR. Muslim)

Kesimpulan ada orang yang menangkap pesan Nabi, ditangkap apa adanya, tekstual. Tapi sebenarnya Nabi tidak sedang dalam konteks mengoreksi orang itu, tapi basa-basi ketemu orang. Tapi rupanya ditangkap serius. Nabi tidak selalu serius, beliau juga kadang bergurau. Seperti pada saat ada nenek-nenek bertanya tentang Surga.

Abdu ibnu Humaid menceritakan bahwa pernah ada seorang nenek-nenek berkata. “Wahai Rasulullah, doakanlah kepada Allah semoga Dia memasukkan aku ke dalam surga.”
Maka Rasulullah SAW menjawab: “Hai Ummu Fulan, sesungguhnya surga itu tidak akan dimasuki oleh nenek-nenek. Maka nenek-nenek itu pergi seraya menangis”.

Melihat nenek tersebut menangis, Rasulullah mengutus sahabatnya untuk menjelaskan kepada nenek tersebut. Lalu Rasulullah SAW bersabda: Beritahukanlah kepadanya bahwa dia tidak dapat memasukinya dalam keadaan nenek-nenek.

Nabi juga tidak menegur atau memerintah kasus tertentu, amalan sahabat tertentu, pernyataan sahabat tertentu, kegiatan sahabat tertentu. Maknanya Nabi tidak menganggap itu sebagai masalah. Pembiaran oleh Nabi itu masuk dalam wilayah sunah Nabi yang disebut sebagai Taqrir.

Kita sering menerjemahkan ketetapan tapi sebenarnya Taqrir itu adalah : Diamnya Nabi atas apa yang terjadi disekitar Nabi. Sebagai dasar bahwa Nabi tidak mempersoalkan.

Sahabat Nabi mungkin ada yang suka warna biru, warna hijau, warna merah dan dibiarkan. Pakaiannya pakai apa itu bagian dari Taqrir. Motifnya seperti apa, desain seperti apa bila dibiarkan saja merupakan bentuk sunah Nabi yang namanya Taqrir. Ini yang banyak diabaikan oleh orang sehingga kita mau mengikuti sunah Nabi itu selalu yang dilakukan oleh Nabi, bukan yang dilakukan oleh sahabat dan mendapatkan pembiaran dari Nabi. Sebenarnya itu juga bagian dari Sunah.

Salah satu contoh misalnya tradisinya Sahabat memakan Dhab yang sering diterjemahkan biawak.

Dari Jabir bin Abdullah berkata Nabi SAW bersabda : “Tidaklah aku mengharamkan dhab akan tetapi jijik, dan ini adalah makanannya para Penggembala”. (Hadits Ibnu Madjah).

Jijik dalam arti beliau tidak mau mendekati, tidak mau memakannya. Tetapi sahabat-sahabatnya makan Nabi tidak mempersoalkannya. Ini adalah wilayah Taqririyah.

Sampai disini penting untuk kita mengaji tentang hal-hal yang dibiarkan oleh Nabi sehingga kita menjadi lebih lapang, lebih luas dalam memahami Sunah Nabi. Tidak semuanya kemudian harus ada contohnya.
Contoh do’a iftitah :

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

“Allah Maha Besar dengan segala kebesaran, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, Maha Suci Allah, baik waktu pagi dan petang” (HR. Muslim)

Sebetulnya ada yang merupakan karya sahabat. Tapi kemudian menjadi pernyataan Nabi.

Dalam riwayat An Nasa’i dalam kitab Sunannya dapat kita jumpai Nabi SAW suatu saat mengimami tetapi dibelakangnya ada sahabatnya yang makmum dan secara lirih-lirih terdengar mengucapkan do’a itu.
Maka kemudian Nabi pun bertanya : “Siapa tadi yang membaca do’a?” Kemudian sahabat itu berkata : “Saya ya Rasul”.
Ternyata Nabi memberi apresiasi : “Ada dua belas Malaikat berkejaran untuk mencatat apa yang kamu perbuat”.

Jadi do’a itu karya sahabat yang diakui oleh Nabi. Sementara Nabi sendiri dalam hadits Imam Bukhori pernah ditanya sahabat : “Nabi saat diam sebelum membaca Al Fatihah itu apa yang kau baca?”.

Nabi menjawab :

اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ، كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ المَشْرِقِ وَالمَغْرِبِ، اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنَ الخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالبَرَدِ

“Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahanku sebagaimana Engkau telah menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, sucikanlah kesalahanku sebagaimana pakaian yang putih disucikan dari kotoran. Ya Allah, cucilah kesalahanku dengan air, salju, dan air dingin” (HR.Bukhari Muslim)

Artinya kalau kita memahami bagaimana sunah-sunah dibangun oleh Rasul, maka semakin luas cara pandang kita, tidak kaku.


Problem Hadits

Kita akan membahas masalah share hadits. Zaman Nabi hadits juga dishare. Cara ngesharenya dihafal lalu disampaikan. Dari lisan ke lisan. Tapi yang tidak kalah penting, diamalkan sehingga apa yang dihafalkan itu betul-betul melekat karena diamalkan.

Tetapi zaman berikutnya, yaitu zaman sahabat, ketika Nabi sudah tidak ada, tidak ada lagi semacam koreksi dari Nabi maka hadits itu dihafalkan dan disampaikan sesuai dengan kemampuan hafalan.
Sudah tidak bisa dikonfirmasi. Bisa jadi hadits riwayat yang disampaikan sahabat A dan sahabat B redaksinya sedikit bergeser. Tetapi boleh jadi substansinya masih sama. Tetapi ada yang kemudian substansinya berbeda.

Hal ini yang kemudian menjadi problem di generasi berikutnya lagi. Muncullah kemudian sebagian ulama tidak memiliki kekuatan menghafal, maka dicatat. Selain dicatat dijelaskan karena seringkali sudah mulai ada kesenjangan. Ini yang dimaksud apa ya? Maka dijelaskan. Tapi yang penting tetap diamalkan seperti generasi awal.

Dari tradisi lisan inilah muncul Riwayat bil lafdhi (tekstual) , apa adanya diingat-ingat kata perkata. Tetapi ada juga Riwayat bil-makna (substansi) , ditangkap pesannya.

Contoh Bersih bagian dari Iman, kalimat itu yang muncul dalam kitab Hadits adalah :

الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ

“Bersuci itu separoh keimanan.” (HR. Muslim)

Tetapi akhir-akhir ini yang banyak kita baca adalah :

اَلنَّظَافَةُ مِنَ الْإِيْمَانِ

“Kebersihan sebagian dari iman.”

Ini tidak ditemukan dalam literature kitab Hadits dimanapun sehingga ulama menyebutnya hadits palsu karena lafal itu tidak pernah muncul dari lisan Nabi. Tetapi substansinya boleh jadi benar. Karena Nabi menyatakan bahwa intinya kebersihan itu bagian dari iman.

Problem Sanad.

Transformasi ulama masih ada terus menerus sampai generasi sekarang. Dari ulama yang terdepan sekali, terdahulu harus ada sanadnya sehingga kemudian mulai dihilangkan sanadnya karena membosankan.
an fulan, an fulan, an fulan dan seterusnya.

Apa maksudnya? Mungkin tak faham.
Maka yang diambil hanya teksnya saja, pesan Nabi nya apa tetapi sanadnya hilang.

Dari Lafdhi ke Maknawi, tradisi menyampaikan pesan Nabi, apalagi bagi orang Indonesia yang tidak pernah tahu teks Arabnya. Maka menyampaikan bahasa Indonesianya.

Sehingga dia merasa “Bersih adalah bagian dari Iman” adalah hadits yang benar dan tidak percaya kalau palsu. Terjadi perdebatan yang sangat kaku.
“Bersih adalah bagian dari Iman” jelas bukan hadits karena Nabi tidak pernah bisa bahasa Indonesia.

Yang benar ada dalam hadits adalah الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ
Kalau اَلنَّظَافَةُ مِنَ الْإِيْمَانِ susah dipertanggung jawabkan karena tidak ada sanad yang bersandar kepada Nabi menggunakan kalimat itu.

Bahkan dari penjelasan, tambah lagi ‘ular-ular’ dinilai sebagai bagian dari hadits. Cerita-cerita menambahkan, penjelasan dianggap sebagai haditsnya sehingga sulit menetapkan itu hadits atau bukan.
Ada juga yang punya sumber dan ada yang tak jelas sumbernya.
Itu semua problem-problem kita sekarang.

Lebih-lebih saat ini era medsos. Medsos itu tanpa batas, yang ngeshare orang di dunia lain sana bahkan tidak jelas rupanya. Apakah dia bermaksud baik atau buruk tidak jelas.
Hal ini mirip zaman Nabi. Orang yang punya kepentingan ekonomi dia akan menyandarkan kalimat-kalimat tertentu supaya dagangannya laku.

al-badzinjan dawaun li kulli da’ (terung adalah penawar segala penyakit).
Ini karena dia adalah pedagang terong.
Penjual ayam kampung, dia akan bikin hadits : “Nabi paling suka ayam kampung”.
Sahabat juga percaya. Tetapi dicari dimana sumber hadits itu tak akan ketemu. Dapatnya dikumpulan hadits- hadits palsu.

Apalagi zaman sekarang, kita dapat share darimana? Tidak jelas sumbernya, ahlinya atau bukan tidak tahu. Orang punya kepentingan atau tidak, kita tidak tahu.
Haditsnya diambil yang kira-kira saat ini dia perlukan.

Pedagang kambing, aqiqoh dia akan mengambil hadits-hadits yang mendorong supaya orang beraqiqoh.
Sementara hadits yang tidak mendorong aqiqoh tidak bakal dimunculkan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْسُكَ عَنْ وَلَدِهِ فَلْيَفْعَلْ

“Barangsiapa yang senang untuk mengaqiqahi anaknya, maka lakukanlah.” (HR Ahmad)

Padahal sama-sama haditsnya.
Hadits ini menunjukkan bahwa aqiqah itu tidak wajib karena di sini dikatakan boleh memilih. Kalau ini dimunculkan tidak laku nanti dagangannya.

Medsos tanpa batas, siapapun bisa share. Ulama atau bukan, iseng atau serius, bertanggung jawab atau tidak, bisa melakukan share.
Ada sumbernya atau tidak, pernyataan ulama atau tidak. Atau jangan-jangan interpretasi ulama. Kalau interpretasi bisa beda dengan interpretasi orang lain. Bisa juga rekaman pengajian yang tidak jelas sumbernya. Itu semua beredar di medsos.

Masyarakatnya instant , cari tahu dengan jawaban cepat. Itu yang kita rasakan. Tanpa mengenal cara berinteraksi dengannya. Yang penting dia mencari dalilnya. Hampir semuanya dari fuqoha. Semuanya dari fiqih. Semuanya dari hadits tapi tidak tahu asal-usulnya. Semuanya merasa tahu hukum. Padahal orang bisa tahu hukum itu harus tahu methodologynya. Tahu cara berinteraksi dengan dalil. Bagaimana memahami dalil itu.

Jadi tidak serta merta ini ada ayat perintah langsung dilakukan. Tidak demikian! Dia harus dihadapkan dengan ayat lain, dengan hadits yang lain. Lalu kemudian dikaji perintah ini statusnya perintah wajib atau sunah atau apa. Pembahasan seperti ini ulama agak ketat. Tapi puncaknya kalau berbeda tetap menghargai perbedaan.

Sampai ada yang mengatakan dia pernah menemukan dalil tentang membajak sawah dari Al Qur’an. Saya yang mengaji Al Qur’an berkali-kali merasa sulit, dalil apa ini?

Ternyata dia memakai dalil
Allah SWT berfirman:

نِسَآ ؤُكُمْ حَرْثٌ لَّـكُمْ ۖ فَأْتُوْا حَرْثَكُمْ اَنّٰى شِئْتُمْ ۖ 

nisaaa`ukum harsul lakum fa`tuu harsakum annaa syi`tum

“Istri-istrimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu kapan saja dengan cara yang kamu sukai.” – (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 223)

Padahal ini hanya simbol untuk memudahkan orang dalam memahami hubungan sex laki-perempuan.
Ini menjadi problem bagi kita, karena ayat ini dikatakan dalil membajak sawah.


Bagaimana Solusinya

1. Terima share hadits tadi, hentikan ditangan kita jangan dishare dibaca dengan cermat.

Ingat ada hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukup seseorang dikatakan dusta, jika ia menceritakan segala apa yang ia dengar.” (HR. Muslim ).

2. Jika hadits tidak dikenal sumbernya atau belum bisa difahami, ditabayunkan.

Mohon dicarikan bukti-bukti kepada ahlinya. Resep tentang kesehatan kita tanya pada dokter. Hadits kita tanya kepada ahli hadits.

Atau belajar baca kitabnya, kitab Hadits, seperti Shoheh Bukhori, shoheh Muslim bukan yang cabang seperti Riyadush Sholihin atau Bulughul Marom. Itu hanya alat bantu untuk masuk ke kitab Hadits.

Masing-masing kitab hadits ada sanadnya lengkap bersumber Rasulullah. Tidak hanya 9 hadits, puluhan bahkan ratusan. Kalau dihitung jumlah hadits bisa jutaan, sementara yang kita ingat dari hadits paling cuma dua-tiga.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK





LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here