Dr. dr. Zaenal Muttaqin Sofro, AIFM, Sport & Circ. Med

20 Robi’ul Akhir 1442 / 5 Desember 2020



“Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan ..?.” (QS. Al-Hadid 57: Ayat 16)

Dimensi waktu kita bukan nanti atau besok, tetapi sekarang !


Postural Orthostatic Tachicardia Syndrome

Kalau kita dari posisi berbaring atau duduk kemudian berdiri, maka detak jantung tiba-tiba bertambah cepat. Hal ini bisa memunculkan berbagai gejala penyakit. Kalau dihitung bisa sampai 32 gejala penyakit :
Pusing-pusing, Berkeringat dingin, Sakit dada , Nafas pendek, Badan merasa capai.

Sehingga ada fenomena mbah Soerip. Di masa pandemi ini jadi teringat lagunya mbah Soerip lagi :
“Bangun tidur, tidur lagi”.
“Tak gendong, kemana-mana..”
Ketika bangun tidur, dia tidur lagi.
Atau bangun tidur terpaksa digendong.

Jantung itu sangat menentukan kesehatan tubuh. Kalau dari posisi berbaring kemudian berdiri mengakibatkan detak jantung sampai 120 maka gejala yang bermunculan banyak sekali.

Jantung harus dihubungkan dengan kepala. Mulai dari rahang, wajah, pendengaran, tutur kata kemudian gerak-gerik ketika kita shalat itu adalah cara menghubungkan jantung dengan bagian kepala. Termasuk pundak, syaraf aksesorius ketika kita bicara.

Kata kuncinya adalah By Direction. Kalau gerak jantung melalui batang otak tadi bagus in syaa Allah nanti otak akan bekerja secara terstruktur. Begitulah nanti yang atas juga akan mengatur yang di bawah. Itu namanya By Direction. Bottom up-nya bagus akan menghasilkan top down bagus.

Ternyata hukum alam yang berlaku ditubuh kita adalah dengan memperbaiki struktur yang dibawah dulu, bottom Up. Jantungnya geraknya ditata yang bagus dengan dzikir ketika berdiri, duduk dan berbaring sehingga otak kita akan bekerja full dengan jernih, terang benderang sehingga nanti kembalinya ke perenungan akan Sang Pencipta.

  رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَا طِلًا  ۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَا بَ النَّا رِ

“.. Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 191)

Kita fokus pada jantung supaya tertib bekerjanya.


Lingkungan tubuh kita adalah air dengan cairan ekstrasel

Tubuh kita sebagian besar dihuni oleh air. Kalau kita sampai kekurangan air maka kita akan dipompa lebih cepat. Dan itu tentu akan mempengaruhi perilaku kita, karena hati kita gundah.
Jadi kita harus berhati-hati.

Kalau melihat hujan jangan emosi :
“Waduh hujan lagi, bagaimana nanti kalau kehujanan ?”
Kalau melihat hujan ingatlah Surat Yunus ayat 24 :

اِنَّمَا مَثَلُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا كَمَآءٍ اَنْزَلْنٰهُ مِنَ السَّمَآءِ فَا خْتَلَطَ بِهٖ نَبَا تُ الْاَ رْضِ مِمَّا يَأْكُلُ النَّا سُ وَا لْاَ نْعَا مُ ۗ حَتّٰۤى اِذَاۤ اَخَذَتِ الْاَ رْضُ زُخْرُفَهَا وَا زَّيَّنَتْ وَظَنَّ اَهْلُهَاۤ اَنَّهُمْ قٰدِرُوْنَ عَلَيْهَاۤ ۙ اَتٰٮهَاۤ اَمْرُنَا لَيْلًا اَوْ نَهَا رًا فَجَعَلْنٰهَا حَصِيْدًا كَاَ نْ لَّمْ تَغْنَ بِا لْاَ مْسِ ۗ كَذٰلِكَ نُـفَصِّلُ الْاٰ يٰتِ لِقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

“Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu hanya seperti air yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah tanaman-tanaman Bumi dengan subur, di antaranya ada yang dimakan manusia dan hewan ternak. Hingga apabila Bumi itu telah sempurna keindahannya, dan berhias, dan pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, datanglah kepadanya azab Kami pada waktu malam atau siang, lalu Kami jadikannya seperti tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada orang yang berpikir.” (QS. Yunus 10: Ayat 24)

Air hujan yang turun itu bercampur dengan tanah dan akhirnya muncul tumbuh -tumbuhan. Begitu juga kalau kita membaca Al Qur’an kita akan menjadi hidup kembali.

Fenomena air juga dapat dilihat dalam Surat Al Hadid ayat 20 :

كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّا رَ نَبَا تُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰٮهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطٰمًا ۗ 

“.. seperti hujan yang tanam- tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. .”(QS. Al-Hadid 57: Ayat 20)


The Human Nervous System

Selama ini kita banyak mempelajari yang di luar tubuh. Padahal Allah SWT berfirman:

وَفِيْۤ اَنْفُسِكُمْ ۗ اَفَلَا تُبْصِرُوْنَ

“dan juga pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”
(QS. Az-Zariyat 51: Ayat 21)

Jantung adalah Komandan yang diatur oleh Sistem Syaraf Otonom. Dan ternyata efek bagi tubuh luar biasa.
Kesehatan itu pusatnya pada kondisi Homeostatis/Steady State/Istiqomah.
Bagaimana kita mempertahankan cairan ekstrasel yang tetap komposisinya yang tetap dinamis.
Maka kalau kita melihat ke Rumah Sakit banyak infus bergantungan. Arahnya adalah memperbaiki cairan ekstrasel. Maka jangan sampai kita menunggu di infus. Perhatikan kebutuhan air bagi tubuh.

Tubuh harus cukup banyak minum. Biasanya ibu-ibu yang malas minum, sehingga mereka rawan terhadap infeksi saluran kemih. Padahal kalau sudah terkena infeksi, anti biotiknya mahal dan tidak bisa hanya satu hari. Dosisnya harus tepat sampai berapa lama. Karena itu mencegah lebih baik.
Kita santai karena punya kartu BPJS.
BPJS selalu rugi karena kita tidak faham tindakan preventif medicine.

Kerja jantung dikendalikan Sistem Syaraf Otonom. Kadang-kadang digas dan kadang-kadang direm. Kalau pengendalian ini terjadi kegagalan, efeknya kemana-mana. Termasuk ke Sistem Kekebalan Tubuh (Immune System). Padahal Kekebalan Tubuh sangat kita butuhkan di masa pandemi.

Kalau Sistem Kekebalan Tubuh kita lemah, maka gampang sekali kena Covid-19. Maka disinilah arti penting dzikir. Dengan ketenangan hati akan meningkatkan kekebalan tubuh.
Kalau kita Stress 5 menit, detak jantung tinggi dan sistem Kekebalan Tubuh akan lumpuh selama 8 jam.
Kalau kita gembira selama 5 menit, maka sistem Kekebalan Tubuh akan aktif selama 18 jam.

Allah SWT berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ قَا لُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَا مُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰٓئِكَةُ اَ لَّا تَخَا فُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَ بْشِرُوْا بِا لْجَـنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, Tuhan kami adalah Allah kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka maka malaikat- malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu.” (QS. Fussilat 41: Ayat 30)

Ini ayat yang sangat penting untuk kesehatan. Istiqomah itu penting sekali : “Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan ..?.” (QS. Al-Hadid Ayat 16)

Karena 90% tubuh kita ini dikuasai oleh yang kita tidak sadar. Itulah yang dinamakan subconsciousness.
Melihat perilaku orang kok menjengkelkan. Ini tidak perlu terjadi. Lebih baik jika kita memohonkan ampun buat mereka. Atau mungkin bisa diajak musyawarah.
Manusia itu pada dasarnya positif. Kenapa mereka sangat menjengkelkan? Karena mereka dalam kondisi tidak tahu. Orang yang beriman pasti menyenangkan.

Inilah perlunya kita menyadari Ibda’ bi nafsik, mulailah dari diri kita sendiri.
Allah SWT berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْۤا اَنْفُسَكُمْ وَاَ هْلِيْكُمْ نَا رًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.. ” (QS. At-Tahrim 66: Ayat 6)

Jangan mudah menghakimi orang.!

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّ ۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain…” (QS. Al-Hujurat 49: Ayat 12)

Jadi manusia itu pada dasarnya baik. Dia tidak baik karena tidak memahami dirinya itu siapa.

مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّه

Artinya, “Barang siapa yang mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya.”

Yang penting bagi kita ke depan itu sibuk dengan diri kita sendiri.
Kita ini siapa?
Mengapa tiap hari kita marah?
Melihat keadaan, mendengar masalah virus kita bingung.
Padahal virus senantiasa bertasbih

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمٰوٰتُ السَّبْعُ وَا لْاَ رْضُ وَمَنْ فِيْهِنَّ ۗ وَاِ نْ مِّنْ شَيْءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهٖ وَلٰـكِنْ لَّا تَفْقَهُوْنَ تَسْبِيْحَهُمْ ۗ اِنَّهٗ كَا نَ حَلِيْمًا غَفُوْرًا

“Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun.” -(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 44)

Covid-19 itu bertasbih, cuma kita tidak tahu bagaimana cara mereka bertasbih. Sebentar lagi kita akan memasuki tahun baru Masehi. Mudah-mudahan Covid-19 sudah bosan mengganggu.
Sebagai manusia jangan terganggu. Kita kuatkan diri dengan dzikir, dengan istighfar.


Jangan-jangan Ini Adzab yang dijanjikan Allah.

Allah SWT berfirman:

وَ اِذْ اَوْحَيْتُ اِلَى الْحَـوَا رِيّٖنَ اَنْ اٰمِنُوْا بِيْ وَبِرَسُوْلِيْ ۚ قَا لُوْۤا اٰمَنَّا وَا شْهَدْ بِاَ نَّـنَا مُسْلِمُوْنَ(111)
اِذْ قَا لَ الْحَـوَا رِيُّوْنَ يٰعِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ هَلْ يَسْتَطِيْعُ رَبُّكَ اَنْ يُّنَزِّلَ عَلَيْنَا مَآئِدَةً مِّنَ السَّمَآءِ ۗ قَا لَ اتَّقُوا اللّٰهَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ(112)
قَا لُوْا نُرِيْدُ اَنْ نَّأْكُلَ مِنْهَا وَتَطْمَئِنَّ قُلُوْبُنَا وَنَـعْلَمَ اَنْ قَدْ صَدَقْتَـنَا وَنَكُوْنَ عَلَيْهَا مِنَ الشّٰهِدِيْنَ(113)
قَا لَ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ اللّٰهُمَّ رَبَّنَاۤ اَنْزِلْ عَلَيْنَا مَآئِدَةً مِّنَ السَّمَآءِ تَكُوْنُ لَـنَا عِيْدًا لِّاَوَّلِنَا وَاٰ خِرِنَا وَاٰ يَةً مِّنْكَ ۚ وَا رْزُقْنَا وَاَ نْتَ خَيْرُ الرّٰزِقِيْنَ(114)
قَا لَ اللّٰهُ اِنِّيْ مُنَزِّلُهَا عَلَيْكُمْ ۚ فَمَنْ يَّكْفُرْ بَعْدُ مِنْكُمْ فَاِ نِّيْۤ اُعَذِّبُهٗ عَذَا بًا لَّاۤ اُعَذِّبُهٗۤ اَحَدًا مِّنَ الْعٰلَمِيْنَ(115)

“Dan , ketika Aku ilhamkan kepada pengikut-pengikut Isa yang setia, Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada rasul-Ku. Mereka menjawab, Kami telah beriman dan saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri.
Ingatlah , ketika pengikut-pengikut Isa yang setia berkata, Wahai Isa putra Maryam! Bersediakah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami? Isa menjawab, Bertakwalah kepada Allah jika kamu orang-orang beriman.
Mereka berkata, Kami ingin memakan hidangan itu agar tenteram hati kami dan agar kami yakin bahwa engkau telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan.
Isa putra Maryam berdoa, Ya Tuhan kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit , akan menjadi hari raya bagi kami, yaitu bagi orang-orang yang sekarang bersama kami ataupun yang datang setelah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; berilah kami rezeki, dan Engkaulah sebaik-baik pemberi rezeki.
Allah berfirman, Sungguh, Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu, tetapi barang siapa kafir di antaramu setelah turun hidangan itu, maka sungguh, Aku akan mengazabnya dengan azab yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia seluruh alam.”
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 111-115)

Jangan-jangan adzab ini yang dijanjikan Allah bagi umat manusia di bumi. Allah menurunkan azabnya yang belum pernah Allah timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia seluruh alam. Bukankah luar biasa pandemi kali ini ? Tidak sebulan dua bulan, tapi sudah berbulan-bulan.

Pengajian harus ke arah an-nafs, supaya kita tidak saling menyalahkan satu sama lain. Sama-sama tahu ilmu agama tapi saling berpecah belah.
Aneh, Naudzubillahi min dzalik.
Ada sesuatu yang tidak beres.
Maka hati-hati, kalau ada 10 orang dan yang 9 gila maka satu orang yang sehat yang dianggap gila.

Sekali lagi marilah kita Ibda’ Binafsik, mulailah dari diri sendiri.
Jangan mudah menghakimi orang. Yang sudah jadi hakim saja ada yang lebih baik lagi.

اَلَيْسَ اللّٰهُ بِاَ حْكَمِ الْحٰكِمِيْنَ

“Bukankah Allah hakim yang paling adil?” (QS. At-Tin 95: Ayat 8)

Banyak hakim yang stress juga. Mengambil keputusan itu tidak mudah. Berat jadi hakim. Kalau masyarakat tidak taat hukum protokol kesehatan, akan banyak yang tumbang. Di Yogya banyak Rumah Sakit tutup karena penuh pasien.

Membaca Al Qur’an itu harus ditadaburi. Allah SWT berfirman:

اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰ نَ اَمْ عَلٰى قُلُوْبٍ اَقْفَا لُهَا

“Maka tidakkah mereka menghayati Al-Qur’an, ataukah hati mereka sudah terkunci?” (QS. Muhammad 47: Ayat 24)


وَنُنَزِّلُ مِنَ الْـقُرْاٰ نِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَّرَحْمَةٌ لِّـلْمُؤْمِنِيْنَ ۙ وَلَا يَزِيْدُ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا خَسَا رًا

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an yang menjadi obat dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim hanya akan menambah kerugian.” (QS. Al-Isra’ 17: Ayat 82)

Obat tidak hanya dilihat, obat harus ditelan sehingga memberikan efek bagi tubuh. Termasuk juga Al Qur’an harus ditadaburi dan memberi efek pada tubuh.

Maka kata kunci sehat adalah :
Homeostatis , Steady State atau Istiqomah.

قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ ثُمَّ استَقِمْ

“Katakanlah: “Aku beriman kepada Allah”, kemudian istiqamahlah.” (HR. Muslim)

Homeostatis letaknya di tengah. Ginjalnya bagus, jantungnya bagus, paru-parunya bagus, ususnya bagus, sistem Kekebalannya bagus.
Namun demikian kajian semacam ini langka dibicarakan orang. Karena kita semuanya ini menempuh jalan pintas.
– Kalau sakit ada obatnya
– Paling obatnya gratis karena BPJS
– Naudzubillahi min dzalik
Mestinya kita lebih fokus bagaimana memelihara homeostatis/ steady state / istiqomah


Bahayanya Stress

Bahayanya Stress luar biasa. Bisa memporak -porandakan tatanan yang ada dalam tubuh, terutama sistem Kekebalan yang bisa mencabut nyawa orang tadi : Kena Covid-19, masuk ICU, memakai respirator dan segalanya.

Kita perlu ketenangan hidup. Tadi sudah disebutkan dalam Surat Fusilat 30. Kita besuk kalau dipanggil Allah harus tenang.

Allah SWT berfirman:

يٰۤاَ يَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ۖ (27) ارْجِعِيْۤ اِلٰى رَبِّكِ رَا ضِيَةً مَّرْضِيَّةً ۚ (28) فَا دْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِى ۙ (29)
وَا دْخُلِيْ جَنَّتِى(30)

“Wahai jiwa yang tenang!
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya.
Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr 89: Ayat 27-30)

Kata kuncinya adalah tenang. Tenang itu bila jantungnya diolah.


Diagnose Schema Nach Thulesius

Apa Yang Bisa Dilakukan?
Perhatikan, bangun tidur tidak boleh mendadak. Tetapi harus melalui tahapan. Miring ke kanan 30 detik, duduk 30 detik, kemudian berdiri 30 detik. Ditambah berjinjit 8 kali supaya darah segera kembali ke otak.

Saya sudah meneliti orang yang bangun tidur dari Sabang sampai Merauke. Yang normal hanya 30%, yang lainnya berpeluang kena Stroke atau Serangan jantung dan sistem Kekebalan Tubuh yang sangat lemah.

Allah SWT berfirman:

اَلْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلٰۤى اَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَاۤ اَيْدِيْهِمْ وَتَشْهَدُ اَرْجُلُهُمْ بِمَا كَا نُوْا يَكْسِبُوْنَ

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. Ya-Sin 36: Ayat 65)

Ketika kita bangun tidur, darah akan terkumpul di bawah 1 liter atau 750 cc sehingga siapapun yang bangun tidur tekanan darahnya turun selama 30 detik. Karena itulah sebelum bangun, sebaiknya miring ke kanan 30 detik, duduk 30 detik, berdiri 30 detik sambil berjinjit 8 kali.

Kalau bangunnya normal, masuk di wilayah normal. Tetapi yang saya teliti lebih banyak yang tidak normal.
Ada yang tekanan darahnya langsung naik, ada yang respondnya lemah, ada yang ngliyer mau jatuh. Ini wilayah paling bawah.

وَفِيْۤ اَنْفُسِكُمْ ۗ اَفَلَا تُبْصِرُوْنَ
“dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”
(QS. Az-Zariyat 51: Ayat 21)

Kalau kita mempelajari apa yang ada ditubuh kita, Subhanallah …
Ini bisa mempengaruhi perilaku manusia, mulai dari cara bicaranya, tindak-tanduknya.

Jadikanlah dirimu PEMAAF.

فَا عْفُ عَنْهُمْ وَا سْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَ مْرِ

“.. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampun untuk mereka, dan bermusyawaralah dengan mereka dalam urusan itu..” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 159)

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّآءِ وَا لضَّرَّآءِ وَا لْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَا لْعَا فِيْنَ عَنِ النَّا سِ ۗ وَا للّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ ۚ 

“yaitu orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 134)

(Lihat Gambar) ini adalah catatan dari orang yang berubah posisi dari berbaring ke berdiri sewaktu bangun tidur.

Garis mendatar untuk mengukur perbedaan tekanan darah.
Garis vertikal untuk mengukur perbedaan denyut jantung.
Kita hitung setiap menitnya sampai 7 menit.

Kalau masuk ke wilayah kanan, tekanan darahnya lebih tinggi. Dan ini bisa kita ramalkan. Orang yang masuk ke wilayah kanan, in syaa Allah 10 tahun yang akan datang akan kena stroke dengan pendarahan.

Stroke sudah bisa diprediksi 10 tahun sebelum terjadi. Yang semacam ini tak pernah difikirkan di Indonesia. Tahu-tahu stroke, masuk Rumah Sakit. Padahal tanda-tanda itu sudah diberikan kalau kita mau belajar.

Yang sebelah kiri, bisa menjadikan stroke tapi tanpa pendarahan.
Wilayah kiri bawah biasanya pada penderita diabetes. Yang bawah sendiri yang memicu adanya kesurupan, upaya-upaya bunuh diri, putus asa, badan sakit yang pindah-pindah.

Ini semua dicerminkan dari gerak-gerik jantung kita. Subhanallah.
Sehingga hadits ini cocok :

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah jantung”- (HR. Bukhari Muslim).

Inilah nikmatnya ilmu. Allah akan mengangkat derajat orang yang beriman dan berilmu.
Kita harus belajar, belajar dan belajar.
Namun sayang, kenyataan kalau orang diajak pengajian belum-belum sudah apriori, paling-paling isinya cuma begitu.


New model

Ini model baru (lihat gambar)
Yang mengatur jantung tadi kalau kita pelajari ada yang ngegas dan ada juga yang ngerem.
gas : sympathetic nervous system (warna kuning)
rem : parasympathetic nervous system (warna merah)

Gerak-gerik jantung sangat menentukan perilaku manusia.
Sebelah kiri tanda-tanda klinis dan yang sebelah kanan perilaku.
Tadi kami usulkan hubungkan jantung dengan kepala supaya kita berada di posisi yang hijau. Sehingga kita merasakan dampak silaturahim disana.

Allah SWT berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا النَّا سُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّا حِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَا لًا كَثِيْرًا وَّنِسَآءً ۚ وَا تَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهٖ وَا لْاَ رْحَا مَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَا نَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

“Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan menciptakan pasangannya darinya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan peliharalah hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 1)

Maka silaturahim sangat penting.
Kalau kita rajin silaturahim berarti kita sedang menuju ke daerah hijau dengan perilaku :
Optimal regulations , Social communication, State regulations, Learning.
Ketika ketemu dengan orang lain, kedepankan rasa gembira. Jangan sampai kalau bertemu dengan orang lain lalu timbul gangguan pada tubuh :
– pusing
– tekanan darah naik
– merasa tidak nyaman, mual-mual
– kadar gula naik,
ini menunjukkan tanda tidak sehat.
Hubungan antar manusia adalah bersifat coregulation dan reciprocal, saling memberikan manfaat sehingga kita menjadi sehat, panjang usia tambah rezeki.

Tapi kalau yang muncul adalah :
Defence, ramai konflik , bertengkar terus , suudzon dan sebagainya itu sebenarnya secara tidak sadar sedang membuka diri untuk didatangi berbagai penyakit. (Warna kuning atau warna merah)

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK




LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here