Prof.Dr.Suparman Syukur, MAg

1 Jumadil Awwal 1442 / 16 Desember 2020



1. Standard Pemahaman Al Qur’an

Sebagai awal mula, saya akan menyampaikan suatu standar pemahaman, standar pengejawantahan, standar kesadaran dan standar pengamalan terhadap Al Qur’an al Kariem.

Di dalam Surat Al Qur’an ada ayat :

قُلْ لَّوْ كَا نَ الْبَحْرُ مِدَا دًا لِّـكَلِمٰتِ رَبِّيْ لَـنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ اَنْ تَـنْفَدَ كَلِمٰتُ رَبِّيْ وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهٖ مَدَدًا(109)
قُلْ اِنَّمَاۤ اَنَاۡ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰۤى اِلَيَّ اَنَّمَاۤ اِلٰهُكُمْ اِلٰـهٌ وَّا حِدٌ ۚ فَمَنْ كَا نَ يَرْجُوْا لِقَآءَ رَبِّهٖ فَلْيَـعْمَلْ عَمَلًا صَا لِحًـاوَّلَايُشْرِكْ بِعِبَا دَةِ رَبِّهٖۤ اَحَدًا(110)

“Katakanlah (Muhammad), Seandainya lautan menjadi tinta untuk menulis kalimat-kalimat Tuhanku, maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai penulisan kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu pula.
Katakanlah (Muhammad), Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka barang siapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia menyekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.”
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 109-110)

Ayat ini menghantarkan dari awal kita membaca Al Qur’an, mengerti Al Qur’an, memahami Al Qur’an, kemudian tujuan akhir ketemu dengan Allah, berarti tujuan akhir adalah kita dalam keadaan mulia di sisi Allah SWT karena kita melaksanakan runtutan standar yang akan saya sampaikan.

1.1. Al Qur’an tak pernah habis hikmahnya

Bila seluruh air lautan menjadi tinta, kemudian dipakai untuk menulis, dimana penanya adalah seluruh kayu yang ada di permukaan bumi. Al Qur’an tidak akan pernah habis maknanya, tidak pernah habis hikmahnya. Tidak pernah habis inti dari pada pelajaran yang bisa kita manfaatkan di dalam kehidupan menuju keridhaan Allah.

Maka bagi yang mereka bisa membaca Al Qur’an, memahami Al Qur’an, mengambil hikmah Al Qur’an sebaik mungkin, digambarkan oleh gambaran Nabi :
Bahwa Nabi sama sebagai manusia seperti kita semua. Perbedaan yang bisa mengangkat derajat Rasul SAW karena Rasul diberi wahyu Al Qur’an.

Artinya bahwa Al Qur’an betul-betul di dalamnya terkandung berbagai macam fadhilah, ajaran, pendidikan, filsafat dan lain sebagainya. Bahkan Al Qur’an menurut pandangan Prof. Dr. Quraish Shihab dalam bukunya “Membumikan Al Qur’an” , ibaratkan kita membaca satu ayat seperti orang menyelam di air laut.

Ketika membaca pertama, ibarat menyelam pertama, mungkin kita hanya melihat batu karena belum pandai berenang. Belajar lagi dan menyelam lagi di tempat yang sama lalu dia bisa mendapatkan pasir, karena dia sudah bisa menyelam di kedalaman , sampai ke dasar laut.

Menyelam lagi di tempat yang sama di waktu yang lain setelah lebih banyak belajar, dia akhirnya bisa mendapatkan batu mutiara. Dan begitu selanjutnya, menyelam lagi dan menyelam lagi dia akan mendapatkan emas, mutiara, intan dan lain sebagainya.

1.2. Jangan Musyrik

Dengan Al Qur’an, Rasulullah SAW kemudian menawarkan :
“Barangsiapa yang akhir hayatnya bisa ketemu dengan Allah SWT maka manfaatkanlah Al Qur’an itu, fadhilah, hikmah dan berkahnya dari Allah, ambillah dari Al Qur’an itu”.

Maka akhirnya orang itu bisa dikatakan seorang yang sukses karena didasari dengan Al Qur’an yang akhirnya memunculkan perasaan hati dengan iman. Lalu dengan keimanan yang kita dapatkan dari berbagai ajaran dalam Al Qur’an, kita mampu mendapatkan petunjuk Allah dan kemudian kita menghindar dari kemusyrikan.

Hati-hati terhadap kemusyrikan, karena di dunia ini banyak pengganggu -pengganggu yang akhirnya bisa menjadikan kita beribadah kurang ikhlas. Hal itu dengan berbagai macam gangguan-gangguan yang bisa membuat diri kita tidak ikhlas.


2. Memahami Hadits tentang Fadhilah


Untuk membicarakan fadhilah Al Qur’an kita tidak akan membahas banyak. Kita akan membahas fadhilah surat Al Kahfi. Kenapa orang banyak menghafal Surat Al Kahfi. Saya akan mengambil dari Kitab Lawamiul Anwar.

Ada hadits Rasulullah

عَنْ أَبِى الدَّرْدَاءِ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ : « مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُورَةِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنَ الدَّجَّالِ » وفي رواية ـ من آخر سورة الكهف ـ

Dari Abu Darda’ radhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang menghafal sepuluh ayat pertama dari surat Al-Kahfi, niscaya dia akan terlindungi dari (fitnah) Dajjal. Dan di dalam riwayat lain disebutkan: “(sepuluh ayat terakhir) dari surat Al-Kahfi.” (Diriwayatkan oleh Muslim ).

Hadits ini sifatnya shahih , marfuk tersambung sampai kepada Rasulullah. Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dan terdapat dalam Kitab Shahih Muslim. Hadits ini dari Abu Darda’. Abu Darda’ adalah seorang sahabat yang langsung ketemu dengan Rasulullah SAW.

Hadits kedua dari Abu Umamah yang juga shahih dan marfuk , sampai kepada Rasulullah SAW :
“Barang siapa yang bertemu dengan Dajjal maka supaya dihapuslah wajahnya”. (Hadits Thabrani)

Artinya supaya kita tidak kemudian membiarkan pertemuan kita dengan dajjal itu menyatu dengan wajah dan masuk ke dalam relung sukma.


2.1. Makna Kata Dajjal

Sekarang kita harus bisa memahami. Tugas kita tidak sekedar menghafal 10 ayat itu Surat Al Kahfi. Dibaca terus kemudian kita secara otomatis akan terbebas dari dajjal. Pemahaman seperti ini namanya tekstual, normatif. Ibaratkan kita mau memasak, tetapi bumbunya belum diolah bersama sayur sehingga rasa sayurnya tidak enak.

Artinya bahwa surat Al Kahfi yang disampaikan dengan hadits shahih bukan difahami secara letterlijk begitu saja. Karena ada kata-kata Dajjal dalam hadits pertama. Dalam hadits kedua ada kata-kata :
“Supaya kita menghapus/mengusap/ membersihkan wajahnya setelah melihat atau bertemu dengan Dajjal”.
Berarti Dajjal itu ada makna yang lain

Secara etimology bahwa arti Dajjal itu ada tiga :

Arti yang pertama Pembohong (kadziba). Kata kerjanya adalah berbuat bohong.
Arti Dajjal yang kedua adalah Tertutup atau Penutup. Maksudnya Penutup dari kebaikan, penutup dari kebenaran , penutup dari hal yang nyata dan hakiki. Berarti sama dengan Pembohong.
Arti yang ketiga adalah Ter, minyak yang berwarna hitam, berbau tidak enak dan dulu digunakan untuk mengecat “gedek” agar tidak dimakan rayap.

Dajjal karena disamping dia berbuat kelabu, berbuat bohong, dia menutupi yang baik dengan Ter hitam, maka kata terminology Dajjal harus bisa kita fahami makna yang sebenarnya.


2.2. Tafsir Fadhilah Surat Al Kahfi

Kembali ke hadits Pertama dan Kedua, berarti Fadhilah membaca Surat Al Kahfi artinya perlu direnungkan lebih dalam.


Tafsir Surat Al Kahfi ayat 1

اَ لْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْۤ اَنْزَلَ عَلٰى عَبْدِهِ الْكِتٰبَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَّهٗ عِوَجًا  ٚ

“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya dan Dia tidak menjadikannya bengkok;” (QS. Al-Kahf 18: Ayat 1)

Dalam ayat ini ada kata-kata :
‘al-hamdu’ yang artinya ‘segala puji’.
‘anzala’ yang artinya ‘menurunkan’
‘yaj’al lahuu iwajaa’ yang artinya ‘tidak pernah bengkok’.

Pemahaman dari tiga variabel tadi namanya pemahaman cara tanazu’ atau ta’amul yaitu keterkaitan antar satu kata dengan kata yang lain dalam satu kalimat, atau satu kalimat dengan kalimat yang lain dalam satu Surat, atau satu Surat dengan Surat yang lain dalam satu Juz, atau satu Juz dengan Juz yang lain dalam Al Qur’an.

Kita memahami Al Qur’an harus memakai Tanazu’. Yang kita kaji adalah tanazu’ al kalimah, keterkaitan antara satu kata dengan kata yang lain.

Maka barang siapa yang hafal ayat 1 sampai 10 terjaga dari Dajjal karena apa?
Secara historis karena dengan iman yang kuat dan mampu menyebut kata ‘al-hamdu lillaahillah’

Kadangkala kita sulit dan berat sekali untuk menyebut kata alhamdulillah.
– Ketika kita menerima bonus, teman kita dapat banyak dan kita dapat lebih sedikit, rasa bersyukurnya sudah berkurang.
– Petani panennya lebih sedikit, meski mengucapkan alhamdulillah namun nadanya tidak ikhlas. Artinya ungkapan kesyukurannya tidak sempurna.
– “Bu dagangnya untung?” – ah lumayan dapat dipakai untuk beli minyak.
Ini tidak bersyukur karena untungnya sebenarnya bisa dipakai untuk beli mobil.

Ini semua berarti rasa syukur yang tidak sempurna!
Tidak ada alhamdulillah, tidak ada segala puji bagi Allah. Dia ingkar terhadap nikmat Allah SWT.

Orang yang bisa bersyukur dengan alhamdulillah sepenuhnya, kemudian dia ‘anzala ‘alaa ‘abdihil-kitaab’.
Karena dia mampu melaksanakan perintah-perintah di dalam Al Kitab.
Al Kitab ini jelas memakai alif dan lam, bersifat makrifat (definitive). Jadi Al Kitab disitu jelas Kitab Al Qur’an.

Keimanan kita kepada Allah ada keterkaitannya dengan Al Qur’an. Maka fadhilah akhir dari Surat Al Kahfi ini adalah ‘wa lam yaj’al lahuu ‘iwajaa’.
Allah tidak akan membuat orang itu berbuat yang bengkok.

Berarti dia tidak Pembohong, tidak bersifat mungkar dan tidak berwajah hitam. Dia berkata yang benar adalah benar, dan dia tidak membenarkan yang salah. Dia mengerti dan melaksanakan dengan benar.

Fadhilah Surat Al Kahfi memang secara letterlijk tertulis bahwa siapa hafal, tapi tidak cukup dengan hafal. Akan tetapi bagaimana dia bisa mengimplementasikan kandungan- kandungan dalam ayat itu, maka Dajjal yang dimaksud adalah al mungkarun.
Berarti kita tidak harus menghindari Dajjal di akhir zaman saja , tapi sejak hari ini, disini dan di saat ini kita harus menjauhkan dari sifat-sifat Dajjal.

Sifat-sifat Dajjal kadang-kala ada dalam pikiran, hati nurani kita. Maka kita harus selalu membersihkan hati nurani kita, jangan sampai didalam kita memahami, jangan sampai ketika kita melihat Al Qur’an justeru kita kemudian kufur dengan Al Qur’an itu sendiri.

Tiga Golongan Muslim

Ketika Al Qur’an diturunkan, orang terbagi tiga :

– Sabiqun bil khairat adalah golongan orang-orang yang lebih dahulu dalam berbuat kebaikan.

– Muqtashidun, dengan Al Qur’an perasaannya biasa-biasa saja. Tidak ada sesuatu hal yang menggejolak, tidak ada sesuatu yang membuat hatinya menggetar. Orang yang muqtashidun biasanya endingnya akan rugi.

– Zhalimu Linafsih, orang yang menjadikan ayat-ayat Al Qur’an sebagai berhala karena dia sesat dengan ayat itu sendiri. Seringkali dia memahami Al Qur’an sesuai dengan keinginan dirinya sendiri yang diliputi oleh nafsu syaithoniah. Ini berbahaya, berat bagi kita untuk bisa menghindar dari sini.


Penjelasan dari golongan di atas ada dalam Al Qur’an.

– Dalam Surat Ali Imran, Allah SWT berfirman:

هُوَ الَّذِيْۤ اَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتٰبَ مِنْهُ اٰيٰتٌ مُّحْكَمٰتٌ هُنَّ اُمُّ الْكِتٰبِ وَاُ خَرُ مُتَشٰبِهٰتٌ ۗ فَاَ مَّا الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُوْنَ مَا تَشَا بَهَ مِنْهُ ابْتِغَآءَ الْفِتْنَةِ وَا بْتِغَآءَ تَأْوِيْلِهٖ ۚ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيْلَهٗۤ اِلَّا اللّٰهُ ۘ وَ الرّٰسِخُوْنَ فِى الْعِلْمِ يَقُوْلُوْنَ اٰمَنَّا بِهٖ ۙ كُلٌّ مِّنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۚ وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّاۤ اُولُوا الْاَ لْبَا بِ

“Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyabihat untuk mencari-cari fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 7)

Kesesatan atau hati yang kotor itulah dajjal. Hati yang tidak “semeleh” dengan mencari yang benar, itulah dajjal. Maka kita harus selalu membersihkan diri dan jiwa kita dengan iman dan tawakal kepada Allah SWT.

– Ketika Rasulullah SAW menyampaikan ajaran dari wahyu Al Qur’an di surat Al Bara’ah (At Taubah),

Rasulullah SAW menyebutkan :
“Ketika Rasulullah menyampaikan pesan-pesan Al Qur’an kepada orang-orang jahiliyah justeru mereka itu mengancam : “Siapa yang beriman kepada Al Qur’an itu sendiri?”.

Allah SWT berfirman:

وَاِ ذَا مَاۤ اُنْزِلَتْ سُوْرَةٌ فَمِنْهُمْ مَّنْ يَّقُوْلُ اَيُّكُمْ زَا دَتْهُ هٰذِهٖۤ اِيْمَا نًا  ۚ فَاَ مَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا فَزَا دَتْهُمْ اِيْمَا نًا وَّهُمْ يَسْتَبْشِرُوْنَ

“Dan apabila diturunkan suatu surat maka di antara mereka orang-orang munafik ada yang berkata, Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan turunnya surat ini? Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya dan mereka merasa gembira.” (QS. At-Taubah 9: Ayat 124)

Kemudian Allah SWT menjawab :

وَاَ مَّا الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌ فَزَا دَتْهُمْ رِجْسًا اِلٰى رِجْسِهِمْ وَمَا تُوْا وَهُمْ كٰفِرُوْنَ

“Dan adapun orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit, maka (dengan surat itu) akan menambah kekafiran mereka yang telah ada dan mereka akan mati dalam keadaan kafir.” (QS. At-Taubah 9: Ayat 125)

Orang yang di dalam hatinya ada penyakit, maka dia akan mengikuti perintah dan bisikan setan.
Orang yang beriman akan semakin beriman.

Maka itulah perlunya , kita dalam mengantisipasi berbagai macam ayat Al Qur’an, memang kita harus benar-benar terbebas dari kotoran hati nurani kita. Artinya dalam penjelasan surat Al Kahfi kita akan terbebas dari Dajjal. Berarti kita memahami Al Qur’an sebaik mungkin, dibaca dengan tajwid yang baik.

Tahapan berinteraksi dengan Al Qur’an :

1. Dibaca sesuai dengan makhroj dan tajwid yang baik tentunya tergantung dengan kemampuan masing-masing. Maka kita harus belajar dan lebih belajar lagi supaya bacaan kita menjadi lebih baik dan lebih baik.

2. Setelah kita baca , kita mengerti, minimal dengan membaca terjemahnya.

3. Tapi ini belum cukup hanya dengan membaca terjemahnya, karena dia baru mengerti saja tapi dia belum faham. Maka ada istilah “Kamu mengerti tapi tidak faham”.
Kita harus memahami secara ikhlas.

4. Setelah itu hati nurani kita menyadari bagaimana perintah- perintah Al Qur’an dan larangan- larangannya itu harus kita antisipasi. Yang baik kita laksanakan dan yang dilarang kita tinggalkan.

5. Kita mengimplementasikan dengan membuktikan dengan perbuatan keseharian di dalam kehidupan.

Ini adalah ending dari kita memahami Al Qur’an yang dimaksud dalam Surat Al Kahfi yang diterangkan oleh Hadits Rasulullah.

Maka kita akan terbebas dari Dajjal, tidak akan terjadi ‘yaj’al lahuu ‘iwajaa’ – ( tidak ada kebengkokan) di dalam kita melaksanakan Perintah Al Qur’an.


Tafsir Surat Al Kahfi ayat kedua :

قَيِّمًا لِّيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيْدًا مِّنْ لَّدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِيْنَ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمْ اَجْرًا حَسَنًا ۙ 

“sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan akan siksa yang sangat pedih dari sisi-Nya dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan kebajikan bahwa mereka akan mendapat balasan yang baik,” -(QS. Al-Kahf 18: Ayat 2)

Siksaan Allah jika kita tidak mengerti dan melaksanakan Al Qur’an. Memberi kabar gembira artinya kabar gembira bagi orang yang membuktikan ayat pertama Surat Al Kahfi itu di dalam perbuatan nyata.

Jadi iman sekarang ini tidak boleh hanya terpaku berhenti di dalam hati nurani. Iman harus dibumikan supaya iman itu bermanfaat kaitannya dengan amal sholeh.

Maka diberbagai ayat Al Qur’an hampir semua kata iman dipersandingkan dengan amal sholeh-amal sholeh.
Inna ladzina amanu, wa amilu sholihati. Amal sholeh tidak selalu dengan kata ‘amilu sholihati’, tapi mungkin ditulis dalam bentuk sholat, atau mungkin dalam bentuk ‘wa atu zakat’ atau Puasa atau Haji dan lain sebagainya.

Artinya jika kita mampu melaksanakan amal-amal sholeh sesuai dengan perintah Al Qur’an dan menjauhkan dari larangan-larangannya , maka kita akan bisa terbebas dari Dajjal tadi.
Pemahaman seperti ini sangat penting untuk kita miliki. Tidak secara monoton kita hanya memahami secara letterlijk bahwa dengan menghafal Surat Al Kahfi ayat 1 sampai 10 akan terbebas dari Dajjal.

Menghafal seperti itu sudah baik tetapi belum bisa mengambil inti atau makna di dalam Surat Al Kahfi itu sendiri.

Ayat yang kedua ada kata-kata
“allaziina ya’maluunash- shoolihaati anna lahum ajron hasanaa” (orang- orang mukmin yang mengerjakan kebajikan bahwa mereka akan mendapat balasan yang baik).
Ini berarti terbebas dari Dajjal.

Maka ketika kita shalat, didalam tasyahud akhir kita sering menambahi dengan beristi’adzah, memohon perlindungan kepada Allah dari neraka jahanam dan berlindung dari Fitnah al-masih Dajjal.

Bukan berarti bahwa setelah membaca do’a itu secara otomatis akan terbebas dari dajjal ! Do’a itu harus dikaitkan dengan amal. Iman harus dikaitkan dengan amal.

Dalam Al Qur’an, Allah SWT berfirman:

فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَا لَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗ ۗ (7) وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَا لَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ(8)

“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.
Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.” (QS. Az-Zalzalah 99: Ayat 7-8)


Tafsir Surat Al Kahfi ayat ketiga

مّٰكِثِيْنَ فِيْهِ اَبَدًا ۙ 

“mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya.” (QS. Al-Kahf 18: Ayat 3)

Di dalam ayat kedua ada kata-kata
“lahum ajron hasanaa” , berarti ada pahala yang enak, yang tidak lain adalah Surga. Dalam ayat ketiga dijelaskan bahwa ketika kita berada di Surga terbebas dari Dajjal karena kita sudah melakukan sesuai petunjuk Allah melalui Al Qur’an.


Tafsir Surat Al Kahfi ayat ke empat


وَّيُنْذِرَ الَّذِيْنَ قَا لُوا اتَّخَذَ اللّٰهُ وَلَدًا

“Dan untuk memperingatkan kepada orang yang berkata, Allah mengambil seorang anak.” (QS. Al-Kahf 18: Ayat 4)

Keimanan orang itu akan mendapat peringatan keras bila dia meyakini Allah mempunyai anak.!
Tentunya ini bukan akidah kita. Akidah kita jelas

لَمْ يَلِدْ ۙ وَلَمْ يُوْلَدْ ۙ 

“Allah tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.” (QS. Al-Ikhlas 112: Ayat 3)

Maka perlu ketegasan. Pada saat kita berakidah harus tegar, harus tegas, harus tegap. Jangan sampai akidah kita terkontaminasi dengan hal-hal yang syirik.

Rasulullah SAW pernah memberi nasehat kepada Muadz bin Jabal, ketika Muadz bin Jabal tugas berdakwah ke Yaman Selatan.

“Wahai Muadz, ikhlaslah kalian di dalam mengajarkan tentang agama. Cukuplah bagimu amalan yang sedikit”

Maka ketika kita mengajarkan dengan baik, melaksanakan perintah agama dengan baik mungkin amalannya sedikit, tapi terkait keimanan dan keikhlasan. Walaupun sedikit tapi nilainya tak terhingga.

Ada satu hadits tentang amalan yang ringan tetapi nilai pahalanya sangat berat.

Rasulullah SAW bersabda:

“Ada dua kalimat, yang ringan di lisan tetapi berat dalam timbangan dan dicintai oleh ar-Rahman, ‘ Subhanallah wa bi hamdih (Mahasuci Allah dan Segala puji hanya bagiNya)’, dan ‘Subhanallahil ‘azhim (Mahasuci Allah yang Mahaagung).”

Hadits ini bukan hanya dalam verbal ucapannya. Kalau hanya verbal ucapannya kita terjerumus pada zahir Al Qur’an. Kita harus memakai makna yang terdalam yang terkandung di dalamnya. Ibaratnya kita menyelam di kedalaman maka akan mendapatkan mutiara.

Kata “ikhlaslah dalam kamu beragama”, artinya tidak ada tendensi apa-apa. Berarti dia ikhlas hanya kepada Allah SWT.


Makna Kata Ikhlas

Kalau kita memahami kata ikhlas, artinya adalah membersihkan, memurnikan. Ketika ikhlas beragama, tentu memurnikan akidah. Yaitu dengan membuang kesyirikan.

Allah SWT berfirman:

قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌ ۚ (1) اَللّٰهُ الصَّمَدُ ۚ (2) لَمْ يَلِدْ ۙ وَلَمْ يُوْلَدْ ۙ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ(4)

“Katakanlah (Muhammad), Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu, tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.” (QS. Al-Ikhlas 112: Ayat 1- 4)

Kata ikhlas memang terkait bagaimana kita melaksanakan perintah Allah dalam Al Qur’an dan Sunah.
Dengan ikhlas berarti terbebas dari tendensi apa-apa yang bisa menjadi sekutu bagi Allah SWT.

Di dalam kita membaca Al Qur’an juga jangan sampai kita kemudian memahami bahwa letterlijk tulisan Al Qur’an dan bunyi Al Qur’an yang akan menjadi pelindung. Pemahaman itu tentu kurang mendalam.
Pemahamannya berarti harus dizahirkan atau dinyatakan melalui Perbuatan.

Orang yang tidak seperti itu akan diingatkan oleh Allah :
“wa yungzirollaziina qooluttakhozallohu waladaa”
(Dan untuk memperingatkan kepada orang yang berkata, Allah mengambil seorang anak).

Perkataan bahwa :
Allah “lam yalid wa lam yuulad wa lam yakul lahuu kufuwan ahad”
(Allah tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia), merupakan kekuatan Tauhid yang akan bisa membentengi dari perbuatan- perbuatan yang bersifat, ke sifat milik Dajjal.

Yakni dia tidak akan mungkin menjadi orang yang pembohong, tidak akan menjadi orang munafik, tidak akan menjadi orang yang kelabu, kelam, hitam sebagaimana tadi makna dari Dajjal secara etimology. Kalau secara Terminology tentunya semuanya sudah faham, siapa dajjal itu.

Maka ada kata-kata al-Masih Dajjal.
Kata al Masih itu artinya juga tertutup. Masaha itu menghapus, maka al masih artinya tertutup. al-Masih Dajjal adalah orang-orang yang memang dia tidak mempunyai niat baik, sehingga dia hanya menebar fitnah. Dia imannya tertutup, amal sholehnya tertutup.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here