Dr. H. Zuhad Masduki MA

10 Robi’ul Akhir 1442 / 25 Nopember 2020



1. Tafsir Surat Al Qadar ayat 1

اِنَّاۤ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam qadar.” (QS. Al-Qadr 97: Ayat 1)

Surat ini dimulai dengan kata ganti ‘Kami’ untuk menunjuk kepada Allah SWT. Kalau Allah menggunakan kata ganti Kami, ada dua makna :
– li takzim, untuk mengagungkan Allah.
– lil musyaroqah, artinya ada keterlibatan selain Allah di dalam realisasi aktivitas-aktivitas itu.

Dalam menurunkan Al Qur’an, Allah melibatkan pihak lain. Pihak lain yang dimaksud adalah malaikat Jibril. Al Qur’an dibawa oleh malaikat Jibril disampaikan kepada Nabi Muhammad dengan cara dibacakan.
Karena proses turunnya seperti itu, maka Al Qur’an itu lafal dan maknanya dari Allah SWT. Nabi Muhammad dan malaikat Jibril tidak punya kewenangan untuk menyusun redaksi Al Qur’an.

Di ayat yang lain Allah juga berfirman :

اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِ نَّا لَهٗ لَحٰـفِظُوْنَ

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan pasti Kami pula yang memeliharanya.” (QS. Al-Hijr 15: Ayat 9)

Kalau ini kita terapkan untuk ayat-ayat lain maka kaidah musyaroqah itu perlu kita pertimbangkan. Ada keterlibatan selain Allah di dalam realisasi pekerjaan -pekerjaan itu.

Dalam Surat At Tin, Allah SWT juga menggunakan kata kami :

لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِ نْسَا نَ فِيْۤ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ ۖ 

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya,” (QS. At-Tin 95: Ayat 4)

Proses reproduksi melibatkan manusia. Allah menciptakan sistemnya dan yang melaksanakan adalah manusia.

Dengan memakai kaidah ini akan menggeser teology yang tadinya berpandangan bahwa Allah bertindak secara langsung dalam segala hal, menjadi Allah melibatkan manusia di dalam sebagian aktivitasnya itu. Maka manusia juga ikut bertanggung jawab dan ikut mewujudkan perbuatan itu.

“Kami telah menurunkannya”, menurut para mufasir ada dua makna.
Ada sebagian yang berpandangan bahwa Al Qur’an itu pernah turun dari Allah ke Baitul Izzah (langit dunia), kemudian dari langit dunia turun kepada Nabi Muhammad sedikit demi sedikit.

Pendapat yang kedua, Al Qur’an itu memang turunnya dari awal langsung turun dari Allah tidak melalui langit dunia secara gelondongan. Karena kalau Al Qur’an pernah turun ke langit dunia secara gelondongan berarti segala sesuatu ini telah disetting sedemikian rupa oleh Allah SWT, sehingga manusia tidak punya kebebasan untuk melakukan sesuatu. Semua hasil settingan Allah SWT. Ini nanti membawa kepada paham Fatalisme (Jabariah).

Jadi nampaknya yang kuat adalah pendapat yang kedua. Al Qur’an sejak awal turun langsung dari Allah. Allah merespond dan berinteraksi dengan kejadian -kejadian yang terjadi dikehidupan dunia.

Turunnya Al Qur’an pada malam Lailatul Qadar.

Kalau kita membaca tafsir, lailatul qadar itu maknanya banyak. Terdiri dari dua kata :

Lail artinya malam. Al Qadar, punya paling tidak tiga makna.

– Malam Penetapan dan pengaturan.

Maksudnya penetapan dan pengaturan Allah SWT terhadap khittah dan strategy bagi Nabinya guna mengajak manusia kepada agama yang benar yang pada akhirnya akan menetapkan perjalanan sejarah umat manusia, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok.

– Malam Kemuliaan

Malam tersebut adalah malam mulia yang tiada bandingannya. Ia mulia karena dipilih sebagai malam turunnya Al Qur’an. Serta karena ia menjadi titik tolak dari segala kemuliaan yang dapat diraih oleh manusia.
Kata qadar yang berarti mulia juga ditemukan di dalam Al Qur’an di Surat Al An’am ayat 91:

وَمَا قَدَرُوا اللّٰهَ حَقَّ قَدْرِهٖۤ اِذْ قَا لُوْا مَاۤ اَنْزَلَ اللّٰهُ عَلٰى بَشَرٍ مِّنْ شَيْءٍ ۗ 

“Mereka tidak memuliakan Allah sebagaimana mestinya ketika mereka berkata, Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia..” (QS. Al-An’am 6: Ayat 91)

Qadar berarti mulia, lailatul qadar berarti malam yang mulia karena malam turunnya Al Qur’an. Dan Al Qur’an adalah titik tolak segala kemuliaan bagi siapa yang mengamalkannya.

– Malam yang sempit

Karena pada malam Lailatul qadar itu, malaikat-malaikat banyak yang turun ke bumi sehingga bumi ini menjadi sempit, untuk mengatur segala urusan.
Ini disebutkan di dalam Surat Al Qadar itu sendiri.

تَنَزَّلُ الْمَلٰٓئِكَةُ وَا لرُّوْحُ فِيْهَا بِاِ ذْنِ رَبِّهِمْ ۚ مِّنْ كُلِّ اَمْرٍ ۛ 

“Pada malam itu turun para malaikat dan Roh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan.”
(QS. Al-Qadr 97: Ayat 4)

Di dalam Al Qur’an kata qadar yang berarti sempit kita temukan di ayat yang lain

Allah SWT berfirman:

اَللّٰهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَآءُ وَيَقْدِرُ ۗ 

“Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasi (bagi siapa yang Dia kehendaki)..” (QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 26)

Terjemahannya ada dua :
– dikehendaki, sifatnya agak Jabariyah. Yang berperan hanya Allah SWT.
– yang menghendaki. Berarti yang berkehendak manusia. Yang ingin rezekinya luas dia bisa memilih jalannya. Yang ingin rezekinya sempit dia juga bisa memilih jalannya.


Lailatul Qadar terjadi pada tanggal berapa?

Kita melihat mayoritas orang-orang Indonesia dan sebagian di Timur Tengah menetapkan Lailatul qadar pada tanggal 17 Ramadhan.

Ayat pertama Surat Al Qadar difahami oleh para ulama sebagai awal turunnya Al Qur’an. Kalau awal turunnya Al Qur’an berarti Surat Al Alaq ayat 1-5.
Dengan turunnya Al Qur’an ini maka Nabi Muhammad dinobatkan menjadi Nabi, tapi belum menjadi Rasul. Menjadi rasulnya nanti setelah beliau diperintahkan untuk menyampaikan ajaran-ajaran itu kepada umatnya.

Tentang turunnya lailatul qadar ada pandangan yang disepakati dan ada pandangan yang tidak disepakati.

Pandangan Yang disepakati :

1. Al Qur’an turun di bulan Ramadhan.

Allah SWT berfirman:

شَهْرُ رَمَضَا نَ الَّذِيْۤ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰ نُ هُدًى لِّلنَّا سِ وَ بَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَا لْفُرْقَا نِ ۚ 

“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda ..” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 185)

Yang turun 5 ayat Surat Al Alaq. Adapun ayat lain turunnya bermacam -macam, ada yang malam hari dan ada yang siang hari, bulannya juga beda- beda.

2. Lailatul Qadar adalah malam yang penuh berkah.

Allah SWT berfirman:

اِنَّاۤ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةٍ مُّبٰـرَكَةٍ اِنَّا كُنَّا مُنْذِرِيْنَ

“sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi. Sungguh, Kamilah yang memberi peringatan.”
(QS. Ad-Dukhan 44: Ayat 3)


Pandangan Yang Tidak disepakati :

Ketika menentukan tanggalnya, para ulama berbeda pendapat. Sebagian ulama mengatakan tanggal 17 Ramadhan.

Allah SWT berfirman:

وَمَاۤ اَنْزَلْنَا عَلٰى عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَا نِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعٰنِ ۗ 

“…dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqan, yaitu pada hari bertemunya dua pasukan.” (QS. Al-Anfal 8: Ayat 41)

Dua pasukan itu maksudnya adalah pasukan islam dan pasukan musyrik Mekkah yang bertemu di perang Badar. Disepakati bahwa perang Badar terjadinya pada tanggal 17 Ramadhan.
Mereka bilang, ayat ini yang diambil tanggalnya, bukan tahunnya. Karena tahun awal mula turunnya Al Qur’an di periode Mekkah sebelum beliau diutus menjadi Rasul. Sementara perang Badar terjadi di periode Madinah. Jadi jarak waktu antara turunnya ayat yang pertama sampai perang Badar hampir 15 tahun. Maka ulama yang lain tidak sependapat dengan tanggal 17 Ramadhan.

Ulama yang tidak sependapat tanggal 17 mengatakan bahwa di dalam Hadits Nabi disebutkan bahwa lailatul qadar itu di 10 malam yang akhir.

Rasulullah SAW bersabda:

تَحَرَّوْا ليلة القدرِ في الوِتْرِ، من العشرِ الأواخرِ من رمضانَ

“Carilah oleh kalian keutamaan lailatul qadr pada malam- malam ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan” (HR Bukhari Muslim).

Terutama pada malam-malam ganjil, malam 21, 23, 25, 27 dan 29. Di sebagian negara-negara Timur Tengah, memperingati Nuzulul Qur’an pada tanggal 20 an, bukan pada tanggal 17.

Secara ilmiah, berarti yang memperingati Nuzulul Qur’an pada tanggal 20an adalah memperingati turunnya Surat Al Alaq ayat 1-5. Adapun yang memperingati Nuzulul Qur’an pada tanggal 17 memperingati turunnya surat-surat yang turun pada perang Badar.

Di perang Badar ada beberapa ayat yang turun, antara lain yang termaktub dalam Surat Al Anfal ayat 9 dan11. Jadi tidak salah memperingati Nuzulul Qur’an pada tanggal 17, karena tidak pernah ditegaskan memperingati ayat yang mana.

Allah SWT berfirman:

اِذْ تَسْتَغِيْثُوْنَ رَبَّكُمْ فَا سْتَجَا بَ لَـكُمْ اَنِّيْ مُمِدُّكُمْ بِاَ لْفٍ مِّنَ الْمَلٰٓئِكَةِ مُرْدِفِيْنَ

“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu, Sungguh, Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.”
(QS. Al-Anfal 8: Ayat 9)

Allah SWT berfirman:

اِذْ يُغَشِّيْكُمُ النُّعَا سَ اَمَنَةً مِّنْهُ وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِّنَ السَّمَآءِ مَآءً لِّيُطَهِّرَكُمْ بِهٖ وَيُذْهِبَ عَنْكُمْ رِجْزَ الشَّيْطٰنِ وَلِيَرْبِطَ عَلٰى قُلُوْبِكُمْ وَيُثَبِّتَ بِهِ الْاَ قْدَا مَ ۗ 

“(Ingatlah), ketika Allah membuat kamu mengantuk untuk memberi ketenteraman dari-Nya, dan Allah menurunkan air hujan dari langit kepadamu untuk menyucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan gangguan-gangguan setan dari dirimu dan untuk menguatkan hatimu serta memperteguh telapak kakimu.” (QS. Al-Anfal 8: Ayat 11)

Pada malam hari akan perang, Allah menurunkan hujan yang sangat deras. Sehingga kaum muslimin bisa mandi, mencuci pakaian dan mengusir setan. Pada malam itu juga kaum muslim mengantuk sehingga stressnya hilang. Dengan hujan, maka tanahnya enak untuk diinjak dan tidak ambles.


2. Tafsir Surat Al Qadar ayat 2-3


وَمَاۤ اَدْرٰٮكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ۗ 

“Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?” (QS. Al-Qadr 97: Ayat 2)

Allah SWT menerangkan :

لَيْلَةُ الْقَدْرِ ۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍ ۗ 

“Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr 97: Ayat 3)

Ada ulama yang memahami apabila orang ingin memperoleh lailatul qadar harus berjuang. Dan kenapa menurut hadits tadi lailatul qadar ada di hari ke 20-an? Karena syarat untuk mendapat lailatul qadar orang harus mempersiapkan diri dan mensucikan diri. Diharapkan kalau orang sudah puasa 20 hari ke atas, tingkat kesucian jiwanya sudah cukup memadai dan dia sudah siap untuk menerima kehadiran lailatul qadar.

Mungkin dengan puasa yang benar dan mencapai 20 hari sudah muncul kesadaran baru. Bila kesadaran baru di dapat bersamaan dengan turunnya lailatul qadar maka momentum itulah yang akan mengubah kehidupan seseorang di masa yang akan datang.

Sehingga nilai dan kualitas kehidupannya di masa yang akan datang akan lebih baik daripada masa sebelumnya. Kalau ada seorang penjahat yang tobat pada malam lailatul qadar dan dia meninggalkan kejahatannya maka itulah momentum yang akan menentukan nilai-nilai kebaikan bagi dirinya di masa-masa yang akan datang. “khoirum min alfi syahr” , maksudnya seperti itu.

Jika orang di bulan Ramadhan tidur melulu, dia tidak akan mendapatkan lailatul qadar karena dia tidak berjuang dan tidak menyiapkan diri untuk menyambut lailatul qadar.


3. Tafsir Surat Al Qadar ayat 4-5.

تَنَزَّلُ الْمَلٰٓئِكَةُ وَا لرُّوْحُ فِيْهَا بِاِ ذْنِ رَبِّهِمْ ۚ مِّنْ كُلِّ اَمْرٍ ۛ (4) سَلٰمٌ  ۛ هِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِ(5)

“Pada malam itu turun para malaikat dan Roh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan.
Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadr 97: Ayat 4-5)

Dari ayat ini ulama mengatakan bahwa lailatul qadar akan terjadi terus menerus pada bulan Ramadhan setiap tahun, tidak sekali terjadi pada waktu turunnya Al Qur’an yang pertama kali. Hal ini diisyaratkan dengan pemakaian kata kerja fiil mudhori (present tense) : “tanazzalul”. Artinya masa sekarang dan akan datang.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK








LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here