dr. Yuris Bachtiar SpBS, PhD

18 Jumadil Awwal 1442 / 2 Januari 2021


Latar Belakang

Kadang-kadang apa yang kita inginkan bisa tertunda, tapi kalau memang sudah takdirnya, in syaa Allah nanti akan tercapai. Tentu disertai dengan do’a dan keinginan yang kuat untuk melakukan sesuatu secara benar. Atau dengan kata lain “nothing to lose”

Berawal dari masuk Fakultas Kedokteran, karena memang sejak kecil punya kebanggaan terhadap profesi dokter akibat orang tua saya yaitu dr. Shofa yang memberi inspirasi besar. Masuk Kedokteran dengan kemampuan sendiri, usaha sendiri dan tentu saja dibantu dukungan do’a orang tua.

Pernah ada yang menuduh saya bahwa saya bisa masuk Kedokteran karena KKN saja. Atas tuduhan itu saya menjawab dengan tantangan : “Kalau nilai saya lebih jelek daripada kamu lebih baik saya keluar”.
Saat itu nilai pelajaran yang paling menjadi momok adalah Anatomy.
Dalam hati saya saya bilang kalau pelajaran Anatomy tidak dapat nilai A, saya keluar.

Itu dulu waktu masih muda, masih umur-umur 18-19 tahunan dan masih semangat. Sekarang saya jadi mikir kalau dulu keluar beneran terus bagaimana? Alhamdulillah dengan usaha yang maksimal saya bisa dapat A walaupun teman-teman juga heran kapan saya belajar? Karena saya suka aktif di organisasi.

Sejak di mahasiswa saya punya keinginan untuk belajar spesiasialis Bedah Syaraf ke Jepang. Keinginan ini muncul sejak saya belajar anatomi otak. Keinginan ini sering saya sampaikan pada teman saya, dan juga kepada Prof Zaenal yang memang sudah saya kenal sejak lama, karena beliau teman ayah saya.

Perjalanan waktu saya menjalani Co-Ass dan selesai pendidikan dokter saya mencari bea siswa ke Jepang. Namun kenyataan beberapa kali gagal.
Dan mungkin karena saya belum dibukakan jalan, akhirnya menempuh Plan B. Saya masuk ke Spesialis Bedah Umum. Yang penting keahlian Bedah.

Setelah menikah bulan Desember , saya bulan Januari masuk Spesialis Bedah di PPDS di Semarang. Dan saya melakukan apa yang harus lakukan dengan baik, sesuai dengan porsinya, tidak menunda-nunda. Kalau saya harus lembur di Rumah Sakit ya saya kerjakan . Sampai anak saya yang nomer satu mengatakan bahwa rumahnya ayah di Rumah Sakit Kariadi karena sering tidak pulang.
Apa boleh buat, karena itu amanah buat kita maka apa yang terbaik harus kita lakukan.


Pertolongan Allah Tak disangka-sangka

Suatu saat saya ditawari Prof Rifki untuk sekolah Spesialis Urology di Jakarta. Padahal keinginan saya Spesialis Bedah Syaraf. Tapi saya fikir mungkin itu memang jalan saya, maka saya sanggupi. Bagi saya ada tawaran apapun saya ambil, karena tawaran itu tidak datang dua kali.

Namun tiba-tiba di tengah jalan saya ditawari Prof Zaenal Muttaqin untuk mengikuti sekolah Bedah Syaraf. Beliau mengatakan ada seorang Profesor di Jepang yang ingin punya murid orang Indonesia.

Hal ini menjadi dilemma pilihan antara keinginan dan jawaban kesanggupan untuk mengikuti Urology.
Akhirnya saya pikir ulang dan tak lupa berdo’a, shalat istiqaroh, dan dibantu isteri juga saya memilih Bedah Syaraf di Kagoshima University.

Saya harus menjawab keragu-raguan , karena gambaran lamanya sekolah. Bayangkan bahwa saya sekolah 6 tahun di Kedokteran ditambah 3 tahun di Bedah Umum. Itu S1 semua. Di Bedah Umum saya hampir selesai spesialis Bedah dan harus saya tinggalkan.

Padahal Program Bedah Syaraf di Jepang itu 5 tahun. Jadi saya harus kuliah 14 tahun sejak SMA. Belum lagi dihadapkan dengan adaptasi yang tak tahu berapa tahun. Maka ketika saya hitung, saya baru akan selesai sekolah umur 34 tahun ! Itu kalau lancar.

Tapi karena keinginan kuat untuk hidup di luar negeri dengan mendapatkan bea siswa, menginginkan suasana baru bagaimana kondisi di luar negeri maka saya niatkan untuk menjalani.
Alhamdulillah setelah mendaftar, profesornya juga setuju. Dan prosesnya semuanya relatif lancar.

Sampai di Jepang saya ditanya
“Punya pengalaman berapa tahun kerja di Klinik setelah lulus jadi dokter?”
Ternyata bekerja sebagai PPDS bisa dianggap sebagai pengalaman. Dan pengalaman lebih dari dua tahun bisa langsung mengambil Advanced Clinical Training di Jepang.

Alhamdulillah saya sudah melakukan PPDS Bedah Umum di RS Kariadi. Dan dengan surat pengalaman itu saya mendapat sertifikat untuk melakukan Advanced Clinical Training. Jadi ternyata Allah kalau memberi pertolongan kepada kita memang jalannya begitu. Ternyata saya harus menjalani PPDS Bedah Umum dulu tiga tahun, jadi itu bukan sekolah yang sia-sia. Ternyata diluar pengetahuan saya, itu memang persyaratan dari Jepang.

Betapa pentingnya Advanced Clinical Training itu karena kalau itu tidak dijalani maka pendidikan yang saya tempuh hanya S3. Tetapi karena ada pengalaman PPDS, maka pendidikan saya jadi dobel Pendidikan Klinik dan Pendidikan S3.


Kehidupan di Jepang

Manusia di Jepang sedikit tertutup. Kalau kita tidak bisa bahasanya maka akan sulit untuk berkomunikasi dengan baik. Saya belajar basic bahasa Jepang enam bulan disana. Maka saya nekad mencari teman dan mengajak bicara, seperti cara anak kecil belajar bicara, yang penting bicara. Alhamdulillah untuk bicara sehari-hari bisa, walaupun masih buta huruf.
Saya tidak belajar Kanji karena khawatir pelajaran utamanya tentang Bedah Syaraf malah tidak masuk.

Tentang persaingan, dimana saja selalu ada. Namun di Jepang yang saya lihat tidak ada KKN. Memang ada satu dua yang diskriminatif, tapi bersifat personal, bukan secara umum. Mereka benar-benar profesional. Lebih berorientasi pada proses dari pada hasil.

Misalnya kalau kita telah berusaha dengan baik tapi hasilnya biasa, mereka akan support baik. Yang dilihat keseharian usaha. Mereka lebih suka orang yang terlihat rajin bekerja dan tidak suka orang yang santai, ngobrol atau membolos waktu jam kerja. Maka di Jepang budayanya adalah Kerja Lembur. Kalau mereka nganggur tetap di depan komputer, tidak beranjak dari tempatnya.


Sebagai Muslim di Jepang

Tiga tahun saya kenal banyak teman dari beberapa negara dan ternyata mereka orang-orang muslim ingin punya masjid. Alhamdulillah kemudian masjid di Kagoshima itu sekarang sudah terealisir.

Di Fakultas Kedokteran itu baru ada dua orang muslim. Saya dan teman saya yang sekarang di Canada, Dia sekarang jadi dosen di Calgary.
Pada awalnya kami shalat di gang, di pinggir jalan, di pojok tangga, di kamar ganti operasi dan sebagainya. Akhirnya Profesor saya tahu dan bertanya tentang kebutuhan tempat shalat. Ternyata masalah itu dinaikkan sampai ke Dekan.

Akhirnya Fakultas Kedokteran Kagoshima University dari semula tidak punya mushola, sekarang punya mushola kecil di pojokan dan kemudian dipindah di lantai 3 di atas kantin, lengkap tempat wudhunya.

Ternyata dengan hubungan kerja yang baik, tanggung jawab terhadap tugas-tugas yang diberikan dapat menghancurkan image bahwa muslim itu identik dengan kekerasan, suka jihad, suka membunuh.

Ada dokter di Miyakonojo di pinggir Kagoshima diantara mereka yang berkata: “Saya sebetulnya takut terima kamu training”.
“Lho kenapa? “
“Ternyata orang muslim tidak seperti yang saya bayangkan”

Dia mengatakan : “Muslim suka Jihad. Jihad itu kan artinya perang? “
“Siapa bilang?” Mari kita buka di google, ternyata kata Jihad dari ‘Jahadu’ yang artinya Bersungguh- sungguh melakukan sesuatu.
Jihad dalam bahasa Jepang disebut “ganbatte ganbaru”. Sama dengan kata “semangat” kalau di Indonesia.

Saya sering diskusi dengan associate professor tentang islam. Mudah- mudahan dia mendapat hidayah karena suka belajar islam. Akhirnya mereka terbuka dan menyetujuinya.
Pola pikir mereka yang salah itu berasal dari media. Kalau ingin tahu muslim yang betul harus bergaul dengan muslim. Artinya salah bagi kita orang muslim bila tak mau bergaul dengan non muslim. Karena itu akan membuat kita eksklusif dan itu sesuai dengan jalan pikiran mereka.


Penutup

Setelah lima tahun menjalani study di Jepang dengan liku-likunya, saya selesai study dan harus kembali ke Indonesia. Saya harus menjalani adaptasi selama dua tahun di Surabaya. Karena saya dinilai Advanced Clinical disana itu sampai mana. Bulan Juni tahun 2016 saya selesai sebagai dokter Bedah Syaraf.

Yang saya lakukan bukan pekerjaan instant. Mungkin orang hanya melihat enaknya saja , tetapi sebenarnya perjalanannya panjang, dengan lika likunya. Disana saya mengerjakan part time job. Alhamdulillah masalah ekonomi juga tercover dengan bea siswa dan saya juga diminta bekerja di Rumah Sakit disana. Anak-anak juga sekolah di sekolah umum dengan bahasa Jepang.

Jadi kegagalan atau ketidak sesuaian dengan cita-cita itu belum tentu tidak diarahkan oleh Allah menuju cita-cita.
Mungkin Allah memberi jalan yang lebih baik. Sebagai contoh di atas kalau saya tidak punya pengalaman klinis 3 tahun, saya tak akan punya Advance Clinical Training dan saya harus mengulang lagi pendidikan Bedah Syaraf dari nol di Indonesia , seperti teman saya. Karena dia sama sekali tidak punya pengalaman klinis.

Kebiasaan di Indonesia senang dengan administratif, ada legal standing berupa ijazah. Maka kita harus menyiapkan karena itu yang dibutuhkan di Indonesia.
Di Jepang tidak terlalu mengutamakan legal standing. Bagi mereka yang penting kemampuan , sertifikat hanya tambahan. Tetapi karena Kagoshima University mempunyai Advanced Clinical Training yang tersertifikasi oleh Kementrian Kesehatan Jepang maka saya mengambilnya.

Rapot saya selama PPDS tiga tahun di Indonesia dilihat sebagai bukti pengalaman di Jepang dan di Indonesia. Kedepan mungkin aturan-aturan di Kagoshima itu akan lebih diperjelas lagi. Karena sampai saat saya pulang aturan-aturannya memang masih belum jelas.

Jadi memang ada Colegium yang jelas dan ada yang belum jelas. Kalau misalnya Colegiumnya belum jelas berangkat saja, siapa tahu nanti ada jalan. Kenalan, lobbying akan membantu dan berusaha semaksimal mungkin apa yang bisa kita lakukan.
Berdo’a, kemudian doa orang tua, dukungan mental dari keluarga semua akan merupakan kekuatan moral.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here