Dr. dr. Zaenal Muttaqin Sofro, AIFM, Sport & Circ. Med

20 Robi’ul Akhir 1442 / 5 Desember 2020



Berpengetahuan dan Bersyukur

وَا للّٰهُ اَخْرَجَكُمْ مِّنْۢ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْــئًا ۙ وَّ جَعَلَ لَـكُمُ السَّمْعَ وَا لْاَ بْصٰرَ وَا لْاَ فْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur.” -(QS. An-Nahl 16: Ayat 78)

Kita dilahirkan oleh ibu kita dalam keadaan tak tahu apa-apa. Alhamdulillah bahwa kita diberi potensi oleh Allah berupa pendengaran, penglihatan dan Fuad sehingga kita punya pengetahuan.
Jadi ini penting sekali, Berpengetahuan dan Bersyukur, karena di masa pandemi semacam ini yang senantiasa kita dengungkan adalah Syukur. Dengan adanya syukur kita dijanjikan Allah kenikmatan.

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَاَ زِيْدَنَّـكُمْ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu..” (QS. Ibrahim 14: Ayat 7)

Nabi Musa memberikan nasehat kepada ibu-ibu yang bayi laki-lakinya dibunuh oleh Fir’aun bukanlah nasehat Sabar, tetapi Syukur. Dengan syukur itulah kita akan senantiasa ditambah kenikmatan oleh Allah.
Salah satu ungkapan syukur adalah dengan mengaji Al Qur’an dan mengajarkan.

وَاَ مَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan dengan bersyukur.”(QS. Ad-Duha 93: Ayat 11)

Semangat menuntut ilmu Al Qur’an ini harus betul-betul kita tingkatkan. Lebih-lebih dengan bertambahnya usia.

وَمِنْكُمْ مَّنْ يُّرَدُّ اِلٰۤى اَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِنْۢ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْـئًـا ۗ 

“.. dan ada pula di antara kamu yang dikembalikan sampai usia sangat tua (pikun), sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang telah diketahuinya..”
(QS. Al-Hajj 22: Ayat 5)

Ilmu yang sudah kita pelajari nanti sedikit demi sedikit akan diambil kembali oleh Allah. Maka ketika kita berupaya mengumpulkan saudara- saudara kita lintas daerah berkumpul dalam majelis zoom, tujuannya tetap sama. Yaitu bahwa Allah akan mengangkat derajat orang yang beriman dan berilmu.

يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ ۙ وَا لَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍ ۗ وَا للّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

“.. Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat..” (QS. Al-Mujadilah 58: Ayat 11)


Betapa Pentingnya Jantung

Nabi SAW bersabda,

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah jantung”- (HR. Bukhari Muslim).

Allah SWT mengingatkan :

 اَ لَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ ۗ 

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 28)

Allah SWT berfirman:

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ وَا خْتِلَا فِ الَّيْلِ وَا لنَّهَا رِ لَاٰ يٰتٍ لِّاُولِى الْاَ لْبَا بِ ۙ (190) الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَا مًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَا طِلًا  ۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَا بَ النَّا رِ(191)

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 190-191)

Betapa dahsyatnya ayat-ayat ini, sampai-sampai Rasulullah tidak henti-hentinya menangis menjelang shalat Subuh.

Dalam keadaan berdiri senantiasa berdzikir. Dalam keadaan duduk berdzikir. Dalam keadaan berbaring berdzikir. Berdzikir tidak hanya mengingat Allah, tetapi menyebut juga dan nanti dampaknya terhadap jantung luar biasa yang dapat dijelaskan secara ilmu kedokteran.


Jantung terhubung dengan Rahang

Jantung ini dikawal oleh organ-organ yang ada di kepala kita. Mulai kita mengunyah, itu sudah mempengaruhi jantung. Kenapa kita diperintah untuk mengunyah 32 kali? Mengunyah itu bisa terlaksana karena ada kabel yang menghubungkan jantung dengan rahang, melalui pengaturan otak.

Mengapa kerbau itu makhluk yang sangat tenang ? karena rahangnya bergerak terus. Walaupun di depannya ada sepeda motor mondar-mandir, kerbau tidak bergeming.

Rahang diperintah oleh serabut syaraf kelima. Berdzikir itu menyebut Allah dengan menggerakkan rahang.


Jantung terhubung dengan Kepala

Jantung terhubung dengan kepala lewat syaraf ketujuh. Sehingga kita bisa tersenyum. Penting sekali agar wajah diupayakan senantiasa ‘sumeh’ (berseri-seri). Penduduk Surga itu wajahnya senantiasa berseri-seri.

وُجُوْهٌ يَّوْمَئِذٍ نَّا ضِرَةٌ ۙ 

“Wajah-wajah orang mukmin pada hari itu berseri-seri.” (QS. Al-Qiyamah 75: Ayat 22)

Kalau wajah kita cemberut, berarti marah dan kita merusak jantung kita. Sebaliknya kalau wajah senantiasa berseri-seri dan perilaku lemah lembut.

Allah SWT berfirman:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَا نْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَا عْفُ عَنْهُمْ وَا سْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَ مْرِ ۚ فَاِ ذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampun untuk mereka, dan bermusyawaralah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 159)

Wajah ini adalah cermin apa yang ada di dalam hati. Potensi air muka ini perlu kita perhatikan. Bahkan di dalam shalatpun bacaannya :

اِنِّيْ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضَ حَنِيْفًا وَّمَاۤ اَنَاۡ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ ۚ 

“Aku hadapkan wajahku kepada Allah yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan mengikuti agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik.”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 79)

Wajah kita dihadapkan pada wajah pencipta langit dan bumi, yang Beliau mewajibkan atas Dirinya sendiri ‘Kasih Sayang’ :

كَتَبَ عَلٰى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ ۗ 

“Dia telah menetapkan sifat kasih sayang pada diri-Nya..” (QS. Al-An’am 6: Ayat 12)

Orang yang penuh kasih sayang digambarkan pada Surat Ali Imran 159 di atas : “Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka…”.
Hal ini sangat berlawanan dengan wajah bengis.

Kalau kita melihat medsos sekarang ini susah mencari wajah Hamba Allah yang wajahnya teduh dan sejuk. Menimbulkan suasana hati yang gembira pada orang lain.
Yang terjadi adalah wajah-wajah yang membangkitkan emosi kemarahan kita. Naudzubillahi min dzalik.

Saya juga punya guru yang ahli jantung, setiap ketemu orang selalu senyum. Saya tanya :
“Kenapa Prof, anda selalu senyum ?”
“Bagaimana saya tidak tersenyum? Saya sudah melihat Tuhan”.
Ternyata untuk ‘melihat’ Tuhan tidak perlu menunggu kita mati.

Allah SWT berfirman:

قُلْ اِنَّمَاۤ اَنَاۡ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰۤى اِلَيَّ اَنَّمَاۤ اِلٰهُكُمْ اِلٰـهٌ وَّا حِدٌ ۚ فَمَنْ كَا نَ يَرْجُوْا لِقَآءَ رَبِّهٖ فَلْيَـعْمَلْ عَمَلًا صَا لِحًـاوَّلَايُشْرِكْ بِعِبَا دَةِ رَبِّهٖۤ اَحَدًا

“Katakanlah (Muhammad), Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka barang siapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia menyekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” -(QS. Al-Kahf 18: Ayat 110)

Maka barang siapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia menyekutukan dengan sesuatu pun.


Jantung diatur Syaraf Otonom

Mempelajari jantung dalam ilmu kedokteran hanya dibatasi sekedar alat pompa darah. Padahal mestinya jantung harus kita fahami baik secara lahiriah maupun batiniah.
Yang lahiriah harus kita upayakan agar mengarahkan batin kita menjadi tenang. Orang yang merasakan ketenangan hati pasti irama jantungnya frekuensinya rendah (optimal 60 kali permenit). Orang yang jantungnya berdenyut 100 kali tak mungkin hatinya tenang.

Jantung kalau dibiarkan dapat berdenyut sendiri. Karena dia punya pusat otomasi. Bahkan kalau di luar tubuh bisa bertahan sampai 25 tahun, selama lingkungan cairannya tepat.

Karena jantung tidak untuk melayani dirinya sendiri, dia harus melayani seluruh organ tubuh, maka jantung harus bersedia diatur. Yang mengatur adalah Sistem Syaraf Otonom. Artinya jantung tidak dapat diperintah oleh kesadaran kita.
“Wahai jantung, kamu jangan berdebar-debar!, pelan saja” – Tidak bisa.

Sistem Syaraf Otonom bekerja di dalam tubuh menguasai sebesar 90%.
Kita bisa menggerakkan tangan atau kaki, kalau tidak ada gangguan syaraf di otak. Mereka yang kena stroke tak dapat lagi memerintah anggota tubuh.
Tetapi jantung tidak bisa diperintah, padahal jantung melayani seluruh tubuh.

Kalau kita pernah melihat rekaman jantung : Electrocardiogram terlihat ada garis kotak-kotak yang dirancang 25 mm durasinya 1 detik.
Orang sampai merancang alat ukur detak jantung dengan kertas Electrocardiogram. Kalau setiap 25 mm ada detak jantung berarti detak jantungnya 60 kali per menit.
Penemu elektrokardiogram (ECG atau EKG) adalah Willem Einthoven dia adalah dokter dan fisiolog Belanda kelahiran Semarang.


Perhatikan Dimensi Waktu

Kita setiap hari jum’at diingatkan :

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَـنْظُرْ نَـفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۚ 

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok” -(QS. Al-Hasyr 59: Ayat 18)

Satuannya tidak detik, ini suatu kelonggaran yang luar biasa. Kita harus mempersiapkan diri untuk hari esok. Kalau kita mempelajari Al Qur’an sungguh luar biasa.

Allah SWT berfirman:

اَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَنْ تَخْشَعَ قُلُوْبُهُمْ لِذِكْرِ اللّٰهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَـقِّ ۙ وَلَا يَكُوْنُوْا كَا لَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلُ فَطَا لَ عَلَيْهِمُ الْاَ مَدُ فَقَسَتْ قُلُوْبُهُمْ ۗ وَكَثِيْرٌ مِّنْهُمْ فٰسِقُوْنَ

“Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan dan janganlah mereka seperti orang-orang yang telah menerima Kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka menjadi orang-orang fasik.” (QS. Al-Hadid 57: Ayat 16)

Kita perlu memperhatikan dimensi waktu ini. Alhamdulillah kita masih bisa berjihad menuntut ilmu Al Qur’an lewat majelis zoom.


Jantung Bekerja Sama Dengan Kepala

Jantung tidak bekerja sendiri. Dia bekerja sama dengan organ lain, utamanya dengan kepala.

Ada kisah Sunan Kalijogo dan ‘orong- orong’. Tak sengaja Sunan saat membuat ‘tatal’, memisahkan kepala ‘orong-orong’ dengan parang, dari badan ‘orong-orong’. Dengan sangat menyesal, Sunan menyambung kepala dan badan ‘orong – orong’ tersebut dengan ‘tatal’ -(serpihan kayu jati).

Kita juga ingat saat iedhul qurban, ketika sapi disembelih, kepalanya tidak dipatahkan sampai putus, masih tetap tersambung. Inilah pelajaran yang sangat berharga kepada kita : Jangan pernah memisahkan kepala dengan jantung.

Jantung dan kepala itu bertemu dibatang otak yang namanya nucleus ambiguus. Dulu orang bingung (ambigu) ,tidak jelas apa itu. Akhirnya diberi nama nucleus ambiguus. Ternyata inilah yang menentukan hidup kita, menentukan akhlak kita, menentukan kekhusyukan kita di dalam shalat, menentukan kekhusyukan kita di dalam berdzikir.

Dari pangkal otak itulah keluar serabut- serabut syaraf kelima yang kita gunakan untuk berdzikir, untuk membaca Al Qur’an, untuk istighfar

Allah SWT berfirman:

وَمَا كَا نَ قَوْلَهُمْ اِلَّاۤ اَنْ قَا لُوْا رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَاِ سْرَا فَنَا فِيْۤ اَمْرِنَا وَ ثَبِّتْ اَقْدَا مَنَا وَا نْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَ

“Dan tidak lain ucapan mereka hanyalah doa, Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 147)

Jantung dengan kepala tidak boleh dipisahkan, lewat rahang, lewat wajah dengan syaraf fasialis. Jadi kita harus senantiasa menjadikan lingkungan itu teduh dengan air muka yang senantiasa berseri-seri.

Serabut syaraf yang ke wajah juga ke telinga sehingga kita bisa membedakan suara manusia atau bukan. Syaraf ketujuh sampai ke otot telinga tengah (Eustachius).
Maka mendengarkan murotal Al Qur’an sangat sehat. Lantunan Al Qur’an dibacakan saat suasana kesedihan cocok. Dibacakan dalam suasana kegembiraan juga cocok. Dalam suasana yang tidak jelas juga cocok.
Telinga kabelnya jadi satu dengan wajah.

Serabut syaraf yang menuju lidah dihubungkan dengan syaraf glosofaringeal (lidah – kerongkongan) . Jadi tubuh manusia dirancang untuk tenang. Serabut syaraf ini berhubungan dengan Ketenangan dan juga berhubungan dengan Persahabatan.

Serabut syaraf ini dikaitkan dengan Haji Mabrur. Haji Mabrur itu cirinya dua yaitu Thayyibul kalam (bicaranya bagus) dan Ith‘amut tha‘am (suka memberi makan).
Ini dua hal yang penting : Bicara bagus dan Suka memberi makan.

Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” -(HR Bukhari Muslim)

Serabut syaraf glosofaringeal berhubungan dengan makanan dan juga berhubungan dengan pita suara. Maka bicara harus santun.
Orang Jawa mengatakan : “ajining diri gumantung ing lathi” (harga diri seseorang tergantung pada lisannya)
Ini diselenggarakan oleh syaraf yang ke sembilan dan dibantu oleh syaraf yang ke sepuluh.


Ciri-Ciri Orang Beriman

1. Orang Beriman bersuara lembut

Allah SWT berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَرْفَعُوْۤا اَصْوَا تَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوْا لَهٗ بِا لْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ اَنْ تَحْبَطَ اَعْمَا لُكُمْ وَاَ نْـتُمْ لَا تَشْعُرُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap yang lain, nanti pahala segala amalmu bisa terhapus sedangkan kamu tidak menyadari.” (QS. Al-Hujurat 49: Ayat 2)

اِنَّ الَّذِيْنَ يَغُضُّوْنَ اَصْوَا تَهُمْ عِنْدَ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُولٰٓئِكَ الَّذِيْنَ امْتَحَنَ اللّٰهُ قُلُوْبَهُمْ لِلتَّقْوٰى ۗ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّاَجْرٌ عَظِيْمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah, mereka itulah orang-orang yang telah diuji hatinya oleh Allah untuk bertakwa. Mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Hujurat 49: Ayat 3)

اِنَّ الَّذِيْنَ يُنَا دُوْنَكَ مِنْ وَّرَآءِ الْحُجُرٰتِ اَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُوْنَ

“Sesungguhnya orang-orang yang memanggil engkau (Muhammad) dari luar kamarmu kebanyakan mereka tidak mengerti.” (QS. Al-Hujurat 49: Ayat 4)

Surat Al Hujurat diperlukan sekali untuk membangun keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat.
Ini yang kita perlukan. Sayang jika kita hanya mendalami Surat Yasin, Surat Al Kahfi, Surat Al Waqi’ah saja.
Masyarakat kita saat ini sangat memerlukan Surat Al Hujurat .
Apalagi ketika kita bicara masalah iman. Karena kalau orang sudah beriman pasti aman.

2. Iman itu Dalam Hati

Allah SWT berfirman:

قَا لَتِ الْاَ عْرَا بُ اٰمَنَّا ۗ قُلْ لَّمْ تُؤْمِنُوْا وَلٰـكِنْ قُوْلُوْۤا اَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْاِ يْمَا نُ فِيْ قُلُوْبِكُمْ ۚ وَاِ نْ تُطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ لَا يَلِتْكُمْ مِّنْ اَعْمَا لِكُمْ شَيْئًــا ۗ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

“Orang-orang Arab Badui berkata, Kami telah beriman. Katakanlah kepada mereka , Kamu belum beriman, tetapi katakanlah Kami telah Islam , karena iman belum masuk ke dalam hatimu. Dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun pahala amalmu. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat 49: Ayat 14)

3. Orang Beriman Tetangganya Aman.

Allah SWT berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّ ۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًا ۗ اَ يُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ ۗ وَا تَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ تَوَّا بٌ رَّحِيْمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat 49: Ayat 12)

4. Orang Beriman Menghindari Hoax

Allah SWT berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِنْ جَآءَكُمْ فَا سِقٌ   بِۢنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْۤا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا   بِۢجَهَا لَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kecerobohan , yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 6)

Sekarang ini kalau kita membaca WA, yang benar-benar berita yang mana? Kita itu dibuat pusing terus. Kalau kita kaji otak kita banyak getah-getah syaraf yang mestinya tidak diperlukan.
Naudzubillahi min dzalik, ini terjadi perusakan besar-besaran di dalam otak kita karena kita membaca berita-berita hoax.

Orang beriman harus menghindari hoax, dan Allah menjanjikan Surga atas kebenarannya.

قَا لَ اللّٰهُ هٰذَا يَوْمُ يَـنْفَعُ الصّٰدِقِيْنَ صِدْقُهُمْ ۗ لَهُمْ جَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَ نْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۤ اَبَدًا ۗ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ ۗ ذٰلِكَ الْـفَوْزُ الْعَظِيْمُ

“Allah berfirman, Inilah saat orang yang benar memperoleh manfaat dari kebenarannya. Mereka memperoleh surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Itulah kemenangan yang agung.” (QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 119)

لِلّٰهِ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ وَمَا فِيْهِنَّ ۗ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

“Milik Allah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya; dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 120)

Maka hendaknya kita mengkonsumsi berita yang benar saja.
Bukankah kita diingatkan setiap jum’at :

هَلْ اَتٰٮكَ حَدِيْثُ الْغَا شِيَةِ ۗ 

“Sudahkah sampai kepadamu berita tentang hari Kiamat ?” (QS. Al-Ghasyiyah 88: Ayat 1)

Mestinya hati kita diarahkan kesana.
Tapi kenyataan memprihatinkan kita. Di koran Yogya itu berita yang benar cuma ada dua : Kolom Sungguh- sungguh Terjadi (berita di depan pojok kanan bawah) dan Berita Kematian. Karena tak pernah ada berita kematian yang diralat. Berita yang lain masih dipertanyakan kebenarannya.

Maka kita perlu hati-hati dengan dimensi waktu ini, mari kita manfaatkan waktu kita sebaik-baiknya.

BERSAMBUNG BAGIAN 2




LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here