Dr. dr. Erlina Burhan, MSc, Sp.P(K)

18 Robi’ul Akhir 1442 / 3 Desember 2020



Perkembangan Covid-19 Sangat Dinamis.

Covid-19 Ketakutan Tak Berujung , itu judul yang diberikan kepada saya. Sebenarnya kita tidak perlu takut, tetapi hanya waspada saja. Barangkali juga urusan Testing dan Tracing itu kita serahkan kepada Pemerintah. Yang utama sebetulnya adalah bagaimana kita menjaga diri kita agar terhindar dari Covid-19 ini.

Kita harus bisa menjaga diri agar terhindar, tentu saja kita harus tahu sedikit banyak tentang Covid-19 ini.
Saya dapat mengatakan bahwa perkembangan Covid-19 ini sangat dinamis. Baru-baru terus, sehingga kita dituntut untuk belajar terus. Kita tidak bisa hanya mengetahui yang dulu , kemudian tenang-tenang saja. Tentu tidak demikian. Kita diminta belajar terus, karena memang pengembangannya sangat dinamis.

Kita dulu mungkin tahu bahwa penularannya hanya lewat droplet langsung dan tidak langsung. Tetapi kemudian perkembangannya ada potensi penularan lewat airborne (udara).

Kita juga tahu bahwa Virus ini sudah bermutasi / berubah susunan genetiknya. Dan juga menimbulkan kecemasan di kalangan para penyintas atau orang-orang yang terinfeksi dan dinyatakan sakit.

Kalau seandainya sembuh dan tidak ada gejala tapi hasil PCR nya tetap positif. Kita sebut dengan Persistent Positive. Namun kemudian juga terjadi Kemungkinan Re-infeksi dan Vaksin. Hal-hal ini yang ingin saya update untuk saya sampaikan.

Kita semua tahu bahwa Covid-19 merupakan suatu penyakit menular. Disebabkan oleh Virus SARS- Cov-2. Penyebaran sangat cepat dari manusia ke manusia lewat droplet langsung maupun tidak langsung, menyebar dengan sangat cepat ke berbagai negara. Hampir seluruh dunia melaporkan kasusnya.

Data WHO menunjukkan per tanggal 2 Desember 2020 : 62.844.837 kasus terkonfirmasi di seluruh dunia , dengan 1.465.144 kematian.
Data Covid-19 Indonesia 1 Desember 2020 : 557.877 kasus terkonfirmasi , dengan 17.081 meninggal.
Pecah rekor , kasus baru hari ini tanggal 3 Desember 2020 : 8.369 kasus infeksi baru.
Kita harus tetap waspada karena peningkatan kasus masih terus terjadi hingga saat ini.


Bagaimana Covid-19 Bisa menyebar?

Droplet : Droplet yang dikeluarkan penderita.
Kontak langsung : berjabat tangan.
Tidak langsung : Permukaan benda
Airborne : Droplet kecil yang dapat bertahan di udara dalam beberapa jam (ruangan tertutup, paparan jangka panjang, ventilasi buruk).

Pengetahuan kita mengatakan bahwa ini droplet yang dikeluarkan oleh pasien. Dulu kita katakan droplet dikeluarkan pada saat batuk dan bersin. Tetapi ternyata sekarang droplet dapat ditularkan pada saat bernyanyi, saat olah raga bersama. Artinya nafas itu dapat mengeluarkan droplet bahkan saat berbicara.

Kemudian mengingat bahwa ukuran dari virus ini sangat-sangat kecil sehingga droplet yang sangat kecil ini dapat bertahan di udara cukup lama, ada beberapa jam. Dan kalau ruangan ini tertutup dan ventilasi sangat buruk, terjadi paparan jangka panjang. Potensi penularan lewat udara kemungkinan besar terjadi.


Penyakit Penyerta (Komorbit) Pada Covid-19

Ada hubungan penyakit penyerta atau komorbit pada kejadian Covid-19 ini. Penyakit utama yang ditemukan pada pasien Covid-19 adalah

Hipertensi : 49,8%
Diabetes Melitus : 35,1%
Penyakit Jantung : 19,3%
Penyakit Paru Obstruktif Kronis : 9,3%

Jadi memang penyakit penyerta ini mengganggu respon imunitas tubuh menurunkan respon imun sehingga resiko untuk tertular Covid-19 juga lebih tinggi, dan kemungkinan muncul gejala juga tinggi pada orang-orang yang punya penyakit penyerta atau komorbit.

Kalau ada yang punya komorbit, saya sarankan terutama yang berpenyakit Hipertensi dan Diabetes agar meminum obat hipertensinya atau diabetesnya secara rutin dan teratur.


Gejala Covid-19

Karena penyebab penyakit ini adalah virus , maka gejala utamanya adalah
Demam (87,9%), Batuk kering (67,7%), berdahak (33,4%), Kesulitan bernafas (18,6%)

Gejala lain yang sekarang marak adalah gangguan penciuman, dia tidak bisa membaui benda-benda yang biasanya bisa. Kemudian ada gangguan pengecapan. Tidak bisa merasakan enaknya Rendang atau Soto ayam.

Ini mesti diwaspadai, bila ada gangguan penciuman atau pengecapan. Karena itu adalah tanda-tanda dini dari Covid-19. Segera memeriksakan diri, memastikan bahwa pemeriksaan dilakukan sesuai standar.

Gejala lainnya adalah mual/muntah/ nyeri perut (5%) dan ada diarhee (3,7%) . Dan yang terutama yang segera kita ketahui adalah lemas, lesu, lelah.(38,1%)

Namun sekarang ada lagi yang mesti kita ingat. Ternyata gejala Covid-19 kadang-kadang tidak khas seperti theori yang disampaikan. Bahkan sekarang di atas 60% pasien bisa terjadi tanpa gejala. Ini yang banyak, tanpa gejala. Masa inkubasi rata-rata 5-6 hari dengan masa terpanjang 14 hari.

Covid-19 bukan hanya menyerang saluran nafas atau paru-paru saja. Tetapi juga dapat menyerang organ lain.

Contoh , kalau menyerang otak : Pasien datang dengan gejala serupa dengan Stroke, bahkan mungkin kejang atau inflamasi otak.
Dulu orang marah-marah kalau membawa orang tuanya dengan gejala Stroke, lalu di Rumah Sakit di diagnose Covid-19 dia tidak terima.
Juga bisa kena Mata : Keluhannya Conjunctivitis, inflamasi cornea.
Hidung : Anosmia.

Yang perlu diwaspadai adalah kalau menyerang Cardiovascular : Pembekuan darah atau vasokonstriksi pembuluh darah. Banyak bekuan- bekuan darah, terjadi penyempitan pembuluh darah sehingga gejalanya serupa hipertensi.
Ada anak muda datang , mengatakan hipertensi. Mungkin itu bukan hipertensi betulan, tapi bisa juga karena Covid-19.

Covid-19 bisa kena Hati : Peningkatan enzim hati, Asam urat, intestinal, ginjal dan masalah neurologis seperti kelumpuhan pada Guillain Barré syndrome, encefalitis, halusinasi, gangguan kesadaran.
Jadi Covid-19 ini bisa menyerang hampir seluruh bagian tubuh.


Penegakan Diagnosis

1. RT-PCR
2. RAPID TEST ANTIGEN
3. RAPID TEST ANTI BODY

Kalau ada gejala maka sebaiknya memeriksakan diri ke Rumah Sakit atau Fasilitas yang bisa melakukan aktivitas RT-PCR.
RT-PCR ini adalah diagnosis pasti Covid-19 (baku emas) , sampel : Swab Hidung/tenggorok.

Rapid Test Anti Body.

sementara Rapid Test anti body itu tidak digunakan untuk diagnosis maupun Skrining, karena itu hanya mendeteksi anti body, tidak mendeteksi virus. Hanya untuk kepentingan epidemiology, berapa banyak yang sudah terpapar dalam suatu kelompok masyarakat.
Kemungkinan bisa terjadi negatif atau positif palsu.

Rapid Test Antigen.

Ada lagi yang sedikit lebih baik daripada Rapid Test anti body, yang kita sebut dengan Rapid Test Antigen. Ini sama-sama diswab tapi tidak dilakukan pemeriksaan seperti PCR tetapi pemeriksaan Serologis.
Ini sensitivitasnya adalah yang dianggap baik adalah kalau diatas 80% dan spesifitasnya diatas 97% .

Ini dapat digunakan sebagai diagnosis Covid-19 bila PCR tidak tersedia atau membutuhkan waktu yang cepat. Karena keakuratannya kalau dia positif, biasanya positif juga. Diatas 50% mirip seperti RT-PCR.
Kelebihan dari Rapid Test Antigen adalah lebih cepat dari RT-PCR. Hanya 20 sampai 30 menit sudah keluar hasilnya.


Klasifikasi Derajat Keparahan.

Ada 5 derajat keparahan :
Tanpa Gejala
Ringan : Pasien dinasehatkan untuk melakukan isolasi mandiri di rumah.
Sedang : Wajib dirawat
Berat : Wajib dirawat
Kritis : Wajib dirawat.

Kalau seseorang dinyatakan positif segeralah ke Fasyankes atau Rumah Sakit, menemui Petugas Kesehatan dan meminta pendapatnya. Nanti Petugas Kesehatan akan menunjukkan apakah anda akan di isolasi mandiri di rumah atau dirawat. Kalau dirawatpun sebaiknya berserah diri karena sudah ada SOP yang sudah seragam dilakukan di Indonesia.
Tidak dianjurkan untuk mengobati diri sendiri tanpa resep dokter.


Reinfeksi, Positif Persisten, Long Covid dan Mutasi Covid-19

Kasus Reinfeksi

Di Amerika mulai dilaporkan kasus yang re-infeksi. Salah satu contohnya adalah seorang laki-laki 25 tahun dengan hasil positif di bulan April, kemudian Juni positif lagi. Dan ketika diperiksa virusnya ternyata gen virusnya berbeda. Maka dikatakan bahwa ini adalah re-infeksi dan biasanya kejadian infeksi yang kedua dengan gejala klinis yang lebih berat.
Di banyak negara juga sudah banyak dilaporkan, bahkan di Indonesia juga sudah ada.

Kalau seseorang sakit Covid dan sembuh, maka seseorang itu mempunyai anti body dalam tubuhnya yang memberikan kekebalan terhadap virus penyebab Covid-19. Namun anti body yang terbentuk akan menghilang dalam waktu 3-12 bulan. Sehingga dengan demikian kemungkinan untuk tertular ulang (re- infeksi) itu ada.

Oleh sebab itu tidak bosan-bosannya saya sampaikan bahwa walaupun sudah sembuh tetap harus menjalankan protokol kesehatan, terutama kalau kesembuhannya sudah 3 bulan lalu.


Positif Persisten

Ini adalah kasus-kasus yang sudah tidak ada gejala tetapi pemeriksaan RT-PCR masih tetap menunjukkan positif karena memang, sisa-sisa particle virus masih bisa terdeteksi oleh alat sampai dengan 12 minggu. Namun demikian secara theori selama 3 minggu sebetulnya tidak ada virus yang bereplikasi.

Virus ini sama dengan manusia, ada usianya juga. Dikatakan bahwa setelah 10 hari, virus ini sudah melemah, sudah tidak ada lagi dan tidak akan menularkan. Jadi kalau sudah sembuh, tidak ada gejala, tetapi hasil test masih positif, dalam rentang waktu 12 minggu sebenarnya tidak berbahaya lagi. Tidak ada potensi penularan.


Cycle Treshold Value.

CT-Value adalah jumlah siklus perputaran mesin yang dibutuhkan oleh mesin untuk dapat mendeteksi materi genetik. Jadi semakin tinggi CT Value maka jumlah virus akan semakin kecil sehingga resiko virus menyebabkan infeksi mengecil.

Biasanya CT-Value > 34 tidak menimbulkan infeksi.
Tetapi nilai CT-Value dipengaruhi oleh metode pengambilan sample, jumlah materi genetik dalam sample, methode pemeriksaan dan Kit PCR yang dipakai. Jadi karakter masing-masing mesin berbeda, bahkan ada satu mesin yang CT Value batas atasnya adalah 45.


Long Covid

Covid yang lama, artinya adalah seseorang sudah dinyatakan sembuh, sudah dua kali berturut-turut negatif hasil PCR nya tetapi ternyata dalam 12 minggu ke depan masih ada gejala sisa. Kadang-kadang merasa lemah, anosmia (tidak bisa membaui), masih batuk, masih sesak, nyeri badan, masih mual, nyeri perut, nyeri dada bahkan kadang-kadang terlihat bingung.

Ada juga yang bahkan susah konsentrasi , bahkan ada yang amnesia (banyak lupa). Tapi tidak perlu khawatir karena biasanya ini akan recovery dengan berlalunya waktu, biasanya setelah 12 minggu.


Mutasi Covid-19

Virus ini sudah bermutasi, terjadi perubahan struktur genetika virus terutama pada bagian luar dari virus. Bagian luar dari virus menjadi lebih flexibel, lebih tahan dan lebih mudah menginfeksi. Tetapi tidak ada hubungannya dengan sebaran penyakit. Bukan berarti meskipun virusnya sudah bermutasi lalu sakitnya akan lebih parah.


Vaksinasi Covid-19

Untuk Indonesia maka kriteria vaksin yang ideal adalah : Efektif, Aman dan
Halal karena 85% penduduk Indonesia adalah muslim.
WHO merekomendasikan bahwa vaksin Covid-19 yang baik adalah yang dapat digunakan adalah vaksin yang dapat menurunkan resiko infeksi penyakit >= 50% dengan efikasi >=30%.

Keamanan Vaksin

Vaksin harus melalui berbagai tahap uji coba karena kita ingin melihat keamanannya dan kemudian harus dievaluasi oleh Badan POM dan kemudian juga akan diberikan ijin. Kemudian diadakan pemantauan berkata dan kita tahu sekarang bahwa Vaksin Sinovac yang sedang diteliti di Bandung akan segera selesai di awal Januari 2021.

Kemudian Badan POM butuh waktu 20 hari untuk mengurus ijin EUA (Emergency Use Authorization) sementara untuk keadaan darurat. Ditargetkan akhir Januari 2021.

Kehalalan harus ada 3 proses yang dilalui yaitu : Penelusuran bahan dan proses produksi, Sistem jaminan halal dan Uji laboratorium. Dan ini dimintakan ke badan POM dan MUI untuk mengidentifikasinya.

Sekarang ada lagi vaksin yang diproduksi Indonesia dan disebut vaksin merah putih dan diteliti oleh Lembaga Eikjman, LIPI, UI, UGM , ITB dan Unair. Tapi sayangnya vaksin ini baru akan selesai di pertengahan tahun 2022.


6 Kelompok Prioritas Penerima Vaksin Covid-19

1. Tenaga medis, para medis contact tracing dan Pelayan Publik mencakup TNI, Polri dan aparat Hukum.
2. Tokoh agama, daerah, kecamatan dan RT/RW.
3. Tenaga pendidik mulai dari tingkat PAUD, TK, SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi.
4. Aparatur pemerintah baik di pusat maupun daerah serta legislatif.
5. Peserta BPJS Penerima Bantuan Iuran (PBI).
6. Masyarakat yang berusia 19-59 tahun.


Pencegahan & Perawatan Covid-19

Vaksin saja tidak cukup bagi kita untuk terlepas dari pandemi. Juga harus melakukan Pencegahan dalam bentuk lain. Ingat 3M, kebiasaan baru dengan 3M adalah suatu kewajiban :
– Memakai masker
– Mencuci tangan
– Menjaga jarak.


Cara pakai masker yang baik dan benar.

Cuci tangan dulu jangan memegang maskernya, yang dipegang talinya saja. Demikian juga pada saat melepas masker. Peganglah hanya talinya dan setelah itu mencuci tangan.


Mengapa Harus Jaga Jarak dan Pakai Masker?

Tingkat risiko penularan COVID-19 akan semakin menurun apabila seseorang memakai masker. Ada 4 tingkatan :

Pertama, apabila seseorang yang membawa virus tidak menggunakan masker dan melakukan kontak dekat dengan orang sehat kemungkinan penularan mencapai 100 %.

Kedua, orang yang sakit tidak pakai masker, sementara orang sehat tidak memakai masker maka potensi penularan mencapai 70%,

Ketiga, orang sakit pakai masker, sementara orang sehat tidak pakai masker maka tingkat penularannya hanya 5% persen.

Keempat, jika keduanya pakai masker, maka potensi penularan 2%.
Apalagi jika ditambah menjaga jarak minimal 2 meter , resiko penularan bisa ditekan sampai 0%.


Cara mencuci tangan.

Cuci tangan juga tidak sembarangan. Perlu waktu 20 sampai 30 detik dan dilakukan pada waktu :
– setelah memegang hidung, batuk dan bersin.
– setelah bepergian keluar (tempat umum atau transportasi umum).
– setelah memegang uang
– sebelum dan setelah makan
– setelah dari toilet
– setelah memegang barang-barang di luar rumah.

Dengan mencuci tangan pakai sabun atau detergen maka virusnya akan rusak dan tidak lagi bisa menginfeksi.


Pencegahan Level Individu.

Tentunya adalah melaksanakan 3M :
– Mencuci tangan lebih sering.
Dengan menggunakan air >20 detik atau hand sanitizer.
– Hindari berjabat tangan, hanya sementara saja selama masa pandemi.
– Menggunakan masker
– Menerapkan etika batuk/bersin
– Segera mengganti baju atau mandi setelah bepergian dari luar. Jangan sampai dari luar masuk rumah langsung berinteraksi dengan keluarga.
– Bersihkan dan berikan desinfektan secara berkala pada benda-benda yang sering disentuh.


Peningkatan Imunitas Diri dan Pengendalian Komorbid.

Menjaga imunitas dengan cara :
– Mengkonsumsi gizi seimbang
– Kalau perlu minum supplement vitamin.
– Melakukan aktivitas fisik atau senam ringan.
– Yang penting tidak merokok
– Istirahat yang cukup, tidur 7 jam kira-kira.
– Mengendalikan komorbid (penyakit penyerta) dengan minum obat obat yang rutin.


Pencegahan Level Masyarakat.

Melakukan jarak fisik (Physical Distancing) .
– Menjauhi keramaian
– Tidak menyelenggarakan kegiatan dengan melibatkan orang banyak
– Hindari perjalanan ke luar kota/negeri
– Mengurangi berkunjung ke rumah kerabat/ menerima tamu. Silaturahim memakai Zoom atau Video Call.
– Jika tidak perlu sekali cukup Work From Home
– Jaga jarak (> 1 meter)
– Anak-anak bermain dalam rumah.
– Ibadah di rumah sementara waktu.


Perawatan Pasien Covid-19

Perawatan Pasien Tanpa Gejala dan Derajat Ringan. (Tidak ada gejala demam, batuk, sesak, napas cepat)
Isolasi mandiri dirumah, istirahat cukup 10 hari. Biasanya dengan istirahat 10 hari virusnya cepat kalah.

Kalau yang ringan , tentu saja selain menjalani isolasi di rumah, menjalankan protokol kesehatan, mengkonsumsi vitamin dan anti virus yang ringan-ringan saja.
Dan kalau di rumah juga diharapkan berjemur di matahari lebih kurang 10 sampai 15 menit sebelum jam 09.00 pagi atau setelah jam 15.00 sore.

Pakaian yang dipakai oleh orang yang positif. Setelah ganti pakaian, pakaiannya juga dipisahkan dengan pakaian anggota keluarga yang lain.

Wajib untuk mengukur dan mencatat suhu tubuh dua kali sehari.


Perhatikan kondisi lingkungan / kamar.

– Upayakan kamar tidur sendiri/ terpisah. Dan pada kamar itu harus masuk cahaya dan udara. Karena itu buka jendela dan buka pintu. Supaya ada sirkulasi, udara tertukar.

– Sebisa mungkin menggunakan APD saat membersihkan kamar yang ada pasiennya. Setidaknya masker dan bila memungkinkan sarung tangan dan google.

– Bersihkan kamar setiap hari, bisa dengan air sabun atau desinfektan lainnya

– Perhatikan ventilasi , cahaya dan udara.


Penerapan protokol kesehatan untuk keluarga pasien.

– Bagi anggota keluarga yang kontak erat dengan pasien juga periksakan diri ke FKTP / Rumah Sakit.

– Anggota keluarga yang ada anggota yang sakit di rumahnya harus selalu memakai masker di rumah

– Menjaga jarak > 1 meter dari pasien.

– Selalu cuci tangan dan jangan menyentuh wajah (hidung, mata, mulut) kalau tidak yakin tangannya bersih.

– Ingat, senantiasa membuka jendela kamar secara berkala agar sirkulasi udara tertukar.

– Bersihkan sesering mungkin daerah yang mungkin tersentuh pasien misalnya gagang pintu dan lain lain.


Pasien dengan Gejala sedang / berat :
Rawat di Rumah Sakit rujukan Covid-19



Menjaga Produktivitas Kerja Selama Pandemi.

– Taati Peraturan Pemerintah.
– Terapkan 3M
– Konsumsi Vitamin dan Supplement
– Tidak keluar rumah jika tidak perlu.
– Jaga Kesehatan Mental : Tidak stress, tetap waspada.
– Jika WFH, lakukan pekerjaan bersama teman kerja via daring.

Pandemi Covid-19 ini belum selesai, kasus positif masih cenderung meningkat dan perlu kerjasama antara Pemangku kebijakan dan masyarakat bersama-sama menghadapi pandemi.
Vaksinasi belum tentu menjamin 100% kita kebal. Kewajiban untuk melakukan 3M tidak gugur karena vaksin.


Allah SWT berfirman:

الَّذِيْ خَلَقَنِيْ فَهُوَ يَهْدِيْنِ ۙ (78) وَ الَّذِيْ هُوَ يُطْعِمُنِيْ وَيَسْقِيْنِ ۙ (79) وَاِ ذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِيْنِ ۙ (80) وَا لَّذِيْ يُمِيْتُنِيْ ثُمَّ يُحْيِيْنِ ۙ (81) وَا لَّذِيْۤ اَطْمَعُ اَنْ يَّغْفِرَ لِيْ خَطِۤیْـئَـتِيْ يَوْمَ الدِّيْنِ ۗ (82)

“(Dialah Tuhanku) yang telah menciptakan aku, maka Dia yang memberi petunjuk kepadaku, dan yang memberi makan dan minum kepadaku; dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku, dan yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku kembali , dan yang sangat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari Kiamat.” (QS. Asy-Syu’ara’ 26: Ayat 78-82)

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here