Dr. H. Zuhad Masduki, MA

22 Jumadil Awwal 1442 / 6 Januari 2021



Tafsir Surat Al Insyirah ayat 1

اَلَمْ نَشْرَحْ لَـكَ صَدْرَكَ ۙ 

a lam nasyroh laka shodrok

“Bukankah Kami telah melapangkan dadamu (Muhammad)?,” (QS. Al-Insyirah 94: Ayat 1)

Ayat pertama menjelaskan kepada kita bahwa Allah SWT memberikan anugerah khusus kepada Nabi Muhammad SAW dalam bentuk kelapangan dada.
Kelapangan dada itu bermakna : membuka, memberi pemahaman, menganugerahkan ketenangan dan hal-hal yang semakna dengan itu. Jadi kelapangan dada sifatnya immaterial, bukan membelah dada.

Kalau orang dilapangkan dadanya oleh Allah SWT maka akan menghasilkan kemampuan menerima dan menemukan kebenaran. Karena dia akan membuka pintu hatinya selebar- lebarnya untuk masuknya kebenaran itu, menemukan hikmah dan kebijaksanaan serta kesanggupan menampung bahkan memaafkan kesalahan dan gangguan-gangguan orang lain.

Inilah dampak dari kelapangan dada yang dianugerahkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, sehingga Rasulullah mampu memaafkan kesalahan semua orang. Kesalahan orang-orang yang telah mengganggu beliau sejak periode Mekkah sampai periode Madinah. Beliau tidak pernah mendendam kepada siapapun. Walaupun kepada orang-orang yang telah mengganggu tadi.

Dalam Al Qur’an kita banyak menemukan kata syaro’a dalam pengertian immaterial.

Dalam Surat Az Zumar :

اَفَمَنْ شَرَحَ اللّٰهُ صَدْرَهٗ لِلْاِ سْلَا مِ فَهُوَ عَلٰى نُوْرٍ مِّنْ رَّبِّهٖ ۗ 

“Maka apakah orang-orang yang dibukakan hatinya oleh Allah untuk menerima agama Islam lalu dia mendapat cahaya dari Tuhannya sama dengan orang yang hatinya membatu ? …” (QS. Az-Zumar 39: Ayat 22)

Dalam surat Thaha :

قَا لَ رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ ۙ (25) وَيَسِّرْ لِيْۤ اَمْرِيْ ۙ (26) وَا حْلُلْ عُقْدَةً مِّنْ لِّسَا نِیْ ۙ (27) يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ ۖ (28)

“Dia (Musa) berkata, Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku,
agar mereka mengerti perkataanku,”
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 25-28)

Kalau kita bandingkan, antara permohonan Nabi Musa a.s dengan anugerah yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW, kita menemukan bahwa Nabi Muhammad SAW tanpa berdo’a beliau diberi kelapangan dada itu oleh Allah SWT. Sementara Nabi Musa a.s berdo’a kepada Allah agar dilapangkan dadanya.

Anugerah lain yang secara khusus diberikan kepada Nabi Muhammad SAW, beliau diberi kemudahan untuk mendapatkan kemudahan, disebut dalam Surat Al A’la :

وَنُيَسِّرُكَ لِلْيُسْرٰى ۖ 

“Dan Kami akan memudahkan bagimu ke jalan kemudahan.” (QS. Al-A’la 87: Ayat 8)

Jadi memang Nabi Muhammad dipelihara secara khusus oleh Allah SWT. Kekhususan yang dimaksud bukan saja dari segi kadar atau kapasitas kelapangan dada tetapi juga pada sisi substansinya.
Hal ini tidak diberikan kepada Nabi -Nabi yang lain.

Maka banyak ulama yang menyebutkan bahwa orang yang diberi tanpa meminta itu lebih dicintai oleh Allah dari pada orang yang diberi karena meminta.


Tafsir Surat Al Insyirah ayat ke 2 dan 3

وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ ۙ (2) الَّذِيْۤ اَنْقَضَ ظَهْرَكَ ۙ (3)

wa wadho’naa ‘angka wizrok
allaziii angqodho zhohrok

“dan Kami pun telah menurunkan bebanmu darimu, yang memberatkan punggungmu,” (QS. Al-Insyirah 94: Ayat 2-3)

Dalam kitab-kitab Tafsir yang dimaksud dengan beban berat yang dipikul oleh Nabi Muhammad SAW ada beberapa point dari para mufasir :

– Ada yang menyebut wafatnya istri beliau Khadidjah dan paman beliau Abu Thalib.
Tapi ini tidak disetujui oleh ulama lain, karena kalau meninggalnya anggota keluarga dapat dialami oleh semua orang. Kesedihan dan kesulitan karena ditinggal mati oleh anggota keluarga juga akan hilang dengan sendirinya.

– Ada yang mengidentifikasi sebagai beratnya wahyu Al Qur’an yang beliau terima :

اِنَّا سَنُلْقِيْ عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيْلًا

“Sesungguhnya Kami akan menurunkan perkataan yang berat kepadamu.” (QS. Al-Muzzammil 73: Ayat 5)

Memang Al Qur’an dari awal sampai akhir sangat berat.

– Ada juga yang menafsirkan beban berat itu keadaan masyarakat Arab pada masa jahiliyah.
Masyarakat Arab pada masa jahiliyah pada saat itu mengikuti akidah yang tidak benar. Dan mereka sudah ada di jurang kehancuran. Hanya saja Nabi Muhammad SAW dalam merenung dan berfikir mengenai jalan keluar membebaskan masyarakat Arab dari belenggu-belenggu yang akan menghancurkan, belum menemukan jalan keluarnya sampai akhirnya nanti Allah SWT menurunkan kepada beliau.
Inilah beban berat yang paling disetujui oleh para ulama. Jadi kalau Allah tidak menurunkan wahyunya maka beliau belum menemukan jalan itu.

Ini mungkin sama dengan keadaan di Indonesia saat ini. Orang yang sehat mungkin pusing mencari jalan keluar dari berbagai kesulitan yang melanda negeri kita. Termasuk di dalamnya adalah korupsi. Bagaimana jalan keluarnya untuk membebaskan dari hal-hal yang seperti itu? Kita mungkin belum menemukan. Tetapi kalau dengan wahyu in syaa Allah kita akan menemukan jalan keluar itu.

Digambarkan beban itu sangat berat, memberatkan punggung. Dalam bahasa Arab , kata “angqodho” itu orang memikul yang alat pikulnya sampai berbunyi karena beratnya beban yang dipikul.


Tafsir Surat Al Insyirah ayat ke 4

وَرَفَعْنَا لَـكَ ذِكْرَكَ ۗ 

wa rofa’naa laka zikrok

“dan Kami tinggikan sebutan namamu bagimu.” (QS. Al-Insyirah 94: Ayat 4)

Apa yang dimaksud dengan meninggikan sebutan nama ‘Muhammad’ itu?

– Sebagai orang Islam, kalau kita membaca Syahadat, tidak sah kalau tidak menyebut nama beliau.

“Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah”. (Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah).

Dua kalimat itu wajib dibaca bergandengan.

– Kalimat-kalimat Adzan dan Iqomat juga begitu. Harus menggandengkan dua kalimat itu.

– Dalam Al Qur’an juga disebut bahwa ketaatan kepada Allah digandengkan dengan ketaatan kepada Rasulullah.
“Ati’ullaha wa ati’ur rasula”, artinya Taatilah Allah dan taatilah RasulNya.
Dalam ayat lainnya disebut :
“Ati’ullaha wa ati’ur rasula wa ulil amri minkum”, artinya Taatilah Allah dan taatilah Rasul Nya, dan ulil amri di antara kamu.

Kalau kita memandang dari kaca mata orang Non Muslim.

Kalau Allah menggunakan kata ganti Kami, maknanya ada dua :
– li takzim, mengagungkan Allah
– lil musyaroqah artinya ada keterlibatan selain Allah di dalam pelaksanaan aktivitas itu.

Kata “wa rofa’naa laka zikrok” kita fahami dengan kaidah ini, maka dalam meninggikan kedudukan Nabi Muhammad SAW itu ada juga keterlibatan fihak lain, yaitu orang -orang non muslim yang menulis buku yang mendeskripsikan Nabi Muhammad SAW secara obyektif ilmiah.

Antara lain kita bisa sebut :

– Thomas Carlyle.
Dalam buku On Heroes, Hero-Worship, and the Heroic in History, menulis nama Nabi Muhammad SAW dengan tolok ukur kepahlawanan. Artinya tidak ada pahlawan di dunia ini yang melebihi kehebatannya Nabi Muhammad SAW.

– Marcus Dods
Menulis buku tentang Muhammad, Buddha dan Kristus dengan tolok ukur keberanian moril. Dijelaskan tidak ada Tokoh dunia yang memiliki keberanian moril seperti keberanian Nabi Muhammad SAW. Di periode Mekkah dalam kondisi belum punya kekuatan apapun berani menegakkan akidah Tauhid melawan arus, melawan Syirik.

– Will Durant
Dia menulis buku judulnya “The Story of Civilization”. Menulis Nabi Muhammad SAW dengan tolok ukur hasil karya. Dia melihat bahwa Al Qur’an itu karya Nabi Muhammad. Walaupun statement ini tidak benar, tetapi kesimpulannya tidak ada penulis karya yang melebihi Al Qur’an. Apalagi kemudian Al Qur’an ini ditafsiri dari masa ke masa oleh Para mufasir yang jumlahnya tidak terbilang. Dan Al Qur’an yang jumlahnya satu jilid itu tafsirnya bisa berpuluh-puluh jilid.
Tidak ada buku manapun yang melebihi Al Qur’an.

– Michael Hart
Dia menulis 100 Tokoh dan yang ditulis pertama adalah tokoh kita Nabi Muhammad SAW. Tolok ukurnya adalah tolok ukur pengaruh. Tidak ada tokoh di seluruh dunia yang pengaruhnya melebihi Nabi Muhammad SAW.

Itu tadi Penulis barat yang secara obyektif ilmiah mendeskripsikan Nabi Muhammad SAW berdasarkan data-data yang valid. Bukan karena subyektifitas beda agama kemudian mereka menjelek-jelekkan Nabi Muhammad.

Ada lagi tokoh yang mengecam Nabi Muhammad SAW. Misalnya dikatakan bahwa islam yang dikembangkan Nabi Muhammad dengan Pedang. Nabi Muhammad kalau berperang tangan kanan membawa pedang dan tangan kiri membawa Al Qur’an.

Ada penulis barat yang membantah pandangan ini tidak logis dan tidak riil bila berperang kedua tangan membawa barang. Orang islam karena sangat menghormati Al Qur’an tidak mungkin membawa Al Qur’an memakai tangan kiri. Pasti dibawa tangan kanan dan diposisikan tinggi. Tak mungkin dibawa sesuai kemauannya sendiri.


Tafsir Surat Al Insyirah ayat ke 5 dan 6

فَاِ نَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ۙ (6) اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ۗ (7)

fa inna ma’al-‘usri yusroo
inna ma’al-‘usri yusroo

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah 94: Ayat 5-6)

Ada terjemahan yang kedua, kata “maa” diterjemahkan “sesudah”.
“Maka sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan.”
Kedua terjemahan ini benar secara bahasa menurut gramatika bahasa Arab.

Ada kaidah dalam bahasa Arab yang berbunyi :
Kalau ada kata definite (kata ada Al-nya) diulang dua kali maka yang pertama sama dengan yang kedua. Kalau ada kata indefinite (kata tanpa Al) maka yang kedua tidak sama dengan yang pertama.

Kalau ini kita terapkan untuk ayat ke 5 dan 6 maka terjemahnya :
“Maka sesungguhnya sesudah kesulitan akan terbuka banyak kemudahan”.
Kalau kita bisa menyelesaikan satu kesulitan maka kemudahan yang akan terbuka tidak hanya satu, tapi banyak.

Ini difahami oleh para ulama, dalam pengulangan ayat 5 dan 6 ini bermaksud menjelaskan salah satu sunah Allah yang bersifat umum dan konsisten yaitu setiap kesulitan pasti disertai kemudahan selama yang bersangkutan bertekad untuk menanggulanginya.

Hal ini dibuktikan antara lain dengan contoh kongkrit pada diri Nabi Muhammad SAW. Kita lihat sejarah Nabi periode Mekkah sampai periode Madinah. Beliau datang sendirian, kemudian secara perlahan-lahan diikuti oleh anggota keluarga. Dan di periode Mekkah diikuti oleh masyarakat dengan jumlah yang sangat terbatas. Bahkan Nabi Muhammad pernah mengalami nasib yang sangat tragis. Beliau pernah diboikot oleh masyarakat Mekkah.

Pada akhirnya Nabi Muhammad tidak kuat bertahan di Mekkah karena tekanan masyarakat Mekkah. Tetapi beliau tetap tabah dan berusaha terus untuk mencari jalan keluar. Beliau optimis bahwa kesulitan pasti akan bisa diatasi. Sampai akhirnya beliau hijrah ke Madinah dan setelah beliau hijrah inilah kelapangan itu mulai terbuka. Beliau mulai mendapatkan pengikut lebih banyak, mendapatkan kekuatan Sosial, Ekonomi dan Politik. Dan pada akhirnya beliau nanti berhasil mengalahkan rezim Mekkah yang menindas beliau selama 13 tahun.

Ayat 5 dan 6 ini juga ada terapannya dalam bidang Hukum. Kalau kita menemui satu kesulitan dalam pelaksanaan suatu Hukum maka akan lahir hukum kemudahan. Sehingga dalam bidang hukum ada rumus :
ﺍﻟﻣَﺸَﻘﱠﺔُ ﺗَﺠْﻟِﺐُ ﺍﻟﺗﱠﻴﺴِﻴﺮَ

al masyaqqtu tajlibut taysir
(Kesulitan mendatangkan kemudahan).

Misalnya dalam keadaan normal kita tidak boleh makan bangkai. Tetapi dalam keadaan terjepit tidak ada makanan lain selain bangkai, kita dibolehkan makan bangkai. Ini adalah kesulitan mendatangkan kemudahan. Sebelumnya dilarang, kemudian diperbolehkan untuk dikonsumsi.

Saat ini kita menghadapi kesulitan dalam semua hal, politik, ekonomi, sosial, budaya, asal kita dengan tabah tekun dan mengikuti hukum sunatullah dalam menyelesaikannya pasti kesulitan itu akan bisa kita urai dan bisa kita selesaikan.


Tafsir Surat Al Insyirah ayat ke 7 dan 8

فَاِ ذَا فَرَغْتَ فَا نْصَبْ ۙ (7) وَاِ لٰى رَبِّكَ فَا رْغَبْ(8)

fa izaa faroghta fangshob
wa ilaa robbika farghob

“Maka apabila engkau telah selesai dari sesuatu urusan, tetaplah bekerja keras untuk urusan yang lain , dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.” (QS. Al-Insyirah 94: Ayat 7-8)

Dari ayat ini para ulama mengatakan bahwa kita itu harus bekerja lebih dulu, baru kemudian berdoa kepada Allah SWT. Dan kerja kita harus maksimal kemudian kita sepenuhnya berharap kepada Allah SWT.

Dalam bahasa kita mirip dengan slogan Bekerja sambil Berdo’a, walaupun tidak sama persis yang dimaksud tapi mari kita terapkan ayat ini. Banyak bekerja dan berdo’a kepada Allah SWT untuk membantu supaya usaha-usaha kita bisa diselesaikan dengan sebaik-baiknya.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK






LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here