KH. Anang Rikza Masyhadi

4 Jumadil Awwal 1442 / 19 Desember 2020



Seringkali orang itu berfikir keras bagaimana menyiapkan hidup yang baik, tetapi lupa bagaimana menyiapkan mati yang baik.
Bagi kita orang-orang beriman, kematian itu bukan akhir, justeru kematian adalah awal. Ini adalah soal mindset, karena bagi orang-orang kafir, kematian adalah akhir. Maka mereka menikmati saja apa yang ada sekarang ini senikmat-nikmatnya, sebebas- bebasnya mumpung masih hidup.

Tetapi dalam mindset dan perspektif orang-orang beriman tidak seperti itu. Kematian adalah awal, karena akan ada kehidupan setelah kematian itu. Dan itulah kehidupan yang hakiki, yang bersifat abadi.

Jadi sesungguhnya bagi orang orang yang beriman, dunia ini menurut bahasanya Rasul : ‘dunia mazroatul akhirat’ (dunia adalah ladang untuk akhirat). Sebagai ladang, maka kita harus bercocok tanam di dunia, tetapi memetiknya bukan di dunia, tetapi di akhirat kelak. Itulah cara pandang atau perspektif orang-orang beriman melihat kehidupan ini.

Ada satu hadits Rasulullah SAW

لَا تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ عَنْ عُمُرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ جَسَدِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ فِيْهِ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ (رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ وَالتِّرْمِذِيُّ)

“Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak dari tempat hisabnya pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai empat hal: (1) umurnya, untuk apakah ia habiskan, (2) jasadnya, untuk apakah ia gunakan, (3) ilmunya, apakah telah ia amalkan, (4) hartanya, dari mana ia peroleh dan dalam hal apa ia belanjakan” (HR Ibnu Hibban dan at-Tirmidzi).

Umur tidak ditanya darimana karena umur itu “given” dari Allah. Fisik juga tidak ditanya kamu dapat sehat dari mana. Maka yang ditanya adalah ‘apa’ yang dilakukan dengan fisik itu. Sama dengan ilmu, tidak ditanya darimana kita dapatkan. Maka ilmu boleh didapatkan dari siapa saja dan dari mana saja. Yang penting ilmu itu digunakan untuk apa.

Khusus untuk harta, Allah SWT menanyakan kepada kita dari dua sisi. Dari inputnya dan dari outputnya. Dari mana dia mendapatkannya dan kemana dia akan menafkahkannya.
Kita tidak akan membahas semuanya empat hal, kita hanya akan membahas tentang harta. Dan tentang hartapun hanya akan kita bahas kemana dia akan membelanjakan. Tentang darimana dia mendapatkan itu adalah bahasan tersendiri tentang al kasb wal amwal , al kasb walrizky.

Seringkali kita memahami sesuatu dalam perspektif yang kurang tepat. Dalam bahasa Arab sebetulnya ada banyak terminology. Ada yang disebut dengan rizky dan ada yang disebut dengan kasb. Kasb dalam bahasa Arab bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tidak ada kosa kata yang pas.

Kasb adalah hasil usaha, belum menjadi rizky. Kalau orang berdagang kemudian dia mendapatkan untung dari dagangannya maka hasil atau untung dagangannya adalah kasb, belum tentu merupakan rizky. Akan menjadi rizky apabila dia telah digunakan pada bidang-bidang tertentu sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah dan Rasulnya.

Banyak yang terjadi orang mendapat hasil usaha yang banyak, tetapi ternyata hasilnya tidak mendorong dia untuk mendekatkan diri kepada Allah, berarti bukan rizky. Maka bisa jadi ada orang kaya kasb atau orang kaya rizky.
Dulu ulama banyak ditanya, sebetulnya yang disebut kaya itu apa?

Dijawab oleh Imam Ibnu Qudamah r.a
“Kekayaan adalah apa yang kamu infakkan di jalan Allah, bukan apa yang kamu miliki.”

Yang kamu miliki bukan kekayaan karena dia bisa musnah, dia bisa hilang, dia bisa rusak. Kalau kita meninggal, kekayaan berpindah kepada ahli waris atau rusak, atau hilang. Tetapi apa yang kita sedekahkan sesungguhnya adalah harta yang milik kita. Itulah kekayaan kita.


Kemana Harta kita belanjakan dalam rangka Persiapan Sebelum Mati?

Dari Hadits Rasulullah SAW tadi kalau kita skemakan harta yang dibelanjakan akan seperti berikut ini.
Kita ada 4 pilihan sikap perilaku terkait harta kita sebelum kematian.

Pilihan-pilihan itu adalah :
1. Harta diwariskan.
2. Harta dihibahkan
3. Harta diwasiatkan
4. Harta diwakafkan
Kita bisa memilih salah satu ataupun memilih semua. Ada sebagian harta yang dihibahkan, ada harta yang diwasiatkan, ada harta yang diwakafkan dan ada harta yang diwariskan.

Harta yang diwariskan ketika terjadi kematian bersifat mutlak dan memaksa. Waris itu hukum syariah yang berlaku karena ada kematian. Tidak akan ada waris kalau tidak ada peristiwa kematian.

Yang menyedihkan adalah ketika ada kajian tentang waris yang hadir adalah orang tua. Padahal mestinya yang membutuhkan adalah anak-anak. Sebab persoalannya ada pada mereka.
Apabila orang tua teredukasi dengan baik bab waris, maka pada saat kematiannya dia tak bisa berbuat apa-apa lagi. Tetap saja anaknya berebut atau dilaksanakan tidak sesuai ketentuan. Dampaknya terjadi ketegangan karena ahli waris yang berkepentingan dengan harta waris tidak teredukasi dengan baik.

Ada beberapa ayat dalam Al Qur’an yang menyitir tentang orang-orang yang meminta kepada Allah untuk ditunda ajalnya supaya dia bisa bersedekah.

Allah SWT berfirman:

وَاَ نْفِقُوْا مِنْ مَّا رَزَقْنٰكُمْ مِّنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَ اَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُوْلَ رَبِّ لَوْلَاۤ اَخَّرْتَنِيْۤ اِلٰۤى اَجَلٍ قَرِيْبٍ ۙ فَاَ صَّدَّقَ وَاَ كُنْ مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ

“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda kematianku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.” -(QS. Al-Munafiqun 63: Ayat 10)

Ternyata si mayit ketika datang ajal dia minta ditunda agar bisa sedekah.
Ada lagi sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu : sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim)

Ketika seseorang mati, maka semua amalnya terputus kecuali tiga hal. Dan yang pertama disebut oleh Rasulullah adalah Sedekah Jariyah. Dengan kata lain, pada saat detik kematian kita yang paling memberi manfaat kepada kita adalah shodaqoh jariyah. Akan langsung memberi pahala.

Para ulama ahli hadits sepakat bahwa sedekah Jariyah adalah Wakaf. Karena ada tambahan kata Jariyah. Kalau shodaqoh saja banyak :
– Orang dipinggir jalan kita kasih makan namanya shodaqoh.
– Orang butuh uang kita kasih uang namanya shodaqoh.
Ketika kita memberi makan orang, langsung selesai ketika dia selesai makan. Itu sedekah tapi bukan jariyah.

Tetapi shodaqoh jariyah bukan begitu. Shodaqoh jariyah adalah sedekah yang berupa monumen sehingga bersifat monumental abadi dan terus mengalir kemanfaatannya. Tidak lekang oleh waktu. Misalnya kita membangun Sekolah, Pesantren, Madrasah, Panti, Rumah Sakit , Jalan untuk orang.
Sekali kita melakukan itu, dia akan tetap ada dan terus bermanfaat.

Ketika kita bicara Waris, obyeknya adalah Keluarga. Tak ada Waris untuk orang lain. Bahkan Keluarga penerima waris ditentukan oleh Allah dan Rasulnya dengan sangat rigid. Orang yang bukan ahli waris, meskipun dia keluarga tidak bisa mendapatkan Warisan.

Adik saya dan kakak saya tak akan dapat waris bila saya mati dan punya anak laki-laki. Adik saya, meskipun dia keluarga, dia bukan ahli waris saya.

Hibah obyeknya Keluarga dan Orang lain. Hibah adalah pemberian hadiah. Hibah adalah keputusan memindahkan kepemilikan secara horizontal pada saat masih hidup. Harta hibah boleh dijual atau diberikan ke orang lain lagi.

Wasiat adalah keputusan untuk menghibahkan. Tetapi pelaksanaannya setelah mati. Wasiat obyeknya merupakan kebalikan dari Waris. Wasiat tidak boleh kepada Ahli Waris, karena Ahli waris nanti akan mendapat skema waris.

Bila seseorang mempunyai 4 rumah dan akan memberikan sebagian rumahnya kepada anaknya, tak bisa memakai wasiat. Harus memakai hibah dan sekarang diberikannya.
Akan tetapi wasiat boleh kepada keluarga yang bukan ahli waris atau orang lain.

Wakaf boleh kepada Keluarga dan boleh kepada orang lain. Bedanya antara wakaf dengan yang lain adalah bahwa Wakaf memindahkan kepemilikan secara vertikal. Kita kembalikan kepemilikan kepada Allah. Sehingga ketika harta diwakafkan, tidak ada lagi yang menjadi pemilik kecuali Allah. Harta wakaf tak dapat dijual dan tak bisa dihilangkan, tetapi bisa dimanfaatkan.

Kita punya empat pilihan, harta kita mau diapakan. Namun kita tahu dari ke empat pilihan ini yang akan membawa dampak paling maksimum paska kematian kita adalah Wakaf. Karena wakaf bersifat abadi dia dijamin keberlangsungannya oleh syariat dan dia harus terus memberi manfaat.

Akan ada orang-orang yang dijamin oleh Allah dan Rasulnya untuk memikirkan kebermanfaatan wakaf kita itu. Karena itu wakaf akan berdampak luas, sedangkan hibah bisa hilang, bisa ganti, bisa diapakan saja.
Waris dan Wasiat demikian juga, bisa hilang atau digantikan.

Khusus untuk Wasiat, bisa dikaitkan dengan Wakaf.
Misalnya : Sepeninggal saya nanti , rumah ini saya wakafkan. Dengan catatan tidak bisa kepada ahli waris.


Dari sisi Pelaksanaan

Waris bersifat mutlak. Orang tak bisa menghindar dari pilihan waris. Detik kematiannya maka semua harta kekayaannya adalah obyek waris.
Hibah, Wasiat dan Wakaf merupakan pilihan. Maka perlu dicermati betul harta kita menjelang kematian kita mau diapakan.

Banyak orang tua yang dia selalu memikirkan anak-anaknya. Hal ini tidak salah karena itu memang tugas orang tua. Tetapi sampai kapan dia harus memikirkan anak-anaknya ?

Sebetulnya islam memberi batas. Banyak orang tua, dimana kasus- kasusnya saya tangani, pada akhirnya saya punya kesimpulan ternyata banyak orang tua yang dia sampai menjelang akhir hayatnya akhirnya tidak sempat berfikir untuk masa depannya.

Ketika masih muda berfikir untuk anaknya, membesarkannya, merawatnya, mengasuhnya, menyekolahkannya, menikahkannya, memberinya modal dan mengantarkannya pada hidup yang bahagia dan enak untuk ukuran orang- orang sekarang ini.

Ini betul tapi sampai kapan ?
Sehingga yang terjadi orang tua yang sudah bekerja susah payah siang malam pada saat kematiannya nyaris tidak memiliki bekal untuk dirinya sendiri. Padahal anak-anaknya itu sebetulnya sampai pada tingkat tertentu harus dilepas. Biarkan agar mereka melanjutkan perjuangannya sendiri, kerja keras menata mind set tentang harta.

Sekarang giliran orang tua mempersiapkan masa depan dirinya jelang kematiannya. Sehingga dia tidak melampaui garis finish dimana dia harus memikirkan dirinya.
Apabila seseorang telah mati maka terputus semua amalannya kecuali 3 hal : Sedekah Jariyah, Ilmu yang bermanfaat dan Do’a anak yang sholeh.

Mari kita bermuhasabah sudah seberapa seriuskah kita menyiapkan diri kita untuk melakukan Wakaf, karena dia yang akan terus mengalir. Adakah yang mau kita hibahkan. Kalau mau hibah sekarang, jangan nanti. Kalau nanti akan menjadi sumber fitnah. Kalau mau wasiat segera tulis wasiat itu. Kalau tidak, maka hartanya akan berpindah pada ahli waris.

Ahli waris pun juga harus diberi edukasi agar jangan sampai menjadi fitnah. Karena mindset ahli waris sering keliru “berapa”, bukan “apa”.
Orang kalau dihadapkan pada warisan, selalu yang pertama kali terfikir adalah ‘Saya mendapat berapa dan Dia mendapat berapa ?’.

Padahal sebelum kita bicara “berapa”, kita bicara “apa”? Apa yang diwariskan? Lalu bagaimana waris itu ditentukan?

Dalam banyak riset yang dilakukan di Program Doktor Ekonomi Islam di UI, di UGM, ditemukan bahwa banyak sekali orang yang melakukan waris dampaknya hartanya mengecil.

Jadi ketika bisnis dipegang orang tua semasa hidup menggurita, tetapi ketika beralih ke generasi berikutnya, bisnis itu jadi mengecil karena mindsetnya adalah Pembagian. Harta waris rumusnya adalah Pembagian, tak mungkin Perkalian.

Berbeda dengan Wakaf, pada Wakaf tak pernah ketemu Pembagian. Ketika kita berbicara Wakaf selalu ketemu dengan Perkalian.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here