Dr. Zahrul Fata Lc, MA

17 Robi’ul Akhir 1442 / 2 Desember 2020



Definisi Ulama

Ilmu adalah kata bendanya, dan pelakunya atau orang yang mempunyai ilmu disebut alim dan jamaknya adalah ulama.

Allah SWT berfirman:

وَمِنَ النَّا سِ وَا لدَّوَآ بِّ وَا لْاَ نْعَا مِ مُخْتَلِفٌ اَ لْوَا نُهٗ كَذٰلِكَ ۗ اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَا دِهِ الْعُلَمٰٓ ؤُا ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ غَفُوْرٌ

“Dan demikian pula di antara manusia, makhluk bergerak yang bernyawa, dan hewan-hewan ternak ada yang bermacam-macam warnanya. Di antara hamba- hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama. Sungguh, Allah Maha Perkasa, Maha Pengampun.” (QS. Fatir 35: Ayat 28)

‘innamaa’ itu pembatasan, artinya hanyalah. Hanya para ulama yang takut kepada Allah. Lalu siapa para ulama itu? Dalam tafsir Ibnu Katsir, beliau menukil beberapa pendapat dari para sahabat.

Dari Ibnu Abbas, yang disebut dengan alim atau orang berilmu adalah :
Disebut ulama selama dia punya rasa takut kepada Allah. Selama dia tidak punya rasa takut maka dia tidak layak disebut alim atau ulama.

Indikasi takut (khosyah) adalah :
– Dia tidak menyekutukan Tuhannya.
– Menghalalkan apa yang sudah dihalalkan Allah dan mengharamkan apa yang diharamkan Allah.
– Menjaga wasiat atau hukum-hukum Allah
– Meyakini bahwa suatu saat pasti dia akan bertemu dengan Allah. Dan Allah akan menghitung amalan-amalannya.

Ibnu Mas’ud mempunyai ciri yang agak berbeda redaksinya :
Ilmu itu bukan dilihat dari banyaknya hadits yang dia kuasai, tetapi sejauh mana dia punya rasa takut.
Imam Malik, mengatakan bahwa ilmu bukan diukur dari banyaknya periwayatan, akan tetapi ilmu adalah cahaya Allah yang dihembuskan oleh Allah ke dada seorang hamba.

Jadi indikasi kongkrit orang berilmu adalah ketika dia takut kepada Allah. Takut akan siksaNya kalau dia akan menyelewengkan apa yang seharusnya dinampakkan, kalau dia menghalalkan yang haram atau sebaliknya. Kalau rambu-rambu itu diterabas, meskipun dia itu perpustakaannya mengisi seluruh rumahnya , dia hafal banyak hadits, dia menguasai bahasa Arab tetapi rasa kosyah hilang, maka dia tak dapat disebut sebagai ulama.


Ciri- Ciri Ulama

1. Kombinasi Dzikir dan Fikir dan Do’a

Allah SWT berfirman:

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ وَا خْتِلَا فِ الَّيْلِ وَا لنَّهَا رِ لَاٰ يٰتٍ لِّاُولِى الْاَ لْبَا بِ ۙ 

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang yang berakal,” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 190)

Bagaimana agar seseorang termotivasi untuk menjadi seorang yang alim dan takut?
Maka dia harus mengerahkan segala kemampuannya untuk merenung dan berfikir sehingga dia menjadi ulil-albab. Siapakah ulil-albab itu.?

Allah SWT berfirman:

الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَا مًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَا طِلًا  ۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَا بَ النَّا رِ

“yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata , Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 191)

Kombinasi dzikir dan fikir mengantarkan pada satu kesimpulan bahwa tidak ada ciptaan Allah yang sia-sia.

Ulama dibahasakan lain oleh Al Qur’an dengan kata ulil albab. Yaitu orang yang memadukan antara dzikir dan fikir. Tidak cukup seorang ulama berdzikir terus tapi tidak berfikir. Atau sebaliknya dia berfikir saja tapi tidak diiringi dengan dzikir.
Hal ini kalau disingkat adalah seperti wahyu yang pertama turun.


اِقْرَأْ بِا سْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ ۚ 

“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan,” (QS. Al-‘Alaq 96: Ayat 1)

Orang tidak cukup hanya dengan iqro` saja tapi harus dengan bismi robbi.
Karena kalau hanya sampai dengan iqro’ saja maka akan sama dengan mayoritas scientist Barat. Mereka menangkap ilmu hanya ilmu.
Seorang Ulil albab, ilmunya mendorong si empunya pada perenungan tak ada ciptaan Allah yang sia-sia. Pasti ada hikmah dalam setiap penciptaan.

Nyamuk dianggap sangat mengganggu, akhirnya diusir dengan berbagai cara. Tetapi gara-gara nyamuk orang dapat berusaha membuat Pabrik obat nyamuk. Banyak orang yang mendapatkan manfaat gara-gara ada pabrik obat nyamuk.
Demikian pula cacing, bagi sebagian orang hanya berfungsi sebagai umpan memancing. Tetapi kemudian dia menjadikan ilham adanya Kereta bawah tanah.

Seorang hamba harus merenungkan apa-apa ciptaan Allah yang ada disekitarnya dan kemudian dia juga harus berdzikir. Sehingga akan mengantarkan dia kepada seorang yang takut kepada Allah.

Disiplin ilmu apapun harus mengantarkan dia untuk takut kepada Allah. Untuk sampai kesitu maka dia harus tahu ilmu-ilmu yang mengantarkannya kesana. Dan itu tidak lain adalah ilmu-ilmu agama, atau ilmu syari’ah. Karena yang tahu halal haram adalah dari ilmu agama.

Orang yang dikehendaki Allah akan difahamkan ilmu agama.
Rasulullah SAW bersabda :

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah akan faqihkan ia dalam masalah agama.” (HR. Al- Bukhari dan Muslim).

Idealnya orang yang menguasai ilmu-ilmu syari’ah lebih punya rasa takut, daripada mereka yang tipis ilmu syari’ahnya. Tapi kita dapati juga orang yang menguasai ilmu syari’ah kadang- kadang tidak punya rasa takut kepada Allah, dibanding orang yang kadang- kadang minim ilmu agamanya. Ini yang disebut dengan ulama su’u. Dia tidak seimbang antara berfikir dan berdzikir. Sehingga tidak mengantar dia ke gerbang khosyah.

Kita diajarkan do’a nabi agar fakih dalam agama.
Doa yang pertama adalah doa Nabi kepada Ibnu Abbas, keponakan beliau.

Rasulullah SAW berkata,

اللّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ، وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ

“Ya Allah, pahamkanlah dia terhadap agama dan ajarkanlah ilmu tafsir kepadanya.” (HR. Ahmad)

Akhirnya Ibnu Abbas tumbuh sebagai anak remaja yang luar biasa keluasannya terhadap ilmu agama, terutama ilmu tafsir.

Do’a kedua adalah do’a Rasulullah kepada Anas bin Malik, yang merupakan anak pembantu Rasulullah.
Nabi SAW pernah mendatangi Ummu Sulaim (ibunya Anas). Ketika itu Ummu Sulaim mengatakan bahwa Anas bin Malik siap menjadi pelayan Nabi SAW. Lantas beliau mendoakan Anas dalam urusan akhirat dan dunianya. Di antara do’a beliau pada Anas adalah,

اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ ، وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتَهُ

“Ya Allah, perbanyaklah harta dan anaknya, serta berkahilah apa yang engkau karuniakan padanya.” (HR. Bukhari Muslim)

Kita dapat menggabungkan dua buah do’a diatas untuk mendo’akan anak cucu kita. Mudah-mudahan tumbuh dari anak cucu kita generasi yang ahli fiqih dan sekaligus kaya.


2. Haus akan Ilmu

Sejatinya ilmu yang diberikan oleh Allah kepada manusia hanya sedikit.
Beberapa hari ini saya membaca buku Filsafat Manusia, disini para Filosuf bingung mendefinisikan apa itu roh. Manusia itu ada jasad dan ada roh. Sejatinya roh itu apa ? Seorang pakar Bedah jantung pernah berkata bahwa jantung bisa digantikan dengan suatu alat beberapa jam ketika operasi. Dan orangnya masih hidup. Lalu roh itu yang mana? Tak ada yang tahu.

Demikian pula zaman dulu sahabat bertanya, roh itu apa? Lalu turunlah ayat :

وَيَسْــئَلُوْنَكَ عَنِ الرُّوْحِ ۗ قُلِ الرُّوْحُ مِنْ اَمْرِ رَبِّيْ وَمَاۤ اُوْتِيْتُمْ مِّنَ الْعِلْمِ اِلَّا قَلِيْلًا

“Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang roh, katakanlah, Roh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit.”(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 85)

Jadi ilmu yang dimiliki manusia hanya sedikit. Al Qur’an juga memerintahkan kepada manusia supaya tidak henti- hentinya menambah ilmu.

Allah SWT berfirman:

فَتَعٰلَى اللّٰهُ الْمَلِكُ الْحَـقُّ ۚ وَلَا تَعْجَلْ بِا لْقُرْاٰ نِ مِنْ قَبْلِ اَنْ يُّقْضٰۤى اِلَيْكَ وَحْيُهٗ ۖ وَقُلْ رَّبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا

“Maka Maha Tinggi Allah, Raja yang sebenar-benarnya. Dan janganlah engkau (Muhammad) tergesa-gesa membaca Al-Qur’an sebelum selesai diwahyukan kepadamu, dan katakanlah, Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.” (QS. Ta-Ha 20: Ayat 114)

Jadi ciri-ciri orang berilmu itu haus akan ilmu.

Kita pernah mendengar kisah Nabi Musa yang pada suatu hari ditanya oleh kaumnya: “Siapakah manusia di atas bumi ini yang paling banyak ilmunya?” . Nabi Musa menjawab : “Saya”.

Tidak lama setelah itu Nabi Musa ditegur Allah : “Tidak! Bukan kamu wahai Musa. Ada lagi manusia yang lebih punya ilmu daripada kamu”.
Akhirnya Nabi Musa minta ijin untuk bertemu dan menimba ilmu pada orang itu.

Akhirnya Nabi Musa memang dipertemukan dengan orang itu, yaitu Nabi Khidir. Petualangan Nabi Musa dalam mencari ilmu kepada Nabi Khidir direkam dalam Surat Al Kahfi. Jadi hendaknya kita senantiasa merasa haus akan ilmu.


Jenis Ilmu

1. Ilmu Laduni

Yaitu ilmu yang diperoleh tanpa upaya manusia. Sebagaimana ilmu yang ada di kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir.
Pada saat itu mencari Nabi Khidir, Nabi Musa berdua ditemani Yusya bin Nun muridnya. Akhirnya mereka menemukan Nabi Khidir yang mendapatkan ilmu laduni dari Allah.

Allah SWT berfirman:

فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَا دِنَاۤ اٰتَيْنٰهُ رَحْمَةً مِّنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنٰهُ مِنْ لَّدُنَّا عِلْمًا

“lalu mereka berdua bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan rahmat kepadanya dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan ilmu kepadanya dari sisi Kami.” (QS. Al-Kahf 18: Ayat 65)

Istilah ilmu laduni diambil dari kata “mil ladunnaa ‘ilmaa”. Ilmu ada kalanya diberikan Allah langsung kepada hambanya tanpa ada usaha dari hamba tersebut.

2. Ilmu Kasbi

Ilmu yang diperoleh karena usaha manusia.

Pembagian ilmu di atas karena pandangan Al Qur’an terdapat hal-hal yang ‘ada’ tetapi tidak dapat diketahui melalui melalui upaya manusia.

Allah SWT berfirman:

فَلَاۤ اُقْسِمُ بِمَا تُبْصِرُوْنَ ۙ (38) وَمَا لَا تُبْصِرُوْنَ ۙ (39)

“Maka Aku bersumpah demi apa yang kamu lihat, dan demi apa yang tidak kamu lihat.” (QS. Al-Haqqah 69: Ayat 38-39)

Dalam faktanya di dunia ada hal-hal yang tidak bisa kita lihat.


Tata Cara Meraih Ilmu


Allah SWT berfirman:

وَا للّٰهُ اَخْرَجَكُمْ مِّنْۢ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْــئًا ۙ وَّ جَعَلَ لَـكُمُ السَّمْعَ وَا لْاَ بْصٰرَ وَا لْاَ فْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl 16: Ayat 78)

Kita tahu karena tiga hal : Mendengar, melihat dan merenung. Betapa jelinya Al Qur’an dalam meletakkan kata perkata kenapa Al Qur’an mendahulukan ‘mendengar’, baru kemudian ‘melihat’ dan terakhir ‘merenung’?

Kalau perkataan manusia, sering terjadi tidak urut dalam menyebutkan tiga hal. Ini Al Qur’an menyebutkan urutan dengan hikmah luar biasa.
Pendengaran adalah indera kita yang pertama kali bereaksi. Bila kita ada di dalam suatu ruangan, kita dapat mendengar suara letusan di luar, tanpa mata kita melihat. Setelah kita keluar baru kita dapat melihat bahwa ada mobil dan kita berfikir ban mobil itu meletus.

Demikian juga saat kita tidur, organ yang bekerja hanya jantung. Dan indera yang masih dapat bekerja adalah Pendengaran. Telinga kita dapat mendengar alarm jam yang membangunkan kita pada saat kita tidur. Setelah bangun baru kita melihat jam. Kemudian berfikir bahwa ini waktunya makan sahur. Ini adalah urutan proses indera.

Demikian pula dengan perkembangan indera bayi. Pertama kali berfungsi adalah pendengaran, kemudian setelah beberapa pekan baru penglihatannya dapat bekerja.

Demikian pula saat dalam kandungan bayi sudah biasa mendengar detak jantung ibunya. Makanya kebiasaan ibu yang hamil akan mempengaruhi bayinya saat lahir nanti. Kalau ibunya tiap hari membaca Al Qur’an pada saat hamil, in syaa Allah bayi itu nanti akan senang mendengarkan bacaan ayat Al Qur’an.

Selain ketiga hal sarana : Pendengaran, Penglihatan dan Pikiran, ada hal lain yang tidak kalah penting yaitu Kesucian hati.

Kita tahu kalau Wahyu hanya diberikan Allah kepada Rasul saja. Tetapi ada lagi yang namanya Ilham, diberikan kepada hamba Allah yang selalu membersihkan hati.

Allah SWT berfirman:

سَاَ صْرِفُ عَنْ اٰيٰتِيَ الَّذِيْنَ يَتَكَبَّرُوْنَ فِى الْاَ رْضِ بِغَيْرِ الْحَـقِّ ۗ 

“Akan Aku palingkan dari tanda-tanda kekuasaan-Ku orang-orang yang menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar..” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 146)

Ayat ini berhubungan dengan ilmu laduni. Orang-orang yang tidak membersihkan hati , yang jauh dari agama Allah tapi dia benar-benar serius menggali ilmu bisa juga mendapatkan ilmu. Tetapi ilmu itu sebenarnya tidak seberapa walaupun di mata kita mungkin ilmu itu luar biasa.

Allah SWT berfirman:

لَخَلْقُ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ اَكْبَرُ مِنْ خَلْقِ النَّا سِ وَلٰـكِنَّ اَكْثَرَ النَّا سِ لَا يَعْلَمُوْنَ

“Sungguh, penciptaan langit dan bumi itu lebih besar daripada penciptaan manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ghafir 40: Ayat 57)

Atau dalam ayat lain :

يَعْلَمُوْنَ ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۖ وَهُمْ عَنِ الْاٰ خِرَةِ هُمْ غٰفِلُوْنَ

“Mereka mengetahui yang lahir dari kehidupan dunia; sedangkan terhadap akhirat mereka lalai.” (QS. Ar-Rum 30: Ayat 7)

Sebagai seorang muslim dalam mencari ilmu ke empat potensi ini harus kita padukan : Mendengarkan, memperhatikan , merenungkan kemudian kita bersihkan hati.
Karena Imam Syafi’i pernah curhat kepada gurunya, namanya Imam Waki’ kemudian ditulis dalam suatu syair.

شَكَوْت إلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي فَأَرْشَدَنِي إلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ الْعِلْمَ نُورٌ وَنُورُ اللَّهِ لَا يُهْدَى لِعَاصِي

“Aku pernah mengadukan kepada Waki’ tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau menunjukiku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan padaku bahwa ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat.”


Hadits-hadits Tentang Keutamaan Ilmu Dan Pencarinya.

Ada sebuah hadits panjang, dari Abu Hurairah.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ نَـفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُـرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا ، نَـفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُـرْبَةً مِنْ كُـرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَـى مُـعْسِرٍ ، يَسَّـرَ اللهُ عَلَيْهِ فِـي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ، وَمَنْ سَتَـرَ مُسْلِمًـا ، سَتَـرَهُ اللهُ فِـي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ، وَاللهُ فِـي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ ، وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًـا ، سَهَّـلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَـى الْـجَنَّةِ ، وَمَا اجْتَمَعَ قَـوْمٌ فِـي بَـيْتٍ مِنْ بُـيُوتِ اللهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ ، وَيَتَدَارَسُونَـهُ بَيْنَهُمْ ، إِلَّا نَـزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ ، وَغَشِـيَـتْـهُمُ الرَّحْـمَةُ ، وَحَفَّـتْـهُمُ الْـمَلاَئِكَةُ ، وَذَكَـرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ ، وَمَنْ بَطَّـأَ بِـهِ عَمَلُـهُ ، لَـمْ يُسْرِعْ بِـهِ نَـسَبُـهُ

Dari Abu Hurairah r.a , Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Allâh melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Barangsiapa memudahkan orang yang kesulitan, maka Allâh Azza wa Jalla memudahkan baginya di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutupi (aib) seorang Muslim, maka Allâh akan menutup (aib)nya di dunia dan akhirat. Allâh senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya. Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allâh akan mudahkan baginya jalan menuju Surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allâh (masjid) untuk membaca Kitabullah dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan ketenteraman akan turun atas mereka, rahmat meliputi mereka, Malaikat mengelilingi mereka, dan Allâh menyanjung mereka di tengah para Malaikat yang berada di sisi-Nya. Barangsiapa yang diperlambat oleh amalnya (dalam meraih derajat yang tinggi), maka garis keturunannya tidak bisa mempercepatnya.” (HR Muslim)

Ada 4 hal yang terkait dengan keutamaan majelis ilmu yang sedang kita bahas.

1. Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allâh akan mudahkan baginya jalan menuju Surga. Maka bila ada hamba Allah berjalan menuju majelis ilmu dan seandainya dia meninggal diperjalanan itu maka sejatinya dia menuju Surga.

2. Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allâh untuk membaca Kitabullah dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan ketenteraman akan turun atas mereka, rahmat meliputi mereka.

3. Malaikat mengelilingi mereka, dan Allâh menyanjung mereka di tengah para Malaikat yang berada di sisi-Nya.

4. Barangsiapa yang diperlambat oleh amalnya (dalam meraih ilmu), maka garis keturunannya tidak bisa mempercepatnya.


Ada lagi cerita betapa luar biasa para tabi’in pada zaman dulu mencari ilmu.

عَنْ كَثِيرِ بْنِ قَيْسٍ قَالَ كُنْتُ جَالِسًا مَعَ أَبِي الدَّرْدَاءِ فِي مَسْجِدِ دِمَشْقَ فَجَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا أَبَا الدَّرْدَاءِ إِنِّي جِئْتُكَ مِنْ مَدِينَةِ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِحَدِيثٍ بَلَغَنِي أَنَّكَ تُحَدِّثُهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا جِئْتُ لِحَاجَةٍ قَالَ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِي جَوْفِ الْمَاءِ وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْوَزِيرِ الدِّمَشْقِيُّ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ قَالَ لَقِيتُ شَبِيبَ بْنَ شَيْبَةَ فَحَدَّثَنِي بِهِ عَنْ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي سَوْدَةَ عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ يَعْنِي عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَعْنَاهُ

Dari Katsir bin Qais ia berkata, “Aku pernah duduk bersama Abu Ad Darda di masjid Damaskus, lalu datanglah seorang laki-laki kepadanya dan berkata, “Wahai Abu Ad Darda, sesungguhnya aku datang kepadamu dari kota Rasulullah SAW karena sebuah hadits yang sampai kepadaku bahwa engkau meriwayatannya dari Rasulullah SAW. Dan tidaklah aku datang kecuali untuk itu.”

Abu Ad Darda lalu berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa meniti jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan mempermudahnya jalan ke surga. Sungguh, para Malaikat mengepakkan sayapnya sebagai keridlaan kepada penuntut ilmu. Orang yang berilmu akan dimintakan maaf oleh penduduk langit dan bumi hingga binatang yang ada di dasar laut. Kelebihan seorang alim dibanding ahli ibadah seperti keutamaan rembulan pada malam purnama atas seluruh bintang. Para ulama adalah pewaris para nabi, dan para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambilnya maka ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR Abu Dawud)


Dalam hadits lain lagi yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ قَالَ ذُكِرَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلَانِ أَحَدُهُمَا عَابِدٌ وَالْآخَرُ عَالِمٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِي عَلَى أَدْنَاكُمْ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ صَحِيحٌ قَالَ سَمِعْت أَبَا عَمَّارٍ الْحُسَيْنَ بْنَ حُرَيْثٍ الْخُزَاعِيَّ يَقُولُ سَمِعْتُ الْفُضَيْلَ بْنَ عِيَاضٍ يَقُولُ عَالِمٌ عَامِلٌ مُعَلِّمٌ يُدْعَى كَبِيرًا فِي مَلَكُوتِ السَّمَوَاتِ

Dari Abu Umamah Al Bahili ia berkata; “Dua orang disebutkan di sisi Rasulullah SAW , salah seorang adalah ahli ibadah dan yang lain seorang yang berilmu, kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Keutamaan seorang alim dari seorang abid seperti keutamaanku dari orang yang paling rendah di antara kalian, ” kemudian beliau melanjutkan sabdanya: “Sesungguhnya Allah, MalaikatNya serta penduduk langit dan bumi bahkan semut yang ada di dalam sarangnya sampai ikan paus, mereka akan mendoakan untuk orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR Tirmidzi)

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here