Dr. dr. H. Masrifan Djamil MMR, MPH

15 Jumadil Awwal 1442 / 30 Desember 2020



Qalbu adalah Komandan

Jangan sampai kita bingung tentang beda antara Qalbu dan Akal. Akal adalah bagian dari Fuad, sedangkan Fuad adalah bagian dari Qalbu.

Allah SWT berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَـيْسَ لَـكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗ اِنَّ السَّمْعَ وَا لْبَصَرَ وَا لْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰٓئِكَ كَا نَ عَنْهُ مَسْئُوْلًا

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’ 17: Ayat 36)

Fuad adalah bagian yang membangun pemikiran. Kalau dikaitkan dengan ilmu kedokteran seolah-olah tidak cocok, dimana Akal itu ada di Otak, lalu Qalbu itu dimana?
Qalbu yang didefinisikan para ulama adalah komandan dari Akal. Kalau kita tidak mengembangkan Fuad, maka pekerjaan Akal hanya berhenti di akal dan tidak mencapai Qalbu. Maka kita kenal ada Stephen Hawking yang luar biasa akalnya tapi dia atheis.

Tugas Qalbu adalah menjangkau apa yang tidak dapat dijangkau oleh Akal, yaitu Iman. Dalam iman itu ada suatu hal yang penting, yaitu masalah Sabar yang nanti akan kita bahas.
Dalam berbagai Surat dalam Al Qur’an, Qalbu bisa memisah orang beriman dan tidak beriman, antara lain dalam Al Maidah ayat 41:

يٰۤـاَيُّهَا الرَّسُوْلُ لَا يَحْزُنْكَ الَّذِيْنَ يُسَا رِعُوْنَ فِى الْكُفْرِ مِنَ الَّذِيْنَ قَا لُوْۤا اٰمَنَّا بِاَ فْوَاهِهِمْ وَلَمْ تُؤْمِنْ قُلُوْبُهُمْ  ۛ 

“Wahai Rasul ! Janganlah engkau disedihkan karena mereka berlomba-lomba dalam kekafirannya. Yaitu orang-orang munafik yang mengatakan dengan mulut mereka, Kami telah beriman, padahal hati mereka belum beriman; .” (QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 41)

Imam Ghozali membagi Qalbu jadi empat bagian : Shadr, Fuad, Nafs dan Hawa. Perbedaan antara Nafs dan Hawa, yaitu bahwa Hawa itu Nafsu sedangkan Nafs itu keseluruhannya.
Qalbu sering digambarkan dengan hati, walaupun kita tidak mengatakan itu. Imam Ghozali mengatakan seperti cemara. Sedangkan ustadz Zaenal Muttaqin mengikuti pendapat bahwa qalbu adalah jantung. Saya sendiri mengikuti pendapat Imam Ghozali dan juga Gus Mus bahwa Qalbu itu ghoib, bukan Fisik. Dalam qalbu berisi Sabar, Syukur, Berani, Malu, Cinta dan Khouf (takut – takwa).

Kita diingatkan kehebatan orang yang beriman karena dia mempunyai dua hal yang sangat luar biasa, yaitu kalau mendapat kenikmatan dia bersyukur dan kalau mendapatkan kesusahan dia bersabar. Sehingga ada ulama yang menggambarkan Sabar dan Syukur sebagai dua sayap dari seekor burung. Kalau salah satunya tidak ada maka dia tidak bisa terbang.

Berangkat dari dua hal ini (Sabar dan Syukur) maka kita akan belajar bagaimana qalbu kita dilatih berbagai hal tentang keberhasilan mukmin yang nanti di akhirnya dapat menemui Allah. Yang menemui Allah itu hanya dengan qalbun Salim.

Kalau qalbu sehat maka otomatis dada akan longgar dan mudah menerima islam tanpa reserve. Allah SWT akan “yasyroh shodrohuu lil-islaam” :

فَمَنْ يُّرِدِ اللّٰهُ اَنْ يَّهْدِيَهٗ يَشْرَحْ صَدْرَهٗ لِلْاِ سْلَا مِ ۚ 

“Barang siapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah, Dia akan membukakan dadanya untuk menerima Islam..” (QS. Al-An’am 6: Ayat 125)

Abu Bakar r.a adalah salah satu contoh orang yang dibuka dadanya dalam menerima islam. Sedemikian besar keimanan beliau sampai berkata :
“Andaikata Muhammad mengatakan bahwa dibalik gunung itu ada pasukan yang akan menyerbu kita sekarang ini, aku percaya”.

Posisi seperti Abu Bakar r.a ini tidak dimiliki oleh semua orang, karena sahabat yang lain mengalami peristiwa penentangan dulu. Misalnya Umar bin Khattab r.a. Tetapi begitu beliau mendengarkan Surat Thaha dia langsung menerima islam karena diberi hidayah oleh Allah.
Hal ini terjadi karena beliau mau membaca apa yang sedang dibaca Fatimah, adiknya dan keluarganya.

Al Qur’an sangat luar biasa fungsinya.
Allah SWT berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا النَّا سُ قَدْ جَآءَتْكُمْ مَّوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَشِفَآءٌ لِّمَا فِى الصُّدُوْرِ ۙ وَهُدًى وَّرَحْمَةٌ لِّـلْمُؤْمِنِيْنَ

“Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran Al-Qur’an dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.” (QS. Yunus 10: Ayat 57)

Al Qur’an adalah :
– Mau’izhah atau nasehat berupa kebaikan-kebaikan dari Tuhan yang kita sembah.
– Syifa atau Obat untuk dada / hati.
– Huda atau Petunjuk
– Rahmat bagi orang beriman. Karena untuk orang yang tak beriman dia tak mendapat apa-apa.
Dan makin lama makin terbukti bahwa Al Qur’an dari hari demi hari menunjukkan kebenarannya.

Namun pada prakteknya, banyak mukminin yang percaya, tapi belum 100%. Ada hal-hal yang dia tak mau percaya secara total.
Misalnya dia muslim baik, tapi soal warisan dia tak mau terima. Mintanya antara lelaki dan perempuan disamakan.

Demikian terjadi di banyak hal, kita menerima islam tapi menolak sebagian aturannya. Padahal kita diminta total menerima Al Qur’an secara penuh dan mengamalkannya.


Tentang Kesabaran

– Manusia beda dengan Hewan

Kalau kita bicara sabar, akan mengatakan bahwa kita sudah sabar. Ini terjadi karena “given”, sabar itu memang diberikan Allah kepada semua manusia. Ini membedakan dengan hewan yang tidak diberi kesabaran.

Maka dalam kisah Tarzan, walaupun dia dibesarkan oleh binatang , dia makan menggunakan tangan. Itu adalah bentuk kesabaran. Kalau binatang langsung dengan mulutnya. Memang ada kelebihan binatang, bila kenyang dia berhenti makan. Ada manusia dulu di Romawi mereka punya budaya kalau Pesta, mereka makan sampai kenyang lalu dimuntahkan. Kemudian mereka balik ke Pesta lagi.

Itu hawa Nafsu manusia, tak ada kenyangnya. Sekarang terbiasa bagi kita untuk memanjakan perut kita dengan kuliner. Padahal dulu guru kita mengajarkan agar tidak berfikir makanan terus, niscaya akan jadi “abdul butun” (hamba perut).
Mudah-mudahan kita tidak begitu, kita hanya makan sesuai kebutuhan. Hidup bukan untuk makan, akan tetapi makan untuk hidup.

Semua manusia punya kesabaran, kalau tidak ada kesabaran tentu tidak dapat menjalani makan atau sekolah.
Memang ada kalanya seperti berlomba marathon, ada yang kesabarannya bisa sampai jauh, ada yang hanya bertahan sebentar sudah tak sabar.

Dalam mencari rizki juga ada yang sukses dalam bentuk sabar. Tetapi ada yang mengatakan : “Mencari yang haram saja susah, apalagi mencari yang halal?” Ini adalah ungkapan ketidak-sabaran. Menjahit bajupun kalau tidak sabar tak akan ada pola, tak ada model. Semua berpakaian seperti Flint Stone.

– Sabar diperkuat dengan Nilai.

Salah satunya dengan tradisi dan budaya. Tapi yang terbaik menurut islam adalah dengan akhlak. Maka disebut akhlakul karimah.
Hati-hati dengan nafsu atau al Hawa karena dia bisa mengacaukan segalanya bahkan mengambil alih kendali komandonya.

Nabi SAW bersabda,

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah qalbu” – (HR. Bukhari Muslim).


Kita membutuhkan pertolongan Allah

Hawa selalu bersinergi dengan syaithon. Rasulullah SAW menyampaikan khabar kepada kita :
“Kalau orang itu marah maka sebenarnya dia itu sedang dikalahkan oleh syaithon yang berada dalam aliran darahnya”.

Rasulullah SAW bersabda “Ada kalimat kalau diucapkan niscaya akan hilang kemarahan seseorang, yaitu A’udzu billah minasy syaithaanir rajim.”( HR. Bukhari Muslim).

Supaya kita perkuat hati kita saat berdo’a pagi dan petang, yang dibaca pada awalnya adalah :

– “A’udzu billah minasy syaithaanir rajim.”
– Ayat Kursi (Surat Al Baqarah 255)
– Surat Al Ikhlas (3x)
– Surat Al Falakh (3x)
– Surat An Nas (3x)

Ini dalam rangka kita meruqyah diri sendiri supaya tidak diganggu setan sepenuh hari itu. Karena Rasulullah mengatakan sampai sorenya, dan ketika do’a petang sampai paginya. Jadi kita tidak mungkin berusaha sendiri. Harus dengan pertolongan Allah.

Maka dalam salah satu do’anya :

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ أَبَدًا

Yaa Hayyu Yaa Qoyyum, bi-rohmatika as-taghiits, wa ash-lih lii sya’nii kullahu wa laa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ainin Abadan.

Artinya:

“Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri, dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekali pun sekejap mata tanpa mendapat pertolongan dariMu.”

Tapi nafsu juga ada manfaatnya, salah satu manfaatnya adalah untuk melahirkan keturunan. Semua makhluk hidup diberi nafsu oleh Allah untuk mempertahankan dirinya kemudian berkembang biak. Tetapi kalau nafsu ini disimpangkan maka nafsu menjadi tidak terkendali. Allah SWT berfirman:
“a fa ro`aita manittakhoza ilaahahuu hawaahu..?” (Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya?) (QS. Al-Jasiyah 45: Ayat 23)


Dimensi Sabar Sangat Luas

Sejak zaman Nabi Adam a.s sudah ada ujian-ujian kesabaran. Nabi Adam a.s dan istrinya di Surga dulu mereka berdua.

Allah SWT berfirman, melarang Nabi Adam a.s makan buah Kuldi.

وَقُلْنَا يٰۤـاٰدَمُ اسْكُنْ اَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَـنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا ۖ وَلَا تَقْرَبَا هٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُوْنَا مِنَ الظّٰلِمِيْنَ

“Dan Kami berfirman, Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga dan makanlah dengan nikmat yang ada di sana sesukamu. Tetapi janganlah kamu dekati pohon ini, nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim!” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 35)

Tetapi kemudian setan menggoda mereka. Setan membujuk agar Nabi Adam a.s makan buah Kuldi itu. Bujukan setan mengatakan bahwa bila makan buah itu maka Nabi Adam a.s akan kekal.

فَاَ زَلَّهُمَا الشَّيْطٰنُ عَنْهَا فَاَ خْرَجَهُمَا مِمَّا كَا نَا فِيْهِ ۖ وَقُلْنَا اهْبِطُوْا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۚ وَلَـكُمْ فِى الْاَ رْضِ مُسْتَقَرٌّ وَّمَتَا عٌ اِلٰى حِيْنٍ

“Lalu, setan memerdayakan keduanya dari surga sehingga keduanya dikeluarkan dari ketika keduanya di sana (surga). Dan Kami berfirman, Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain. Dan bagi kamu ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang ditentukan.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 36)

Nabi Adam a.s diturunkan ke bumi pada tempat yang terpisah dari Hawa istrinya. Orang Jawa menyebut Siti Hawa, dimana Siti berasal dari bahasa Arab Sayyidati (junjungan perempuan). Setelah turun di bumi Nabi Adam a.s mencari isterinya dan ketemu di Mekkah. Pencarian itu tentu memerlukan kesabaran, zaman dulu tak ada handphone maka betapa susahnya pencarian itu.

Banyak yang tertipu oleh Syaithon.
Anak-anak Nabi Adam a.s. juga tertipu. Ada yang sabar dengan cara berkurban memberikan yang terbaik yang dimilikinya, kambing yang terbagus dikurbankan hanya untuk Allah. Tetapi saudaranya tidak, dia hanya berkurban buah-buahan seadanya. Akhirnya Allah memberi kabar kepada Nabi Adam a.s bahwa yang diterima adalah kurbannya Habil. Maka Qabil marah dan terjadilah pembunuhan yang pertama pada anak manusia.

Peristiwa di atas sudah disetting oleh Allah seperti tertulis dalam ayat 36 surat Al Baqarah di atas : “Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain”.
Jadi memang tidak ada selesainya, dunia ini tidak akan berhenti dari permusuhan.

Nabi Nuh a.s dengan perjuangannya berdakwah 900 tahun lebih. Kemudian beliau disuruh membuat kapal walaupun ada di gunung. Beliaupun mengerjakan kapal itu walaupun orang-orang mengejeknya. Tapi Nabi Nuh a.s tetap sabar mengerjakan kapal dan kesabarannya menjadikan pertolongan bagi Nabi Nuh a.s

Nabi Musa a.s melarikan diri dari istana dan menghambakan diri kepada Nabi Ayub a.s selama 8 tahun tidak dibayar. Beliau jalani dengan sabar tanpa protes. Di akhir kisah beliau dinikahkan dengan salah satu anak Nabi Ayub a.s dan diberi Tongkat sakti untuk menghadapi Fir’aun yang sudah melampaui batas.

Nabi Isa a.s ujiannya juga kesabaran. Apalagi Nabi Muhammad SAW, beliau 13 tahun disakiti bahkan oleh paman- pamannya sendiri Abu Jahal dan Abu Lahab. Tetapi beliau tetap sabar. Dilempari kotoran hewan, tetap sabar. Ketika hijrah pertama kali ke sekitar Mekkah (Thaif) beliau malah dihina dan dilempari batu. Akhirnya beliau hijrah ke Madinah.

Di Madinah beliau berjuang menegakkan Tauhid dan amal sholeh. Kalau orang sudah mencapai tingkatan bertauhid dan beramal sholeh maka nanti otomatis akan bersikap “Sami’na wa Atho’na” (kami mendengar dan kami taat). Kemudian 10.000 orang dibawa ke Mekkah pada tahun 8 Hijriah dan Mekkah akhirnya menyerah.

Luar biasanya meskipun dulu Rasulullah dihina dan disakiti orang Mekkah, ketika berhasil menaklukkan Mekkah beliau berkata diluar dugaan :
“Siapa yang berlindung di rumahnya Abu Sufyan maka mereka selamat. Siapa yang berada di Masjidil Haram maka mereka selamat.
Siapa yang di rumahnya sendiri dan tidak keluar dari rumahnya maka mereka selamat”.

Jadi tidak ada pertumpahan darah. Dan hal itu dicatat oleh sejarah, bahwa penaklukan Mekkah satu-satunya penaklukan tanpa pertumpahan darah. Dilain pihak kita melihat bagaimana pasukan-pasukan NATO melakukan pengeboman di Timur Tengah. Mereka menewaskan orang tua, wanita hamil, anak-anak semua dibom. Islam tidak mengajarkan seperti itu.

Nabi Muhammad SAW berangkat hijarah ke Madinah pada saat usia 53 tahun. Beliau berjalan hampir 500 km. Hanya membawa se ekor onta yang dinaiki bergantian dengan Abu Bakar r.a. Di Madinah selama 10 tahun masih melakukan peperangan. Diantaranya beliau terjun sebagai Panglima perang.

Jadi usia 53 tahun menurut Rasulullah belum tua, karena justeru dimulainya perjuangan yang sangat keras. Tapi berakhir dengan bahagia dan kita alhamdulillah menjadi muslim.
Maka kalau ada orang atau status WA yang mengajak-ajak umur 50 tahun ke atas agar bersenang-senang saja, jangan dituruti. Ada betulnya tapi sedikit, salahnya banyak. Karena justru kita harus membuat persiapan. Kita tidak tahu kapan kita akan meninggal dunia.


Bersambung Bagian ke 2

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here