Dr. dr. H. Masrifan Djamil MMR, MPH

15 Jumadil Awwal 1442 / 30 Desember 2020



Macam-macam Kesabaran

Yusuf Qardawi mengutip Imam Ghozali tentang sabar, beliau menyatakan bahwa sabar ada dua versi :

– Versi Fisik :

Kerja keras, misalnya ibadah yang sangat berat dimasa-masa mulai Oktober sampai Februari dimana subuhnya sangat pagi.
Walaupun Muhammadiyah sebagai organisasi mengatakan bahwa saat ini Subuhnya terlalu pagi. Kalau teman- teman saya dari Persis , musholanya sudah memundurkan waktu Subuh sejak lama.
Dengan kondisi dingin kita disuruh bangun, wudhu dan sholat. Ini kalau tidak sabar tidak memungkinkan.

Maka kita harus ingat ayat :

وَا صْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ اِلَّا بِا للّٰهِ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِيْ ضَيْقٍ مِّمَّا يَمْكُرُوْنَ

“Dan bersabarlah dan kesabaranmu itu semata-mata dengan pertolongan Allah dan janganlah engkau bersedih hati terhadap mereka dan jangan bersempit dada terhadap tipu daya yang mereka rencanakan.” (QS. An-Nahl 16: Ayat 127)

Sabar itu tanpa batas, maka sabar memerlukan pertolongan Allah, karena Allah itu tanpa batas kesabarannya.

– Versi Non Fisik (Dalam bentuk moral sabar ) Masih diperinci lagi.

a. Iffah (terhadap malu).
Di Jawa namanya perwiro, kalau dia makan di perjamuan tidak banyak karena dia sabar. Tapi ada yang salah langkah dengan tidak menghabiskan makanan. Itu bukan sabar, karena dia yang ambil sendiri. Harusnya tanggung jawab untuk menghabiskan.
Kita kalah sama orang Solo. Kalau mereka mengadakan perjamuan, mereka memuliakan tamu. Tamu duduk dan makanan diantarkan. Yang terjadi disini tamu disuruh antri untuk mengambil sepiring makanan. Ini bukan budaya kita, ini meniru barat.

b. Sabar terhadap musibah.
Orang yang tidak sabar pasti berkeluh kesah. Orang yang sabar akan diam, jika berkeluh kesah dia akan memilih kepada orang yang dapat membantu menyelesaikan masalahnya.
Di Jawa ada nilai tradisi dan budaya bahwa laki-laki harus lebih sabar terhadap musibah.

c. Tahan dalam Syahwat
Lawannya adalah sombong, menolak kebenaran atau merendahkan orang.

d. Syaja’ah (berani)
Kita diajarkan untuk berdo’a agar berani : “Allahumma inni a’udzu bika minal jubni. (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa takut).

e. Al hilm (bijaksana)
Lawannya adalah tadzamur

f. Zuhud
Lawannya adalah al hirsh, rakus.
Saat ini di Televisi malah kerakusan dipamerkan. Kuliner dengan makan dalam jumlah yang sangat berlebihan. Tidak ada nilai sopan santun.
Maka kita perlu mendidik anak-anak kita, kalau makan itu tertib, suapan demi suapan itu sabar.

g. Qana’ah (Tenang)
Lawannya adalah Tamak.
Kita menerima pemberian dari Allah, melihat yang bawah. Jangan melihat yang atas. Yang lebih atas banyak tapi belum tentu bahagia. Ada yang punya uang banyak, akhirnya bingung cara menyimpannya. Tak bisa tidur. Kita orang beriman hatinya tenang, tidak gelisah.

Unsur kesabaran lain :
Tidak mengikuti sesuatu yang tidak diketahui. Allah SWT berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَـيْسَ لَـكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗ اِنَّ السَّمْعَ وَا لْبَصَرَ وَا لْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰٓئِكَ كَا نَ عَنْهُ مَسْئُوْلًا

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’ 17: Ayat 36)

Sabar itu tidak mensharing berita yang tidak kita ketahui kebenarannya. Demikian pula kalau mengaji Al Qur’an belum benar tajwidnya jangan dishare di YouTube, karena jangkauan YouTube itu ke seluruh dunia.

Ketika kita mau menyampaikan sesuatu , kita mempersiapkan diri lebih dulu. Kalau kita tidak mampu maka kita serahkan kepada ahlinya.
Seperti menjahit pakaian kita serahkan tukang jahit. Kemudian kalau mau membangun rumah kita serahkan pada Tukang Bangunan.

Kesabaran ini semua harus dilatih terus. Jangan terburu nafsu karena merasa bagus langsung dishare. Cek dulu sebelumnya.


Bagaimana Islam mengajarkan Kesabaran

Rasulullah SAW bersabda :

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

“Aku tinggalkan kepada kamu dua perkara, kamu tidak akan tersesat selamanya selama kamu berpegang dengan kedua-duanya, yaitu kitab Allah (Alquran) dan Sunahku.” (HR Al-Hakim)

Dalam bahasa Arab ada tiga istilah : la, lam dan lan, yang dalam bahasa Indonesia hanya ada kata “tidak”.
Kalau la artinya tidak, lan dalam hadits di atas artinya tidak akan pernah selama-lamanya.

Kita diperintah menggenggam erat
تَمَسَّكْتُمْ
Dalam hadits yang lain menggunakan kata
وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ
Gigitlah erat-erat dengan gigi gerahammu.

Apa dua perkara itu? Yaitu Al Qur’an dan Sunnah. Maka dari itu mari kita kaji Sabar menurut Al Qur’an bagaimana?


Kata Sabar Dalam Al Qur’an

Beberapa ulama sudah menghitung kata Sabar, kita mengikuti.
Kita sempatnya mengaji saja tadarus dengan berusaha memahami artinya.
Kita berusaha terus memahami Al Qur’an, jangan sampai putus asa berhenti mengaji. Sebelum masuk kuburan kita wajib terus menuntut ilmu, kita buka terus Al Qur’an.

Imam Al Ghozali mengatakan sabar itu 70 tempat.
Imam Ibnul Qoyyim al Jauzi dan Imam Malik mengatakan 90 tempat.
Muhammad Fuad al Baqi dalam kitabnya mengatakan lebih dari 100 tempat.
Kenapa kok bisa berbeda-beda? Ini karena beliau mengatakan tempat. Karena pada satu tempat bisa kata sabarnya banyak.

Misalnya dalam surat Ali Imran ayat 200 :
“yaaa ayyuhallaziina aamanushbiruu wa shoobiruu wa roobithuu…”
Ini di satu tempat ada dua kata sabar.
Kemudian ada lagi dalam satu ayat ada tiga. Jadi ini adalah perbedaan perspektif cara menghitung. Finalnya tentu kalau kita mau menghitung dengan komputer.

Kita ambil yang terendah ada 70 tempat kata sabar . Mari kita bandingkan dengan kata
“taat kepada Allah dan Rasulnya”. Kata itu dalam berbagai bentuk perintah atau fadhilahnya atau larangannya ada di 33 tempat. Hal ini menunjukkan bahwa SABAR itu sangat penting.

Semua aspek kehidupan kita dari bangun tidur sampai tidur lagi, sabar ini adalah kunci dari keberhasilan seseorang, termasuk mukminin. Bahkan Ibnul Qoyyim pernah mengatakan : “Sabar itu ibarat kepalanya Iman, kalau diibaratkan sebagai ular”. Maksudnya ketika kepalanya sudah tidak ada, sudah tidak bisa apa-apa.

Jadi Sabar ini harus betul-betul kita kuasai. Termasuk yang ngomong ini juga masih melatih diri karena yang namanya manusia selalu diganggu oleh al Hawa yang ada di dalam dirinya, tidak bisa lepas dari dirinya. Kita kuasai al Hawa dengan Qalbu.

Berarti kalau orang sudah sampai pada tahap tertentu, posisi dia betul-betul sabar, imannya sudah mengkristal, sudah kuat sekali maka sampailah pada titik yang disebut Allah SWT :

اِنَّمَا كَا نَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِيْنَ اِذَا دُعُوْۤا اِلَى اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ اَنْ يَّقُوْلُوْا سَمِعْنَا وَاَ طَعْنَا ۗ وَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

“Hanya ucapan orang-orang mukmin, yang apabila mereka diajak kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul memutuskan perkara di antara mereka, mereka berkata, Kami mendengar, dan kami taat. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. An-Nur 24: Ayat 51)

Apabila diajak menghukumi perkara apa saja mereka akan taat.
Jadi perkara apa saja semisal pernikahan, memakai Al Qur’an dan Sunnah.

Alhamdulillah bahwa meski Indonesia bukan negara islam tetapi pernikahan diatur secara agama. Sesuai kepercayaan masing-masing. Ada pernikahan secara islam dan yang lain. Kita yang islam, nikahnya diatur oleh Kementrian Agama. Sehingga ada keseragaman yang bagus sekali. Rukun-rukun pernikahan dipenuhi.

Kemudian bagaimana kita merencanakan harta kita : Apakah mau diwariskan, dihibahkan, diwasiatkan atau diwakafkan. Ada empat cara bagaimana kita nanti akan memperlakukan harta kita.
Kita tentunya harus menyiapkan harta sebagai bekal kita diakhirat.

Jika kita habiskan harta hanya untuk rokok saja berarti kita kurang sabar.
Karena kita diperintahkan untuk menginfakkan harta kita. Dan jika kita berkata “sami’na wa atho’na” mestinya dibuktikan dengan amalan, tidak cukup hanya dengan ucapan.


Sabar Meliputi Seluruh Aspek Kehidupan

Orang tidak sabar pasti ada masalah. Maka kita harus betul-betul bisa sabar. Bagaimana sabar itu dilatih ? Rasulullah mengajari kita untuk mengucapkan : “A’udzu billah minasy syaithaanir rajim.” agar kita dihindarkan dari godaan setan yang terkutuk.

a. Sabar Memelihara dan Mengasuh Anak.

Ada orang tua yang tak sabar dalam mengasuh anak. Ketika anaknya menangis dia jengkel dan supaya anaknya berhenti menangis lalu diinjak-injak. Anaknya diam tapi malah mati, berarti dia tidak sabar

b. Sabar Mencarikan Sekolah

Mencari sekolah agar anaknya sukses tapi dengan jalan menyogok. Berarti tidak sabar.

c. Sabar menjaga Anak agar Pergaulannya baik.

Hati-hati bergaul di masyarakat.
Tradisi masyarakat yang tak mau antri, berarti tidak sabar. Padahal di Manila yang non muslim, mereka malah disiplin untuk antri.

Pemimpin, semuanya harus adil.
Pemimpin itu tidak hanya walikota. Kasir itu pemimpin terhadap orang yang antri menunggu layanannya.
Tukang SPBU, dia seorang pemimpin terhadap pembeli yang antri mau beli bensin. Dia harus melayani sesuai antrian yang benar dan menolak yang tak mau antri.

Seorang Dosen adalah pemimpin terhadap mahasiswa yang antri mengajukan thesis. Prinsipnya adalah “first in first out” , yang datang duluan harus dilayani lebih dahulu.

d. Sabar Mencari Rizki yang halal untuk Keluarga.

Rizki harus yang halal. Makanan yang halal menjadi amal sholeh. Daging dan lain-lain yang diberi makanan dari harta yang haram patutnya hanya untuk isi api neraka.

e. Sabar tetap beriman dalam segala situasi.

Di masa medsos ini perlu hati-hati. Ada jama’ah yang tak mau menerima apa yang disampaikan ustadznya. Ini namanya kurang sabar.
Kalau ustadz menyampaikan sesuai dengan aturannya, kaidahnya , dalilnya maka sikap kita sami’na wa atho’na. Jangan sampai malah membantah.

f. Kalau sudah remaja, sabar sekolah sampai lulus.

Ketika remaja harus sabar karena pergaulan remaja banyak sekali yang membuat kita tidak sabar.
Dulu guru saya memberi nasehat kepada saya, ketika saya diterima masuk Fakultas Kedokteran :
“Agar tetap iman, istiqomah jaga shalatnya dan Pilihlah Teman”
Padahal waktu itu majalah remaja nasehatnya : Jangan pilih-pilih teman.
Jadi waktu itu belum faham kenapa harus memilih teman. Tetapi ketika hampir lulus baru sadar kalau dulu memilih teman Co-as tidak benar bisa bermasalah dengan study kedokteran saya. Dengan demikian berteman juga harus sabar.

g. Sabar mencari Jodoh, karena bukan hanya untuk satu dua hari.

Ini harus betul-betul ekstra. Rumus pertama harus kenal dulu, benar atau nggak shalatnya, ngajinya.
Lihat saja terus, kalau perlu diselidiki lewat sahabat karena agama seseorang terkait dengan agama orang yang dekat dengan dia.
Maka jangan keburu nafsu.

h. Sabar mencari pekerjaan hanya yang halal

Kalau sudah ada di dalam, jangan mau disuruh-suruh yang tidak halal.
Sabar tidak korupsi, kalau tidak kuat hindari saja.


Kategorisasi Sabar

Para Ulama mendifinisikan sabar dalam beberapa kategori :

a. Sabar dalam Iman.

Ada sahabat yang tanya : “Apakah iman?”. Rasulullah SAW menjawab :
“Al Imanu huwa ash shobru” (iman itu yang menyusun adalah sabar).
Maka Ibnul Qoyyim al Jauzi mengatakan bahwa Sabar adalah kepalanya dari Iman. Sehingga kalau tak sabar tidak akan ada iman.

Mengapa kok tidak boleh mengucapkan selamat Natal. Sementara ada ustadz yang membolehkan (tanpa ilmu). Maka sabar dalam hal ini adalah kita tidak tergesa-gesa, cari dulu ilmunya.

Iman itu definisinya adalah :
Tashdiq bil Qalbi wa ikrar Bil lisan Amalu bil Arkan artinya pembenaran atau pengakuan Hati dan pengakuan dengan Lidah/ Ucapan dan mengamalkan dengan anggota badan.

Kalau dikatakan hanya bicara selamat Natal kok tidak boleh, perlu difahami dulu apa yang dibicarakan.
Kalau tak tahu apa yang dibicarakan berarti dia ngelindur.
Kalau bicara tapi tidak dimasukkan dalam hati berarti mabok, atau orang gila yang tak tahu apa yang diucapkan.
Kalau omongan itu perwujudan dari qalbu berarti dihatinya ada Natal. Tentang Natal itu apa tak perlu kita bahas.

Jadi hati-hati, jangan asal mengikuti apa yang disharing orang.
Bila ada ustadz lain yang membolehkan silahkan saja, nanti kan ada hisab di akhirat. Kalau salah akan dapat dosa jariyah, maka harus hati-hati.

Kenapa tiap tahun ribut soal itu? Kalau memang sami’na wa atho’na, Rasulullah dan Para Sahabat tak pernah memberikan contoh memberi ucapan selamat Natal. Damai saja kamu lakukan amal-amalmu tak usah repot-repot.

Kita ada aturannya : Lakum dinukum waliyadien. Itulah sabar dalam iman.

b. Sabar dalam Ketaatan kepada Allah

Di depan tadi sudah kita gambarkan untuk Shalat Subuh itu susah.
Shalat Tahajud itu susah. Almarhum Prof Rifki mengajari kita kalau merasa Tahajud itu berat kerjakan saja minimalnya 2 rakaat ditambah 1 witir. Yang penting tiap hari harus shalat malam. Nanti setelah terbiasa ditambah dua rakaat, dua rakaat terus nanti istiqomah.

Dalam konteks kekinian dalam ilmu Covid-19 ada hadits.
Nabi SAW bersabda

فِرَّ مِنَ الْمَجْذُوْمِ كَمَا تَفِرُّ مِنَ اْلأَسَدِ

“Menghindarlah kamu dari orang yang terkena judzam (kusta), sebagaimana engkau lari dari singa yang buas” (HR al-Bukhari).

Kita melakukan dengan memakai masker, dengan cuci tangan, dengan menjaga jarak. Dengan hati-hati seperti itu saja masih ada yang kena karena pintu penyebaran penyakit ini banyak. Ada yang tertular dari sopir pribadinya. Jadi penularan Covid-19 ini benar- benar luar biasa. Maka kita larinya harus betul-betul kencang seperti ketemu Singa dengan Protokol Kesehatan.

c. Sabar dalam Beribadah kepada Allah.

Ini mirip dengan di atas. Kalau di atas itu taat berarti hukum, yang ini ibadah. Karena ada orang yang tidak sabar dalam shalat. Ada shalat di masjid Semarang yang mirip olah raga. Gerakannya cepat seperti senam. Ini tidak sabar.

Shalat kalau kita lakukan dengan benar juga bagus untuk kesehatan. Misalnya saat sujud yang lama, darah mengalir ke kepala. Ini bagus karena kebutuhan darah di kepala sampai 20%.
Dengan sujud maka aliran darah menuju kepala karena gravitasi.

Maka kalau sujud harus sabar. Minimal selama ucapan “Subhana rabiyal a’la” 3 kali. Di Madinah kalau shalat lebih lama dari pada di Mekkah. Kalau mau meniru, tirulah Madinah. Kalau sudah tasbih tiga kali tapi imam belum selesai sujud kita tambah do’a.

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( أَقْرَبُ مَا يَكُونُ العَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ )) . رَوَاهُ مُسْلِمٌ .

Dari Abu Hurairah r.a , Rasulullah SAW bersabda, “Keadaan seorang hamba paling dekat dengan Rabbnya adalah ketika ia sedang bersujud, maka perbanyaklah berdoa saat itu.” (HR. Muslim)

Kemudian sabar dalam ibadah akan dimudahkan berbuat amal kebaikan.
Rasulullah SAW bersabda:

إذا أراد الله بعبد خيرا استعمله قيل : ما يستعمله ؟ قال : يفتح له عملا صالحا بين يدي موته حتى يرضي عليه من حوله

“Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada seorang hamba, Allah jadikan ia beramal.” Lalu para sahabat bertanya, “Apa yang dimaksud dijadikan dia beramal?” Maka Rasulullah SAW bersabda, “Dibukakan untuknya amalan shalih sebelum meninggalnya sehingga orang-orang yang berada di sekitarnya ridha kepadanya.” (HR Ahmad, Thabrani)

Contohnya adalah orang yang sudah sepuh-sepuh tapi amalnya kenceng. Dia makin giat amalnya, bahkan ada yang membuat buku.

d. Sabar dalam Meninggalkan Maksiat.

Hikmah yang disampaikan para ulama :

– Meninggalkan Syirik dan Maksiat adalah 100%, tidak bertahap.
Kalau bertahap, tidak diterima amalnya.
Saya senang sekali bahwa Gus Baha’ menyampaikan bahwa Ruh kembali ke rumah pada malam jum’at itu hal yang ngawur tanpa dasar.
Akhirnya orang-orang baru percaya padahal dulu malah dibuat lagu :
.. Pendhak malem jum’at …
Untung sekarang tak ada lagi.

– Kalau Amal memang bertahap.
Misalnya mengaji ada dua hari Rabu dan Sabtu. Mungkin pilih satu dulu hari Sabtu, tapi istiqomah. Nanti ditambah perlahan-lahan.
Yang disenangi Allah adalah amal yang sedikit tapi istiqomah.

Nabi SAW bersabda :

وَاعْلَمُوا أَنَّ أَحَبَّ الْعَمَلِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ

“Dan ketahuilah bahwasanya amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang terus-menerus walaupun sedikit.” (HR. Muslim)

Ada orang yang istiqomah membaca Al Qur’an itu bagus. Mengaji cuma dua jam dalam sepekan, lumayan. Kalau Imam Syafi’i beliau mengaji tiap hari sampai beliau menyatakan :
“Orang yang hebat itu adalah orang yang bisa tidak menutup kelopak matanya dalam menuntut ilmu”.
Berarti kalau orang ngantukan pada saat menuntut ilmu adalah tanda orang tidak sukses.

e. Sabar dalam Qadarullah

Atau juga Sabar dalam musibah. Orang yang menerima musibah itu malah bagus karena dikehendaki oleh Allah.

Rasulullah SAW bersabda:

إذا أراد الله بعبده الخير عجل له العقوبة في الدنيا و إذا أراد بعبده الشر أمسك عنه بذنبه حتى يوافي به يوم القيامة

“Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada hamba-Nya, Allah akan segerakan sanksi untuknya di dunia. Dan apabila Allah menginginkan keburukan kepada hamba-Nya, Allah akan menahan adzab baginya akibat dosanya di dunia , sampai Allah membalasnya pada hari Kiamat.” (HR. At-Tirmidzi dan Al Hakim)

Dengan memandang hadits ini akan enak. Tidak berarti bahwa orang yang kena musibah itu karena berdosa. Bukan begitu, karena musibah itu urusan Allah.

Kalau musibah itu pasti siksaan maka semua orang jahat pasti banyak sakitnya. Kenyataannya orang-orang yang korupsi itu malah sehat-sehat.

Dengan ujian, Allah memberi keuntungan pada hamba supaya kejelekannya dihapus di dunia sehingga di akhirat sudah bersih.

Rasulullah SAW bersabda,

من يرد الله به خيرا يصب منه

“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan, Allah akan memberinya musibah.” (HR. Al-Bukhari).

Menurut saudara saya yang ulama, kalau ada orang yang banyak diuji maka dia bersih dari dosa-dosa.

f. Sabar dalam Jihad

Sudah didefinisikan oleh Imam Ibnu Attaimiah bahwa : Jihad adalah usaha yang bersungguh-sungguh sepenuh hati, sekuat tenaga untuk mencapai tujuan, yaitu ridha Allah.

Allah SWT berfirman:

وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِّنْ قَبْلِكَ فَصَبَرُوْا عَلٰى مَا كُذِّبُوْا وَاُ وْذُوْا حَتّٰۤى اَتٰٮهُمْ نَصْرُنَا ۚ وَلَا مُبَدِّلَ لِكَلِمٰتِ اللّٰهِ ۚ وَلَقَدْ جَآءَكَ مِنْ نَّبَاِ ى الْمُرْسَلِيْنَ

“Dan sesungguhnya rasul-rasul sebelum engkau pun telah didustakan, tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Dan tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat Allah. Dan sungguh, telah datang kepadamu sebagian dari berita rasul-rasul itu.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 34)

Salah satu jihad yang penting adalah memperjuangkan cita-cita.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK




LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here