Prof.Dr. H. Ahmad Rofiq MA

25 Jumadil Awwal 1442 / 9 Januari 2021



Implementasi Persaudaraan

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ:
حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ خَمْسٌ: رَدُّ السَّلاَمِ، وَعِيَادَةُ الْمَرِيضِ، وَاتِّبَاعُ الْجَنَائِزِ، وَإِجَابَةُ الدَّعْوَةِ، وَتَشْمِيتُ الْعَاطِسِ.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda:
“Hak muslim atas muslim lainnya ada lima, yaitu: Menjawab salam, menjenguk yang sakit, mengiringi jenazah, memenuhi undangan dan mendoakan orang yang bersin”.(HR Bukhori Muslim).

Menjawab salam itu bisa secara lisan, atau tulisan. Jadi kalau di WA ada seseorang menulis salam wajib di jawab. Karena ini kewajiban.

Menengok orang sakit tentu sesuai dengan protokol kesehatan kalau di masa Pandemi, tentu masih mencekam karena saat ini melampaui angka 10.000 tambahan orang sakit perhari.

Orang bersin saja kita diperintahkan untuk mendo’akan. Apalagi dalam bahasa medis bila orang bersin mengeluarkan droplet yang sekarang harus dihambat dengan masker itupun tetap harus dijawab kalau dia membaca hamdalah. Kita mendoakan Yarhamukallah.

Itu hadits Muttafaqun alaihi (Bukhori dan Muslim). Kalau dalam hadits riwayat Muslim ada enam kewajiban.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ “حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ: إذَا لَقِيْتــَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ، وَإِذَا دَعَاك
فَأَجِبْهُ، وَإِذَا اسْتَنْصَحَك فَانْصَحْهُ، وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ، وَ إِذاَ مَرِضَ فَعُدْهُ، وَإِذاَ ماَتَ
فاتـْبَعْهُ”. (رَواهُ مُسلمٌ)

Dari Abu Hurairah ra ia berkata: Rasulullah SAW bersabda:
“Hak seorang muslim terhadap sesama muslim itu ada enam, yaitu:
(1) jika kamu bertemu dengannya maka ucapkanlah salam,
(2) jika ia mengundangmu maka penuhilah undangannya,
(3) jika ia meminta nasihat kepadamu maka berilah ia nasihat,
(4) jika ia bersin dan mengucapkan: ‘Alhamdulillah’ maka do’akanlah ia dengan Yarhamukallah (artinya = mudah-mudahan Allah memberikan rahmat kepadamu),
(5) jika ia sakit maka jenguklah dan
(6) jika ia meninggal dunia maka iringilah jenazahnya”.
(HR. Muslim).

Menyolati orang mati dan mengantarkan sampai kuburan itu pahalanya dua kali gunung Uhud yang berwujud emas (2qirath).

Dalam hadits lain :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:
الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ، وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

Dari Abdullah ibn Umar radhiyallahu ‘anhu: Bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya disakiti.
Barang siapa yang membantu kebutuhan saudaranya maka Allah akan membantu kebutuhannya.
Barang siapa yang menghilangkan satu kesusahan seorang muslim, maka Allah menghilangkan satu kesusahan baginya dari kesusahan-kesusahan hari kiamat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim maka Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat”. (HR Bukhori 2262)


Persaudaraan dan Kualitas Keberagamaan


مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى.

Riwayat dari An-Nu’man bin Basyir ra berkata, Rasulullah SAW bersabda :
“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam cinta, kasih sayang, dan kelembutan mereka, laksana jasad apabila satu anggota tubuh merasa sakit, maka seluruh anggota tubuh lainnya merasa susah tidur dan flu”. (Muttafaq ‘alaih).

Ini hadits yang sangat populer. Persaudaraan kita kalau kita berharap ingin sama-sama di surga, mestinya memenuhi gambaran yang dianjurkan oleh Rasulullah untuk berkasih sayang.
Orang berkasih sayang tidak bisa bertepuk sebelah tangan. Harus bersama-sama. Saling menyayangi juga harus dari banyak pihak atau minimal dari dua pihak.

Dalam hadits lain :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

Dari Abdullah bin ‘Amru dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda: “Seorang muslim adalah orang yang Kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya, dan seorang Muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah” (HR Bukhori)

Aman dari tangan, kalau orang sudah memerintah jari-jari untuk menulis di keypad atau HP juga harus menimbulkan kenyamanan.


Budaya Halal

Budaya hidup halal dan gaya hidup halal sudah menjadi trend global. Sehingga ada halal tourism yang menjadi kebetulan karena halal ini telah menjadi urusan seluruh manusia.

Allah SWT berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا النَّا سُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَ رْضِ حَلٰلًا طَيِّبًا ۖ وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ ۗ اِنَّهٗ لَـكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

“Wahai manusia! Makanlah dari yang halal dan baik yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 168)

Perintah Allah kepada seluruh manusia untuk mengkonsumsi barang-barang yang halal dan thoyib.

Rasulullah SAW bersabda:

كل لحم نبت من سحت فالنار أولى به

“Setiap daging yang tumbuh dari barang haram, maka api neraka lebih utama baginya”.(HR Ahmad).

Karena itu kalau kita sedang memberi nasehat pada cucu yang sedang diaqiqahi ada nasehat agar jangan memberi makan kepada anak-anak kita kecuali dari rezeki yang halal dan thoyib. Ini masalah penting karena kalau yang masuk barang haram maka keluarnya nanti juga tidak baik.


Yang Baik dihalalkan, Yang diharamkan yang Buruk.

Allah SWT berfirman:

وَا كْتُبْ لَـنَا فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰ خِرَةِ اِنَّا هُدْنَاۤ اِلَيْكَ ۗ قَا لَ عَذَا بِيْۤ اُصِيْبُ بِهٖ مَنْ اَشَآءُ ۚ وَرَحْمَتِيْ وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ ۗ فَسَاَ كْتُبُهَا لِلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَا لَّذِيْنَ هُمْ بِاٰ يٰتِنَا يُؤْمِنُوْنَ ۚ 

“Dan tetapkanlah untuk kami kebaikan di dunia ini dan di akhirat. Sungguh, kami kembali bertobat kepada Engkau. (Allah) berfirman, Siksa-Ku akan Aku timpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka, akan Aku tetapkan rahmat-Ku bagi orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 156).

Allah SWT berfirman:

اَ لَّذِيْنَ يَتَّبِعُوْنَ الرَّسُوْلَ النَّبِيَّ الْاُ مِّيَّ الَّذِيْ يَجِدُوْنَهٗ مَكْتُوْبًا عِنْدَهُمْ فِى التَّوْرٰٮةِ وَا لْاِ نْجِيْلِ يَأْمُرُهُمْ بِا لْمَعْرُوْفِ وَيَنْهٰٮهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبٰتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبٰٓئِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ اِصْرَهُمْ وَا لْاَ غْلٰلَ الَّتِيْ كَا نَتْ عَلَيْهِمْ ۗ فَا لَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِهٖ وَعَزَّرُوْهُ وَنَصَرُوْهُ وَ اتَّبَـعُوا النُّوْرَ الَّذِيْۤ اُنْزِلَ مَعَهٗۤ ۙ اُولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

“Yaitu orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi yang namanya mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka, yang menyuruh mereka berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan yang menghalalkan segala yang baik bagi mereka dan mengharamkan segala yang buruk bagi mereka, dan membebaskan beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Adapun orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an), mereka itulah orang-orang beruntung.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 157)

Kata halal artinya boleh. Haram itu artinya dilarang secara agama.
Yang dihalalkan pasti yang baik-baik, itupun juga harus milih-milih.
Bisa milih karena selera, milih karena ukuran atau dalam keadaan tertentu.
Misalnya apakah kita masih boleh makan sate kambing 10 tusuk ?
Bagi yang sehat jelas boleh tapi yang kholesterolnya tinggi harus menghindari. Demikian pula kalau kita mau makan emping mlinjo tentu harus berfikir dulu.


Budaya Halal dan Sertifikasi Halal

Kebetulan kemarin tanggal 6 Januari hari ulang tahunnya LPPOM-MUI. Sekarang sudah diubah menjadi LPH karena Undang-Undang no 33 tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal bahasanya menjadi LPH, Lembaga Pemeriksa Halal.

Itupun secara defacto sampai hari ini audit halal sampai dengan fatwa halal itu, auditnya oleh LPPOM-MUI karena diseluruh Indonesia sudah ada. Dan terakhir fatwa halal.

Sertifikat Halal tidak lagi di MUI tetapi sudah harus dikeluarkan oleh BPJPH (Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal). Jadi kalau ada yang punya usaha, PT atau UMKM yang berproduksi dan belum punya sertifikat halal, mendaftarnya ke Satgas BPJPH.

Kalau ke LPPOM-MUI bila membutuhkan pelatihan SJH (Sistem Jaminan Halal) atau HAS (Halal Assurance System) 23000 untuk training 1-2 hari kemudian mengisi Cerol, sertifikasi secara online. Hal ini supaya tidak diakali oleh makelar. Karena biayanya tidak mahal, paling 3 sampai 4,5 juta. Tetapi aneh juga ada yang mau dengan sertifikasi yang dipalsukan bahkan membayar sampai 10 juta.

Pertimbangannya

1. LPPOM-MUI telah 32 tahun secara volunteer membangun fondasi dan bangunan budaya halal di Indonesia , sehingga mereka yang mengajukan sertifikat halal karena ada niat kesungguhan dan ada niat untuk menjaganya.

2. Waktu itu belum ada aturan yang memaksa mereka untuk mendapatkan sertifikat halal, namun mereka sudah memiliki kesadaran halal (halal awareness).

Hukum dimana-mana memaksa. Repotnya kalau instrumen hukum itu digunakan untuk kepentingan- kepentingan Politik kekuasaan. Tidak lagi hukum sebagai panglima tetapi politik sebagai panglima yang kemudian memanfaatkan hukum sebagai instrument kekuasaan.
Ini yang paling kacau. Mudah-mudahan tidak terjadi. Kalau terjadi mudah- mudahan segera disadarkan. Ini tidak menyindir siapa-siapa, ini muhasabah untuk kita.

Bahwa ada pertimbangan soal ekonomi dan keuntungan perusahaan, saya memahaminya itu perintah agama. Terus terang saja kalau ditelusuri , ownernya yang mengajukan sertifikat halal itu banyak yang non muslim.

Perusahaan-perusahaan besar itu kan bossnya non muslim. Kalau saya dikembalikan bahwa perintahnya memang : Ya ayyuhan nass , artinya untuk kebutuhan seluruh manusia.

Bahkan di hotel-hotel yang berbintang lima biasanya di Restonya sudah jelas mana yang halal dan mana yang non halal. Jadi ini sudah biasa, tidak lagi semata-mata soal agama tetapi sudah merupakan kebutuhan Perusahaan kelas dunia.

Bahkan di negara-negara seperti Singapore, Jepang yang tadinya mau jadi tuan rumah olympiade, harusnya tahun 2020 kemarin juga ada satu kota yang sudah dideklarasikan, karena mereka sadar bahwa nanti Kontingen, Tamu yang datang banyak yang dari negara-negara muslim. Artinya ini pangsa pasar yang harus direspond.


Rumus Halal

Rumusnya sederhana : Halal barangnya, kemudian proses perolehan, pengolahan halal maka hasilnya halal.

Barangnya halal, prosesnya haram hasilnya haram.
Misalnya daging sapi diglonggong. Dimana fatwa daging glonggongan sudah dikeluarkan pada Februari 2006. Tetapi nampaknya prakteknya masih belum bisa dihilangkan.

Kemudian sekarang ada postingan WA, ada model penyembelihan sapi oleh etnis tertentu dimana kepala sapi dipukul sama pukul besi besar sehingga jatuh setelah itu disembelih. Cara menyembelihnyapun beda dengan sembelihan yang standar menurut sembelihan orang islam. Karena itu kita perlu waspada dan hati. Apalagi daging-daging itu masuk di pasar-pasar grosir.

Kita sebagai konsumer dilindungi oleh Undang-Undang. Kita berhak untuk bertanya tentang Sertifikat dan Label Halal. Hanya memang sertifikat dan label Halal ini agak berbeda. Dari yang biasanya memakai logonya tulisan Arab putih melingkar yang di dalamnya ada tulisan Halal – Arab.
Oleh BPJPH label itu diganti , tidak ada lagi tulisan MUI. Karena desain sertifikat halalnyapun yang dikeluarkan oleh BPJPH itu memakai lambang Garuda. Tidak ada tulisan halal tapi pakai gambar Garuda , jadi Garudanya sudah halal.

Barang yang haram meskipun diproses, disembelih dengan benar hasilnya tetap haram.

Misalnya sapi diimpor tetapi dibumbui dengan korupsi. Dulu pernah kejadian ada boss Partai yang kesandung kasus import sapi hasil korupsi dan disembelih oleh orang yang ahli tahajud, hasilnya tetap saja haram.
Apalagi jika barangnya haram, prosesnya haram maka hasilnya pasti haram.


Waspada Komponen Babi.

Babi memang binatang yang benar-benar menguji keimanan kita. Dari babi ini kemudian ternyata dapat dikembangkan jadi bermacam-macam makanan, ada Jelly , ada yoghurt dan sebagainya. Maka harus waspada karena banyak sekali makanan yang beredar berasal dari babi.

Babi yang di dalam Al Qur’an diharamkan bagi kita sebagai orang islam. Secara laboratories 99,9% babi bisa dipakai untuk kepentingan manusia. Dari kulitnya, bulunya, darahnya ada sosis ada segala macam.

Bahkan paru-parunya juga bisa dipakai, enzym empedunya , jeroannya, pankreasnya , ususnya, kikilnya , dagingnya , lemak, tulang dan gelatin semua dipakai. Jadi Allah betul -betul menguji kita. Dari gelatin dapat dijadikan mentega, es cream, yoghurt, permen dan sebagainya.

Dulu waktu kita kecil dikatakan alasan babi diharamkan karena ada cacing pitanya. Dulu kata bapak guru kalau menjelaskan begitu hanya untuk memudahkan pemahaman saja. Sekarang cacing pita bisa dimatikan dengan pemanasan tak perlu sampai 100°C.

Babi berkembang biak lebih dari 14 ekor, sementara sapi hanya satu. Kambing paling hanya satu atau dua. Jadi babi itu murah, tahan banting, tahan penyakit. Bahkan babi yang besar bisa mengkonsumsi sampah sampai 1,5 ton katanya. Apa saja masuk termasuk kotorannya sendiri dia makan. Maka babi ini diharamkan oleh islam.


Keutamaan Majelis Taklim

Majelis Taklim akan sangat bermanfaat bagi kita semua untuk membangun ukhuwah, untuk meningkatkan keberislaman kita karena ada Hadits Rasulullah :

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَطْلُبُ فِيْهِ عِلْمًا سَلَكَ اللهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْـجَنَّةِ

“Barangsiapa yang berjalan menuntut
ilmu, maka Allah mudahkan jalannya menuju Surga”. (HR At Tirmidzi, Abu Dawud)

Kemudian ada ungkapan

ﻣَﻦْ ﺃَﺭَﺍﺩَ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻓَﻌَﻠَﻴْﻪِ ﺑِﺎﻟْﻌِﻠْﻢِ، ﻭَﻣَﻦْ ﺃَﺭَﺍﺩَ ﺍﻷَﺧِﺮَﺓَ ﻓَﻌَﻠَﻴْﻪِ ﺑِﺎﻟْﻌِﻠْﻢِ، ﻭَﻣَﻦْ ﺃَﺭَﺍﺩَﻫُﻤَﺎ ﻓَﻌَﻠَﻴْﻪِ ﺑِﺎﻟْﻌِﻠْﻢِ

Barang siapa ingin memperoleh kebahagiaan hidup di dunia harus dengan ilmu dan barang siapa ingin memperoleh kebahagiaan akhirat harus dengan ilmu dan barang siapa ingin memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat harus dengan ilmu.

Akhirnya penting bagi kita untuk waspada agar tidak bangkrut

أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

Rasulullah SAW bertanya :
“Apakah kalian tahu siapa muflis (orang yang pailit) itu?”
Para sahabat menjawab, ”Muflis (orang yang pailit) itu adalah yang tidak mempunyai dirham maupun harta benda.”

Tetapi Nabi SAW berkata, “Muflis (orang yang pailit) dari umatku ialah, orang yang datang pada hari Kiamat membawa (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun dia telah mencaci dan menuduh orang lain, makan harta, menumpahkan darah dan memukul orang lain. Maka orang-orang itu akan diberi pahala dari kebaikan- kebaikannya. Jika telah habis kebaikan-kebaikannya, maka dosa-dosa mereka akan ditimpakan kepadanya, kemudian dia akan dilemparkan ke dalam neraka” (HR. Muslim).

Mudah-mudahan melalui majelis ini kita bisa bersama-sama meningkatkan kualitas iman dan takwa kita dan juga persaudaraan kita yang bisa menghadirkan kenyamanan dan kedamaian bagi orang lain.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK




LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here