RIZKA KAUTSAR, ST., MSc

6 Robi’ul Akhir 1442 / 21 Nopember 2020


Back ground saya adalah pegawai di salah satu anak BUMN, yaitu PT Wijaya Karya Realty Tbk anak perusahaan PT Wijaya Karya yang core bisnisnya bergerak di Real Estate , Konstruksi dan Property Manajemen.
Setelah bekerja 10 tahun disana diberi kesempatan mengikuti beasiswa. Yang memang rutin tiap tahun ada yang mengajukan beasiswa. Tersaring 4 orang untuk belajar di Inggris.

Syarat Belajar

Terkait dengan bea siswa memang ada beberapa opsi untuk bisa belajar di Inggris. Baik dari Inggris sendiri atau dari Pemerintah Indonesia.
Setelah mendapat bea siswa luar negeri memang syaratnya cukup banyak. Dan memang memakan waktu cukup lama bisa sampai 6 bulan.
Secara garis besarnya saja syaratnya ada 6 :

– IELTS (6,5)
– Personal Statement
– CV
– Portfolio
– Recommendation Letter Kantor
– Recommendation Letter Kampus

– Test IELTS

Study di Inggris mempersyaratkan untuk bisa lolos dalam Test IELTS. Test ini mirip dengan Test TOEFL , test bahasa Inggris. Test IELTS terbagi menjadi empat reading, writing, speaking, listening. Masing-masing subject ini kalau ditotal, rata-rata University di Inggris mempersyaratkan 6,5 dari range nilai 0-9. Kalau ekivalensi TOEFL sekitar 550 ke atas.
Syarat ini wajib, maka persiapannya cukup panjang untuk bisa lolos test IELTS. Dari kantor kamipun memberikan training selama 2 minggu karena test ini specific bukan General English tapi Academic English.
Untuk lolos test ini bisa 2 sampai 4 kali test. Maka harus dipersiapkan secara ekstra.

– Personal Statement

Personal Statement lebih menjelaskan tentang Selling Point kita , “jualan” kita seperti apa karena University pasti banyak mendapat lamaran dari calon mahasiswa dari berbagai negara. Sehingga mereka mempersyaratkan dengan letter tentang Selling Point kita apa supaya bisa diterima di University mereka.

Ada ilmunya untuk membuat Personal Statement ini. Ada beberapa tip-nya supaya bisa lolos. Biasanya hanya sekitar 800 kata dan tidak lebih dari dua halaman. Isi singkat dan padat kita jelaskan semua kenapa kita memilih University ini. Bagaimana sisi positif diri kita sendiri dan kenapa kita berminat di program study tersebut.

– Curriculum Vitae

Menjelaskan tentang experience kita dan edukasi kita.

– Portfolio

Karena saya memilih Program Study Arsitektur , lebih spesifik lagi di Program Urban Design. Di Inggris khusus untuk program design, architecture, seni dan sebagainya memang dipersyaratkan adanya Portfolio. Kalau program Study lain hal ini tidak dipersyaratkan.

Portfolio isinya adalah gambaran garis besar secara teknis design-design yang sudah kita lakukan, baik sudah dibangun atau belum. Ini sangat penting karena kemarin saya melamar 3 University, yang satu gagal karena portfolio ini.

– Recommendation Letter Kantor

Ini sangat mudah karena dari kantor kita sendiri.

– Recommendation Letter Kampus

Ini juga mudah karena dari kampus yang meluluskan S1 kita.


Pendaftaran

Setelah semua syarat kita penuhi kemudian kita apply. Yang kita dapatkan pertama adalah unconditional offering letter, semacam surat pemberitahuan bahwa kita diterima di University tersebut dan biayanya sekian, waktunya kapan dan sebagainya. Kalau kita mendapatkan ini berarti 100% diterima.

Kejadian yang lain ada yang merupakan Conditional Offering Letter, kita diterima dengan syarat. Saya pernah mendapat ini pada University yang tadi saya katakan saya kurang dalam portfolio. Artinya saya diterima dengan syarat harus menempuh program lain lagi selama setahun. Hal ini mirip belajar Arsitektur lagi, karena Portfolio dianggap kurang.
Dari sini saya mendapat pembelajaran untuk memperbaiki Portfolio saya dulu sebelum melamar ke University lain. Akhirnya mendapatkan unconditional offering letter dari De Monfort University di Leicester.


Persyaratan Visa

Setelah mendapatkan ini semua kita mengurus Visa. Untuk mengurus Visa ini banyak juga syarat yang harus dipenuhi : Paspor, Akta, KK, Bank Reference, Surat Sponsor, dan Transcript nilai kita dan sebagainya dan itu semua harus dibahasa inggriskan dulu.
Pemerintah Inggris mempersyaratkan TB TEST terhadap peserta dari beberapa negara termasuk Indonesia untuk bebas dari sakit TBC dan IHS (Immigration Health Surcharge)
Kemudian setelah itu kita bayar ke University. Setelah semua itu kita dapatkan Visa dan kita terbang ke UK.


Perjalanan

Kami semua sudah diwarning oleh konsultan pendidikan di Indonesia bahwa pasti bakal ada Culture Shock.
Tidak hanya masalah beda jam, budaya dan makanan juga berpengaruh.

Setelah kita landing di London, ibukota Inggris yang suasananya selalu mendung , hujan dan gloomy. Kita mengalami jet lag sampai seminggu.
Cuaca dibawah 10°C, itu karena kita sudah mulai masuk autumn. Bisa kena batuk dan pilek.

Sebenarnya kalau mau kuliah bisa langsung terbang ke kota Leicester. Kemarin lewat London karena belum pengalaman. Jarak London dengan Leicester ditempuh dalam 2 jam. Dengan transit di London tentunya lebih memberatkan. Apalagi kalau membawa keluarga. Boyongannya merepotkan dan istirahatnya kurang.


Kedatangan di Leicester

Kota Leicester sebuah kota kecil, mungkin sekitar seperlima dari Semarang. Dengan populasi yang mungkin seperlima juga dari Semarang. Jadi tidak seramai di tempat kita. City Center nya atau titik kumpul di Big Ben Clock Tower. Kampus De Monfort University memiliki bangunan yang tinggi.

Pertama kali datang di kampus, saya daftar ulang. Mengambil BRP (Biometric Residence Permit) semacam KTP dan mendaftarkan kesehatan di Health Center. Semacam Puskesmas disini. Kalau kita ada keluhan datang ke Health Center dulu, tidak ke Rumah Sakit. Banyak nilai positifnya disana, keluarga saya disana divaksin lagi, diulang disana dan itu gratis. Misalnya ada anak sakitpun mereka dirawat disana dengan profesional dan gratis.

Kebiasaan mereka, hari libur dihabiskan di taman, shopping center, Museum dan sebagainya. Budaya menjaga kesehatan mereka sangat bagus karena selain kotanya kecil mereka biasa jalan kaki kemana-mana. Dari rumah ke kota, atau ke sekolah anak, ke kampus atau ke masjid dengan jalan kaki hanya 10 sampai 15 menit. Tak sampai 30 menit jalan kaki.

Pertama datang mungkin kaget. Anak saya kaget karena biasanya naik mobil terus, disini harus jalan. Pada awalnya saya belikan scooter supaya semangat jalan. Minggu kedua scooter sudah tak dipakai. Sudah menikmati jalan kaki karena air quality disana bagus. Udaranya bagus, warna langitnya biru sekali yang tidak kita temui disini.
Shopping center tipikal ada di area outdoor, model arcade. Walaupun ada juga satu mall yang indoor. Bank, Toko, Restaurant modelnya sama.


Sekolah Anak

Mendaftar sekolah anak prosesnya mudah. Semua tergabung dalam satu Portal, mungkin milik Pemkot Leicester. Untuk mendaftar sekolah anak kita tinggal apply. Mengisi form : Anak umur berapa dan sebagainya. Mereka nanti akan mencarikan Sekolah yang terdekat dengan alamat kita. Ternyata kita dapat sekolah anak yang hanya 5 menit jalan kaki.

Disana cara pembelajarannya , berangkat pagi jam 08.30 karena sunrise disana jam 08.00
Orang tua diijinkan ikut masuk di dalam kelas selama 30 menit. Dan ini hukumnya wajib. Orang tua wajib mendampingi anaknya pada saat belajar pertama. Bisa membaca, berhitung atau menggambar.

Orang tua diberi porsi yang besar untuk ikut mendidik anak. Model belajarnya berkelompok. Semua menghadap ke depan sekitar 4-5 orang. Tidak harus dibangku, bisa juga dilantai.

Setelah 30 menit, orang tua diminta pergi. Mereka anak-anak lanjut belajar dari jam 09.00 sampai jam 14.30
Jam 14.30 orang tua wajib menjemput anak. Kalau bukan orang tua pasti akan ditelpun sama Sekolah untuk konfirmasi.


Gambaran Pembelajaran Mahasiswa

Pada saat presentasi, mereka cenderung memakai pakaian casual. Tidak mempersyaratkan pakaian formal. Presentasi bisa berlangsung seminggu sekali. Karena saya orang Indonesia, biasa minta maaf apabila bahasa inggrisnya kurang bagus, justeru hal itu menyebabkan saya mendapat teguran. Bahwa kita disana itu belajar design, bukan belajar bahasa. Jadi tak perlu minta maaf karena bahasa Inggrisnya tidak dinilai. Yang dinilai adalah ide-ide yang merupakan isi kepala.

Hal tersebut tentu menjadikan motivasi. Kelas itu kelas internasional.
Banyak mahasiswa dari India, Dubai, Nigeria dan dari China yang bahasa Inggrisnya lebih parah dari saya. Mahasiswa lokal dari British juga banyak. Dosen-dosen yang mengajar cukup berpengalaman. Mereka tidak hanya memberi pelajaran design, tetapi juga cara berpresentasi dengan baik. Juga mengajarkan cara kita berprofesi sebagai arsitek.

Methode belajar Self Learning, jarang ada dosen yang memberikan point-point atau mencatat di papan tulis. Mereka memberikan referensi buku-buku untuk dibaca dan minggu berikutnya harus dipresentasikan. Mahasiswa diberi kebebasan untuk memilih subject subject sesuai minat. Mereka tidak membatasi. Mereka hanya mengarahkan dan membantu.


Kehidupan Sebagai Muslim di UK

Sebelum berangkat ke UK sempat ada kekhawatiran karena ini negara orang yang mayoritasnya bukan muslim. Khawatir terhadap adanya islamophobia.

Setelah landing sejak dari imigrasi sampai ke kota Leicester kami surprise dan kekhawatiran terhadap adanya islamophobia hilang semua.
Di proses imigrasi saya khawatir karena penampilan saya berjenggot. Saya khawatir akan dipersulit. Tetapi alhamdulillah malah justeru mendapat prioritas. Kami tidak ditanya sedikitpun background darimana. Mereka cuma melihat passport langsung lolos.

Di UK pun ternyata sekitar 5-10 menit dari rumah saya ada 5 masjid yang dapat saya jangkau. Salah satunya Umar Mosque dengan gaya arsitektur Timur Tengah dan kebanyakan di Indonesia juga mengadopsi seperti ini.
Ada Central Mosque yang cukup besar. Misalnya mengadakan pesta wedding juga bisa disini. Adalagi Baitul Mukkaram Mosque di Leicester dan Mosque di Peterborough. Mesjid- mesjidnya besar, bisa menampung ribuan orang.

Ketika saya searching memang islam tumbuh besar di UK. Kalau berbicara terkait agama, Islam nomer dua setelah Kristen. Kalau secara overall terhadap populasi UK, nomer satunya Kristen, nomer duanya Atheism dan nomer tiganya Islam. Banyak anak muda yang semula Kristen berubah menjadi Atheist atau Islam.

Ini sebenarnya yang cukup banyak ditangkap oleh pemuka agama islam. Anak muda yang memilih jadi atheist menjadi ladang dakwah untuk berubah jadi Islam. Kajian di masjid, mayoritas anak muda semua. Tidak hanya imigrant, ada juga Britishnya. Jadi mereka memang mualaf.

Di kampus sayapun ternyata juga punya mushola yang cukup besar. Kalau menurut saya itu masjid karena disana ditunaikan sholat 5 waktu. Shalat Jumat juga dilaksanakan bahkan sampai 2 sesi karena saking penuhnya. Kalau dihitung satu kali sesi bisa 200-300 orang jama’ah.

Ini gambaran betapa tolerannya Pemerintah Inggris menyediakan fasilitas. Tidak hanya masjid, makanan halalpun banyak kita temui disini. Jadi kekhawatiran akan susah mencari makanan, mencari bahan pokok yang halal akhirnya sirna karena disana ada suatu Komite namanya Halal Monitoring Committee (HMC) semacam halal MUI disini.
Ada sertifikasi yang ditempel di depan Toko-Toko atau Restaurant. Dan itu dapat mengindikasikan bahwa itu halal.


Kehidupan Selama Pandemi

Selama setahun disana, saya mengalami masa Pandemi pada 6 bulan sisanya. Dan semua harus lock down. Lock down disana benar-benar lock down. Orang tidak boleh keluar. Keluar hanya diperbolehkan untuk berbelanja makanan pokok atau pergi ke apotik atau berolah raga di taman.
Praktis toko-toko selain toko kebutuhan pokok ditutup dan apabila melanggar dendanya sangat besar.

Berkerumun atau mengadakan acara juga resiko kena denda besar. Tetangga bisa melaporkan seandainya ada satu keluarga mengadakan party atau mendatangkan orang lebih dari 5 orang yang bukan anggota keluarga bisa dilaporkan oleh tetangganya. Dan itu sangat biasa disana. Karena mereka memang biasa party, mereka mendatangkan teman dan dilaporkan tetangganya. Karena memang punishment juga ketat, maka yang terjadi benar-benar lock down. Karena saya ingin belanja di pasar saya foto kondisinya memang sepi.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here