Prof. Dr. H. Abdul Mu’ti MEd

5 Robi’ul Akhir 1442 / 20 Nopember 2020



Kita hendaknya bersyukur atas nikmat Allah yang diberikan kepada Persyarikatan Muhammadiyah. Alhamdulillah Muhammadiyah sudah mencapai usia 108 tahun. Sebagai tanda syukur kita, kita berusaha untuk bagaimana kita melakukan upaya refleksi terhadap perjalanan 108 tahun itu dan kita melihat Muhammadiyah pada masa sekarang dan pada masa yang akan datang.

Kalau kita merujuk kepada Al Qur’an tentu saja kita mengikuti apa yang difirmankan Allah dalam Surat Al Hasyr :

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَـنْظُرْ نَـفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۚ وَا تَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ بِۢمَا تَعْمَلُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.” -(QS. Al-Hasyr 59: Ayat 18)

Dalam Al Qur’an hanya ada 3 atau 4 ayat dimana perintah bertakwa diulangi sampai dua kali. Salah satunya adalah dalam ayat di atas.
Kalau kita menggunakan pendekatan ilmu Tafsir maka ketika ada perintah yang sama diulang dalam ayat yang sama, menunjukkan betapa pentingnya perintah itu.

Kita sebagai orang yang beriman diperintahkan oleh Allah untuk bertakwa kepadanya. Kemudian kita diperintahkan untuk memperhatikan apa yang terjadi di masa lalu untuk kepentingan dan bekal kita untuk menuju ke masa depan. Dan kita diperintahkan lagi untuk kembali bertakwa dan menutup ayat itu dengan menunjukkan bahwa Allah itu sesungguhnya Maha Teliti terhadap apapun yang kita lakukan.

Kalau kita mengikuti ayat ini momen milad ini adalah momen dimana kita melakukan “triple movement” , gerakan yang tiga kali :


Muhammadiyah Masa Lalu

Kembali ke masa lalu, melihat bagaimana Muhammadiyah di masa awal dan tentu yang kita ambil adalah spirit dan nilai-nilai yang ada pada masa itu. Sebab kalau kita menangkap dari sisi formatnya kita akan menjadi gerakan yang mundur.

Dengan mengambil spirit atau nilai dari generasi awal (Assabiqunal Awwalun Muhammadiyah) kita akan mendapatkan bagaimana pendiri Muhammadiyah berkurban dan berjuang dengan jiwa dan raga untuk mendirikan Persyarikatan Muhammadiyah.

Kita juga bisa berbangga karena justeru Muhammadiyah sejak berdiri banyak ditulis oleh para ahli Muhammadiyah atau Scientist Muhammadiyah.

Kita bisa membaca tulisan yang klasik tentang itu adalah tulisan oleh James L Peacock, seorang peneliti Amerika yang sampai sekarang , sampai usianya 83 tahun masih aktif mengikuti Muhammadiyah dan selalu bergembira ketika mendapatkan khabar tentang Muhammadiyah.

Kemudian adalagi Mitsuo Nakamura yang juga menjadi peneliti Muhammadiyah yang luar biasa. Saya sempat ketemu Pak Nakamura terakhir di Kyoto dalam sebuah konferensi internasional. Dalam pertemuan itu dia memakai Ransel Muktamar Makasar. Dia senang sekali bertemu dengan para peserta dari Indonesia.

Yang klasik lagi adalah tulisan Deliar Noer. Semua peneliti pada masa awal itu menyebut pada masa awal itu Muhammadiyah sebagai organisasi pembaruan islam yang meletakkan dasar-dasar pembaruan, tidak hanya dalam bidang pemikiran islam tetapi juga pada gerakan yang dilakukan dengan Organisasi yang teratur , dan juga amal usaha terutama bidang pendidikan. Yang memang merupakan pioner pembaruan dalam bidang kurikulum, pembaruan secara institusional dan pembaruan secara methodology pembelajaran.

Tentu ini membanggakan kita. Apalagi jika kita melihat bahwa para tokoh Muhammadiyah juga mempunyai peran penting dalam berdirinya negara Indonesia. The Founders of This Country, Para Pendiri Negara Indonesia kalau kita jajarkan para Pahlawan Nasional itu , banyak diantaranya adalah dari tokoh dan dari kader-kader Persyarikatan Muhammadiyah. Dan mereka berperan penting dalam tonggak-tonggak sejarah Indonesia yang sangat menentukan.

Kalau kita lihat, Konggres Perempuan Pertama Indonesia juga melibatkan Para Tokoh Aisiyah, tokoh Perempuan Muhammadiyah. Demikian juga dengan Sumpah Pemuda yang oleh sebagian orang ada yang menyebut Sumpah Pemuda sebagai bagian dari Culture Sovereignty (Kedaulatan Budaya). Karena disitu para Pemuda Indonesia menanggalkan identitas kedaerahan dan keagamaan untuk mengenalkan, mempromosikan serta mengangkat nama Indonesia sebagai Tanah Air, Bangsa dan Bahasa.

Dalam bukunya Kiyai Sudjak sebelum 1928, ada yang menyebut tahun 1915 Muhammadiyah sudah menggunakan bahasa Melayu sebagai Bahasa Pengantar dalam berbagai pertemuan di forum-forum resmi Muhammadiyah. Bahasa Melayu sebagai Lingua Franca itu yang kemudian ditetapkan oleh Pemerintah sebagai Bahasa Indonesia.

Tonggak penting Indonesia selanjutnya adalah Perumusan Dasar Negara Pancasila dan Perumusan UUD 1945.
Disitu banyak tokoh Muhammadiyah yang terlibat didalamnya, antara lain Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimedjo, Abdul Kahar Muzakir dan tentu saja Ir. Sukarno. Karena Bung Karno mengidentifikasi dirinya sebagai Kader Muhammadiyah. Dan ibu Fatmawati sebagai Kader Nasyiatul Aisiyah dan juga Kader Aisiyah. Dalam tonggak sejarah itu disebut dengan Political Sovereignty (Kedaulatan Politik).

Pengakuan dunia untuk Indonesia sebagai sebuah negara kepulauan, tidak lepas dari perjuangan seorang kader Muhammadiyah yang bernama Ir. Djuanda. Dia pernah menjadi Menteri Luar Negeri, pernah menjadi Perdana Menteri. Pak Djuanda yang melakukan diplomasi internasional untuk pengakuan Indonesia sebagai negara Kepulauan, terutama terkait dengan Zona Ekonomi Eksklusif.

Pada tahun 1957 Indonesia diakui sebagai negara kepulauan. Dan banyak negara Kepulauan lain yang “mendapatkan berkah” dari perjuangan Ir. Djuanda. Ir. Djuanda adalah seorang kader Muhammadiyah yang ketika sudah tidak menjadi Perdana Menteri ingin kembali mengajar di SMA Muhammadiyah.

Tentu masih banyak lagi tokoh Muhammadiyah , misalnya Jendral Sudirman dan Pak Sarbini yang namanya diabadikan sebagai nama gedung pertemuan di Jakarta dengan bentuk arsitektur seperti helm tentara yang tertelungkup juga seorang kader Hizbul Wathan.

Kalau kita melihat Muhammadiyah pada sisi itu sebenarnya kita merasa sangat bangga dengan capaian para Tokoh Muhammadiyah masa lalu.
Kalau ini kita ingat, kita akan menjadi warga Muhammadiyah yang romantis.
That is our past. Itu masa lalu kita yang penting untuk kita pungut kembali sebagai bagian dari spirit untuk kita bisa meniru dan kemudian melanjutkan perjuangan para Tokoh itu.

In syaa Allah, kalau nanti bulan Januari atau Februari 2021 musium Muhammadiyah 9 lantai di UAD Yogya sudah mulai dibuka kita dapat mengunjungi dan melihat jejak sejarah itu. Dan itu akan jauh lebih lengkap dari musium ormas manapun. Ini bagian dari bagaimana Muhammadiyah terus berkembang.


Muhammadiyah Situasi Sekarang

Alhamdulillah banyak pihak yang mengapresiasi Muhammadiyah. Dalam berbagai pertemuan di dalam dan di luar Negeri mereka selalu menyatakan kekaguman dan mengapresiasi Muhammadiyah karena amal usahanya.

Mereka mengenal bahwa anggota Muhammadiyah berjumlah 40 juta lebih. Ini apresiasi terhadap Muhammadiyah.

Menurut saya organisasi yang memang benar-benar meNasional adalah Muhammadiyah, karena dari Aceh sampai Papua betul eksis dan semua ada amal usahanya. Walaupun mungkin secara jumlah kita bukan yang terbanyak, tetapi secara sebaran, secara jaringan dan jumlah amal usaha kita yang terbesar.

Kita yang terbesar tapi harus diakui bahwa kita belum menjadi yang terbaik. Saya sempat diskusi dengan para alumni penerima beasiswa Habibi. Mereka ada 4000 orang, diantara mereka yang 1000 nya Doktor. Mereka oleh Pak Habibi dikuliahkan ke luar negeri sejak kuliah S1. Kalau bersama dengan pengikutnya ada bisa lebih dari 40.000 orang.

Ada satu yang memuji tapi juga mengkritik kita, bahwa Muhammadiyah punya ratusan Perguruan Tinggi. Tetapi tak ada yang masuk ranking dunia. Mudah-mudahan nanti Unimus masuk ranking.

Ini adalah bagian dari realitas kita sekarang, bahwa masih banyak yang perlu kita tingkatkan.
Sekolah-sekolah dan Rumah Sakit – Rumah Sakit kita luar biasa.

Yang sangat membanggakan kita adalah bagaimana para anggota Muhammadiyah memiliki rasa percaya diri sebagai bagian dari warga sebuah organisasi yang besar.

Pada masa Covid-19 ini Muhammadiyah mendapatkan dua Penghargaan yang baru saja kita peroleh :
– Penghargaan untuk MCCC terkait dengan perannya selama Covid-19.
– Penghargaan terhadap Muhammadiyah sebagai Organisasi yang Paling Dermawan selama Covid-19.

Kemarin saya bincang dengan Pak Machfud dalam acara Milad, saya bilang bahwa selama Covid-19, Muhammadiyah sudah mendistribusikan bantuan dan dana lebih dari 300 Milyard.

Dan itu tidak termasuk dana-dana yang dikeluarkan oleh Rumah Sakit untuk pelayanan mereka yang dirawat sebagai pasien Covid-19. Karena pihak Rumah Sakit tidak mau melaporkan dananya itu dalam laporan terintegrasi MCCC.

81 Rumah Sakit dan lebih dari 70.000 relawan yang bekerja sama dengan kita. Ini merupakan bagian dari sebuah pengakuan dan sebuah capaian yang perlu kita syukuri bersama.


Muhammadiyah Masa Depan

Muhammadiyah masa depan menjadi tantangan kita .Tapi saya yakin kita in syaa Allah punya Pusat-pusat keunggulan yang sudah kita mulai dan terus kita lakukan. Paling tidak ada 4 modal milik Muhammadiyah untuk bangkit di masa depan. :

1. Modal nama baik


Ini sesuatu yang sangat mahal. Alhamdulillah selama ini Muhammadiyah sangat dipercaya. Termasuk sangat dipercaya kalau mengajukan hutang. Ada yang bilang Muhammadiyah penghutang premium.
Jaman sekarang katanya kalau orang tak punya hutang, katanya bukan orang kaya.

Persoalannya bukan jumlah hutang, tapi persoalan nama baik. Alhamdulillah Muhammadiyah dikenal sebagai organisasi yang mempunyai sistem organisasi yang memiliki Sistem Organisasi yang teratur. Dengan good governance (tata kelola organisasi) yang tertib luar biasa.

Prof Kim, pakar Muhammadiyah dari Korea sempat mengatakan kepada saya bahwa Muhammadiyah perlu lebih “sombong”. Karena dia mengerti bahwa Muhammadiyah sangat tertib. Bahkan dalam beberapa hal lebih tertib dari pada Pemerintah. Mungkin maksud dia Muhammadiyah perlu lebih mengekspose diri.


2. Modal Sosial yang sangat besar.

Muhammadiyah keunggulannya pada kualitas anggotanya, bukan pada kuantitas anggotanya. Karena itu ketika ada Lembaga Riset yang mengatakan anggota Muhammadiyah cuma 5 juta. Jangan-jangan memang benar, walaupun kita di PP Muhammadiyah membantah. Tetapi kekuatan kita memang pada kualitas anggotanya.

Muhammadiyah kalau kita petakan secara pendidikan, mayoritas Pimpinan Muhammadiyah pasti minimal S1 ke atas. Profesor dan Doktor di ruang Zoom ini saja banyak. Belum lagi para expertise. Ini modal sosial yang luar biasa.

Secara ekonomi saya kira warga Muhammadiyah juga rata-rata menengah ke atas. Kelompok yang sering saya sebut kelompok MUKIDI (Muda ,Kaya, Intelek , Dermawan dan Idealis).

Kekuatan Muhammadiyah ada pada kekuatan ekonomi dan Intelektual. Ini modal sosial yang luar biasa dan menjadi bagian darimana kita bisa melangkah.


3. Modal Spiritual

Warga Muhammadiyah punya keyakinan yang kuat ,punya semangat membangun karena keyakinannya terhadap ajaran agama islam dan rasa percaya dirinya untuk maju lagi dalam berislam. Dalam situasi Covid-19 saja warga Muhammadiyah tidak berhenti membangun.

Beberapa waktu yang lalu saya ke Depok. Meletakkan batu pertama pembangunan Rumah Sakit yang nilainya di atas 40 Milyard.
Dalam sambutan saya bertanya : “Ini jihad atau nekad?”.
Tapi ternyata ini dimana-mana. Termasuk di Semarang, Muhammadiyah mau membangun Pondok Tahfidz di cabang Ngaliyan.

Ini sebuah kekuatan spiritual yang luar biasa. Muhammadiyah punya tradisi volunterisme atau keikhlasan yang luar biasa. Dan ternyata hampir semua yang dirancang itu selesai dan semangat untuk melayani, semangat untuk memberi itu bisa menjadi sebuah modal yang besar untuk kita melangkah ke masa depan.


4. Modal Persatuan.

Muhammadiyah sangat tertib, sangat rukun, sangat teratur. Meskipun mungkin dalam kasus-kasus tertentu ada friksi sebentar, tapi pada saatnya sudah selesai. Muhammadiyah tetap solid, bukan berarti merendahkan yang lain.

Beberapa ormas memang ada yang pecah. Sudah kecil pecah lagi. Kemarin saya mengobrol dengan Pak JK sambil makan nasi liwet. Beliau cerita tentang beberapa ormas yang pecah. Salah satunya adalah HMI. HMI pecah dua, bahkan Kahmi juga pecah.

Beberapa ormas tingkat nasional sekarang ini pecah dan belum bisa dipertemukan. Alhamdulillah Muhammadiyah senantiasa solid dan punya semangat persatuan yang luar biasa. Bahkan sekarang ini kita melihat soliditas semakin bertambah.

Ini bagian awal sebagai pengantar ceramah yang berkaitan dengan thema yang kita ambil dalam Milad. Kita mengambil thema Meneguhkan Gerakan Keagamaan. Maknanya Muhammadiyah memang ingin untuk kembali memperkuat faham agama.


MENEGUHKAN GERAKAN KEAGAMAAN

Sejak awal berdiri Muhammadiyah merupakan gerakan keislaman yang memang memiliki Manhaj sebagai bagian dari Dasar bagaimana Muhammadiyah beragama, bagaimana memahami Al Qur’an dan As Sunah dan bagaimana mengamalkan Al Qur’an dan As Sunah menjadi dasar tidak hanya beribadah, tapi juga dalam berbagai gerakan.

Dari sini kita melihat sebuah konsep yang sama, ditangan Muhammadiyah maknanya menjadi sangat berbeda.
Misalnya konsep Amar Makruf Nahi Mungkar. Dalam Al Qur’an saya menemukan ada 9 ayat dimana Amar Makruf Nahi Mungkar disebutkan secara berurut-urutan. Tapi ada 1 ayat dalam Surat At Taubah yang disebutkan ada kelompok yang mereka Amar Mungkar Nahi Makruf. Yaitu orang munafik laki-laki dan orang munafik perempuan.

Banyak organisasi yang menggunakan ayat ini sebagai dasar gerakannya. Bahkan dikelompok Muktazilah, Amar Makruf Nahi Mungkar termasuk salah satu bagian dari lima doktrin dasar dalam gerakannya. Bahkan di dalam kalangan Syiah termasuk Rukun Iman.
Bahkan sekarang FPI dimana-mana mengatakan Amar Makruf Nahi Mungkar. Tetapi cara Amar Makruf Nahi Mungkarnya sangat berbeda dengan Muhammadiyah.

Amar Makruf Nahi Mungkar ditangan Muhammadiyah menjadi dasar dari sebuah Gerakan Keislaman dan Gerakan Keilmuan. Ini yang menurut saya menjadi pembeda bagaimana Muhammadiyah memahami konsep- konsep di dalam Al Qur’an dan kemudian mengimplementasikan dalam gerakan.

Sejak awal Muhammadiyah itu gerakan yang mengedepankan ilmu sebagai bagian dari kita beramal dan ilmu sebagai bagian dari kita membangun kemajuan. Kalau kita berfikir Muhammadiyah masa depan, kita berfikir bangsa masa depan tentu saja pondasinya adalah ilmu.

Dalam konteks sekarang orang berbicara tentang Knowledge Base Society atau masyarakat ilmiah, masyarakat berbasis ilmu. Masyarakat yang senantiasa menggunakan kekuatan akalnya di dalam mereka melakukan berbagai kegiatan dan mengembangkan berbagai disiplin keilmuan.

Muhammadiyah menghindari kekerasan sejak awal. KH Ahmad Dahlan memilih menggunakan pendekatan dialog ketika mendapatkan resistensi yang luar biasa. Ketika gagasan mengenai Kiblat di Masjid Kauman itu ditolak , KH Ahmad Dahlan memilih dialog daripada kegiatan yang sifatnya frontal. Bahkan ketika langgarnya dihancurkan KH Ahmad Dahlan memilih pergi dari pada melawan.

Ini sebuah pilihan-pilihan yang memang perlu menjadi sebuah kesadaran dan pemahaman kolektif kita bahwa di pandangan Muhammadiyah, Amar Makruf itu adalah Gerakan Keilmuan. Dari situlah kemudian kita bisa melihat sejak awal Muhammadiyah memilih Pendidikan sebagai bagian dari gerakannya.

Di dalam menyampaikan agama Muhammadiyah memilih Pendekatan Tabligh. Pendekatan Tabligh menjadi ciri pengajian-pengajian di Muhammadiyah. Walaupun sekarang kata Tabligh mengalami pergeseran setelah ada Jama’ah Tabligh dan setelah banyak Tabligh Akbar.

Sebagai sebuah Gerakan Keagamaan, Muhammadiyah ini gerakan islam yang berkemajuan. Dimana letak kemajuannya?
Menurut saya ada 3 yang menjadi dasar dari kemajuannya.


1. Muhammadiyah beragama dengan merujuk kepada Dalil-dalil Naqli.

ar-Ruju’ ila al-Qur’an wa as-Sunnah (kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah)“ mempunyai dua pengertian.

1. Dalam setiap amal memang harus ada dasarnya (referensinya).
2. Dengan kembali kepada Al Qur’an dan Sunah bisa dipilah mana yang wahyu dan mana yang rakyu.
Wahyu itu Given, sesuatu yang tidak boleh diubah. Tetapi Rakyu adalah sesuatu yang terus berkembang.
Al Qur’an itu wahyu, tetapi Tafsir Al Qur’an itu rakyu. Sehingga Al Qur’an tidak berubah tetapi Tafsir atas Al Qur’an itu berubah.

Muhammadiyah sejak awal memunculkan penafsiran-penafsiran baru. Misalnya ketika menafsirkan Surat Al Ma’un dan yang lain. Dari situlah sebenarnya makna kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah.
Sayangnya kemudian banyak orang yang mengatakan kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah tapi menjadi begitu kaku.

Di tangan Muhammadiyah, kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah itu islam menjadi begitu terbuka. Ini yang oleh Pak Kunto disebut dengan Liberasi. Liberasi bukan Liberisasi tapi menjadikan orang bisa memiliki ruang untuk mereka berijtihad. Muhammadiyah sampai sekarang berpendapat bahwa Pintu Ijtihad masih terbuka.


2. Muhammadiyah senantiasa mendasarkan kegiatannya dengan ilmu.

Sikap positif terhadap semua ilmu. Ketika PP Muhammadiyah memutuskan untuk menunda muktamar, kita mengundang ahli virus. Dan kita juga mengundang para ahli pandemi, yang disebut ilmunya epidemiology.

Ini menunjukkan bagaimana Muhammadiyah bersikap positif terhadap ilmu. Sejak awal, ketika menetapkan awal dan akhir Ramadhan, Muhammadiyah menggunakan ilmu Hisab. Ketika yang lain masih belum menggunakan ilmu ini , Muhammadiyah sudah percaya diri menggunakan ilmu Hisab. Sehingga kalau ditanya kapan idhul fithri tahun 1443 H para ahli Hisab Muhammadiyah sudah tahu.
Jangankan tahun 1443 H, mungkin tahun 1543 H pun mereka sudah tahu, karena peredaran bumi matahari mengikuti takdir Allah.

Allah SWT berfirman:

وَا لشَّمْسُ تَجْرِيْ لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَا   ۗ ذٰلِكَ تَقْدِيْرُ الْعَزِيْزِ الْعَلِيْمِ ۗ 

“dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan (Allah) Yang Maha Perkasa, Maha Mengetahui.” (QS. Ya-Sin 36: Ayat 38)

Kalau mengikuti takdir Allah dan takdir itu diketahui maka manusia bisa memprediksi. Dokter sudah tahu bagaimana memprediksi sebuah penyakit, karena itu takdir Allah yang sudah diketahui manusia. Dan takdir Allah itu tidak berubah.
Dalam kaitan ini Muhammadiyah menjadi kuat karena beragama dengan menggunakan ilmu.


3. Muhammadiyah menggunakan Ilmu yang Amaliyah.


Ini bagian yang kemudian menjadi Kunci keberhasilan Muhammadiyah. Muhammadiyah ini tidak hanya menggunakan ilmu saja, tetapi ilmu yang amaliyah. Ilmu yang kemudian diwujudkan dalam berbagai macam arsitektur amal usaha.

Semua amal usaha Muhammadiyah adalah kombinasi dari tiga hal itu.
Mendirikan Rumah Sakit adalah bagian dari pengamalan Al Qur’an dimana Allah SWT berfirman:

وَاِ ذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِيْنِ ۙ 

“dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku,” (QS. Asy-Syu’ara’ 26: Ayat 80)

Atau Hadits Nabi :

لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ فَإِذَا أُصِيبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Setiap penyakit ada obatnya. Apabila ditemukan obat yang tepat untuk suatu penyakit, akan sembuhlah penyakit itu dengan izin Allah ‘azza wajalla.” (HR Muslim).

Itu adalah dasar Naqliyahnya. Dasar aqliyahnya mengembangkan berbagai macam ilmu. Tapi kemudian bangunan bangunan yang ada itu adalah bagian dari bagaimana kita mengamalkan agama dan agama yang berfungsi.


Agama Yang Berfungsi


Agama yang berfungsi itu adalah salah satu theori dalam study agama yang berdasar fungsionalisme. Dimana agama dilihat dari sisi fungsinya. Dilihat dari sisi bagaimana agama memberikan makna dan manfaat bagi pribadi orang yang beragama maupun bagi orang lain yang mereka mendapatkan pertolongan dari bagaimana orang mengamalkan ajaran beragama.

Karena itu maka dalam situasi Covid-19 ini misalnya, bisa dilihat bagaimana kita bereaksi terhadap Pandemi ini dan bagaimana kita kemudian berbuat sesuatu ketika sedang terjadi Pandemi.

Ada yang menarik ditulis di suatu majalah berbahasa Inggris yang menyebutkan bagaimana organisasi agama Muhammadiyah itu ketika ada musibah tidak sekedar organisasi yang menyelesaikan secara spiritual dengan cara berdo’a tapi diapresiasi karena Muhammadiyah menggunakan ilmu dan kemudian memberi solusi yang tidak sekedar bersifat spiritual tapi bersifat Sosial.

Karena ada yang sempat menyebut Indonesia tidak kena Covid-19 karena baca Qunut. Ternyata baca qunut tetap kena Covid-19 juga. Sehingga tidak ada korelasi antara Qunut dengan Covid-19.

Yang kemudian perlu menjadi bagian dari highlights kita dan ini akhir dari pengantar saya adalah bagaimana kemudian kita menghadapi masalah ini dan memberikan Solusi. Jadi Religion as Problem solver, agama sebagai penyelesaian masalah. Dan itu yang selama ini kita jadikan sebagai bagian dari dasar kita melakukan gerakan.

Kalau semata-mata hanya dengan ilmu, tidak dengan keyakinan iman maka amal kita tidak ada bedanya dengan organisasi-organisasi kemanusiaan dunia yang sekuler berbasis humanity atau humanitarian reason saja.

Kita ini kemanusiaan dikonstruksi oleh keimanan. Inilah yang membuat setiap amal kita punya dimensi Transcendental, punya dimensi illahiyah dan punya dimensi yang dia tidak sekedar berada pada dimensi yang bersifat duniawi, tapi juga punya dimensi ukhrowi. Dan itu yang kemudian membuat kita memiliki stamina yang cukup kuat untuk terus melangkah dan optimis menghadapi berbagai persoalan yang ada.

Oleh karena itulah maka ketika kita melihat bagaimana Muhammadiyah itu dan bagaimana orang lain menilai Muhammadiyah, tidak ada alasan bagi kita untuk inferior, minder dan kemudian kita terjebak pada hal- hal yang sifatnya ecek-ecek. Tapi pada hal-hal yang sifatnya memang strategic.

Kita harus menghapus kosa kata “rumput tetangga lebih hijau dari rumput rumah sendiri” karena sesungguhnya Muhammadiyah punya hampir semua hal yang diperlukan orang. Ketika orang justeru banyak belajar dari Muhammadiyah, kita sendiri kadang-kadang justeru tidak percaya diri pada Muhammadiyah.

Karena itulah maka menurut saya thema kita meneguhkan gerakan keagamaan ini sebenarnya juga mengajak warga Persyarikatan untuk ar-Ruju’ ila al-manhajil Muhammadiyah, kembali kepada Manhaj Muhammadiyah.

Tidak berarti kita menjadi kelompok yang ideosinkretik dalam pengertian yang asal berbeda dengan yang lainnya, tetapi kita sesungguhnya selama ini justeru lebih banyak mengkaji paham-paham agama yang tidak berasal dari Muhammadiyah, kita bawa ke dalam Muhammadiyah. Bahkan kadang-kadang paham perseorangan yang belum tentu dia punya kualitas keilmuan melebihi para ulama di Muhammadiyah.

Semangat keagamaan ini yang perlu kita bangun, sehingga karena itu maka tentu saja kita ingin dengan milad ini gerakan-gerakan Muhammadiyah menjadi lebih aktif lagi dan kemudian Muhammadiyah tampil lebih percaya diri dengan keyakinannya dengan manhajnya dan kemudian yakin dengan percaya diri, dengan kekuatan tadi, dengan modal nama baik, modal moral, modal-modal sosial dan modal Intelektual yang dimiliki warga Persyarikatan.

Dan mudah-mudahan kita bisa terus beramal, memberi yang terbaik melalui Persyarikatan Muhammadiyah.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK






LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here