Dr. H. Zuhad Masduki MA

8 Jumadil Awwal 1442 / 23 Desember 2020



Tafsir Surat At Tin ayat ke 1,2 dan 3.

وَا لتِّيْنِ وَا لزَّيْتُوْنِ ۙ (1) وَطُوْرِ سِيْنِيْنَ ۙ (2) وَهٰذَا الْبَلَدِ الْاَ مِيْنِ ۙ (3)

“Demi buah Tin dan buah Zaitun, demi Gunung Sinai, dan demi negeri (Mekah) yang aman ini.” (QS. At-Tin 95: Ayat 1-3)

Surat At Tin ini bicara tentang manusia dengan potensi baik dan buruknya. Surat ini dimulai dengan sumpah. Kita sudah ketemu dengan beberapa surat yang dimulai dengan sumpah.

Unsur sumpah ada empat :
– Yang bersumpah (yaitu Allah)
– Instrument sumpah, disini huruf Wau yang dipakai dan artinya demi.
– Obyek sumpah. Di dalam surat At Tin ini obyek sumpahnya ada empat : At Tin, Az-Zaitun, Turisinin dan al Baladul amin (kota Mekkah).
– Jawab sumpah. Dalam hal ini ayat ke empat, ayat tentang penciptaan manusia.

Ada seorang mufasir perempuan dari Mesir, namanya Aisyah bintusy Syathi. Dia menjelaskan bahwa sumpah- sumpah Allah dalam Al Qur’an harus dicari hubungannya antara obyek sumpah dan jawab sumpah.

Ada kaitan antara obyek sumpah dan jawab sumpah. Berarti antara penyebutan At Tin, Az-Zaitun, Turisinin dan Al Baladul amin dengan Penciptaan manusia.

Allah bersumpah dengan menggunakan nama At Tin dan Az- Zaitun, tumbuhan atau buah yang mempunyai banyak manfaat yang tumbuh di Timur Tengah, di daerah Syam di Palestina. Ini sebagai isyarat bahwa manusia yang diciptakan oleh Allah juga memiliki potensi untuk dapat memberi banyak manfaat seperti At Tin dan Zaitun itu.

Dengan syarat jika manusia itu memanfaatkan potensinya. Maka tentulah dia akan memberikan banyak manfaat seperti buah Tin dan buah Zaitun. Tetapi kalau manusia tidak mau mengembangkan dan memanfaatkan potensinya tentu dia tidak akan memberi banyak manfaat kepada kemanusiaan.

Ini pendapat Aisyah Bintusy Syathi.
Tafsirnya namanya Tafsir al Bayani. Dia sudah menafsirkan 14 surat, termasuk surat-surat yang ada di Jus Amma (jus 30).

Obyek sumpah yang ketiga adalah Tuurisinin. Tuurisinin adalah nama bukit, tempat dimana waktu itu Nabi Musa diajak bicara langsung oleh Allah SWT dan menerima kitab Taurat. Maka dari kata Tuur itu kitab sucinya Nabi Musa disebut Taurat.

Obyek sumpah yang keempat adalah Al Baladul amin. Yang dimaksud adalah kota Mekkah, dimana Nabi Muhammad dilahirkan dan diutus menjadi Rasul. Al Qur’an pertama kali juga turun di Mekkah ketika beliau sedang beribadah di Gua Hira.

Allah bersumpah dengan menyebut tempat-tempat suci : Turisinin dan al Baladul amin (kota Mekkah) , adalah tempat memancarnya cahaya Allah yang terang benderang.

Ayat -ayat ini seakan-akan menyampaikan pesan bahwa manusia yang diciptakan Allah dalam bentuk fisik dan psikis yang sebaik-baiknya akan bertahan dalam keadaan seperti itu selama mereka mengikuti petunjuk-petunjuk yang disampaikan kepada Para Nabi tersebut di tempat- tempat suci itu. Kalau manusia tidak mengikuti petunjuk yang diberikan kepada para Nabi itu maka dia tidak akan bisa mempertahankan kondisinya sebagai diciptakan dalam keadaan fisik dan psikis yang paling baik.


Tafsir Surat At Tin ayat ke empat

لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِ نْسَا نَ فِيْۤ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ ۖ 

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya,” (QS. At-Tin 95: Ayat 4)

Jawab sumpahnya ada dalam ayat keempat.
Kalau Allah menggunakan kata Kami, artinya ada dua :
– li takzim, mengagungkan Allah
– lil musyaroqah artinya ada keterlibatan selain Allah di dalam pelaksanaan aktivitas-aktivitas yang ditunjuk oleh kata ganti kami.

Allah menciptakan manusia, Allah juga melibatkan pihak lain, yaitu bapak ibunya.

Di Surat Al Mukminun ayat ke 14, Allah sendiri menguatkan kaidah Kami yang bermakna keterlibatan pihak lain tadi.

 فَتَبٰـرَكَ اللّٰهُ اَحْسَنُ الْخٰلِقِيْنَ ۗ 

“Maha Suci Allah, Pencipta yang paling baik.” (QS. Al-Mu’minun 23: Ayat 14)

Allah adalah pencipta terbaik, ini adalah comparative, bentuk kalimat Superlative atau membuat perbandingan. Berarti ada pencipta yang levelnya tidak paling baik. Siapa? Diantaranya manusia itu sendiri. Maka dalam hal reproduksi Allah tidak bertindak sendirian, tetapi Allah melibatkan pihak lain. Pihak lain itu bapak ibunya. Cuma peran dari bapak ibu tidak seperti Allah SWT.

Bapak ibu ini sebagai alat atau perantara. Tetapi bapak ibu mempunyai peranan yang cukup berarti dalam penciptaan anak-anaknya. Termasuk dalam penyempurnaan keadaan fisik dan psikisnya. Ada peran-peran orang tua disana, jadi tidak sembarangan.

Kalau kita membaca tulisan-tulisan para ahli diakui bahwa keturunan ditambah dengan pendidikan merupakan dua faktor yang sangat dominan dalam pembentukan fisik dan kepribadian si anak. Oleh karena itu dua-duanya harus diperhatikan.

Yang menurun pada anak adalah Gen dari orang tuanya, maka anak akan selalu punya kemiripan dengan orang tuanya dalam berbagai hal : Warna kulitnya, akhlaknya, tingkah lakunya dan lain sebagainya.

Kalau kaidah ini kita ikuti maka akan mengubah kecenderungan teology kita dalam melihat hubungan antara Allah dengan manusia.

Selama ini keyakinan mayoritas umat islam bahwa Allah bertindak menurut kehendaknya. Dalam arti kehendak mutlak Allah SWT. Tapi kalau kita mengikuti rumus tadi, Allah itu menciptakan Sistem. Maka Allah juga tidak semaunya sendiri. Sistem ciptaan Allah ini berjalan secara konsisten di dalam kehidupan sekarang.

Sistem berjalan dengan pasti terhadap alam semesta. Kalau kita berjalan saat maghrib lalu kita berdo’a minta agar segera Subuh, tidak bisa juga. Mesti menunggu sekian jam untuk masuk waktu Subuh. Kalau kita berada waktu Subuh lalu minta maghrib juga tidak bisa. Kita harus menunggu sepuluhan jam. Do’a tidak akan mengubah sistem yang akan terjadi, yang telah berjalan secara pasti.

Kita menjadi mengikuti Teology Rasional dan kita ikut bertanggung jawab berbagai kegiatan yang ditunjuk oleh kata ganti Kami tadi.

Allah berfirman telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik- baiknya fisik dan psikisnya. Fisik dan psikis manusia paling sempurna dibanding makhluk-makhluk yang lain.
Ini difahami oleh para ulama bahwa fungsi-fungsi dari fisik juga paling sempurna dibanding yang dimiliki oleh hewan.

Manusia yang diciptakan oleh Allah juga dilengkapi dengan potensi- potensi. Potensinya ada empat : Daya akal, daya qolbu, daya hidup dan daya fisik. Makhluk yang lain tidak punya secara lengkap.

Psikis juga sangat penting. Manusia tidak hanya dilihat dari kecantikan fisiknya saja. Orang kalau hanya fisiknya saja yang bagus tetapi psikisnya tidak bagus juga akan dikecam dalam Al Qur’an

Allah SWT berfirman:

وَاِ ذَا رَاَ يْتَهُمْ تُعْجِبُكَ اَجْسَا مُهُمْ ۗ وَاِ نْ يَّقُوْلُوْا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ ۗ كَاَ نَّهُمْ خُشُبٌ مُّسَنَّدَةٌ ۗ يَحْسَبُوْنَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ ۗ هُمُ الْعَدُوُّ فَا حْذَرْهُمْ ۗ قَا تَلَهُمُ اللّٰهُ ۖ اَنّٰى يُـؤْفَكُوْنَ

“Dan apabila engkau melihat mereka, tubuh mereka mengagumkanmu. Dan jika mereka berkata, engkau mendengarkan tutur katanya. Mereka seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa setiap teriakan ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh, maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka dapat dipalingkan dari kebenaran ?” (QS. Al-Munafiqun 63: Ayat 4)

Ada peran orang tua di dalam menciptakan anak, karena Gen yang menurun kepada anak-anak.
Maka Nabi Muhammad SAW juga memberikan petunjuk -petunjuk kepada kita dalam hal reproduksi.

Misalnya memilih pasangan hidup Rasulullah SAW bersabda :
“Pilihlah tempat untuk menanam benihmu karena sesungguhnya tabiat seseorang bisa menurun ke anak”.
Kriteria untuk memilih ada empat.

Dalam hadits lain beliau juga bersabda :
“Jauhi oleh kalian khadhraa`ad diman.” Mereka berkata, “Apakah khadhraa`ad diman wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Wanita cantik yang tumbuh dalam lingkungan buruk.” (Hadits Ad Daraquthny, Ibnu Adiy dan Ad Dailamy)

Wanita cantik yang tumbuh di lingkungan buruk jangan dipilih karena nanti anak-anakmu akan ketularan dari apa yang mereka miliki (psikisnya).

Manusia diciptakan dalam fisik dan psikis yang terbaik terkait karena fungsi dan peran manusia yang akan diangkat sebagai khalifah di muka bumi. Maka supaya tugas kekhalifahan berhasil, manusia dilengkapi dengan anugerah-anugerah lebih dibanding dengan yang lain.


Tafsir Surat At Tin ayat kelima

ثُمَّ رَدَدْنٰهُ اَسْفَلَ سَا فِلِيْنَ ۙ 

“kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya,” -(QS. At-Tin 95: Ayat 5)

Disini Allah juga menggunakan kata ganti Kami lagi. Kalau kita pahami seperti kaidah tadi berarti kembalinya manusia ke tingkat yang serendah -rendahnya juga bukan semata-mata tindakan Allah sefihak, tetapi juga melibatkan usaha-usaha dari manusia itu sendiri.

Disini ada perdebatan dikalangan para ulama tentang apa yang dimaksud dengan “asfala saafiliin”.

Ada tiga pendapat :
– Keadaan fisik dan psikis disaat tuanya. Seperti dikala dia masih bayi. Orang yang sudah tua, jompo kemudian dia kembali seperti waktu dia masih bayi. Pendapat ini kurang diterima oleh para pakar tafsir.
– Neraka dan Kesengsaraan. Ini juga ditolak oleh mayoritas mufasir karena kita belum pernah masuk neraka.
– Keadaan ketika Ruh ilahi belum lagi menyatu dengan diri manusia. Ini yang paling diterima oleh para mufasir.

Manusia disebut mengalami dua fase/ proses. Pertama penciptaan fisiknya dan yang kedua peniupan Ruh ilahi.
Ketika manusia masih berupa fisik, maka kecenderungannya tiga : Makan, minum dan Sex.

Ketika manusia sudah dihembuskan kepadanya Ruh ilahi, maka Ruh ilahi inilah yang akan mengantar manusia untuk selalu berhubungan dengan penciptanya. Karena jiwa tersebut bersumber langsung dari Allah SWT.

Yang menurut firman Allah : “mir ruuhii” (Ruh ciptaanku). Allah SWT berfirman:

فَاِ ذَا سَوَّيْتُهٗ وَنَفَخْتُ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِيْ فَقَعُوْا لَهٗ سٰجِدِيْنَ

“Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan Aku telah meniupkan roh ciptaan-Ku ke dalamnya, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” (QS. Al-Hijr 15: Ayat 29)

Dengan daya tarik menuju Allah SWT inilah maka manusia akan meningkat menuju ke tingkat kesempurnaan (ahsanu taqwiim).

Manusia mencapai ke tingkat yang setinggi-tingginya, kata para ulama jika manusia bisa menyinkronkan perpaduan yang seimbang antara kebutuhan jasmani dan kebutuhan ruhani. Antara kebutuhan fisik dan kebutuhan jiwa dua-duanya dipenuhi.

Kalau manusia hanya memenuhi makan, minum dan sex maka manusia masih sama saja dengan hewan. Jika dia sudah memenuhi kebutuhan berinteraksi dengan Allah barulah derajadnya terangkat menjadi ahsanu taqwiim.


Tafsir Surat At Tin ayat ke enam.

اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ فَلَهُمْ اَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُوْنٍ ۗ 

“kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan; maka mereka akan mendapat pahala yang tidak ada putus-putusnya.” (QS. At-Tin 95: Ayat 6)

Ayat ini merupakan pengecualian, siapa saja yang tidak akan dikembalikan ketingkat yang serendah- rendahnya, yaitu orang yang beriman dan beramal sholeh.

Orang yang beriman berarti hidupnya mengikuti tuntunan keimanannya, yang diturunkan oleh Allah SWT lewat Nabi-Nabi nya. Imannya ditunjang dengan amal sholeh. Amal sholeh adalah cermin dari pelaksanaan tuntutan iman.

Amal sholeh adalah penggunaan daya-daya manusia, sesuai dalil Al Qur’an, dalil Hadits dan dalil Akal sehingga penggunaan daya-daya tadi akan berguna bagi dirinya , bagi keluarganya, bagi masyarakat secara luas. Amal sholeh ini berkaitan dengan bidang akidah, dengan ibadah dan berkaitan dengan bidang akhlak.

Bagi mereka pahala yang tidak putus- putusnya. Ini menunjukkan bahwa pahala yang didapat oleh orang yang beriman dan beramal sholeh itu jauh lebih banyak, lebih bermutu dibanding apa yang dia lakukan di dalam kehidupan di dunia ini.

Rasulullah SAW bersabda, “Amal seseorang tidak akan memasukkan seseorang ke dalam surga.”
“Engkau juga tidak wahai Rasulullah?”, tanya beberapa sahabat.
Beliau menjawab, “Aku pun tidak. Itu semua hanyalah karena karunia dan rahmat Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Orang mendapat pahala besar, masuk surga dan sebagainya itu karena rahmat Allah SWT. Karena balasan di akhirat itu tidak sebanding dengan amal yang dilakukan oleh manusia dalam kehidupan di dunia ini.

Orang yang beriman dan beramal sholeh dapat menjaga iramanya. Memenuhi kebutuhan jasmaninya dan juga memenuhi kebutuhan ruhaninya.


Tafsir Surat At Tin ayat ke tujuh.

فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِا لدِّيْنِ

“Maka apa yang menyebabkan mereka mendustakanmu tentang hari Pembalasan setelah adanya keterangan-keterangan itu?” (QS. At-Tin 95: Ayat 7)

Ini pertanyaan untuk orang-orang yang mendustakan hari pembalasan. Tidak beriman kepada Nabi Muhammad SAW dan tidak beriman kepada Allah SWT. Setelah ada penjelasan -penjelasan yang begitu detail dari Allah SWT maka mereka disoal :
“Maka apa yang menyebabkan mereka mendustakanmu tentang hari Pembalasan setelah adanya keterangan-keterangan itu?”


Tafsir Surat At Tin ayat ke delapan.

اَلَيْسَ اللّٰهُ بِاَ حْكَمِ الْحٰكِمِيْنَ

“Bukankah Allah hakim yang paling adil?” (QS. At-Tin 95: Ayat 8)

Allah adalah hakim yang memberi putusan -putusan seadil-adilnya. Dan aturannya sudah digelar dalam dunia ini. Siapa yang mengikuti maka akan mendapat ridhonya dan siapa yang tidak mengikuti akan mendapatkan murkanya. Semua atas dasar pilihan bebas dari manusia, bukan karena paksaan Allah SWT.

Menurut Imam Al Ghozali, ulama yang hidup abad ke 5 dan wafat abad ke 6 Hijrah. Beliau mengatakan : Dari ayat terakhir ini muncul konsep Qadha, Qadar dan Ikhtiar

Qadha artinya Sistem yang diciptakan oleh Allah SWT. Qadar ketika Qadha diimplementasikan dalam kehidupan ini, maka dia menjadi Takdir. Ikhtiar adalah memilih dari aneka macam sistem yang ditetapkan oleh Allah SWT. Siapa yang mengikuti sistem maka dia juga akan mendapatkan keuntungan di dunia ini. Dan nanti juga akan mendapatkan keuntungan di akhirat. Inilah salah satu bentuk keadilan Allah SWT.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK










LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here