Dr.dr. H. Masrifan Djamil MMR, MPH

13 Robi’ul Akhir 1442 / 28 Nopember 2020



Sebagaimana diketahui oleh masyarakat umum, sering dibicarakan di medsos bahwa terhadap Covid-19 yang penting adalah menjaga Imun. Ternyata banyak orang yang kita kenal terkena Covid-19 dan wafat karena Covid-19.

Kita akan mereview terhadap apa yang dikenal sebagai qolbu. Para ulama banyak mendalami ilmu tentang qolbu dan mereka sepakat bahwa qolbu adalah Komandan bagi seluruh tubuh.

Nabi SAW bersabda,
“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah qolbu” – (HR. Bukhari Muslim).

Qolbu itu ghoib, bukan fisik. Meskipun Rasulullah menyatakan segumpal daging tapi itu masih misteri yang tak diketahui. Namun dari kajian para ulama, salah satunya Imam Al Ghozali mengatakan terdiri 2 hal

1. Jasmani (Fisik)
2. Non Fisik (Lathifah , Robbaniyah, Ruhaniyah)

Disitu ada hubungan pada waktu kita masih dikandungan usia 4 bulan , Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh kepada kita. Bahasanya ‘meniup’, disitu ditetapkan ada 4 takdir yang kita terima : tentang rizkinya, tentang batas umur-nya, tentang pekerjaannya dan tentang kesengsaraan atau kebahagiaan hidupnya.

Allah SWT berfirman:

وَنَفْسٍ وَّمَا سَوّٰٮهَا ۖ  (7) فَاَ لْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰٮهَا ۖ (8)

“demi jiwa serta penyempurnaan ciptaannya, maka Dia mengilhamkan kepadanya jalan kejahatan dan ketakwaannya,” (QS. Asy-Syams 91: Ayat 7-8)

Jadi sifat yang halus lathifah, robbaniyah , ruhaniyah itu adalah ketakwaannya.

Kemudian qolbu dikaji ada 4
Dapat berarti/berisi/dipengaruhi
– Fuad
– Shadr
– Hawa
– An-nafs

1. FUAD

Fuad adalah bagian daripada qolbu, ada yang mengatakan ruangnya qolbu atau salurannya qolbu.

– Bersikap jujur dan obyektif, ia selalu haus dengan kebenaran dan bertindak di atas rujukan yang benar pula.
Diterangkan oleh berbagai filosuf, bahwa manusia kalau akan berbuat sesuatu itu dalam dirinya terjadi pertempuran antara kebaikan dan keburukan.

Seorang ketika akan mencuri atau akan berzina, dalam dirinya terjadi pertempuran yang sengit, jadi berzina atau tidak?

Rasulullah SAW bersabda :
“Pezina tidak dikatakan beriman ketika ia berzina“. (HR. Bukhari Muslim)

Sekarang tumbuh pemahaman baru dari para ulama, Gus Baha setuju bahwa kejelekan ditempatkan pada sifat yang jelek. Dulu pernah dialami oleh bangsa kita ketika menyebut WTS sebagai Pelacur.

Zaman berubah, bahwa sebutan itu kasar, harus diperhalus, jadilah WTS. Masih dianggap kasar, sekarang diganti PSK. Apa yang terjadi di Indonesia? Kacau! Banyak orang yang malah menggeluti profesi itu. Kita perlu kembali ke sebutan masa lalu. Kalau memang Pelacur katakan Pelacur.

Hubungan antara Fuad dengan Akal.
Walaupun kosa kata antara Fuad dan Al Aql beda, tidak sama.

– Fuad memberikan ruang untuk akal, berfikir, bertafakkur, memilih dan mengolah seluruh data yang masuk dalam qolbu manusia, sehingga melahirkan ilmu pengetahuan yang bermuatan moral dalam hal mengambil sikap atau keputusan.

Qolbu yang kemudian menyaring. Kita bisa mengambil contoh Stephen Hawking. Ilmuwan fisika yang sangat cerdas, paling hebat di abad ini. Ternyata dia tidak beriman. Jadi akal tidak otomatis beriman. Karena iman adalah pekerjaan qolbu.

Ibnu Taimiyah juga mengatakan bahwa qolbu adalah komandannya tubuh. Karena itu ilmu pengetahuan bermuatan moral karena hati memang cenderung kepada kebenaran.

Fuad yang mengambil keputusan untuk berbuat jahat atau baik.

– Rujukan

مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَاٰ ى

“Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.” (QS. An-Najm 53: Ayat 11).


2. SHADR

Diterjemahkan sebagai dada, potensinya :
– Berperan untuk merasakan dan menghayati dan mempunyai fungsi emosional (marah, benci, cinta, indah, efektif)
Kalau orang sedang marah menimbulkan berbagai macam efek yang dahsyat : Tensinya meningkat, denyut nadinya meningkat.
Ada ulama yang menyebutkan shadr ini dapat meledakkan sesuatu.

Tapi di dalamnya ada sesuatu yang baik :
– Shadr mempunyai potensi besar untuk menyimpan hasrat, niat kebenaran, dan keberanian yang sama besarnya dengan kemampuan untuk menerima kejahatan dan kemunafikan.

Seorang menjadi Pemberani atau Penakut akibat dari shadr. Maka kita diperintahkan tiap pagi berdo’a :

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ

Allahumma inni a’udzu bika minal ‘ajzi, wal kasali, wal jubni, wal haromi, wal bukhl. Wa a’udzu bika min ‘adzabil qobri wa min fitnatil mahyaa wal mamaat.

Artinya:
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Bukhli artinya kikir, tapi juga pengecut.
Sifat pengecut ini sering ditutupi dengan omong besar. Ketika perang dia sembunyi, tapi saat temannya menang ,dia maju tampil bercerita kehebatannya. Padahal dia sembunyi.

Kita mengurangi hal negatif dari Shadr dengan berdo’a :

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ

Allahumma inni a’udzubika minal hammi wal hazan, wa a’udzubika minal ‘ajzi wal kasali, wa a’udzubika minal jubni wal bukhli, wa a’udzubika min gholabatid dayni wa qohrir rijaal

Artinya:
Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesusahan dan kedukaan, aku berlindung kepada-Mu dari lemah dan malas, aku berlindung kepada-Mu dari takut (miskin) dan kikir, aku berlindung kepada-Mu dari banyaknya utang dan paksaan orang-orang.(HR Abu Dawud)

Delapan sifat buruk yang harus dihindari adalah : Kesusahan, kedukaan, lemah, malas, takut, kikir, banyaknya utang dan diperbudak orang. Malas itu tidak hanya malas bekerja saja. Malas sholat juga perlu dihindari.

Ada satu ayat yang penting sekali mengenai hati. Allah SWT berfirman:

فَمَنْ يُّرِدِ اللّٰهُ اَنْ يَّهْدِيَهٗ يَشْرَحْ صَدْرَهٗ لِلْاِ سْلَا مِ ۚ وَمَنْ يُّرِدْ اَنْ يُّضِلَّهٗ يَجْعَلْ صَدْرَهٗ ضَيِّقًا حَرَجًا كَاَ نَّمَا يَصَّعَّدُ فِى السَّمَآءِ ۗ كَذٰلِكَ يَجْعَلُ اللّٰهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ

“Barang siapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah, Dia akan membukakan dadanya untuk Islam. Dan barang siapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia mendaki ke langit. Demikianlah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al-An’am 125)

Rasulullah ternyata mendapat ilmu lebih dulu daripada para astronout.
Ketika manusia belum menjadi astronout ternyata Allah SWT sudah memberi tahu kepada Nabi kita di dalam Al Qur’an bahwa kalau naik ke langit akan sesak dadanya karena tak dapat bernafas. Maka kemudian astronout yang kelangit harus membawa oksigen agar dapat bernafas. Sekarang pakaian APD level 3 mirip astronout malah dipakai di Rumah Sakit untuk penanganan Covid-19.


3. HAWA

Hawa ini sudah diserap ke bahasa kita, digandeng jadi Hawa nafsu. Sebetulnya hawa maknanya juga nafsu.

– Nafsu, desakan hati dan keinginan yang keras, dalamnya ada ambisi, kekuasaan, pengaruh dan keinginan untuk mendunia, merasakan kenikmatan.

Hawa sama dengan Shadr, punya kecenderungan meledak. Contohnya orang yang kecanduan narkotika. Demikian juga dengan merokok. Itu adalah desakan nafsu yang meledak. Kalau tidak merokok seperti orang bingung. Padahal merokok tidak ada baiknya. Kalau bisa dikonversi jadi makanan atau untuk sedekah akan lebih baik.

Dulu ada sahabat Rasulullah yang biasa berzina. Dia minta ijin untuk melanjutkan kebiasaannya.
Jawaban Rasulullah luar biasa : “Tapi kamu harus jujur kalau ada yang bertanya”.

Hubungan antar sahabat sangat kuat, majelisnya banyak. Ternyata setiap dia akan berzina, selalu ada yang bertanya mau berbuat apa ? Dia jadi malu mengakui tapi harus jujur. Akhirnya dia tidak lagi berzina.

Beredar berita di Twitter, ketika Jakarta dikepung FPI, mereka FPI merazia miras dan narkoba. Maka pecandu-pecandu miras benci sekali terhadap FPI karena tak bisa menikmati miras lagi. Ada wanita pecandu miras benci sekali FPI. Tapi akhirnya ketika dia sadar dan mendapat hidayah, dia memuji-muji FPI. Ini hikmah yang terjadi.

– Kenyataan nafsu :
1. Bisa menjadi musuh dari dalam qolbu.
2. Dicintai dan dikuasai.
– Bisa menghancurkan qolbu

Siapa yang melakukan dosa akan menjadi noktah hitam di dalam qolbu. Lama-lama kebaikan qolbu akan habis dan tak bisa lagi menangkap kebenaran. Kalau dia orang islam tak mau mengaji karena takut kalau disindir. Padahal ustadz tidak tahu kalau ada yang merasa disindir. Dia hanya menyampaikan ilmu. Harusnya dia senang karena titik hitamnya dikurangi satu persatu.

Salah satu Hawa yang berbahaya adalah amarah. Ledakannya bisa memecahkan pembuluh darah kalau disitu ada kenaikan tensi dan pipa kapiler pembuluh darah sudah menipis. Biasanya yang berbahaya bila terjadi di otak atau di jantung.

Ada sebuah hadits Rasulullah :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْصِنِي، قَالَ : لاَ تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَاراً، قَالَ: لاَ تَغْضَبْ [رواه البخاري]

Dari Abu Hurairah r.a sesungguhnya seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW : “Ya Rasulullah nasihatilah saya”. Beliau bersabda : “Jangan kamu marah”. Beliau menanyakan hal itu berkali-kali. Maka beliau bersabda : “Jangan engkau marah”. [Riwayat Bukhori]

Sekarang ini aneh-aneh, ada di Youtube yang mengatakan bahwa Nabi Idris sama dengan Buddha. Tapi dia tidak menyebutkan sumber, dia hanya kira-kira. Kita tak boleh hanya kira-kira. Kita hanya mempercayai Allah dan Rasulnya untuk agama. Kalau ada di Al Qur’an dan Sunah kita percaya itu. Kalau tak ada tak usah mengarang kisah yang malah membingungkan. Ini termasuk hawa nafsu.

Ada orang yang mempertuhankan hawa nafsu. Allah SWT berfirman:

اَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰهَهٗ هَوٰٮهُ ۗ اَفَاَ نْتَ تَكُوْنُ عَلَيْهِ وَكِيْلًا ۙ 

“Sudahkah engkau (Muhammad) melihat orang yang menjadikan keinginannya sebagai tuhannya. Apakah engkau akan menjadi pelindungnya?” (QS. Al-Furqan 25: Ayat 43)

Ada orang yang hidupnya hanya untuk kesenangan. Saya pernah tak sengaja mendengar diskusi dua orang. Salah satunya menasehati yang lain. Ternyata temannya ini kerja keras enam hari hanya untuk dapat ke tempat pelacuran. Ini berarti dia bekerja untuk hawa nafsu.
Demikian juga orang kecanduan narkoba, miras ataupun rokok.


4. AN-NAFS

– Sering diartikan dengan jiwa.
Lebih bersifat keseluruhan, kalau yang sebelumnya tadi merupakan parsial.
– Watak manusia atau aku sebagai persona.

Allah SWT berfirman:

وَنَفْسٍ وَّمَا سَوّٰٮهَا ۖ  (7) فَاَ لْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰٮهَا ۖ (8)

“demi jiwa serta penyempurnaan ciptaannya, maka Dia mengilhamkan kepadanya jalan kejahatan dan ketakwaannya,” (QS. Asy-Syams 91: Ayat 7-8)

An Nafs ini bagiannya besar sekali. Mari kita memelihara an-nafs ini. Kita punya dua pilihan. Ketakwaan atau Kejahatan. Dan kita harus terus menekan Kejahatan dengan Olah Ruhani dan Do’a, karena hanya Allah yang bisa menolong kita.

Bila kita suka marah, kita berdo’a kepada Allah agar kita tidak marah.
Ada do’a ketika kita bercermin, itu do’a yang bagus sekali.

“Allohumma kamaa hassanta kholqii fahassin khuluqii”.
“Ya allah, sebagaiman Engkau telah membaguskan penciptaanku, maka baguskanlah pula akhlakku” ?(HR.Bazzar).

– Menampung segala keinginan yang menjadi pendorong, nyala api yang siap membakar gelora semangat, gairah. Kita berdo’a terhindar dari 8 kejelekan supaya gairah kita positif.

Saya menyindir mahasiswa yang suka membuat ‘Tik Tok’ karena Rasulullah melarang orang yang sengaja membuat lucu-lucuan (dusta untuk bercanda). Lebih baik membuat praktikum kemudian divideo dan diunggah di Youtube. Bisa bermanfaat bagi orang lain.

Rujukan lain :

وَلَاۤ اُقْسِمُ بِا لنَّفْسِ اللَّوَّا مَةِ ۗ 

“dan aku bersumpah demi jiwa yang selalu menyesali dirinya sendiri.”
(QS. Al-Qiyamah 75: Ayat 2)

Nafs kalau menjalani hal negatif dia akan menyesali. Kalau sampai tidak menyesali, berarti ada yang salah dengan qolbunya.


5. AKAL (AL-AQL)

Fungsi Aql (Akal) bermacam-macam :
– al-nazhar (melihat dengan memperhatikan)
– at-taddabur (memperhatikan secara seksama)
– al-ta’ammul (merenungkan)
– al-istibshar (melihat dengan mata batin)
– al-i’tibar (menginterpretasikan)
– al-tafkir (memikirkan), dan
– al-tadzakkur (mengingat).

Dulu para ulama berhasil membuat islam menyatu dengan pengetahuan. Contohnya Ibnu Sina mengarang text book pertama ilmu kedokteran sekarang masih disimpan di Perpustakaan barat, betul-betul dikembangkan. Tapi Ibnu Sina juga dikhabarkan hafizh Al Qur’an. Jadi kalau ada dokter hafizh Al Qur’an itu bagus, tak perlu ganti julukan jadi Ustadz. Semua bisa dipadukan, misalnya agama dengan ilmu kedokteran.


Pandangan Ulama Lain

Ada pandangan ulama lain misalnya :

– Ibnu Taimiyah, al-aql tidak bisa dipakai untuk menyebut al-ilmu yang belum diamalankan oleh pemiliknya, juga tidak bisa dipakai untuk menyebut amal yang tidak dilandasi ilmu. Kata al-aql hanya bisa dipakai untuk menyebut ilmu yang diamalkan dan amal yang dilandasi ilmu.

– Ibnu Qaldun seperti kita, akal tidak harus dengan amaliah : akal berfikir, analisa dan sintesa.

– Dasar

قُلْ هُوَ الَّذِيْۤ اَنْشَاَ كُمْ وَجَعَلَ لَـكُمُ السَّمْعَ وَا لْاَ بْصَا رَ وَ الْاَ فْــئِدَةَ ۗ قَلِيْلًا مَّا تَشْكُرُوْنَ

“Katakanlah, Dialah yang menciptakan kamu dan menjadikan pendengaran, penglihatan, dan hati nurani bagi kamu. Tetapi sedikit sekali kamu bersyukur.”
(QS. Al-Mulk 67: Ayat 23)


BERSAMBUNG BAGIAN 2

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here